Fict ini aneh, ya? Maaf, maklum masih belajar.
.
.
BUSENG! Udah berapa lama gue tinggalin nih fict? o.O"
*ngeliat sekeliling*
*nyari kemoceng*
*ketemu kemoceng*
*bersihin debu*
*dilempar sapu*
*pundung*
Disclaimer: Bukan Aya yang punya Naruto. Tapi dia noh! *nunjuk-nunjuk Masashi Kishimoto*
Warning: Author yang aneh dan typo di sana-sini. Sebelum baca, diharapkan siapin kantong muntah dahulu.
Pairing: SasuHina, a lil bit SasoHina. Ada yang keberatan kalo suatu saat muncul SasoIno? *seringai*
^o^
Summary:
Lupakan gaya rambutnya yang aneh, Uchiha itu siapa? Hanya khayalan Hinata-kah? Bagaimana jika khayalan itu menginginkan gadis pujaannya lebih dari sekadar sahabat? SasuHina. Kalau nggak suka, jangan baca.
A Plea
"Saat aku berkunjung ke bumi, ada manusia yang mengataiku aneh. Aku memanfaatkan saat tersebut dengan menciumnya," ia melirik si blonde dan tersenyum lagi. "Itu terjadi saat aku... 13 tahun? Kalau kau, Uchiha?"
Sesaat ada keheningan yang janggal, Benar-benar janggal.
Hinata menonton semua itu dalam diam. Masih belum mengerti situasi yang terjadi. Permisi, ia tidak terlibat, kan? Mungkin ia harus minta izin untuk pamit. Bagaimana dengan Sasori? Segalanya benar-benar terjadi beruntun. Calon tunangannya yang akan satu kantor dengannya, sahabat baiknya yang berpacaran dengan calon bosnya, dan Sasuke yang...
"A-aku rasa aku harus pergi," sahut Hinata pelan. Tanpa menunggu respon yang lainnya, ia bergegas melangkahkan kakinya untuk keluar. Namun, Sasori menahan tangannya dan langsung memeluk Hinata. Hal itu membuat Sasuke membuang muka.
'Sudah kuduga, Hinata milik Sasori,' pikirnya sinis.
"Biar aku antar," tawar Sasori datar. Hinata terpaku di tempatnya. Hanya bisa mengangguk sambil meringis ngeri. "Ayo pergi."
Sasori membuka pintu, membawa Hinata yang masih dalam pelukannya keluar ruangan. Membiarkan Sasuke dan Ino sendiri.
.
"Sasori-san, apa m-maksudmu tadi?" tanya Hinata dengan bibir bergetar.
Hello, sejak kapan Hinata kembali tergagap saat bicara?
"Bukan apa-apa," jawab Sasori pendek. Hinata bungkam.
Sepanjang perjalanan itu, mereka hanya diam. Sasori yang pertama berinisiatif memecah keheningan.
"Bagaimana wawancaranya?" tanya Sasori pendek.
Hello, sejak kapan Sasori jadi perhatian begini?
"Tidak ada wawancara. Dipotong oleh insiden kau-masuk-ruangan," sindir Hinata.
"Oh ya? Kelihatannya tadi kalian tidak sedang interview saat aku datang," sindir Sasori balik.
Pemuda bermata hazel itu ingin sekali tersenyum melihat Hinata yang hanya memandangnya polos. Sayangnya, ia gengsi.
"Apa kau kenal dengan - err, Sasuke?" tanya Hinata pelan. Amat pelan, nyaris berupa bisikan.
Sasori mengangguk. "Sedikit," ujarnya berbohong.
Hinata terdiam. Mencari apa yang bisa dijadikan topik pembicaraan. "Ngg... Kau tahu sedikit tentang... a-asal-usulnya?"
"Eh... aku hanya ingat dia pintar. Punya banyak fans sejak kecil," jawabnya ragu. Tiba-tiba, ia menepikan mobilnya ke pinggir jalan dan menghentikan mesinnya, agar bisa menoleh pada Hinata. Gadis itu bahkan tidak terkejut. Sasori meminta maaf berkali-kali dalam hati karena ia telah berbohong.
Sebenarnya, bukan 'hanya ingat'. Bahkan ia ingat lebih dari itu. Pada umur 3 tahun, Sasori belajar berbagi dust untuk teman barunya, Sasuke. Pada umur 5 tahun, Sasuke pernah berebut dengannya dalam mencari perhatian guru les mereka. Pada umur 7, mereka pernah bertengkar karena mana potion. Pada umur 9, mereka sering mengintip keadaan bumi bersama-sama dari permukaan danau. Mencari perempuan cantik, mungkin?
Mereka hilang kontak saat Sasuke diminta Hana-senpai untuk menghampiri seorang gadis bumi di usia 10 tahun. Setelah itu, Sasori belajar mencari teman lain.
Hinata melirik Sasori sekilas, kemudian mengurungkan pandangannya. Sasori menyalakan mesin dan mulai mengemudi kembali. Ia berharap gadis blonde yang tadi ditemuinya adalah si blonde yang ia kenal.
.
Ruangan Pribadi Inoichi Yamanaka, 4.17 PM.
"Otou-san...!" seru seorang gadis blonde riang. Ia membuka pintu ruang kerja ayahnya lebar-lebar dan mendapati yang dicari sedang tersenyum balik padanya.
Inoichi, nama ayah Ino, mengangguk dan menyuruh Ino mendekatinya. "Ada apa, Manis?"
"Otou-san..." Ino mendekati meja Inoichi, kemudian meregangkan kedua tangannya di atas meja kerja. "Otou-san akan mengabulkan permintaanku, kan?"
"Apa saja selama itu masuk akal, Sayang," Inoichi menyingkirkan surat-surat dari mejanya dan menepuk-nepuk kepala putrinya.
Ino terdiam sesaat. Memutar-mutar telunjuknya di atas meja dengan gelisah. Ia ragu dengan sesuatu yang akan ia minta. "Uh... itu."
Ada keheningan selama beberapa detik.
"Apa aku bisa batalkan rencana pertunangan ini?"
.
Kediaman Hyuuga, di waktu yang sama.
"Sampai," gumam Sasori singkat. Ia segera mematikan mesin mobilnya.
Seperti biasa, setelah keluar dari mobil ia selalu membukakan pintu untuk Hinata. Gadis Hyuuga itu terkesan akan sikap Sasori yang gentleman. Hinata ingin bicara sesuatu pada Sasori, tapi pemuda itu selalu mengacuhkannya. Akhirnya, ia hanya diam.
Hinata membuka gerbang sendiri, karena ia tahu sekuriti pasti sedang tertidur. Sasori membantunya. Kemudian, mereka melangkah masuk ke dalam pekarangan mansion Hyuuga. Sebelum Hinata mengetuk pintu kediamannya, ia teringat sesuatu.
"S-Sasori-san?" panggil Hinata.
"Hmm."
"Apa kita... bisa..." Hinata mendadak gelisah. Ia memindahkan berat badannya dari kaki ke kaki lainnya, takut Sasori menolak permintaannya.
Sasori memandang Hinata. Masih menunggu kalimat selanjutnya.
"Apa kita bisa batalkan rencana pertunangan ini?"
.
Ruangan Pribadi Inoichi Yamanaka, 04.25 PM
"Apa maksudmu, Ino?" tanya Inoichi bingung.
"Otou-san jangan pura-pura bodoh!" teriak Ino marah. "Kalau Otou-san menyayangiku, Otou-san bisa membiarkan aku mencari pendamping hidupku sendiri."
Inoichi termangu. Belum pernah ia melihat putri semata wayangnya begitu sewot soal peraturan yang diterapkannya. Biasanya, gadis itu menurut seperti anak kucing. Ino memang sudah besar, 25 tahun. Bisa menentukan nasibnya selanjutnya. Ia harus bertindak.
"Baik," Inoichi berdeham. "Aku akan mengusahakan hal itu. Tapi," ia memandang tajam mata aquamarine anaknya.
Ino mengkeret.
"Tapi kau harus tunjukkan pada Otou-san siapa laki-laki pilihanmu itu, Ino. Paling tidak sebelum bulan ini berakhir."
Ino sweatdrop.
.
Perlahan, seulas senyum tipis tersungging di bibir Ino.
Memorinya kembali mengulang kejadian tadi. Hmm... apa pemuda bermata hazel itu sudah punya pasangan? Atau sang manajer pemasaran itu memang calon tunangan Hinata, sahabatnya? Kemudian, ia mengingat kembali insiden 13 tahunnya. Matanya mengerjap sesaat.
Kelihatannya Sasori orang yang baik untuk diajak kerjasama. Kemudian, ia mulai menyusun rencana.
Kalau Sasori bisa diajak kerjasama untuk membatalkan pertunangannya...
Ino telah mendapatkan keputusan. Dalam hatinya, ia mengucap maaf.
.
Ruangan Pribadi Akasuna no Sasori, Akatsuki Corp., 04.58 PM
"Ada yang bisa saya bantu lagi, Tuan?"
"Tidak, terima kasih."
Office girl tersebut membungkuk hormat dan keluar ruangan. Sasori masih tertinggal di kursinya. Pandangannya kosong. Diam. Ah...
Bisakah ia mengabulkan permintaan Hinata? Sasori merasa tidak nyaman dengan keluarga Sabaku yang sudah menampungnya. Bisakah? Bagaimana caranya?
'Lagipula, aku hanya ditampung. Itupun karena keluarga Sabaku baik. Mengiyakan pertunangan ini adalah salah satu cara membalas budi mereka,' pikirnya frustasi. Cukup, otak Sasori buntu. Perhatiannya teralih pada setumpuk buku setebal bantal yang ada di mejanya. Lebih baik mengurus itu dulu.
Tiba-tiba, terdengar suara ketukan di pintu. Nadanya buru-buru dan mendesak.
"Tidak dikunci."
BRUAK!
"Ikut aku. Cepat!" seorang gadis blonde mendobrak pintu ruangan dan segera menarik tangan Sasori yang bebas. Sasori terbelalak.
"Tidak sopan. Aku sedang ada urusan."
"Ikut saja! Tidak lama, kok."
"Aku bahkan tidak kenal kau."
"Jangan pura-pura bodoh!"
Sasori menutup mulutnya, ia malas berdebat. Gadis ini bukannya calon tunangan Sasuke? Kenapa gadis ini bisa menemukan ruangannya?
"Siapa namamu?" tanya Sasori datar. Si blonde masih menarik tangannya keluar ruangan, melintasi koridor, dan turun ke lantai dasar. Tunggu, bahkan Sasori belum menutup pintunya.
"Ino. Ino Yamanaka."
Kini, mereka ada di tempat parkir karyawan. Ino menghampiri Porsche keluarganya, membuka pintu mobil dan menghempaskan diri di kursi sebelah pengemudi. Sasori mengangkat alis. Ia disuruh menyetir?
Untuk ukuran dua orang yang baru kenal, ini bisa dibilang keterlaluan.
.
Ino's POV
Entah ada kekuatan apa yang merasuki aku saat ini. Yang pasti saat ini, aku telah nekad mendobrak pintu ruangan pribadi sang manajer pemasaran dan menariknya ke dalam mobilku. Yang pasti, saat ini aku yakin seratus persen bahwa pemuda bermata hazel di sebelahku ini adalah orang yang sama dengan seseorang yang mencuri ciuman pertamaku itu. Tidak mau tahu. Ia harus ikut denganku.
Benar-benar ikut.
"Kita akan ke mana?" tanyanya. Tangannya sempat membanting setir karena konsentrasinya - mungkin - mudah terpecah. Aku mendelik. Tidak yakin bahwa yang kulakukan sekarang adalah benar.
"Sebenarnya tadi aku ingin shopping," gumamku gamang. "Entah kenapa tiba-tiba aku teringat insiden tadi pagi. Begini," aku menghela nafas. "Apa kau kenal dengan Inoichi Yamanaka?"
Normal POV
"Tidak," geleng Sasori. Dan langsung bergidik saat melihat si blonde tersenyum puas - atau malah licik?
"Nah, bagus kalau begitu," tanggap Ino, masih bergumam. "Bagaimana kalau kau..."
Segalanya terasa janggal.
"Berpura-pura menjadi pacarku?"
Mobil dihentikan tiba-tiba. Sasori menoleh pada Ino. Mengangkat alis. Menunggu Ino mengatakan hal seperti 'maaf, maksudku bukan itu' atau 'bercanda!'.
Sasori mulai siaga sekarang. Ia menepikan Porsche dan bersiap keluar dari ruang kemudi. "Maaf, Nona. Aku bahkan tidak kenal kau," tolaknya. "Cari saja orang lain."
Gadis blonde itu terkesiap.
Sasori POV
Sialan Nona Uchiha ini. Dengan seenaknya menarikku dari tugas dan kesibukan perusahaan, memaksaku mengemudikan mobil ini tanpa tujuan dan menyuruhku menjadi pacar bohongannya. Lagipula siapa dia? Ino Yamanaka yang angkuh, hah?
Memang, ia mirip dengan gadis 13 tahun yang dulu kuc- sudah, lupakan saja soal itu. Dan sifat congkaknya pun sama. Ah, penyesalan selalu datang terlambat. Andai 12 tahun yang lalu aku tidak jatuh cinta pada pandangan pertama dan merebut ciuman si blonde, mungkin aku tidak akan terlibat hal seperti ini. Cih. Dan ia sudah punya Sasuke, rite? Meskipun tadi aku sempat menimbang-nimbang tawarannya.
Meskipun sebelumnya aku sempat terpikir untuk mengiyakan permintaannya.
Ah. Sudah, lupakan.
"Jangan pura-pura bodoh!"
Seruan itu cukup membuatku terkesiap dan berbalik kembali. Ino sudah ada di belakangku, raut wajahnya terlihat gusar.
"Aku serius, Sas -"
"Sasori," sambungku cepat-cepat.
"Aku serius, Sasori. Aku butuh bantuanmu," pintanya.
Nada suaranya terdengar lebih memelas dari sebelumnya. Apa ini jebakan? Apa Ino sudah tahu siapa aku sebelumnya - malaikat pelindung muda yang jarang tersentuh manusia? Kalau begitu, aku harus bertindak.
"Sebenarnya, aku tidak menyukai Sasuke."
Aku mengangkat alis. Bukan karena menunggu Ino melanjutkan pertanyaannya, melainkan karena terlalu... senang? Oh my Jashin.
"Aku hanya ingin membahagiakan Otou-san."
Stop. Ino tidak menginginkan Sasuke? Itu lebih dari cukup. Apa wajahku memerah sekarang? Semoga tidak.
"Jadi, tolonglah," aku terkejut saat gadis itu bersimpuh di depanku. "Otou-san hanya akan membatalkan rencana pertunanganku dengan Sasuke bila aku sudah punya kekasih yang serius. Dan pertunanganmu dengan Hinata... tolong rahasiakan segala hal tentang keluarga Yamanaka dari keluarga Hyuuga. Setelah menikah, kau bisa menceraikanku, kok..."
Tunggu. Itu air mata, tergenang di pelupuk matanya. Aku terdiam saat menyadari aku tidak punya air mata sebagaimana manusia. Huh, Ino. Kalau pun kita betulan menikah pun, kau tidak akan kuceraikan setelah itu. Hmm. Jadi, bagaimana?
"Boleh. Tapi untuk selamanya." Tiba-tiba, aku mendengar diriku sendiri berkata.
"Uh?" gadis itu memiringkan kepala ke samping. "Apa maksudmu?"
"Yamanaka Ino, maukah kau menjadi istriku... untuk selamanya?"
Tuh kan, aku mulai kesurupan.
.
Sialan. Cinta pada pandangan pertama.
.
Keesokan harinya, 08.00 AM.
Normal POV
"Sasuke-sama, pekerjaan Anda..."
Perkataan terakhir dari sang office girl tidak diindahkan Sasuke, dibiarkan tenggelam oleh lautan suara orang-orang di sekitarnya. Suasana kantor ini memang berisik. Suara printer, keyboard, derap kaki, obrolan-obrolan dan bahkan suara jatuhnya air dispenser ke dalam gelas seolah saling bersahut-sahutan. Sasuke mengacuhkan itu semua dengan berkonsentrasi pada apa yang dilakukannya - kabur sementara dari kantor dan menemui seseorang.
Ia tahu, rencananya akan gagal. 88% tidak berhasil. Paling tidak, ia sudah berusaha dan jujur tentunya, setelah itu ia akan pulang. Benar-benar pulang.
Katakan, setelah itu sudah.
.
Kediaman Yamanaka
"... maukah kau menjadi istriku... untuk selamanya?"
Apa-apaan pemuda itu? Mereka baru saling mengenal kurang dari 24 jam, tapi Sasori sudah berani meminta hal luar biasa itu. Ino masih bergelung nyaman di kasurnya, di kamar pribadinya. Cahaya matahari menerobos jendela kamar, sedikit menyilaukan mata.
Tidak biasanya Ino malas begini. Permintaan sang pemuda bermata hazel telah mengintimidasinya. Ah, pemuda yang dulu merebut ciuman pertamanya. Benarkah mereka berdua adalah orang yang sama?
Kalau iya, apa aku termasuk orang yang beruntung - atau celaka?
Ino mencoba membongkar ingatannya akan insiden kemarin.
"...Saat aku berkunjung ke bumi, ada manusia yang mengataiku aneh. Aku memanfaatkan saat tersebut dengan menciumnya. Itu terjadi saat aku... 13 tahun? Kalau kau, Uchiha?"
Pas sekali.
"My luck," Ino menepis keringat dingin yang mengalir. Sekarang ia harus bangun, mandi, menyegarkan pikiran. Ponselnya bergetar. Ada panggilan.
"Ino, kamu sudah siap?" Suara Sakura.
"Siap untuk apa?" tanya Ino.
Terdengar helaan nafas pendek di seberang sana dan citra muncul di benak Ino; si pink yang menepuk jidat lebarnya. "Kamu sendiri yang bilang kemarin bahwa aku harus menemanimu hunting pernak-pernik Valentine," jelas Sakura gusar. Ah, satu lagi jadwal yang terlupakan Ino gara-gara pesona sang manajer pemasaran.
"Tidak jadi, ah. Aku sedang malas," jawab Ino akhirnya. Citra muncul di benaknya lagi; Sakura yang menggenggam ponsel erat-erat karena tidak percaya - Ino malas shopping? Rasanya kalimat yang mustahil.
"Oke. Hubungi aku kalau kau berubah pikiran, Dear." Tuut! Sambungan terputus. Tentu saja Sakura tahu situasi malas shopping yang melanda sahabatnya sekarang tidak akan berlangsung lama, terkalahkan oleh diri Ino sendiri yang memang suka cuci mata dengan barang-barang diskon.
.
Konoha Central Park, 08.31 AM
Bolehkah Hinata kabur dari tugasnya sementara?
Gadis Hyuuga tersebut hanya terdiam memandang danau yang terhampar di depannya. Ilalang yang tumbuh di sisi danau makin mempercantik pemandangan, dan dua merpati berpacaran yang hinggap di pohon ek di atas kepalanya membuat suasana hatinya kembali muram.
Tidak ada yang memberitahu tentang insiden memalukan (bagi Hinata) di ruang Personalia pada siapapun. Untuk siapa? Hasil interview-nya pun bagus, meskipun Hinata tahu Sasuke telah mengarang-ngarang setengah dari isi interview tersebut untuk menutupi kejadian sebenarnya. Ponselnya bergetar. Ada pesan masuk.
From: Sasori
Bolos dari kantor sebelum jam makan siang, eh? Kau sedang ada di mana?
Ah, Sasori memang perhatian. Sayangnya, Hinata tidak punya perasaan sedikitpun pada pemuda perfeksionis itu. Ia menimbang-nimbang antara menjawab pesan itu atau mengabaikannya.
Balas saja.
To: Sasori
Aku sedang izin sebentar, Sasori-san. Aku akan kembali dalam setengah jam.
Mungkin ia berbohong untuk izin sebentarnya, tapi Hinata benar-benar berjanji pada diri sendiri akan kembali ke kantor dalam setengah jam. Untunglah Sasori tidak bertanya macam-macam lagi. Hinata tahu posisi calon tunangannya tersebut di Akatsuki Corp, seorang manajer pemasaran - sementara ia hanya pegawai biasa. Yah, meskipun seorang Hyuuga bisa menjadi lebih dari sekadar buruh dalam suatu perusahaan.
Srek.
Hinata memasang siaga. Ada sesuatu... atau seseorang di belakangnya.
"Meow."
"Kucing?" ia menghela nafas lega. Kalau ternyata benar-benar ada seseorang...
Kucing itu mengeong lagi, seolah memanggil Hinata untuk mengelusnya. Benar-benar pencari kehangatan. Hinata tersenyum hangat dan membelai bulu-bulu lembut si pengganggu itu. Kucing itu mengeong sekali lagi, mungkin untuk mengapresiasikan rasa puas.
Srek.
"Kucing lag -"
Salah. Itu bukan kucing.
"Aku mencarimu ke mana-mana, di sini ternyata."
Hinata terlonjak, hampir menjatuhkan diri ke danau. Itu bukan suara Sasori. Dan buat apa sang manajer HRD ada di sini?
"S-Sasuke-sama..." gumam Hinata ketakutan. Berharap dugaannya salah, tapi juga ingin agar Sasuke sungguhan yang ada di belakangnya. Sasuke melipat lututnya, dan menyamakan posisinya dengan Hinata yang sedari tadi terus menatapnya.
Ah. Onyx. Ini deja vu. Seingatnya, Uchiha-san juga memiliki mata yang sama. Atau... mereka memang orang yang sama? Tidak bisa diterima nalar, tapi mata onyx Sasuke memang menenangkan dirinya. Meskipun Sasuke jarang memperlihatkan senyumnya pada siapapun, tapi... sekarang ia tersenyum tipis untuk Hinata.
Hinata tercengang.
"A-ano... itu," ia tergeragap. Angin pagi menyerbu keningnya dan udara terasa makin dingin. Ia menggigil. "Apa Anda... serius soal kemarin itu?"
"Soal apa?" tanya Sasuke. Lebih cepat dari yang Hinata kira. Raut wajahnya tetap dingin seperti biasa.
Uchiha-san memang pendiam, tapi wajahnya tidak pernah dingin seperti itu, seingat Hinata. Paling tidak di depan dirinya. Ah, mungkin faktor umur. Haruskah ia menyangkal lebih lama? Hinata ingin sekali percaya, tapi rasa curiganya tidak bisa disembunyikan. Ia takut kalau Sasuke yang sekarang menginginkan sesuatu darinya.
"Apa Anda punya bukti kalau Anda itu Uchiha-san?"
Sebutan 'Anda' terasa aneh di lidahnya, lagipula mereka seumuran. Jawaban Sasuke tidak seperti yang Hinata duga.
"Namaku Sasuke Uchiha, kau ingat?"
Hinata menggigit bibir bawahnya dan membuang muka. Sulit menatap mata Sasuke lama-lama, seperti berusaha menatap gerhana matahari. Ia mengalihkan perhatiannya pada air danau yang tenang.
"Itu saja?"
"Ya."
Diam-diam, Sasuke meraba ujung rambut ravennya, mencari sesuatu. Ia memegang pisau bernoda darah yang terselip di sana, dan dengan pandangan kosong, ia menatap Hinata yang mulai terasa jauh darinya.
Mereka dekat, tapi terasa jauh. Amat jauh.
"Sudahlah, segala pengorbanan konyolmu telah sia-sia. Gadis itu tetap mengacuhkanmu, lihat?" suara-suara otaknya berbunyi. Sasuke mengernyit, sementara kalimat-kalimat itu perlahan dicernanya. Memang.
"Dia bahkan hanya menganggap teman masa kecilnya itu hanya khayalan seorang pemimpi yang kesepian. Apalagi untuk memercayai bahwa kamu itu teman masa kecilnya dulu?" suara-suara itu bergema lagi, mencoba memengaruhinya.
"Dan, lihat? Hinata akan bertunangan. Kau terlambat, Sasuke. Dia hanya menerimamu sebagai atasannya."
"Kau terlambat, Sasuke."
"Ayolah, malaikat pelindung memang tidak bisa bersatu dengan tuannya. Dasar tolol."
"Aku harus pergi," kata Sasuke tiba-tiba. Ia beranjak dari posisinya dan meninggalkan Hinata di tepi danau sendiri.
.
"Dari mana saja kau?" tanya Karin galak. Tangannya mengepit map kuning sementara Karin sendiri sedang berkacak pinggang. Hinata heran map itu tidak jatuh pada posisi tersebut.
Sang gadis bermata lavender hanya bisa menekuri sepatu hak tiga senti miliknya. Ia sama sekali tidak ingin menjawab pertanyaan itu, tapi untuk sekarang ia harus memberi alasan logis. Hinata memutar bola mata. "Dari... pantry."
Karin mengernyit. "Ke pantry selama itu?" ia berdecak. "Sudahlah. Antar ini ke ruangan manajer HRD. Dan jangan merusak apapun." Hinata menerima map dari Karin sambil berusaha meredam rasa jijik sesaatnya. Kemudian, Karin mengernyit lagi.
"Ruangan Sa-Sasuke-senpaaai!" cetus Karin dengan latar belakang bintang bling-bling dan mata berkilau.
"K-kalau begitu, saya permisi," Hinata mengangguk. Ia tidak memedulikan lagi nasib Karin yang sibuk mengagung-agungkan manajer tampan idolanya.
Apa Sasuke sudah kembali ke ruangannya? Hinata merasa ada yang tidak beres, perasaannya saja. Dan kekhawatirannya tanpa alasannya terbukti. Saat ia membuka pintu ruangan Sasuke, Hinata tercengang.
Ada Sasuke. Ada perempuan lain di sana.
.
TBC
O. M. G.
Kenapa malah jadi berhenti di situ? Shiiiiiit. =m="
Rencananya pengen tamat sekarang, cuma pas diitung lagi, karakternya jadi banyak banget. Terpaksa dibagi dua. Mungkin chap depan udah selese... semoga.
BTW, apa perjuangan mati-matian my beloved Una ngedit-ngedit typos Aya yang banyaknya layaknya bintang bertaburan di langit, udah berhasil? Aya emang gudangnya typos... ==v
*ngelirik Una yang tepar di samping PSP kesayangan*
en BTW, Hana-senpai tadi itu Hana Inuzuka, maaf kalo namanya salah. Soale kalo dibilang 'Hana' doang sering dikira OC.
Saruwatari Yumi, okeh, deskripsi dari Aya emang selalu ngebingungin T^T
Chap 5 updated! Mau review lagi? OwO
Eca chan, makasih pujiannya *tangis haru*
Udah Aya lanjutkan setelah sekian lama bertapa ==v
Haruno Aoi, wew, Aya baru nyadar bisa dihubungin ama dongeng Putri Duyung yang itu juga O.O
Ide awalnya itu dari novel Shadowmancer yang salah satu scene-nya tentang Varrigal yang ke mana-mana bawa pisau. Varrigal itu semacam ksatria zombie gitu, gak mati, gak idup juga. Dan warna darahnya UNGU! O^O"
*apa itu berarti Sasu-chan gue samain ama zombie?*
*getoked by Sasuke FC*
cukup 'uchan, hoho, pair itu dimunculin sebagai balas dendam karena makin jarang pair SasoIno! O^O *apasih*
Deidei Rinnepero13, hoho (lagi?), itu pengaturan dari administrator account di komputer Aya, yang ngatur so pasti my beloved father. karena kompi rumah Aya kan banyak akun yang make.
gak dibolehin setelah jam empat sore! Huaaaah! T^T *buangbuangtisumodeon*
ShikaIno? sayangnya Aya gak kepikiran *plakplak*
Deidara nyempil, kok ;3 (?)
MarMoet Hime Chan, OOC ya? okeh, lagi-lagi Q^Q" *plak*
PERVERT? QwQ ow em geh. chappie 4 updated. minat review lagi?
uchihyuu nagisa, hohohooo x3333
beneran mo ditunggu? ini apdetnya dah lama banget lho Dx *abaikan*
Sora Hinase, yeaah, tukeran pasangan! xDD *pervertmodeon* thanks reviewnya!
Lollytha-chan, kalo sekarang lagi fokus ke SasoIno dulu, ntar SasuHina ntar... *plak*
bikin gregetan? bagi Una chap 4 bikin bingung... *ngelirikUna*
Shaniechan, all rite! ketularan Una yang suka bikin cerpen dengan twist ending Dx
Dapet review itu gak gampang, lho. Mau review lagi? OwO
