Fict ini aneh, ya? Maaf, maklum masih belajar.
Dan maaf juga karena Aya update-nya lama. Kira-kira seminggu lebih? Correct me if I'm wrong. Oh iya, penname Aya dah diganti! *gak nanya*
Yang nggak suka Sasori jadi ketus en jutek di sini... Sebenernya dia nggak ketus beneran, kok! Tapi karen- *disumpel kaos kaki Una*
Disclaimer: Bukan Aya yang punya Naruto. Tapi dia noh! *nunjuk-nunjuk Masashi Kishimoto*
Warning: Author yang aneh dan typo di sana-sini. Sebelum baca, diharapkan siapin kantong muntah dahulu.
Pairing: belom tau, belom fix alias tergantung mood author aja *dilempar sendal*
^o^
Summary:
Lupakan gaya rambutnya yang aneh, Uchiha itu siapa? Hanya khayalan Hinata-kah? Bagaimana jika khayalan itu menginginkan gadis pujaannya lebih dari sekadar sahabat? SasuHina. Kalau nggak suka, jangan baca.
Fight with The Boss
"Otou-san," panggil Hinata hangat.
Hiashi masih belum terjaga di ranjangnya, membuat Hinata sedikit kecewa. Ia meletakkan kotak cokelat di atas meja dan beralih pada jendela besar di seberang kamar yang langsung berhubungan dengan jalan raya di bawahnya.
Udara saat ini begitu panas. Hinata menatap Hiashi sekali lagi. Ayahnya harus masuk rumah sakit karena semalan ia mengalami kecelakaan. Mobilnya ditabrak oleh taksi dengan supir yang mabuk. Supir taksi tersebut tewas, tapi Hiashi masih bisa diselamatkan meskipun kritis.
Ngantuk.
Hinata teringat pada cowok misterius yang ditemuinya tadi. Mengingatkannya pada Uchiha-san. Ia menyeringai dan segera menepis pemikirannya barusan. 'Tidak mungkin dia Uchiha-san. Uchiha-san kan, bukan manusia...'
Ia ingat 10 tahun yang lalu. Saat Hari Valentine.
.
10 tahun lalu, pohon sakura
"Hinata-san, coba lihat," panggil Uchiha tiba-tiba.
"Lihat apa?" tanya Hinata. Uchiha menunjuk-nunjuk ke jalan setapak di depannya. Biasanya jalan itu sepi, tapi sekarang cukup ramai. Sepintas terlihat biasa saja. "Nggak ada yang aneh. Kenapa?"
"Lihat yang bener," Uchiha mengalihkan wajah Hinata ke depan. "Kenapa mereka semua berpasang-pasangan?"
Apa yang dikatakan Uchiha benar. Kini, jalan itu dipenuhi pasangan muda-mudi yang bermesraan. Hinata memiringkan wajahnya, juga merasa bingung. Apa mereka mau kencan massal?
"Uchiha-san, sekarang kan, hari Valentine," jelas Hinata. "Mungkin mereka akan tukar-tukaran hadiah romantis... kencan... aku tidak tahu."
Uchiha mengangguk tanpa membantak. Valentine. Apa lagi itu? Ia tidak hafal semua istilah-istilah manusia, lagipula tugasnya kan, hanya menemani dan berteman dengan Hinata untuk jangka waktu tertentu.
"Hinata-san," panggil Uchiha lagi.
"Ya?"
"Kau... sudah punya pacar, belum?"
Mula-mula diam. Hinata tercenung, sebelum akhirnya rona merah menguasai wajahnya. Harus jawab apa, ya?
"Tidak... memangnya kenapa?"
"Oh," kata Uchiha singkat. "Tidak apa-apa. Hanya... bisa tidak kita merayakan Valentine tanpa pacar?" tanya Uchiha polos.
"Valentine bukan hanya untuk pasangan, melainkan universal. Kita bisa merayakannya dengan siapa saja."
"Termasuk aku?" tanya Uchiha sinis. Hinata tergelak.
"Aku tidak tahu," tawanya. "Aku pikir Uchiha-san tidak akan suka nuansa merah muda.
Uchiha terdiam sesaat. Ia tidak membawa maupun mempunyai apapun yang bisa diberikan untuk gadis di sampingnya itu. Dengan lihai, ditangkapnya seekor kupu-kupu bersayap putih yang terbang melintas dan mengangsurkannya pada Hinata tanpa pikir panjang.
"Wah, cantik..." gumam Hinata. "Kenapa kau memberikan ini buatku?" tanyanya dengan mata berbinar saat kupu-kupu itu hinggap di telunjuknya.
"Karena aku tidak punya hadiah valentine apapun untukmu," jawab Uchiha pendek. Namun, jawaban singkat itu cukup untuk membuat Hinata berbunga-bunga.
'Hadiah valentine? Dari Uchiha-san?'
Gadis itu mencubit pipinya.
'Aku pasti bermimpi.'
.
End of Flashback
Sejak saat itu, Hinata selalu menyimpan perasaan istimewa di hatinya untuk Uchiha, lebih dari sekadar teman. Ia tidak pernah memasalahkan hal itu. Baginya, ia dan Uchiha hanya bisa menjadi sahabat, bukan sepasang kekasih. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya untuk mengusir kantuk yang tiba-tiba menyerang. Tentu tidak sopan bila seorang pembesuk tertidur saat jam besuk. Hinata menguap. Ayahnya belum juga terjaga. Kalau ia harus pulang sebelum Hiashi bangun, ia akan meninggalkan pesan kecil di atas meja mengenai kedatangannya.
Tok tok tok.
"Masuk," seru Hinata.
Seseorang yang ia kira perawat ternyata Sasori. Gadis itu mengerutkan kening melihat cowok itu masuk. Bukannya selain keluarga tidak boleh masuk?
'Ah, pasti Neji-nii sudah meminta izinnya,' pikir Hinata sinis.
"Kenapa diam saja?" tanya Sasori memecah keheningan. "Neji-san yang menyuruhku," lanjutnya dengan nada enggan. Ia memejamkan matanya sesaat dan menghela nafas kasar.
Benar, kan.
Hinata hanya menurut. Sesuai janjinya, gadis itu meninggalkan pesan singkat di atas sobekan kertas dan menjatuhkannya di atas meja. Ia menatap Sasori tajam.
"Ayo."
.
Sepanjang perjalanan dari rumah sakit menuju kediaman Hyuuga, Hinata melamun dan memikirkan Uchiha - itu hal yang ia lakukan setiap hari. Kalau tidak ada Neji yang menyindir soal kebiasaannya melamun, tentunya. Sasori melirik Hinata sekilas. Ia menyadari gadis itu kini sedang tersenyum kecil tanpa alasan.
"Kenapa?" tanya Sasori dengan pandangan yang kembali teralih pada kemudi.
Hinata tidak menjawab. Ia hanya menghentikan senyumnya.
"Hanya... teringat seorang teman," katanya singkat. Berharap Sasori tidak bertanya macam-macam. Dan, oke, Sasori memang bungkam. Tidak ada yang bisa diperdebatkan. Hinata kembali melamun. Dan ia tersenyum-senyum lagi.
Ada keheningan yang panjang.
Gadis itu tidak tahu sejak kapan ia jadi suka termangu seperti ini. Yang ia tahu, ia kangen Uchiha dan senyum tipisnya. Itu saja.
.
Kamar 142, Konoha Hospital
'Tuhan, gadis ini bawel sekali, pikir Sasuke putus aasa. 'Belum juga perbanku dilepas, ia sudah mengoceh panjang tentang hal yang tidak kupahami. Apalagi bila sudah menikah nanti,' gerutunya dalam hati.
Konan meminta Ino untuk menemani Sasuke sendirian di kamar rawat inapnya sampai akhirnya perban Sasuke dibuka, tapi itu justru membuat Sasuke frustasi. Diawali Ino yang histeris karena baru pertama kali melihat Sasuke.
"Sasuke-kun ganteng banget! Yang sekarang aja cool, apalagi nanti, ya? Kyaa!"
Lalu, ngobrol tentang fashion dan barang bermerek baru sampai launching terbaru dari desainer kelas kakap yang membuat kernyitan di kening Sasuke.
"Tahu nggak desainer XXXX? Dia baru aja ngeluncurin karya perdananya untuk 2011 ini, lho! Sasuke-kun pasti bisa nonton acara itu denganku kalau kita sudah menikah, kan?"
Seingat Sasuke, ia hanya menjawab, "hn.".
"Sasuke Uchiha!" seorang dokter muda tiba-tiba menerobos pintu kamar inap dengan cepat. "Hari ini aku akan melepas perbanmu. Kau akan bisa melihat lagi! Kita harus bergegas," gumamnya seraya menyiapkan gunting dan alat lain dengan terburu-buru.
Sasuke tidak terlalu tertarik. Konan berjalan di sebelah dokter itu diikuti Pein. Ino menjauh dari ranjang Sasuke untuk memberi tempat pada sang dokter. Mereka semua tahu bahwa mereka harap-harap cemas, tidak terkecuali Sasuke. Bagaimana kalau ternyata operasinya gagal? Sasuke tetap tidak bisa melihat bahkan lebih buruk dari itu?
Kemudian, perlahan-lahan sang dokter melepas perban yang melilit mata dan kepala Sasuke dengan bantuan guntuing. Perban itu tebal dan melingkar-lingkar, melepasnya memerlukan waktu yang tidak sedikit. Sasuke menyadari baha bibirnya menarik senyum tipis tanpa alasan. Seakan teringat sesuatu.
'Tunggu dan lihat aku, Hinata.'
Lilitan perban terakhir jatuh ke ranjang dan Ino langsung terpana. "Sasuke-kun, kau terlihat lebih cool daripada yang kubayangkan!" serunya.
"Hn," komentar Sasuke.
Konan dan Pein tersenyum lebar. Menunggu Sasuke agar bisa melihat sempurna.
Satu detik, segalanya masih gelap.
Lima detik, hanya buram.
Sepuluh detik, samar-samar terlihat.
Dua puluh detik, ia bisa melihat wajah Konan, Pein, dokter itu dan kemudian Ino. Ada sesuatu yang terlintas di benaknya saat melihat Ino. Gadis itu mengingatkannya pada sepupunya yang blonde. Ia meringis.
"Haha. Sasuke, bagaimana pendapatmu tentang calon istrimu itu?" tanya Konan dengan nada jahil.
Sasuke menatap Ino sekilas. Gadis itu lumayan. Dengan rambut blonde, poni lempar dan dikuncir tinggi - serta mata aquamarine-nya, seharusnya ia sempurna. Dan gayanya yang fashionable - bahkan terlalu fashionable. Ia menarik nafas pendek.
"Manis," jawabnya pendek.
Ino tersenyum lebar.
.
Akatsuki Corp, 3 minggu kemudian.
Seisi Akatsuki Corp geger! Kantornya kedatangan manajer baru, Sasuke Uchiha yang kini ditempatkan di posisi manajer bagian HRD menggantikan Yamato yang memilih pensiun muda. Sasuke dibantu Yamato sendiri untuk menjalankan tugasnya. Dan kini, para pegawai wanita sibuk bergosip dengan topik hangat baru, yaitu manajer baru mereka.
"HRD sekarang bosnya guanteng, lho!"
"Heh? Siapa, siapa?"
"Itu... Sasuke Uchiha. Kalau lihat sendiri pasti ngiler, deh!" kata salah satu pegawai yang diketahui bernama Karin. "Udah ganteng, keren, pinter, trus..."
"Dia jomblo, nggak?"
"Sayangnya, nggak! Katanya sih, sebentar lagi mau tunangan sama cewek Yamanaka itu, lho. Namanya... ngg... oh ya, Ino Yamanaka. Kyaa, Sasuke-senpai, kutunggu jandamu!"
"Salah, Baka. Yang benar 'kutunggu dudamu'."
"Aah, sama saja, lah. Bagaimana ya, rasanya ditembak cowok sekeren dia..."
"Kau itu imajinatif sekali, Karin. Eh, dia bukan yang kau maksud?"
Dua pegawai itu menepi ketika melihat seseorang lewat. Tinggi, tegap, mata onyx, raven yang keren - kalau gaya rambut emo-nya dihitung. Sempurna. Semua orang yang ada di sana nyaris speechless. Seolah melihat malaikat turun dari langit...
"Tuh kan, apa kubilang? Aku yakin dia pasti mutasi malaikat," kata Karin dengan mata berkilau kagum.
"Imajinatif sekali," karyawati satunya, Shion, sweatdrop. Meskipun ia juga kagum dengan Sasuke, tapi ia jauh lebih waras dari rekannya. "Heh. Bangun. Pangeranmu sudah pergi," bisiknya saat Sasuke sudah berlalu dari pandangan mereka.
"Eh, sudah ya?" tanya Karin polos.
.
Sasuke berusaha bertahan dari kantuknya demi mendengarkan pelajaran instan tapi lama dari Yamato mengenai bidang HRD, siapa dia sekarang, seluk beluk Akatsuki Corp, sampai pelajaran kesopanan sebagai seorang manajer agar dihormati bawahannya. Ia harus mengakui, tanpa Yamato ia akan kebingungan untuk memulai tugasnya. Hmm. Bagaimanapun, ngantuk ya tetap ngantuk.
"Saya kira cukup untuk hari ini, Anda mengerti apa yang saya jelaskan barusan, Tuan?" tanya Yamato membuyarkan lamunan Sasuke. Cowok, dan sekarang pemuda itu mengangguk cepat.
Setelah beberapa nasihat dan peringatan lagi dari Yamato, pria tengah baya tersebut pamit dari ruangan. Tinggal Sasuke sendiri di ruangan megahnya. Ruangan itu bernuansa modern minimalis dan didominasi warna abu-abu. Ia masih teringat sedikit perkataan Yamato tadi.
"Lusa, akan ada beberapa orang yang melakukan interview. Ini bisa jadi tugas pertamamu, Tuan."
Perkataan singkat Yamato tadi, entah kenapa menarik hatinya. Interview? Akan sangat menyenangkan bila di antara orang-orang itu ada gadis bernama Hyuuga Hinata di sana. Hah. Sasuke memejamkan matanya, lagu yang diputar khusus di ruangannya itu tidak lembut sama sekali. Bernuansa rock. Hedonis.
i hold on so nervously to me and my drink
i wish it was cool in me
but so far has not been good
it's been shitty
and I feel awkward as I should
this club has got to be most pretensiously
since I thought you and me
well I am imaging a dark lit place
or your place or my place
Well I'm not paralyzed
but I seem to be struck by you
I wanna make you move
cause you're standing still
if your body matches what your eyes can do
you'd probably move right through me
on my way to you
i hold out for one more drink
before I think I'm looking too desparately
but far has not been fun
I should just stay home
if one thing really means one
this club will hopefully be closed in three weeks
that would be cool with me
well I'm still imagining a dark lit place
or your place or my place
I'm not paralyzed
but I seem to be struck by you
I wanna make you move
because you're standing still
if your body matches what your eyes can do
you'd probably move right through me
on my way to you
(Finger Eleven - Paralyzed)
.
Di saat yang sama, kediaman Hyuuga.
"Hinata, kau serius tidak ingin magang di perusahaan ayahmu?" tanya Neji serius.
Yup, Hinata sendiri serius dengan rencana itu. Ia sudah mengajukan surat lamaran beserta CV untuk itu, dan lusa ia sudah bisa diwawancara. Gadis itu menghabiskan suapan terakhir makanannya dengan cepat, rasanya ingin cepat-cepat hari esok...
"Kalau aku bekerja di perusahaan Otou-san, aku akan bertemu dengan Otou-san dan Neji-nii seharian," guraunya. Neji nyengir, ia tidak bisa membantah.
"Tapi kalau kau mengurungkan rencanamu itu, Hyuuga Corp akan dengan mudah menyediakan lowongan untukmu," komentarnya. "Apapun asal bukan cleaning service."
Hinata tertawa pelan. Meskipun ia heran juga kenapa ia memilih perusahaan lain untuk mencari penghasilan, padahal ia bisa dengan mudah menduduki jabatan bergengsi di Hyuuga Corp. Tentu saja bukan hanya karena ingin mencari suasana baru, kan? Mungkin ini yang dinamai intuisi.
Neji bangkit dari meja makan tiba-tiba. "Hinata, aku ada urusan sebentar," katanya cepat. Ia menyambar kunci mobil yang tergeletak di lemari kaca. "Jaa."
Dan bahkan sebelum Hinata sempat membalas lambaian Neji, sepupunya sudah meluncur jauh dengan mobilnya, membelah lalu lintas jalan raya.
.
Ruangan Sasuke Uchiha, Akatsuki Corp, 05.00 PM
"Sasuke-kun, habis ini kita jalan-jalan, ya?" pinta Ino tiba-tiba. Gadis itu merangkul leher Sasuke manja. Sasuke terpaksa membuyarkan lamunannya. 'Gila. Belum ada sebulan aku kembali dari rumah sakit, gadis ini sudah meminta macam-macam padaku,' gerutunya dalam hati.
"Ya?" Boleh ya, Sasuke-kun? Boleh, kaaan?" pinta Ino manja.
Gadis ini mulai mengganggu. "Boleh saja," jawab Sasuke datar.
"Benar? Yeah!"
Sasuke mengangguk malas. Ia kembali melihat apa yang ada di depannya. Beberapa berkas surat yang harus ditandatangani, tiga dokumen yang harus ia pelajari, dan CV-CV para pelamar kerja. Ia melirik salah satu CV dan tersenyum tipis.
Seperti biasa, Ino berbicara banyak hal pada Sasuke, seperti liburannya ke Swiss atau kehadirannya dalam suatu fashion show. Sasuke hanya mendengarkan sedikit dan memberi gumaman atau anggukan kecil sebagai tanggapan. Ia lebih berkonsentrasi pada apa yang harus dikerjakannya di depan.
Tiba-tiba, terdengar suara pintu diketuk.
"Masuk!" seru Ino sebelum Sasuke sempat berkata apa-apa.
"Eh... saya hanya ingin mengambil CV salah satu pelamar," kata si pengetuk pintu dengan sopan. Ia menyambar salah satu CV dari meja Sasuke, membungkuk hormat dan keluar ruangan. Ah, tiba-tiba Sasuke menyesal tidak menanyakan CV siapa yang diambil orang itu.
"Kau tertarik dengan CV itu?" tanya Ino saat ruangan telah hening.
"Tidak," Sasuke berbohong.
"Oh, baguslah. Karena CV itu pastinya milik wanita. Hehehe," tawa Ino dengan wajah tanpa rasa bersalah. Sasuke bergidik. Apakah Ino akan menjadi ibu tiri Cinderella saat mereka sudah menikah nanti?
.
TBC
Maaf beribu maaf karena Aya baru update sekarang, plus Aya harus memperpendek jumlah word di chappie ini.
Sebenernya Aya udah punya naskah fictnya ampe chapter empat atau lima. Hehehee. *ngelirik Una*
Haruno Aoi, akhirnya dah saya update *pasang bendera* makasih Senpai dah mau review lagi ^^,
ZaHrA InDiGo LoVeRs, yang jalan-jalan di taman? Aya emang terlalu absurd pas nulis di situ *ngejedotin kepala ke tembok* btw... WAH SEUMURAAAN! *meluk-meluk Zahra-san + ditabok*
Deidei Rinnepero13, dah diapdet, makasih banget reviewnya!
Cuma bisa bales review segitu, keburu waktu, nih. Daah! *ditabok*
