Yohohoho! Gue kembali lagi dan lagi…
Sebelumnya gue ucapin lagi makasih banyak buat Sugar Princess,Eleamaya-sempai & Moist Fla/Cheeky n' hyuu yang rela mereview Fic jelek gue ini. & Malahan juga bersedia memberi kritik & saran kepada Author amatiran ini. Karena kalianlah, gw jadi semangat ngenext ni FF terus. Hoho
Btw, gue slalu ingetin dan ingetin,
Ini FF sumpah OOC banget! Dan juga Gaje plus Garing bukan main! Banyak kata-kata yang nggak sesuai dengan EYD. Dan akan membuat loe pada yang benci cerita OOC pengen muntah berak bacanya. Mau terus baca, LANJUT AJA.. Tapi kalau nggak suka, ya udah NGGAK USAH BACA!
Oke.. just check it out!
…
Markas Baraque Work
14 Jam sebelum Pengakuan
Merasa tidak sempat membuka ikatan tali yang melilit kaki Robin, Zoropun memutuskan untuk mengangkat wanita bertubuh langsing itu untuk meninggalkan ruangan yang menjadi tempat penyekapannya.
BRAAKKK
Zoro melepaskan single kick ke pintu, sehingga membuat pintu itu roboh dengan mudahnya.
DRAP DRAP DRAP
Zoro mempercepat langkahnya untuk menuju ke ruang penghubung, tapi ia masih harus membuka sebuah pintu lagi. Walau dadanya terasa was-was, Zoropun membuka pintu itu pelan dan mengintip keadaan di luar alih-alih para bodyguard tadi sudah sampai duluan & menunggu untuk menghabisi nyawanya di sana.
"Bagaimana?" Tanya Robin melihat Zoro yang masih focus mengintip keluar
"Hm.. Teman-temanku sudah membarokade pintu itu!" Kata Zoro lega melihat pintu besar yang menjadi satu-satunya pintu masuk ke ruang penghubung itu sudah dibarokade dengan setumpuk benda-benda berat seperti lemari, sofa, dan lainnya.
HUP
Zoropun menurunkan tubuh Robin, merasa pintu itu belum akan terbuka karena barokade sementara Usopp & Luffy, Zoropun membantu Robin membuka ikatan kaki dan tangannya dengan kunci automatic (Kunci yang bisa membuka apa saja alias kunci maling).
PREEKK
Borgol di tangan Robin berhasil terbuka,
"AYO!" Kata Zoro langsung menarik Robin ke pintu ke-3.
BUGH BUGH BUGH
Terdengar orang-orang dibalik pintu yang dibarokade itu berusaha membuka pintu dengan menendangnya bersama-sama. Sampai saat itu,
BRAAAAKKKK
Pintu besar yang menjadi satu-satunya jalan menuju ruang penghubung itupun ambruk. Ketua Bodyguard yang berbadan besar dari yang lainnya berdiri paling depan, mengamati pintu ke-3 yang baru saja tertutup, iapun langsung berlari ke pintu itu. Para anak buahpun mengikuti ketuanya. Dan merekapun mengejar Zoro & Robin sekuat tenaga.
DRAP DRAP DRAP
"AKH!" Teriak Robin saat tersandung dan hendak jatuh dari tangga. Tapi Zoro memegangi pinggang Robin, sehingga membuatnya tertahan.
"Bertahanlah!" Kata Zoro menyemangati Robin
Robin menghela nafas, lalu mengangguk. Dan merekapun kembali berlari.
"WOI! BERHENTI!" Teriak ketua Bodyguard yang sudah melihat punggung Robin & Zoro. Robin hendak menoleh ke belakang, tapi Zoro melarangnya.
"Jangan menoleh ke belakang! Tetap Lari!" Ujar Zoro sembari mempercepat langkahnya dan menarik Robin bersamanya. Robin menatap Zoro di sela-sela larinya, melihat wajah penuh semangat pria itu, tanpa sadar Robin tersenyum.
"Terimakasih…" Batinnya
Di sela-sela lari, Zoro mengaktifkan earphonenya yang langsung terhubung ke markas,
"Nojiko! Sekarang saatnya! Kirim Pasukan ke dalam stadion! Aku sudah berhasil mendapatkan Nico Robin! Tapi Luffy & Usopp tidak bersama kami, mereka sudah duluan di depan!"
"BENARKAH? BA..BAIKLAH! SEGERA KULAKUKAN! TAPI DIMANA KAU SAAT INI?"
"Aku berada di dalam terowongan panjang yang terlihat menuju ke dalam stadion. Tapi sialnya, para bodyguard CPBuster ikut dibelakangku untuk membunuhku!" Ujar Zoro sembari menoleh ke belakang. Dan tampaklah para bodyguard-bodyguard tadi tidak pantang menyerah mengejarnya.
"BAIKLAH! KALAU BEGITU BERHATI-HATILAH!" Teriak Nojiko sedikit panic dan segera memutuskan hubungan earphonenya.
Nami, Sanji & Rayleigh yang melihat kepanikan Nojiko segera menghampirinya,
"ADA APA?" Kata Nami ikut panic
"Zoro sudah berhasil mendapatkan Nico Robin! Tapi dia dalam bahaya! Kita harus segera menolongnya!" Ujar Nojiko
Rayleigh membelalakkan matanya, lalu segera saja ia memberikan arahan.
"SANJI, NAMI.. SEKARANG JUGA PERGI KE STADION! NOJIKO.. HUBUNGI PASUKAN DAN KIRIM KE STADION!"
"YES SIR!" ujar Nojiko, Nami & Sanji segera memencar melakukan tugas masing-masing. Begitupun Rayleigh, ia segera duduk di depan monitor pengawas dan mengaktifkan earphonenya untuk menghubungi Markas Pusat. Sedangkan Nojiko segera menghubungi pasukan dan mengarahkan mereka ke TKP.
.
.
Zoro & Robin terus berlari menyusuri tangga yang sangat panjang dan lumayan gelap. Cukup lama mereka berlari dari kejaran musuh, bahkan hampir ditembaki dengan senjata, tapi untung saja dengan kecakapan Zoro, mereka dapat menghindar dengan mudah. Bahkan Zoro memberikan serangan balasan tanpa berhenti berlari menjauhi mereka. Karena bagaimanapun juga, sehebat apapun orang itu, ia tidak akan bisa mengalahkan para Bodyguard yang berjumlah ratusan itu.
Zoro terus berlari sekuat tenaga, tangannya terus menggenggam tangan Robin. Seolah mengatakan bahwa ia tidak ingin kehilangan Robin untuk yang ke-2 kalinya. Zoro memfokuskan pandangan ke depan, namun Ujung lorong masih belum terlihat. Untuknya berlari sejauh ini bukan masalah, tapi untuk Robin, ini pasti sangat berat. Karena ia adalah seorang wanita, bahkan wanita yang baru saja disekap, pasti kakinya masih terasa keram karena diikat cukup lama. Iapun menoleh pada Robin untuk memastikan keadaan gadis itu. Robin terlihat sangat letih. Nafasnya tidak teratur, dan tubuhnya sudah dibanjiri keringat. Menyadari Zoro sedang menatapnya, Robin balas menatap Zoro disela-sela larinya.
"Apa aku terlihat harus dikasihani?" Tanyanya ngos-ngosan
Zoro mengerutkan dahinya,
"Kenapa dia berkata seolah mengerti dengan apa yang sedang kupikirankan?" Batin Zoro heran.
Tidak sanggup menatap bola mata Robin nan indah, Zoropun membuang muka dan kembali focus ke depan. Robin yang melihat sikap aneh Zoro hanya tersenyum geli, lalu ikut kembali focus ke depan.
Sampai saat itu, sebuah senyuman mengambang di wajah ke-2nya, saat mereka melihat ujung lorong.
"YEAH! ITU DIA! KITA BISA KELUAR!" Teriak Zoro bersemangat dan makin mempercepat langkahnya menarik Robin. Robin hanya tersenyum, lalu mengimbangi langkahnya dengan Zoro.
"ITU MEREKA! AYO CEPAT!" Teriak para bodyguard itu makin mempercepat langkah mengejar Zoro & Robin.
.
.
CIIIITTTTT
Sanji mengerem mobilnya tepat di depan pintu gerbang stadion. Sedangkan Nami langsung meloncat ke luar seiring dengan mobil yang sudah berhenti. Franky yang melihat ke-2 rekannya itu, spontan menghampiri mereka.
"Nojiko telah memberitahuku kejadiannya! Lalu.. Apa kita harus memulainya dengan cara kasar?" Tanya Franky sedikit ngos-ngosan kepada Sanji yang baru keluar dari mobilnya.
"Tidak! Kita tidak boleh tergesa-gesa. Lakukan dengan tenang, jangan sampai ada yang curiga. Karena Zoro masih di dalam, bisa jadi kalau salah satu dari anggota CPBuster itu tahu keberadaan kita, mereka akan menunggu Zoro di depan dan menghabisinya. Makanya kita harus memantau dari jauh dan memastikan siapa sebenarnya musuh kita terlebih dahulu! Setelah itu baru lakukan penyergapan!" Terang Sanji sembari berlari ke dalam stadion. Nami ikut berlari di sampingnya mendengar arahan.
"Baiklah! Aku mengerti! Tapi bagaimana kalau para pasukan yang dikirim Nojiko datang dan membuat kericuhan sebelum Zoro berhasil lolos? Di stadion ini kan masih banyak orang-orang yang berkeliaran! Bisa-bisa nanti mereka terkena peluru nyasar!"
"Tenang saja! Si Marimo itu sudah mengatur timing yang pas! Jadi kau tidak perlu khawatir! Saat ini yang harus kita lakukan adalah membubarkan orang-orang yang ada distadion ini dengan hati-hati! Jangan sampai mencurigakan! Karena kalau anggota CPBuster itu tahu tindakan kita, maka tamatlah riwayat orang-orang yang berada di sini!" Ujar Sanji serius
Franky menelan ludah, Nami hanya tersenyum, lalu merekapun makin mempercepat langkah ke dalam stadion.
.
.
"Luffy… kenapa Zoro keluarnya lama sekali ya?" Tanya Usopp khawatir sembari melihat pintu keluar dari markas CPBuster yang mereka lalui tadi. Sebenarnya pintu itu tidaklah tampak layaknya sebuah pintu, karena bentuknya menyerupai sekotak lantai biasa yang terbentang di sekeliling pinggir lapangan. Namun, tidak dapat disangka, dari sekian petak lantai itu, terselip sekotak lantai yang bisa turun seperti tangga ke bawah tanah. Tampaknya lantai yang notabenenya adalah pintu penghubung itu sengaja dibuat oleh CPBuster untuk misi kali ini. Tadinya, pintu lantai itu akan digunakan Robin sebagai jalan menuju persidangan yang akan berlangsung di tengah lapangan. Setelah keluar dari pintu lantai itu, Robin akan membawa bom itu ke ayahnya dan langsung meledakkannya di tempat. Walaupun itu harus melawan barokade yang sangat ketat. Tapi dengan timing dan perencanaan yang matang dari CPBuster, usaha itu sudah dijamin seratus persen akan berhasil.
"Entahlah! Mungkin mereka…."
"Luffy..?"
Tiba-tiba ucapan Luffy terputus saat sebuah suara memanggil namanya. Sontak Luffy & Usopp menoleh ke sumber suara.
"Sanji? Nami?" Ucap Luffy & Usopp membelalakkan mata melihat ke-2 rekan mereka sedang berdiri di depan pintu menuju tribun penonton, tempat dimana saat ini mereka sedang duduk memantau keadaan di tengah lapangan.
"Dimana pintu menuju ke Markas CPBuster itu?" Tanya Nami sembari mengisi amunisi di pistolnya.
"Itu!" Kata Usopp sembari menunjuk sekotak lantai di pinggir lapangan.
Sanji & Nami terbelalak,
"Maksudmu lantai itu?" Ulang Nami heran
Usopp mengangguk,
"Ya, lantai itu akan turun menjadi tangga jika kita memencet sebuah tombol di dari dalam. Itulah pintu keluar dari markas CPBuster! Kami tadi juga keluar dari sana!" Terang Usopp
"Lalu dari mana kalian tahu bahwa untuk keluar harus memencet tombol?" Tanya Sanji heran
"Tadi ada 2 orang dari mereka keluar lewat pintu itu, jadi kami membuntuti mereka!" Jawab Luffy
"Tapi.. apa kalian sudah memberitahu Zoro cara membuka pintu itu?"
"Tentu saja! Kami sudah meninggalkan sebuah catatan disana!" Jawab Usopp bangga
"Hmm..Baiklah.. Lalu apa kalian tahu dimana posisi ketua CPBuster itu saat ini?" Tanya Sanji mengalihkan pembicaraan
Luffy menelan ludah, lalu segera saja menunjuk ke tribun di seberang mereka. Tampaklah, dibelakang para remaja yang sedang berfoto-foto ria, duduk 5 orang sekelompotan berpakaian hitam panjang sedang terdiam satu sama lain.
"Apa yang mereka lakukan?" Tanya Nami heran sembari menatap ke-5 sekelompotan itu seksama
"Itulah yang kami herankan, dari tadi kami perhatikan, mereka terus duduk berdiam diri disitu! Sungguh aneh!" Keluh Usopp
"Ya… mereka hanya diam! Tapi..Mereka… seperti sedang menunggu seseorang! Tapi siapa?.." Ucap Franky yang muncul tiba-tiba di belakang Nami dengan teropong di depan matanya yang mengarah ke seberang.
"Memangnya mereka melihat kearah mana?" Celetuk Sanji
"Mmmm… lantai itu!" Jawab Franky sembari menunjuk lantai yang terbentang di seberang, tepatnya di dekat tribun ke-5 sekelompotan tadi.
"APAAAAAAAAA?" Teriak Usopp, Nami, Sanji & Luffy serentak kaget
"Memangnya kenapa?" Tanya Franky blo'on karena tidak tahu kebenaran di balik got itu.
"Eh..eh,,eh.. Mereka berdiri! Mau kemana mereka?" Ujar Usopp tidak mengacuhkan Franky saat melihat sekelompotan orang mencurigakan tadi mulai bangkit dari tribun dan berlalu ke lapangan.
"Jangan-jangan…. Dari tadi mereka menunggu kemunculan Zoro dari lantai itu!" Ujar Sanji mengambil kesimpulan.
"A…APAAAAAA?" Teriak semuanya kecuali Sanji.
"Marimo bilang dia dalam bahaya,bukan?. Itu berarti keberadaannya telah diketahui. Bisa jadi, jika Marimo berhasil kabur dari dalam, maka ia tidak akan bisa lolos di luar. Intinya… mereka mengepung Marimo itu..!" Kata Sanji shock, sampai-sampai rokok yang dimulutnya terjatuh ke lantai.
"LA..LALU APA YANG HARUS KITA LAKUKAN?" Teriak Nami cemas
"Franky, Usopp & Nami… kalian segera bubarkan orang-orang di stadion ini! Luffy.. kau ikut denganku!" Ujar Sanji sigat
"YOSH!" Teriak semuanya langsung berpencar.
.
.
TAP
Zoro & Robin menghentikan langkah mereka saat telah sampai di ujung lorong.
"Mana pintunya?" Ujar Zoro memandang sekeliling.
Robin melihat sebuah kertas di lantai, lalu ia memungutnya,
"Sepertinya ini pesan dari temanmu!" Kata Robin sembari memberikan kertas itu pada Zoro. Zoropun menerimanya,
"Hm.. jadi pencet tombol ya.. baiklah…" Gumam Zoro sembari membaca kertas itu dan beralih melihat ke dinding sebelah kanannya, dan benar saja, disana terdapat sebuah tombol mini yang Usopp katakan dapat membuka pintu keluar dari lorong ini.
"Jadi ini tombolnya!" ujar Zoro sembari menekan tombol itu.
NGIIIIIIIIIIKKKKKKKKK
Tiba-tiba saja, setelah tombol itu dibuka, dinding yang berdiri tegak di depan Zoro merebah membentuk sebuah tangga dan membukakan sebuah pintu di atapnya, sehingga cahaya yang ada di luar dapat masuk menerangi terowongan yang cukup gelap itu.
"AYO!" Teriak Zoro sembari menarik tangan Robin untuk menaiki tangga terakhir itu. Tapi, Robin menahan dirinya.
"Tunggu… Mana para bodyguard itu?" Tanya Robin sembari menoleh ke belakang
"Sudahlah! Itu tidak penting! Ayo cepat!" Kata Zoro langsung menarik Robin dengan sekuat tenaga.
DRAP DRAP DRAP
DOOOOOOOOOONGGGGGGG
Zoro dan Robin telah berhasil keluar dari lorong itu, bahkan mereka saat ini sedang berdiri di tengah lapangan. Namun sialnya, 5 orang sekelompotan berbaju hitam panjang yang disinyalir adalah anggota CBuster itu berdiri kokoh mengepung mereka berdua.
"Kalian…" Ujar Zoro geram melihat ke-5 orang itu sembari membentengi Robin di belakangnya
"Nico Robin… Kau bilang kau bukanlah orang yang ingkar janji,bukan?" Ucap seorang dari mereka yang bertubuh paling tonjang dan besar tidak mengacuhkan Zoro
Robin terlonjak kaget, ia mengangkat kepalanya dan menatap geram kepada pria yang barusan bicara.
"Chrocodile…KAU MENJEBAKKU! IBUKU MATI BUKAN KARENA AYAHKU, TAPI KARNA KAU! KAU MEMBUNUH IBUKU!" Bentak Robin menunjuk Chrocodile.
"HAHAHAHA! Ternyata kau sudah tahu kebenarannya ya? Baiklah, kau benar! Akulah yang membunuh ibumu! Aku juga yang menjebak ayahmu! Tapi itu adalah bayaran yang setimpal untuk penghianatan ayahmu!" Kata pria bernama Chrocodile itu tertawa licik
Robin hanya diam menatapnya geram, sedangkan Zoro berusaha membentengi Robin dengan Chrocodile, alih-alih jika Chrocodile ingin menyerang Robin, maka ia akan melindunginya.
"Bos! Mereka mengosongkan stadion ini!" Kata seorang gadis berkacamata dan berambut kuning saat melihat suasana stadion yang tadinya ramai kini tidak berpenghuni kecuali mereka ber-7.
"Ya.. aku tahu,nona Califa!" Jawab Chrocodile santai
Zoro menatap gadis disamping Chrocodile itu seksama, lalu terlintas dipikirannya kejadian malam itu, malam disaat ia membawa Robin ke rumahnya. Seorang gadis berambut kuning yang sangat mirip dengan gadis didepannya saat ini menelponnya untuk mengalihkan perhatiannya. Beriringan dengan itu, Robinpun menghilang tanpa jejak.
"KAU!" Ujar Zoro menunjuk gadis bernama Califa itu
Califa tersenyum licik,
"Jadi kau masih ingat padaku ya?" Kata Califa dengan nada senteng
"Kau adalah wanita yang waktu itu menelponku dan membawa kabur Robin,kan!" Ujar Zoro menunjuk Califa
"Fufufu… kurang tepat! Aku hanya menelponmu, sedangkan yang menculiknya, adalah Lucci!" Kata Califa sembari menunjuk pria yang berdiri di sampingnya. Zoro menatap Lucci seksama. Mata merekapun bertemu, dan saling melempar death glare satu sama lain.
"Bos! Pati mereka yang mencuri Handphoneku!" Timbrung Perona kesal
"Sudahlah Perona-san!" Ujar Camie meredakan amarah Perona agar gadis itu tidak mengaruhkan suasana. Chrocodile hanya tersenyum licik,
CTEKK
Tiba-tiba Camie yang berdiri di belakang Robin mengarahkan ujung pistolnya ke kepala Robin.
"Selamat tinggal gadis iblis!" Ucap Camie santai sembari melambaikan tangannya ke kepala Robin. Robin terbelalak kaget, sedangkan Zoro menoleh ke belakang dan berbalik,
"TIDAAAAK!" Teriak Zoro saat melihat Camie bersiap memencet picu pistol itu. Robin hanya menutup matanya serapat mungkin, kini ia hanya dapat mendengar suara teriakan Zoro. Sampai saat itu….
DORRRRRRR
Mata Zoro terbelalak kaget, Peluh dingin membasahi tubuhnya.
BRUUKKK
Sebuah tubuh terhempas ke tanah. Bukan tubuh Robin, melainkan tubuh Camie sendiri.
"CAMIE!" Teriak Perona histeris melihat rekannya itu ambruk ditanah dengan pandangan kosong dan lubang di dahinya. Robin yang tidak merasakan kesakitan sedikitpun membuka matanya pelan. Melihat tubuh Camie yang bersimbah darah, ia membelalakkan matanya.
"SIAPA?" Teriak Chrocodile sedikit panic sembari berbalik menatap ke semua penjuru. Begitupun Califa & Lucci.
"ITU!" Teriak Califa sembari menunjuk Luffy & Sanji yang berlari ke arah mereka sembari menodongkan senjata.
"Teman-teman…" Batin Zoro tidak percaya melihat Sanji & Luffy yang kini sedang melawan Califa & Lucci.
GREB
Tiba-tiba Zoro menggenggam tangan Robin, Robin menatap Zoro, tanpa blablabla iapun berlari membawa Robin meninggalkan Chrocodile yang sibuk membantu Lucci melawan Luffy.
"TUNGGU!" Teriak Chrocodile menyadari Robin & Zoro berhasil kabur sembari mengejar mereka dan tak lupa menodongkan senjata ke arah ke-2nya.
DRAP DRAP DRAP
"KITA HARUS BERLARI ZIG ZAG!" Teriak Zoro disela-sela larinya saat menyadari Chrocodile bersiap menembaki mereka.
Robin mengangguk, lalu merekapun berpencar dan berlari zig-zag. Sehingga setiap timah panas yang ditembaki Chrocodile tidak mengenai mereka sedikitpun.
"Sial!" Geram Chrocodile masih menembaki & Mengejar mereka.
TBC
Yahahaha.. Part ini sangat panjang dan penuh dengan aksi Gaje. Semoga Minna-san bisa mengerti dengan penulisan saya yang hancur ini. Hahay
Btw, silahkan tinggalkan REVIEW anda disini…
^^v
Sesi Balas Review…..
Su-chan Jiah.. rasanya malah Fic-ku yg banyak typonya Su-chan. Mana ancur lagi, Ceritanya asal ngeyel aja. wkwk.. Tapi Makasih ya, masih mau terus mereview fic abal ku ini!.. hoho.. hmm.. Tentang Romance, kurasa akan muncul Full dichapter berikutnya. Ku prediksi, 1 chapter lagi, Fic ini akan tamat. Hahay
#Akhirnya
*Warning : Ada unsur Hentainya di Chapter mendatang* Jiakakaka
Moistfla Jiahahaha… Makasih Moist-san *Bingung mau manggil apa* atas dukunganmu! Nggak pa-pa kok nasehatnya, aku malah suka dikomentarin. Mau Positif kek, negative kek, yg penting dengan komentar-komentar itu aku jadi tahu dimana kekuaranganku. Hahaha *Emang banyak sih kekurangannya, wkwk*
Ya, aku suka bgt ngayal, jadi banyak ide yang muncul, makanya kutuangkan ked lm bentuk Fic biar nggak mubajir. Jiahahaha. Walaupun ide itu Gaje dan bahkan ancur, tapi tanganku gatal pengen buat cerita. Hoho. Makasih banyak ya… *Kok jadi curhat?* XD
