Akamaru

By : slepping-cute

Disclaimer : Masashi Kishimoto

*********************************************************************

CHAPTER 2

********************

Perlahan-lahan aku mencoba membuka mataku. Bising sekali tempat ini. Aku mulai memfokuskan mataku untuk melihat lebih jelas dimana aku berada sekarang.

Aku kaget, kenapa tempat ini terdapat banyak anjing? Dimana ini? Kenapa aku dan anjing-anjing itu dikandang? Sebenarnya pemilik baruku membawa aku kemana?

Aku mencoba menghitung jumlah anjing yang ada disini.

'1, 2, 3, ...' belum selesai aku menghitung, sebuah suara mengagetkanku.

"Hei anjing kecil, rupanya baru bangun ya?"

Aku menoleh ke asal suara. Seekor anjing besar dan terlihat sangar yang telah mengagetkanku. Dia dikandang disebelah kiri dekat kandangku. Aku tidak menyukai cara dia memandangku.

"Ya, dimana ini?" tanyaku sambil mendekatinya.

"Oh, anjing kecil yang malang. Kau tidak tahu tempat ini? Kasihan. Tempat ini namanya tempat penampungan anjing liar, anjing yang tidak berguna untuk manusia, kau juga termasuk daftar anjing itu!" katanya dengan nada mengejek.

"Aku bukan anjing liar!" kataku geram. Aku benar-benar tidak suka dengannya.

"Kalau kau bukan anjing liar, kenapa kau disini, hah? Kau itu sudah dibuang pemilikmu tahu! Dan perkenalkan namaku Pein, ketua anjing disini. Kau sekarang menjadi anak buahku seperti yang lain ha..ha..ha.." kata Pein diikuti tawanya yang sungguh memuakkan.

Aku tidak percaya, pemilik baruku membuangku, padahal belum satu hari aku bersamanya.

"A-aku di-disini pa-sti ada al-asan-nya." kataku gugup, "Dan a-ku ti-tidak mau ja-di anak buahmu!"

"Hei kau melawan ya? Beraninya kau!" Kata Pein marah, aku langsung menutup mataku rapat-rapat, 'Ibu tolong aku.'

Saat Pein hendak memukulku, tiba-tiba sebuah suara menggagalkan rencana Pein.

"Hentikan Pein atau aku laporkan kau ke anjing penjaga!"

"Cih! Dasar wanita. Kau, anjing kecil, urusan kita belum selesai!" kata Pein, lalu dia pergi.

*********************************************************************

Aku perlahan-lahan membuka mataku, 'Terima kasih, ibu.'

"Kau tidak apa-apa?" kata suara yang telah menyelamatkanku.

Aku menoleh ke arahnya, "Aku ti- ... ibu?"

Aku terkejut saat melihatnya. Dia seekor anjing wanita dewasa. Yang membuatku terkejut adalah wajahnya. Kenapa wajahnya seperti ibuku? Wajahnya begitu lembut dan hangat, seperti penuh rasa kasih sayang. Aku jadi teringat ibuku.

"Eh..?" dia terlihat bingung. "Apakah aku seperti ibumu?"

Aku mengangguk.

"Benarkah?"

Aku baru sadar kalau dia bukan ibuku. "Eh, maaf. Tadi aku tidak sadar saat mengatakannya." kataku malu.

Dia tersenyum, "Sini, mendekatlah kepadaku." katanya lembut.

Aku mendekatkan diriku kepadanya.

"Perkenalkan namaku Konan. Siapa namamu?"

"Namaku Akamaru."

"Dimana ibumu?"

"... Aku tidak tahu. Aku tidak tahu keadaanya sekarang."

"Apa yang terjadi? Maukah kau menceritakannya padaku?" pintanya lembut.

Aku mengangguk. Aku menarik nafas dalam-dalam dan mulai bercerita.

*********************************************************************

"... Begitulah ceritanya." kataku mengakhiri ceritaku. Tidak terasa air mataku mengalir membasahi pipiku.

"Akamaru jangan menangis." kata Konan. "Aku turut sedih atas kejadian itu. Kita berdoa saja semoga ibumu selamat ya? Karena tidak ada yang dapat kita perbuat selain berdoa, kan?"

Aku mengangguk

"Bagaimana kalau aku menjadi ibumu? Maksudku, aku bisa menjadi ibu angkatmu, itu juga kalau kamu mau. Aku sama sekali tidak memaksa. Itu semua terserah kamu." tanya Konan.

Aku sedikit terkejut mendengarnya. Aku berpikir sebentar. Sepertinya dia cukup baik dan tidak ada salahnya kalau dia menjadi ibu angkatku, tapi...

Seorang penjaga masuk sembari mendorong sebuah gerobak cukup besar.

"Apa isi gerobak itu, ibu?" tanyaku tanpa sadar.

"Gerobak itu isinya makanan untuk kita. Eh, tadi kau panggil aku apa? Ibu? Apakah kau menerimaku sebagai ibu angkatmu?" tanya Konan dengan mata berbinar.

Aku baru sadar atas apa yang baru saja kuucapkan tadi. Aku memanggilnya dengan sebutan 'Ibu'. Mungkin memang lebih baik aku terima saja dia sebagai ibu angkatku. Lalu dengan malu-malu, aku berkata, "Ya."

"Benarkah? Aku senang sekali! Dari dulu aku ingin sekali punya anak." kata Konan dengan senang, tiba-tiba wajahnya berubah sedih, dia berkata, "Aku di diagnosa dokter, kalau aku tidak bisa punya anak. Pemilikku marah, sehingga dia membuangku disini."

Aku ikut sedih mendengarnya.

"Tapi tidak apa-apa kok, sekarangkan ada Akamaru, pasti rasa sedih ini berangsur-angsur akan hilang." katanya dengan tersenyum.

Aku jadi ikut tersenyum.

"Hei, kalian berdua berhentilah mengobrol!" kata penjaga yang membawa makanan kepadaku.

Lalu dia meletakkan mangkuk berisi makanan kepadaku.

"Aku heran, kenapa anjing-anjing ini berisik sekali. Apa mereka sedang mengobrol ya? Ha..ha..ha.. Tak mungkin, mereka kan bodoh. Mereka hanya bisa bicara guk-guk-guk ha..ha..ha.." katanya sambil mengejek.

Dia melihat ke arahku.

"Guk-guk-guk, kau mengerti tidak? Tidak ya? Aku juga tidak mengerti apa yang aku ucapkan. Ha..ha..ha.." dia bertanya kepadaku tetapi menjawabnya sendiri tanpa menungguku menjawab.

Lalu dia berkata, "Sudah ah, nanti aku disangka orang gila ngomong sama anjing." lalu dia pergi memberi makan anjing lain.

Aku melihat ke arahnya dengan gusar. Dia telah merendahkan martabat anjing. Dia pikir kami, para anjing, tidak mengerti apa yang diucapkannya? Bodoh. Kami tahu apa yang diucapkannya. Ingin rasanya aku menggigitnya.

"Sudahlah, tidak usah kau ambil pusing perkataanya Akamaru. Dia memang selalu begitu. Lebih baik kamu makan saja makanannya selagi hangat." kata ibu Konan sambil tersenyum dan mulai memakan makanannya.

Aku mengangguk dan mulai makan makananku yang berupa sup dengan porsi sangat sedikit.

*********************************************************************

Hari telah malam.

Aku mengantuk sekali. Sejak tadi aku terus menguap.

-

Sore hari aku habiskan dengan bermain bersama ibu angkatku. Memang kami tidak sekandang, dia berada di sebelah kanan dari kandangku, tapi untungnya letak kandang kami sangat dekat.

Kami bermain permainan 'sedang apa', permainan yang menyenangkan walau hanya dilakukan berdua. Selesai bermain kami mengobrol banyak hal diselingi tawa bersama.

-

Kehadiran ibu angkatku mengurangi rasa sedihku karena dibuang pemilik baruku dan terpisahnya aku dari ibuku.

Ibu, bagaimana ya keadaanya sekarang? Aku sangat, sangat berharap, dia dapat ditolong. Semoga Tuhan selalu menyertainya.

Aku berterima kasih kepada pemilik baruku karena membuangku disini daripada aku dibuangnya di tempat lain yang belum tentu aku dapat bertemu dengan ibu angkat yang sebaik ini atau aku mungkin saja disiksanya, karena menurutku dia bukan orang yang baik. Tapi aku ingin tahu juga, kenapa dia membeliku dari pemilik lamaku dan langsung membuangku disini. Benar-benar aneh, sebenarnya apa maunya?

"Akamaru belum tidur? Ini sudah malam, sebaiknya kamu segera tidur." kata ibu Konan membuyarkan lamunanku. "Apa mau kubacakan dongeng sebelum tidur?"

Aku mengangguk.

"Em, bagaimana kalau dongeng 101 Dalmations? Mau?" tanyanya.

Aku mengangguk lagi, lalu aku mengambil posisi tidur yang nyaman.

"Jadi pada suatu hari... bla-bla-bla" dia mulai bercerita.

Baru beberapa menit dia bercerita, aku sudah terlelap tidur.

*********************************************************************

Sepertinya aku bangun kesiangan, karena anjing-anjing lain sudah ribut. Aku mencoba membuka mataku. Lalu aku melihat ke kandang ibu angkatku. Aku terkejut karena kandangnya kosong, dia tidak ada di kandangnya, kemana dia?

"Pagi anjing kecil, baru bangun ya?" sebuah suara mengagetkanku.

Suara Pein, ya aku tahu, siapa lagi kalau bukan dia? Dia yang selalu memanggilku dengan sebutan 'anjing kecil', "Dimana ibu?" tanyaku sambil membalikkan badanku untuk melihat Pein. Dan ternyata tebakanku benar.

"Ibu? Apa yang kau maksud itu Konan? Jadi sekarang kau memanggil Konan dengan sebutan ibu?" tanya Pein dengan nada mengejek.

"Iya memang aku memanggilnya dengan sebutan ibu. Beritahu aku dimana dia!" kataku sedikit keras.

"Hei, gak usah galak gitu dong. Aku beritahu ya, ibumu itu sudah dibeli orang tahu! Dia tadi sudah berusaha membangunkanmu, tapi sepertinya kamu tukang tidur ya? Sehingga kau tidak mendengarnya. Padahal dia sudah berteriak loh?! Kasihan." katanya, "Oh ya, urusan kita belum selesai bukan? Yang kemarin, masa kau sudah lupa? Bersiap-siaplah karena sekarang kau tidak mempunyai perlindungan lagi. Ha..ha..ha.." lalu dia pergi.

Aku tidak percaya akan kata-kata Pein, tapi sepertinya dia benar.

Oh Tuhan, haruskah aku ditinggalkan figur seorang ibu untuk ke-dua kalinya? Baru sebentar aku merasakan kebahagiaan walau aku terpisah dari ibuku, kenapa manusia merampasnya dariku?

Lalu siapkah aku untuk menghadapi Pein? Dia akan segera menindasku.

Oh Tuhan, apa yang harus aku lakukan?

Tidak terasa air mata membasahi pipiku.

TBC.........

*********************************************************************

Hai semuanya! ^^

Maaf update-nya lama, maaf soalnya aku pakai nama anggota Akatsuki untuk nama anjing, maaf karena Kiba gak muncul di chapter ini, maaf kalau ada salah EYD dan peletakkan tanda baca atau apapun itu, maaf kalau ~dibekap mulutnya~

Terima kasih untuk yang sudah me-review ^^

Review lagi ya? X)

Jangan sungkan untuk memberi saran, kritik, bahkan flame juga boleh.

Jadi Readers maupun Author,

Silahkan me-review...