Fict ini aneh, ya? Maaf, maklum masih belajar.

Haruno Aoi: emang salah ketik. Aya emang setiap bikin fict nggak langsung pake nama chara-chara Naruto. Aya pikir asal-asal dulu sembarang nama, soalnya nggak semua ide fict Aya beneran dijadiin fict.

Tabitha itu nama depan Aya. *ditimpuk sepatu*


Disclaimer: Bukan Aya yang punya Naruto. Tapi dia noh! *nunjuk-nunjuk Masashi Kishimoto*

Warning: Author yang aneh dan typo di sana-sini. Sebelum baca, diharapkan siapin kantong muntah dahulu.

Pairing: belom tau, belom fix alias tergantung mood author aja *dilempar sendal*

^o^


Summary:

Lupakan gaya rambutnya yang aneh, Uchiha itu siapa? Hanya khayalan Hinata-kah? Bagaimana jika khayalan itu menginginkan gadis pujaannya lebih dari sekadar sahabat? SasuHina. Kalau nggak suka, jangan baca.


Red or Raven?

Di tempat yang lain, di alam yang lain.

"Hah. Sasuke Uchiha. Sejak kapan kau jadi melankolis begini? Lucu sekali," ejek Tsunade dengan nada menggelegar.

Tsunade adalah dewi penyihir yang tergolong 'rendah' untuk dunia setinggi itu. Ia adalah dewi yang terbuang. Banyak orang menjauhinya.

Namun, tidak untuk Uchiha. Meskipun meminta suatu hal pada Tsunade sama dengan membunuh harga dirinya sendiri.

"Aku serius, Bodoh," balas Uchiha sengit.

"Hmm? Siapa gadis Bumi itu, hah? Makhluk setinggi kita seharusnya tidak memuja manusia tanah yang bau dan hina," gumam Tsunade. Ah, ia memang pandai memutarbalikkan harga diri seseorang. Uchiha menelan ludah dengan wajah memerah.

"Bukan urusanmu. Berikan saja itu padaku," pinta Uchiha keras kepala. Di tangan kirinya tergenggam pisau tajam yang bisa melukai siapapun yang ia mau. "Aku hanya ingin semua manusia bisa melihatku - aku bukan malaikat pelindung, aku bukan fantasi manusia - aku hanya ingin menjadi manusia."

Cairan-cairan kimia dalam kuali di belakang Tsunade mulai menggelegak. Cairan itu berwarna pelangi, berputar-putar hingga terlihat seperti warna putih. Tsunade meminta pisau milik Uchiha, mencelupkannya pada cairan tersebut, dan mengacungkannya.

"Efek sampingnya, kau akan kehilangan penglihatanmu," gumamnya. Uchiha tersentak.

"Ada cara untuk menyembuhkannya?" tanyanya cepat.

Tsunade hanya mengangkat bahu. "Palingan hanya keajaiban. Aku tidak tahu." Cairan yang membasahi pisau lama-kelamaan mulai mengering. "Jadi, ya atau tidak?"

Pertanyaan itu amat sederhana, tapi berakibat besar dalam hidupnya.

Ya. Merelakan penglihatan matanya, menjadi manusia agar bisa memiliki gadis itu untuk dirinya sendiri, membiarkan segala resiko yang ada.

Tidak. Membuatnya tetap menjadi seseorang yang tidak dilirik oleh gadis yang ia cintai.

Uchiha membuang nafas kasar. "Ya."

Tepat di detik terakhir Uchiha mengucapkan hal itu, Tsunade menusuk dada bidang Uchiha dengan pisau berlumuran cairan aneh tadi.

.

Dunia yang baru. Wujud yang baru. Dan kepadatan tulang serta daging dengan sensasi yang menyenangkan.

Uchiha membuka mata, tapi ia tidak bisa melihat apapun. Hanya gelap. Benda terakhir yang ia lihat hanya tetesan darahnya tersendiri. Tunggu, di mana ia? Cowok itu bisa merasakan bahwa ia mengenakan piyama dan berselimut tebal. Ia ada di suatu kamar bernuansa ungu.

"Sayang, lihat! Ia sudah bangun!"

Terdengar derap kaki, yang satu kaki telanjang dan satunya lagi alas kaki untuk tidur. Uchiha bisa mendengar gumaman dan pembicaraan sepasang suami istri yang ada di sampingnya.

"Kami menemukanmu tertidur di pinggir jalan, jadi kami membawamu pulang. Namaku Konan, dan ini suamiku, Pein," samapnya dengan semangat. "Kalau boleh tahu, siapa namamu?"

Pein menepuk pundak istrinya, menuruh agar ia sedikit lebih tidak terburu-buru.

"Namaku Sasuke. Sasuke Uchiha," kata Uchiha dengan pandangan kosong. Namanya kini tidak berarti apa-apa, dan ia merasa lega bisa mengucapkan nama aslinya di depan manusia. "Maaf, Tuan, Nyonya, tapi aku tak bisa melihat," lanjutnya pelan.

Konan membekap mulutnya sendiri. "Maaf, tadi kami lancang. Apa kau punya rumah atau orang tua?" tanya Konan lebih hati-hati.

"Tidak."

Usia Pein dan Konan sebenarnya hanya terpaut beberapa belas tahun lebih tua dari Uchiha - atau Sasuke. Namun, ia tidak bisa menebak-nebak raut wajah mereka. Yang ia tangkap dari nada suara mereka, Pein dan Konan cukup ramah dan merupakan pasangan bahagia. Sasuke mendecih bila membandingkan kedua orang tuanya dengan mereka.

Mikoto dan Fugaku tidak pernah akur, dan jauh dari frasa 'pasangan bahagia'. Keuangan keluarga yang memburuklah yang menjadi masalah. Sekarang, mereka semua menghilang. Kedua orang tua dan kakaknya, Itachi, meninggal ketika rumah mereka kebakaran. Saat itu, Sasuke sedang tidak ada di sana.

Pein dan Konan bertukar pandang.

"Baiklah, untuk sementara kau tetap di sini, ya. Aku akan membuatkanmu minuman," kata Konan ramah. "Pein harus ke kantor sekarang." Ia melirik suaminya dan tersenyum hangat.

"Kelihatannya kau masih lemah. Dan matamu memar. Aku curiga kau buta karena perkelahian," sahut Pein dengan nada penuh selidik. "Sampai jumpa nanti sore," pamitnya sebelum menghilang di depan pintu rumah. Memulai harinya dengan bekerja.

.

Gerbang Sekolah, 12.00 AM.

"Hai, Hinata. Kami duluan, ya," sapa segerombolan anak perempuan yang sedang menunggu bis sekolah.

Hinata melambai lesu. Beberapa murid memang terkadang melambai padanya, tapi itupun amat jarang. Hh, solidaritas.

Rasanya ada sesuatu yang hilang.

'Ah... sudahlah, Hinata. Pasti Uchiha-san tertinggal di rumah atau sedang ada di tempat lain. Dia ciptaan Tuhan, bukan boneka yang bisa kugenggam setiap saat! batinnya. Sejenak, ia merasa seperti bayi yang selalu ingin memiliki botol susunya. 'Jangan egois'.

Lonceng sekolah berdentang cepat pertanda gerbang sekolah akan dikunci dan murid-murid harus segera meninggalkan sekolah. Hinata cepat-cepat meninggalkan gerbang sekolah dan pulang ke rumahnya.

.

Di waktu yang sama, di tempat yang lain.

"Kau sudah pernah sekolah, Sasuke?" tanya Konan lembut. Ia memberikan secangkir cokelat hangat pada Sasuke dengan hati-hati.

"Tidak pernah. Hanya belajar sedikit waktu umur 6 tahun." Sasuke mengingat-ingat tradisi pendidikan di dunianya dulu. Tidak ada sekolah. Hanya sekolah terbatas - yang manusia sebut sebagai homeschooling - singkat dan itupun sudah bisa mencakup materi kuliah bagi manusia. Ia menyeruput minumannya perlahan-lahan.

"Itu sudah lama sekali," gumam Konan. "Dan belajar yang tidak banyak saja tidak cukup. Bagaimana kalau kau kucarikan sekolah yang bagus, Sasuke? Kelihatannya, posturmu anak SMA, ya."

Sasuke hanya ber-'hn' ria. "Siapa yang mau menerima anak buta? Palingan hanya sekolah luar biasa," gumamnya sinis.

"Haha, tentu tidak aku sekolahkan di tempat biasa," tawa Konan. "Aku tahu satu sekolah biasa yang mau menerima murid tunanetra, asal ia bisa mengetik tanpa alat bantu huruf braille."

Sasuke menelan ludah.

.

Back to Hinata

"Uchiha-san?"

Hinata berputar-putar menyusuri jalan menuju rumahnya. Uchiha tidak terlihat di pohon sakura, persimpangan jalan, bahkan rumah kosong berdebu di sampingnya. Di sekolahnya? Ia sudah mencari tadi dan hasilnya nihil.

'Uchiha-san mau mengerjaiku, ya? Dengan menghilang segala,' gerutunya dalam hati. Matanya mulai menghangat. Tidak, Hinata tidak boleh menangis di jalan raya. Ia berlari cepat dengan kepala menunduk dan tiba-tiba, ia terantuk sesuatu.

Bruk!

"Ah," gumam Hinata kesakitan.

"Jalan itu pakal mata, Nona," decih laki-laki yang tadi ditabraknya. Hinata mengangkat wajahnya. Mungkin ini khayalannya, karena ia melihat wajah laki-laki itu sebagai seseorang yang sangat ia kenal.

"Uchiha-san?" serunya. Laki-laki itu mengerutkan kening.

"Uchiha-san siapa? Namaku Sasori," gerutunya. Hinata mengucek mata. Ah, ia ingat sekarang. Sasori tetangganya. Wajah Sasori dengan Uchiha tentu berbeda jauh. 'Ah, kenapa aku punya halusinasi sejauh itu?'

"M-maaf, Sasori-san," sahut Hinata sopan. "Saya permisi."

Sementara Hinata berlari menjauh, Sasori memandangnya. Dengan heran.

.

Blamm!

Neji yang baru pulang sampai terkejut melihat kelakuan adik sepupunya yang masuk rumah tanpa salam dan langsung masuk mengunci pintu kamarnya. Ia mengedikkan bahu. Terkadang, Hinata memang susah dimengerti.

Di dalam kamarnya, Hinata membenamkan wajah pada sebuntal besar bantal dan menangis tanpa suara, sampai dadanya terasa sesak. Ia membalikkan badan dan menatap langit-langit kamar yang kelabu.

"Hinata-san nangis? Dasar cengeng," terngiang perkataan Uchiha padanya setiap kali ia menitikkan air mata.

Tidak ada yang mengucapkan itu untuknya sekarang. Iya juga. Buat apa ia nangis? Toh, hanya Uchiha yang hilang.

'Tapi Uchiha itu makhluk hidup! Dia bukan boneka yang kalau hilang aku bisa membeli satu yang sama persis. Uchiha-san itu temanku, bagaimana kalau dia kenapa-napa?' batinnya cemas.

Perlahan-lahan, air mata Hinata bukan lagi air mata bila seorang sahabat meninggalkan kita. Namun, lebih seperti ketika kita mengalami putus cinta.

Tok tok tok!

"Hinata? Aku perlu bicara," panggil Neji dari luar kamar.

"Masuk saja," jawab Hinata serak.

"Iya, tapi kau mengunci pintunya," kata Neji dengan nada mendesak.

Hinata bangkit tanpa berusaha menyeka air matanya. Dengan perlahan ia memutar kunci pintu dan membukanya. Neji terhenyak menatap mata sepupunya yang bengkak. Itu dan air mata yang belum di hapus.

"A-ada apa Nii-san?" tanya Hinata. Ia sadar ke arah mana pandangan Neji dan kemudian menyeka pipinya.

"Hinata, kau benar tidak apa-apa? Belum pernah aku melihat matamu bengkak seperti itu," gumamnya salah tingkah. Yang ditanya hanya diam. "Cerita saja apa masalahmu."

Itu yang ditakutkan Hinata. Hanya Uchiha seseorang yang bisa ia percaya, dan ia tidak pernah berbagi masalah pada orang lain selain dia. Ia menghela nafas kasar dan tersenyum simpul.

Seperti yang sering Uchiha lakukan.

Ia teringat beberapa hari lalu.

"Kalau suatu saat aku menghilang, apa yang kau lakukan?"

"Eh... kenapa kau menanyakan hal itu?"

"Jawab saja, Hinata-san. Cepat."

"Aku akan mencarimu."

"Itu saja?"

'Sensasi firasat, ya' pikir Hinata. Ia tahu harus menjawab apa untuk Neji.

"Hinata?"

"Eh... hanya persoalan anak kecil saja, kok. Dan aku akan menjadi dewasa... dan bisa melupakannya dengan cepat," jawab Hinata pasti.

.

9 tahun kemudian, Hinata tumbuh menjadi perempuan dewasa yang tidak bergantung pada teman masa kecilnya lagi. Ia telah berani bersosialisasi, lulus kuliah dengan nilai memuaskan, tapi ia belum bisa melupakan Uchiha. Kalau bukan karenanya, Hinata tidak akan tumbuh sejauh ini.

'Tuhan, apa aku telah jatuh cinta pada teman khayalanku sendiri?' batinnya putus asa.

Hinata berjalan menyusuri koridor kampusnya dengan termangu. Meskipun sekarang ia punya banyak teman, ia merindukan Uchiha-nya. Dipegangnya buku nilai di tangannya lebih erat. Ia nyaris tidak memerhatikan jalan.

Tidak memerhatikan?

Bruak!

Dengan cepat, barang-barang bawaan Hinata berhamburan ke lantai. Hinata cepat-cepat memungutnya dan mengangkat wajah untuk melihat sapa penabrak tadi.

"Hinata-san," gerutu Sasori. "Aku sudah bosan tabrakan terus denganmu. Kau itu kenapa, sih? Melamun tiap hari, untung aku bukan pacarmu."

Sasori membantu Hinata memunguti berkas-berkasnya yang berceceran, baik suka maupun tidak. Satu kali jemari mereka bersentuhan sehingga Hinata memerah.

"Hanya memikirkan hal tak berguna. Ngg, itu saja, kok." Ia menarik tangannya kembali. Cara penyambutan Sasori yang ketus berbeda sekali dengan Naruto - membuatnya merinding. Gadis itu cepat-cepat berlalu menjauhi Sasori dengan benak yang dipenuhi Naruto.

Lelaki Namikaze itu mencintai wanita lain dan dipastikan akan segera bertunangan dalam waktu dekat. Ia mulai meragukan perasaannya pada cowok periang itu. Apa benar ia yakin bahwa Naruto adalah cowok yang tepat untuknya? Anehnya, pikiran-pikiran itu muncul justru saat Uchiha menghilang.

Cih.

Ia mendesah. Uchiha telah ia anggap sebagai fantasi remaja kesepian yang berlebihan. Lagipula, hanya ia yang bisa melihat cowok itu, bukan? Hinata pikir, dengan kesimpulan-kesimpulan seperti itu seharusnya ia lebih mudah untuk melupakan Uchiha. Namun, kenyataannya tidak semudah itu.

Yah... by the way, Hinata masih ngeri juga dengan tatapan tajam Sasori tadi.

"Jangan nabrak orang lagi, ah," gumam Hinata untuk dirinya sendiri. "Apalagi dengan Sasori. Dia galak."

"Apa kau bilang?" sentak Sasori yang tiba-tiba berbalik ke belakang.

"Eh... t-tidak apa-apa," geleng Hinata. Ia bergidik dan berjalan lebih cepat.

.

Di tempat yang berbeda.

"Konan-san... Anda serius ingin saya melakukan... itu?" tanya Sasuke tidak yakin. Ia menatap Konan beberapa kali dengan matanya yang buta.

"Tentu saja. Kau sudah kuanggap adik atau bahkan anakku sendiri. Nah, setelah kau menemukan pendonor yang tepat, kau akan bisa melihat dan hidupmu akan normal," Konan menepuk-nepuk bahu Sasuke dengan lembut. Andai Sasuke bisa melihat tatapan menguatkan dari Konan, pasti hatinya lebih tenang.

Konan dan Pein sedang gencar mencari dan menelepon setiap rumah sakit, siapa tahu mereka bisa membeli 'stok' kornea mata, dan kalau beruntung ada yang menyumbangkan itu untuk Sasuke. Cowok muda yang kini berusia 25 tahun itu bergidik. Meskipun sudah dewasa, terkadang ia masih diperlakukan seperti anak remaja. Dalam hatinya, ia masih salah satu dari makhluk khayalan - malaikat pelindung untuk setiap manusia.

.

"N-nani? Dijodohkan?" ulang Hinata kaget.

"Ya. Ada yang aneh, Hinata?" tanya Hiashi-sama heran.

Hinata menyandarkan diri di sandaran kursi, berusaha menutupi keengganannya, nyaris mengkeret ketakutan. Dijodohkan. Kata itu abstrak.

"Dengan siapa?" tanya Hinata ragu. Ia tidak yakin ingin mendengar jawaban Hiashi. Ayahnya tidak langsung menjawab karena tiba-tiba pelayan masuk dan membawakan minuman.

"Dengan... Akasuna no Sasori, atau siapapun namanya. Kau ingat, kan?" jawab Hiashi tenang.

Hinata terdiam, mengekstrak perkataan ayahnya barusan. 'Sasori...'

"APA?" sentak Hinata tiba-tiba dengan mata membulat. "Otou-san tahu kan, dia..."

"... cukup baik dan terpandang untukmu. Aku tidak ingin kau menikah dengan pemuda yang belum berpenghasilan tetap. Umurmu sudah 25, Hinata. Jangan mengecewakan aku."

Gadis itu masih tersentak. 'Sas-Sasori? Andai Otou-san tahu bagaimana dinginnya hubungan antara kami dari kecil hingga sekarang. Dan Sasori orangnya ketus sekali,' gerutu Hinata dalam hati dengan gigi gemeretuk. Ia tidak bisa membayangkan jika harus menikah dengan Sasori... Tidak ada yang menjamin bahwa pemuda secuek itu juga suka clubbing, menenggak alkohol, mengonsumsi narkoba, dan...

'Sudah, ah,' Hinata menggeleng. Namun, hati kecilnya menolak permintaan ayahnya bukan hanya karena Sasori. Ia juga merindukan seseorang.

"Andai ada Uchiha-san di sini..." gumam Hinata tanpa sadar.

.

Sasuke's Side

"Sesudah kami menemukan pendonor kornea untukmu, bukan hanya kau bisa meneruskan kuliahmu dan berkesempatan magang di Akatsuki Corp., tapi juga..." Pein terdiam sejenak. "Kau akan kami jodohkan dengan putri tunggal keluarga Yamanaka, Ino Yamanaka. Benar kan, Konan-san?" matanya melirik istrinya. Konan mengangguk.

"Dijodohkan?" Sasuke termenung. 'Apa lagi itu? Dijodohkan. Aku sudah 25 tahun, tapi istilah manusia seperti itu saja tidak tahu,' pikirnya. "Maksudmu... dijodohkan... dinikahkan?" gumamnya ragu.

"Ya. Ada yang salah?" tanya Konan. Sebelum Sasuke sempat menjawab, wanita itu sudah menyela lagi. "Keluarga kami sejak dahulu punya integritas yang baik dengan keluarga Yamanaka, jadi jangan kecewakan kami... karena kau-lah satu-satunya orang yang bisa meneruskan kami. Baik?" pintanya.

Sasuke termangu. 'Dijodohkan. Integritas yang baik. Kalau aku dijodohkan dengan orang lain, aku tidak akan punya kesempatan mencari dan membuktikan pada Hinata bahwa aku bisa menjadi manusia. Kalau sampai terjadi...'

Beberapa saat kemudian, ia mengangkat suaranya. Lamat-lamat dan gamang.

"Akan... kucoba."

05.00 PM

Sasuke memaksa diri untuk keluar kamar dari rumah, berjalan-jalan di luar. Kalau ia sudah bisa melihat, ia akan punya kesempatan melanjutkan kuliahnya lagi. Ia bisa mendapatkan apa yang ia mau pula di Akatsuki Corp.. Uang, kekuasaan, dan bahkan wanita-wanita cantik. Namun, ia tidak yakin akan mendapatkan cinta.

Ia kenal Ino, sedikit. Gadis itu dulunya teman sekelas Hinata saat SMA. Dan cowok itu tidak bisa membayangkan jika harus tinggal seatap dengan seseorang yang menurutnya fashionista, gila belanja, dan tidak dicintainya. Yah, pendapat-pendapat tadi hanya desas-desus, sih. Namun, tetap saja ia ngeri dengan manusia seperti itu.

Sesekali menabrak orang saat berjalan tidak masalah. Kebanyakan warga disekitarnya sudah tahu bahwa Sasuke seorang tunanetra, sehingga banyak orang yang bersimpati padanya. Keterbatasannya tidak menghalangi sekumpulan gadis-gadis remaja yang memandangnya penuh minat setiap kali melihat cowok itu lewat.

Sasuke berjalan tanpa tongkat, anjing penuntun, atau apapun. Ia hanya berharap menemukan rute yang benar menuju pohon sakura-nya dan bisa kembali ke rumah dengan selamat.

Setelah beberapa lama berjalan, akhirnya ia terhenti. Hmm, wangi kayu dan daun basah. Ini pasti pohon sakura. Ia berbelok ke samping, menjulurkan tangan dan menyentakkan tangannya ketika menyentuh tekstur batang sakura. Sasuke menjatuhkan diri di rerumputan dengan sandaran batang pohon tersebut, merasa damai.

"Meong."

"Ada kucing?" gumam Sasuke. Terdengar bunyi kaki-kaki mungil yang menginjak rerumputan basah. Makhluk itu mengeong lagi. Sasuke kembali menjulurkan tangan dan merasakan bulu mamalia yang halus, dan telinga kucing.

Ia tidak bisa menebak warna bulunya. Kucing itu langsung mendekat dan menjilat bibir Sasuke.

Slurp!

"Haha. Ciuman seekor kucing?" tawanya. Kucing itu mengeong dan bergelung di pangkuan Sasuke. Detik kemudian, kucing itu telah tertidur.

...

Hinata. Nama yang masih terngiang di otak Sasuke. Setelah ia bisa melihat lagi, ia akan mencari gadis itu dan meyakinkannya bahwa ia adalah Uchiha-san miliknya, bukan hanya khayalan semata. Ternyata, menjadi manusia tidak semudah yang ia kira. Sebaliknya, mendapatkan penglihatan kembali tidak serumit yang ia pikirkan - tidak perlu ilmu sihir, hanya kemajuan teknologi kedokteran. Ah, bangsanya udik sekali. Teknologi manusia adalah sesuatu yang tidak bisa dipahami malaikat pelindung kelas bawah.

Kucing yang ada di pangkuan Sasuke mendadak pergi. Ia bisa merasakan berat badan kucing yang tiba-tiba terasa ringan. Sasuke tersenyum tipis.

.

3 bulan kemudian, Konoha Hospital

"Nah, jam 9 pagi nanti kau bisa membuka perban di kepalamu. Kami tinggal dulu!" pamit Konan dan Pein. Terdengar suara pintu ditutup.

Sasuke merebahkan kepalanya ke atas bantal. Rasanya belum ada sepuluh menit ia tertidur, pintu kamarnya sudah diketuk seseorang. Seorang gadis.

"Masuk."

Pintu terbuka dan gadis itu mengerjap, menyadari bahwa ia salah masuk kamar. "Maaf. Aku kira ini kamar ayah..."

Kalimatnya menggantung dan kotak cokelatnya jatuh ke lantai.

"Uchiha-san?" panggil gadis itu dengan mata melebar. Jantungnya berdebar cepat. 'Bukan, pasti bukan dia... Dia kan, sudah...'

"K-kau memanggilku apa?" tanya Sasuke was-was. Hanya Hinata yang memanggilnya seperti itu. Ia ketakutan sekarang. Kalau ternyata...

"Ah, t-tidak apa-apa... hanya salah kamar. Permisi," terdengar suara pintu dibanting dengan gugup. Gadis itu menguatkan diri bahwa yang ia lihat tadi hanya halusinasinya.

.

Hinata's Side

Hinata berjalan menyusuri koridor rumah sakit cepat-cepat. Ia masih meragukan penglihatannya tadi. 'Ah, palingan hanya seseorang yang mirip Uchiha-san," gumamnya. Lagipula, Uchiha sebagai yang ia kenal tidak mungkin dirawat di tempat seperti ini. Dan kenapa laki-laki tadi membebat perban di kepala dan matanya? Kelihatan seperti orang yang baru saja operasi mata.

'Sebaiknya kukunjungi saja dulu Otou-san di kamar rawat inapnya, lumayan mengusir penat,' pikirnya. Ia tersenyum tipis ketika mengingat sesuatu. Hinata sudah meminta keringanan pada ayahnya untuk menacri kerja kantoran di luar perusahaan Hiashi sebelum akhirnya dinikahkan. Ia amat iri pada teman-temannya yang punya waktu lebih untuk hangout, sementara dirinya sebentar lagi harus menikah dengan orang yang tidak ia suka.

.

TBC


Yah, maaf harus kepotong di situ. Aya mau jawab reviews yang perlu dijawab ^^

AwanMerah Uname itu... *ngelirik-lirik Una* sebenernya sih dia pac- *diinjek* eh salah dia itu temen Aya... hehehe ^^'

Uname: bilang aja Teman Tapi Mes-

*giliran Uname yang Aya gaplok*

Saruwatari Yumi masih banyak typo *ngejedotin kepala ke tembok* Sasuke itu malaikat pelindung Hinata? Yup!

Youichi Hikari hehe... awalnya kan, Hinata ada di kelas 5 SD. Dia masuk jurusan IPS waktu masuk SMA.

GoodNight oke, ntar Aya tambahin lagi. Kalo gak salah, collab itu ya, kolaborasi. *ngelirik Una lagi*

Yang nggak Aya jawab, bukan karena Aya nggak menghargai kalian, tapi karena Aya bingung mau jawab apa ^^' *dilempar psp*