CHAPTER 4

AKAMARU

By Ei chan-chan

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Warning : AU, OOC, typo,

Kiba dan kawan-kawan berumur 12 tahun.


Akamaru's POV

Aku berlari dan terus berlari. Tak peduli dengan keadaan sekelilingku. Aku hanya ingin berlari, berlari sekencang-kencangnya, melupakan semuanya yang terjadi padaku akhir-akhir ini. Tiba-tiba aku teringat pada ibuku. Apakah ibu masih hidup? Rasanya aku ingin menjenguknya. Aku melihat jalan disekelilingku. Tunggu, aku tau daerah ini. Jika aku belok kiri, aku akan sampai dirumah pemilikku yang dulu. Aku mempercepat langkahku menyusuri jalan menuju rumah pemilik lamaku.

Aku berhenti. Ini rumahnya. Aku berdiri didepan rumah pemilik lamaku. Sejenak aku tertegun, sedetik kemudian aku berlari menuju halaman belakang rumah ini. Mencari jalan masuk yang dulu sering kulalui saat aku tidak betah dirumah. Ternyata lubangnya masih ada. Aku akan berhasil memasuki halaman belakang rumah ini. Ternyata ada sesuatu yang menungguku disana.


"Siapa kau?", sebuah suara mengagetkanku.

"Kau siapa" jawabku.

"Kenapa kamu malah balik bertanya, huh? Aku anjing penjaga rumah ini. Kamu sudah masuk kedaerahku. Apa urusanmu?"

"Maafkan aku, aku pernah tinggal disini juga"

"Lalu?"

"Hm.. apa kau tau jenis anjing sepertiku yang lebih besar dariku yang tinggal disini juga?"

"Tunggu sebentar… ouh jangan-jangan kau anaknya?"

"Ya! Bagaimana keadaannya?"

"Dia sudah meninggal."

"Apa?"

"Aku juga diceritakan oleh anjing tetangga sebelah. Sebaiknya kamu pergi dari sini sebelum terlihat oleh tuanku. Pergilah!"

"Ti-tidak mu-mungkin! Waktu itu ibu masih bisa diselamatkan!" aku shock.

"Aku bilang PERGI!"

Aku berjalan keluar dari rumah ini. Langkahku semakin berat. Aku masih tidak bisa mempercayainya. Ibu meninggal? Tidak! Ouh kepalaku rasanya mau pecah. Aku masih terlalu kecil untuk mengalami ini semua. Kenapa aku dibiarkan mengalaminya? Untuk apa aku hidup. Tak ada lagi yang perlu kulakukan didunia ini. Lebih baik aku menyusul ibu saja disorga.

End Akamaru's POV


Langit semakin gelap. Matahari telah tenggelam. Angin berhembus semakin kencang. Pohon-pohon bergoyang tetapi masih tetap bertahan pada posisinya karena mereka mempunyai akar yang kuat yang membuat mereka bertahan menghadapi kerasnya angin berhembus.

Tetapi tidak dengan Akamaru. Langkahya pelan. Ia bahkan merasa ingin terbang terbawa hembusan angin, tetapi berat tubuhnya menghalanginya untuk terbang terbawa angin. Hujan turun rintik-rintik membasahi pohon, tanah, dan semua tempat di permukaan bumi termasuk tubuh Akamaru. Akamaru tidak mempedulikannya. Lama kelamaan hujan semakin deras membasahi bumi. Akamaru tak punya pilihan lain selain mencari tempat berlindung. Ia memilih berlindung dibawah bangku pos ronda yang terlihat sepi. Sambil menggigil kedinginan ia memanggil nama ibunya, "Ibu".


Tap-tap-tap. (suara langkah kaki)

Srek. (pintu terbuka)

"KIBA!"

"Apa bu? Gak perlu pake teriak segala donk!" Kiba menutupi telinganya.

"Habisnya kerjaanmu tidur melulu! Daripada tidur mending bantu ibu. Nih, belikan gula diwarung depan, ini uangnya."

"Aduh. Ibu gak lihat ya? Awannya mendung paling bentar lagi hujan. Hawanya enak untuk tidur, bu. Lagipula ibu gak kasihan, anak ibu yang paling cakep ini nanti kehujanan saat be…"

"KIBA!"

"Ba-baik bu! Laksanakan!" Kiba segera bangun dari tidur lalu mengambil uang yang dipegang ibunya dan segera pergi keluar rumah.

"Dasar anak itu! Kapan dia berubah ya? Aduh-aduh…" Ibu Kiba mengelus dadanya.


"Ah! Ibu mengganggu saja. Padahal lagi mimpi indah malah dibangunin, huh.." Kiba menggerutu sendiri.

"Ini warungnya. Loh! Apa nih? Kok tutup? Aduh bentar lagi kayaknya mau hujan nih, mana aku lupa bawa payung. Kalau aku beli ke toko Ino, aku bisa kehujanan nih, tapi…" Kiba berhenti berbicara, ia membayangkan wajah ibunya jika ia tidak pulang membawa gula pesanannya.

"Hiii! Lebih baik aku kehujanan dibandingkan aku tidak bisa melihat hari esok!" Kiba mempercepat langkahnya menuju toko Ino yang jaraknya cukup jauh dari rumahnya.


"Ah! Benarkan! Hujan sudah turun, mana deras lagi. Aku harus cepat cari tempat berlindung!" Kiba berlari sambil memeluk gula pesanan ibunya didadanya.

"Oh! Ada pos ronda, lumayan aku bisa berteduh disitu untuk sementara waktu." Kiba mempercepat langkahnya.

"Dinginnya! Brrr…" Kiba duduk di bangku pos itu.

Ngik-ngik-ngik…

"Su-suara apa itu? Hantu?" Kiba semakin menggigil ketakutan dan kedinginan.

"Tapi tidak mungkin suara hantu seperti itu. Lalu itu suara siapa ya?" Kiba mencari sumber asal suara.

Kiba menunduk mencoba memeriksa kolong bangku.

"Eh itu… anak anjing! Kenapa dia ada disini?" Kiba mengambil anak anjing itu dan segera memeluknya.

"Badannya basah. Pasti dia kedinginan." Kiba semakin mempererat pelukannya.

Tin-tin (klakson mobil)

"Ah kakak!"

"Apa yang kau lakukan disitu, anak bodoh?"

"Tidak usah panggil begitu!"

"Tunggu, itu.. anak anjing?"

"Iya. Dia kedinginan, ketakutan, dan sepertinya kelaparan juga."

"Kalau begitu, cepat masuk kemobil!"

"Baik kak!"


"Anjing siapa itu, Kiba?" tanya Ibu Kiba.

"Aku juga tidak tau, bu." jawab Kiba.

"Untung saja kau segera menemukannya. Dia tadi dalam masa kritis." Jawab Hana, kakak Kiba. Ia baru saja mengobati anak anjing itu.

"Benarkah kak?"

"Ya, untung aku segera mengobatinya, sekarang masa kritisnya sudah lewat."

"Terima kasih kak!" Kiba senang mendengarnya.

"Untung saja kakakmu seorang dokter hewan jadi nyawa anjing itu masih bisa diselamatkan." Kata Ibu.

"Iya, bu."

"Ngomong-ngomong, mana gula pesanan ibu, Kiba?" selidik Ibu.

"Wah gawat! Gulanya tertinggal di pos ronda!"

"KIBA!" teriak Ibu.

Sejurus kemudian Kiba segera melesat pergi.


Akamaru's POV

"Kau sudah bangun, ya?" anak laki-laki itu masuk sambil membawa semangkuk susu.

Aku mencoba untuk bangun dari tidurku, tapi aku tak kuat menahan tubuhku, aku terjatuh.

"Kau tidak boleh memaksakan dirimu." kali ini wanita muda masuk dengan pakaian serba putih seperti dokter.

"Kiba, jaga dia baik-baik. Jangan lupa obatnya diminum, kakak pergi dulu."

"Ok kak!"

Wanita muda yang dipanggil kakak itu pergi meninggalkan kami berdua.

Anak laki-laki itu berjalan mendekat kearahku.

"Sekarang waktunya kamu minum susu." katanya dengan riang.

Dia mendekatkan mangkuk itu kearahku. Aku sama sekali tak tertarik.

"Kenapa? Kamu harus minum susu supaya keadaanmu pulih kembali." kali ini dia mencoba mengelus kepalaku.

Grauk!

"AW! Apa yang kau lakukan? Kenapa kau gigit tanganku!" anak yang bernama Kiba itu meringis kesakitan sambil memegang tangannya yang baru saja ku gigit.

Sambil melihat ke arahnya dengan sorot mata tajam, aku berkata,

'Maaf saja ya, aku tidak suka kamu, aku BENCI manusia! Jangan berpura-pura baik kepadaku!'


*TO BE CONTINUED*


Baiklah! Mungkin karena kelamaan update minna-san jadi lupa sama fic Akamaru...

(pundung di pojokan)

tapi tak apa, ini juga kesalahan saya karena update terlalu lama

jika ada yang mau baca, saya bersyukur sekali ^.^

apalagi kalau ada yang mau riview... thank you very much!

balas review : AlonelyBoy : hahaha aku juga pecinta anjing kok! HIDUP ANJING! #plak! berisik!

review lagi ya... hidup Akamaru akan berubah setelah bertemu Kiba ^^

zoroute : nih udah update kok, gak sampe bertahun-tahun kan? cuma berbulan-bulan hahaha

#plak!

ini Akamaru udah ketemu ma Kiba kok,, ^.^

terima kasih buat semuanya.

oh ya, sekedar pemberitahuan, fic Akamaru akan segera TAMAT, jangan sampai kelewatan ya ^.*