(Naruto ^^ Masashi Kishimoto)

(Rate^^T, untuk sementara)

(Warning^^ Yaoi, sedikit gore, aneh, ancur, OOC, OC, EYD, TYPO, Sedikit pendiskripsian, dll.)

(Pair^^ Sasuke Uchiha X Naruto Uzumaki)

(Author by ^^ Thy UchiUzu)

DON' LIKE DON'T READ

Dunia berjalan menuju akhir, aku rasa kami adalah orang yang diasingkan di dunia. Aku hanya percaya pada sebuah takdir, persetan dengan malaikat dan iblis yang diceritakan. Tak ada yang abadi di dunia, kecuali tuhan, sejauh apapun kau terbang dengan sayap rapuhmu, dan tak menoleh ke arahku, aku akan tetap menggapaimu. Aku akan selalu merasakan kehadiranmu di dalam hatiku.

(-^Your not Devil^-)

(-^Thy^-)

"Mau jadi temanku, Sasuke Uchiha?" Sekali lagi Naruto mencegat Sasuke tepat di depan langkahnya. Dia melihat Naruto dengan pancaran membunuh beraurah tinggi. Menyadari itu. Naruto kembali menuju tempat semula.

"Kau meminta aku jadi temanmu apa jadi kekasihmu, Dobe." Ujar Sasuke sok polos.

"Heh? Hoek, yang benar aja, aku masih normal tahuu~" Komentar Naruto

"Abisnya, mau ngajak temanan kok maksa." Sewot Sasuke, didorongnya sedikit tubuh Naruto, sehingga tubuh itu dapat sedikit peluang untuk menghindari Naruto kali ini.

ILUSI

Naruto mengotak-atik komputernya sekarang, wajahnya terlihat serius mengamati layar computer itu. sesekali dia bergumam tak jelas.

"Uchiha Sasuke… Uchiha Sasuke…, Uchiha Sasuke." Nama itu terus dilapalkannya sambil mencari-carinya di deretan nama seluruh mahasiswa di Universitas Konoha. Yap, anak pirang kita ini mendapatkan copy-an daftar nama mahasiswa khususnya mahasiswa seangkatannya. Mata biru itu berhenti tepat disebuah nama yang tak asing baginya.

"Sabaku no Gaara?" Kepalanya sedikit memiring melihat nama itu. tak hanya berhenti sampai di situ. dia terus memainkan kursornya, dan dia mendapatkan satu lagi nama yang tak asing baginya.

"Hyuga Neji." Di 'kliknya' sekali nama itu, terpampanglah dengan jelas seluruh biografi dari pemilik nama itu.

"Dasar, mereka juga merencanakan sesuatu. Tapi apa sebenarnya yang mereka lakukan?" Gumamnya sendiri. Sebuah seringai terlihat dari sudut bibirnya. Ditekannya tanda 'BACK' pada komputernya. Mencari sebuah nama yang belum didapatinya. BINGO… dia mendapatkan apa yang diinginkannya, sebuah nama yang dari tadi dicarinya. 'Uchiha Sasuke'. Mata biru itu mengamatinya dengan intens, Naruto menarik napas dalam, lalu meng'klik' nama itu sekali.

"Hmmm~ aku punya cara untuk mendekatinya kali ini." Gumam Naruto bangga.

(-^Thy^-)

Naruto menghebuskan napasnya sangat berat. Kali ini dia harus menghilangkan satu kebahagiaannya karena dua makhluk super gaje yang sekarang berada di depannya ini membuatnya tak berselerah dengan pemandangan indah di kamtin sekarang, bagai mana tak indah, kalau kalian akan melihat banyak gadis yang berlalu lalang di depan kalian dengan menggunakan rok mini dan tanktop saja untuk pergi kekampus.

"Ok~ katakana padaku, kenapa kalian begitu menyebalkan. Khususnya hari ini? Ayo jelaskan!"

Shikamaru yang dari tadi asik berkutat dengan ponselnya menatap Naruto dengan malas. Tak ada sedikitpun niatnya menanggapi perkataan Naruto. Sedangkan Kiba dia hanya menurunkan komiknya dari pandangan sedikit saja, lalu kembali melihat buku kesukaannya itu.

"Hei~ jangan mengacuhkanku. Aku butuh penjelasan kalian. Dan satu lagi. Tolong beri tahu aku tentang ini!" Naruto mengobrak-abrik tas ranselnya, lalu menemukan dua lembar kertas dan membantingnya didepan ShikaKiba. Tak seperti Shikamaru, Kiba lebih bereaksi, dia menghentikan kegiatannya dan memunguti kertas yang dibanting Naruto tadi.

"Hah? Apa-apaan ini?"

Kiba membulatkan matanya saat melihat kertas itu, lalu mata itu beralih ke Naruto menghujamnya dengan berbagai pertanyaan yang terlihat jelas dari tatapan mata itu.

"Jangan memandangku begitu, aku menemukan dua nama manusia itu di daftar mahasiswa seangkatan kita. Makanya aku bertanya pada kalian, apa kalian tahu kenapa mereka juga terdampar di kampus ini?"

Akhirnya Shikamaru bereaksi, dia menaruh ponselnya di atas meja kantin, lalu merebut dua kertas itu dari tangan Kiba.

"Gaara? Neji?, kelihatannya kita butuh penjelasan dari Kakashi-san." Kiba dan Naruto manggut-manggut.

"Benar, polisi tua itu harus memberi tahu kita, kenapa kedua orang ini juga bisa ada di sini, bersama kita." Kata Kiba antusias.

"Hei Kiba, Kakashi-san belum tua, umurnya saja baru 30." Celetuk Naruto polosnya.

"Dia memang belum tua, tapi dia punya muka seperti orang tua." Terdengar sebuah suara yang sangat di kenal dari belakang Naruto. ShikaKiba yang memang sudah mengadap langsung dengan sumber suara itu hanya membulatkan mata, sedangkan Naruto harus membalikan tubuhnya 180 drajat. Sehingga dia dapat menatap dua pemuda yang berkecak pinggang menatapnya balik.

"Panjang umur kau." Naruto menggeser tubuhnya saat dua makhluk ajaib yang entah datang dari mana itu meminta ruang agar mereka dapat duduk satu meja dengan Naruto dan ShikaKiba.

"Langsung saja, ada urusan apa kalian kemari?" Pemuda berambut merah yang lagi memantapkan posisi duduknya Cuma menaut alis tanda menginstrupsi pertanyaan dari Kiba. Dia merasa belum mendapatkan posisi enak untuk duduk. Tapi sudah dihujam pertanyaan menyebalkan.

"Bisahkah kau membiarkan kami duduk dan memesan sesuatu dulu?" Kiba menggeram mendengar hal itu, dia mengerucutkan bibirnya.

"Aku setujuh dengan Kiba, bisahkah kau memberi tahu kami kenapa kalian juga berada di sini, Gaara?" Pemuda berambut merah itu Cuma memijat pelipisnya. Dia tidak tahu harus bercerita dari mana.

"Kami disuruh Kakashi-san menyelidikin sesuatu." Ujar pemuda berambut panjang yang duduk bersebelah dengan Naruto dan Gaara.

"Maksudmu apa, Neji?" Shikamaru benar-benar berhenti dari aktifitasnya. Dia lebih tertarik mendengar penjelasan dari pemuda benama Neji itu, dari pada memandang ponsel yang baginya sangat membosankan itu.

"Kami diminta memata-matain seseorang." Naruto menghela napas seberat mungkin, dia memandang Shika dan Kiba bergantian.

"Bagus, Kakashi-san sudah mulai tak punya kerjaan. Dia menyururh kita mengawasi satu orang yang sama. Oh tidak. Dia sudah mulai terobsesi dengan 'Taka'." Cerocos Naruto. Gaara Cuma tersenyum maklum.

"Kami tak datang untuk mengamati 'Taka', tapi kami kemari untuk mengamati 'Akatsuki." Kiba yang baru saja hendak meminum jus mangga yang tadi dipesannya itu kembali menaruh gelas itu keatas meja.

"HEH? 'Akatsuki'? kok bisa?" Neji tersenyum penuh makna, membuat Kiba merinding melihatnnya.

"Kami diminta untuk menemukan anggota 'Akatsuki', ah~ lebih tepatnya suruhan Akatsuki." Jelas Neji, Gaara manggut-manggut setuju.

"Suruhan?"

"Yah~ dia suruhan Akatsuki, kami dengar dia juga mengincar 'Taka' untuk dibunuh. Aku rasa dia mengira kalau 'Taka' terlalu membahayakan untuk mereka. dan well. Kau tau sendirikan bagai mana Akatsuki…"

"Mereka akan melakukan apapun untuk mendapatkan yang mereka mau…"

"Termasuk membunuh seluruh orang di kota ini tanpa terlibat langsung dengan darah." Pendapat itu langsung mendapatkan anggukan dari seluruh penghuni meja yang diduduki Naruto cs itu.

"Bagus, kenapa tak bekerjasama saja dengan 'Akatsuki'?" Naruto melempar sebuah kertas yang baru di buatnya sepeti bola kepada Kiba.

"Aku lebih memilih bekerja sama dengan'Taka' dari pada dengan mereka." Naruto memandang Kiba dengan murka.

"Dan aku lebih memilih menangkap mereka semua, dari pada bekerja sama." Celetuk Shikamaru yang mulai menguap.

"Aku setuju dengamu, Nara." Gaara tersenyum iblis. Membuat Neji merinding disko melihatnya.

OK~ Kalian mungkin belum mengenal duo yang tiba-tiba datang ini. Mereka. Hyuga Neji dan Sabaku no Gaara, duo polisi yang seangkatan dengan Naruto, hmmm~ mungkin bisa dibilang setahun diatas Naruto. Duo sijoli yang tak terpisahkan, bahkan sampai mendapatkan tugas yang sama dan ditempatkan ditempat yang sama. Yak~ itulah mereka berdua, tak akan pernah terpisahkan. *Author mulai lebay*.

"Naruto, bagaimana dengan tugasmu?" Naruto mengetuk-ngetuk jari tangannya di atas meja. Dia melihat Neji dan Gaara dengan mata biru itu.

"Masih buram. Belum mendapat pencerahan, Cuma data-data tak jelas yang aku dapat dari pihak Universitas." Gumam Naruto frustasi.

"Wah~ tak bisa selesai dengan cepat ya? kau masih betah berlama-lama menjadi mahasiswa di kampus ini?" Gaara mulai menggoda Naruto, tapi pemuda itu tak menanggapi sama sekali.

"Aku rasa dia mulai menikmati hidupnya sebagai mata-mata anak Uchiha itu. buktinya teman kita ini terlihat sedang jatuh cinta padanya." Selah Kiba, dan langsung dilempat dengan sepatunya oleh Naruto.

"Hei~ apa maksudmu? Aku bahkan tak pernah memikirkan hal itu."

"Karena belum dipikirkan, makanya kau mencoba memikirkannya. Benarkan? Awas, kau bisa kehilangan jati dirimu sebagai Uzumaki Naruto suatu saat nanti, jangan terlalu jauh loh." Kiba cekikikan mendengar godaanya sendiri.

"Tak bisahkah kau tak menggodaku Kib…"

"Kiba benar, berhati-hatilah. Aku melihat ada yang tak beres. Jadi jangan sampai terlalu ya, Naruto." Kiba dan Naruto memandang Shikamaru yang berwajah serius, sambil mengeluarkan pose berfikirnya.

"Wew… bahkan Shikamaru sudah mencium gelagat tak enak dari kalian berdua." Gaara ikut-ikutan menibrung, membuat telingan Naruto semakin panas.

"Diam kau, aku tak suka kalian menggodaku dengan anak Uchiha itu."

"Kalau begitu tak usah sehebo itu, sampai menjerit segala." Kiba mengedip matanya nakal kearah Naruto, dan mendapatkan gelakan tawa dari seluruh penghuni meja yang terlihat Naruto CS di sana.

"Ano, apa kau sudah tahu siapa anak buah 'Akatsuki itu, Gaara?" Kiba mengalihkan pembicaraan, dia terlihat serius menatap Gaara.

"Belum…"

"Tapi kami sudah mendapatkan banyak bukti, tinggal mencari siapa orang itu." sela Neji sebelum Gaara mengakhiri pembicaraanya.

"Berhati-hatilah." Ujar Shikamaru.

"Kalu begitu, kalian juga."

(-^Thy^-)

Sasuke berjalan dengan santai hari ini, tumben sekali dia tak melihat anak pirang berisik itu berkeliaran disekitarnya saat dia pulang seperti ini. Di tengadahkannya kepalanya sehingga melihat awan senja menggantung diatas kepalanya. Tangannya terlihat sedang menggenggam erat kotak coklat yang dari tadi dibawanya.

Wajah Sasuke terlihat sangat lelah saat memasuki apartemennya. Saat melewati apartemen Naruto tadi, dia sama sekali tak mendengar suara cempreng Naruto dari sana. Satu hal yang dia tahu. Naruto belum pulang dari kampus. Dan pasti anak itu masih berkeliaran entah dimana sekarang.

Sasuke memasuki dapur apartemennya, membawa sebuah pisau dapur dan piring kecil dimasing-masing tanggannya. Membawa kedua barang itu ke ruang tengah apartemennya. Dia mendudukan diri di sofa biru apartemennya itu. setelah menaruh kedua benda itu di meja, dia kembali berdiri dan mengambil kotak coklat yang tadi dibawanya pulang. Menaruhnya tepat diatas meja didepan dirinya. Diambilnya figure keluarganya dari meja sudut dan menaruhnya diatas meja ruang tengah itu. ditatapnya figure itu.

"Tanggal 23 Juli. Kalian tahu, ini hari apa?" Sasuke menarik figure itu memeluknya erat.

"Ini hari ulang tahunku, Kaasan, Tousan, Aniki." Sasuke kembali meletakan foto keluarnya itu di atas meja. Terlihat jelas kalau Sasuke sekarang sedang menangis dalam diam.

"Aku mau hadiah dari kalian semua." Ujar Sasuke.

(^FLASHBACK^)~

Sasuke kecil yang masih berumur 7 tahun tarlihat berlari ceria di koridor rumahnya yang bergaya khas jepang. Sesekali anak kecil imut itu bersenandung sambil melangkah-langkah dan berjingkrak tak jelas. Saat sampai di ruang makan keluarganya, Sasuke kembali membenahi sikapnya menjadi seorang Uchiha seharusnya, penuh sopan santun dan tenang.

"Ohayou Tousan, Kaasan, Aniki." Sasuke berjalan pelan, lalu mendudukan dirinya di sebelah sang kakak.

"Ohayou Sasuke." Balas pemuda berumur 13 tahun yang sedang menyantap makannya, dia tersenyum memandang Sasuke.

"Ohayou Sasuke-kun." Yang ini suara seorang perempuan paling cantik didalam keluarga ini.

Sasuke membalas senyuman kakak laki-lakinya dan ibunya itu, wajah polosnya menatap sang ayah yang sama sekali tak begemih. Wajah cerianya terlihat berubah cemberut, saat sang ayah sama sekali tak menanggapi sapaannya tadi.

"Sasuke…" Itachi memanggil Sasuke dengan lembut, dia tahu adik kesayangannya itu butuh sedikit ketenangan menghadapi ayahnya yang super keras kapala itu.

Sasuke menoleh saat mendengar namanya dipanggil, dia melihat sang kakak tersenyum sangat lembut kearahnya. Sasuke membalas senyum itu, rasa jengal karena sang ayah tak melihatnya bahkan mungkin tak mengakui keberadaannya itu hilang sudah. Dia sangat menyukai kakak laki-lakinya ini.

"Ano~ besok tanggal 23 Juli, apa kalian ingat besok hari apa?" Sasuke kecil itu melihat satu persatu anggota keluarganya dengan onyx besar miliknya.

Itachi mengetahui maksud Sasuke, dia meletakan mangkuk nasinya menatap pada sang ayah dan ibu, berharap mereka mau merespon dan mengingat hari apa itu.

"Benar juga, besok hari ulangtahunmu 'kan, Sasuke-kun?" Sasuke tersenyum bahagia, saat mendengar kalau ibunya mengingat hari kelahirannya.

"Bolehkah aku meminta hadiah special untuk ulangtahunku?" Satu-satunya anggota keluarga tertua di sana berhenti dari makanya. Fugaku sama sekali tak menoleh kearah Sasuke, setelah meletakan mangkuk nasinya, dia berlalu begitu saja, meninggalkan istri dan kedua putranya yang memandang punggungnya dari belakang.

Sasuke yang melihat itu serasa ingin menangis, selama ini dia merasa tak pernah dianggap oleh sang ayah. Air matanya hampir saja keluar, kalau tidak karena dia merasa sebuh tangan mengelus rambut pantat bebeknya lembut.

"Kau mau hadiah apa? Akan aku berikan untukmu, Sasuke." Raut wajah Sasuke kembali berubah ceria. Mendapatkan senyum manis sang kakak yang membuat hatinya selalu teduh.

"Aku mau, besok seharian penuh kita ke taman bermain, besok 'kan Aniki libur sekolah, jadi mau tidak menemaniku kesana."

Itachi membalas pertanyaan Sasuke dengan anggukan. Lalu mata bulat Sasuke beralih kearah sang ibu. Mata itu seperti mengatakan apa-ibu-mau-ikut-juga?. Mikoto yang tahu arti dari tatapan Sasuke menunduk lesu.

"Maaf Sasuke, besok Kaasan harus pergi dengan ayahmu. Bagai mana sebagai gantinya akan Kaasan masakan bekal untukmu dan Itachi besok. Dan kau boleh meminta Kaasan memasak apa saja."

"Benarkah?" Sasuke memeluk ibunya dengan brutal. Membuat sang ibu hampir saja kehilangan keseimbangannya.

"Memangnya kau ingin apa?"

"Hmm~ apa saja, karena yang Kaasan masak selalu enak untukku." Mikoto mengelus rambut pantat bebek Sasuke dengan lembutnya. Mendapatkan perlakukan sayang itu, Sasuke tertawa girang. Melihat ibu dan adiknya sedekat itu, Itachi juga tak dapat menahan senyum tulus keluar dari bibirnya.

.

.

.

Siang itu, setelah insiden di ruang makan keluarga. Sasuke terlihat berguling-guling di lantai kamarnya. Dia masih memikirkan wahana apa yang asik dikunjungin bersama kakaknya besok. Baru saja Sasuke keluar dari kamarnya, dia melihat sang ayah berjalan angkuh melewatinya, mata itu mengikuti arah Fugaku, Sasuke mendapatkan pemanandangan yang tak mengenakan, saat dia melihat sang kakak dan ayahnya saling melewati, tak ada tegur sapa, bahkan membungkuk hormatpun tidak. Sasuke mengerengitkan dahinya melihat itu, sudah hampir sebulan ini, ayah dan kakanya tak saling menegur, kelihatannya ada hal yang tak beres pada keduanya.

Saat mata Itachi tertuju pada Sasuke yang berdiri di ambang pintunya. Itachi berhenti, lalu tersenyum kearah Sasuke.

"Kau melihatnya, Sasuke?" Sasuke tak tahu mau menjawab apa, dia Cuma menggeleng kepalanya, dan dia juga tak tahu kenapa dia melakukannya.

"Baguslah, aku harap kau tak melihatnnya." Setelah mengusap kepala Sasuke, Itachi berlalu begitu saja.

Sasuke menunduk bingung. Sambil terus berjalan dia memutar otak jeniusnya untuk menganalisis apa yang sebenarnya terjadi diantara kakak dan ayahnya.

BUUAKK.

"Auh~" Sasuke meringis pelan saat pantatnya mendarat mulus di atas lantai kayu rumahnya.

"Sasuke-kun, kau tak apa?" Sasuke mendongak, melihat ibunya yang memandang khawatir.

"Tidak, aku tak apa-apa, kaasan." Mikoto merendahkan tubuhnya.

"Kenapa kau melamun?" Sasuke tak berdiri, dia malah mendudukan dirinya dengan bersilah di depan sang ibu.

"Tadi aku lihat Tousan dan Aniki, mereka sama sekali tak bertegur sapa saat berjalan di koridor, Kaasan." Mikoto tersenyum maklum. Dia mendudukan dirinya di depan Sasuke.

"Apa ada yang menganjal di kepalamu?"

"Iya~ apa Kaasan tahu, kenapa Aniki dan Tousan bersikap seperti itu?"

Mikoto melihat mata hitam Sasuke lekat. Dia sangat serius memandang wajah anaknya itu.

"Aniki itu anak pertama, dia punya tanggung jawab yang sangat berat dipundaknya."

"Apa hubungannya dengan kejadian yang aku lihat tadi, Kaasan?" Mikoto merapatkan duduknya. Dia menyentuh hidung Sasuke dengan jari telunjuknya.

"Kau tahu keluarga kita 'kan?" Sasuke mengangguk," Ayah, kakek, bahkan seluruh keluarga Uchiha itu, adalah aparat keaman kota. Tousan sebagai kepala kepolisian selalu berusaha yang terbaik untuk kota kita. Kau tahu tentang 'Akatsuki'?" Sasuke mengangguk lagi.

"Ayahmu bilang, mereka sekarang sedang memperkuat kekuasaan. Kalau sampai itu terjadi, maka orang-orang jahat dikota ini akan semaki banyak. Dan untuk itu, ayahmu menyuruh Aniki membantunya dikepolisian. Tapi Itachi menolak. Bahkan saat ayahmu berkata untuk memberikannya tenggang waktu berfikir. Tapi Itachi dengan tegas menolak semua itu. makanya ayahmu marah besar saat itu."

"Kenapa bisa begitu?" Mikoto menggeleng pelan.

"Ne~ Kaasan tak tahu apa sebenarnya yang dipikirkan Itachi, tapi Kaasan percaya Itachi punya alasan khusus menolak semua itu." Seberapapun otak jenius Sasuke bekerja, yang ada didalam pikirannya saat ini adalah, 'Masalah orang dewasa terlalu rumit dimengerti anak-anak seperti dia'. Makanya Sasuke Cuma mengangguk saja tanpa mengerti sepenuhnya apa yang dijelaskan Mikoto.

"Kaasan, aku pergi keluar dulu, ada yang ingin aku lakukan." Mikoto Cuma tersenyum menanggapi lambaian tangan Sasuke padanya.

(-^Thy^-)

Hari ini Sasuke pergi bersama Itachi ke taman bermain. Mata onyx besarnya terlihat mengagumi semua yang dilihatnya.

"Sasuke, sekarang kau mau main apa?" Sasuke melihat Itachi yang tinggi darinya itu tersenyum kearahnya.

"Kita main itu." Sasuke menunjuk sebuah wahana komedi putar. Itachi mengangguk lalu mengandeng Sasuke.

Sudah lebih 4 jam Itachi dan Sasuke berputar-putar mengelilingi taman bermain yang sangat luas itu. rasa lelah mulai merambat tubuh mereka. Itachi berjongkok didepan Sasuke, sambil memainkan helaian rambut hitam kebiruan Sasuke.

"Kita istirahat dulu ya, Aniki capek." Sasuke tersenyum melihat kakanya. Dia menyeret Itachi kesebuah taman yang sangat ramai, terlihat beberapa dari pengunjung taman ini memang menggunakannya untuk beristirahat.

"Mana bekal dari Kaasan, Aniki… ayo kita makan bersama." Itachi menyerahkan dua kotak bento yang dibawanya dari tadi. "Wah~ enak nih, Kaasan memang hebat." Sasuke memuji kehebatan ibunya dalam memasak, terbukti, selain harum masakan yang dapat membuat orang berselera menghirupnya, rasanya pun tak kalah enak dari masakan restoran mahal manapun.

"Makanlah, setelah itu, kita langsung pulang ya?" Sasuke terlihat manyun. Dia sama sekali tak mau pulang.

"Aku masih mau main, Aniki." Itachi membuat gerakan tak boleh dengan jari telunjuknya.

"Besok aku ada mata kuliah tambahan, Sasuke… jadi tolong maklum." Sasuke masih manyun. Tapi mau apa lagi, dia memang tak bisa menolak.

Mungkin banyak yang mengira Itachi adalah anak berumur 13 tahun yang masih duduk di bangku sekolah menengah pertama. Tapi itu salah. Itachi terlalu jenius untuk anak seumurannya.

Itachi adalah seorang Mahasiswa di salah satu kampus terkemuka di Konoha, bahkan entah apa yang dia lakukan, sekarang dia sudah menginjak di semester ke dua.

"Aniki~" Itachi memutar bola mata hitamnya kearah Sasuke. Sedangkan tangannya masih memegang sumpit dan bento.

"Apa?"

"Apa kau marah dengan Tousan? Atau mungkin Tousan yang marah dengamu? Aku lihat kau dan Tousan saling mendiami." Itachi menaruh sumpit dan bento-nya di rerumputan tebal yang mereka dudukki.

"Apa yang kau ketahui selain itu, Sasuke?" Sasuke tak berani menatap mata sang kakak yang terlihat menelanjanginya. Dia hanya fokus pada bentonya. Tak mau melihat sang kakak.

"Kaasan bilang, kau menolak menjadi polisi. Apa benar? Kenapa kau menolaknya? Bukankah menjadi polisi itu hebat. Aku saja ingin menjadi polisi seperti Tousan."

Mendengar pernyataan sang adik, Itachi tak mengubah ekspresi datanya, dia menghebus napasnya sekali. Merentangkan kakinya agar lebih rilek, dan menopang berat badannya dengan kedua tangannya yang bertumpuh dibelakang tubuhnya. Sambil menikmati hembusan angis yang menerpa wajah dan rambut panjang hitamnya.

"Apa benar kau ingin menjadi seperti Tousan? Kenapa kau ingin menjadi polisi?" Akhirnya Sasuke berani menatap sang kakak. Dengan matap dia mengenggam tangannya.

"Karena aku akan menangkap orang-orang jahat. Dan akan memasukkannya ke penjara. Aku akan jadi pahlawan konoha kalau aku hebat dan jadi polisi." Sasuke menunjukan cengiran khas boca yang masih berumur 7 tahun. Itachi memandangi Sasuke.

"Kau ingin seperti dia? Seperti Tousan?" Sasuke mengangguk.

"Bukannya seperti Tousan, tapi juga seperti Aniki, aku pasti akan menjadi polisi, dan mengalahkanmu." Itachi tertegu mendengar pernyataan adiknya itu. dia menaruh jari tengah dan telunjuknya ke kening Sasuke.

"Sasuke. Aku bukanlah orang yang baik. Dan aku juga tak tahu harus mengatakan apa. Tapi, Sebagai dinding yang harus kau lampaui, aku akan selalu ada disampingmu. Itulah artiku, sebagai kakakmu. Sasuke." Sasuke melongo mendengar sang kakak berkata sedalam itu.

"Aku… aku pasti bisa melampauimu." Sasuke dan Itachi terdiam. Hanya terdengar sepoi angin yang menemani keakraban mereka berdua.

"Baiklah~ ayo pulang. Aku capek." Itachi membereskan bento mereka, lalu berdiri dan berjalan meninggalkan Sasuke yang memandang sosok tegapnya dari belakang. Tapi kembali langkah Itachi terhenti, tanpa memandang sang adik. Dia berhenti tepat beberapa langkah dari tempat Sasuke.

"Sasuke~" Sasuke mendongak. Menunggu apa yang akan dibicarakan sang kakak.

"Sasuke, dengarkan aku. Semua orang hidup terikat dan bergantung pada pengetahuan atau persepsinya sendiri, itu disebut kenyataan. Tapi pengetahuan atau persepsi itu sesuatu yang samar. Bisa saja kenyataan itu hanya ilusi. Semua orang hidup dalam asumsi. Jadi… aku berharap kau memang bisa melampauimu. Tapi tidak untuk menjadi sepertiku. Kau tak tahu siapa aku sebenarnya. Yang kau tahu, aku adalah kakak terbaikmu." Setelah mengatakan itu. kali ini Itachi benar-benar meninggalkan Sasuke yang termenung mencerna kata-kata sang kakak.

"Kakak~" Desahan alus keluar dari bibir Sasuke, dia sama sekali tak bisa mencerna apa yang baru saja di katakan kakaknya itu.

.

.

.

"Sasuke lari lah…"

"Tapi~"

"Cepat lari!" Sasuke menggelang keras saat dia melihat kedua orangtuanya meregang nyawa di hadapannya saat ini. Hanya tinggal sang kakak yang sekarang masih bernapas dan ada dipelukannya.

"Aku mohon. Hiduplah untukku, Tousan, dan Kaasan." Sasuke masih menggelang keras.

"Hahahaha~ ada boca ternyata." Sasuke mendongak melihat beberapa manusia yang memandangnya dengan tatapan menbunuh.

"Siapa kalian? Kenapa kalian membunuh ayah dan Ibuku, kenapa?" Laki-laki berambut merah berwaja imut memandangi Sasuke dengan seringainya.

"Kami 'Akatsuki', dan kau tak perlu tahu kenapa kami melakukannya. Yang harus kau tahu. Kami ingin sekali menghabisi seluruh keluarga Uchiha." Sasuke terlihat gemetar. Saat pulang sekolah tadi. Dia melihat seluruh klan Uchiha habis di bantai, bahkan nenek dan kakenya. Sekarang dia benar-benar sangat takut.

"Lari Sasuke!"

"Tidak!"

"Brisik!" sebutir peluru melesat mengenai lambung kiri Itachi, Mata Sasuke membulat saat dia melihat kakaknya berdiri dihadapannya. Dengan mengorbankan tubuhnya dia menyelamatkan Sasuke.

"Hiduplah Sasuke."

"Tidak! Aku tidak akan pergi!" Sasuke berteriak sekencangnya. Dia hendak memeluk kakanya, tapi tangan Itachi keburu mencegatnya.

"Jangan keras kepala."

BRUAK.

Itachi tumbang di samping Sasuke, dengan terseok Sasuke menghampiri tubuh kakaknya. Dan menaruh kepala sang kakak di paha kecilnya.

"Kakak~" Itachi menggenggam pergelangan tangan Sasuke. Lalu meletakan sebuah pistol di telapak tangan adik semata wayangnya itu.

"Ini memang sudah terlambat. Tapi aku ingin memberikanmu hadiah di hari ulangtahunmu kemarin. Ambilah benda ini. Dan~ Selamat Ulang tahun Sasuke." Jari-jari Itachi yang penuh darah itu memegang pipi putih adiknya, terlihat jejak darah kental di pipi kiri Sasuke.

"Kakak…" Air mata Sasuke tambah deras mengalir dari mata onyx besarnya. Membuat Itachi terasa sakit melihatnya.

"Pergilah, lari lah. Dan maafkan aku Sasuke."

"Dasar orang-orang tak berguna." Seorang laki-laki berambut panjang bermata seperti ular maju, dia menodongkan pistolnya kearah Sasuke.

DOR

"Akhh."

"Aniki~!" sekali lagi, Itachi menggunakan seluruh tenaganya untuk melindungi sang adik. Tubuhnya tersungkur dengan wajah yang menghantam lantai rumahnya duluan.

"Sasuke…! Larihlah!, maafkan aku. Dan ini yang terakhir."

DOR

"Tidak~" Itachi berusaha duduk dihadapan sang adik, membuat peluru yang seharusnya mengenai Sasuke malah mengenai dadanya, dan bersarang di jantung Itachi. Dengan kilat kemarahan, dan mata seperti darah. Sasuke memandangi seluruh laki-laki besar dihadapnnya itu. dengan amarah yang dalam, dia mengacuhkan pistol yang diberikan Itachi padanya.

DOR

Satu tarikan pelatuk itu membuat seluruh laki-laki yang tadi tertawa kalang kabut menyelamatkan diri mereka. Sasuke tak menyia-nyiakan waktunya. Dia langsung melesat berlari meninggalkan rumahnnya untuk menyelamatkan diri. Dengan masih membawa pistol pemberian Itachi, dia berlari sambil terisak meninggalkan perumah Uchiha sejauh yang dia bisa.

(^FINISH FLASHBACK^)~

"Aniki~" Sasuke memandang pistol yang digenggamnya. Mata onyx nya terlihat menjatuhkan air. Pemuda berumur 20 tahun itu terasa sangat rindu akan seluruh keluarganya. Rindu ayahnya yang sangat disiplin, rindu ibunya yang sangat lebut. Dan rindu dengan kakak laki-lakinya.

"Aku akan berjanji, aku pasti akan membalas mereka."

Ting-Tong

Sasuke memandang nanar kearah pintu apartemennya. Dengan sangat malas dia beranjak dari tempat duduknya. Dan membuka pintu itu.

"Sasuke-Teme… selamat ulang tahun." Sasuke mengedipkan matanya beberapa kali. Dia merasa ada yang bergelantungan dilehernya. Dingan kesal di lepaskannya si pelaku itu.

"Dobe?"

"Sasuke, aku bawa hadiah dan kue untuk ulangtahunmu. Ayo makan bersama?"

"Tidak, pergi sana!"

"Sudah jangan sungkan-sungkan." Dengan tidak tahu malunya, Naruto masuk tanpa permisi ke dalam apartemen Sasuke.

"Hei~ jangan seenak jidatmu donk masuk ke apartemen orang." Naruto menoleh sebentar melihat Sasuke yang marah, lalu dengan cengirnya dia masuk lebih dalam kearah apartemen itu, tanpa melihat kalau Sasuke sudah sangat ingin membunuhnya sekarang ini.

"Waw~ lihat, kau sudah beli kue ya?" Naruto menujuk kearah kotak coklat yang berisi kue tar. Dia duduk di sofa biru ruang tengah Sasuke. Lalu menghidupkan lilin yang bertengger di atas kue tar itu.

"Yap~ ayo tiup lilinnya, dan sebelum tiup lilin, berdoalah dulu, Sasuke." Sasuke hendak protes, tapi karena si-DOBE ini sudah capek-capek menghidupkan lilin itu, akhirnya hatinya melembut.

"Baiklah." Sasuke mendekati Naruto, lalu dia memejamkan mata sekedar untuk berdoa, meminta pada 'Kami-Sama' agar hidupnya lebih baik dari sekarang dan kemarin. Setelah itu dia meniup lilin itu, dan mendapatkan tepukan meriah dari Naruto.

"Teme, ini hadiah dariku?" sebenarnya Sasuke sangat terkejut, kenapa anak pirang ini tahu kalau dia berulang tahun sekarang.

"Dobe, bagai mana kau tahu aku berulang tahun?" Naruto sedikit gugup mendengar pertanyaan itu, dia memutar otak kosletnya *dirasenggan* untuk mencari alasan yang tepat.

"Ah~ tadi di kampus aku mendengar dari beberapa wanita kalau kau hari ini Ulang Tahun." Kelihatnnya Sasuke mempercayai itu. memang, saat di kampus tadi, seluruh perempuan di kampus itu menjerit bahkan saling mendorong hanya untuk memberikan hadia sepesial untuk Sasuke, dan tentu saja semua itu tak digubris sedikitpun oleh Uchiha kita satu ini.

"Kau penguntit." Hardik Sasuke. Naruto Cuma bersiul gaje mendengarnya.

"Aku hanya berusaha menjadi teman yang baik." Sahut Naruto ditengah-tengah siulannya. "Nah~ ini hadiahmu." Sasuke menerima bungkusan orange itu. lalu membukannya. Sasuke melihat sebuah gantungan kunci berbentuk ular besar yang melingkar sambil mengeluarkan lidahnya.

"Thanks." Naruto tersenyum. Hari itu mungkin akan jadi hari perteman pertama bagi Uzumaki dan Uchiha kita ini.

.

.

TBC

Yuuhhhuuu~ Mugi comeback, ADAKAH YANG MERINDUKANKU? *digantung*

Setela hiatus bertahun-tahun, ber abat-abat, dan ber bulan-bulan *nah loh?* Mugi minta maaf banget karena harus menelantaran fic ini. Bahkan fic Imagination saja juga sudah berlumut. Dan Mugi tahu, kalau Mugi adalah author yang sangat tak bertanggung jawab *ngaku*. Tolong salahkan saja virus WB yang menjangkiti Mugi selama ini. *nangis sambil melukin Sasuke*.

Sasuke: Oi lepas…

Mugi: Sasuke-kun maafkan aku… huuuuueeeee~

Naruto; Oi lepasin laki gue dong-dong.

Mugi: *ngusap ingus*. Hueeeeee~

SasuNaru: Aiz…

Berhubung author yang sudah lama Hiatus dan kena WB ini sudah lama gak nulis fic, mungkin fic di chapter ini bisa dibilang ancur dan gak nyambung ama chap sebelumnya. Jadi mohon maaf karena kemampuan menulis Mugi hilang total.*disorakin beramai-ramai*.

Walau telat. Mugi juga mau ngucapin Happy B'day untuk my koibito yang selalu cakep, Uchiha Sasuke. dan jangan lupa

.

.

.

REVIEW PLEASE (-^Thy^-)