Disclaimer: Bukan Aya yang punya Naruto. Tapi dia noh! *nunjuk-nunjuk Masashi Kishimoto*
Warning: Author yang aneh dan typo di sana-sini. Sebelum baca, diharapkan siapin kantong muntah dahulu.
Pairing: SasuHina. SasoIno.
^o^
Summary:
Lupakan gaya rambutnya yang aneh, Uchiha itu siapa? Hanya khayalan Hinata-kah? Bagaimana jika khayalan itu menginginkan gadis pujaannya lebih dari sekadar sahabat? SasuHina. Kalau nggak suka, jangan baca.
Derivable Fate
Sasori melangkah kembali ke ruangannya, setelah kurang lebih satu jam berada di ruang rapat. Perdebatan dalam ruang rapat tersebut berlangsung alot. Para manajer dan karyawan yang bersangkutan tentang pemasaran berunding antara memvariasikan produk atau menambah tenaga ahli dalam meningkatkan pendapatan perusahaan. Namun, toh rapat itu usai juga dengan episode sambungan besok.
Koridor berdinding merah menyala terlihat amat terang dengan lampu generator dipasang setiap radius duapuluh meter. Sasori bisa merasakan aroma di sekelilingnya, bau apak kertas, tinta, bahkan kopi dari pantry. Selain itu, ia menangkap aroma lain. Aroma yang lebih janggal dan tidak manusiawi dari yang lainnya.
Langkahnya terhenti. Ia menajamkan indra penciuman, dan saat itu tersadar.
Ini aroma tubuh malaikat dewasa.
.
Udara menggelegak dan memaksa Sasuke agar berdiri menjauh. Beberapa helai kertas tercabut dari mapnya. Sasuke tidak peduli. Dari jauh, seekor burung pipit mencicit keras. Pertanda seseorang baru saja menggunakan sihir di dunianya, dan Sasuke tahu siapa. Bau apak kertas bercampur dengan bau dedaunan basah. Bau ini sekaligus mengingatkannya di saat ia masih kecil, bermain dengan ibunya, kemudian dinasihati agar tidak pergi ke gua tempat tinggal Tsunade, sang dewi terbuang.
Tsunade!
"Sasuke Uchiha. Lama tidak bertemu, ya?"
Ya, sudah pasti dia. Wajah oval awet muda cantik dengan lekuk-lekuk tajam. Udara yang tadinya menggelegak kini berisi, dan di situlah dewi itu berada. Gaun sutranya menyapu lantai dingin. Sasuke tidak tahu mengapa Tsunade bisa muncul di dunia manusia. Entahlah, mungkin dengan sihir, ia tidak peduli. Namun, kehadiran sang dewi terbuang tetap membuatnya terhenyak.
Engsel pintu ruangan tampak berdebu, tapi debunya lain. Seperti terbuat dari emas. Ia tahu Tsunade baru saja menggenggam engsel itu, membukanya tanpa tenaga lebih. Aroma ruangannya berbeda dari biasanya. Bukan lagi apple cologne, lain. Dan, yeah... Tsunade agak membuat pandangannya silau.
"Bicara saja, malaikat kecil. Tidak - biar aku saja yang bicara. Apa kau masih menyimpan pisau itu?" tanya Tsunade. Ia tersenyum saat melihat Sasuke mengangguk. "Sekarang tinggal menjaga pisau itu agar tidak dipakai membunuh siapapun kecuali yang aku minta. Bila itu yang terjadi, maka aku bisa celaka. Dan kau tahu berapa sisa waktumu di dunia ini?"
Apa-apaan...
"Maksudmu?" tanya Sasuke pelan.
"Sasuke... Sasuke. Kurasa kau harus memahami aturan main menjadi manusia dulu sebelum kau menjadi manusia seutuhnya. Begini." Ia membakar seutas benang dengan tatapan matanya, kemudian apinya padam. "Manusia tidak seperti kita, Sasuke. Mereka... lemah. Mudah hancur. Dan suatu saat pun mereka akan mati. Kehidupan mereka berakhir. Sudah, selesai."
"Malaikat juga bisa mati," bantah Sasuke.
Tsunade menggeleng-geleng sambil tersenyum tipis. "Kaum kita hidup abadi, Sasuke. Manusia tidak.
Tidak ada yang mengatakan ini padanya. Tiba-tiba dada Sasuke sesak. Bila kaumnya hidup abadi, mengapa keluarganya bisa hilang dalam musibah... kebakaran? Sampai sekarang ia beranggapan keluarganya telah meninggal. Kalau begitu...
"Kalau begitu di mana orang tua dan kakakku sekarang? Kau pasti ada... di balik semuanya."
"Tidak sabaran."
Tsunade menunjuk dinding di belakang mereka, menyingkap tabirnya dan memperlihatkan kedua orang tua dan kakak Sasuke di sana. Mereka disekap bertahun-tahun di kedalaman laut. Karena mereka tidak bisa mati ataupun menjadi gila dan lumpuh, maka mereka hanya tersiksa selama belasan tahun. Sasuke mencoba menggenggam citra keluarganya di atas dinding, tapi kemudian bayangannya menghilang tanpa bekas.
"Apa yang kau..."
"Waktu hidupmu tinggal sampai matahari terbenam, Sasuke. Karena sekarang kau adalah manusia, aku bisa mematikanmu dengan cepat," Tsunade mengambil jeda. "Tapi ada pengecualian. Kalau kau mau membunuh gadis itu untukku sebelum matahari terbenam, kau bisa meminum darahnya untuk kembali menjadi malaikat. Aku juga akan membebaskan keluargamu. Dan," jeda lagi. "Kau bisa mengencani cewek yang lebih baik dari sekadar gadis bumi tidak tahu diri itu."
Pisau dijatuhkan tiba-tiba. "Apa maksudmu?" air muka Sasuke berubah keras. Ia memandang Tsunade tajam. "Untuk apa aku harus membunuh Hinata?"
Bayangkan begini, seseorang yang masuk tanpa permisi kemudian menyuruhmu untuk membunuh gadis cantik. Setidaknya...
"Kau tahu, usahamu selama ini untuk menyatakan cinta padanya tidak berhasil, bukan?"
"..." Ya.
"Apa?"
"Ya," Sasuke menelan ludah berat. Ada dentuman kecil di hatinya, seperti kertas sobek.
"Dan aku tahu kau sangat terluka karena itu," katanya dengan senyum kecil. "Dan, aku akan membantumu membalas sakit hati itu."
Sasuke menatap Tsunade sekali lagi, dari atas sampai bawah. Mencerna perkataan sang malaikat. "Tidak, terima kasih. Aku masih banyak urusan." Ia berbalik dan akan berkutat dengan map kembali, tapi perkataan Tsunade berikutnya mencegahnya.
"Oh ya?" Tsunade menautkan alisnya tinggi-tinggi, memutari Sasuke dengan poros di bahu Sasuke, menatapnya manja. "Ingat. Bila kau tidak melakukannya, kau akan mati sore ini sebagai gantinya."
Suara logam jatuh.
"APA?"
Itu bukan suara Sasuke maupun Tsunade, melainkan seorang gadis berambut indigo yang tiba-tiba sudah membuka pintu ruangan lebar-lebar dengan map di tangan, tatapan nanar terpancar dari matanya. Suasana hening. Gadis itu, Hinata, menyadari bahwa ia menemukan seorang lagi wanita asing di ruangan Sasuke. Detak jantungnya memburu. Ia telah mendengar segala percakapan mereka.
"K-kenapa Sasuke-sama harus mati?" tanya Hinata lirih.
"Tentu saja karena ia telah melanggar kodratnya sebagai malaikat. Meskipun aku membantunya juga. Ini alat tukar yang harus ia bayar untuk sembilan tahunnya sebagai manusia. Kecuali, yah. Bila seseorang mau berkorban..."
Tsunade maju beberapa langkah, mengamat-amati Hinata hanya pada wajahnya. Hinata salah tingkah. Gagapnya keluar, pasti, bila ia berbicara nanti.
Di belakang Tsunade, terlihat Sasuke yang terbelalak seolah memaksa Tsunade menghentikan ucapannya. Pandangannya berganti-ganti antara Hinata dengan sang malaikat, kemudian beralih pada Hinata dengan tatapan putus asa.
Nah, kau sudah tahu, Hinata. Maafkan aku selama ini.
"Pergilah," perintah Sasuke. "Ada banyak orang membutuhkanmu."
"Tap..."
"Pergilah," nada itu terdengar mendesak. "Wanita ini menceracau. Jangan percaya dia. Mana mungkin aku malaikat seperti yang ia katakan?"
Kau pun tidak akan percaya walaupun hal itu benar, batin Sasuke sinis.
Satu detik.
Dua detik.
Tiga detik.
Lamat, Hinata menutup kembali pintu ruangan setelah menaruh map di atas meja.
.
05.11 PM
Penyesalan.
Hinata berjalan pelan meninggalkan gedung Akatsuki Corp., angin dingin menghembus helai rambut indigonya dengan lembut. Sepatu hak berketak-ketuk di tanah. Aura aneh di sekelilingnya, seolah ia tidak sendiri. Seolah ada yang menguntitnya dari belakang.
Oh, jadi Sasuke-sama bosnya adalah Uchiha-san teman kecilnya. Menarik. Mungkin harga dirinya terlalu tinggi, atau otaknya memang lambat, sehingga ia baru mengerti hal itu sekarang. Sekarang? Sudah terlambat. Di saat ia memercayai Sasuke sepenuhnya, pemuda itu justru dalam ambang kematiannya.
Penyesalan. Ini semua salahnya.
Dasar Sasuke nakal. Kalau benar, untuk apa ia menukar hidupnya demi menjadi manusia? Yang akhirnya membawa musibah juga untuknya. Perasaannya seperti seorang ibu yang mencemaskan anak bandelnya, atau gadis mencemaskan pacarnya.
Cerita hari ini bakal pendek.
Sasori menjemputnya tidak, ya? Biasanya iya. Tentu saja Hinata tidak boleh mengharapkan pemuda itu sepenuhnya... bila Sasori sedang sibuk, bagaimana? Mungkin ia akan jalan kaki dari sini ke kediamannya, atau naik taksi. Lapisan lembut awan pekat menyelimuti langit sekarang, bunyi gelegar guntur tanpa rintik hujan mengagetkannya.
Akan ada sesuatu. Akan ada sesuatu.
Sebentar lagi hari mulai gelap, jadi ia harus cepat-cepat pulang. Duh, semoga ada taksi lewat, harapnya dalam hati. Berjalan kaki pun tidak masalah, sebetulnya. Jadi itulah yang ia lakukan.
"Hai, Nona. Sedang kesepian?"
Bahunya dirangkul dari belakang, dan secara refleks Hinata menghindar. Saat ia menoleh ke belakang, ternyata pemabuk lokal yang sering berjalan tak menentu di sekitar sini.
"Uh... b-bisa Anda lepaskan?" pinta Hinata ketakutan. Namun rangkulan si pemabuk semakin erat. Ia justru berani merangkul pinggangnya. Si pemabuk tidak mungkin tidak merencanakan hal yang buruk bila sedang dipengaruhi alkohol.
"Ayolah Nona, kita ke klub dan bersenang-senang... Blabla..." Orang itu menggiring Hinata ke mana saja. Tak menentu. Hinata menjerit, tapi tidak ada orang di sekelilingnya. Hinata bisa melihat bahwa mata orang itu... sedikit hijau.
Seperti dipengaruhi sihir.
Aroma alkohol menyentak indra penciumannya saat si pemabuk mendekatkan wajahnya pada blazer Hinata, memerhatikan susunan kancingnya seolah menimbang-nimbang mana yang harus dibuka terlebih dahulu. Pelecehan. Tangan Hinata bisa mendorong si pemabuk menjauh, tapi tenaga si pemabuk jauh lebih kuat dari yang ia kira. Hinata dijepit di pohon di tepi danau.
"Aku ingin menikmatimu, setelah itu sudah. Kalau kau memberontak, akan kubuang kau ke tengah danau," ancamnya.
Dua kancing blazer terlepas. Hinata nyaris putus asa ketika tiba-tiba ada tangan yang menarik kaus si pemabuk menjauhinya. Bukan tangannya, yang pasti. Tapi seorang pemuda dengan rambut raven dan postur tubuh yang ia kenal.
"Pergilah," serunya.
"S-Sasuke-sama, Anda tidak boleh ada di sini," tolak Hinata gemetaran. "Orang-orang bisa mencari..."
"Pergi!" teriak Sasuke. Ia berusaha mengunci tangan si pemabuk agar tidak macam-macam.
"Tapi Anda dalam bahaya! Pemabuk itu bisa membunuh Anda!"
Sasuke menjepit pemabuk itu dengan cabang-cabang pohon terberat, kemudian meloloskan diri dari cengkramannya dan menghampiri Hinata. "Pergi dari sini."
"Tanpa Anda?"
"Tidak."
Hinata tertegun. Tidakkah Sasuke mau menyelamatkan diri juga? Lagipula, yang namanya pemabuk pasti pintar membunuh orang. Pandangannya teralih pada matahari di ufuk barat, langit yang merah terbakar pertanda matahari akan tenggelam.
"Sasuke..."
"Pakai ini." Tanpa berbalik badan, Sasuke melemparkan sebilah pisau bebercak ungu padanya. "Untuk melindungi diri."
Saat Hinata sudah jauh melangkah dan Sasuke tidak terlihat dari pandangan, si pemabuk bangkit, menyingkirkan cabang-cabang dengan susah payah sementara matahari mulai mendekati peraduan. Didekatinya Sasuke diam-diam, kemudian didorongnya ke tengah danau.
Matahari terbenam, bersamaan dengan Sasuke yang ikut tenggelam.
Hinata berbalik. Kini yang tersisa di danau hanya bercak ungu yang mengambang di permukaan. Darah malaikat pelindungnya.
"UCHIHA-SAN...!"
Dan air matanya tumpah.
.
"Sekarang kau tidak bisa ke mana-mana lagi, Nona," bisik si pemabuk dengan tatapan kotor, melayangkan pandangan ke setiap lekuk tubuh Hinata. "Sampai mana aku tadi?"
"K-kau sudah..." Hinata terkesiap. Pisau pemberian Sasuke masih ada di genggamannya, dan itulah satu-satunya perlindungan. Dihunuskan pisau itu ke perut si pemabuk. Luka menganga dan darah mengalir deras. Si pemabuk pun tumbang di atas tanah lembab. Pemabuk itu telah mati. Terdengar jeritan melengking dari kejauhan, tapi bukan suara pemabuk itu. Pemuda itu terlalu mabuk untuk menjerit. Sudahlah, acuhkan saja.
Wanita itu, pemabuk ini... sudah tamat.
Hinata berlari menghampiri tepi danau, mencari-cari apakah ada sesosok tubuh mengapung di atas permukaannya atau tangan yang timbul tenggelam, apa saja. Namun tidak terlihat apa-apa. Ia nyaris gila.
Uchiha-san pasti ada di dalamnya, tenggelam di dasar danau.
Tanpa pikir panjang, Hinata menceburkan dirinya ke dalam danau yang dingin. Jantungnya tersentak seketika, tapi matanya tetap nyalang mencari-cari sesuatu. Dan, tepat sekali. Itu dia. Sesosok jasad yang terabaikan di tengah ikan-ikan danau, jemarinya berpegangan pada alga pendek. Danau itu sama sekali tidak dangkal.
Ya. Sedikit lagi. Aku tinggal menarik tangannya, keluar dari danau ini dan kembali ke kantor atau pergi ke kantor polisi.
Untuk mencapai dasar danau sangat sulit, tapi Hinata bisa. Ia meraih jemari Sasuke yang makin dingin, dan terhenyak saat melihat Sasuke makin memutih dan memutih. Ada firasat bahwa fenomena itu dapat membunuhnya, sehingga Hinata menarik tangan Sasuke yang satunya lagi dan berusaha berenang ke permukaan.
Tapi aku tidak bisa. Aku sudah terlalu lelah. Aku bahkan... sudah kehabisan nafas.
Jemari itu menggenggam tangannya balik dan Hinata tahu Sasuke belum mati. Namun, sekarang kondisinya sudah terlalu lelah untuk mengetahui. Sasuke merengkuh pundaknya, memeluknya, dan membiarkan mereka mati bersama-sama di bawah air. Bibir mereka bertautan. Ada bisikan di telinganya.
"Aku akan mati, Hinata."
.
Waktu tidak bisa diidentifikasikan, ruang medis.
"Tenten! Kiba! Coba lihat, kita kedatangan pendatang baru."
Hana Inuzuka tersenyum menentramkan pada seorang gadis yang mulai membuka matanya, siuman, tersadar. Kelopak matanya terasa berat. Rambut indigo lurusnya digerai ke samping. Gadis itu Hinata, kebingungan menatap sekelilingnya yang terasa terang, bangkit dari tempatnya berbaring yang berupa ranjang tidur satin putih.
"Yeah! Sudah sadar! Nanti aku bisa mengajaknya main truth or dare," seru cowok seumurannya yang memiliki tato taring di pipinya. Sepertinya seumuran, tapi tingkahnya kekanak-kanakkan.
"Bukan, lebih baik tebak-tebakan jack in the box," bantah temannya, cewek bercepol dua di sampingnya.
"Cerewet," Hana menjulurkan lidah pada keduanya. "Bawakan baju yang akan gadis ini pakai, dengan sepatunya sekalian. Kita tidak bisa memakaikannya baju dengan seluruh punggung tertutup, sayapnya..."
Hinata memiringkan kepalanya ke samping. Ia masih terhuyung-huyung. Masih jelas di benaknya, helaan nafasnya di bawah permukaan air yang semakin pelan dan berbuih, kemudian warna air danau yang pekat. Tempat ini tidak sama dengan danau tadi. Semua serba sempurna, seolah setiap jengkal dijaga dengan sangat hati-hati.
Apa ini surga?
Namun, yang terlontar dari mulutnya malah, "siapa kalian?"
"Oh?" Hana terkejut, mengedip beberapa saat, kemudian membiasakan diri dan tersenyum. "Aku kepala medis. Yang tadi itu adik dan muridku. Sekarang kau diam saja. Rileks. Tenten yang akan mencarikan baju untukmu."
Hinata mengangguk-angguk lugu. Padahal ia tidak mengerti sama sekali.
"Jadi, hmm. Saluran pernafasanmu yang terganggu sudah pulih. Tinggal keinginanmu untuk bangun dan menyapa yang lain. Semuanya akan sangat antusias akan manusia bumi sepertimu." Senyumnya terkembang. "Tapi, mengertilah."
"Apa?"
Tepat di saat itu, Tenten dan Kiba masuk kembali ke dalam ruangan dan mengangsurkan gaun sutra pendek berwarna lembayung lembut. Ada dua celah vertikal di punggungnya. Hana tersenyum puas, meneruskan gaun itu pada Hinata, yang menerimanya dengan wajah bingung. "Sekarang, berpakaianlah. Tidak usah pakai sepatu yang tadi. Kakimu sudah baikan, kok."
Di mana aku?
Siapa orang-orang ini?
Dan ada apa ini?
Masih dengan wajah bingung, Hinata bangkit dari tempat tidur, mencari-cari sesuatu, dan menemukan sekat di pojok ruangan. Selugas kakinya mampu membawanya.
.
Waktu tidak bisa diidentifikasikan, lantai terbawah markas Tsunade.
Mikoto meregangkan sendi-sendi. Betapa menyedihkan menyadari, ia maupun suaminya, tidak bisa berhenti dari rasa sakit ini. Mereka hanya terduduk sepanjang waktu, tanpa merasa satupun fungsi dari tubuhnya menurun atau bahkan mati.
Selama suaminya menolak perjanjian untuk "berkomplot dengan Tsunade untuk menguasai dunia" atau apapun namanya, mereka akan tetap diborgol seperti ini. Mikoto bahkan berharap bisa menjadi gila suatu saat, supaya tidak usah merasakan pegal-pegal di kakinya yang selalu ditekuk dalam sudut yang tidak nyaman.
Dipandanginya Fugaku penuh sayang, juga Itachi. Sekaligus kasihan. Untunglah saat itu Sasuke tidak sedang ada di rumah. Apabila Tsunade melihatnya dan ikut memasung anak itu, dalam usia semuda itu... ia tidak berani membayangkannya.
Tsunade belum kembali juga. Ke mana ia?
Omong-omong, Tsunade yang menyebarkan desas-desus bahwa Fugaku bersama istri dan anak sulungnya telah meninggalkan terlalap api. Kabar itu cukup untuk membuat Sasuke terpuruk dan putus asa di pertengahan masa pertumbuhannya - setidaknya anak itu punya teman. Siapa itu, Sasori?
Krek.
Ia terkesiap, menunggu sesuatu dan yakin setelah ini ada Tsunade yang memasuki ruang teratas dengan langkah marah-marah, tapi tidak terjadi apa-apa. Hanya suara engsel besi bergeser. Besi yang berkarat, kedengarannya. Mikoto menajamkan pendengarannya.
Suara engsel borgol besi.
Fugaku tertidur lemas di sampingnya, sedangkan Itachi masih berusaha mencari-cari kelemahan di rantainya, tapi toh ia menyerah juga dan kemudian memain-mainkan semut di lantai. Betapa malangnya keluarga Uchiha tahun ini. Kalau ini terjadi terus, bisa-bisa...
Mikoto menghentikan pemikiran konyolnya, kemudian memeriksa engsel borgol yang terpasang di pergelangan tangannya.
Ya, benar, engsel itu bergesek kemudian terbuka pasrah, dalam suara yang tidak nyaman di dengar. Itachi menoleh pada ibunya, juga merasa mendengar suara decitan tersebut.
"Ada apa?"
Ibunya menunjuk pada borgol yang melingkar di pergelangan tangan Itachi. Borgol yang tadinya mencengkram kuat kini merekah terbuka.
Menyadari bahwa mereka punya kesempatan untuk lolos, Mikoto segera membangunkan suaminya, melepaskan borgol Fugaku dengan hati-hati dan membuka jendela batu yang ada di ruangan tanpa suara. Melompat dari sana kemudian kabur terbang.
Mereka bebas.
.
Halaman balai pertemuan
Semua orang berdecak kagum saat melihat Hinata keluar ruangan. Setidaknya, mereka terlihat seperti orang sungguhan - yang memiliki sesuatu di punggungnya. Sebenarnya Hinata agak risih diperhatikan seperti itu, tidak seperti pragawati. Apapun ini, yang jelas ia butuh pulang. Ayahnya akan cemas bila menyadari Hinata tidak ada.
Bagaimana dengan Sasuke-sama, bukannya ia juga harus pulang?
"Ayo, Hinata! Sini, sini," Hana tersenyum lembut dan menggerak-gerakkan tangannya. Beberapa pasang mata menatap kagum ke arahnya. "Duduk di sebelahku. Kau pasti sudah kenal Tenten dan Kiba. Nah, ini Chouji, Sai, dan - oh ya! Namaku Hana Inuzuka. Lalu..."
Seorang cowok berbadan gempal yang mengunyah makanan di rongga mulutnya tersenyum lebar pada Hinata, lalu menyikut temannya di sampingnya. Hinata mengangguk tapi kemudian bergidik. Apa persisnya yang sedang dikunyahnya itu?
Kerumunan di luar ruangan tersibak dan setiap orang menjerit-jeritkan sesuatu seperti 'hantu'. Hana mundur dua langkah, menggamit tangan Hinata, memaksanya mundur juga. Ia menatap langit dengan tak percaya.
"Mustahil... Uchiha... kupikir mereka sudah tak selamat."
Ada tiga orang yang menghampiri mereka, melipat sayap masing-masing ke samping dan menapak tanah dengan sempurna. Kelompok kecil itu terlihat seperti sebuah keluarga, satu ayah, satu ibu, dan satu anak lelaki mereka yang sudah dewasa. Sang kepala keluarga menghampiri Hana dengan serius, bertanya dengan nada tegas. "Di mana anakku yang satunya?"
"Uh... dia... masih ada ruang pengobatan." Hana menghentikan mereka yang sudah akan mengepakkan sayap lagi. "Tunggu! Sasuke baru mendapat kecelakaan. Fisiknya belum cukup..."
Pria yang lebih muda dari kelompok itu mengangguk sopan, meskipun tuniknya sudah bernoda darah di bagian dada. Hana melambaikan tangannya dengan canggung dan saat kelompok kecil itu sudah pergi, ia memanggil kerumunan tadi untuk kembali.
"Siapa mereka?" tanya Hinata.
Hana terlihat tidak yakin untuk menceritakannya. "Mereka keluarga Uchiha. Klan terpandang. Pria dewasa tadi itu Fugaku Uchiha. Istrinya Mikoto dan mereka punya dua anak. Itachi Uchiha dan - siapa tadi? Oh ya, Sasuke."
"Tapi tadi aku lihat mereka hanya tiga orang," Hinata menunduk karena bingung.
"Oh, yang satu lagi itu... Masa' kau tidak tahu? Padahal aku menemukannya terdampar di pinggir danau bersamamu. Dan seperti yang sudah kubilang tadi, kan. Sasuke ada di ruang pengobatan. Dia sekarat, eh... tidak seburuk itu juga, sih."
Hinata makin bingung. "Sebenarnya aku ada di mana?"
Hana mengerutkan alis, dan kerumunan orang-orang di sekelilingnya, termasuk Tenten dan Kiba, menunggu balasannya. "Dunia atas. Setingkat bumi. Memangnya kenapa?"
.
Ruang pengobatan
Sedikit gerakan, dan akhirnya Sasuke terbangun. Pemuda itu menggoyang-goyangkan kepalanya, mencoba mengembalikan diri ke dunia nyata. Kelopak matanya terbuka perlahan-lahan. Ada seseorang di depannya, bukan, melainkan tiga orang.
Dan tiga orang itu bukan hanya sekadar tiga orang.
Otou-san. Okaa-san. Itachi-nii.
"Siapa kalian?" tanya Sasuke yang kemudian mengernyit ketika mendengar suaranya amat lemah.
Seorang perempuan dari tiga orang itu tersenyum keibuan, dan Sasuke mengenali senyum tersebut. Sesuatu yang hanya ditampilkan Mikoto untuk keluarganya. Perempuan itu mengulurkan tangan padanya, membiarkan Sasuke menggenggamnya sesaat.
"Siapa lagi kalau bukan keluargamu?"
Oh iya, dan bahkan sayap mereka pun sama. Jelas-jelas mengindikasikan bahwa mereka keturunan Uchiha. Sasuke juga punya sayap seperti itu, tergolek lemah tertekan oleh punggung telanjangnya. Ya, perempuan itu tidak berbohong. Ia memang ibunya, dan dua yang lain pasti ayah dan kakaknya.
"Kalian belum mati?"
Sang pria dewasa di sebelah Mikoto, Fugaku, berdeham keras. "Kau selalu begitu, Nak. Tidak pernah memikirkan sopan-santun bila berbicara dengan orang tuamu."
Menyadari bahwa bibir Mikoto akan bergerak untuk menceritakan segalanya dari awal, pria yang lebih muda di sebelahnya, Itachi, menghentikan sang ibu. "Ceritanya panjang. Tapi sekarang, kita sudah bersatu, kan?"
Ya. Keluarga Uchiha terakhir ini sudah terpecah-belah untuk beberapa lama dan sekarang mereka bersatu kembali, seperti potongan puzzle. Itachi menepuk-nepuk puncak kepala Sasuke dan tertawa renyah. "Kau tidak ingin memeluk keluargamu?"
Sasuke mengulurkan tangan untuk memeluk mereka sekaligus, dan air mata Mikoto tumpah.
Air mata Hinata yang mengintipnya di pintu ruangan juga menetes pelan karena terharu.
.
Setelah beberapa kue di suguhkan dan Fugaku sudah selesai dengan ceritanya, Hana mulai iseng mengenalkan Hinata pada orang-orang yang belum sempat berkenalan dengannya. Mikoto mendapat giliran, dan ia cukup terkesan. Mungkin ada pikiran di otaknya untuk mencarikan anak bungsunya seorang istri.
"Nah, aku rasa kau tidak perlu dikenalkan dengan Sasuke lagi, kan?" Hana tersenyum lebar - lagi - entah pada Hinata dan Sasuke. Tapi baik Hinata maupun Sasuke tidak peduli. Mereka hanya bertatapan satu sama lain, dengan canggung, tidak tahu harus bilang apa.
Ini pertama kalinya mata mereka bertemu lagi setelah dilalui oleh insiden-insiden kecil tadi. Kata pertama yang keluar dari mulut Sasuke hanya "ohayou".
Hinata memerah.
"Kapan aku bisa pulang, Hana?" tanya Hinata buru-buru pada Hana di sampingnya. Tapi Hana justru menggeleng putus asa padanya.
"Kau tidak bisa pulang, Hinata. Kau akan tetap seperti kami. Selamanya. Lihatlah punggungmu!"
Karena Hinata tahu ia tidak bisa melihat punggungnya sendiri, jadi ia menatap bayangannya sendiri pada lantai kaca di bawahnya. Apa itu di balik gaunnya? Berhelai-helai bulu angsa? Di sentuhnya sesuatu itu, tepat di balik punggungnya. Lembut. Bertulang pada pangkalnya. Ia meraba ujungnya. Melekat pada tulang rusuknya. Hinata tercekat.
Itu sayap.
"Lihat, kan? Akan lucu bila kami membawamu pulang dengan sayap seperti itu, atau seseorang akan membawamu ke pertunjukan sirkus," Hana menggumam. "Tetaplah tinggal di sini, kau bisa tinggal di asrama putri."
Sasuke melirik Hinata dengan bosan. Ia meniup ujung rambut raven yang terjatuh tepat di depan matanya. "Atau tinggal di rumahku saja."
Semua orang mendelik padanya. Sasuke mengangkat bahu.
"Tapi Otou-san akan mencariku ke mana-mana," kata Hinata bingung. "Aku tidak tahu..."
"Yeah, kalau kau benar-benar ingin kembali menjadi manusia," Hana ikut mengangkat bahu. "Kau tinggal menceburkan diri ke dalam danau tempat kami menemukanmu terdampar itu, dan kau akan kembali ke permukaan bumi. That's it. Aku akan menunjukkan caranya."
Hana akan meninggalkan ruangan bersama Hinata sebelum Sasuke bangkit dari duduknya dan menghentikan langkah mereka. "Biar aku saja."
Hana mengangguk.
"Silahkan."
.
Mereka berjalan canggung, Sasuke di depan, Hinata mengikuti. Baru berjalan empat langkah, alih-alih Sasuke sudah berhenti.
"Kenapa tidak terbang saja?"
"M-memangnya aku bisa?" tanya Hinata, menundukkan kepalanya.
Sasuke menghela nafas. "Kalau kau mempunyai sesuatu, kau juga akan tahu cara menggunakannya." Ia menyambar pergelangan tangan Hinata dan mulai mengepakkan sayapnya sendiri. Hinata tertarik ke atas. Sasuke memaksanya mengepakkan sayap.
"Seperti ini?"
"Ya."
Hinata tidak berani melihat ke bawah. Rongga mulutnya terisi udara. Sepuluh menit kemudian, Sasuke menukik dan hinggap di atas tanah dengan sempurna. Hinata terseok di belakangnya.
Mereka berhenti di depan sehamparan danau luas. Pemandangannya persis seperti danau tempat mereka terjatuh itu.
"Sekarang kau tahu siapa aku?" tanya Sasuke pelan.
"Ya."
"Nah. Sekarang, silahkan melompat," ia menunjuk ke tengah danau. Belum apa-apa Hinata sudah bergidik.
"Bagaimana k-kalau aku mati duluan?"
Sasuke mendecakkan lidahnya. Anak ini polos sekali, pikirnya. "Kalau kau percaya kau akan tiba di tempat yang tepat, kau tidak akan mati duluan."
Hinata mengambil ancang-ancang. Tinggal melompat ke danau ini, lalu kembali ke dunia nyata tanpa sayap. Mungkin orang yang menemukanku akan merasa aneh dengan gaun ini, tapi ia akan segera membawaku ke kantor polisi terdekat, lalu polisi menghubungi nomor telepon Otou-san dan aku akan dijemput Otou-san lalu... semua akan kembali seperti semula.
Tentu saja, untuk itu ia harus meninggalkan Sasuke (atau Uchiha-san, terserah lah) dan menghadapi kenyataan kembali - dijodohkan dengan Sasori. "Kau tidak... ingin ikut?"
"Untuk apa? Ini tempatku."
"Tapi..."
Tiba-tiba, Hinata merasa ia tidak akan bisa menghadapi semua ini. Tinggal sebagai manusia biasa dan berkumpul dengan keluarganya memang apa yang ia inginkan sekarang, tapi tanpa Sasuke-nya, itu semua mendadak tidak ada artinya.
Sasuke-nya. Uchiha-nya. Miliknya.
Hinata memeluk Sasuke dan berbisik di telinganya. "Aku tidak bisa."
"Kalau begitu, tetaplah tinggal di sini dan..." perkataannya menggantung. Ia berbisik lebih pelan. "Jadilah istriku."
Sasuke melepaskan pelukan Hinata yang menatapnya nanar. Sayap mereka saling bertautan, dan beberapa helai rontok karena gerakan tiba-tiba.
"Ya. Ya, aku mau."
.
OWARI?
.
Setahun kemudian
Kediaman Akasuna, 09.30 AM, Minggu pagi.
Sayuri telah mencuri beberapa batang pulpen milik ayahnya pagi ini, dan digunakannya untuk mengetuk-ngetuk map-map ayahnya yang tersampir di sofa keluarga. Sebenarnya map itu tidak ada di sana tadi, tapi Sayuri-lah yang membawanya. Ino tercekat melihat anaknya memegang salah satu berkas penting suaminya, lalu menyelamatkan berkas itu ke dalam laci meja. Sebagai gantinya, ia memberikan sekotak kaleng sarden yang sudah habis isinya dan dicuci bersih.
Sasori mengambil berkas yang tadi diambil Sayuri, membacanya sekilas.
"Oh, ini kucetak dari Internet beberapa hari lalu," ia membaca judulnya lebih seksama. "Tentang hilangnya putri sulung Hiashi Hyuuga dan mantan manajer HRD di Akatsuki Corp. Hinata dan Sasuke itu, lho." Sasori menyimpan berkas itu kembali di mapnya. "Sudah genap setahun, kan?"
"Memangnya tidak ada saksi mata, apa?" tanya Ino.
Sayuri menarik-narik tangan Sasori agar duduk di sofa di sebelah ibunya, menarik tangan Ino dengan tangannya yang lain, lalu mempertemukan keduanya. Memain-mainkannya. Sasori tertawa, sementara Ino terbengong.
"Tidak ada sama sekali. Tapi di saat yang sama, ditemukan juga mayat seorang pemabuk lokal. Diduga dibunuh karena luka tusukan."
"Wah, hebat. Biasanya pemabuk itu yang membunuh orang," Ino tersenyum sinis. "Sudah, Sayuri. Kaa-san mau masak dulu."
Ino beranjak ke dapur dan memeriksa kompor, airnya belum mendidih. Kemudian ia menuangkan teh pada tiga gelas teh. "Menurut spekulasimu, mereka menghilang karena apa?"
"Aku tidak punya spekulasi apa-apa."
Ino memeriksa airnya lagi dan telunjuknya terkena air mendidih. Ia mengaduh. Sasori bangkit dari sofa, dengan menggendong Sayuri. Menghampiri istrinya. "Kenapa?"
"Jariku terkena air panas. Sudah, tidak apa."
Sasori menurunkan Sayuri, menarik telunjuk kanan Ino dan meniupnya perlahan. "Baikan?"
Ino tersipu. "Ya."
Dasar Sasori. Terkadang perlakuan biasa darinya pun bisa membuat hati seorang wanita bergetar. Ino beruntung memiliki suami seperti dia.
Dan Sasori pun beruntung memiliki istri seperti Ino.
.
The End
maaf buat alur yang acak-acakan, dan keanehan pas di awal, Aya belum pernah ceritain Sasuke punya sayap. Pas di chappie terakhir malah muncul _ _"
apa endingnya nggak memuaskan? Pastinya saya nggak niat menjurus ke rate M *plak* tapi minimal ngena di hati Aya sendiri deh *plak*.
uchihyuu nagisa, sebenarnya emang niat bikin Sasuke itu zombi dan sejenisnya 'm' *plak* ini dah dirampungin. thanks for review!
Miya-hime Nakashinki, haha! berarti saya berhasil (?) dong ya? :D soalnya bikin feel dalam fict itu susah. Paling nggak menurut Aya. makasih reviewnya!
Deidei Rinnepero13, *ngecek halaman review sebelumnya* persis! _ _ *plak* kapan-kapan Aya bikin fict yang center-nya Deidara, deh :3 #asaljanji makasih buat reviewnya!
rie tsubaki, typo itu kesalahan ketik dalam penulisan cerita, rie-san :3 #sokakrab #dilempar thanks for your review!
Maaf buat review-review yang nggak dibales _ _
Nayaka a.k.a Aya has closed the page.
