Fict ini aneh, ya? Maaf, maklum masih belajar.
Disclaimer: Bukan Aya yang punya Naruto. Tapi dia noh! *nunjuk-nunjuk Masashi Kishimoto*
Warning: Author yang aneh dan typo di sana-sini. Sebelum baca, diharapkan siapin kantong muntah dahulu.
Pairing: SasuHina, a lil bit SasoHina. Ada yang keberatan kalo suatu saat muncul SasoIno? *seringai*
^o^
Summary:
Lupakan gaya rambutnya yang aneh, Uchiha itu siapa? Hanya khayalan Hinata-kah? Bagaimana jika khayalan itu menginginkan gadis pujaannya lebih dari sekadar sahabat? SasuHina. Kalau nggak suka, jangan baca.
Unexpected Meeting
"Sasuke-kun... aku tidak percaya! Baru seminggu lalu dan kau bisa menyetir dengan handal!" pekik Ino kegirangan. Mengingat Sasuke belajar mengendarai mobil dua minggu setelah perbannya dibuka.
Itu mungkin keajaiban. Sasuke menyeringai. Ia mungkin punya kepintaran sedikit di bawah Einstein, tapi dari dunia atas pun, Sasuke lihai mengendarai kendaraan semacam mobil, apapun namanya. Jangan anggap seorang Sasuke Uchiha mau dibodohi teknologi manusia.
"Mau ke mana?" tanya Sasuke malas. Dalam hatinya, ia berharap Ino akan menjawab, 'ke mana saja asal tidak menghabiskan isi kantongmu, Sasuke-kun,' atau sejenisnya.
"Temenin aku shopping, ya! Di mall di tengah kota kayaknya ada outlet yang lagi ngadain diskon... Mau kan, Sasuke-kun? Mau, kan?"
Sasuke menelan ludah. Harapannya salah besar.
Sepanjang perjalanan, Ino menghabiskan waktunya untuk ber-SMS ria. Entah sudah berapa banyak orang yang ia kirimi pesan. Setelah puas, gadis itu menghubungi sahabat-sahabatnya dan berceloteh manja. Oh God, rasanya Sasuke ingin keluar dari mobil saat itu juga. Bukan ini hidup yang ingin dijalaninya, menjadi suami dari seseorang yang sangat err... cantik tapi manja. Sasuke baru akan menghentikan aktivitas menelepon Ino ketika menangkap nama yang disebutkan Ino.
"Hinata-san? ... Oh... on the way Konoha Mall. Tahu kan, di mana? ... Wow! Untuk apa?... WOW! Kau akan bertunangan? Selamat, ya! Siapa si cowok beruntung itu? ... Haha, tidak apa-apa. Jaa, Hinata-san!"
Klik! Sambungan terputus.
Sasuke terpaku di tempatnya. Siapa itu... Hinata? Apa mungkin dia Hinata Hyuuga? Terlalu banyak kemungkinan. Ia menepis keringat dingin yang menitik di pelipisnya.
'Kalau 'Hinata' yang itu adalah Hinata Hyuuga, berarti hanya ada satu kemungkinan,' pikir Sasuke.
"Sasuke-kun, hati-hati! Tadi hampir saja nabrak pohon," ujar Ino khawatir.
Perkataan Ino tidak ia acuhkan. Ia hanya memikirkan sesuatu.
'Kalau Hinata Hyuuga akan bertunangan, berarti aku terlambat'.
.
Kamar Hinata, 06.00 PM
Sang gadis Hyuuga tersebut mematikan hubungan telepon dengan gundah. Semakin orang-orang menanyakan pertunangannya, semakin ia merasa stres. Ia kan, belum bertunangan dengan Sasori. Ia hanya 'akan'.
Akan. Itu sama saja!
Di tangan kirinya, terselip selembar foto gaun yang akan dikenakan Hinata saat menikah nanti. Gaun pengantin itu mewah (putih seperti biasanya), berekor satu meter, kerudung tipis dengan sematan manik-manik putih mungil, korsase mawar putih di pinggang, yang jelas semuanya serba putih. Hinata bergidik. Apa ia nanti tidak akan terlihat seperti hantu?
Lusa ia akan diwawancara. Hinata sudah menyiapkan pakaian yang pas untuk itu. Kemeja putih berlengan pendek dilapisi blazer biru dongker dan rok pensil selutut berwarna senada. 'Rasanya tidak sabar,' pikir gadis itu. Menjalani kehidupan karier lebih bermutu daripada harus bertunangan dengan putra rekan ayahnya yang tampan tapi jutek.
Hinata sibuk membayangkan wajah bosnya nanti. "Pasti usianya 50 sampai 60-an, gendut, kumisan dan botak di depan," gumamnya. "Atau justru tinggi, berisi, gaya rambutnya keren dan wajahnya tampan? Hihi," ia cekikikan pelan.
.
Dua hari kemudian, kediaman Hyuuga, 07.00 AM.
"Hinata, mau kuantar, tidak?" tanya Neji pada sepupunya yang masih sibuk menguncir tinggi rambutnya.
"Tidak usah, Neji-nii. Neji-nii kan, juga harus ke kantor. Aku akan naik taksi nanti. Tarifnya murah, kok," tolak Hinata halus dengan cepat sebelum Neji sempat memikirkan ide lain. Memintanya diantar Sasori, mungkin? No, thanks. Ia sedang tidak ingin berurusan dengan pemuda ketus itu.
Hinata mematut diri di depan cermin, memastikan bahwa gaya rambutnya sekarang tidak terlihat aneh. Hinata melirik jam dinding. Hampir telat untuk pegawai baru yang akan interview. Ia bergegas memakai stoking dan sepatunya, kemudian menyambar tasnya.
Pagi itu mendung. Hinata terburu-buru mencegat taksi yang lewat untuk mengantarnya sampai ke depan tujuan. Sesampainya di sana, ia disambut seorang sekuriti galak yang menyeretnya langsung ke depan ruang tunggu. Kelihatannya, lumayan banyak juga orang-orang yang akan diwawancarai.
"Hinata Hyuuga! Saya tidak menyangka akan bisa bertemu Anda," seseorang - Konan - menepuk pundak Hinata dengan senyum lebar terhias di wajahnya. Wanita itu berumur sekitar 37 tahun, terlalu aktif untuk usia sekitarnya. Hinata mengenalinya sebagai wakil direktur perusahaan ini.
Akatsuki Corp.
Hinata membalas senyum. Namun sebelum ia bicara apapun, Konan sudah menyelanya.
"Aku sempat tidak percaya bahwa pewaris aset Hyuuga Corp akan bekerja di sini, bahkan hanya sebagai pegawai rendah," Konan tertawa lepas. Kemudian, matanya melebar. "Apa yang membawamu ke sini, Nona?"
"Yah... Boleh, kan? Neji-nii dan Otou-san juga tidak keberatan," jawab Hinata ringan.
Konan mengangguk. Ah, gadis seperti ini yang ia inginkan untuk menjadi anaknya. Percaya diri dan manis. Sayangnya, sudah dua puluh tahun terakhir ini Konan mengidap penyakit yang membuatnya tidak bisa memiliki keturunan.
"Omong-omong, kau mengingatkanku pada putraku. Lebih tepatnya, putra angkatku," sambungnya. "Kelihatannya seumuran denganmu. Sekarang ia manajer di perusahaan ini," kata Konan bangga. "Kapan-kapan akan aku perkenalkan padamu."
"Oh, ya?" tanya Hinata. Ia merasa tertarik dengan laki-laki yang diceritakan Konan. "Siapa namanya?"
"Akan kuceritakan lebih lanjut saat kau selesai interview saja. Giliranmu semakin dekat," Konan menunjuk meja resepsionis. "Maaf sudah mengganggu waktumu, Hyuuga-hime. Semoga sukses!" godanya.
Konan membungkuk hormat, melambai dan menghilang ke dalam pantry.
.
Sasuke nyaris putus asa mewawancarai banyak pegawai seharian itu. Belum lagi bila ada perempuan yang menggoda dan bergenit-genit padanya. Sh*t! Untung ada status 'akan bertunangan' miliknya, sehingga para calon pegawai yang kegatelan harus berpikir dua kali sebelum bertindak.
Disingkirkannya CV pegawai yang barusan diwawancara, memasukkannya ke dalam laci meja dan mengambil CV lain tanpa melihat siapa namanya. Ini pegawai terakhir. Satu kali lagi.
"Segera masuk ke ruang personalia, ya?" terdengar suara resepsionis samar-samar dari depan ruangan.
Kemudian, pintu ruangan terbuka. Seorang gadis 25 tahun melangkah masuk dengan takut-takut. Pandangannya selalu terarah pada lantai berlapis karpet yang diinjaknya. Sasuke mengangkat alis. Gadis ini terasa... familiar dengannya.
"Ada semut di karpet, Nona?" tanya Sasuke dingin.
Gadis itu tersentak. Dingin. Ia mengira orang yang akan mewawancarainya adalah seorang pria tua gemuk yang mesum dan bersahabat, bukannya pria yang dingin. Bahkan, suaranya tidak terdengar seperti pria tua, melainkan anak muda.
"Baik. Kau pegawai terakhir. Jangan buat hariku lebih panjang dari ini," kata Sasuke datar karena gadis itu tidak bersuara. Ia memerhatikan ketika gadis itu mendekati mejanya dan duduk di kursi di hadapannya. Sasuke agak risih karena gadis aneh itu masih menunduk.
"A-ano... mataku kelilipan," kata si gadis aneh tiba-tiba. Sasuke mengangkat alis lagi. Aneh. Gadis itu mengerjap-ngerjapkan mata dan ketika merasa kelopak matanya tidak lagi mengganjal, ia berani mengangkat wajahnya. Dan gadis itu tersentak. Bukan, bukan karena Sasuke tampan, meskipun ia mengakui hal itu. Hanya...
"Kita pernah bertemu?" tanya Sasuke pendek sebelum si gadis sempat berbicara apapun.
"Y-ya... Waktu di rumah sakit itu..." jawab si gadis ragu-ragu.
Sasuke mengendurkan posisinya pada kursi dan menatap dalam-dalam mata gadis di depannya. Ah, lavender. Cantik. Itu kata pertama yang terlintas bila ia melihat mata itu. Apa ia berhalusinasi lagi? Semoga tidak.
By the way, dia kecewa dengan jawaban yang dilontarkan si gadis lavender.
"Itu saja?" desaknya.
"Ya."
Sial. Tidakkah gadis ini lupa padanya? Atau ia memang bertemu dengan orang lain? Atau Hinata sudah berhenti memercayainya?
"Hinata-san, sudah ingat?" tanya Sasuke datar.
Gadis itu mendelik. "Bagaimana kau tahu namaku?" tanyanya was-was. Keringat dingin mengalir di pelipisnya. Orang ini mulai mengganggu. Dia hanya ingin interview, itu dan selesai. Sesudah itu pulang. Bukannya mengurusi calon bos tidak jelas.
"Aku 'kan temanmu," kerlingan nakal Sasuke berhasil membuat gadis itu merona. "...Hina-koi."
BUAGH!
"Mesum! Mulai saja interview-nya!" teriak si gadis dengan buku tebal di tangan. Sasuke mengurut pelipisnya yang berdenyut-denyut. Sakit. Baginya, hantaman kamus bahasa Jerman itu timpukan cinta dari sahabat lamanya.
"Ya, kita mulai wawancaranya," kata Sasuke setelah bisa menenangkan diri. Ia menyambar sebuah CV dan membuka-bukanya. "Namamu Hinata Hyuuga. Benar?"
Gadis itu - Hinata - mengangguk.
"Umur, 25 tahun."
Mengangguk lagi.
"Status, lajang?" tanya Sasuke lagi.
Hinata sadar bahwa seseorang di depannya telah mengabaikan keterangan jenis kelamin, tempat tanggal lahir, alamat, nomor telepon, dan lainnya. Ia mengerutkan kening. "Ya."
"Ingat 'dia'?" Sasuke mengabaikan CV dan menyingkirkannya ke dalam laci. Hinata mengangkat alis karena pertanyaan yang baru dilontarkan itu tidak jelas.
"Maksudnya?"
"Apa kau ingat seseorang yang selalu kau panggil 'Uchiha-san'? Yang sekarang menghilang entah ke mana?"
Gadis lavender itu mengatupkan kelopak matanya karena gelisah. Tidak. Jangan Uchiha-san lagi. Ingatan tentang makhluk itu telah dikuburnya dalam-dalam. Siapa orang ini? Yang dengan lancangnya menyebutkan nama itu lagi di depannya.
"Saya harus pergi," ujar Hinata sinis. Gadis itu akan membuka pintu, tetapi seseorang menahan tangannya.
"Jangan pergi."
"MESUM!"
"Hinata, dengarkan aku dulu."
Sasuke menarik tangan Hinata sehingga gadis itu berbalik dan pinggulnya terantuk meja dan kursi. Hidung mereka saling bersentuhan. Hinata mengernyit saat melihat mata Sasuke. Onyx. Ini... Deja Vu.
"Dengarkan aku."
.
Ruang Rapat, Akatsuki Corp., 09.00 AM
"PERSETAN!"
Sasori memandang bayangannya sendiri di depan cermin. Mencoba mencari sisa-sisa malaikat dalam wujudnya sekarang. Tidak ada. Atau mungkin hanya 'kemanisannya' yang kini membuat gadis bumi tergila-gila.
"Sampai kapan aku harus bersikap seperti ini? Tuhan, ini kutukan. Aku tidak pernah bermaksud ketus di depan Hinata. Aku hanya ingin... ah, ingin..."
Oh, my. Sejak kapan Sasori jadi melankolis? Kalau boleh jujur, ia sangat ingin mencairkan kekakuan antara ia dan Hinata, bukannya canggung seperti sekarang. Namun ia tidak bisa. Ia... dulu tidak seperti ini.
Rasanya seperti kutukan karena ia telah melanggar garis kodratnya sebagai malaikat pelindung. Sangat sulit baginya untuk tersenyum di depan wanita kecuali keluarganya, meskipun di depan orang yang dicintainya sekalipun. Jangankan untuk menyatakan cinta, untuk berkata gombal saja tidak bisa.
Sulit untuk mengingat masa lalu. Saat ia selalu dianggap anak kecil oleh keluarganya. Pada umur 13 tahun, Sasori menjatuhkan diri ke dunia manusia dan mencuri ciuman pertama seorang gadis.
Flashback, 12 tahun yang lalu.
"Sasori, hati-hati! Jangan lama-lama...!"
"Terserah."
Sasori memandang danau yang terhampar di depannya. Danau itu terlihat sejuk, sekelilingnya ditumbuhi pakis dan terlihat ikan-ikan berenang di bawah air yang jernih. Lompat, tidak. Lompat, tidak. Lompat?
"Lompat."
Detik kemudian, Sasori meluncur ke dalam air dengan mantap. Membiarkan tetesan air danau tumpah membasahi pohon dan pakis-pakis. Setelah itu, ia tidak terlihat lagi.
.
Sasori mengucek mata dan melihat ke sekeliling. Eh. Di mana ia sekarang? Yakin, sekarang bukan di dunia atas lagi. Ia ada di... bumi.
Sambil menggerutu, Sasori keluar dari semak belukar tempat jatuhnya ia dan merapikan ujung kemejanya. Beberapa orang yang lewat terkikik pelan menunjuk-nunjuk pakaian Sasori yang aneh dan rambut merah acak-acakannya. Dikira orang gila, eh? Pandangannya tertuju pada gadis blonde seusianya yang sedang tertawa-tawa dengan teman-temannya.
"Hai, Aneh. Kau tampan, tapi selera fashionmu aneh. Haha," gelaknya. "Benar begitu, Sakura?" Ia menyikut gadis di sebelahnya.
Gadis yang dipanggil 'Sakura' hanya mengangguk, merasa bahwa sahabatnya mulai bercanda keterlaluan. Padahal, cowok merah itu lumayan untuknya.
Sasori mengerutkan kening dan berjalan mendekati si gadis blonde.
"Sekali lagi berkata seperti itu, aku bunuh," ancamnya. Si blonde tergelak lebih keras. Sasori menghela nafas dan menjambak kerah bajunya sehingga kening mereka saling menekan. "Kau cantik tapi sialan."
Dengan satu langkah cepat, Sasori menjejalkan mulutnya pada bibir mungil si gadis blonde. Gadis itu terkejut dan meronta. Sakura yang ada di sampingnya hanya speechless.
"KAU LEBIH MENJIJIKKAN, COWOK MESUM! MENCIUMKU DI TEMPAT UMUM!" teriak si blonde. Ia mendorong Sasori menjauh hingga cowok itu terlempar.
Sasori tersenyum tipis. Dalam sekejap mata, ia sudah menghilang.
.
End of Flashback
Sasori menghela nafasnya yang tersengal-sengal. Seolah kejadian 12 tahun lalu itu barusan terjadi. Kini, ia bertekad untuk mencari si gadis blonde. Bukannya menjadi suami dari gadis lain, menjalani karier yang seharusnya bukan tempatnya. Meskipun ia menyukai semua ini. Sasori mengerutkan kening. Ia menatap cermin yang sedang dipegangnya. Memukulnya dengan satu gerakan cepat.
Pyaar!
Cermin itu pecah dan terburai. Salah satu pecahan kacanya mengenai jari telunjuknya. Luka. Sasori menyeka darah yang keluar dengan lengan kemejanya. Hanya itu yang bisa ia lakukan.
Luka itu meninggalkan sensasi perih, goresan dalam, dan darah yang masih menetes pelan.
"Kau tidak tahu perasaan ini, Hinata."
.
Koridor Akatsuki Corp., di waktu yang sama.
Plak!
Ino menampar pipinya sendiri. Ah. Tadi hanya mimpi, kan?
Untuk apa mengingat-ingat kembali insiden 12 tahun yang menjijikkan itu? Ugh. Hanya ia, Sakura, dan Tuhan yang tahu hal itu. Itu dan si cowok merah menyebalkan berusia 13 tahun. Dan ciuman pertamanya yang direbut dengan cara menyebalkan.
Sepatu high heels lima senti beradu dengan lantai keramik yang dingin. Koridor berdiameter dua meter dengan dinding merah mencolok itu memberi kesan tersendiri bagi gadis 25 tahun itu. Begitu berani, ekspresif, dan menghangatkan.
Mungkin ia harus menghampiri Sasuke di ruangannya sekarang. Menjelaskan yang sebenarnya.
Ia tahu segala upayanya untuk menggagalkan rencana pertunangan ini pasti tidak akan berhasil. Bermanja-manja dengan Sasuke dan membuat keluarga Sasuke ilfeel kelihatannya juga tidak terlalu membantu. Ia senang menyadari Sasuke terlihat tidak bersemangat menghadapi rencana pertunangan ini. Apa yang bisa dilakukannya lagi? Ino hanya berusaha menerima Sasuke sebagai calon suaminya, bisa mesra padanya, dan mengerti posisinya - terjebak. Namun, yang namanya cinta itu tidak bisa dipaksakan. Oke, ia menyerah, angkat tangan.
"Aaww!" pekiknya.
Ino menyentakkan jemarinya dari blazer mahal yang dikenakannya. Ah, tertusuk peniti. Ia mencabut peniti dari blazernya, membuangnya sejauh mungkin dan menatap ujung jarinya. Luka kecil itu meninggalkan sensasi perih, goresan dalam, dan darah yang masih menetes pelan.
.
Ruang Personalia
"Kau ingat waktu kau bertanya apa itu jatuh cinta?" tanya Sasuke. Meja Sasuke masih terhimpit lutut Hinata dan Sasuke, dan gadis itu mulai sesak nafas. Tatapan menusuk Sasuke membuatnya tidak bisa bermimpi sedetikpun.
"Ya?"
"Saat itu kau berhadapan dengan seseorang yang mengalaminya," Sasuke menyeringai tipis. Gadis Hyuuga tersebut meringis.
Hinata's POV
Sial! Pemuda aneh ini malah memelukku semakin erat. Dan apa maksudnya? Seseorang yang mengalaminya? Bicara apa dia?
"M-maksud Anda?"
Sasuke kelihatannya tidak memedulikan pertanyaanku. Ia melepaskan himpitannya pada meja dan bangkit dari kursinya. Aku melangkah mundur dengan nyali mengkeret, yakin Sasuke akan melakukan yang tidak-tidak padaku.
Jarak antara kami semakin dekat. Satu lagi kesialan, raut wajahnya seperti psikopat. Psikopat tampan.
Dan mirip Uchiha-san tentunya.
Benarkah ia Uchiha-san? Tidak ada waktu untuk memikirkan hal itu. Uchiha-san yang kukenal tidak pemaksa seperti ini. Orang itu menangkap pergelangan tanganku, kemudian menghimpitku lagi di antara tembok. Aku tercekat.
"Bagaimana cara membuatmu percaya...," ia terdiam sejenak. Helaan nafas panasnya menerpa wajahku, seiring dengan suhu tubuhku yang semakin meningkat. "... bahwa aku adalah Uchiha-san? Nama saja tidak cukup, bukan?"
"T-tapi untuk apa Uchiha-san menjadi manusia? Uchiha-san yang aku kenal bukan manusia, dia h-hanya khayalan masa kecilku," ujarku pelan. Nyaris berupa bisikan.
Sasuke mendekatkan wajahnya padaku. Bibir kami hanya berjarak dua senti meter sekarang. "Untuk mengejarmu, Hinata."
"B-bagaimana bisa...?"
"Aku melakukan hal terlarang untuk itu," jawabnya pias. Aku masih membeku. Ingin rasanya menjauh, tapi tidak bisa. Aku tertahan di pojok ruangan ini.
Bersama calon bos, interviewer yang membingungkan.
Aku mencari tempat berpegangan untuk tanganku. Kusentakkan jemariku saat menyentuh dada bidang Sasuke yang terbalut kemeja mahal. Seperti ada luka menganga di dalamnya.
Apa yang terjadi sebenarnya?
Brak.
"SASUKE-KUN!" seru seorang gadis blonde di depan pintu. Aku bergegas menyingkirkan tubuh Sasuke dan berlari menjauh darinya. Tuhan. Aku mengenali gadis itu sebagai Ino. "Hinata-san?"
"I-Ino-san..." sapaku pelan. Tidak tahu harus berbuat apa.
End of Hinata's POV
"Eh... Sasuke-kun, dia pacarmu?" tanya Ino hati-hati. Telunjuk rampingnya menunjuk ke arah si Hyuuga. Sasuke tergeragap, terlebih ketika Ino memilih untuk menutup kembali pintu ruangan.
"B-bukan," jawab Hinata pelan. Ada sedikit penyesalan di kepalanya ketika mengucapkan itu.
Ino mengangkat alisnya. Tidak puas dengan jawaban singkat Hinata.
Sasuke menghela nafas. "Tadi hanya insiden kecil. Tidak berarti apa-apa."
Hinata terbelalak. Dengan mudahnya jawaban ringan seperti itu meluncur keluar dari lidah Sasuke. Bukannya yang terjadi sebenarnya tidak sesederhana itu?
"Tapi kalian... pasti ada suatu hubungan, kan?" tanya Ino penuh harap.
Sang Uchiha dan Hyuuga saling berpandangan. Meragukan pendengarannya. Tidak yakin akan nada Ino bertanya. Sebelum Sasuke membuka mulutnya, Hinata sudah menyambar jawaban.
"Tidak apa-apa. S-sumpah!"
"Oh..." gumam Ino dengan canggung. "Tadinya aku berniat..."
.
Ruang rapat, Akatsuki Corp, di waktu yang sama.
Tok tok tok!
"Masuk. Tidak dikunci."
Seorang pemuda blonde poni-lempar masuk ruangan dengan senyum lebar. Ia menghampiri Sasori di kursi rapat dan melempar sebuah map berwarna hijau. "Danna, cemberut sekali lagi atau aku akan meminta Pein-sama mendepakmu, un. Tuh," ekor matanya melirik map yang tadi ia lempar. "Berikan mapnya pada manajer baru itu. Dia ada di ruangan Personalia sekarang. Bisa kan, un?"
"Mm-hmm. Orang baru, rite? Terserah," Sasori memungut map tersebut. "Jangan ganggu aku lagi setelah ini. Aku sedang bad mood."
Pemuda blonde itu mengernyit saat sahabatnya keluar dari ruang rapat dan membanting pintunya. "Seharusnya kuberikan map itu besok atau lain kali," sesalnya. "Dasar Danna, un."
.
Sasori melangkah melintasi koridor Akatsuki Corp dengan terburu-buru, 75 sentimeter untuk setiap langkahnya. Gah, mengganggu saja. Setidaknya ini bisa diselesaikan dalam beberapa menit.
'Hmm, apa tadi Deidara melihat jariku yang luka?' pikir Sasori.
Semoga saja tidak, karena tidak ada waktu berdebat untuk itu. Personalia bisa ditempuh dengan sedikit jalan dan naik lift melewati dua lantai dari ruang rapat. Sasori menekan tombol lift tidak sabaran. Saat pintunya di buka, ia langsung masuk ke dalamnya dengan terburu-buru.
Harusnya ia tidak terburu-buru. Untuk apa?
Lift telah sampai di lantai dua, tempat ruangan yang ia tuju berada. Sasori keluar lift tidak sabaran. Melewati beberapa lorong yang berbelok sebelum akhirnya terlihat pintu ruang Personalia di depannya.
Sebelum ia sempat mengetuk pintu, terlintas pikiran lain di otaknya. Buat apa ia di sini? Bukannya ia bisa meminta bawahannya?
Ah, bodoh.
Namun sudah terlanjur. Sasori menghela nafas dan mengetuk pintunya.
Tok tok tok.
"Masuk," teriak suara gadis dari dalam.
Apa yang ada di dalam ruangan itu membuatnya tercekat. Selain melihat Hinata, calon tunangannya, ia juga melihat dua orang lain. Dua orang yang tidak asing baginya.
"Uchiha?"
"Akasuna?"
"Mau apa kau di sini?" Sasori menjatuhkan map hijaunya. Ia menatap lurus pada mata onyx Sasuke. Sementara yang ditatap hanya menarik sesuatu dari selipan rambut emo-nya.
Sebuah pisau dengan bercak darah ungu. Bagaimana bisa Sasuke menyembunyikan benda itu di rambutnya?
"Harusnya aku yang tanya, mau apa kau di sini?" tanya Sasuke balik.
Ia ingat Sasori. Temannya sejak kecil. Garis bawahi frasa tadi, Sasori adalah temannya saat Sasuke masih berupa malaikat pelindung. Makhluk khayalan manusia. Dan bukannya manusia seperti sekarang.
"Kau si cowok mesum!"
Sasori menoleh, mendapati ada gadis lain di ruangan itu. Ah, ia hampir melupakannya. Gadis blonde yang mirip dengan gadis yang dulu ia cium. Ia menyeringai. "Ohayou! Kita bertemu lagi, Nona. Kau kelihatan lebih cantik. Rite?" sapanya ringan dengan senyum tipis.
Garis bawahi yang itu juga. Senyum manis. Bukannya Sasori tidak pernah tersenyum pada perempuan manapun?
Gadis blonde itu memerah. Namun Sasuke memotong momen tersebut dengan menyorongkan pisaunya pada Sasori.
"Apa yang membawamu ke sini?" tanyanya malas.
"Saat aku berkunjung ke bumi, ada manusia yang mengataiku aneh. Aku memanfaatkan saat tersebut dengan menciumnya," ia melirik si blonde dan tersenyum lagi. "Itu terjadi saat aku... 13 tahun? Kalau kau, Uchiha?"
Sesaat ada keheningan yang janggal, Benar-benar janggal.
.
TBC
Ebuseng, TBC-nya nggak tepat amat _ _'a
Maaf kalo chappie ini lebih jelek dan kacau dari chap sebelumnya. Nggak melenceng dari naskah fict yang udah Aya tulis sebelumnya, kok. Tolong ingetin Aya buat typo(s)-nya, ya ^^,
Sebenernya pengen naikin jadi Rated M, tapi Aya takut jadinya makin kacau dari cerita sebelumnya ^^'v
*Una pasang tempat ngebales review para readers*
Una: SaHi-chan, ... sumpah ni fict dibilang keren? bagi gue kok kebalikannya, ya *Aya pundung*
yuryujav, ... hahah, Ino kecentilan. Siapa dulu yang punya ide *ngelirik Aya yang lagi pundung*
*Aya nyamber kompi plus keyboard, mouse dan CPU dari tangan Una*
Deidei Rinnepero13, pendekan pasti? Yap xD soale Aya bikinnya nyaris NGEBUT banget, secara kompi pake Parental Control gitu. hehee xD
Haruno Aoi, heaaah! jadi makin semangat lagi *bungkuk-bungkuk* thanks! ^^,
Hyuga Eca chan, thanks for the comment! *bungkuk-bungkuk lagi* akhirnya dah diapdet! ^^
Shaniechan, heahahaha *evillaugh* tau aja typonya. thanks for ya sharp-eyes!
MarMoet Hime Chan, akhirnya ada yang bilang lucu juga *meskipun bukan genre humour* T3T *tangis haru* yep, Sasuke ta' buat tersiksa di sini *evilsmirk* but liat aja chappie 4. hehe ^^,
ZaHrA InDiGo LoVeRs, akhirnya dah bisa manjangin chappie 4 neh ^3^~ tebakan Zahra-san benar hohoho *meluk-meluk Zahra-san + ditendang Una*
Hina bee lover, tul, tapi di chap 4 ini Aya sampe greget ngebayangin Hinata yang gak percaya ama Sasuke _ _"a *ditendang again by Una*
Una: itu ide gue woy!
*Aya kabur*
Lollytha-chan, thanks pujian (?)-nya ^^, yep. baca aja ^^
Done. 'Till waiting 4 ya review, Minna ^^
