Summary: Tuhan! Bisakah kau kutuk guru sialan itu? Dia mengganggu di saat yang tidak tepat!
Pairing: USUK, AsaKiku, JapTai, HongTai, KoreHong, RoChu, and many more.
Warning: OOC, TYPO, SINET-PHAIL-GAJE-ALAY-LEBE
Disclaimer: I do not own Hetalia or anything
Hetalia (c) Hidekaz Himaruya -sensei
Alfred's POV:
Keluar dari UKS itu bebas, sembuh itu menyenangkan! Aku benar-benar sudah sembuh dari… Umm… Penyakit? Yang kudapat dari Ivan. Aku memutuskan akan menemui Arthur sekarang! Aku benar-benar merindukannya,
"Al! Al-san!"
Suara itu… Thai? Aku membalikkan badanku dan benar saja! Thai berlari ke arahku dengan tergesa-gesa,
"Oi, Thai! Ada apa mencariku?"
"Al-san, kumohon! Kumohon!" dia membetulkan kacamatanya lalu melanjutkan, "jangan buat Viet mengejarku lagi! Kumohon!"
"H-ha? Viet? Aku sudah tidak ada hubungan lagi dengannya"
"Kumohon, kumohon!" tatapan Thai benar-benar membuatku kasihan. Dia menggenggam tanganku dengan erat, sepertinya persetujuanku adalah hal terindah yang pernah dia dapatkan
Aku melepaskan genggaman tangannya perlahan lalu menjawab, "Tunggulah… Bersabarlah, Viet itu baik, terutama pada orang yang dia cintai"
Aku tidak ingin berlama-lama mengurusi Thai di sini jadi, aku segera pergi menemui Arthur di kelas. Aku tidak akan pernah mau berurusan dengan Viet lagi. Berhati-hatilah, Thai, semoga kau benar-benar orang yang dia cintai.
OwOwOwOwOwO
Viet's POV:
Thai-san, dimana kau? Hufft… Dimana laki-laki itu? Aku siudah mencarinya sejak bel istirahat hingga sekarang. 5 menit lagi bel pelajaran akan berbunyi!
"Thai-san!" teriakku seraya berlari mencarinya dimana-mana
Mengapa dia terus menghindariku? Apa salahku padanya? Apakah aku punya hutang dengannya? Apakah wajahku terlalu jelek? Apakah badanku terlalu gemuk? Apakah aku terlalu pendek? Aku benar-benar tidak mengerti! Padahal aku benar-benar mencintainya. Sudah 10 kali lebih aku menyatakan perasaanku padanya tapi selalu saja ditolak dengan alasan, "Aku tidak enak dengan Alfred-san" Alfred sialan!
Thai-san, dimanakah kau—AH! Itu dia! Thai-san sedang menggenggam tangan… Alfred? Jadi rupanya Thai-san cinta pada Alfred? Bukan padaku? Jadi… Alfred lah penyebab semua ini? Penyebab Thai-san selalu menolak perasaanku? Aku segera bersembunyi dibalik tembok terdekat dan mengamati gerak-gerik mereka dan—Alfred melepas genggaman tangan Thai-san, memberitahu sesuatu, lalu pergi meninggalkan Thai-san yang sedih! Dia menolak perasaan Thai-san dan menyakiti hatinya! Meskipun aku telah berulang kali ditolak oleh Thai-san, tapi… Aku mencintai Thai-san! Aku tidak akan membiarkan sesuatu yang buruk menimpa Thai-san! Awas kau Alfred! Aku…akan…membalasmu!
OwOwOwOwOwO
"Ooh… Begitu rupanya, tidak ada alasan lain?"
"Tidak. Aku benci padanya! Kau kan mantannya juga, apa kau tidak benci padanya?"
Sekarang istirahat kedua. Aku sedang makan di kantin dan berbincang dengan salah satu temanku yang merupakan mantan dari Alfred juga, Natalia Arlovskaya.
"Untuk apa? Dia tidak melakukan sesuatu yang buruk. Dia malah membantu Toris"
"Tapi—AKH! Ayolah, sesuatu yang membuatmu benci padanya karena dia mantanmu?"
"Tidak ada"
"Perlakuannya padamu?"
"Dia baik"
"Melakukan sesuatu yang buruk padamu atau pada orang yang kau cintai?"
"Tadi kan sudah kubilang, dia malah membantu Toris"
Aku benar-benar kehabisan kata-kata. Apakah aku yang aneh atau Natalia terlalu payah untuk menyadari bahwa Alfred itu menyebalkan? Memang sih, aku dengar, setelah Alfred putus dengan Natalia, dia membantu Toris mendekati Natalia dan membantu Natalia untuk memahami Toris sehingga mereka bisa berpacaran sampai sekarang, tapi… Tidak adakah hal buruk yang diberikan Alfred pada Natalia?
"Ah, sudahlah. Aku sudah selesai" ujarnya memecah keheningan
"Natalia! Kau sudah selesai?" terdengar seseorang memanggil Natalia sambil mendekati kami
"Sudah. Ayo pergi" Natalia bangun dari kursi-nya dan menunggu 'pangeran'nya datang menjemputnya. Benar saja! 'Pangeran'nya atau kita ketahui, Toris segera menggandeng tangannya sambil tersenyum. Aku bisa melihat wajah Natalia yang merah menahan malu dan dia 'mematahkan' tangan Toris 'lagi' dan meninggalkan Toris yang kesakitan di belakangnya. Sungguh, wanita yang aneh.
Ah! Aku tidak bisa berlama-lama berdiam di sini, aku harus melakukan sesuatu! T-tunggu, itu kan Thai-san? Dia sedang berdiri di dekat pintu kantin? Untuk apa? Ini kesempatan bagus! Aku segera menghampirinya,
"Thai-san, jangan khawatir, aku mengerti perasaanmu" dia tampak bingung lalu aku melanjutkan, "aku akan melakukan sesuatu untukmu, lihat saja nanti!"
Aku segera pergi meninggalkan Thai-san yang tercengang.
OwOwOwOwOwO
Ini dia! Ramuan dari Nesia. Aku yakin ini akan membuatku berhasil. Hanya tuangkan satu tetes ke dalam kopi Alfred, dan dia tidak akan membuka matanya selama 1 bulan. Aku hanya tinggal mencari kopi yang akan diminum Alfred setelah olahraga ini, lalu menuangkan ini ke dalamnya.
Aha! Aku menemukannya~ Kopi milik Alfred! Aku segera berjalan perlahan-lahan menuju termos berisi kopi itu dan menuangkan 1 tetes ramuan Nesia ke dalamnya. Tunggu, 1 bulan itu kurang lama dan kurang memuaskan. Bagaimana kalau, aku tuangkan semuanya? Ya! Ya! Itu pasti akan membuatnya tertidur selamanya! Ahahahahaha!
OwOwOwOwOwO
Arthur's POV:
"A-al! Lepaskan aku! Aku tidak mau!"
"Ayolah, Artie~ Satu teguk saja~ Aku jamin, rasanya berbeda dengan kopi buatan kakakmu"
Benar-benar menjengkelkan. Tadi, saat kami olahraga, kami membicarakan tentang minuman yang kami sukai dan tentu saja, Alfred membawa nama minuman 'tercinta'nya yaitu, Kopi. Dia menceritakan semuanya tentang kopi, tentang jenis-jenis kopi, kopi apa yang paling enak, yang paling hebat, hingga sejarah bagaimana dia bisa cinta pada kopi. Semua itu terpaksa membuatku menceritakan sejarah bagaimana aku tidak suka kopi. Itu karena kakakku! Scott! Dia membuatkanku kopi yang rasanya paling tidak enak se-dunia! Aku dirawat 1 minggu di rumah sakit hanya karena kopi buatan Scott itu. Lalu, Alfred memaksaku meminum kopi buatannya yang katanya 'SANGAT ENAK'
"Ini…" katanya sambil memberikan 1 cangkir (tutup termos) berisi kopi buatannya
Aku tidak bisa mengelak karena dia pacarku. Kalau aku menolak, dia akan kecewa, sedih, lalu menganggap aku tidak cinta padanya. Terpaksa aku menerima-nya dan meneguknya.
Reaksi pertama. Hey, ini tidak buruk… Rasanya enak
.
.
Reaksi kedua. Ukh, kepalaku sakit
.
.
Reaksi ketiga. Ada apa ini? Mataku rasanya ingin terpejam
.
.
Reaksi keempat. K-kenapa tubuhku lemas?
.
.
Reaksi kelima. Dimana aku? Kenapa semuanya gelap?
OwOwOwOwOwO
Alfred's POV:
Kopi itu enak! Sungguh! Kalau tidak, kenapa aku bisa tergila-gila pada kopi? T-tentu saja aku jauh lebih tergila-gila pada Arthur, tapi… Kopi juga bisa membuatku tenang. Arthur harus merasakan minuman yang selalu membuatku tenang ini, supaya dia bisa tenang juga!
"Tidak, terima kasih… Aku sudah cukup dengan kopi"
"Ayolah, Art~ Satu teguuuuuuuk saja…"
"Eeh, ok—Satu teguk saja"
Aku menarik lengannya dan berlari kecil ke dalam kelas. Itu dia! Termos berisi kopiku sudah menunggu di atas meja. Aku segera mengambilnya lalu menuangkan kopinya di tutup termosku lalu memberikannya pada Arthur,
"Ini…" ujarku sambil menyodorkan tutup termos berisi kopi
Arthur mengambilnya dengan wajah ragu-ragu lalu segera meminumnya. Dia tersenyum sambil menjilati bibirnya,
"Hei, ini enak—" tiba-tiba, dia diam mematung
"Arthur?" lalu, dia pingsan. Dia terjatuh!
"Art! Arthur!"
Reflek, aku menjatuhkan termosku dan menggendong Arthur, lalu berlari ke UKS. Karena aku berlari, banyak orang yang kutabrak atau kusenggol sehingga mereka kebingungan.
"M-maafkan aku, Kiku!"
"T-toris! Maaf-maaf!"
"Ah! Maaf, Ivan!"
"Maaf, Francis! Aku sedang terburu-buru!"
Dan karena itulah, orang-orang yang kutabrak justru mengikutiku ke UKS. Aku harap, dokter sedang bertugas di UKS—
Akhirnya aku sampai di UKS dan ternyata, tuhan tidak mengabulkan doaku. Dokter sedang tidak bertugas di UKS. Hari ini, jadwal libur untuk dokter UKS. Bagaimana ini?
"Ah, tidak ada dokter, da…"
"Alfred-san, ada apa ini?"
Aku menggeletakkan Arthur di kasur UKS dan mulai menceritakan semuanya pada teman-teman yang ada di situ
"Jadi, Anglettere pingsan karena minum kopi?" tanya Francis menyimpulkan
"Mungkin…" Jawabku sedikit setuju
"Tapi, setauku kopi tidak punya zat seperti itu" potong Natalia
"M-mungkin… Ada racun yang tidak sengaja masuk?" tambah Toris
Itu dia! Racun! Tunggu, aku tidak punya racun di rumah dan aku tidak pernah memasukkan racun ke dalam minumanku. Maksudku, untuk apa? Apa gunanya membunuh diriku sendiri dengan racun?
"Maaf, Alfred-san—Apa kau masih punya kopi-nya?" tanya Kiku
"Untuk apa?" tanyaku bingung
"Tentu saja untuk dijadikan sample, Amerique~" jawab Francis
Aku mengangguk dan segera berlari ke kelas untuk mengambil termos kopiku
OwOwOwOwOwO
"Bagaimana, Ed?"
"Benar ada racun di kopi ini, Al-san"
Saat ini, kami sedang ada di lab IPA untuk memeriksa kandungan di kopi-ku dengan bantuan Eduard. Untung saja dia sedang berpaca—maksudku, sedang bertugas di lab IPA, jadi kami tak usah repot mencarinya ke sekeliling sekolah,
"R-racun sungguhan? Apakah berbahaya, Ed?" tanya Toris
"Bisa dibilang, ya… Malahan, SANGAT berbahaya—Satu tetes saja bisa membuat kita tertidur selama 1 bulan. Tapi, kandungan racun di kopi ini melebihi kandungan racun dalam satu tetesnya"
Aku benar-benar shock. Rasanya lemas. Aku benar-benar takut Arthur tidak akan terbangun untuk selama-lamanya. Aku tidak mau!
"Apa ada penawarnya, da?" tanya Ivan sambil menepuk bahu Eduard
"T-tentu saja ada, Ivan-sama…" jawab Eduard sambil bergidik ketakutan, "tapi, yang tahu penawarnya adalah… Pembuat racun ini sendiri"
"A-aku takut A-arthur-senpai tidak akan bangun lagi…" tangis Raivis (yang entah kenapa bisa ada di sini. Oh iya! Tadi dia sedang berpacaran dengan Eduard!)
"Ini kasus yang menyusahkan" keluh Francis sambil menguncir rambutnya, "siapa yang akan membantuku mengerjakan tugas-tugas OSIS jika Anglettere tidak akan bangun lagi?"
Aku benar-benar emosi. Bisa-bisanya Francis berbicara seperti itu dengan suara tenang dalam keadaan seperti ini! Ini menyangkut jiwa Arthur! Jiwa pacarku! Aku segera memojokkannya di tembok dan menonjok wajahnya,
"O-OOOI! Kau ini kenapa, Amerique?"
"Bisa-bisanya kau berbicara santai seperti itu! K-kalau Arthur tidak bangun… Bukan hanya kau yang repot tau! K-kau hanya ingin dia bangun untuk membantu-mu menyelesaikan tugas-tugasmu?"
"Amerique…"
Aku terjatuh. Badanku lemas. Aku sudah tidak sanggup menahan air mataku. Arthur… Arthur, kumohon… Bangunlah, Arthur… Kumohon!
"Alfred-senpai, jangan menangis…" hibur Raivis yang mencoba tidak menangis tapi akhirnya menangis juga
"Kenapa kalian sibuk sendiri, da?" tanya Ivan pada Kiku dan Natalia yang langsung memecah keramaian dari tangisan dan kesedihan kami
"Alfred-san! Kurasa kami tau siapa pembuat racun ini!" ujar Kiku tiba-tiba
"Jangan khawatir, Al. Kami akan membawa orang itu ke sini sekarang" tambah Natalia
Lalu, Kiku dan Natalia berlari keluar ruangan dengan alasan, 'Mencari si Pembuat Racun' Kami hanya bisa duduk menunggu di lab,
"Kira-kira, bagaimana keadaan Arthur-san saat ini ya?" tanya Toris memecah keheningan
"Ah iya, da! Aku akan bertanya pada Yaoyao" jawab Ivan sambil mengeluarkan handphone-nya. Ya, kami telah menyuruh Yao dan Mei untuk menunggui Arthur di UKS, "Yaoyao, da? Bagaimana keadaan Arthur?"
Mata kami sekarang tertuju pada Ivan yang sedang menelepon Yao. Mudah-mudahan, ada keajaiban datang yang membuat Arthur sudah sadar tapi,
"O-ooh… Begitu? Baiklah—Terima kasih, Yaoyao" ucap Ivan sambil mengangguk dan menampakkan senyum samar-nya, "Iya—Ya lubyu tebya, Yaoyao"
Ivan menutup flip handphone-nya lalu menoleh ke arah kamu dan menggelengkan kepalanya. Itu hanya membuatku semakin stress dan mengeluarkan banyak air mata. Natalia! Kiku! Dimana kalian?
"Entah kenapa, aku berpikir orang itu adalah si pembuat racun" ujar Toris tiba-tiba memecah keheningan
"Ya—Selain Arthur-san, dia juga penyihir yang suka membuat racun-racun berbahaya seperti itu" tambah Eduard menyetujui pendapat Toris
"Tunggu dulu, kalian! Ceritakan pada Francis-niisan, oui?" potong Francis sambil mendekati Trio Baltik
Mereka berempat berkumpul membuat sebuah lingkaran dan mulai berdiskusi. Aku dapat melihat Francis mengangguk tanda menyetujui pendapat Trio Baltik,
"Hmm… Entah kenapa aku setuju—Kalian tau, dulu aku pernah menjajahnya"
"Kami tau, Francis-san… Kau tau itu sejak dulu kan?"
Francis mengangguk. Aku menoleh pada Ivan yang sedang melihat mereka ber-4 sambil tersenyum samar. Sepertinya, dia juga sudah mengetahui pelakunya
'BRAAAAK-!' tiba-tiba, pintu lab di buka dengan kasar
"Alfred-san, kami berhasil membawa pelakunya!" ujar Kiku senang sambil terengah-engah
"K-kiku?" balas kami bingung
Natalia masuk sambil membawa (lebih tepatnya menyeret) seorang perempuan berambut hitam dikuncir hitam masuk ke dalam. Di belakangnya, ada laki-laki bermbut pirang dan jabrik mengikuti dengan wajah marah,
"OOI-! Kenapa kalian menuduh pacarku? Jangan kasar-kasar padanya!"
"K-kenapa Nether ada di sini?" tanya Francis bingung
"Dan pelakunya…" tambah Toris tercengang
"Jadi dugaan kami benar?" tambah Eduard sambil membetulkan kacamatanya
"Nesia-senpai?" tanya Raivis setengah menjerit
.
"L-lepaskan aku! Aku akan menceritakan semuanya jika kalian melepaskanku!"
Notes:
Amerique: America
Anglettere: England
Ya lyubyu tebya: Aku mencintaimu (Russian)
Maaf bila terdapat kesalahan informasi dan penulisan yang salah atas kata-kata yang saya tulis
Hai, minnaaaaa~ Ice telah kembali membawa chapter baru /plak/ maaf ya lama banget soalnya Ice susah pegang komputer (maksudnya, pergi mulu) jadi susah lanjutinnya. Ide-nya juga berubah-ubah mulu jadi labil gitu TTvTTa
Ini OOC banget ya? Kenapa Viet jadi SUPER EVIL banget di sini? Trus, Thai jadi SUPER COWARD banget TTvTTa maafkan aku! /ditimpagajah /dipukulakedayung
Pokoknya intinya, selamat membaca & menikmati... Thanks yang udah review di chapter2 sebelumnya yaa X3
DAH! Ingat motto kita untuk hidup damai dan sejahtera (?)
RnR pweaaaaase~ OwO
