Uap-uap yang ditimbulkan oleh udara dingin di pagi hari serta udara dengan bau tidak sedap—lebih dikenal dengan bau naga—yang datang dari mulut menguap murid-murid sekolahan menyambut mentari yang menyapa dengan riangnya.

Shikamaru, yang tengah duduk di bangkunya di barisan tengah kelas, bisa bersumpah; bahwa sang-benda-langit-raksasa—maksudnya matahari—berusaha menyiksanya dengan menyinari sebagian bangkunya yang di pakai sang jenius dengan IQ 200 itu untuk tidur sehingga membuatnya tidak bisa tidur karena tersiram cahaya matahari. 'Tak ada cara lain untuk menyiksa ku hah? Matahari!' Batin Shikamaru berusaha tidur sambil mengobservasi kelasnya yang (masih) kosong.

Saat itu kelas X-F hanya berisi Shikamaru, sang ketua kelas, sahabat sang ketua kelas, Chouji dan Hinata; yang hanya duduk termenung di bangkunya di barisan belakang kelas; menatapi sinar sang fajar yang menembus jendela-jendela dan memantul di lantai keramik kelas.

"Huft…"


a NaruHina fanfic

~By Banci Taman Lawang~

Kolom DUP Dari; Untuk; Pesan;

chapter 2: the Kiss


"Huft…" Hinata menghela nafasnya secara tidak sadar sambil melamun.

Bunyi keripik kentang yang dikunyah dan langkah-langkah kaki yang melewati koridor kelas X-F mengiringi Hinata dalam fantasi gadis berambut indigo itu layaknya musik. Pandangan yang semula berada di lantai bergerak ke arah dinding-dinding kelas yang dicat hijau mint dan berhenti pada bunga Matahari yang bersantai di dalam pot bunga di balkon kecil di luar jendela kelas.

Kelopak-kelopak bunga yang berwarna kuning keemasan mengingatkan Hinata pada matahari itu sendiri serta mengingatkan gadis berambut indigo itu akan… seorang pemuda dengan senyum selebar lima jari yang baru kemarin malam menciumnya di pipi.

Apakah ciuman di pipi itu mengandung arti?—itulah yang Hinata renungkan sejak kemarin malam. Hinata ragu; sebagian dirinya mengatakan bahwa ciuman itu tak mengandung arti… namun sebagian dirinya mengatakan bahwa ciuman itu berarti…

"Kyaaan!" Jerit Hinata pelan; berusaha mengeluarkan harapan-harapan yang terus tumbuh di dalam hatinya sambil menenggelamkan wajahnya kedalam lipatan kedua tangan sehingga hidung mungilnya mencium meja. Shikamaru dan Chouji yang mendengar jeritan dari belakang mereka berbalik; dan menemukan Sasuke berada di ambang pintu kelas, menatap Hinata (yang menenggelamkan kepalanya ke meja) dengan penasaran. Sasuke, diam seperti biasanya, melempar pandang pada Shikamaru.

Shikamaru hanya menjawab, "Biasa, tentang Naruto."

Kepala Hinata refleks terangkat mendengar nama pemuda yang terus berada di dalam pikirannya; dan gadis tersebut menemukan dirinya menatap ke ambang pintu. Mendapati dirinya tertangkap basah tengah memikirkan Naruto; Hinata menenggelamkan kembali kepalanya ke meja, berharap Sasuke, Shikamaru dan Chouji tidak berkata apa-apa pada Naruto.

#x#x#

"Shoot," Gumam Naruto mengumpat pelan memikirkan bagaimana caranya bertingkah biasa menghadapi seorang gadis yang sengaja-tak-sengaja diciumnya kemarin malam.

"Ada apa Naruto?" Tanya Jiraiya; sosok orang tua yang kini telah lama tinggal bersama Naruto; bertanya dengan penuh kepedulian tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan demi keselamatan mengemudi. Naruto yang duduk di jok di sebelah Jiraiya hanya menghela nafas panjang.

"Ooh, oke kalau ga mau jawab. HAHA! Aku yakin pasti masalah sama cewek." Kata Jiraiya terkikik menjijikkan seakan sang pria berumur lebih dari lima puluh tahun itu sedang berfikiran yang tidak-tidak. Tubuh Naruto sedikit menegang karena tebakan Jiraiya tepat pada sasaran. Melihat tubuh Naruto bereaksi pada jawabannya, kikikkan Jiraiya makin menjadi.

"Diam kau, Jira-mesum!" Ujar Naruto kesal memanyunkan bibirnya, membuang muka dan menatap keluar jendela mobil; pikirannya melayang entah kemana…

Wajahmu, yang dihiasi rona merah, menyimpulkan sebuah senyuman manis ketika pasang kaki mungilmu dan pasang kaki pemuda berambut pirang itu berhenti melangkah tepat di depan rumah megahmu. Walaupun sejak 4 jam yang lalu sang pemuda tidak henti-hentinya berbicara menceritakan kisahnya selama liburan yang sedikit tidak menarik, engkau tetap mempertahankan senyuman kecil yang berada di wajah putihmu, diselingi beberapa tawa kecil ketika sang pemuda berusaha melucu.

Sang pemuda kau buat termenung sesaat akibat senyuman manis yang tersungging di bibir merahmu.

"…N-Naruto?" Kau memanggil pemuda itu perlahan; sedikit khawatir pemuda itu pingsan dengan mata terbuka atau malah kesurupan.

"…Naruto?"

"E…EH! Hinata…" Jawab sang pemuda keluar dari dunia khayalannya. "…err…Kenapa?"

"A-ano, Naruto-kun… aku… umm… selamat malam… d-dan selamat tidur," Katamu mengangguk pelan; meminta izin pada sang pemuda.

"O…oh… Hehe… 'malem juga…" Sang pemuda menjawab; mendapatkan senyuman manismu lagi sebagai terima kasih atas jawabannya.

Tiba-tiba tubuh sang pemuda menengang; membatu seakan angin malam membuatnya membeku karena kedinginan. Tapi detik berikutnya membuktikan kalau pikiranmu salah; ketika sang pemuda meletakkan telapak tangan kanannya di atas pipimu; kau bisa merasakan betapa hangatnya tubuh sang pemuda itu.

Sang pemuda itu pelan-pelan menggerakkan rahangmu ke atas; membuat wajahmu mendongak dan matamu yang tengah memantulkan cahaya bintang menatap lurus ke dalam mata berwarna langit sang pemuda. Sang pemuda menarik tangan kanannya dan menaruh bibirnya di atas pipimu sebagai gantinya; sambil mengucapkan "Selamat tidur," menghembuskan nafas hangat di atas pipimu. Kemudian sang pemuda memutar tubuhnya; meninggalkan dirimu berdiri di depan pintu gerbang rumah mewahmu.

Kau berharap sang pemuda berbalik dan memberikan senyumannya padamu lagi; namun pemuda itu terus berjalan tanpa melihat ke belakang. Sementara sang pemuda mengharapkan kau memanggil namanya…

"…Naruto…"

"Naruto…"

"NARUTOOOO!"

"APAAN SIH TERIAK-TERIAK? KUPING GUE SAKIT TAU!" Jerit Naruto mengusap telinga kirinya sambil menatap kesal pada Jiraiya yang tadi meneriakkan namanya.

"Lagian, dari tadi kupanggil masih asik ngelamun, udah nyampe' dari tadi tuh!" Ujar Jiraiya menunjuk keluar jendela mobil di belakannya dengan ibu jari. Terlihat gedung sekolah yang sekilas terlihat seperti gedung perkantoran.

"Ooh, thanks," Gumam Naruto menarik tasnya dan membuka seat belt serta pintu mobil secara berasamaan, kemudian keluar dari mobil; meninggalkan Jiraiya yang menggerutu tentang sikap tidak sopan anak jaman sekarang.

#x#x#

"TADAAAAAA!" Seru seorang pria barambut perak dengan masker putih menutupi bagian bawah wajahnya, menggunakan kemeja putih, celana panjang hitam dan sneakers biru gelap; mengeluarkan setumpuk kertas dan memamerkannya di depan kelas X-F. Kakashi-sensei, guru bidang Sosial, Sejarah, dan Bahasa, terlihat riang memamerkan setumpuk kertas yang merupakan kumpulan soal ulangan dadakan.

Seluruh siswa yang berada di ruangan kelas X-F segera mengeluarkan keluhan dan rintihan kesal saat mata mereka tertuju pada setumpuk kertas jahanam yang berada dalam genggaman Kakashi.

Hening.

Kakashi menyapu setiap sudut kelas dengan pandangannya dan mendapati kalau bangku Naruto—yang duduk tepat di sebelah Hinata dan berada di paling pojok kelas di dekat jendela—kosong.

"Hmm? Kemana Naruto?" Tanya sang pria berambut perak. Matanya yang membentuk huruf "n" mengindikasikan bahwa bibirnya—tanpa alasan yang jelas— tengah menyunggingkan senyum di balik maskernya.

Detik itu juga, setelah Kakashi bertanya, terdengar suara berisik dari luar kelas. Teriakan serak-serak basah terdengar dari ujung koridor dan teriakan tersebut mulai mendekati kelas X-F, diiringi dengan pintu kelas yang menjeblak terbuka; yang menampakkan sosok Naruto dengan nafas berat seakan habis disuruh marathon keliling kota seratus kali.

#x#x#

'WHAT THE! Gue, Naruto Uzumaki, dateng lebih telat daripada Kakashi yang sudah mencetak rekor sebagai guru paling telat sedunia? NO WAY!' Batin Naruto rahangnya terbuka lebar; memasang wajah "cengok" khasnya pemuda-pemuda yang baru saja diputuskan oleh pacarnya.

"Ah, Naruto. Kamu datang di waktu yang tepat! Kita baru mau mulai ulangan dadakan!" kata Kakashi, matanya masih dalam bentuk huruf "n".

"Waktu yang tepat apanya," gumam Naruto dengan suara kecil yang ternyata tidak terlewatkan oleh Kakashi.

"Waktu yang tepat Naruto! Untuk ulangan dadakan… SEJARAH!"

Rintihan dan keluhan sekali lagi terdengar dari seluruh penjuru kelas ketika Kakashi menekan bagian akhir kata-katanya.

"Tolong duduk Naruto,"

Naruto segera berjalan ke bangkunya, berusaha menghindari tatapan Hinata ketika ia melewati bangku gadis berambut indigo tersebut. Gerakan ini tidak terlewatkan sama sekali oleh Hinata.

'Naruto-kun… kenapa?'

_to_be_continued_


Authoress's Notes: … MAAFKAN SAYA! Maaf kan saya karena telat ng-update! Dx Salahkan semua ini pada Emulator Nintendo DS saya (kebanyakan main Suikoden Tierkreis makanya jadi telat update mwahaahaha) ;w; oh, thanks for the reviews every one! I really, really, really, appreciate it.

... Review lagi juga boleh~ Review yaa!