(Naruto ^^ Masashi Kishimoto)

(Rate^^T, untuk sementara)

(Warning^^ Yaoi, sedikit gore, aneh, ancur, OOC, OC, EYD, TYPO, Sedikit pendiskripsian, dll.)

(Pair^^ Sasuke Uchiha X Naruto Uzumaki)

(Author by ^^ Thy UchiUzu)

DON' LIKE DON'T READ

Dunia berjalan menuju akhir, aku rasa kami adalah orang yang diasingkan di dunia. Aku hanya percaya pada sebuah takdir, persetan dengan malaikat dan iblis yang diceritakan. Tak ada yang abadi di dunia, kecuali tuhan, sejauh apapun kau terbang dengan sayap rapuhmu, dan tak menoleh ke arahku, aku akan tetap menggapaimu. Aku akan selalu merasakan kehadiranmu di dalam hatiku.

(-^You not Devil^-)

(-^Thy^-)

Awal Sebuah Dendam

"Kaasan, Tousan, jangan pergi."

"Kau juga harus mati, Anak kecil."

DOR

"Akh…"

"Aniki, Hiks…, kenapa? Aniki, jangan tinggalkan aku sendiri."

"Hiduplah untukku, Sasuke."

"Tapi, aku…, aku tak mau sendiri."

"Lari, cepat lari, aku mohon, hiduplah demi aku, Kaasan, dan Tousan."

"Tidak, aku tidak akan pergi."

"Pergilah Sasuke."

"Kalian, aku bunuh kalian berdua."

DOR

"Akh, cepat pergi Sasuke."

DOR

BRUK

"ANIKI~, KAU AKU BUNUH KAU."

SHET

"Mimpi!"

seorang pemuda berambut hitam bermata Onyx sedang menatap seluruh kamarnya, cucuran keringat mengantung di tubuh putihnya, napasnya memburu, jantungnnya berdetak sangat kencang. Dia meremas kepala hitamnya itu dengan sekuat tenaga, dia hanya ingin menghilangkan rasa pening yang mendera kepalanya akibat bangun tiba-tiba tadi.

"Mimpi buruk lagi." Lagi, pemuda itu menggumam, dia baru saja terbangun dari tidur nyenyaknya, akibat mimpi yang sering dia alami beberapa hari ini. Kenangan masa lalunya, kenangan buruk yang selalu terekam diotaknya, kenangan dimana dia melihat seluruh keluarganya di bunuh oleh sekelompok kawanan Mafia yang datang kerumahnya.

"Aku berjanji, akan aku bunuh kalian." Ujar laki-laki itu menggeram

(-^Thy^-)

.

.

.

"Ohayou, Kakashi-san." Pemuda dengan mata biru berambut pirang melenggang masuk kedalam sebuah kantor kepala kepolisian di sebuah markas besar di kantor kepolisian Konoha, mata pemuda itu menatap atasan didepannya saat ini, wajah cemberut dan decak kesal keluar dari bibirnya.

"Ohayou Naruto, Hari ini kau dapat tugas khusus." Wajah cemberut itu berubah menjadi sumbringai, dia menatap atasannya dengan mata yang berbinar-binar.

"Aku siap, apa yang harus aku lakukan?" jawab pemuda itu riang,

Uzumaki Naruto, seorang polisi muda yang diangkat oleh Kakashi tahun lalu, selama setahun, pemuda itu hanya mengerjakan kasus-kasus yang ringan, seperti menilang dan pekerjaan yang menurutnya tak asik, karena tak adanya tantangan.

"Kau harus mencari kucing yang hilang. Itu tugasmu sekarang."

BUAK…

Kakashi meringis kesakitan saat seseorang dengan sengaja melemparnya dengan sebuah buku hukum setebal kamus Bahasa Inggris, dilihatannya siapa pelaku pelemparan itu.
"Jangan sekali-sekali mempermainkan orang, Kakashi." Celetuk si tersangkah pelemparan

"Iruka, kau tahu 'kan, ini dapat membawamu kedalam penjara, dengan tuduhan menyakiti kepala kepolisian." Orang yang dipanggil 'Iruka' tersebut mengerutkan dahinya. Dia berjalan mendekati Naruto yang terlihat cengok melihat dua atasannya ini. Hattake Kakashi seorang kepala kepolisian, dan Iruka Umino seorang wakil kepala polisi. Dua orang yang memiliki jabatan penting di kantor polisi ini, dan dua orang itu adalah sepasang kekasih.

"Naruto, ini tugasmu." Iruka memberikan sebuah map coklat kearah Naruto, Naruto mengambil map itu dengan ragu. Dibukanya map itu, terlihatlah poto seorang pemuda tampan dan beberapa tulisan yang diketahui Naruto sebagai identitas pemuda itu, pemuda itu berumur sama dengannya, tapi pemuda itu lebih tua beberapa bulan saja, rambut hitam jabrik, dan mata yang juga sama-sama hitam.

"Kau tahu kasus pembunuhan berantai beberapa waktu yang lalu." Naruto mengangguk. Dia masih terus menatap Iruka yang berdiri disamping jendela.

"Taka, kau tahu pembunuh itu 'kan?" Kali ini Kakashi yang angkat suara

"Sudah banyak korban darinya, dia membunuh beberapa anggota gank yang merusuhkan masyarakat dan beberapa kepala mafia di kota ini. Aku dengar, dia juga membunuh Hidan, orang kepercayaan anggota Akatsuki, dan beberapa anggota Akatsuki yang lain." Jelas Kakashi. Naruto mengangguk.

"Terus apa hubungannya dengan orang ini." Naruto menunjuk foto yang berada di dalam map coklat itu.

"Uchiha Sasuke, aku curiga kalau dia adalah Taka."

"Anak ini?" Tanya Naruto dengan antusias

"Iya, dan tugasmu adalah untuk memata-matainya."

"Heh?" Naruto mengangah lebar, Taka, siapa yang tak kenal manusia itu, pembunuh berdarah dingin yang membunuh korbannya tanpa ampun, memang selama ini dia hanya membunuh orang-orang merugikan dalam masyarakat, dan bisa dibilang, dia juga membantu kepolisisan menumpas manusia-manusia bejat itu. tapi yang namanya pembunuh tetap pembunuh, dia tetap harus di adili. Dan sekarang polisi muda kita ini, yang baru menjalankan karirnya selama setahun harus berhadapan dengan pembunuh professional yang ditakuti.

"Apa kau serius Kakashi-san, aku ini gak bisa apa-apa." Ujar Naruto, yang benar saja, menangkap copet saja dia belum pernah, dan sekarang dia harus dihadapi tugas yang benar-sangat-very berat. Wajar saja kalau anak itu langsung melotot kearah atasannya.

"Dia seorang mahasiswa di kampus University Konoha, anak sangat jenius, dia tinggal sendiri, yang aku dengar seluruh keluarganya meninggal karena dibunuh oleh Mafia, sifatnya sangat tertutup tetapi anak ini adalah kebanggaan dari Universitasnya. Nah, Naruto, tugasmu adalah, menyamar menjadi mahasiswa satu angkatan dengannya, kau belum pernah kuliah 'kan? Makanya anggap saja ini kuliah gratis dari kepolisian, aku sudah melakukan diskusi dengan pihak Universitas itu, dan kau akan masuk di sana 2 hari lagi, identitasmu sudah ditutupi, dan tempat tinggalmu sudah aku atur, kau akan tinggal di apartemen di samping apartemen Sasuke, seluruh biaya kehidupanmu kepolisian yang menangani. Tugasmu hanya memata-matainya, cari bukti untuk menangkapnya. Karena selama ini kepolisisan tidak mendapatkan cukup bukti untuk menangkapnya. Kau mengerti!"

GLEK

Naruto mengagah mendengar pernyataan yang sangat panjang dari Kakashi, kelihatannya atasannya ini sangat percaya padanya, mau tak mau, dia harus menurutinya.

"Ba-baiklah." Ujar Naruto gugup

"Bagus, sekarang kemaskan pakaianmu, kau akan mulai pindah ke apartemenmu hari ini." Naruto mengangguk, setelah memberi hormat pemuda itu berbalik melangkah keluar dari ruangan.

"Kakashi, ini sangat berbahaya, kita tak mungkin begitu saja membiarkannya 'kan?" Laki-laki dengan bekas luka di hidungnya itu terlihat manyun, Kakashi tahu, kalau Iruka tipe orang yang menghawatirkan anak buahnya.

"Aku tahu, makanya, aku juga menempatkan Kiba dan Shikamaru bersama dengannya."

"Jadi mereka berdua juga kau suruh mengawasinya."

"Bukan, mereka hanya membantu Naruto dari jauh saja."

(-^Thy^-)

"Brengsek, Taka sialan, orang itu harus dibunuh, aku tak akan membiarkannya hidup dengan damai." Cercah seorang laki-laki berambut orange dan memiliki banyak picis di wajahnya.

"Ketua, bagai mana kalau kita suruh anak itu yang menyelesaikannya." Ujar seorang laki-laki yang wajahnya sangat seram, wajah dan tubuhnya seperti ikan Hiu saja.

Tak lama kemudian dari balik pintu markas mereka terlihat seorang anak laki-laki berumur 20 tahun. Rambut pirang sedikit merah ke orange-an, mata merah dengan taring di bibirnya.

"Anda memanggil saya, ketua." Anak itu menunduk, pemuda dengan picisan itu mengangguk.

"Kyuubi, aku tugaskan kau membunuh Taka, jangan sampai dia hidup dengan damai!"

"Baiklah.

.

.

.

Mata biru Naruto menelusuri setiap jengkal di dalam apartemen barunya sekarang, sangat mewah dan berkelas, dia tak habis pikir pihak kepolisian mampu menyewa apartemen berkelas seperti ini. Setelah membereskan semua barangnya, Naruto keluar dari apartemennya untuk mencari udara segar diluar. Saat ingin keluar dari apartemen itu, mata biru itu melihat sosok yang hendak mengunci pintu apartemennya. Pemuda yang menjadi targetnya saat ini.

"Hai tetangga baru!" Sapa Naruto riang, si tetangga baru yang disapa tadi menoleh dan melihat Naruto sejenak.

"Siapa loe? orang baru?" Naruto mengangguk, diulurkannya tangannya untuk bersalaman dengan manusia di depannya itu, manusia itu Cuma melihat tangan itu, tanpa berniat sedikitpun untuk menyambutnya.

"Kenapa? Tenang saja, tangan gue gak kotor kok." Sebenarnya Naruto sedikit tersinggung dengan perlakuan pemuda didepannya itu. "Uzumaki Naruto." Pemuda itu tetap tak menyambut uluran tangan Naruto, dia malah memasukkan tangannya kedalam saku celana jeans-nya.

"Uchiha Sasuke." Ujar pemuda itu, lalu berjalan meninggalkan Naruto yang tersenyum hambar.

"Huh, menyebalkan." Rengut si pirang itu. "Hei tunggu!" Naruto berlari mengejar pemuda bernama Sasuke itu. dia berhenti lalu menukar langkah cepatnya dengan sedikit pelan disamping Sasuke.

"Kenapa loe ngikuti gue?"

"Cuma mau kenalan aja, gak boleh? Hmmm… loe sudah lama tinggal di sini?"

"Hn." Alis mata Naruto berkedut, dilihatnya Sasuke yang masih asik berjalan tanpa menghiraukan keberadaannya disamping Sasuke.

"Apa loe tahu Universitas Konoha?" Sasuke memberhentikan langkahnya, dilihatnya anak pirang itu.

"Itu kampus gue." Jawab Sasuke, lalu dia kembali berjalan meninggalkan si pirang.

"Oh~ gue calon mahasiswa baru di sana." Sasuke sama sekali tak menghiraukan ocehan Naruto. Dia terus berjalan mengitari taman kota yang terlihat sepi hari ini. "Salam kenal, Sasuke, loe akan jadi teman baru gue nantinya, gue harap kita bisa lebih dekat." Sasuke berhenti lalu duduk disebuah bangku taman, Naruto mengikuti apa yang Sasuke lakukan, dia duduk disamping Sasuke.

"Gue gak butuh teman seperti loe, orang Idiot." Naruto menoleh kearah Sasuke, dia mendapatkan muka datar Sasuke yang seperti tak bersalan menyebutnya 'idiot' barusan.

"Bisa loe jaga tu mulut, Uchiha!" Bentak Naruto. Sasuke tak menghiraukan, dia berdiri dari bangkunya, lalu berjalan meninggalkan Naruto yang masih terlihat mengeram.

(-^Thy^-)

"Hari ini kita kedatangan mahasiswa baru di kelas ini, baiklah Naruto, tolong perkenalkan namamu." Perintah dosen berambut perak berkaca mata. Naruto yang dari tadi masih berdiri diluar ruangan itu langsung masuk dengan sedikit takut.

"Baiklah, Kabuto-sensei. Hai, nama gue Uzumaki Naruto, mohon bantuannya." Semua penghuni ruangan itu memandang takjub orang yang sekarang berada didepan kelas mereka.

"Manisnya…!" seluruh kelas bertepuk tangan riuh saat mendengar kata-kata tadi dari seorang pemuda bermata hitam dan berambut hitam yang duduk di bangku leretan paling tengah.

"Sai, loe suka pemuda itu ya? Kalau suka gue salamkan deh." Sai Cuma tersenyum kearah pemuda berambut bob dengan gaya yang super norak.

"Gue bisa sendiri, Lee." Terdengar siulan keras dari seluruh laki-laki di dalam kelas itu, yang perempuan hanya cekikikan.

"Nah, Naruto, kau boleh duduk sekarang, carilah tempat duduk yang kosong." Perintah sensei berambut perak berkaca mata tadi.

"Baik, Sensei." Naruto berjalan mengitari kelas itu, mencari tempat duduk yang kosong. Dia melihat sebuah kursi kosong disamping seorang laki-laki yang sangat dia kenal.

"Hai…! Sasuke, boleh gue duduk di samping loe?"

"Hn.!" Naruto benar-benar tak mengerti arti kata 'Hn' itu, tapi setidaknya perkaannya direspon oleh Sasuke. Naruto akhirnya duduk disamping Sasuke, berpasang mata takjub melihat hal itu, tak ada yang berani duduk disamping sang Uchiha selama ini, soalnya Sasuke pasti akan memaki mereka kalau sampai berani mendekatinya dalam radius 1 meter

"Gue gak nyangka ada seorang manusia Idiot yang berani duduk di samping gue, sekarang loe dengar ya, lebih baik loe menjauh dari gue, atau akan gue bunuh loe sekarang , DOBE." Uchiha satu ini berkata lantang, tak ada ekspresi berlebih di wajah tampan tak bercacat itu.

"loe bicara ma gue, Sasuke." Otak lemod Naruto kambuh, dia masih mencoba mencari tahu siapa objek yang ada dalam ancaman Sasuke tadi, sedangkan seluruh mahasiswa maupun mahasiswi di kelas itu memasang wajah kasihan pada Naruto.

"Hn."

NYUT…"..- , -#.."

Urat dahi Naruto berkedut, dia memasang tampang seangker mungkin kearah si Uchiha.

"Gue 'kan tadi sudah meminta izin, gue kira 'Hn' loe itu artinya 'Iya." Jawab Naruto polos.

"Gak gue sangkah masih ada orang sebodoh loe di dunia ini." Sinis Sasuke. Naruto berdiri dari tempat duduknya. Satu kakinya naik keatas meja Sasuke, mukanya mendekat kearah Sasuke, lalu menyeringai penuh arti. Biru dan hitam itu beradu.

"Jangan meremehkan gue, TEME."

Setelah berkata seperti itu, Naruto mengangkat bangku kuliahnya, menyeretnya agar menjauh dari Sasuke, dia tak menghiraukan seorang dosen yang mengeram sangat kesal didepan kelas karena kehadirannya yang tidak dianggap.

"Naruto…!, duduk disini saja." Naruto menoleh pada suara yang memanggilnya tadi. Dengan sebuah senyuman, Naruto berjalan mendekati si pemanggil yang masih melambai riang. Kabuto tambah naik darah, dia benar-benar benci kelas ini.

"Kiba? loe disini juga." Ujar Naruto setengah berbisik. Inuzuka Kiba, teman satu angkatan Naruto di kepolisian. Yang juga bertugas sebagai mata-mata

"Iya, gue ditugaskan Kakashi-san untuk mengawasi keadaan Kampus ini bersama Shikamaru."

"Heh? Shikamaru juga?"

"Ehemm, jangan berisik, kalian tak mau identitas kita diketahui 'kan?" kali ini pemuda berambut Nanas yang sedang menguaplah yang berbicara. Nara Shikamaru, dia juga polisi seangkatan Naruto, orang yang berotak jenius tapi sangat pemalas.

"Kapan kalian masuk ke kampus ini?" Naruto masih berbisik, sesekali matanya menatap dosen yang sedang mengajar di depan sana, dan menatap seluruh kelas.

"Minggu lalu. Dia target utama kita." Ujar Kiba, sambil menunjuk pemuda yang memperhatikan mata kuliah di depan dengan Khimad menopang dagunya dengan kedua tangan yang mengatup.

"Aku tahu."

.

.

.

Di tempat yang sama, seorang pemuda berambut jabrik hitam yang menjadi objek pembicaraan Naruto CS, memandang tiga pemuda yang duduk dipaling pinggir dengan ekor matanya. Memang, kelihatannya pemuda itu memperhatikan pelajaran hari ini, tapi sebenarnya dia sedang memperhatikan tiga pemuda yang membuat perasaanya tak enak, terlebih lagi seorang pemuda pirang beriris mata biru yang terlihat tersenyum lepas kearah pemuda bertato segitiga merah terbalik di pipinya . mata pekah Sasuke, menelusuri objek pirang itu.

"Siapa dia?"

.

TBC.

Bagai mana? Pik nya mengecewakan tidak? Mugi harap tidak mengecewakan ya, tolong direpyu kalau masih ingin pik ini di lanjuti.

Very-very makasih buat yang repyu, arigato semua…..

Balas Repyu:

-Muthiamomogi:

Hehehe…, maaf imouto, kelihatannya nee bakal blajar bhasa inggris lagi deh dari awal. *plak*. Makasih atas sarannya *pyuk* (gampare)

-Black CapXa

Sudah updet nih. Yos mohon kerja samanya juga, Axa-san^^

-ttix lone cone bebe

Ini sudah updet. Thanks.

-Superol

Mungkin Cuma chp 1 aja yang bakal kelihatan canon, jd jangan heran kalau di chapi" brikutnya bakal keluar dari jalur Hurt/Comfort, karena mungkin selanjutnya bakal menjurus ke humor. (Mungkin-,-)

Naru: Kebanyakan Mungkinnya nih Mugi-san.

Mugi: Ye, maaf

-Namichiha Yuu-chan

Sudah di updet, makasih^^

-Versiera c'Zombie Hanashi

Wah~ kelihatan ya akhir ceritanya?

Tapi sasu gak bakal di buat mati dengan mudah.

Sasuke: Huaaaa~ Mugi-chan jahat ama aku.

Mugi: Memang aku jahat, baru tahu. Ah payah..(abaikan)

Seperti biasa, saran dan keritik di tunggu. Sekecil apapun kesalahan yang menganggu di fic ini, tolong laporkan pada pihak berwajib(?)*ralat* laporkan lewat repyu ke Mugi.

Yohoooo!

Repyu Please ^^