A CHALLENGE
DISCLAIMER : Masashi Kishimoto
PAIRING : Garaa x Naruto
RATING : M
GENRE : Romance
WARNING : YAOI, LEMON, OOC, TYPO(S)
DON'T LIKE DON'T READ
"Tantangan?" tanya Naruto sambil menautkan kedua alisnya pertanda dia tidak mengerti kemana arah pembicaraan kekasihnya itu. "Ya, aku menantangmu. Jika kau ingin kita melakukan hubungan, kau lah yang harus memulainya duluan."
HAPPY READING MINNA~ =D
"talk"
'mind'
Naruto = 16 tahun
Gaara = 17 tahun
...
Tok tok tok...
Naruto yang sedang bermain dengan PSPnya pun beranjak untuk membukakan pintu. "Ada apa, Karin?" tanya Naruto. "Tuan muda, Tuan Gaara datang. Dia sedang menunggu di ruang tamu," jawab Karin. "Ha? Gaara?" tanya Naruto sekali lagi untuk memastikan, karena seingatnya Gaara tidak ada memberitahunya bahwa dia akan datang. "Iya, Tuan Muda," jawab Karin lagi. "Hem, baiklah. Aku akan menemuinya. Kau boleh pergi, Karin." "Baik, Tuan Muda. Saya permisi dulu," pamit Karin.
Naruto pun segera turun untuk menemui Gaara. Sesampainya di ruang tamu, dia langsung bertanya pada Gaara, "Ada apa sore-sore begini kau datang, Gaara?" tanya Naruto sambil menarik tangan Gaara untuk berdiri. "Hn, tidak ada apa-apa. Aku hanya merindukanmu saja," balas Gaara. Naruto yang mendengarnya hanya bisa merona, "Hem, dasar kau tukang gombal," balasnya sambil mengajak Gaara ke kamarnya. "Kau mau minum apa?" tanya Naruto sesampainya mereka di kamarnya. "Seperti biasa," jawab Gaara singkat. Naruto pun menekan tombol telepon yang ditujukan ke pelayan rumahnya dan dia memesan satu gelas ice coffee dan satu gelas orange juice. Selesai Naruto mengatakan pesanannya, perlahan dirasakannya tangan Gaara mulai melingkar di pinggangnya. "I miss you so much," bisik Gaara di telinga Naruto sambil menyenderkan kepalanya di lekuk bahu Naruto. Naruto hanya tersenyum mendengarnya, "Hem, I really-really miss you, too," balasnya sambil mengusap tangan Gaara yang ada dipinggangnya. Perlahan Gaara mulai memalingkan wajah Naruto dengan tangannya, dan dia pun mencium lembut bibir mungil Naruto. "Ennhhh...," desah Naruto. 'Oh, shit! Aku benar-benar merindukan bibir mungilnya,' batin Gaara sambil terus mencium bibir Naruto. Perlahan dia pun mulai membalik tubuh Naruto tanpa melepas ciuman mereka, sehingga mereka kini saling berhadapan. Naruto pun mulai mengalungkan tangannya ke leher kekasih yang sudah sangat dirindukannya selama lima hari belakangan. Sementara Gaara mulai menjilati bibir bawah Naruto untuk meminta izin kepada sang pemilik bibir. Naruto yang juga sudah merasa horny segera membuka mulutnya dan lidah gesit Gaara langsung melesat masuk ke bibirnya. "Ennhhhnn..," erang Gaara perlahan. Lidah Gaara pun mulai menjelajahi isi mulut Naruto, kembali dia mengabsen satu per satu isi mulut Naruto yang sudah tidak dirasanya selama lima hari belakangan dan tangannya mulai menekan-nekan kepala Naruto untuk mempermudah aksesnya. "Emmhh...ennhhh..hh..," desah Naruto terus-menerus, menikmati setiap sentuhan yang Gaara berikan di bibirnya.
Tok tok tok...
"Tuan Muda, saya datang membawa pesanan tuan," ucap Karin seraya mengetuk pintu kamar Naruto. Naruto pun mendorong tubuh Gaara perlahan, mengakhiri sesi ciuman panjang mereka. Gaara yang merasa de javu dan belum puas pun hanya bisa meng-glare Naruto dan menyumpahi pelayan kurang ajar yang dengan mudahnya menghancurkan moodnya untuk melanjutkan kegiatan mereka tadi. "A-aku..harus membukakan pintu..haah..," ucap Naruto masih terengah setelah sesi ciuman panjang mereka tadi dan dia pun langsung berjalan ke arah pintu dan mengambil nampan berisi pesanannya tadi. Sementara Gaara hanya bisa mendudukkan dirinya dengan kesal di pinggir ranjang Naruto. "Ne, Gaara~ Kau jangan marah seperti itu. Ini, ice coffee kesukaanmu. Minumlah," bujuk Naruto yang merasa bahwa Gaara masih marah karena interupsi dari Karin tadi. "Hn, padahal sudah begitu lama aku tidak menciummu, seenaknya saja dia mengganggunya," balas Gaara kesal sambil mengambil ice coffee yang ditawarkan Naruto padanya. Sementara, Naruto yang mendengar pangakuan Gaara hanya bisa pura-pura meminum orange juicenya untuk meredakan jantungnya yang berdegup tidak karuan karena tidak biasanya Gaara sejujur itu menunjukkan emosinya. Biasanya dia memilih untuk menutup mulutnya saja bila dia sedang emosi, ya meskipun Naruto juga membenarkan ucapan Gaara barusan karena dia juga sangat menikmati ciuman Gaara tadi. 'Aku masih bingung, sebenarnya kenapa dia datang tiba-tiba? Apa dia ingin membatalkan tantangannya? Kalau iya, berarti nanti kami akan... Aaaa ! Apa yang ku pikirkan? Gara-gara dia sudah terlalu lama tidak menyentuhku, pikiranku jadi kotor begini. Tapi...sejujurnya aku sudah mulai tidak tahan lagi. Kalau saja dia tidak datang tadi, aku pasti sudah pergi ke rumahnya besok. Hahaha untung saja aku tidak perlu melakukan tantangannya. Hahaha,' batin Naruto yang tanpa disadarinya bahwa Gaara kini tengah memandang bingung padanya yang sedang senyam-senyum sendiri.
"-ru..Naru..Naru, kau tidak apa-apa?" tanya Gaara sambil mengibaskan tangannya di depan wajah Naruto. "Ha? A-aku baik-baik saja. Hehehe," jawab Naruto sambil cengengesan menyadari bahwa Gaara tengah memandangnya dengan wajah yang menyiratkan kecemasan. "Oiya, Gaara. Kau...menginap disini?" tanya Naruto dengan suara pelan, namun sayangnya masih tertangkap di telinga Gaara. "Ha? Menginap?" tanya Gaara balik. "Ah..Ah i-iyaa. A-apa kau akan me-menginap malam ini?" ulang Naruto sambil menundukkan wajahnya yang sudah sangat merona. "Ah.. Maaf, Naru. Aku tidak bisa menginap hari ini. Mungkin lain kali," balas Gaara lagi sambil terus memperhatikan raut wajah Naruto yang tertutup oleh poninya karena dia masih saja menundukkan wajahnya. "O-oh...be-begitu ya. Haha ya-yasudah ti-tidak apa-apa," balas Naruto dengan suara yang bergetar. Dia merasa malu sekali sudah mengharapkan yang tidak-tidak, ditambah lagi dengan pikirannya yang sudah melantur kemana-mana. Padahal, Gaara sama sekali tidak akan menginap, apalagi melakukan hal 'itu' padanya. Dia benar-benar merasa malu sekali mengetahui bahwa Gaara menolak ajakannya. Rasanya matanya mulai memanas dan dia dapat merasakan bahwa air matanya sudah menumpuk di pelupuk matanya. 'Baka..baka..baka.. Apa yang aku harapkan?' batin Naruto. Gaara yang mendengar suara bergetar Naruto dan wajah Naruto yang juga tidak terangkat mulai merasa bingung. "Naru.. Kau tidak apa-apa?" tanya Gaara lembut sambil mendongakkan wajah Naruto menghadapnya. Dia benar-benar sangat terkejut ketika melihat Naruto yang sedang menggigit bibir bawahnya, menahan agar suaranya tidak keluar, dan juga melihat mata biru saphire yang biasanya cerah itu kini tertutupi oleh cairan bening yang menumpuk di pelupuk matanya. "Na-Naruu..," panggil Gaara tercekat ketika melihat pemandangan di depan wajahnya dan sukses membuat air mata Naruto meluncur dengan mulus di wajah tan nya.
"Kau...kenapa, Naru?" tanya Gaara lembut sambil mengusap air mata di pipi Naruto. Naruto pun langsung memeluk leher Gaara erat dan mulai terisak di bahunya, "K-kau...hiks...ti-tidak...me-merindukanku...hiks...hiks...," ucap Naruto dengan suara yang bergetar dengan semakin mengeratkan pelukannya di leher Gaara. Gaara yang begitu terkesima melihat pujaan hatinya terisak di bahunya segera membalas pelukannya dan mulai mengelus punggungnya. "Dari mana kau mengambil kesimpulan begitu, Naru? I do really miss you," ucap Gaara lagi menenangkan Naruto. "K-kau...hiks..ti-tidak..mau..me-menginap...hiks..padahal...a-aku..sangat...sangat...me-merindukanmu...hiks..I..do..need..you here...hiks..," lanjut Naruto lagi. Gaara pun dibuatnya kaget untuk kedua kalinya tapi tak lama kemudian muncul seringaian di wajahnya. Dia pun melepaskan pelukan Naruto dari tubuhnya dan mengangkat dagu Naruto dengan tangan kanannya. Dia pun mulai menghapus air mata yang masih mengalir di wajah tan Naruto dengan tangannya yang satu lagi. "Do you really want me, huh?" tanya Gaara sambil megecup pipi kiri Naruto perlahan. "Do you really want me so bad, huh?" sambungnya lagi sambil mulai menjilat cuping Naruto dengan lembut. "Ennhh..y-yaa..Ga-Gaara..hh..," erang Naruto ditengah kenikmatannya. "Hem,, nice. But,, you do it first dear. Remember?" balas Gaara lagi. Tangannya kini mulai meremas lembut kejantanan Naruto yang sudah menegang yang masih terbungkus celananya. "Enngghh..ennhh...b-but..I..I...," jawab Naruto yang kini sudah dilanda rasa nikmat yang sangat dahsyat saat dia merasakan bahwa miliknya tengah dimanja oleh tangan terlatih Gaara. "No..reason, dear," lanjutnya. Naruto yang merasa masih belum siap melakukannya duluan hanya bisa diam menikmati perlakuan Gaara. Tapi sayangnya Gaara benar-benar memegang janjinya meskipun dia sangat ingin mendorong Naruto ke tempat tidur dan mulai melakukan this and that pada Naruto, dia pun menghentikan semua pekerjaannya yang dibalas oleh tatapan kecewa dari Naruto. "Sorry, dear. Tapi aku benar-benar menginginkannya, walau hanya sekali," balas Gaara seolah menjawab tatapan Naruto. "Hem, kurasa aku harus pulang sekarang, Naru," lanjutnya sambil mencium bibir Naruto sekilas. Melihat Naruto yang mulai menundukkan kepalanya, Gaara pun mengangkat kembali dagu Naruto. "Ingat, Naru. Aku tidak pernah tidak menginginkanmu, walau hanya sedetik. Believe in me. Aku hanya ingin kau memenuhi permintaanku yang satu ini saja, Naru. Sekali ini saja. Ya?" lanjut Gaara lagi yang hanya di balas oleh tatapan bingung dari mata Naruto. "Hn, aku pulang dulu ya," lanjut Gaara sambil bangkit dari pinggir tempat tidur Naruto. Ketika Gaara mulai melangkahkan kakinya, Naruto pun menahan tangan Gaara. "A-aku antar sampai depan," sambungnya. "Hem, tentu saja, dear," balas Gaara sambil menggenggam tangan Naruto dan mereka pun mulai keluar. "Aku pulang dulu ya, Naru. Jaa..," ucap Gaara sambil mencium pipi Naruto bergantian. "Jaa..," balas Naruto.
Sepeninggal Gaara, Naruto pun merebahkan dirinya di atas tempat tidur dan mulai mengingat perkataan Gaara tadi. 'Apa susahnya si Naru... Gaara kan baru sekali ini meminta kepadamu dan kau bahkan tak mau memenuhinya. Baka..baka..bakaa..!' batin Naruto sendiri. 'Kenapa aku malah menganggapnya yang bukan-bukan? Malah menganggapnya tidak merindukanku, padahal dia sengaja datang kesini hanya untuk menemuiku. Sedangkan aku sama sekali tidak menghubunginya, selalu saja dia yang menghubungiku lima hari belakangan. Aku pasti sudah membuatnya khawatir. Dasar Naru bakaaa !' lanjutnya. Naruto pun mulai memejamkan matanya, dan perlahan bayangan-bayangan ketika dia sedang bercinta dengan Gaara bermunculan di pikirannya. Ah, dia benar-benar merindukan sentuhan Gaara. Tanpa disadarinya celananya terasa semakin menyempit dan dia mulai merasa tidak nyaman. Maka, dia pun pergi ke kamar mandi, tidak lupa diambilnya sesuatu dari laci lemari pakaiannya. Dia mengambil benda yang sudah lama tidak dipakainya semenjak dia menjalin hubungan dengan Gaara. Sesampainya di kamar mandi, dia langsung menghidupkan kran air hangat dan mulai mengisi bath tub nya. Setelah bath tub nya hampir penuh, dia mematikan krannya dan mulai melepas seluruh pakaiannya. Dia pun menyamankan dirinya di dalam bath tub berisi air hangat tersebut. Dia mulai memejamkan matanya, dan lagi-lagi bayangan percintaannya dengan Gaara muncul di pikirannya, tubuh kekar Gaara yang tengah memeluk tubuhnya, lidah terlatih Gaara yang mulai memanjakan miliknya, dan segala hal tentang Gaara mulai berseliweran dalam pikirannya.
Tanpa sadar, dia pun mulai membelai kejantanannya perlahan, sementara tangannya yang satu lagi mulai memilin tonjolan di dadanya. "Ahnnhh..aahh..haahh...," desahan pun mulai keluar dari bibir mungilnya. Kenikmatan mulai menjalar ke seluruh tubuhnya, dia merasa Gaara lah yang sedang melakukan itu semua pada dirinya. Dia pun mulai mempercepat gerakan tangannya dan mulai mencubit dan memilin tonjolan di dadanya secara bergantian dan dengan tidak pelan. "Enngghh...Ga-Garaa..hhh..aahh..," erangnya semakin kuat. Ketika merasakan hasratnya akan keluar, dia pun menyerukan nama Gaara, seolah Gaara lah yang tengah memanjanya. "Akhh..Ga-Garaaa...Ahnn...haahh...haahh...," erangnya sambil masih memijit miliknya perlahan. Setelah merasa hasratnya keluar semua, dia pun mengambil benda yang diambil dari lacinya tadi. Dia masih ragu, apakah harus menggunakan benda ini atau tidak. Akan tetapi, dikarenakan tubuhnya yang sudah haus akan sentuhan Gaara, dia pun memutuskan untuk menggunakan alat itu.
Pertama, dia mengosongkan isi bath tub nya yang sudah bercampur dengan hasratnya. Setelah itu dia pun membuka bungkusan benda itu. Benda itu adalah sebuah vibrator, benda yang sering menemaninya dulu sebelum dia mendapatkan Gaara sebagai penggantinya, tapi bukan berarti dia hanya memanfaatkan Gaara untuk memuaskannya saja. Dia tulus mencintai Gaara dari lubuk hatinya yang terdalam. Dia pun mulai mengangkat sebelah kakinya ke pinggiran bath tub dan mulai meraba lubangnya yang sudah tidak di jamah Gaara selama beberapa hari belakangan. Dia pun mulai memasukkan satu jarinya, "Engghh..ennhh...," erangnya. Semakin tidak sabar, dia pun langsung menggantikan jarinya dengan vibrator berukuran lumayan besar itu, walaupun belum mengalahkan ukuran kejantanan Gaara yang memang diatas rata-rata. "Engghh..aahh..haahh..," erangnya ketika merasakan bahwa vibrator itu sudah masuk sepenuhnya ke dalam dirinya. Dia pun mulai menekan tombol yang ada di ujung vibrator itu. Pertama dia menekan tombol 'pelan'. "Engghhhh...emmhh..hh..," lenguhnya keenakan merasakan sensasi yang sudah hilang beberapa hari ini. Dia pun mulai memompa kejentanannya lagi dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya mulai memilin kedua tonjolannya lagi. Merasa kurang, dia pun menambah kecepatan getar vibrator tersebut. Dan benar saja, vibrator itu langsung mengenai prostatnya dengan tidak pelan. "Engghhnnhh...Ga-Garaa..hh..hh," erangnya semakin kuat dan dia pun mempercepat gerakan tangannya untuk menambah sensasi kenikmatannya. Tak berapa lama kemudian, dia merasa hasratnya akan datang, dia pun semakin mempercepat intensitas kocokannya ditambah dengan vibrator yang bergetar lumayan cepat yang terus-menerus menghantam titik nikmatnya. "Akhh..ahhnn..haahh..Gaa-raa..hh..," erangnya ketika dia lagi-lagi mencapai puncaknya. "Haahh..ahhnn..haahh..," erangnya masih dengan nafas yang tersengal. Dia merasa hasratnya cukup terpuaskan, meskipun belum sepuas ketika Gaara menyentuhnya langsung. "Ehhnnnhh...," desahnya ketika dia mencabut vibrator dari dalam tubuhnya. Dia pun mulai menghidupkan lagi kran air hangatnya dan mulai membersihkan tubuhnya.
"Haahh... Aku benar-benar sudah gilaa," ucap Naruto setelah melakukan ritualnya tadi dan dia pun langsung merebahkan dirinya di tempat tidur king sized miliknya. "Padahal sudah begitu lama aku tidak melakukannya lagi. Tapi ini salahnya juga," tambah Naruto dengan nada kesal, "Bisa-bisanya dia membuatku begitu terangsang dan dengan seenaknya menghentikannya. Huh, awas saja dia nanti." Naruto pun mulai memejamkan matanya, tapi dia tidak kunjung tertidur. "Hem, apa aku terima saja tantangan Gaara? A-aku ingin dia," desah Naruto dan mulai memejamkan matanya menuju alam mimpinya.
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
"Hah.. Apa aku terlalu memaksakan keinginanku ya?" tanya Gaara pada dirinya sendiri. "Aku memaksanya untuk melakukan hal yang tidak bisa dia sanggupi sampai dia menangis seperti itu. Selama hampir lima bulan kami menjadi sepasang kekasih, aku belum pernah melihatnya menangis, bahkan apabila aku melakukan kesalahan yang lumayan berat, seperti ketika dia memintaku menjemputnya di pusat perbelanjaan karena cuaca hujan tapi aku malah ketiduran dan membiarkannya menunggu selama tiga jam, pun dia hanya tidak mau berbicara padaku selama dua hari. Haah.. tapi ini..," Gaara tidak melanjutkannya lagi karena dia langsung teringat wajah Naruto yang sedang menahan tangisnya dan kemudian menangis terisak di bahunya. "Haah.. Besok aku akan minta maaf padanya dan menyuruhnya untuk melupakan tantangan bodoh itu," lanjutnya.
Cklek...
Lamunan Gaara terusik oleh suara pintu kamarnya yang terbuka. Dia pun bangkit dan melihat siapa yang berani memasuki kamarnya, bahkan tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Hampir saja dia memaki orang tersebut jika tidak di lihatnya bahwa orang yang membuka pintunya kini tengah terdiam di depan pintu sambil menundukkan wajahnya.
"Naru..," ucap Gaara terkejut ketika melihat bahwa orang yang di maksud adalah seorang lelaki berambut kuning keemasan yang dikenalinya sebagai orang yang telah menjerat hatinya kini. "Mengapa kau datang ke sini?" tanya Gaara kembali sambil berjalan mendekati Naruto dan kemudian mengunci pintunya dan mengajak Naruto untuk duduk di tepi tempat tidurnya. Naruto masih saja membisu seolah bibirnya terkunci rapat. Gaara pun menghela napasnya dan mulai mengangkat wajah Naruto. Seperti de javu, Gaara kembali melihat wajah Naruto seperti mau menangis. "A-aku..aku..ingin..minta..ma-maaf, Gaara," ucap Naruto akhirnya dibarengi dengan air mata yang mengalir –lagi- di wajah tan nya. Dia merasa sangat cengeng sekarang. "Sshh... tidak ada yang perlu dimaafkan," balas Gaara lembut sambil menciumi pipi Naruto bergantian. Naruto yang merasa bahwa perhatian Gaara sangat besar padanya mulai melingkarkan tangannya ke leher Gaara, "A-aku..hiks..sangat..egois..Gaara..hikss..," jawab Naruto terisak. Dia semakin mengeratkan pelukannya dan mulai duduk di pangkuan Gaara. Gaara yang melihat tingkah Naruto seperti seekor anak kucing yang baru menemukan kasih sayang ibunya, hanya bisa tersenyum dan menenangkan Naruto, "Apa maksudmu, Naru?" tanyanya lagi.
"A-aku..akan..melakukannya..Gaara," balasnya sambil melepaskan pelukannya di leher Gaara. Gaara yang mendengar hal tersebut hanya bisa membelalakkan matanya, karena sedetik kemudian Naruto langsung mencium bibir Gaara lembut. Gaara hanya bisa tersenyum dalam ciumannya dan mulai membalas ciuman Naruto dan melingkarkan tangannya di pinggang Naruto. Dia akan membiarkan Naruto 'menuntun' mereka dalam permainan ini. Naruto pun mulai menjilat bibir bawah Gaara pertanda dia ingin gantian bertamu ke dalam mulut Gaara. Dengan senang hati Gaara pun mempersilahkan lidah Naruto masuk dan mengajak lidahnya bergulat. "Ennhhh...ennhhhh," desah Naruto sambil terus menekankan kepala Gaara agar dia bisa mencicipi setian inchi isi mulut Gaara. Meskipun Gaara membiarkan Naruto melakukannya, tapi bukan berarti dia membiarkan Naruto mendominasi dalam ciuman mereka. "Engghh...," Gaara pun mulai membalikkan keadaan, dan pada akhirnya tetap lidah Gaara lah yang memenangkan pertarungan ini.
Naruto pun melepaskan ciuman panjang mereka ketika dia merasa perlu tambahan pasokan oksigen untuk paru-parunya. "Haahh...aahhh...," Naruto masih berusaha menstabilkan napasnya sambil mengelus pipi Gaara lembut. Sementara Gaara hanya membalasnya dengan senyuman lembut. "Hn, aku tidak menyangka kau mau melakukannya setelah semalam kau benar-benar tidak mau," ucap Gaara sambil terus membiarkan tangan Naruto membelai seluruh wajah dan lehernya. "Heemm, a-aku... sangat... merindukanmu," balas Naruto sambil menciumi leher Gaara, "I do really want you, Gaara. How can you leave me alone for almost a week? Don't you know that I've been crazy for you?" sambung Naruto masih terus menciumi leher dan wajah Gaara. "Hn, just do it now. Prove it," balas Gaara sambil mengeratkan pelukannya di pinggang Naruto. Mendengar perkataan Gaara tadi, Naruto pun mulai menjilat dan menggigit pelan leher Gaara untuk menciptakan tanda cintanya. Dia juga ingin agar orang tahu bahwa Sabaku no Gaara adalah miliknya. "Ennhhh...," desah Gaara perlahan merasakan lidah Naruto yang masih setia menjilati lehernya, sementara tangannya mulai menelusup ke dalam T-Shirt merah bata Gaara dan mulai membelai lembut tubuh Gaara. "Engghh..I..really..ennhh..want..you, Gaara..hh..," ucap Naruto sambil mulai memilin tonjolan di dada Gaara bergantian dan mulai melumat bibir Gaara lagi. "Ennhh...," desah Naruto terus-menerus. Gaara hanya bisa membiarkan Naruto melakukan apa yang diinginkannya, sementara dia hanya bisa menekan kepala Naruto semakin dalam. "Ahh...haahh..," Naruto menarik napasnya terengah setelah sesi ciuman mereka tadi. Dia pun mulai membuka T-Shirt biru muda yang sedang dipakainya dan juga mulai membuka T-Shirt merah bata yang dipakai Gaara. "Hn, kau sangat tidak sabaran, Naru," ucap Gaara ketika melihat tatapan lapar dari mata Naruto, dan mulai membiarkan Naruto menjilat seluruh tubuhnya. "Heemm...emmhh..," desah Naruto sambil menjilat dan mengulum tonjolan di dada Gaara, sementara tangannya mulai meremas kejantanan Gaara yang sudah menegang di balik celananya. "Hnngghh..," erang Gaara yang menikmati perlakuan Naruto. Dia pun mulai menciumi perpotongaan bahu Naruto yang berada di pangkuannya. Dia mulai menciptakan banyak tanda merah di bahu Naruto yang sudah terekspos sempurna.
Merasa hasratnya makin tidak bisa dibendung, Naruto pun mulai bangkit dari pangkuan Gaara. Gaara hanya diam saja melihat apa yang akan dilakukan kekasih pirangnya ini. Tanpa disangka, Naruto mulai mengenyahkan celana yang dipakainya beserta dalamannya. Kini dia pun sudah polos seutuhnya. Gaara hanya bisa menelan ludahnya ketika melihat tubuh menggiurkan Naruto yang selalu menghiasi mimpinya. Tak sabar, Naruto pun mulai membuka kancing celana Gaara dan menyuruh Gaara untuk ikut berdiri, "Sshh.. Gaara, bu-buka milikmu," ucapnya sambil menarik celana Gaara, namun dia kesusahan karena Gaara masih dalam posisi duduk. Gaara yang mengetahui maksud Naruto pun segera mengangkat pinggulnya untuk mempermudah pekerjaan Naruto. Kini mereka berdua sudah sama-sama polos. Naruto pun menarik Gaara berdiri dan mendorongnya untuk duduk di sofa yang tak jauh dari tempat tidur Gaara. "Enjoy my show," bisik Naruto sambil mulai menaiki pangkuan Gaara. Kini dia sedang memijat kejantanan Gaara lembut sambil mendekatkan wajah Gaara ke tonjolan di dadanya. Gaara pun menuruti permintaan kekasihnya itu dan mulai mengulum tonjolan di dada Naruto bergantian. "Engghh... ennhh...," erang Naruto yang mulai merasa hasratnya semakin meningkat. Dia pun mulai menyatukan kejantanan mereka berdua dan mulai memompanya secara bersamaan. "Ennhhh...," erang mereka bersamaan. Naruto pun mempercepat gerakan tangannya di kejantanan mereka berdua. "Engghhh...Ga-Gaaraa..hhh.." erang Naruto ketika merasakan hasratnya akan segera keluar. Gaara yang merasakan hal yang sama pun segera melumat bibir Narto, sementara Naruto terus mempercepat gerakan tangannya. "Engghh... ennhh!..ennhhnn...," erang mereka tertahan ketika merasakan hasrat mereka keluar bersamaan. Naruto terus memijat kejantanan mereka sampai dia merasa hasrat mereka sudah keluar sepenuhnya. Dia pun melepaskan ciuman Gaara tadi. Dengan wajah yang sangat merah, Naruto pun turun dari pangkuan Gaara dan mulai berjongkok di depan kaki Gaara. Gaara hanya bisa memperhatikan apa yang akan dilakukan Naruto. Perlahan, Naruto mulai memisahkan kaki Gaara dan dia mulai mengocok kejantanan Gaara perlahan. "Ennhhh..," desah Gaara tercekat ketika mengetahui aksi Naruto tersebut. Ketika dia merasakan kejantanan Gaara sudah menegang sempurna, dia pun mulai mencium ujung kejantanan Gaara dan mulai meraup kejantanan Gaara ke dalam mulutnya meskipun milik Gaara hanya bisa masuk setengahnya saja karena memang ukuran Gaara yang diatas rata-rata.
"Sshh..engghhh...enngghhh...good..hh..boy..hh..." erang Gaara kenikmatan sambil meremas rambut Naruto dan menekankan kepala Naruto agar memanja miliknya lebih dalam. "Engghh..engghh..," desah Naruto sambil terus mempercepat blow jobnya dan sesekali menggigit kecil milik Gaara untuk memberikan sensasi lebih pada milik Gaara, dia juga terus memaksa agar milik Gaara bisa masuk seutuhnya dalam mulutnya. Ketika dirasakannya pre-cum Gaara mulai menetes keluar, dia semakin mempercepat gerakan mulutnya, "Akhh..Na-ruu..hhh..engghh...," erang Gaara yang menikmati masa klimaksnya. Naruto pun merasakan sari Gaara keluar dalam mulutnya. Dengan senang hati dia menelan sari Gaara yang keluar dalam jumlah banyak dan sebagian keluar melalui sudut bibirnya. "Ennhhh...emmhh...," erang Naruto sambil terus menghisap kejantanan Gaara dan memastikan bahwa sarinya sudah keluar semua. Setelah merasa pekerjaannya selesai, dia pun segera mengeluarkan milik Gaara dari mulutnya dan mulai naik ke pangkuan Gaara lagi, "Gaara...hh..I-I..want you, now..hh..," bisik Naruto menggoda di telinga Gaara. Gaara pun segera melumat bibir Naruto lagi dan mulai melebarkan kakinya, yang otomatis membuat kaki Naruto yang berada di pangkuannya juga melebar. "Do it, babe..hh," erang Gaara di sela ciumannya dengan Naruto. Naruto yang mengetahui keinginan Gaara segera memasukkan satu jari tangan kanannya ke dalam lubangnya sendiri. Merasa kurang, Naruto pun menambahkan jari keduanya ke dalam lubangnya. "Ennhhh..emmhh...emmhh.." erang Naruto yang mulai kewalahan menghadapi lidah Gaara yang sedang bererilya dalam mulutnya dan juga karena sensasi nikmat dari jari-jarinya yang mulai mengenai prostatnya. Dia pun menambahkan jari ketiganya dan mulai mempercepat gerakan tangannya. Sementara tangan kirinya digunakannya ntuk menuntun tangan Gaara agar segera memanja kejantanannya yang sudah sangat tegang. "Emmhh...," desah Gaara dan dia pun menuruti permintaan Naruto. Dia mulai memompa kejantanan Naruto dengan cepat untuk menambah kenikmatan yang tengah melanda Naruto. Naruto yang merasa hasratnya akan meledak segera melepaskan ciumannya dan mempercepat gerakan tiga jarinya sambil terus menghantam prostatnya sendiri. "Akkhhh !..GAARAA..engghh..enngghh...," jeritnya ketika merasakan hasratnya membuncah. "Ahhnnn...haahh...," desahnya ketika dia mengeluarkan ketiga jarinya perlahan dari dalam dirinya.
"Gaa..hh..raa...ahhhnnn...," desah Naruto yang sudah tidak sabar untuk menikmati milik Gaara dalam dirinya. "Hemm..baiklah..," ucap Gaara pelan. Maka, Naruto pun mulai mengocok kejantanan Gaara perlahan agar milik Gaara menegang sempurna. Setelah merasa milik Gaara sudah menegang sempurna, dia pun mengangkat tubuhnya dengan bertopang pada tangannya di leher Gaara dan perlahan menurunkan tubuhnya. "Ahhnnn...aahhh...," erangnya ketika merasakan milik Gaara menyeruak masuk ke dalam dirinya. Gaara pun membantu Naruto menurunkan pingganya dan mulai melesakkan kejantanannya sepenuhnya. "Akkhh...i-ittai..hh..," erang Naruto yang merasakan milik Gaara sudah tertanam sepenuhnya dalam lubangnya. Gaara pun mendiamkan Naruto sebentar agar dia terbiasa dengan milik Gaara di dalamnya, "Ennhhh...," desah Gaara yang merasakan dinding rektum Naruto memijat miliknya perlahan. "Move, Naru..," bisik Gaara. Naruto pun menggerakkan dirinya naik-turun pada milik Gaara, "Ehnnn...emmhh...," desah Naruto kenikmatan. Gaara pun segera melesakkan kejantanannya kuat ke dalam lubang Naruto dan mulai membantu Naruto menaik-turunkan tubuhnya dengan cepat dan menghujam prostat Naruto dengan tidak pelan. "Akhh...enngghh..ennhh...," erang Naruto nikmat merasakan dirinya dipenuhi oleh Gaara. "Ennhh..," erang Gaara yang merasakan miliknya semakin dihimpit oleh rektum Naruto. Tangan Gaara yang menganggur segera memompa milik Naruto yang menegang sempurna dengan cepat. "Ennggghhh..Gaa-raahh..enngghh..," erang Naruto yang merasakan sensasi luar biasa pada dirinya. Dia benar-benar sudah termakan nafsu sekarang. "Gaa-raa..a-akuu...hampir..hh..," erang Naruto yang merasa hasratnya akan keluar. Gaara yang juga merasa dinding rektum Naruto semakin menghisap miliknya segera melesakkan kejantanannya ke prostat Naruto berkali-kali dan mempercepat kocokan tangannya. "Akhhh ! GAARAA...engghh.." "Na-NARU...engghh...," erang mereka bersamaan ketika hasrat mereka keluar tak terbendung. "Ennggghhh...," erang Naruto ketika merasakan tangan Gaara masih memijat miliknya perlahan dan dia pun menyenderkan kepalanya di lekuk bahu Gaara. "I..I..want more Gaara," bisik Naruto di telinga Gaara, "I..still..want..you..," tambahnya. Gaara yang mendengarnya hanya menyeringai senang, "Hn, me too," balasnya sambil menciumi leher Naruto. Maka Gaara pun berdiri sambil menggendong Naruto yang ada dalam pelukannya tanpa melepas miliknya dari lubang Naruto. Mereka pun mulai saling melumat lagi dan Gaara mulai berjalan menuju tempat tidurnya. "Enngghh..ennhhh..," desah Naruto di sela ciumannya ketika dirasakannya milik Gaara mulai keluar masuk perlahan karena dia berjalan tanpa melepas miliknya terlebih dahulu.
Gaara pun segera menidurkan Naruto di tempat tidurnya dan kembali melesakkan lidahnya ke mulut Naruto untuk mencicipi semua isi mulutnya. "Engghh..ennggghhhh," desah Naruto sambil terus mengeratkan pelukannya di leher Gaara. Gaara pun mulai menggerakkan miliknya yang masih berada di lubang Naruto. Dia melesakkan lagi miliknya dengan tempo cepat dan menghantam prostat Naruto –lagi- berkali-kali. Tangannya pun kembali memompa milik Naruto yang hampir terlupakan. "Emmhhh... enngghh...," erang Naruto yang merasa dirinya dilanda kenikmatan tiada tara dan kembali mengeratkan pelukannya di leher Gaara dan mulai meremas kecil rambut Gaara pertanda dia menikmati semua perlakuan Gaara padanya. "Ennhhh..ennhh...," desah mereka terus-menerus. Gaara pun terus melumat bibir Naruto dan terus mempercepat semua pekerjaannya. Naruto yang merasa bahwa hasratnya akan datang lagi segera melepas lumatan Gaara, "Enngghh..Gaa-raa..hh..a-ku..hampirrhh ...enngghh," erang Naruto lagi. "A-ku..hh..jugaahh...," erang Gaara. Gaara pun mempercepat gerakan in out nya. Tak lama, mereka pun mengeluarkan hasratnya bersamaan, "GAARAA..enngghhh..." "NARUU...ahhnn..," erang mereka kembali ketika merasakan hasrat mereka meledak lagi untuk yang kesekian kalinya. Gaara pun mulai menciumi pipi Naruto lembut, sementara Naruto hanya bisa mengeratkan pelukannya. "Emmhh..thanks honey..ennhh...," bisik Gaara sambil terus mencium pipi Naruto bergantian. "Yaa, thanks too, Gaara. I do really love you. Ennhh...," balasnya sambil terus meremas rambut Gaara yang kini sedang menjilati lehernya.
Gaara pun menghentikan kegiatannya sejenak dan memandang lurus ke saphire Naruto. "Hem, apa yang membuatmu berubah pikiran?" tanya Gaara sambil menarik dirinya perlahan dari lubang Naruto. "Ennhhh...," desah Naruto dan kemudian bangkit untuk duduk dan balas menatap emerald Gaara yang kini tengah duduk di depannya masih menatap saphire Naruto, mencoba mencari jawabannya di sana. "A-aku..aku.. sudah tidak tahan lagi," ucapnya sambil menundukkan kepalanya berusaha menyembunyikan rona merah yang memenuhi wajahnya. "Hn?" tanya Gaara yang kurang menangkap apa yang Naruto katakan. "AKU SUDAH TIDAK TAHAN LAGI, BAKA! AKU BENAR-BENAR MENGINGINKAN SENTUHANMU! AKU BENAR-BENAR TIDAK BISA MENGENDALIKANNYA LAGI, GAARA BAKA! BAKA! " teriaknya emosi sambil memeluk leher Gaara yang hanya bisa terkesima mendengar penuturan jujur dari bibir Naruto. "Hahaha..hahaha...," balas Gaara yang hanya bisa tertawa mendengar penuturan polos dari Naruto. "Apa yang lucu, huh?" tanya Naruto sambil melepaskan pelukannya dan kemudian menggembungkan pipinya sambil melipat tangannya di depan dada. "Hemmpphhh... kau...kau.. serius?" balas Gaara sambil menahan tawanya agar tidak membuat Naruto lebih marah lagi. "Tentu saja aku serius, Baka !" sambung Naruto, "Teganya kau membuatku merasa horny semalam tapi kemudian kau meninggalkanku. Dasar kau jahat~," lanjut Naruto lagi. Gaara hanya bisa tersenyum dan kemudian dia mengangkat Naruto dan mendudukkannya di pangkuannya lagi, kemudian dia memeluk Naruto erat, "Hn, aku hanya ingin mengujimu, Naru. Aku benar-benar menginginkannya," balas Gaara sambil mencium puncak kepala Naruto yang kini sedang memeluknya balik dan mulai menyandarkan kepalanya di dada bidang Gaara. "Tapi aku kan malu~ Kau kan tahu sendiri aku susah untuk melakukannya. Bisa-bisanya kau menggodaku seperti itu. Kau menyebalkan," lanjut Naruto lagi sambil meninju kecil dada Gaara. "Hem, tapi kau bisa kan?," sambung Gaara, "Dan lagi kau benar-benar menggairahkan tadi, kau...liar sekali," lanjut Gaara lagi dengan seringaiannya. "Aaahhh~ Kau menyebalkan. Aku malu tahu~," balas Naruto sambil menyembunyikan rona merahnya dalam dekapan Gaara, "Ah, sudahlah, aku capek. Kau membuatku harus keluar berkali-kali," lanjutnya. "Hn, kan kau yang memaksaku. Sudahlah, lebih baik kau tidur sekarang," lanjut Gaara sambil menidurkan Naruto di sebelahnya dan menyelimuti tubuh mereka sebatas pinggang. Naruto mulai menyamankan dirinya dalam dekapan Gaara, sementara Gaara memeluk pinggang Naruto dan mencium puncak kepalanya. "Oyasumi, Naru. Aishiteru..," ucapnya. "Aishiteru mo, Gaara," balas Naruto dan mulai memejamkan matanya menuju alam mimpinya. 'Hn, kurasa aku harus sering-sering memberinya tantangan seperti ini,' batin Gaara, 'Hah, aku tidak bisa lupa wajahnya yang sangat menggoda itu. Darimana dia belajar membuat wajah seperti itu?' lanjut Gaara lagi. 'Ah, sudahlah. Yang penting kenginanku sudah terpenuhi,' katanya sambil memejamkan matanya dan mulai menyusul Naruto ke alam mimpinya.
- FIN –-
Yaayy !
Siap juga nih ficnya.
Gimana, gimana? Bagus dooongg.. *plak**bagus pala lo peang* (ditimpuki selop ama readers)
Hahahaha, okee deehh.. Nanti Matsu buatin fic yang lebih bagus lagi yaaaa ;))
The last... Read n Review pleaseee =D
