Summary: Tuhan! Bisakah kau kutuk guru sialan itu? Dia mengganggu di saat yang tidak tepat!

Pairing: USUK, AsaKiku, JapTai, HongTai, KoreHong, RoChu, and many more.

Warning: OOC, TYPO, SINET-PHAIL-GAJE-ALAY-LEBE

Disclaimer: I do not own Hetalia or anything
Hetalia (c) Hidekaz Himaruya -sensei


"Dan pelakunya…" tambah Toris tercengang

"Jadi dugaan kami benar?" tambah Eduard sambil membetulkan kacamatanya

"Nesia-senpai?" tanya Raivis setengah menjerit

"L-lepaskan aku! Aku akan menceritakan semuanya jika kalian melepaskanku!"

OwOwOwOwOwO

"B-begitulah ceritanya…"

Gadis itu, Nesia telah selesai menceritakan tentang racun yang dia buat untuk…Viet,

"Karena itu.. Aku kaget pas ngeliat kak Alfred masih sehat sehat aja," tambah Nesia lagi

Kurang ajar! Ingin rasanya kucincang gadis ini karena telah membuat Arthur sakit. Dan, kenapa hanya demi uang dia mau membantu Viet membalaskan dendamnya—padaku? Lagipula, aku bingung apa salahku pada Viet. Setahuku, aku baik-baik saja dengan Viet. Aku masih sering mengajaknya mengobrol, tidak pernah menjahatinya, atau apapun itu. Apa dia masih cinta padaku? Tapi—bukankah dia cinta pada Thai? Kenapa jadi benci padaku? Apa salahku?

"Kenapa Viet melakukan ini?" tanyaku sambil menahan emosi-ku pada Nesia

"E-eh… Itu…"

"JAWAB AKU NESIA!" bentakku pada Nesia

"BERANI SEKALI KAU MEMBENTAK NESIA?" ujar Nether marah sambil mengacungkan tinjunya

"Kak Nether, udah—cukup, aku memang salah," potong Nesia sambil memeluk Nether, bermaksud menahan amarahnya, "Kak Viet bilang, kak Alfred bikin kak Thai sakit hati—Makanya kak Viet marah"

Aku menyakiti Thai? Sejak kapan?

"Hmm, mon cher—benarkah?" tanya Francis dengan tampang tidak percaya padaku

"Aku melukai Thai bagaimana?" tanyaku bingung

Nesia hanya menggelengkan kepala tanda tidak mengerti,

"Omong-omong, Nesia-san—cepat buatkan obat penawar untuk Arthur-san" potong Kiku membawa topik utama mengapa mereka membawa Nesia ke sini

"Aku ga bisa bikin kalo gaada kak Nor," jawab Nesia

"Oh, Nor? Field Trip satu kelas sampai hari Kamis kan?" tanya Eduard sambil tersenyum kaku

Nesia menganggukkan kepalanya, "Ba—"

"Bagaimana kamu bisa tahu, Ed?" tanya Raivis memotong ucapan Nesia (sepertinya dia cemburu)

"Aku ini kan sahabatnya Tino, Nor itu teman satu kelasnya Tino" jawab Eduard sambil merangkul Raivis (sepertinya berusaha menenangkan)

"Aku akan membantumu, da," tawar Ivan sambil menepuk bahu Nesia

Nesia yang ditepuk pundaknya tampak bergetar lalu menggelengkan kepalanya dengan pelan, "G-ga usah, kak Ivan—ahahaha" dan perlakuan Nesia ini mendapat perhatian dari Natalia,

"Kau menolak tawaran dari kakakku—" ucap Natalia setengah berbisik sambil melihat sinis ke arah Nesia

"B-bukan begitu, kak Natalia! Aku Cuma—"

"Cuma apa?" tanya Natalia dengan dingin

"Sudahlah, Natalia… Kalau memang Nesia tidak mau ya sudah" lerai Ivan

Aku masih memikirkan kata-kata Nesia. Aku melukai Thai? Kapan? Apa aku masih sering membuat Thai cemburu? Apakah Thai benar cinta pada Viet? Tapi… perkataannya waktu itu, 'jangan buat Viet mengejarku lagi! Kumohon!'

"Alfred-san—"

"Al-san!"

Aku tersadar dari lamunanku dan melihat Kiku dan Toris sedang duduk di hadapanku sambil melambai-lambaikan tangan mereka di depan wajahku,

"Bagaimana?" tanya Kiku

"Bagaimana apanya?" tanyaku bingung

"Itu… obat untuk Arthur-san baru jadi hari Kamis malam" jawab Toris, "bagaimana, kau setuju?"

Mataku tertuju pada Nesia yang sedang diberikan berbagai macam pertanyaan dari Eduard, Raivis, Ivan, dan Natalia. Francis juga ada di situ tapi dia terlihat sedang panik memainkan handphone-nya,

"Oi, kau kenapa Francis?" tanyaku dari tempat dudukku. Membuat seisi ruangan hening

"Aah, Amerique~ aku sedang berusaha menelepon Den," jawabnya sambil memasang senyum kaku. Matanya tetap tertuju pada layar handphone-nya dan dia tampak panik sekali

Den? Anak aksel yang sudah lulus lalu bekerja jadi guru di sini? Guru yang berpacaran dengan Nor itu? Yaahh, umurnya memang masih sama dengan kami, tapi…

"Dia guru wali kelas Nor—" ucap Francis yang sepertinya tahu aku sedang memikirkannya. Dia mendekatkan handphone-nya lagi ke telinga-nya. Lama kami menunggu sampai akhirnya Francis tersenyum, "Ooi, mon cher~ Apa kabar? Bersenang-senangkah dengan field trip-mu?"

Kami semua terdiam memperhatikan Francis. Kami penasaran apa tujuan Francis menelepon Den—yaahh, maksud kami, kami tau Den JELAS ada hubungannya dengan Nor, tapi… Kenapa tidak menghubungi Nor saja sekalian jika kami hanya membutuhkan Nor?

"Ahaha… Begini, Dane, bisakah kau ubah jadwal kepulangan field trip-mu besok?" tanya Francis pada Den melewati telpon sambil tersenyum penuh harap, "kami membutuhkan kekasihmu,"

Ooh… jadi itu tujuannya

OwOwOwOwOwO

Den's POV:

(Haai… aku debut pertama di fic ini!) Field Trip satu kelas memang menyenangkan. Hanya kelas kami, 9-B. Terutama, aku bersama dengan kekasihku,

"Pak! Pak Den!" oh! Seorang murid memanggiku

"Hei, aku masih 17 tahun seperti-mu… Panggil aku Den saja ya"

"T-tapi, pak—anda guru saya,"

"Oh, ayolah~ Den saja,"

"B-baiklah, D-den," murid itu tampak merona lalu melanjutkan, "Nor bilang, handphone anda berbunyi sejak tadi, apa anda mau mengangkatnya?"

"Oh, tentu saja! Dimana Nor sekarang?" aku segera turun dari atas batu besar yang kunaiki

"D-di kamar hotel anda, pak—maksud saya, Den,"

Tanpa pikir panjang, aku segera berlari ke arah hotel. Kemana aku sejak tadi? Oh, jangan khawatir… Aku hanya duduk-duduk di batu besar di taman belakang hotel sejak tadi. Aku segera memasuki pintu belakang hotel dan masuk ke dalam lift. Aku menekan angka 10 lalu menunggu di dalam lift sambil bersiul. Sesekali ada beberapa orang yang masuk di tiap lantai, lalu keluar lagi. Tiba-tiba, seorang ibu masuk sambil mendorong kereta bayi,

"Wah, anak muda—kau sendirian menginap di hotel besar ini?" tanya ibu itu

"Tidak, bu. Aku seorang guru yang sedang menginap bersama dengan murid-muridku," jawabku

"Ooh-! Seorang guru?" tanya ibu itu kaget, "tapi kau tampak muda sekali… Berapa umurmu, nak?"

"17 tahun, bu," jawabku sambil menggenggam tangan bayinya yang sejak tadi mencoba meraihku

"Sungguh hebat… Murid-muridmu juga berumur 17 tahun?" tanyanya lagi. Aku mengangguk sambil tersenyum, "kau pasti seorang yang cerdas"

"Ah, tidak juga bu… Hanya kebetulan selalu diterima di kelas aksel" jawabku malu-malu

Lift berdenting. Cahaya lift tampak berhenti di angka 8. Ibu itu mendorong kereta bayi-nya lalu berkata, "Anak-anak muda sepertimu tidak boleh disia-siakan… Semoga sukses selalu, nak" lalu dia pergi

Aku melambaikan tanganku pada ibu itu lalu pintu lift tertutup. Memisahkan aku dengan ibu dan bayi itu, menghentikan pembicaraan kami. Aku kembali menunggu di dalam lift sendirian. Tidak adakah yang tidur di kamar 10 juga selain aku dan murid-muridku?

'TIIING'

Ah, akhirnya aku sampai di lantai 10. Aku segera berlari keluar lift lalu berbelok ke kanan, ke arah kamarku. Aku mengeluarkan sebuah kartu kamar dari kantongku dan membuka kunci pintu kamarku. Di dalam, tampak Nor sedang memegang handphone-ku dengan wajah datarnya seperti biasa. Dia menoleh ke arahku lalu menampakkan senyumnya. Walaupun senyum kecil, tapi dia hanya memberikan senyum itu untukku,

"Hei, Nor! Bagaimana kau bisa masuk ke sini?" tanyaku sambil memeluknya

"Aku bisa melakukan apapun demi masuk ke sini" jawabnya datar sambil memberikan handphone-ku padaku, "semua panggilan dari Francis"

Astaga! 7 panggilan dari Francis! Ada apa ini? Sepertinya penting sekali. Ah! Ini dia! Dia menelepon lagi! Aku segera mengangkat panggilannya,

"Halo~ Den di sini~"

"Ooi, mon cher~ Apa kabar? Bersenang-senangkah dengan field trip-mu?" tanyanya dari seberang telpon

"Tentu saja, Fran~ Ah, ada apa kau meneleponku? Sepertinya penting sekali, ha?" balasku sambil bertanya

"Ahaha… Begini, Dane, bisakah kau ubah jadwal kepulangan field trip-mu besok?" diam sesaat, "kami membutuhkan kekasihmu,"

Kekasihku? Nor? Aku segera menolehkan kepalaku ke arah Nor yang memiringkan kepalanya tanda tidak mengerti

"Nor? A-ada apa ya?" tanyaku semakin bingung. Francis pun melanjutkan pembicaraannya. Dia menceritakan semua yang terjadi di Hetalia Gakuen padaku. Alasan kenapa kami harus pulang besok dan kenapa mereka membutuhkan Nor secepatnya,

"Baiklah, aku mengerti" jawaban terakhir dariku dan aku memutuskan sambungan telepon dengan Francis. Aku mendekati Nor dan memegang bahunya, "beritahu yang lainnya, kita pulang besok"

"Kenapa?" tanyanya tanpa ekspresi (seperti biasa)

"Karena… Semua membutuhkanmu" jawabku sambil mengelus kepalanya, "kita harus segera kembali ke sekolah—setelah itu, bekerja sama-lah dengan Nesia & Eduard"

Nor mengangguk lalu keluar dari kamarku. Namun, sebelum itu…

"Aku tau kau menyimpan gambar-gambarku dengan keadaan—seperti 'itu'" diam sejenak. Aku dapat melihat wajahnya memerah, "tolong di hapus"

Dan dia meninggalkanku dengan wajahku yang merah karena malu. Malu karena ketahuan menyimpan gambar pacarku dalam keadaan seperti 'itu' di handphoneku.

OwOwOwOwOwO

Alfred's POV:

"Pagi semuanya!" sapaku berusaha riang. Aku baru saja datang dan entah kenapa, aku langsung menuju lab IPA. Bukan kelasku

"Ohayou, Alfred-san…" balas Kiku sambil tersenyum

Aku melihat Nesia, Nor, dan Eduard tampak sibuk. Di lantai, ada Den dan Raivis yang sedang tidur. Di samping mereka, aku dapat melihat Nether dan Francis sedang duduk minum teh sementara Kiku membuatkan teh untuk mereka semua. Mereka semua datang pagi-pagi begini demi Arthur?

"Al-san! Sebentar lagi penawar-nya selesai" Eduard mengangkat tabung erlemeyer tinggi-tinggi

"Kau tidak perlu khawatir jika aku sudah ada di sini," tambah Nor yang masih sibuk mencampur-campurkan cairan warna-warni

"Maafkan aku, kak Alfred—aku bakal berusaha sekeras-kerasnya bikin penawar buat kak Arthur sebagai tanggung jawabku!" Nesia melirik ke arahku sambil mengangkat berbagai bahan ramuan

"Terima kasih, kalian!" balasku senang. Hening sesaat, "tunggu! Sudah mau selesai? Kok cepat sekali?"

"Kami sudah bekerja dari jam 1" jawab Nor tenang

Dari jam 1? Sementara sekarang sudah jam 7 pagi. Berarti mereka telah bekerja 6 jam?

"K-kalian gila? Ayo istirahat! Nanti kalian sakit!" bujukku panik

"Ga usah, kak Alfred… Ini demi kak Arthur" tolak Nesia sambil tersenyum

"Kita kehilangan sosok pemimpin kita bila Arthur-san tidak kunjung sadar" timpal Eduard

"K-kalian…" aku benar-benar terharu. Maksudku, mereka berjuang sekeras ini demi kekasihku? Demi Arthur? Aku—benar-benar harus berterima kasih pada mereka semua setelah ini

OwOwOwOwOwO

"Kak Alfred, bangun!"

"Al-san!"

U-unn… Aku membuka mataku perlahan dan aku melihat Eduard, Nor, dan Nesia duduk di depanku. Nesia melambai-lambaikan sebuah botol di hadapanku sambil tersenyum senang. Eduard tampak menahan kantuknya, begitupula Nor,

"Udah jadi, kak~" senyum Nesia merekah

"Cepat berikan pada Arthur" tambah Nor menimpali

Ah, benar! Aku harus cepat-cepat memberikan obat ini pada Arthur! Aku segera mengambil botol di tangan Nesia lalu berlari keluar ruangan. Tunggu! Aku melupakan sesuatu—

"K-kalian bagaimana? Pasti lelah kan?" tanyaku sambil memunculkan kepalaku di ujung pintu

"Jangan khawatir, Amerique~ Aku sudah minta izin pada guru mereka agar mereka ber-istirahat" jawab Francis sambil tersenyum. Wakil Ketua OSIS ini benar-benar bisa diandalkan.

"Ayo cepat, Alfred-san!" ujar Eduard sambil mengacungkan jempolnya

Aku memberikan senyum lega-ku pada mereka, "Terima kasih kalian… Terima kasih" lalu pergi meninggalkan lab.

Arthur! Tunggu aku Arthur—

Tidak terasa, air mataku menetes. Entah karena apa—mungkin karena aku terharu

Aku berlari dengan cepat menuju UKS dan segera membuka pintunya dengan sedikit keras. Hal itu membuat Yao dan Mei terbangun dari tidur mereka dan menoleh ke arahku dengan sedikit terkejut,

"Ah, Alfred!"

"Apa kau sudah dapat obatnya?"

Aku mengangguk dan maju ke arah Arthur terbaring. Wajahnya bertambah pucat seakan-akan dia akan meninggal satu menit lagi. Aku tidak ingin berlama-lama. Aku segera membuka tutup botolnya dan menuangkan penawar racun itu ke mulut Arthur.

.

1 detik

.

2 detik

.

"UHUKK!" dia terbangun! Dia terbangun!

"Arthur!" teriakku senang seraya memeluk Arthur

"O-oi… Apa yang terjadi?" tanyanya bingung

Yao dan Mei tersenyum sambil menggelengkan kepala mereka. Aku dapat melihat Mei mengusap air matanya lalu berkata, "Tidak ada apa-apa, Arthur-san… Aku senang kau kembali"

Arthur bertambah bingung namun, aku tidak ingin Arthur berpikir terlalu keras karena dia baru saja bangun. Aku mengecup bibirnya lembut sebagai sambutan 'Selamat Datang' lalu mengajaknya mengobrol, melupakan semua hal buruk yang terjadi

OwOwOwOwOwO

Viet's POV:

Sial! Aku salah sasaran! Kenapa jadi Arthur-san yang kena racun itu? Dan kenapa Nesia memberi tahu semuanya bahwa ini rencanaku? Sial sial sial! Sekarang seluruh sekolah menganggapku jahat. Thai-san pasti akan tambah membenciku setelah ini. Aku takut…

"Viet!" suara itu… Suara Thai-san…

"T-thai-san!" aku membalikkan badanku, "A-ada apa ya?"

"Kenapa kau lakukan ini semua? Apa salah Alfred padamu?" tanyanya marah

Aku benar... Thai-san malah membela Alfred, "Dia membuatmu menolakku karena kau selalu merasa jadi orang ketiga! Kau cinta padanya jadi kau menolakku karena kau tidak cinta padaku!" jawabku setengah berteriak

Thai-san tampak terkejut lalu tiba-tiba dia menggenggam tanganku, "Kalau begitu maafkan aku…"

"H-hah?" tanyaku bingung. Benar-benar bingung

"Aku menolakmu, untuk menguji seberapa besar cintamu padaku. Ternyata kau benar-benar cinta padaku hingga berbuat sejauh ini. Aku dan Alfred-san tidak ada hubungan apa-apa… Waktu itu, aku meminta tolong padanya untuk menjauhkanmu dariku sebagai tes tapi ternyata rencanaku gagal…"

"T-thai-san…" aku benar-benar terkejut

"Sesungguhnya, aku mencintaimu Viet… Aku mencintaimu!" ujarnya dengan wajah merah padam

Wajahku ku-pun ikut merona. Ini… Ini penerimaan… Aku tidak lagi ditolak… Tiba-tiba, dia mengagetkanku dengan cara menciumku,

"Mulai sekarang, kita jadian…" tambahnya

Aku benar-benar harus meminta maaf pada Alfred—

OwOwOwOwOwO

Arthur's POV:

Hah… Akhirnya aku bisa beraktivitas seperti biasa lagi walaupun aku belum mengerti apa yang terjadi padaku kemarin dan sehari sebelumnya. Hari ini aku bermaksud menemui Alfred saat aku melihat Viet dan Thai, sedang berbincang pada Alfred,

"Alfred, maafkan aku! Aku… selalu berburuk sangka terhadapmu!" Viet membungkukkan badannya di hadapan Alfred

"Maafkan aku Alfred-san, aku membuatmu masuk ke masalah ini—" tambah Thai

"Hei, tidak apa-apa… Yang penting akhirnya kalian jadian kan?" balas Alfred sambil tersenyum

"Jadi, kau memaafkan kami?" tanya Viet penuh harap

Alfred menganggukkan kepalanya dan membuat Thai dan Viet tersenyum senang. Mereka berterima kasih, lalu pergi sambil bergandengan tangan. Aku segera berjalan mendekati Alfred,

"Wew… Mana ya, HERO-ku?"

"Arthur!" ujarnya senang seraya memelukku

Aku hanya tertawa karena tingkahnya. Tiba-tiba, Toris dan Natalia datang dan berdiri di hadapan Alfred,

"Kami lega kau tidak apa-apa, Arthur-san…" ucap Toris memulai pembicaraan. Aku menganggukkan kepalaku

"Terima kasih, kalian berdua—" Alfred menepuk bahu Toris dan Natalia.

Tiba-tiba, Natalia maju, berjinjit dan mencium pipi Alfred, "anggaplah ini sebagai permintaan maaf kami karena tidak bisa membantu banyak" ucapnya dingin

Alfred mengangguk sambil tersenyum, "Bantuan kalian, sudah lebih dari cukup…"

Mereka berdua tersenyum lalu pergi dengan keadaan Toris merangkul Natalia. Aku menggamit lengan Alfred,

"Akhirnya… Semua masalah beres ya, HERO?" tanyaku sambil tersenyum

"Yaahh... akhirnya," jawabnya sambil menggaruk kepalanya, "hei, aku ingin memberitahumu sesuatu, apa kau mau dengar?"

Sesuatu? Aku menganggukkan kepalaku, "Yes... Please tell me"

Dia mendekatkan wajahnya ke wajahku sambil berkata, "I Love You" lalu dia mencium bibirku dengan lembut diiringi dengan bel sekolah yang berbunyi nyaring seperti dulu saat kami belum jadian. Dan aku, membalas ciumannya sebagai ucapan terima kasih.

.

FIN


Haaaaaa... Akhirnya tamat juga nih fic! Gila, ini gw ngebut banget bikinnya. Makanya jadi rada ancur gitu ceritanya =_=a Maap yak kalo gaje... Btw, lagi-lagi ada yang OOC nih di sini.. *lirik Den* /disabetpakekapak

Thanks ya yg selama ini udah review & ngasih saran! Gw appreciate banget lhoo~! Seneng gw sumpah X3

Yaahh, mudah-mudahan kalian suka ending-nya yaa... Gw pasti bakal lanjut bikin fic yang laen ^w^b

DAH! Ingat motto kita untuk hidup damai dan sejahtera (?)

RnR pweaaaaase~ OwO