Yohohoho! Gue kembali lagi dan lagi…
Sebelumnya gue mau ngucapin makasih banyak buat Sugar Princess & Moist Fla/Cheeky n' hyuu-sukanolongin yang rela mereview Fic jelek gue ini. Karena kalianlah, gw jadi semangat ngenext ni FF. Hoho
Btw, gue slalu ingetin dan ingetin,
Ini FF sumpah OOC banget! Dan juga Gaje plus Garing bukan main! Banyak kata-kata yang nggak sesuai dengan EYD. Dan akan membuat loe pada yang benci cerita OOC pengen muntah berak bacanya. Mau terus baca, LANJUT AJA.. Tapi kalau nggak suka, ya udah NGGAK USAH BACA!
Oke.. just check it out!
…
HAUNTED :THE EXPLOTION
AUTHOR'S POV
"Anak muda, apa kau menemukan sesuatu?" Tanya Jimbei yang melihat sikap aneh Zoro
"Ini… siapa anak kecil ini?" Tanya Zoro gemetaran menunjuk foto seorang bocah yang sedang tersenyum ramah di samping ibunya.
"Itu foto Robin waktu kecil! Memangnya kenapa?"
"Di..dia… " Ucapan Zoro terputus saat ia kembali mengingat kejadian 15 Tahun lalu,
FLASHBACK
"Ayah…Ayah mana? Uwaaa.. aku tidak mau ada di sini! Aku mau pulang~" Rengek Zoro kecil dibawah pohon sakura yang terletak di taman kota.
Tiba-tiba seorang anak perempuan yang terlihat lebih besar setahun dari Zoro kecil menghampirinya,
"Hai! Kamu mencari ayahmu ya?" Tanya anak perempuan berambut raven itu sedikit merukuk ke Zoro kecil (yang duduk di bawah pohon).
"Ng?" Zoro bocah menghentikan tangisnya dan mendongak menatap anak perempuan itu heran.
"Ayo Kita cari ayahmu sama-sama!" Ajak anak perempuan itu tersenyum ramah sembari menjulurkan tangannya pada Zoro kecil.
Zoro kecil membersihkan air matanya, lalu ia menjabat tangan anak perempuan itu dan berdiri.
"AYO!" Kata Zoro kecil bersemangat
Anak perempuan itu tersenyum, lalu merekapun meninggalkan pohon sakura itu dengan bergandengan tangan dan tertawa gembira.
END OF FLASHBACK
"Jadi anak perempuan yang waktu itu adalah Nico Robin?" Batin Zoro tanpa sadar tersenyum lembut menatap figura yang terpampang di dinding itu.
Jimbei yang melihat wajah polos Zoro terpana,
"Kenapa ia menatap foto Robin dengan mata selembut itu?" Batin Jimbei heran
SREKK
Tiba-tiba muncul sekelebat bayangan dari kaca jendela, Jimbei yang menyadarinya segera menoleh ke sumber bayangan. Sekilas, tampak seorang pria berambut afro sedang menodongkan moncong pistol (dari luar jendela) ke arah kepala Zoro, spontan saat pria itu memetik knop pistolnya, Jimbei meloncat ke depan Zoro untuk membentenginya, Zoro menatap Jimbei heran,
"Hei.. Apa yang kau laku…."
DHUPPP
Ucapan Zoropun terputus saat sebuah timah panas bersarang di dada kiri Jimbei. Zoro terbelalak shock, ia segera menangkap tubuh Jimbei yang akan ambruk,
"JIMBEIIIIIII!" Teriak Zoro shock
"Sial!" Umpat si penembak tadi sembari kabur meninggalkan rumah itu.
Zoro menoleh ke jendela, ia yakin barusan ada seseorang yang sedang memperhatikannya. Ia ingin mengejar orang itu, tapi dibatalkan karena kondisi Jimbei yang sekarat.
"JIMBEI! JIMBEI! JAWAB AKU!" Teriak Zoro kembali focus pada Jimbei sembari menggoncang-goncang tubuhnya.
Tapi Jimbei tidak menjawab, ia hanya memuntahkan banyak darah dari mulutnya. Zoro berpeluh dingin, sigat ia pun mencabik ujung kaosnya, lalu menekan dada Jimbei yang bolong dengan kain itu guna menghentikan pendarahan.
"ARGGGGHHHH!" Teriak Jimbei kesakitan
"Jimbei, bertahanlah! Sekarang juga, aku akan membawamu ke Rumah sakit!" Kata Zoro tergesa-gesa sembari membopong Jimbei untuk bangkit
"Ti…dak.." Lirih Jimbei lemas dan melepaskan tangannya dari bahu Zoro
"Jimbei! Dengarkan aku! Kita harus cepat menghentikan pendarahanmu!" Kata Zoro berusaha meyakinkan Jimbei
"Tidak...itu hanya akan membuang waktumu… cepat.. cepat kejar orang tadi… dia… Uhuk…dia pasti tahu dimana keberadaan…Nico Robin…Uhuk Uhuk.." Ucap Jimbei terbatuk-batuk sembari memuntahkan darah di mulutnya
"TAPI…."
"Batalkan niat Robin… ku mohon…" Sergah Jimbei makin lemas
Zoro menutup matanya dan berpikir keras, lalu tanpa babibupun ia segera bangkit dan berlalu mengejar si penembak berambut afro tadi.
DRAP DRAP DRAP
Di sela larinya, Zoro menghubungi Sanji lewat mini earphone yang telah dimiliki oleh masing-masing anggota Baraque Work. Ia meminta pria berambut kuning itu untuk mengirim ahli medis guna menyelamatkan Jimbei.
"Ya.. aku mengerti!"
Ucapan Sanji barusan membuat Zoro sedikit lega. Berpikir keadaan Jimbei akan baik-baik saja, Zoropun memfokuskan perhatiannya kepada misinya lagi.
"Nico Robin…Tunggu aku!!" Batin Zoro sembari mempercepat langkahnya saat melihat pria berambut afro tadi sedang naik ke atas mobil limoushine hitam yang terparkir di pinggir jalan.
Di lain tempat, Sanjipun ikut bergerak menuju ke TKP bersama ahli medis (Yang diketuai oleh Chopper, dokter khusus agen Baraque Work). Sedangkan Luffy, Franky dan Usopp, mereka berjaga-jaga dengan menyamar sebagai pemulung & pedagang asongan di depan pintu Stadiun. Alih-alih, jika ada sedikit saja hal mencurigakan, maka mereka akan beraksi. Sementara itu, Rayleigh & Nami mengawasi mereka dari markas Baraque Work.
.
.
TI NUT TI NUT TI NUT.. *Bunyi Ambulance*
Sanji telah tiba di TKP dengan sebuah ambulance (Beserta ahli medis). Ia segera mendobrak pintu, dan tampaklah Jimbei sedang terbaring di lantai.
"CEPAT LAKUKAN PERTOLONGAN!" Teriak sembari menghampiri Jimbei dengan perawat lainnya. Sanjipun ikut menghampiri Jimbei guna memastikan keadaannya, tapi di pertengahan jalan, perhatiannya teralihkan pada lantai yang sedang ia pijakan.
Sanji terdiam, ia mundur beberapa langkah,
NGIIIKK
"Suara itu…" Batin Sanji menebak-nebak suara barusan. Namun, masih belum yakin, ia pun maju selangkah,
NGIIIKK
Suara itu terdengar lagi. Sanji makin penasaran, akhirnya ia bersujud di lantai dan menempelkan telinganya ke lantai yang terbuat dari batu mar-mar itu.
Tik… Tik… Tik…
Sekilas, bunyi yang terdengar samar-samar seperti detak jarum jam itu membuat mata Sanji terbelalak. Rokok yang tadi berada di bibirnya, terjatuh ke lantai.
"Jangan-jangan….ini…?"
Tik Tik Tik Tik
Bunyi itu mulai berdetak lebih cepat dari tadi. Sanjipun menatap ke arah segerombolan ahli medis yang masih sibuk merawat Jimbei dengan tatapan panik. Segera saja, Iapun bangkit dari lantai dan berlari menghampiri segerombolan perawat itu.
"CEPAT TINGGALKAN RUMAH INI! ADA BOM!"
Mendengar teriakan Sanji barusan, Para perawat itu menoleh ke arah Sanji dengan mata terbelalak lebar, Dan tanpa babibu, merekapun ikut berlari berhamburan ke luar rumah. Sedang Sanji, ia menyempatkan diri untuk membopong tubuh Jimbei dan membawanya keluar.
Tik Tik Tik TIK TIK TIK
Bunyi itu semakin terdengar jelas dan berdetak cepat. Sanji & Jimbei masih berada di ambang pintu, sedangkan Para perawat yang ketakutan sibuk menyelamatkan diri masing-masing dan meneriaki 'bom' kemana-mana, Para warga sekitar yang melihatnyapun ikut panik dan berhamburan menjauhi rumah itu. Sampai saat itu, dalam keadaan SLOW MOTION,
"TI-AAA-RAAAAAAAA-PPP!" Sanji berteriak sambil berancang-ancang meloncat ke udara berharap dengan sedikit melayang akan mempercepat langkahnya menjauhi bom itu. Para warga yang berdiri cukup jauh dari TKP menatap momen itu dengan pandangan harap-harap cemas. Sampai saat itu….
DHUAAAAAAAAARRRRRRRRRRRRRR
Tiba-tiba saja sebuah ledakan besar memantulkan pecahan material rumah ke segala arah. Kobaran api yang cukup besarpun mencurat ke luar rumah dan menjalar mengejar Sanji.
BRUUUKKKK
Sanji dan Jimbei (Yang tak sadarkan diri) terbanting ke tanah, sedangkan kobaran api menjalar di atas mereka.
"ARGGGGGHHHHH!" Sanji berteriak kesakitan mendapati panas api yang bahkan mampu membuat kulitnya terkelupas.. Tapi itu hanya berlangsung selama 8 detik. Sampai saat itu, kobaran api tersebut menyurut dengan sendirinya, dan berubah menjadi sekepulan asap yang sangat tebal.
.
.
RAR RAR RAR
"GAWAT! ADA SEBUAH LEDAKAN TERJADI DI DAERAH TEQUILA WOLF!" Teriak Nojiko, staff pengawas agen Baraque Work (selain Nami) panic sambil bangkit dari bangkunya dan mendekatkan matanya ke layar monitor.
Nami yang sedang berbicara dengan Rayleighpun segera menghampiri Nojiko.
"NANNNI?" Teriak Nami & Rayleigh kaget sembari melihat ke monitor yang menunjukkan lokasi ledakan.
"Gawat! Saat ini Sanji sedang berada di TKP. Dia pasti terkena ledakan itu!" ujar Nojiko panic
"CEPAT AKTIFKAN EARPHONENYA!" Teriak Rayleigh tegas
Nojiko mengangguk, lalu ia kembali ke meja pengawas dan memasang earphonenya.
"SANJI.. SANJI! SANJI-KUN! APA KAU MENDENGAR KU? SANJI? JAWAB AKU!" Teriak Nojiko panic. Tapi tiada balasan, yang terdengar hanya suara gaduh dan berisik.
"AKH~ SUARA ITU TERLALU BISING! AKU TIDAK BISA MENDENGAR APAPUN!" Teriak Nojiko membuka Earphone yang membuat bising telinganya
BRUUKK
Tiba-tiba Nami terduduk, matanya terbelalak, tubuhnya bergetar. Tanpa terasa air mata membasahi pipinya.
"NAMI-CHAN!" Teriak Nojiko khawatir melihat keadaan Nami
"Sa…Sanji…" Desis Nami tidak kuat membayangkan apa yang terjadi pada rekannya itu.
"JANGAN PANIK! SANJI TIDAK AKAN MATI BEGITU SAJA! AYO CEPAT ULANGI HUBUNGI DIA! AKU AKAN SEGERA BERGERAK KE TKP" Teriak Rayleigh sembari menyisipkan pistolnya ke pinggang
"YES SIR!" Teriak Nojiko tegas dan kembali memasang earphonenya.
.
.
SANJI'S POV
"nji… Sanji…"
Suara itu… terdengar jelas di telingaku. Seseorang memanggil-manggil namaku. Akupun membuka mata mencoba melihat sumber suara. Ternyata seorang pria yang aku yakin adalah Dokter Chopper sedang berteriak panic kepadaku sembari menekan-nekan perutku. Apa yang ia lakukan?...
"HAH! SANJI! AKHIRNYA KAU BANGUN JUGA! SYUKURLAH!" Teriak tampak lega
Aku berusaha bangkit dari tidurku, ikut membantuku. Ku tatap sekeliling, bangunan yang barusan ku masuki telah rata dengan tanah. Suasana sekelilingpun terlihat ramai dan sangat berisik. 2 orang polisi tampak memasangkan Police Line di sekeliling rumah itu. Tiba-tiba, aku teringatkan sesuatu.
"Dimana pria berbaju kimono itu?" Tanyaku kepada Dr. Chopper
"Tenang saja. Dia sudah ditangani oleh Dokter-dokter senior dan dilarikan ke Rumah sakit!" Jawab tenang
Aku ikut menghela nafas lega.
"Syukurlah… untung aku masih bisa membawanya keluar! Kalau tidak, saksi kunci dari kasus ini mungkin tidak ada lagi!" Batinku lega
"ZZZT…nji….Sanji…"
Tiba-tiba aku mendengar suara lagi, seseorang sedang memanggilku. Tapi itu bukan suara lagi. Suara itu.. berasal dari…
"Earphoneku!" Kataku baru sadar saat melihat earphoneku yang terjatuh ke rumput. Akupun segera memasang earphone itu.
"YA! AKU DISINI!" Teriakku kepada orang diseberang
"HUA! SANJI.. JADI KAU MASIH HIDUP! SYUKURLAH! NAMI-SAN.. SANJI BAIK-BAIK SAJA!"
"HEI..HEI! TENTU SAJA AKU BAIK-BAIK SAJA,BODOH!" Teriakku kesal kepada orang di seberang yang kuyakin adalah Nojiko
"SANJI-KUN!"
Kali ini suara di seberang berubah, dan aku yakin ini adalah suara Nami.
"Nami-san?"
"BODOH! AKU MENCEMASKANMU BODOH!" Teriak Nami memekakan telingaku. Aku terbelalak shock,
Apa aku tidak salah dengar? Nami-san mencemaskanku?
Tiba-tiba aku tersenyum, di seberang sana terdengar suara isak tangis Nami yang menjadi-jadi.
"Nami-san… aku tidak akan mati sebelum aku membahagiakanmu!" Ucapku mencoba menenangkannya
"KAU BODOH!" Teriak Nami mengataiku dari seberang sana.
Aku hanya tersenyum geli. Tak kusangka, Walaupun selalu galak padaku, ternyata Nami peduli padaku.
"Mellorine~"
.
.
AUTHOR'S POV
BRAAAAKKK
Zoro yang berhasil menangkap penembak berambut afro tadi menahan tubuh pria itu ke tembok.
"AKH~ SAKIITTT~ ADUDUDUDUH!" Teriak pria berambut afro itu kesakitan saat Zoro memilin tangannya ke belakang dan menekannya cukup keras.
"Beritahu aku dimana Nico Robin!" Bisik Zoro ke telinga pria yang dikenal bernama Brook itu
"YOHOHOHO! Tidak akan~" Jawab Brook bersikokoh
"Baiklah… kalau begitu terima ini!"
BUGHHH!
Zoropun menghempaskan kepala Brook ke tembok. Sehingga membuat pria itu tidak sadarkan diri.
"Kalau kau tidak mau mengatakannya! Maka aku akan memaksa kau mengatakannya!" Batin Zoro sembari menggendong tubuh Brook menuju markasnya.
TBC
Aduh-aduh… Ternyata Zoro ama Robin masih lama ya ketemunya. Gw yg buat cerita aja kagak tahu kapan mereka bisa ketemu lagi. Jiahahaha
#PLAK
Don't Forget 4 RnR ^^v
