Awan mendung yang menyembunyikan berkas-berkas cahaya mentari pagi tidak juga menambah semangat murid-murid sekolah, malah, kalaupun bisa, awan mendung yang meneduhi kota Konoha tersebut menambah kemalasan murid-murid tersebut. Tak terkecuali Shikamaru, pengurus kelas X-F lelaki muda keluarga Nara yang terkenal akan kemalasannya yang melebihi stadium siaga 1.

"Ohayooooohhhhh," sapa Shikamaru sembari membuka mulutnya lebar-lebar, berusaha menghirup sebanyak-banyaknya oksigen agar tidak tertidur.

Naruto yang disapanya hanya bisa mengambil beberapa langkah mundur menjauh; berhati-hati agar tidak mencium aroma naga yang dikeluarkan oleh Shikamaru.


a NaruHina fanfic

~By Banci Taman Lawang~

Kolom DUP! Dari; Untuk; Pesan;

Chapter 5: Investigation part 1


"Kalo nguap ditutup dong!" kata Naruto jengkel, mengambil langkahnya kembali mendekati Shikamaru.

"Lo kayak nyokap gue yang selalu kasih nasihat 'sopan' sana-sini," jawab Shikamaru mengangkat bahu tanpa memindahkan pandangan matanya pada Naruto.

"Ohayou juga," ujar Naruto membalas, mengabaikan komentar olokan Shikamaru yang membandingkan ibu sang pemuda dari keluarga Nara dengan Naruto yang jelas-jelas berbeda 180 derajat.

Shikamaru dan Naruto berjalan dalam diam menuju sekolah. Tanpa perlu mengucapkan apa-apa mereka berdua hanyut dalam kenyamanan berada di antara satu sama lain, menikmati sensasi udara dingin pagi hari yang ditambah dengan atmosfir sejuk awan mendung yang meneduhi kota Konoha.

"Oi Chouji!" seru Shikamaru ketika sudut matanya menangkap tubuh gempal Chouji–yang berjalan mendekati mereka dari suatu sudut jalan di pertigaan sebelum kompleks Konoha School–dalam jangkauan pandangnya.

"Choujiiii!" seru Naruto melambai-lambaikan tangannya dalam gaya hiperaktif, walaupun jarak Chouji dan dirinya hanya 11 meter.

"Ohayou Shikamaru, Naruto." sapa Chouji berjalan ke arah Shikamaru dan Naruto sambil mengunyah keripik kentang.

"'yo" jawab Shikamaru tersenyum malas, menaruh tangannya ke dalam kantong celananya dengan tenaga, lalu kembali berjalan bersama Naruto dan Chouji.

Trio sahabat masa kecil itu kehilangan alah satu anggota kelompok troublemaker mereka pagi ini; mungkin Kiba sedang menjemput pacarnya ke rumah agar bisa berangkat sekolah bersama-sama.

Tanpa sadar, mata Naruto mengunci pandangannya pada Hinata yang tengah berdiri di depan gerbang Konoha Highschool, ketika dirinya, Shikamaru dan Chouji mendekati gerbang depan dinding pembatas kompleks sekolah tersebut.

"Eh? Ada Hinata! Woi, gue duluan ya guys!" ujar Naruto meninggalkan Shikamaru dan Chouji tanpa menunggu balasan atas ucapannya.

"Kita ditinggalin cuma buat cewe…" ujar Chouji masih sambil mengunyah kripik kentangnya. Sementara Shikamaru hanya bisa mengeluarkan suara tidak jelas dalam kesetujuan.

#x#x#

"Ohayou!" sapa Naruto sambil tersenyum pada Hinata. Hinata yang tidak menyadari kedatangan sang pemuda berambut kuning cerah segera mengeluarkan pekik pelan dalam kekagetan lalu berusaha menenangkan dirinya, berusaha menghapus rona merah di wajahnya.

"Ohayou, N-Naruto-kun."akhirnya Hinata membalas sapaan Naruto dengan suara lembutnya yang, entah kenapa, hampir membuat Naruto meleleh.

"Ehehehe! Hari ini jadi pulang bareng yah?" tanya Naruto masih tersenyum, setelah dirinya menyusun kembali pikirannya yang sempat hilang ketika mendengar suara lembut Hinata.

"Ah… i-i-iya." jawab Hinata lagi, menundukkan kepalanya, tak ingin mempermalukan diri sendiri dengan menunjukkan ekspresi wajahnya yang ia percayai terlihat konyol saat ini.

"Pelajaran pertamanya apa ya? Aku lupa. Eheheh, maaf ya Hinata." tanya Naruto, sedikit kecewa akan gerakan Hinata yang menundukkan kepalanya; sang pemuda berusaha meringankan suasana dengan membuat dirinya terlihat bodoh.

"Pelajaran pertama… kelas seni… dengan Yamato-sensei," jawab Hinata sebelum dirinya mendengar gerutu kesal dari pemuda di sebelahnya.

"E-eh? Anu, kenapa Naruto-kun?" tanya Hinata sedikit khawatir akibat gerutuan Naruto.

"Ah, tidak apa-apa, aku cuma lupa menyelesaikan tugas makalah hasil penelitian sejarah pahatan kayu yang kemaren minggu ditugaskan lho…"

#x#x#

Pada akhirnya, setelah setengah jam berdebat dengan suara pelan dan dalam ketidaknyamanan karena salah tingkah, Hinata membantu Naruto meringankan beban hukumannya dengan membiarkan sang pemuda berambut kuning cerah mengfotokopi tugas makalahnya.

Semuanya berjalan lancar pada kelas pertama, Naruto yang duduk di sebelah Hinata pada barisan belakang tidak banyak menimbulkan keributan yang membuat pemuda itu mendapat hukuman; membuat Naruto seperti menikmati nyanyian yang ditimbulkan gemeritik bunyi hujan yang terdengar jelas.

Hukumannya untuk membantu kantor MaDing pun berjalan lancar, seakan pemuda berambut kuning cerah itu melakukannya dengan senang hati tanpa disuruh.

Tanpa sadar, dengan hanya memandang kea rah Naruto, masalah yang telah mengerumuni fokus pikiran Hinata teredam hingga tak mencuat kepermukaan kembali; sampai suatu percakapan pada jam pulang sekolah…

"Yooo! Shion! Kiba!" teriak Naruto dari kejauhan, berjalan pelan bersama Hinata menuju tempat berdirinya sepasang kekasih, Shion dan Kiba, di depan gerbang kompleks sekolah yang menghadap ke arah barat, menciptakan efek backlighting* terhadap sosok sepasang kekasih tersebut.

Dengan hati-hati tanpa menginjak genangan air hujan yang ditimbulkan akibat hujan tadi pagi, Hinata berjalan bersama Naruto sambil berusaha meredam rona merah di wajahnya yang hangat.

"Hei, Hinata! Naruto!" teriak Kiba kembali, melambaikan tangan kirinya yang tidak terjalin dengan tangan Shion.

"Gue JB* ya? sekalian nganter Hinata nih. Lo berdua bukan mau jalan atau apa 'kan?" tanya Naruto setelah Hinata serta pemuda berambut kuning cerah tersebut mendekati Kiba dan Shion.

"Ah, boleh kok. Lagipula gue udah janji sama nyokapnya Shion ga boleh bawa Shion jalan kalau bukan hari libur," jawab Kiba tersenyum menunjukkan gigi taringnya yang secara abnormal lebih panjang dari pada gigi manusia yang lain, membuat wajahnya terlihat seperti anjing [yang pastinya terlihat imut untuk gadis-gadis seumurannya].

"Huh, mama memang overprotective, apalagi Taruho-nii, ngeselin!" ujar Shion memanyunkan bibir layaknya anak balita yang tengah mengambek, membuat Kiba, Naruto dan Hinata tertawa kecil melihat sikapnya yang kekanak-kanakan.

Shion adalah sepupu jauh Naruto dari keluarga ayahnya, keluarga Namikaze yang tersebar diseluruh penjuru negara di dalam benua Elemental yang terletak di tengah laut Arctic.

Mereka melanjutkan perjalanan pulang mereka dengan berjalan pelan, menikmati matahari yang tenggelam dalam slow motion*.

"Oh ya, Naruto,"

"Hmm?"

"Kemarin gue liat lo di kantor MaDing, ngapain lo?"

"Ngerjain hukuman, apaan lagi?" gerutu Naruto, namun ekspresi wajahnya mengkhianati nada bicaranya; diingatkan tentang hukumannya, Naruto tersenyum.

Hinata, satu-satunya yang menyadari senyuman yang tertempel pada wajah Naruto tiba-tiba merona merah. Jantungnya berdetak cepat tanpa ia kendalikan.

"Sabar ya Naru," ujar Kiba setengah bercanda setengah simpati, menahan tawa mendengar sahabat masa kecilnya kembali dihukum layaknya murid sekolah dasar.

"Ganbatte-ne! Naruto!" ujar Shion juga berusaha menahan tawa, berusaha mengembalikan mood Naruto yang ia kira telah hancur.

DHEG!

Naruto terdiam sesaat, memandangi Shion.

"Shion… kamu pernah ngirim surat ke kolom DUP?" tanya Naruto, memicingkan matanya, sedikit curiga.

DHEG! DHEG! Hinata mulai merasa tidak nyaman dengan percakapan ini, berusaha membuat dirinya tidak terlihat, tapi tetap berada di sana.

"Huh, engga tuh, kenapa?" tanya Shion dengan wajah polosnya yang penasaran.

"Aku dapat surat gitu, isisnya 'Ganbatte! Naruto-kun!'" jawab Naruto sambil mengangkat tangannya dan mengaitkan dua jari, seperti menggambar tanda kutip pada udara.

DHEG! Jantung Hinata makin berdebar cepat.

"Uooow?" ujar Shion sedikit tidak yakin, ia sama sekali terdengar tidak terkesan.

"…" Naruto memandang Shion dengan tatapan bosan.

"Itu mah hal biasa bagi seorang penggemar rahasia. Kacangin aja, toh susah dilacak." jawab Shion tak acuh, mengangkat bahu-nya.

Hinata membeku. Dalam sepersekian detik, Hinata sangat ingin meneriaki Shion karena memberika saran yang menurutnya salah, sedetik kemudian Hinata hanya bisa terdiam sambil membatin dalam hati, 'Jangan! Tolong jangan kacangin!'

"Tapi aku pengen tau." jawab Naruto dengan keras kepala sambil memanyunkan bibirnya.

"Kok penasaran banget sih?" tanya Shion yang tengah mencibirkan bibirnya ke samping, berusaha menahan kekesalan.

"Soalnya kalo di film-film, surat kayak gini bisa nganterin kamu ke jodoh kamu,"

DDHHEGG!

"HAHAHAHA! Tahayul film macam apaan tuh?" tawa Kiba mencengkram perutnya, mendengar alasan Naruto yang tidak masuk akal.

"Icha-icha." jawab Naruto mengangkat bahunya.

Hening. Icha-icha adalah film porno terkenal yang diangkat dari sebuah novel. Hinata, Shion dan Kiba menatap Naruto dengan pandangan tidak percaya.

Setelah sekian detik, Kiba dan Shion hanya bisa menepok jidat mereka.

"Nar, lo jangan mengontaminasi pacar gue dengan hal-hal gak bener ya,"

"Ngapain! ENAK AJA GUE NGONTAMINASI PACAR LO! Lo kira gue apaan? Bakteri Ecchi-echa-echoli?"

"Hah? Emang ada bakteri Ecchi-echa-echoli?"

"Gak ada lah! Wah, lo! Kayak ga tau gue aja! Gue ngasal, yo' man!"

Sekali lagi, Kiba dan Shion hanya bisa menepok jidat mereka. Hinata hanya bisa menahan tawanya.

"Naruto masih main sama paman tua mesum Jiraiya itu?" tanya Shion tak percaya.

"Errrr, ya. Duh, Shion, beliau 'kan guru bisnis ayahku." jawab Naruto mengangkat bahunya lagi.

"Naruto! Gue ga percaya lo baru aja ngomong pake hormat dan bahasa formal! 'Beliau'? 'BELIAU'?" ujar Kiba dengan wajah shock, bertingkah terlalu berlebihan.

"Ga udah pake toa' dong, sakit tau kuping gue." ujar Naruto mengusap-usap telinganya.

"Ga penting deh, Kiba." kata Shion memandangi Kiba dengan jengkel lalu memutar badannya menghadap Naruto "So? Naruto-nii… mau tau ini siapa?"

"Ya iyalah Shion, terus ngapain kutanya kalau ga mau tau?"

DHEG!

"Naruto punya suratnya?"

Naruto merogoh-rogoh tasnya sambil berjalan, "Nih, selalu kubawa di dalam tas."

DHEG!

"APASIH ITU DARI TADI BUNYI 'DHEG'?" teriak Shion kesal tanpa sebab.

Hinata menepok jidatnya.

"A-anu, udah, tolong dicuekkin aja itu suara," ujar Hinata yang sebenarnya sedikit terganggu juga dengan bunyi yang timing-nya pas dengan percakapan yang tengah berlangsung di hadapannya.

Setelah kekesalannya meredam, Shion menarik kertas surat dari tanagn Naruto dan mulai mengamati surat tersebut. "Menurutku sih, ini bukan cuma kerjaan orang iseng… kalau mau tau seperti apa orangnya tanya sama Ino deh."

JEGEEERRR!

'Ja-Jangan! Ino tau bagaimana tulisanku! Ke-Kenapa harus Inooooo?' batin Hinata menjerit dengan histeris di dalam hati.

End_of_chapter


End Notes: [ada beberapa note penting setelah curhatan saya… dan ada preview chapter 6!] YAY! CHAPTER LIMAAA! *dangdutan* maafkan saya karena keterlambatan update chapter baru ini. Ini disebabkan dengan tablet baru saya, bukannya menyelesaikan chapter baru fanfiction ini terlebih dahulu, saya malah mengerjakan request gambar di deviantart… *hantam kepala dengan dinding* tapi saya bersyukur karena saya telah menentukan isi chapter ini jauh sebelum saya mengembangkannya, membuat pekerjaan saya jadi lebih mudah :D


Penting 1: yup, untuk menjawab pertanyaan, saya membayangkan kalau dunia Naruto bergabung dengan dunia kita, menciptakan benua baru yang saya sebut benua Elemental, mengingat dalam manga-nya sendiri, seluruh dunia ninja terbagi dalam beberapa negara yang didasarkan dari elemen alam. Begitulah.

Penting 2: mungkin sebagian dari anda semua sudah mengira kalau fanfiction ini tidak mempunyai plot sama sekali, sehingga membuat saya susah untuk terus meng-update-nya secara teratur… tapi, yah, nikmati saja chapter baru ini. Dan tetap sabar menunggu chapter esok. please D:

*backlighting = [efek dalam fotografi] atau efek cahaya yang datang dari belakang objek focus yang menembus ke depan lensa yang membuat objek focus lensa tidak terlihat dengan jelas.

*JB = atau Join Bareng, term atau istilah yang sering digunakan oleh para twittard di twitter, menunjukkan pemakai term ini ikut dalam sebuah percakapan tanpa terlihat SKSD… begitulah *rolleyes*

*slow motion = gerakan lambat yang sering menciptakan efek dramatis.


PREVIEW chapter 6 of Kolom DUP!

"Tulisan ini menggambarkan seseorang yang mempunyai hati yang lembut... dan menginginkan kasih sayang—"

"—Seseorang yang menyukai warna ungu lavender."

EEEEHHHH!

"—Hinata maksudnya?"


So… uhh, review?