Yeah.. akhirnya selesai juga Chapter terakhir ini.
Semoga bisa memuaskan deh chapter ini. Hoho
Warning : ada Lemon, OOC, Gaje, ancur & sejenisnya
Desclaimer : Oda-sensei (dooooonggg)
.
.
Just check it out….
HAUNTED : THE GRATIFY NIGHT
Chrocodile terus menyerang Zoro & Robin dengan timah panas di pistolnya. Tapi tetap tiada satupun peluru yang mampu menembus ke tubuh mereka. Sedangkan Luffy, Ia terus berbaku hantam dengan Lucci. Tiada satupun yang mau mengalah. Sampai saat itu,
BUGHH
Tiba-tiba Luffy yang lengah terkena tendangan keras di perutnya.
BRUUKKK
Luffypun terpelanting ke rumput lapangan dengan darah keluar dari mulut. Lucci tersenyum licik. Ia menghampiri Luffy yang akan bangkit sembari mengeluarkan sebuah pistol dari celananya, dan..
KREEKK
Ia memompa pelatuk pistol itu dan langsung mengarahkan moncongnya ke depan dahi Luffy. Luffy terdiam, ia yang tadinya akan bangkit, mengurungkan niat dan tetap di posisi semula. Jarak pistol yang hanya beberapa inchi dari dahinya, membuatnya yakin bahwa ia tidak akan dapat mengelak lagi. Lucci bersiap menekan picu pistol tersebut.
Tak sanggup melakukan apa-apa, Luffypun menutup matanya.
"Teman-teman.. aku akan mati!"
BUZZZHH
Tiba-tiba sebuah peluru berbentuk suntik bius menembus leher Lucci. Luffy yang tidak mendengar bunyi tembakan membuka sebelah matanya. Spontan matanya terbelalak melihat tubuh Lucci yang terkapar di depannya.
"Hah? Kok bisa?" Tanya Luffy heran sambil celingukan ke segala arah. Dan tampak Usopp mengacungkan jempolnya ke arah Luffy dari tribun penonton.
"UWAA! USOOOPP! KAU MEMANG SNIPER TERBAIK!" Teriak Luffy kegirangan sembari melambai-lambai dan meloncat-loncat ke arah Usopp.
Di lain sisi, tampaklah Sanji telah babak belur di hajar Califa. Darah segar mengalir dari pelipisnya, dan ia terbaring di atas rerumputan. Califa tersenyum puas, ia memperbaiki letak kacamatanya, lalu menghampiri Sanji pelan.
BUGHH
"ARGGHH!" Erang Sanji saat Califa menginjak perutnya.
"Dasar bodoh! Kenapa kau tidak membalas seranganku,hah?" Bentak Califa sembari menekan perut Sanji dengan kakinya.
"ARGGH!" Teriak Sanji kesakitan, sehingga rokok yang dimulutnya terlempar ke rumput.
"Kau pikir aku lemah ya? Kau sungguh telah merendahkanku,tahu!" Bentak Califa lagi
Sanji tersenyum sinis,
"Wa..lau.. harus mati… agh… aku…tidak akan..memukul wanita…" Ucap Sanji kesakitan
Califa membelalakkan matanya. Ia menatap wajah Sanji yang terlihat melawan kesakitan, lalu ia menekurkan kepalanya.
"Baiklah.. kalau begitu.. KAU MATI SAJA!" Teriak Califa sembari menodongkan sebuah pistol ke dada Sanji. Ia memompa pelatuknya, dan bersiap menekan picu, Sanji hanya tersenyum dengan pandangan intens,
"Nami… aku mencintaimu" Batinnya sembari menutup mata
PRAKKK
Tiba-tiba sebuah tendangan menjatuhkan pistol Califa. Califa yang kaget menoleh ke sumber tendangan, dan…
CTEKK
Tampak Nami berdiri kokoh di sampingnya sembari menodongkan moncong pistol yang sudah dipompa ke kepalanya. Califa terbelalak kaget, sedangkan Nami menatapnya tajam.
"Jangan berani menyentuh laki-lakiku!" Ucap Nami dingin ke Califa. Califa menelan ludah, lalu menyingkirkan kakinya dari perut Sanji sembari mengangkat ke-2 tangannya yang menandakan kalau ia menyerah.
"Franky…" Ujar Nami kepada Franky yang berdiri di belakangnya masih menodongkan pistol ke kepala Califa. Seolah mengerti dengan panggilan Nami, Frankypun langsung mengambil alih Califa dengan memborgol tangannya.
"arghhh.." Erang Califa saat Franky memborgol tangannya kasar
"SANJI-KUN!" Teriak Nami khawatir sembari menghampiri Sanji yang masih terkapar di tanah.
Mendengar suara Nami, Sanji membuka matanya pelan, samar-samar, ia dapat melihat Nami yang sedang menatapnya dengan pandangan cemas.
"Nami…" Desis Sanji
Melihat keadaan Sanji masih baik-baik saja, Nami tersenyum haru, lalu ia memegang tangan Sanji sekuatnya. Sanji tersenyum, ia menatap Nami yang mengkhawatirkan dirinya dengan pandangan intens. Lalu tiba-tiba saja ia menggapai leher Nami dan mencium bibir gadis itu lembut. Nami yang kaget membelalakkan matanya, namun, beberapa detik kemudian, iapun membalas ciuman Sanji. Dan sejadilah mereka berpassionate Kiss ria di tengah-tengah lapangan. Franky yang melihat adegan itu menangis terharu sembari menggigit bajunya. Califa yang muak melihat ekspresi Franky menendang kakinya.
"HEI!" Teriak Franky marah
"Untuk apa kau menangis,bodoh?" Ucap Califa dingin
"Itu adalah adegan yang sangat mengharukan tahu! Hiks.." jawab Franky sembari menyapu air mata dan ingusnya dengan baju. Califa hanya tersenyum sinis, lalu memutar bola matanya 180 derajat.
.
.
DOR DOR DOR
Suara tembakan dari Chrocodile terus terdengar memekakan telinga. Ia tiada henti menembaki Robin & Zoro secara buas. Sampai saat itu, tiba-tiba Robin terjatuh dan terhempas ke tanah,
"ROBIN!" Teriak Zoro sembari menghampiri Robin cukup jauh darinya
Chrocodile tersenyum licik, segera ia berlari kencang ke tempat Robin terjatuh dan menodongkan senjatanya ke kepala Robin yang hendak bangkit, tapi tiba-tiba Zoro datang dan segera menendang Chrocodile dari belakang. Sehingga tanpa sadar pistol itu terlepas dari tangannya dan terlempar ke Robin. Sigat Robin mengambil pistol itu dan balik menodongkannya ke kepala Chrocodile.
"Tu..tunggu…aku…aku.."
"DIAM!" Teriak Robin memotong ucapan Chrocodile yang ketakutan
BRAAAAAAKKKK
Tiba-tiba terdengar bunyi gerbang stadion yang dibuka paksa. Dan dari gerbang itu masuk puluhan bahkan ratusan pasukan tentara bersenjata ke dalam lapangan. Chrocodile terbelalak shock, sedangkan Zoro & Robin tersenyum puas. Tentara-tentara itu membuat barisan secara teratur sembari mengarahkan senjata mereka ke tengah lapangan. Usopp & Luffy yang melihatnya terkagum-kagum dan bling-bling. Sedangkan Nami & Sanji menghentikan ciuman mereka *Lama juga ya?*.
Dari barisan tentara tersebut, muncullah Rayleigh, Nojiko & seorang komandan bertubuh besar bernama Sengoku menghampiri Zoro & Robin.
"Rayleigh!" Kata Zoro tertawa lebar
Rayleigh hanya tersenyum simpul.
"Good job!" Ujar Rayleigh sembari menepuk bahu Zoro.
"Oh.. jadi dalang dibalik semua ini benar-benar kau ya Chrocodile!" Celetuk Sengoku kepada Chrocodile yang masih terpaku di depan moncong pistol yang ditodongkan Robin.
"Sial!" Gumam Chrocodile menatap Sengoku geram
Robin menurunkan pistol ditangannya, lalu memberikannya pada Nojiko yang sedang berdiri disampingnya.
"ROBIN!" Teriak Zoro langsung memeluk Robin
Robin membelalakan matanya,
"Untung kau selamat!" ucap Zoro makin mempererat pelukannya
Robin tersenyum, lalu iapun balas memeluk tubuh kekar Zoro.
"Terimakasih…" Ucap Robin membenamkan kepalanya ke dada Zoro.
Rayleigh & Nojiko yang melihatnya hanya tertawa lebar. Sedangkan Sengoku langsung memerintahkan pasukan untuk menangkap para teroris CPBuster itu.
Luffy, Sanji, Nami, Usopp & Franky menghampiri Zoro & Robin, menyadari teman-temannya telah berkumpul menyaksikannya, Zoro melepas pelukannya, dan menatap wajah teman-temannya yang setengah babak belur,
"Kita berhasil!" Ucap Zoro tersenyum lebar
"YOSH!" Teriak semuanya senang
.
.
Keesokan harinya, walaupun para pasukan telah mengetahui identitas CPBuster, acara Pengakuan Aokiji tetap dijalankan,. Karena hal ini dilakukan agar pemerintahan dan semua orang tahu kebusukan dari seorang Chrocodile. Setelah Chrocodile dan anggota lainnya tertangkap, markas CPBusterpun dihancurkan, dan para pengikut Chrocodilepun ditangkap bersamaan.
Robin dibebaskan dari hukuman apapun walau ia sempat berniat bekerja sama dengan Chrocodile, karena Jimbei telah menjelaskan bahwa Robin hanyalah korban. Brook dipenjara selama 2 tahun, sedangkan Chrocodile diberi hukuman penjara seumur hidup. Aokiji dibebaskan dari penjara, karena ia terbukti tidak bersalah. Dan iapun kembali berkumpul dengan Robin. Sementara itu, Para agen Baraque Work membuat sebuah pesta perayaan telah berhasilnya misi mereka di rumah Zoro. Tak lupa, Robin ikut diundang ke pesta itu.
Tampak Sanji & Nami duduk berdua di sofa sembari meneguk wine mereka, sedangkan Usopp & Luffy sibuk berlomba-lomba menghambiskan hidangan di meja makan. Rayleigh & Nojiko yang menyaksikan kekonyolan Usopp & Luffy tertawa terbahak-bahak. Sementara yang lainnya berkumpul di ruang tengah, Zoro & Robin lebih memilih duduk mengobrol di balkon kamar Zoro.
"Jadi kau adalah bocah yang waktu itu kehilangan ayah?" Ucap Robin sedikit tertawa geli mengingat kali pertama ia bertemu dengan Zoro dulu.
Zoro meneguk birnya, lalu mengangguk dengan wajah sedikit memerah.
"Ya..begitulah!" Jawab Zoro seadanya
"Fufufu.. sungguh menggelikan mengingat kejadian itu! Tapi tidak kusangka kau masih mengingatku!" Ucap Robin sembari menatap pemandangan di depannya dengan pandangan berseri-seri. Zoro menoleh menatap Robin yang duduk disampingnya, melihat wajah cerah gadis itu, Zoro ikut tersenyum.
Merasa suasana menjadi diam canggung, Robin menoleh menatap Zoro yang duduk disampingnya, sehingga mata merekapun bertemu cukup dalam. Sangat dalam hingga menghabiskan beberapa menit di keheningan malam itu. Zoro mengulurkan tangannya ke wajah Robin, lalu mendekatkan wajahnya sedikit demi sedikit, sampai saat itu bibirnyapun sudah mendarat di bibir Robin yang lembut. Ke-2nya terhanyut dalam sebuah ciuman yang hangat dan dalam. Zoro melumat habis bibir Robin, sampai-sampai tubuh Robin condong kebelakang menahan ciuman panas dari Zoro. Zoro menggigit bibir bawah Robin meminta izin untuk mengeksplorasi seluruh rongga mulutnya, Robinpun membuka mulutnya dan Zoro memasukkan lidahnya, merekapun saling menghisap satu sama lain. Tangan Zoro mulai berangsur pada leher Robin, hal itu membuat Robin menjadi sedikit bergairah. Lalu Tangan Zoro berangsur ke pinggang Robin, dan menyusup ke dalam kaosnya. Zoro mengelus punggung Robin yang mulus sembari menciuminya dengan gairah.
"ng…Zoro…." Desis Robin disela-sela ciumannya
"Apa…ng…" jawab Zoro masih menciumi Robin dengan buas
Robin mengulurkan tangannya, dan mendorong tubuh Zoro sehingga ciuman mereka terlepas. Zoro membersihkan air liur yang membasahi dagunya, lalu menatap Robin yang sedang mengambil nafas di depannya dengan heran.
"Kenapa Robin?" Tanya Zoro kecewa
"Kau mau orang-orang melihat kita begini?" Tanya Robin sembari melirik ke bawah.
Mendengar kalimat itu yang menandakan bahwa Robin ingin melanjutkan aksi ini di tempat lain, Zoro tersenyum,
"Memangnya kenapa? Kau malu ya?" Goda Zoro sembari menjilat kuping Robin
Robin menahan dada bidang Zoro agar pria itu sedikit menjauh,
"Dengar, semua orang dapat melihat kita dari bawah sana! Ayolah…" Ucap Robin tenang menatap wajah Zoro yang siap memangsanya lagi.
Zoro menghela nafas. Ia bangkit dari duduk sembari mengangkat tubuh langsing Robin ke dalam kamar.
"Apa yang kau lakukan?" Kata Robin kaget mendapati tubuhnya yang digendong Zoro ke dalam kamar. Zoro tersenyum, lalu tanpa blablabla ia kembali mencium bibir Robin sembari berjalan ke atas tempat tidur. Robinpun membalas ciuman Zoro sembari mengacak-acak rambut pria itu.
Sesampainya dikamar, Zoro meletakkan tubuh Robin keatas kasur, lalu ia mulai merangkak naik ke tempat tidur dan mencoba mendekati Robin.
"Kau benar-benar ingin melakukannya?" Tanya Robin tersenyum melihat Zoro
"Kau tidak keberatan, bukan?" desis Zoro sembari membelai rambut raven Robin
"Tentu saja!" Jawab Robin memberikan izin.
Zoro tersenyum nakal, lalu ia menarik tangan Robin dan menciuminya dengan nafsu. Ia menyibak rambut raven Robin dan mulai menciumi lehernya yang jenjang. Ya.. ini bukanlah kali pertama Zoro melakukannya, tapi bagi Robin, inilah yang pertama kalinya.
"ah~..Zoro…"
Mendengar desahan Robin, Zoro bangkit dan membuka kemeja yang dipakainya, memamerkan badan dan abs nya yang menggoda.
"Uuh… abs yang sempurna~" Robin tersenyum nakal.
Zoro menyibakkan kaos yang dikenakan Robin dan malahan berhasil menaikkan bra yang Robin kenakan ke atas tanpa membuka pengait belakangnya. Sama seperti tubuh Zoro, tubuh Robin juga memiliki warna yang gelap, yang membuatnya terlihat semakin seksi.
Seperti bayi yang kelaparan, Zoro langsung menyerbu dada Robin dengan menghisap, meremas atau bahkan memelintir Nipplenya.
"ah..~" Robin mengangkat kepalanya karena menikmati perbuatan Zoro. Zoro terus merosot ke bawah sampai akhirnya dia berada tepat di depan miss.V Robin.
Zoro mencium miss.V Robin yang masih terbungkus dengan hot memutuskan untuk bermain-main sebentar. Ia mengelus-ngelus miss.V Robin tanpa melepas hotpantsnya. Pelan-pelan ia melepas kancing Hotpants itu dan menanggalkannya melewati kaki Robin yang jenjang.
"Kau sudah basah Robin.." Desis Zoro melihat cairan yang membasahi CD Robin
"ehmm..ahh,,," Robin tidak bisa menjawab, yang keluar dari mulutnya hanya suara desahan. Zoro tersenyum, pelan-pelan ia melepas ikatan CD Robin, dan terpampanglah miss.V Robin yang mulus dan menggoda.
Zoro mencium miss.V Robin yang membuat tubuh gadis itu bergetar.
"Kau suka?" Desis Zoro tersenyum nakal. Tapi Robin hanya terus mendesah.
Zoro menyibakkan bibir Miss.V Robin dan dimasukkannya lidahnya secara pelan.
"AHH~" Robin sedikit berteriak.
Lidah Zoro masuk-keluar miss.V Robin dengan cepat membuat Robin bergelinjang.
Setelah lumayan lama akhirnya Zoro memasukkan jari tengahnya ke dalam lubang miss.V Robin.
"ah..ah.." Desis Robin dengan wajah merah merona
Zoro melihat Robin sebentar, tampaklah mata Robin tertutup rapat dan ia menggigit bibir bawahnya.
Zoro memasukkan 3 jari sekaligus dan memompanya dengan cepat.
"AAHHH!" Teriak Robin saat merasakan 3 buah jari kekar itu bersarang di liangnya.
"Panggil namaku…sayang.." Zoro tersenyum dan tetap mengocok miss.V Robin.
"Lebih cep…ah…ah.."
Tubuh Robin semakin bergerak liar.
"Aku… keluaarrr…"
Tubuh Robin bergetar hebat seiring dia mencapai klimaksnya. Robin terbaring lemas karena merasa letih sementara Zoro menjilat cairan yang membasahi miss.V Robin.
"Rasa yang manis.." Desis Zoro sembari mencium Robin lagi. Robin tersenyum dan membalas ciuman Zoro.
"Sekarang giliranku"
Robin bangkit dan melepas celana panjang yang dikenakan Zoro. Zoro tersenyum nakal. Robin menanggalkan underware Zoro, dan tampaklah junior Zoro yang bisa dikategorikan besar. Robin meraih dan perlahan tangannya meremas junior Zoro.
"ah….ahh…" kali ini ruangan dipenuhi suara desahan Zoro. Seakan seorang expert, Robin dengan cepat menaik turunkan tangannya dan memasukkan junior Zoro ke dalam mulutnya.
"Ah~ Robin…kau..sungguh pandai~"
Zoro menarik rambut raven Robin sambil memejamkan matanya. Cukup lama Robin memberikan blow job kepada Zoro sampai akhirnya junior Zoro menyemprotkan cairannya ke mulut Robin.
Zoro dan Robin kembali berciuman, dan dengan gampang Zoro mengangkat tubuh Robin dan memasukkan juniornya ke dalam miss.V Robin. Agak sedikit sulit mengingat posisi mereka terlebih lagi Robi yang masih perawan namun dengan sabar Zoro berusaha pelan-pelan sampai akhirnya juniornya berhasil masuk penuh.
"AGHHH…" Teriak Robin merasa rongga dalam ditembus sesuatu.
Robin menggalungkan kakinya ke pinggang Zoro dan tubuhnya merenggang kebelakang,
"ahh..mmhhh…ahh.."
Robin berdesah kuat. Sambil menggendong Robin, Zoro menghisap payudara Robin dan menggigit nipplenya dengan kencang.
Zoro akhirnya merebahkan tubuh Robin ke atas kasur sedangkan dirinya berdiri memudahkan juniornya keluar masuk.
"hah…hah…Zoro.."
Robin meringis dan meremas seprai begitu Zoro menggenjot vaginanya.
"AGGHHH… ZORO….AHH.." Robin berteriak ketika Zoro menambah kecepatannya.
"ahh…pelan-pelan…ng..ahhh.."
Namun Zoro terus saja penuh nafsu mendorong juniornya dengan hentakan-hentakan keras. Ia sudah memegang ke-2 kaki Robin dan membukanya lebar. Bahkan ia sampai menggigit bibir bawahnya dan terus memantau jalan masuk juniornya ke vagina Robin.
"ahh..ah..ah…" Zoro mendesah sembari meremas payudara Robin.
"a..ah…ahh…engg..zoro…" Robin akhirnya mencapai orgasme ke-2nya namun Zoro masih belum keluar.
"ahh..ah..ahhkk.." Zoro mendesah panjang seiring spermanya yang keluar memasuki rahim Robin dan berceceran ke seprai kasur.
"Robin..aku keluar…" kata Zoro keringatan
"aku juga…hah…" desis Robin
Zoropun menarik juniornya dari miss.V Robin. Lalu, iapun ambruk di samping tubuh Robin yang penuh keringat.
"ngg…Robin…aku…lelah…" kata Zoro ngos-ngosan
"hah..hah…ya…" hanya itu yang dapat dikatakan Robin
Zoro menatap Robin yang disampingnya, melihat wajah gadis itu yang penuh keringat, Zoro mengulurkan tangannya ke pelipis Robin dan mengelap keringatnya. Robin menoleh ke Zoro, dan ia tersenyum.
"Robin….menikahlah denganku…" Desis Zoro dengan mata intens menatap bola mata Robin yang indah. Robin membelalakkan matanya, beberapa detik kemudian ia tersenyum.
"Tentu saja….Zoro!" jawab Robin sembari membelai lembut rambut hijau Zoro
Zoro tersenyum, lalu imengecup kening Robin. Dan kemudian memeluknya erat.
Dibawah sinar bulan yang terang, merekapun tertidur tanpa sehelai benangpun.
.
.
BLAM
Sanji menutup pintu kamar Zoro pelan. Ia yang tadinya berniat pamit pulang mengurungkan niatnya setelah mengetahui kegiatan Zoro barusan. Ia bersandar di dinding sembari menyalakan rokoknya.
"Husss.."
Sanji menghembuskan asap rokoknya, lalu mendongak menatap figura Zoro yang terpampang di dinding seberangnya.
"Dasar Marimo sialan, kenapa tidak mengunci kamarnya kalau mau melakukan echi…" Ucap Sanji geleng-geleng
DRAP DRAP DRAP
Tiba-tiba Nami muncul dari ujung ruangan, ia menghampiri Sanji.
"Sanji… kenapa lama sekali sih?" Tanya Nami heran sembari menghampirinya.
Sanji yang menyadari kedatangan Nami terlonjak kaget. Ia segera membentengi jalan Nami yang hendak membuka pintu kamar Zoro.
"ah..Nami-swaaan…."
Teriak Sanji berniat menghentikan tindakan Nami.
KREK
Tapi terlambat, Nami sudah duluan membuka pintu & melihat pemandangan di dalam kamar. Robin tertidur di atas dada Zoro yang bidang tanpa sehelai benangpun.
"Me..mereka.." Kata Nami shock dengan wajah bersemu merah sembari mundur dan menyandar ke dinding.
"Sudah kubilang jangan.." Kata Sanji geleng-geleng
END
Gimana? Ancur ya pastinya… wkwk
Maklum,,, ane kan nggak berpengalaman dalam hal ini. Sumber pas adegan echi-nya ane ambil dari komik dirumah. Hoho. Mungkin akan ada kata-kata yang nggak sesuai atao ganjil gitu. Tapi harap maklum ya minna-san, cz ini pertama kali ane bikin fic berated M sih! Hehe
Arigatoooooooo
Jangan Lupa ya di RnR ^^v
Sesi balas Review…
Moist-fla YOSH! Udah update.. hoho
Makasih banyak ya Fla-channnnn~
Su-chan Jiah.. masih banyak yg rancu y kalimatnya.. aduh.. dasar ini otak nggak pandai bikin kata-kata yang tepat! Tapi masih ngerti dikit-dikit-kan su-chan maksud kalimatku. Hehe. Tapi emang sih, kadang2 aku baca lagi banyak kata-kata ganjilnya. Hehe. *Kudu banyak belajar & bertapa dulu ke gunung merapi*
Btw, Arigato ya Su-chan atas dukunganmu selama ini. Semoga chapter terakhir ini bisa memuaskan. Hoho.. *Tapi emg msh banyak yg nggak nyambung nh*..
Ohayau minna-saaaaaaaannnnnn…..
