Forewords: YANG KEMAREN DI GARIS MIRING ITU FLASHBACK! Cuma karena sudut pandangnya aneh aja jadi gak keliatan yang flashback \(*A*v)/ Kenapa saya pakai sudut pandang seperti itu? Mungkin karena saya ga suka dengan tulisan "flashback" sebelum adegan flashback yang benar-benar, menurut saya, mengganggu. Makanya flashback versi saya jadi aneh begitu /'(v-_-) maaf ya kalau membingungkan m(_,,,_)m.
Italic/Tulisan miring = Flshback/kata dalam bahasa asing/pikiran/batin
Bold/Tulisan tebal = SMS/E-Mail/Pesan
LET'S GET STARTED!
Matahari yang tepat di atas kepala tetap saja tidak membuat kepala keras Naruto, yang duduk di atap sekolah dengan mata tertutup, meleleh; melainkan cahayanya yang panas melatih ketahan Naruto dalam menjaga konsentrasinya berfikir. Tanpa sadar Sasuke telah duduk di sebelahnya; memegang gunting yang siap memotong rambut di depan telinga Naruto.
"Lo terjebak dalam masalah apaan lagi, Dobe?" tanya Sasuke dengan nadanya yang biasa, seperti orang tidak perduli akan apa yang terjadi di sekitarnya.
Naruto perlahan membuka mata setelah mendengar suara Sasuke; menemukan ujung gunting berada tepat di sebelah matanya. "AAAAGHH!" teriaknya menggerakkan badannya terlalu kesamping sehingga kehilangan keseimbangan dan pundaknya menyentuh lantai atap sekolah, dengan keras.
Sasuke menutup gunting ditangannya dan menaruh gunting tersebut kembali di dalam sakunya. "Sialan lo Brengsek! Ternyata selama ini lo bukan cuma Pyromaniac, tapi juga Psychopath!" kata Naruto sambil memijat pundak kirinya dengan tangan kanan; masih kesal dengan sikap sahabatnya yang sedikit 'ekstrim' dan menakutkan.
"Gue bukan Pyromaniac ataupun Psycho—hell, kalau gue Pyromaniac, gue udah ngebakar seluruh cewe dalam komplotan 'Sasuke-sama's fans' dan membuat diri gue sebagai Psycho kali—lagi pula ini out of topic. Jawab, sebenarnya apa masalah lo sama Hinata?" jawab Sasuke menghela nafas.
Naruto menatapnya bingung dengan wajah 'cengok'. "Hah?"
a NaruHina fanfic
~By Banci Taman Lawang~
Kolom DUP Dari; Untuk; Pesan;
chapter 3: Sorry
"Hah?"
Hening. Naruto masih menatap Sasuke dengan wajah 'cengok'-nya dan matanya berkedip-kedip tak percaya. Sasuke menatapnya balik, dengan tatapan kosong.
"Tau ga Brengsek, lo ngomong kecepetan." Kata Naruto akhirnya.
"…" Sasuke masih menatapnya dengan tatapan kosong.
"Yup. Ternyata Sasuke Uchiha telah terkontaminasi dengan sikap pacarnya, sehingga membuat dia cerewet, persis kayak cewe." gumam Naruto pelan sebelum ia merasakan sebuah benda membentur kepalanya. Sasuke yang berada di sebelahnya tengah meremas pelan buku yang telah digulung di dalam tangannya. Naruto tengah berfikir, mungkin akhir-akhir ini banyak orang sedang punya masalah yang membuat mereka cepat marah… Kemarin Sakura-chan di kantor Majalah Dinding KonoHigh, sekarang pacarnya, si Brengsek…
"Dasar Pyromaniac!" jerit Naruto jahil, ingin menggoda Sasuke agar memperlihatkan sedikit emosi—setidaknya Sasuke jangan berubah seperti salah satu murid kelas XI-X (kelas International) bernama Sai yang tidak punya emosi sama sekali. Menyeramkan.
"GUE BUKAN PYROMANIAC!"
'Yes! Dia marah!'
"Terus lo ngapain bawa-bawa korek api ke sekolah? Lo kan ga ngerokok!"
"Jadi, lo mau gue jadi Pyromaniac? Sini, biar gue bakar tubuh lo jadi abu, ga usah repot-repot di kremasi, langsung gue kirim ke kediaman Namikaze." ujar Sasuke kembali memasang tatapan kosong, berbicara dengan nada datar yang membuatnya terlihat berbahaya.
"Peace Brengsek. Kita main santai ya, hehe." kata Naruto sedikit khawatir akan kestabilan jiwa sahabatnya yang tidak diragukan lagi kewarasannya; Naruto hanya tidak sadar bahwa dirinyalah yang membuat orang-orang disekitarnya cepat naik pitam.
"Ga usah basa-basi, Dobe. Apa yang lo lakuin sebenarnya?"
"Sumpah deh, gue ga tau apa yang lo omongin."
"Maksud gue masalah lo sama Hinata,"
"Hinata?"
#x#x#
"Hina?"
Gadis berambut indigo yang berdiri di pinggir beranda jendela kelas berbalik ketika mendengar nama panggilannya dipanggil oleh seseorang.
"Sakura? Ada apa?" tanya Hinata gadis berambut merah muda yang tadi memanggil namanya.
"Ah, nanti habis tambahan belajar, Naruto, Aku dan Sasuke mau the Latte. Mau ikut? Hitung-hitung double-date gitu," ajak Sakura tersenyum pada teman masa kecilnya.
Pada awalnya Hinata berfikir untuk ikut sambil tersenyum, namun mengingat sikap Naruto yang tidak menghiraukannya tadi pagi…
…
…
Kau yang duduk di sebelah gadis berambut indigo itu menjatuhkan bolpoint yang tengah kau pakai. Kau ingin mengambilnya, namun benda itu jatuh jauh dari jangkaunmu. Gadis itu menyadari usahamu dan membantumu mengambilkan bolpoint yang jatuh di dekat kaki mejanya.
Kau mengambil pandangan sekilas ke depan kelas, mendapati Kakashi-sensei tengah menenggelamkan hidung belang-nya ke dalam buku berwarna jingga yang memamerkan tulisan "18 TAHUN KE ATAS!"
Si gadis berambut indigo menyodorkan bolpoint yang telah diambilnya ke arahmu, kau membuang muka dan mengambil bolpoint sambil mengucap terima kasih dengan pelan sampai tak terdengar.
"Thanks ya, Hinata…"
"Hinata…"
"Hinata…!"
"U…Uh?" Hinata tertegun terlepan dari renungannya, dengan refleks menarik kepalanya hingga membentur bingkai jendela.
"Aduduh…" rintih Hinata menaruh dua tangannya di atas benjolan di sekitar daerah yang terbentur bingkai jendela.
Sakura menghela nafas ketika ia melihat Hinata kembali dali alam bawah sadar. Hinata jarang sekali termenung, kalaupun iya, Hinata pasti tengah mempunyai masalah. Sakura tahu betul bahwa teman masa kecilnya yang berambut indigo itu adalah tipe orang yang memendam perasaannya, dan menyimpan masalahnya sendiri, dengan niat tidak mau memberatkan orang lain.
"Kamu ini…"
Intro lagu "Fireflies" yang dibawakan oleh Owl City menyapa telinga Sakura, diiringi dengan getaran yang muncul dari kantong rok seragamnya. Sakura merogoh kantongnya, menarik keluar ponsel miliknya, berusaha mengabaikan Hinata yang masih merintih memijat-mijat lukanya.
From: Sasuke-kun
To: me 11:24 AM /17/5/xx
Saku, Naruto minta nomornya Hinata.
Sakura mengangkat alis, bergegas mengklik pilihan "reply" di handphone-nya.
Oh? kenapa mintanya lewat Sasuke-kun?(σ_σ)?
Dering Intro "Fireflies" menyapa telinga Sakura kembali.
From: Sasuke-kun
To: me 11:26 AM /17/5/xx
Dia… ga punya pulsa.
Sakura terdiam, bertanya-tanya kenapa Naruto menginginkan nomor Hinata. Lagi pula nomor ponsel pribadi itu juga tidak boleh diberikan sembarangan 'kan? 'The hell with it.' batin Sakura memutar matanya lalu menjawab SMS pacarnya.
Oh ya ampun /'(-_-v)
Ini: xxxx-1010-2712
Sakura menunggu jawaban Sasuke.
From: Sasuke-kun
To: me 11:27 AM /17/5/xx
Thanks…
Belum sempat mengalihkan perhatiannya pada Hinata, dering "Fireflies" menyapa telinga Sakura, lagi.
From: Sasuke-kun
To: me 11:28 AM /17/5/xx
…Saku, Naruto bilang 'tolong transfer pulsa'
Sakura memutar matanya dengan kesal lalu menjawab dengan emosi.
Bilang ke dia: KENAPA GUE?
…
From: Sasuke-kun
To: me 11:30 AM /17/5/xx
Dia bilang 'provider-nya nomor Sasuke beda, kalau sama udah kumintain'
Lagi-lagi, Sakura terdiam bertanya-tanya pada diri sendiri, kenapa dirinya harus mempunyai teman yang sangat bodoh tapi cerdas seperti Naruto. Lebih baik Sakura menyalahkan ayahnya, Minato Namikaze, sebagai pengusaha jenius dan walikota termuda Konoha.
\(-_-v\) … … ya udah, bilang ke dia suruh bayar besok.
Sakura menghela nafas menunggu jawaban Sasuke.
From: Sasuke-kun
To: me 11:32 AM /17/5/xx
Hn. Thanks.
Sakura memutar tubuhnya hanya untuk menemukan Hinata kembali termenung di pinggir beranda jendela. Sambil memutar mata untuk ke-sekian kalinya hari itu, Sakura membangunkan Hinata dari lamunannya.
"Ayolah Hinata! Jadi, kamu mau ikut?" Sakura memberikan senyuman manisnya yang biasa membuat murid lelaki senior meleleh.
Hinata memandangi Sakura sebentar, bagaikan menimbang keputusan, sedetik kemudian Sakura mendapati Hinata menggeleng-gelengkan kepala menolak ajakan Sakura.
'Apa boleh buat,'
"Maaf ya, Saku…" ujar Hinata pelan, agak takut kalau-kalau Sakura merasa tersinggung.
"Ga papa lah, kasian juga si Naruto." kata Sakura tersenyum menunjukkan giginya, membuat Hinata merona merah akan godaannya. "Ke kantin yuk? Aku yang bayarin."
"Boleh…" jawab Hinata tersenyum. Sakura dan Hinata keluar dari kelas, berjalan melewati koridor sekolah menuju kantin.
Di tengah-tengah perjalanan, Sakura mengingat sesuatu.
"Hinata… aku ga sengaja member nomormu ke seseorang. Ga apa-apa 'kan?"
"A-Apa?"
#x#x#
Sore itu, Hinata pulang ke rumah, langsung menjatuhkan dirinya di atas tempat tidur pegas kamarnya. Menghela nafas mendengarkan dering ponsel, Hinata, tanpa menarik tubuhnya bangun, merogoh ke dalam tasnya, mencari ponsel flip berwarna lavender kesayangannya.
Masih sedikit kesal akibat Sakura yang dengan ceroboh memberikan nomornya sembarangan, Hinata membuka ponselnya, menemukan satu inbox masuk.
From: xxxx-2712-1010
To: me 05:37 PM /17/5/xx
Halo Hinata
'SKSD!', 'SUSPICIOUS!', 'INI SIAPA!' adalah beberapa kata yang muncul di kepala Hinata setelah membaca SMS dari nomor asing yang tidak dikenalnya itu. Jari Hinata menari di atas keypad, menekan tombol-tombol membentuk kata per kata di layar ponsel, menjawab SMS dari nomor asing tersebut.
Maaf, ini siapa ya?
Pikiran Hinata melayang jauh, menunggu jawaban dari nomor asing tadi. Kenapa Sakura tidak mau memberitahunya kepada siapa nomornya diberikan? Adalah hal yang dipikirkan Hinata saat itu. Dering ponsel membangunkan Hinata dari renungannya. Sambil memanyunkan bibir, Hinata berguling di atas tempat tidur hingga ke ujung kasur, meraih ponsel yang tadi diletakkannya di atas meja tidur di debelah tempat tidur.
From: xxxx-2712-1010
To: me 05:40 PM /17/5/xx
Σ(°A°)Ξ Masa ga tau sih? Ini Naruto lhooo! Hehe.
DBRUKKK! Bunyi benturan yang berasal dari kamar Hinata di lantai dua menggema di kediaman Hyuuga.
Neji, sepupu Hinata yang duduk dibangku XII-X KonoHigh mengangkat alisnya mendengar bunyi bedebam dari kamar Hinata yang terletak di ujung kanan koridor dari kamarnya.
"Menurutmu, Neji, Hinata lagi ngapain?" tanya Tenten, pacar Neji yang menjadi teman satu kelas Neji di KonoHigh, dengan senyuman jahil terpajang pada wajahnya.
Neji hanya memutar mata mengangkat bahunya, mengalungkan tangannya di sekitar Tenten yang duduk di sebelahnya, tengah sibuk browsing dengan laptop milik Neji di atas pahanya.
Kembali pada gadis berambut indigo yang baru jatuh saking kagetnya. Hinata langsung menarik tubuhnya yang sakit akibat mencium dinding yang menjadi landasan jatuhnya dari tempat tidur. Masih memegangi ponsel, dengan rambut berantakan yang jatuh kedepan, Hinata membalas SMS dari Naruto.
Naaaaruto-kun! Maaf! Aku ggga ttau karena belum punya nommmor Naruto-kun… D;
Hinata mengumpat dalam hati ketika menyadari apa yang baru saja dikirimnya pada Naruto. Bahkan dalam SMS pun ia gagap!
'Oh tidak! Naruto-kun pasti menganggapku aneh!'
#x#x#
Disisi lain kota… (Kediaman Namikaze, kamar Naruto)
'Lho? Ahahaha, kok lucu sih? Di SMS masih gagap…' batin Naruto sambil tertawa kecil menatap layar ponsel walkman slide-nya. Naruto tengah bersantai di atas tempat tidurnya di lantai dua, terlalu malas untuk mengambil makanan di bawah, di dapur yang telah disiapkan oleh ibunya, Kushina Namikaze, yang berada di luar bersama ayahnya, Minato Namikaze, saat itu.
Lho? Lho? Kok di SMS jadi gagap juga sih? Hehe, gapapa kok. Sekarang kamu punya kan? :P
Klik. Hanya dengan menekan tombol option "send" Naruto mengirim jawabannya.
Naruto menghela nafas bersyukur karena Hinata tidak marah akibat sikapnya tadi pagi. Dia hanya tidak bisa bersikap dengan benar di depan gadis berambut indigo itu. Saat ditanya tentang apa yang dirasakannya, Sasuke hanya bilang…
…
"Itu namanya suka, bodoh!" Sasuke melempar gulungan buku yang ada di tangannya.
"WHOA! WHOA! Santai dong bro!" jawab Naruto menangkis gulungan yang dilempar ke arahnya.
Sasuke menarik tubuhnya berdiri, berjalan ke arah tangga ke bawah. "Gue mau ke kantin," ujar Sasuke dengan simple mengambil langkahnya lagi.
"Tunggu Sasuke! Maksud lo 'suka' apa?"
Sasuke terdiam di tempatnya, sebelum beranjak pergi dengan senyum meremehkannya. "Coba tanya pada diri lo sendiri, dobe,"
"'Tanya pada diri lo sendiri' apa maksudnya coba?" tanya Naruto pada dirinya sendiri, menghela nafas kebingungan.
Secara tiba-tiba Naruto merasakan sebuah tangan mencengkram bahunya dari belakang. 'Rumah ini 'kan kosong! Tou-chan dan Kaa-chan lagi pergi… cuma ada aku… jangan-jangan…' Naruto, yang sangat membenci yang namanya "Mahluk halus" menjerit sejadi-jadinya, menarik tubuhnya menjauh dari tangan yang tadi mencengkram bahunya lalu menemukan dirinya berada di ujung tempat tidur.
"HAYOOO!" teriak suara tepat di sebelah telinganya.
DBRUKKKK! Bunyi benturan yang berasal dari kamar Naruto di lantai dua menggema di kediaman Namikaze.
"Tou-chaaaaaan!" rintih Naruto kesal, menarik bangun tubuhnya, mendapati Minato tengah tertawa di pojok tempat tidurnya.
DBUK! KLONTANG! BRUKK! BLAM! "ADA APA?" Pintu kamar Naruto menjeblak terbuka, memperlihatkan Kushina Namikaze tengah memegang pisau dapur ditangannya berdiri di bibir pintu dengan wajah panik dan khawatir.
Secara konstan Minato berhenti tertawa. Naruto yang duduk di lantai memanyunkan bibir sambil menunjuk Minato dan berkata; "Tou-chan iseng, ngagetin aku sampai jatuh ke lantai!"
Hening.
Keluarga Namikaze saling pandang selama beberapa menit.
Kushina menghela nafas, memutar matanya sambil meninggalkan kamar, tentunya sesudah memberi Minato tatapan kesal. Minato dan Naruto bisa mendengar Kushina mengumpat tentang "Suami dan Anak Yang Tidak Bisa Tumbuh Dewasa"
"He, sorry Naruto, Ibumu dan aku baru saja pulang, kita bawa ramen tuuh di bawah!" ujar Minato menepuk pundak Naruto kemudian membantu putra tunggalnya bangun dari lantai.
"Hn," jawab Naruto, membuat Minato mengangkat satu alisnya.
"'Hn'?"
"Hn."
"Kamu terlalu banyak bergaul dengan Uchiha." kata Minato memanyunkan bibirnya.
"Tou-chan bilang begitu, tapi masih bolehin aku main sama Obito." jawab Naruto memutar matanya.
"Obito itu pengecualian. Ayo makan!" ajak Minato keluar dari kamar Naruto, berjalan menuju tangga ke bawah.
"Iya iya!" jawab Naruto melepas blazer sekolahnya, meninggalkannya hanya memakai t-shirt jingga dengan hoodie dan celana hitam yang biasa dipakainya sekolah. Sebelum ia sempat keluar kamar, dering ponsel menyapa telinganya.
Dengan refleks Naruto melempar dirinya ke atas tempat tidur, langsung menyambar ponselnya dan membuka inbox-nya.
From: Hina-chan
To: me 05:47 PM /17/5/xx
Ggga sengaja… ke-klik. Mmaaf. Iyaaa... :)
Naruto tersenyum.
#x#x#
Kamar Hinata, lantai dua kediaman Hyuuga…
From: Naruto-kun
To: me 05:48 PM /17/5/xx
Lha? Kenapa maaf? Hehe, ga papa lah…
.
.
Yang seharusnya minta maaf itu aku, maafkan aku yaa
Hinata terdiam sesaat, lalu tersenyum pada layar ponsel lavender-nya.
Maaf kenapa?
Hinata menggenggam erat ponselnya, berharap ponsel itu berdering dan bergetar di dalam tangannya.
From: Naruto-kun
To: me 05:51 PM/17/5/xx
Itu… yang kemaren… aku ga… aku ga sengaja.
SRET! Aliran darah ke arah wajah Hinata mencepat. Hinata bisa merasakan efek aliran darah yang mencepat membuatnya pusing. Tanpa sadar wajah Hinata merona merah begitu mengingat kejadian sore kemarin.
Aaaanu… gga papa kok. I ddon't mind.
From: Naruto-kun
To: me 05:55 PM /17/5/xx
Really? I felt really guilty right know.
Rona merah pada pipi Hinata bertambah gelap, jarinya yang bermain di atas key pad ponsel-nya bergetar hebat saking gugupnya.
Don't bee. I mmean it. I dddon't mind receiving aaa kiss… from you.
Hinata menundukkan kepalanya dalam diam mengumpat betapa bodoh dirinya menjawab SMS Naruto dengan kata-kata seperti itu.
#x#x#
Kamar Naruto, lantai dua kediaman Namikaze…
'Haa? Hinata minta dicium?'
… beneran? Kala gitu nanti kucium lagi!
Send.
Hening.
Naruto sama sekali tidak sadar apa yang dikirimnya sampai akhirnya pemuda berambut kuning cerah itu membuka sent messages untuk melihat apa yang baru saja dikirimnya.
'… ….BEGOOOOO! NARUTO LO BEGOOOO! TOLOOLLLL!' jerit Naruto di dalam kepalanya, panik setengah mati.
Oke, oke. bercanda. Jangan diambil hati yaa! Aku udah disuruh makan tuh, udah dulu yaa? xD
Naruto cepat-cepat menulis SMS dan mengirimnya. Untung baginya, di sisi lain kota, gadis berambut indigo belum sempat pingsan akibat membaca SMS-nya yang barusan.
Driiiing.
From: Hina-chan
To: me 06:03 PM /17/5/xx
O… ooh. Ya udah. Gggga ppapa kok… bye….
.
.
.
.
pps. Aaku boleh SMS laggi 'kan kappan-kapan?
Senyuman Naruto seakan melebar melebihi batas wajahnya membaca jawaban sang gadis.
Byeeee~
.
.
.
ps. Boleh. :D
Sebenarnya, apa yang tengah dirasakan olehnya?
To_be_continued
End Note: Saya rasa interaksi antara anggota keluarga Namikaze agak sedikit... Out of Caharacter... kalau di canon, hubungan Naruto dan orang tuanya agak jauh... mengingat mereka tidak hadir dalam awal kehidupan Naruto... oh well. *shrug*
Hn? Surat dari Lavender Snow? ah. surat itu bakal diungkit lagi di chapter depan... :D
Chapter ini lebih panjang dari yang saya duga (dan lebih panjang dari chapter kemaren pula) And I'm sorry for my lateness in updating story. SMA RSBI test and graduation ceremony is a pain in the ass. Really. #CURHAT #ABAIKAN
Don't forget to click "REVIEW" button. Please. *memajang muka melas*
