(Naruto ^^ Masashi Kishimoto)

(Rate^^T, untuk sementara)

(Warning^^ Yaoi, sedikit gore, aneh, ancur, OOC, EYD, TYPO, Sedikit pendiskripsian, dll.)

(Pair^^ Sasuke Uchiha X Naruto Uzumaki)

(Author by ^^ Thy UchiUzu)

DON' LIKE DON'T READ

Dunia berjalan menuju akhir, aku rasa kami adalah orang yang diasingkan di dunia. Aku hanya percaya pada sebuah takdir, persetan dengan malaikat dan iblis yang diceritakan. Tak ada yang abadi di dunia, kecuali tuhan, sejauh apapun kau terbang dengan sayap rapuhmu, dan tak menoleh ke arahku, aku akan tetap menggapaimu. Aku akan selalu merasakan kehadiranmu di dalam hatiku.

(-^You not Devil^-)

Di tempat yang sama, seorang pemuda berambut jabrik hitam yang menjadi objek pembicaraan Naruto CS, memandang tiga pemuda yang duduk dipaling pinggir dengan ekor matanya. Memang, kelihatannya pemuda itu memperhatikan pelajaran hari ini, tapi sebenarnya dia sedang memperhatikan tiga pemuda yang membuat perasaanya tak enak, terlebih lagi seorang pemuda pirang beriris mata biru yang terlihat tersenyum lepas kearah pemuda bertato segitiga merah terbalik di pipinya . mata pekah Sasuke, menelusuri objek pirang itu.

"Siapa dia?"

(-^Thy^-)

Mau Jadi Temanku, Sasuke

Naruto duduk dengan tenang di bangku meja kantin kampusnya, matanya dengan liar memandangi banyak gadis cantik yang lalu-lalang melewatinya.

"Kalau tahu gini, mendingan aku kuliah dari dulu, Bro." Komen Naruto saat dilihatnnya beberapa gadis tersenyum kearahnya.

"Kalau aku sih malas, gak asik kuliah, mending di kantor, bisa sambil baca komik kalau gak ada tugas 'kan."

"Komik aja yang ada di otakmu, Kib. Eh mana Shika?" Kiba Cuma mengangkat bahunya santai.

Baru saja mood Naruto sedang asik-asiknya memandang gadis cantik yang melewatinya, matanya berubah buram saat tanpa sengaja biru laut itu memandang Sasuke yang sedang lewat, bahkan yang jadi pertanyaanya, kenapa sih pantat bebek itu pakai lewat-lewat didepannya, mengganggu saja.

"KYAAAA, SASUKE-KUN" Naruto memandang sinis kearah Sasuke. Dilihatnya beberapa anak perempuan yang memandang kagum sambil jejeritan didepan sang Uchiha itu.

"Jangan diplotot terus, entar matamu lepas, aku tahu Uchiha keren, tapi gak segitunya kaleee." Ujar Kiba sedikit hiper.

"Amit, najis dah. Dia? Keren? Kerenan aku kale." Jawab Naruto narsis tingkat angkut.

"Kau bilang apa tadi, Dobe?" terdengar suara Sasuke yang tersirat mengejek dari belakang Naruto.

TWICT

Urat-urat didahi Naruto berkedut-kedut penuh amarah, dengan santai Naruto berdiri dari duduknya lalu berbalik menghadap Sasuke yang memandangnya sinis.

OMG, Naruto merasa menciut seketika saat dia merasa cowok emo ber-rambut-pantat-bebek itu berdiri sejajar dengannya, dia lebih tinggi dari Naruto kira-kira 5cm.

"Aku bilang kamu jelek, Teme."

"Gak nyadar ama tampang pas-pasanmu."

TWICT

Naruto menggeretakan giginya. Dilihatnnya tepat dimata onyx bersih itu.

"Kamu tuh yang gak punya kaca dirumah ya?"

"Karena aku punya kaca super besar makanya aku sadar kalau aku memang keren, Dobe."

WTF, Sasuke mulai bernarsis ria, menimbulkan kesan mual pada perut Kiba yang asik menonton adu mulut itu.

"PD ama sih."

"Terus?" Sasuke mulai menyeringai, memamerkan gigi tarinya yang memang terlihat lebih panjang dari yang lain, menimbulkan kesan keren. Dan bagi cewek-cewek, Sasuke seperti- pangeran –vampir-keren-yang bangkit dari tidurnya.

"Tak berguna berdebat ama orang jelek." Ujar Naruto. "Yo Kib, Kita pergi." Kiba mengekorin Naruto, dan tak lupa memberikan tanda jari tengah kepada Sasuke dan dengan kata-kata "Fuck you Suke." Dari Kiba

(-^Thy^-)

"Parah tuh orang, gak nyangka, dia bisa narsis juga."

"Kau memang kalah saing darinya, Bro."

"WHAT? Kalah saing, enak aja, aku gak bakal kalah saing ama dia."

"Kau memang gak kalah saing, tapi kalah telak."

"Maksudmu?" Tanya Naruto sedikit tersinggung.

"Lari sebelum menang itu namanya kau kalah telak, Bro. PE-CUN-DANG"

"Shut up, Kiba, aku bukan pecundang."

"Lagi asik." Kiba dan Naruto berhenti berjalan memandang Shikamaru yang menguap.

"Kemana aja sih?"

"WC."

"Buang hajat?"

"Ngintip."

"Hah?" Kiba dan Naruto ber gubrak ria saat mendengar penuturan Shikamaru.

"Bodoh, ya iyalah buang hajat. Gak doyan aku ngintipin orang."

"Kalau ngintipin Kiba, doyan gak?" Canda Naruto, Kiba masang muka angker kearah Naruto.

"Kalau itu lain hal." Naruto terkikih. Ya iyalah lain hal, soalnya Kiba dan Shikamaru 'kan punya hubungan lebih intim ketimbang patner kerja.

"Aku mampusin entar, kalau ngomong gitu lagi." Ujar Kiba dengan wajah merona.

"Sory, Bro, bercanda."
"Gak lucu."

"Aku gak minta pendapatmu kok."

"Brengsek ."

"Kamu sih yang mulai." Bela Naruto. Kiba dengan gagahnya mendekatkan wajahnya sambil menyeringai.

"Apa kau bilang?"
"Sudah, sesama brengsek jangan saling bertengkar." Cela Shikamaru, sebenarnya dia Cuma mau menengahkan pertengkaran ini, tapi naas, dia malah kenah bogem super mentah dari kedua patnernya itu.

"Kau yang brengsek." Cercah Kiba dan Naruto bersamaan.

(-^Thy^-)

Naruto berjalan riang sambil bersiul keras sore ini, karena gak ada mobil, sekaligus menghemat uang anak pirang ini lebih memilih pulang jalan kaki setelah usai kuliah. Maklum, itung-itung menabung.

Langkahnya terhenti saat dilihatnya Sasuke berjalan didepannya dengan tenang, gak kayak dia yang heboh sendiri.

"Oi~ Sasuke." Si pirang itu berlari mengejar Sasuke. Yang dikejar berhenti sambil melihat Naruto yang ngos-ngosan.

"Apa?"

"Pulang bareng yuk?"

"Pulang aja sendiri." Sasuke kembali berbalik lalu meninggalkan Naruto yang menghentakan beberapa kali kakinya ke tanah.

"Gak bisa sopan sedikit apa, Teme?"

"…"

Naruto menarik napasnya dalam, cowok pirang itu kembali berjalan menyejajarkan tubuhnya dengan Sasuke.

"Entar malam aku main ke apartemenmu ya?"

"Mau nagapai?"

"Main doank kok."

"Jangan pernah mendekati Apartemen-ku, Dobe."

"Jah, jangan sewot pak. Aku Cuma mau ngajak main aja. Lagian gak bosan apa sendirian." Kedua tangan Naruto naik dan menyangga kepalanya, dengan santai cowok itu berjalan dengan posisi seperti itu.

"Bukan Urusan mu." Sasuke berhenti, membuat Naruto bingung.

"Napa?"

"Duluan sana, malas aku dekat-dekat orang sepertimu, Dobe."

Cowok rubah itu sama sekali tak menjawab, dia berbalik dan meneruskan langkahnya. Sedikit dia mendengar derap langkah Sasuke dibelakangnya, gak begitu jauh, membuat dia berhenti lagi.

"Dari pada jalan sendiri 'kan enakan pulang bareng."

"Ogah pulang bareng ama kamu."

Naruto mengerucuti bibirnya, lalu berjalan dengan langkah selebar mungkin.

(-^Thy^-)

"Bagaimana, apa sudah ada kabar tentang barang-barang itu?"

"Belum bos, tapi katanya penyelundupan kita tercium polisi, apa harus dibatalkan."

"Lakukan dengan kapal yang lain, ingat jangan sampai mengulur waktu semakin lama, karena aku tak suka."

"Baik bos."

Terlihat pemuda picisan yang menunduk dalam kearah seorang laki-laki bertopeng, laki-laki itu berjalan meninggalkan pemuda itu, sampai langkahnya terhenti oleh seseorang yang dikenalnya.
"Maaf, Mandara-sama jika saya menganggu anda."

"Kyuubi, bagus kau datang, aku dengar sekarang kau mulai dapat diandalkan." Pemuda bernama Kyuubi itu menyeringai memamerkan taringnya.

"Tidak juga, jangan terlalu memuji." Laki-laki itu tertawa mengerikan, tawanya membahana di dalam ruangan itu.

"Hahaha…, kau terlalu polos, Kyuu, nah sekarang kenapa kau datang kemari?"

"Tentang Taka." Laki-laki bertopeng itu berkecak pinggang, dilihatnya bocah didepannya itu dengan pandangan penasaran.

"Kenapa tentang brengsek itu?"

"Saya belum bisa menemukannya, identitasnya sulit untuk dikenali. Saya kemari untuk meminta sedikit waktu." Lagi, laki-laki itu kembali tertawa.

"Pakai saja sesukamu, waktumu tak akan aku ganggu. Asal bocah brengsek itu tak membuatku susah lagi." Pemuda berambut jingga terang itu mengangguk mengerti "Sekarang kau tak perlu khawatir, masalah Taka, akan aku serahkan seluruhnya padamu, yang aku mau dalam waktu cepat bawa kepala anak itu kehadapanku." Pemuda itu mengangguk, dan laki-laki bertopeng itu keluar meninggalkannya di ruangan itu.

"Kyuu, apa terlalu sulit bagimu mencari keberadaan Taka." Pemuda yang dipanggil Kyuubi itu menoleh kebelakang, melihat kearah Pain yang memandangnya.

"Tidak juga, hanya saja. Aku butuh main-main dengan anak itu sebentar." Kyuubi menyeringai iblis.

"Aku paham, Kyuu."

(-^Thy^-)

Tok… tok… tok…

Cklek.

"Suke."

"Kau!"

Sasuke hampir menutup pintu apartemennya kembali, saat dilihatnnya tetangga barunya melambai riang sambil tertawa di ambang pintu itu. malas sekali Sasuke meladenin anak itu sekarang.

"Jangan buru-buru Suke, main kartu yuk."

"Sejak kapan namaku berubah." Bentak Sasuke dari balik pintunya.

"Anggap aja itu panggilan sayangku ke Sasuke." Ujar Naruto polos.

"Najis, ogah dapat gelaran sayang darimu, Dobe." Sasuke kembali mendorong pintu apartemennya itu. tapi Naruto berusaha mendorong dari luar. "Aku panggil keamanan, kalau kau masih berusaha masuk ke apartemenku."

"Puh~ pelit banget sih. Ayolah, Teme. Cuma kamu yang aku kenal di tempat ini." Naruto memasang tampang memohon. Dengan sedikit tarikan alis matanya.

"Pergi sana."

Bruak…

Naruto melihat pintu itu dengan sebal. " Teme jelek, jelek aja belagu, apa lagi cakep."

Clek

"Apa katamu." Sasuke kembali membuka pintunya, menyembulkan kepala dengan rambut hitam mencuat itu dari pintu.

"Aku lupa tadi ngomong apaan." Ujar Naruto takut, soalnya dia melihat Sasuke sudah setengah memerah.

"Aku dengar lagi kau nyebut-nyebut namaku, awas kau, Dobe."

"Amit~ kejam amat jadi orang, lagi dapet pak."

BUAK…

Pintu ditutup lagi, Naruto melihat pintu itu dengan senyum, lalu tanpa sadar dia tertawa terbahak-bahak di luar apartemen Sasuke.

"Whahaha… Teme, kau beneran lagi dapet ya… whahaha…, sakit perutku lihat kelakuanmu, Teme. Kayak anak kecil. Whahaha…"

"DOBE."

Lagi, Sasuke kembali menyembul dari pintu apartemennya dengan membawa sebuah sepatula di tangan kananya.

"Hieee…, ampun Teme." Naruto berlari menjauhi apartemen Sasuke, masuk kedalam apartemennya sendiri.

"Siapa yang sekarang kayak anak kecil, Dobe." Senyum merekah di bibir Sasuke, senyum mengejek tanda kalau dia memenangkan adu mulut+fisik dengan 'Dobe' Tetangga barunya itu.

(-^Thy^-)

Keremangan malam membuat pantulan buram dari sebuah sosok yang berjalan angkuh sambil membawa sebuah samurai dan pistol di setiap tangannya. Buku jarinya membalu saat dia menggenggam kedua benda itu dengan sangat erat, samurai panjang itu dibiarkan menjulang kelantai sehingga gesekan antara besi itu bertemu dengan lantai bermarmer membuat bising di seluruh ruangan, tak dihiraukannya tentang kebisingan bunyi itu yang mampu membuat penghuni sebuah rumah megah yang dia masuki barusan terbangun dari mimpi indahnya.

Bibirnya menggeretak geram, mata hitam itu terlihat berkilat merah akan dendam. Dendam yang akan dibawanya sampai akhir dunia. Kaki jenjang itu masuk dengan gerakan cepat menelusuri setiap lorong.

"Oi…! Tunggu, berhenti, atau kami tembak kau." Pemuda itu berhenti seketika.

Tak didengarnya lagi gesekan antara samurai dan lantai itu. dia berbalik sambil tersenyum mengerikan kearah 5 orang laki-laki berbadan kekar dengan setelan hitam-hitam yang mereka pakai, mata pemuda itu tambha berkilau, tersungging sedikit seringai berbahaya dari bibirnya.

Di angkatnya gengaman tangan kirinya dengan cepat.

DOR… DOR… DOR… DOR… DOR…

BUARK

Ke 5 tubuh itu ambruk dalam sekejam, tak lebih dari 10 detik saja bagi pemuda itu menumbangkan mereka semua. Dia berjalan memandang tubuh-tubuh yang menggelepar tak berdaya itu sampai ajal menjemput mereka. senyum iblis itu masih bertengger indah di bibirnya.

"Kalian tak akan pernah bisa menghentikanku."

Tangan lentik berkulit putih itu menjamah sebuah pistol milik salah satu tubuh yang masih menggelepar itu. dilihatnnya sebentar barang itu, lalu di masukkanya didalam jubah coklat miliknya, dia berjalan dengan angkuh kembali menelusuri koridor gelap itu.

Tap… tap… tap…

Bunyi sol sepatu itu terdengar nyata di keheningan malam berkabut. Dia terus berjalan sampai menemukan objek mangsanya. Mata elang itu sedikit memicit kesebuah pintu kayu jati didepannya, dengan kaki panjangnya dia menendang pintu itu.

BRUAK

"Siapa kau?"

Laki-laki yang baru saja mendengkur itu terbangun kembali saat dilihatnnya seorang pemuda berjalan mendekatinya. Moncong pistol pemuda itu beradu dengan dahinya

"Kau tak mengenalku? Kakazu."

Mata laki-laki itu terlihat membulat, tubuhnya mengejang.

"Itachi?"

"Bukan! aku Taka."

DOR.

Suara memilukan menguap ke angkasa, saat sebutir peluruh itu menembuat bagian terdalam otaknya. Bunyi sayatan juga terdengar, benda tajam itu bertemu dengan tubuh laki-laki yang meregang nyawa itu seketika. Tangan laki-laki itu dipisahkan dengan sengajah oleh sang iblis.

"WHAHAHAHA…"

Tawa iblisnya terdengar, membuat seluruh penghuni rumah itu berlari kearah sumber suara. Berpuluh-puluh manusia yang bernotabet sebegai Bodyguard itu berlarian kearah kamar sang tuan, alangkan terkejutnya mereka saat mereka melihat Kakazu sudah tak berbentuk seperti manusia lagi. Tubuhnya tercabik seperti mangsa seekor elang. Dan makhluk yang harus bertanggung jawab atas semua itu sudah menghilang di kegelapan bersama angin malam.

"Taka." Jerit salah satu dari mereka. saat menemukan sebuah tulisan dari darah majikan di dinding putih kamar Kakuzu.

.

.

.

Pemuda itu berhenti didekat sebuah belokan yang sangat sepi. Napasnya memburu, cipratan darah diwajahnya terlihat jelas. Lidah panjangnya menjangkau cairan merah itu yang bertengger disudut bibirnya. Dia tersenyum puas, sangat puas.

"Dia yang kedua, Aniki." Ujarnya, suaranya yang parau membuat dia seperti habis menagis. Tubuh itu ambruk dengan lemas, dia melengkungkan tubuhnya, menenggelamkan wajah itu kedalam pahanya.

"Aku bersumpah, tak akan aku biarkan mereka bersenang-senang atas penderitaanmu, Aniki."

Tubuh rapuh itu kembali berdiri, berjalan terseok-seok sambil tetap menyeret samurainya dengan santai. Toh tak ada yang melihatnya saat itu. karena jalan ini tak seorangpun manusia terlihat.

(-^Thy^-)

"Teme…!" Jerit Naruto saat Sasuke keluar dari apartemennya.

"Oi Dobe, aku gak budek, bisa kecilkan suaramu." Naruto manyun.

Dengan santai dia berjalan menjauhi pemuda itu. sedangkan Naruto mengekori Sasuke.

"Ayolah Sasuke, bisa gak sih bersikap sedikit baik denganku."

"Gak." Hardik Sasuke cepat.

"Huh, eh~ hari ini ada mata kuliah apa?"

"Mang kau gak ada jadwalnya? Parah~ anak kuliah tapi gak ada jadwal mata kuliah. Kau Cuma mau main ke kampus? Dasar IDIOT"

Jidat Naruto berkedut-kedut. Dengan cepat dia menyusul Sasuke, lalu berlari kedepan pemuda itu, membuat Sasuke berhenti seketika, melihatnnya dengan pandangan malas.

"Jangan panggil aku IDIOT, 'Brengsek', pagi-pagi sudah ngajak berantem."

"Yang ngajak berentem siapa, dasar." Sasuke mendesah pasra, dia memutari tubuh Naruto lalu berjalan santai meninggalkan Naruto lagi.

"Kejam… Teme tunggu."

Sasuke tak menghiraukan Naruto, masih dengan sangat santai, dia berjalan melewati trotoar.

"Ne~ Teme, mau jadi teman baikku gak?"

"Gak!"

"Hup~ jangan gitu dong. Aku 'kan mintanya baik-baik."

"Sekali gak ya tetap gak."

"Ayolah teme."

"Gak!"

"Mau jadi temanku, Sasuke Uchiha?" Sekali lagi Naruto mencegat Sasuke tepat di depan langkahnya. Dia melihat Naruto dengan pancaran membunuh beraurah tinggi. Menyadari itu. Naruto kembali menuju tempat semula.

"Kau meminta aku jadi temanmu apa jadi kekasihmu, Dobe." Ujar Sasuke sok polos.

"Heh? Hoek, yang benar aja, aku masih normal tahuu~" Komentar Naruto

"Abisnya, mau ngajak temanan kok maksa." Sewot Sasuke, di dorongnya sedikit tubuh Naruto, sehingga tubuh itu dapat sedikit peluang untuk menghindari Naruto kali ini.

.

.

.

TBC

Gaje amat ya chapi ini. Ya udah yang penting selesai *di lempar sandal jepit*

Nah~ gi mana? Garing ya?

Oh iya, masalah Elo-Gue di fic ini maaf banget.

Itu karena Mugi ngikutin saran Imouto. *ngelirik Imouto*

Mouto: Salah sendiri. *nyengir*

Gomen… Gomen, itu karena Imouto bilang kalau fic ini keren pake gaya bahasa Elo-Gue gitu. Padahal Mugi sudah nulis pake aku-kamu-kau. Tapi di edit lagi.

Balas Repyu:

-Versiera c'Zombie Hanashi

Hahaha~ klw polisi kyk Naru, Mugi juga mau^^.

Yupz~ bakal ada shikakiba di fic ini. Makasih ya repyunya

-ttix lone cone bebe

kira-kira Naru tegah gak ya dg Sasu?.

SasuNaru: Authornya siapa sih?

Kalau penasaran, lihat aja entar, gimana Sasu dekatin Naru. Makasih repyunya

-Superol

Waaa~ gomen, tp di chap ini sudah Mugi rubah.

Makasih sarannya+repyunya

-Tori Piya

Makasih sarannya+repyunya. Sudah Mugi ganti.

-Namichiha Yuu-chan

OneeChan?

Sudah Mugi ganti. Makasih sarannya+repyunya.