A/N = Yang mau review, terima kasih sekali. Dan untuk yg silent reader, i respect you too. :D Dan yg mau nge flame...jangan ya! XD Aku ga suka perpecahan.

WARNING : OOC, Sho-Ai.


PART 5 : LOVE IN DENIAL

POV : Kakei

Lima hari telah berlalu semenjak pengakuan mengejutkan dari Eyeshield kepadaku. Meski begitu, itu tidak mengurangi kemauanku untuk memperhatikan mereka latihan lagi. Well, walaupun semenjak itu juga, Eyeshield sepertinya tidak berani mendekatiku lagi. Memberikan pandangan atau tanda bahwa ia mengerti tentang keberadaanku pun tidak pernah terjadi selama lima hari itu. Dan disaat-saat itu, hatiku entah mengapa terasa panas. Bukan marah. Tapi sedih. Sedih, aku telah membuatnya kecewa dan marah atas sikapku yang tidak jelas tepat setelah ia melakukan pengakuan ketertarikannya padaku.

Hampir semua orang menemukan kesulitan yang besar ketika akan mengungkapkan perasaan terhadap orang lain. Eyeshield melakukannya padaku, dan aku bahkan tidak membalas usaha kerasnya itu. Bagi sebagian orang, itu membunuh mereka karena mereka tidak mendapatkan jawaban yang pasti. Bagi sebagian orang, itu dianggap sebagai pertidak setujuan, yang bahkan lebih membunuh mereka. Jika Eyeshield merasa seperti itu, sudah tentu akulah pembunuhnya. AKu tidak bermaksud begitu padanya. Saat itu aku hanya bingung mau menjawab apa. Tapi, aku sadar, aku yang keterlaluan. Karena aku yang pertama meninggalkan tempat. Meski pembicaraan kita berdua belum selesai sebenarnya.

Sikap Eyeshield yang berubah padaku cukup membuat aku merasa bersalah. Tapi perasaan sedikit bersalahku itu membesar ketika aku mendapati performance Eyeshield di setiap latihan semenjak pengakuan dirinya menurun. Ia seperti tidak konsentrasi dan kehilangan semangatnya. Teman-teman se-timnya juga memperhatikan itu. Tapi tidak terlalu dianggap serius, karena mereka berpikir Eyeshield sedang kelelahan akan sesuatu. Sehingga tidak bisa maksimal untuk berlatih. Meski itu terjadi 5 hari berturut-turut.

Mereka, kuperhatikan, telah mencoba bertanya pada Eyeshield. Tapi jawabannya selalu sama. Apapun jenis pertanyaan mereka , tema-nya tetap satu. 'Ada apa dengan Eyeshield 21?'. Pertanyaan beraneka ragam yang keluar dari mulut mereka, jawabannya pendek, padat, dan jelas.

"I'm fine. Dont worry."

Bodohnya mereka, mereka percaya begitu saja. Dibagian itu, rasa bersalahku bertambah. Jika hal ini terus terjadi, reputasi Eyeshield di mata umum akan berubah menjadi negatif karena performance nya yang kurang.

Tapi inti dari semua itu adalah, aku sangat merindukan Eyeshield. Tidak peduli ia hanya memandangku tersenyum kecil padaku. Tidak peduli hanya memberikan perhatiannya padaku beberapa detik. Aku tidak peduli dengan cara apapun ia memberikan perhatiannya padaku walau sekecil apapun. Hatiku perlahan tumbuh untuk terbiasa mendapat perhatian darinya. Dan lima hari itu, Ia membuat hatiku kelaparan akan perhatiannya. Rasanya sakit, perih, dan...hancur.

Dalam lima hari itu, aku menemukan perasaanku yang sebenarnya yang terpendam jauh di lubuk hati. Di situ pula, aku menyadari, perasaan ku dengannya sama.

Maka dari itu, pada hari keenam, aku memberanikan diri untuk berbicara padanya dua mata. Tentu saja, setelah teman se-tim nya masuk ke gedung klub. Dan di hari itu juga, aku membalas ungkapan perasaannya. Persis dengan yang dilakukannya padaku. Yang membedakan adalah, ia tidak buru-buru kembali. Wajahnya yang masih ditutupi perisai hijau yang biasa ia kenakan itu tetap menghadap kepadaku. Membuatku merasa tambah gugup dibawah tatapannya yang tidak bisa dibaca.

flashback

"Jangan katakan itu hanya karena merasa bersalah." Nadanya terdengar datar dan dingin. Tidak ada senyuman sedikitpun di bibirnya. Aku mulai khawatir aku telah benar-benar menghancurkan hatinya.

"Tidak! Tidak! AKu tidak merasa bersalah!" Aku berteriak, mencoba meyakinkannya. Tanganku mengepal di setiap sisi tubuhku. Mataku rasanya ingin mengeluarkan air mata tapi tidak aku biarkan keluar. Dengan cara menggigit bibir bawahku sekeras-kerasnya. Itu sudah cukup membuat air mataku membuat penundaan untuk muncul. Aku menggigit bibirku semakin keras saat ia tidak merespon apapun. Mataku rasanya pedih dan sungguh terasa akan meledak akan air mata yang tertahan. "You have to trust me! You have to trust me!"Di kata-kata ini, aku menutup mataku rapat

"You know, aku sudah mencoba melupakanmu selama 6 hari ini. Mengejutkan mengetahui ternyata kau tidak membenciku." Eyeshield menjawab beberapa detik setelah kata-kataku barusan. Setiap kalimat yang ia keluarkan menusuk hatiku. Terutama yang bagian awal.

"Apa...apakah..kau masih memiliki...perasaan...kepadaku?" Aku bertaya pelan, membuka mataku perlahan seraya menatapnya dengan mataku yang kini terlihat mengkilat karena air mata yang membasahi keduanya. Mungkin air mataku tidak sampai mengalir turun menuruni pipiku. Tapi semua orang tahu, mata basah seperti itu masih masuk dalam kata 'menangis'. Hatiku terasa sempit dan semakin sesak menunggu jawaban darinya. Ia pun terdiam saja, berdiri disitu tanpa melakukan apa-apa. "Apa jawabanmu?" Aku berbisik, mencoba menyembunyikan nadaku yang bergetar karena khawatir dan...menahan kesakitan dalam hati.

"Tentu saja. Cinta pertama tidak akan mudah terlupakan."

Mata basahku melebar mendengar apa yang baru saja ia ungkapkan. Katanya, aku adalah cinta pertamanya? Setahuku, hampir semua wanita d sekolahnya mengejar-ngejar dia. Kata mereka, Eyeshield itu sungguh tampan hingga memikat siapapun yang melihatnya. Dan barusan, dia bilang aku cinta pertamanya? Aku benar-benar tidak bisa percaya dengan apa yang baru aku dengar ini. Beberapa bagian dari diriku bersorak gembira karena aku adalah orang pertama yang bisa memikatnya. Aku seakan merasa masih ada harapan untuk bersamanya meski aku telah menyakitinya. "Lalu, apakah kau...masih mau menerimaku?" Aku menemukan kepercayaan diri di kalimatku. Pandanganu berubah menjadi pandangan 'mengharapkan'. Ia terdiam sejenak, sebelum membalasku sederhana.

"Aku tidak tahu." Lalu ia berbalik dan mulai melangkah menjauhiku.

Jawabannya merobek hatiku. Meski tidak pasti antara ya atau tidak, jawaban itu adalah jawaban tidak pernah aku pikirkan untuk muncul dari mulutnya. Aku membeku untuk beberapa detik, tidak sadar ia mulai menjauh dariku. Ketika aku sudah bisa merasakan keadaan sekelilingku lagi, Eyeshield sudah enam meter di depanku. Tidak ingin melepaskannya lebih jauh lagi atau bisa dikatakan tidak mau menyerah terlebih dahulu, aku meneriakkan namanya. Air mataku, di bagian itulah, baru meluncur aku telah mencoba menahannya dengan cara menyakiti bibirku sendiri.

Ia berhenti melangkah, tetapi tidak membalikkan badannya untuk menghadapku. Aku mengambil itu seakan ia mengatakan akan menunggu dan mendengar apapun yang akan ku katakan setelah ini. Yang dengan cepat aku gunakan untuk misi meyakinkan dirinya.

"Lima hari ini kau telah mengacuhkanku. Kau tidak pernah tahu, seberapa besar rasa rinduku atas perhatianmu. Kau tidak tahu, semenjak awal, aku selalu menaruh perhatianku padamu saat kalian latihan. Kau tidak tahu, betapa kau mempengaruhi hidupku hanya dengan play mu di football. Kau tidak tahu, aku sering berpikir tentangmu, menebak-nebak siapa dirimu, dan mendambakanmu. Kau tidak tahu..." Aku berhenti sejenak untuk menelan ludah dan mengambil nafas dalam. Apa yang akan kukatakan ini, adalah rahasia terbesarku. "...Kau tidak tahu selama ini aku selalu memyimpan perasaan kepadamu. Tapi aku terlalu takut mengungkapkannya. Aku sudah sering dipermainkan orang lain. Karena itu, susah bagiku untuk percaya dengan perasaanku sendiri. Tapi, ketika kau menjauhiku, hari demi hari kulewati dengan perasaan sedih dan marah terhadap diri sendiri karena aku...aku tidak bisa mengatakan itu padamu pada hari dimana kau mengakui perasaanmu. Aku menyebut diriku sendiri idiot, karena tidak bisa mengontrol tubuhku untuk mengucapkan yang sebenarnya saat itu. Di dalam diriku hancur begitu mengetahui bagaimana sikapmu setelah kelakuan bodohku. Di hari-hari itu, perasaanku kepadamu semakin besar. Dan saat itulah, aku meyakinkan diriku untuk percaya sekali saja pada perasaanku ini. Sudah lama aku tidak pernah memberi kepercayaan pada suatu hal. Tapi ketika itu datang padamu, aku tidak bisa menahannya. Eyeshield atau siapapun dirimu, baru kali ini aku percaya terhadap suatu hal. Kumohon, bantulah aku untuk memperbaiki kepercayaanku. ...Bantulah aku...untuk mengerti...kehangatan..cinta..yang sebenarnya." Aku bisa merasakan suaraku semakin memudar di akhir kalimat. Air mataku telah berhasil membasahi pipiku, dan melembabkan beberapa helai rambut yang secara tidak sengaja terkena berkat hembusan angin.

Saat ia membalikkan badannya, aku memindahkan wajahku kebawah, menatap lantai seakan aku menemukan kesenangan hanya karena memandangi sepatuku sendiri. Tapi sebenarnya, aku melakukan itu untuk menyembunyikan air mataku yang tidak henti-hentinya ku tutup rapat untuk menyembunyikan isakan pelan yang mulai muncul ke permukaan.

Hal selanjutnya yang aku tahu adalah sepasang tangan menarikku ke dekapan pemiliknya. Saat itu juga, aku menghancurkan bendungan air mata dan isakanku. Aku membenamkan wajahku di bahunya, bertujuan untuk meredam isakanku. Tapi menyebabkan pakaiannya basah karena air mataku yang tak kunjung berhenti. Kehangatan darinya menjalar ke tubuhku, membuat bagian dalamku juga ikut-ikutan hangat. Otot-ototku yang menegang, jadi merenggang ketika ia mengeratkan lengannya yang melingkari pinggangku sambil membisikkan kata-kata seperti "I got you", "It's all right", "Everything will be fine" dan macam-macam kalimat penghibur lainnya. Aku membalas pelukan hangatnya dengan melingkarkan tanganku ke punggungnya. Tanganku membuat gumpalan dari pakaiannya untuk membantuku meredakan tangisanku.

Ia tetap memelukku meski aku telah berhasil menenangkan diriku. Aku tidak masalah dengan kontak seperti ini. Karena baru pertama kalinya, aku merasakan begitu tenang, hangat, dan amannya diriku di dalam pelukan seseorang. Bahkan aku sempat merasakan tak ingin melepaskannya sampai kapanpun. Dan ia tampaknya juga tak mau melepaskanku. Posisi wajahku di bahunya kini berganti menjadi pipi yang di bawah. Dengan posisi itu, aku bisa melihat apa yang di samping kita.

"Shun, maafkan aku membuatmu seperti ini. "

Aku mendengar ia berbisik. Dengan cepat aku menjawab, "Aku yang membuat diriku seperti ini. Aku yang harusnya minta maaf membuatmu..ingin melupakanku sebagai cinta..pertamamu." Walau aku masih tidak percaya bahwa aku adalah cinta pertamanya, aku percaya diri saja menyebut diriku seperti itu padanya.

Ia memindahkan tangannya ke kedua lenganku dan menarikku lembut menjauh darinya supaya aku bisa melihat wajah yang tertutupi miliknya itu. Tanganku otomatis terlepas dari pelukannya.

"Shun, " Ia mengangkat tangannya dan mengelus pipiku dengan halus. "Apakah ini berarti kau mau memberiku kesempatan?" Eyeshield bertanya lembut.

"Ya. Aku memberimu kesempatan."

"Meski aku belum memberi tahumu tentang identitasku?" Ia bertanya lagi. Kekhawatiran terdengar jelas di suaranya.

"Aku tahu itu untuk tujuan yang baik. Aku tidak keberatan menunggu waktu yang tepat untuk bisa mengetahui dirimu yang sebenarnya."

Eyeshield tersenyum hangat kepadaku, lalu menarikku ke pelukannya lagi.

"Shun, aku ingin tahu. Mengapa kau bersedia untuk memberiku kesempatan? Mengapa kau percaya denganku begitu mudah? Dan mengapa kau...bisa memiliki perasaan padaku?"

"Aku bersedia karena...aku yang memintamu tadi. Aku percaya dengamu karena...aku juga tidak tahu mengapa. Tapi rasa sukaku padamu yang menumbuhkan kepercayaanku padamu. Dan, tentang mengapa aku menyukaimu, aku juga tidak terlalu punya jawaban yang jelas. Pertama kali aku melihatmu, aku entah mengapa langsung saja menaruh 'interest' ku padamu. Pertamanya karena takjub. Tapi lama-lama, ada perasaan lain yang...aku tidak tahu. Membuatku...merasa hangat setiap kali aku melihatmu. Aku sungguh-sungguh tidak tahu alasannya. Tapi hatiku mengatakan kau itu orang yang baik dan bisa dipercaya. Dan aku yakin itu."

Aku merasakan Eyeshield mengeratkan pelukannya, sambil berbisik, "Terima kasih. Aku akan berusaha untuk tidak mengecewakanmu."

End of Flashback

Hubungan kami berjalan lancar selama empat bulan. Anggota-anggota lainnya pun, menyetujui tentang hubungan ini. Meski, aku dan dia jarang sekali menghabiskan waktu bersama hanya berdua. Itupun hanya pada saat setelah latihan. Ia akan duduk di sampingku untuk menanyakanku beberapa pertanyaan mengenai diriku. Itu saja yang kami lakukan di waktu-waktu kami berdua. Well, tidak juga sih. Jika kami benar-benar berdua, kadang-kadang kami..uhh..berciuman. Dia pasti akan memintaku untuk memejamkan mata. Lalu yang aku ketahui selanjutnya adalah sesuatu yang hangat dan basah menempel di bibirku. Sudah, hanya itu saja style ciuman kami. Karena..dia mengerti aku belum terbiasa dengan aktivitas sepasang kekasih. Sebenarnya, saat ia menciumku, aku tahu ia melepaskan helmetnya terlebih dahulu. Pernah aku ingin membuka mata saat itu, tapi aku teringat kata-katanya, yang melarang aku mengintip. Aku, bukan tipe perusak janji. Jadi, aku melakukannya dengan sepenuh hati. Kesanku pada ciuman pertama kita adalah..'He's a good-kisser!'. Ia membuatku meleleh di setiap ia menggesekkan bibirnya ke bibirku.

Kami tidak pernah nge-date, seperti makan di restaurant bersama layaknya sepasang kekasih. Aku tidak membutuhkan itu. Selama dia menyayangiku, aku akan baik-baik saja. Fine with me.

Bulan pertama, pembicaraan kita sebagian besar menyangkut hal seperti ini.

"Shun, aku sungguh menyayangimu. "

"Aku tahu. Aku juga menyayangimu."

"Apakah kau baik-baik saja, aku masih belum menunjukkan identitasku?"

"Selama kau menyayangiku, kurasa aku dengan senang hati akan terus menunggu waktu yang tepat. "

"Shun, jika ada yang mengganjal di hatimu tentang hubungan kita, katakan saja padaku."

"Mengapa kau berkata begitu? Aku bahagia kok"

"Itu tidak hanya untuk sekarang. Tapi hari-hari esoknya juga."

"Hahha, kurasa permintaanmu itu mustahil akan ada jawabannya. Bersamamu adalah hal terindah yang pernah aku alami.

[Dari bagian ini, Aku mempelajari, dia adalah seorang yang penyayang]

Bulan kedua, pembicaraan kita mulai menjadi seperti ini.

"Aku suka matamu, Shun."

"Memang kenapa dengan mataku?"

"Tidak kenapa-kenapa. Hanya saja, matamu itu begitu indah. Biru yang menghanyutkan."

"Menghanyutkan?"

"Iya, iya. Aku seperti terhanyut lalu tenggelam begitu dalam.

"Pegangan kalau begitu. Aku tidak bisa berenang untuk menyelamatkanmu. "

[Dari bagian ini, Aku mempelajari, dia adalah seorang yang puitis. (kasarannya, 'nggombal'.]

Bulan ketiga, mulai 'menjurus' ke hal-hal serius.

"Shun, kau tidak tertarik untuk bergabung di dunia football?"

"Tidak. Football itu olahraga yang... hardcore."

"Bukan berarti tidak menarik."

"Aku tidak tertarik dengan apapun yang bergenre hardcore."

"Oh ya? Bagaimana dengan hardcore sex?"

*tersedak* "Mesum!"

"Katanya, sangat menggairahkan dan memuaskan. Apalagi saat menggunakan tekhnik bondage beserta sex toys-"

"AAAA!" (Aku sudah lari duluan)

[Dari bagian ini, Aku mempelajari, dia adalah seorang yang...pervert. (well, normal lah. Anak SMU. Hormonnya lagi tinggi.]

Bulan keempat, kembali ke pembicaraan biasa. (Aku sudah memberikan dia peringatan untuk menjaga tema pembicaraan)

"Shun, entah mengapa, suatu hari aku ingin sekali bertanding bersamamu. Entah di Amerika, atau Jepang. Aku ingin bertanding bersamamu secara langsung. Itu adalah sebuah janji."

"Seenaknya saja membuat janji. Aku tidak bisa bermain football! Kau kan tahu itu!"

"Kau punya bakat alami. Aku yakin kau akan menjadi pemain yang hebat jika mengembangkannya."

"Yaa..meskipun begitu, kau tetap akan jadi yang terhebat. You are Eyeshield 21 afterall."

"Setidaknya coba dulu lah memperdalam permainannya. Mungkin saja bisa menjadi ace sepertiku. Kau kan punya bakat alami. Dengan bakatmu, dan keahlianku, kita bisa menghasilkan anak yang hebat dan berbakat!"

*tersedak* "DATANG DARI MANA ITU? "

"Darimu."

[Dari bagian ini, Aku mempelajari, dia adalah seorang yang ambisius. Dan Family-Oriented pada bagian akhir saat ia menyebutkan anak. Yaa…meskipun dalam contex yang salah.]

Well, aku tidak keberatan atau marah selama empat bulan itu ia masih belum mau memperlihatkan wajah sebenarnya. Malah, aku mulai merasa jatuh cinta pada dirinya.

Dan ternyata, pada pertama kalinya aku merasakan hangat dan indahnya cinta, hal yang tidak pernah aku duga terjadi.

PART 6 : LET YOU GO

POV : Kakei

Saat aku sampai di lapangan football, aku tidak menemukan Eyeshield 21.

"Dimana Eyeshield 21?" Aku bertanya pada anggota tim football SMU Notre Dame sore itu. Wajahku menggambarkan kekhawatiran. Jelas aku khawatir. Eyeshield 21 tidak pernah absen selama ini. Serta...yah. Dia pacarku. Aku berhak tahu apa yang terjadi padanya, yang menyebabkan dia tidak bisa mengikuti latihan sore itu.

Aku mengernyitkan dahi ketika mereka semua bertampang kosong seraya menggeleng. Salah satu dari mereka berkata, "Kau ini bicara apa?" seakan-akan mereka tidak tahu siapa Eyeshield . Bukan dimana Eyeshield .

"Eyeshield 21 ! Yang selalu bermain bersama kalian setiap sore!" Aku hampir berteriak. Merasa sebal dengan sandiwara mereka. Tapi wajah mereka tetap sama. Kosong.

"DIMANA DIA? DIMANA KEKASIHKU?" Aku berteriak pada mereka lagi. Nafasku mulai tidak beraturan karena emosi. Tanganku mengepal di masing-masing sisi. Kutatap mereka satu persatu dengan mataku yang kutajamkan.

"Kami tidak tahu apa yang kau bicarakan."

"AAARRGGH!" Aku mengeluarkan teriakan frustasi ke arah langit sambil menarik rambutku, membuat rambut biruku berantakan. "Cukup aktingnya! Dimana kekasihku? Dimana Eyeshield?"

Mereka menggeleng pelan, masih dengan ekspresi kebingungan seperti tak pernah dengar atau tahu tentang Eyeshield.

Aku berteriak frustasi sekali lagi sebelum berjalan keluar dari lapangan dengan langkah yang kasar.

"Hello, apakah ini SMU Notre Dame?" Aku bertanya di telepon dengan suara yang aku buat ramah.

"Ya, betul. Ada yang bisa kami bantu?"

"Aku ingin tahu tentang salah satu muridmu yang ada di klub football yang dijuluki dengan Eyeshield 21..."

"TIdak, tidak ada seorangpun yang cocok dengan ciri-ciri itu. "

"APA? APA MAKSUDMU? SEMUA ORANG TAHU TENTANG DIA! TIDAK MUNGKIN-" Sebelum aku bisa menyelesaikan kata-kataku, lawan bicaraku telah menutup teleponnya duluan. Mataku melebar karena kaget atas jawaban dari orang yang menjawab teleponku.

Aku meletakkan gagang telepon yang aku genggam ke tempatnya kembali dengan perlahan. Waktu seakan berjalan mundur, kembali pada saat aku mendengar jawaban-jawaban orang itu.

'Bagaimana bisa begitu? Bagaimana dia bisa tidak tahu?'

Sesuatu pasti sedang disembunyikan. Mereka semua berperilaku aneh.

Sore hari, setelah aku pulang dari sekolah, aku menuju ke SMU Notre Dame.

Disana, murid-murid banyak yang berjalan keluar dari gerbang. Berbicara pada satu sama lain sehingga memperlambat langkah-langkah mereka. Aku memutuskan untuk bertanya pada salah satu dari mereka.

"Apakah kau tahu dimana Eyeshield 21?" Aku bertanya pada seorang murid perempuan berambut hitam lurus . Ia melihatku dengan tatapan ketakutan untuk beberapa saat, sebelum ia menjawab, "Aku tidak tahu yang kau maksud." sambil berjalan pergi dengan langkah yang dipercepat daripada sebelumnya. Aku mengernyitkan dahi melihat satu lagi sikap aneh dari penduduk sekolah ini setiap kali aku bertanya tentang Eyeshield .

Tapi aku tidak langsung menyerah. Aku berjalan lebih dalam lagi dan menemukan beberapa anak yang sedang duduk di kursi. Mereka memandangiku begitu melihat kedatanganku.

"Maaf mengganggu, tapi apa aku boleh bertanya sesuatu?" Tanyaku sopan. Mereka memandangiku dari bawah keatas, lalu menjawab. "Kau anak SMP ya? Sedang apa disini?"

"Iya. Aku anak SMP. Aku kesini untuk bertanya sesuatu."

"Tanya apa?" Salah satu dari mereka menjawab dengan nada malas.

"Apakah kalian tahu dimana Eyeshield 21?"

Sesuai dengan apa yang telah terjadi, wajah mereka menjadi pucat pasi dalam waktu kilat. Bersamaan, mereka menggeleng. "Tidak. Tidak. Kami tidak pernah tahu."

"TIDAK PERNAH TAHU? Tapi semua orang tahu dia!" Kataku bernada tinggi.

"Jika tidak keberatan, kami ada kegiatan lain yang harus dikerjakan. Permisi." Lalu mereka semua beranjak pergi begitu saja.

"TAPI AKU KEBERATAN!" Aku berteriak dari belakang mereka. Tapi mereka tidak menggubris. Hanya melanjutkan langkah-langkahnya keluar area sekolah. Lagi-lagi dengan tempo jalan yang dipercepat. Seakan-akan sedang terburu-buru.
Aku menghela napas karena sebal, menyilangkan kedua tanganku diatas dada. Mataku menatap tanah seraya berpikir tentang hilangnya kekasihku ini. Hatiku rasanya menciut saat pikiranku memberi gambaran Eyeshield telah dibunuh. Segera aku membuang pikiran itu jauh-jauh sambil meyakinkan diri bahwa ia pasti akan baik-baik saja.

Saat aku mengangkat wajahku lagi, beberapa meter di depanku, ada seseorang berambut hitam yang mulai memutih, yang kelihatannya sedang ada di umur empat puluh tahun keatasnya. Sebuah tas jinjing dari kulit di tangannya, membuatnya nampak professional. Langkahnya tegap, menggambarkan kewibawaannya selain dari wajahnya yang serius itu. Aku mengangkat alisku mendapati sosok lelaki itu berjalan sendirian ke arah gerbang sekolah. Sebuah senyuman terukir di bibirku karena aku tahu, beliau adalah orang penting di sekolah ini. Kepala sekolah, mungkin? Kepala sekolah, tidak akan mungkin tidak tahu tentang Eyeshield yang sangat terkenal itu.

Maka, dengan cepat, aku berjalan cepat kearahnya.

"Excuse me, sir." Aku berkata sopan dari belakang. Langkahnya terhenti, lalu membalikkan badannya. Matanya terkejut melihatku.

"Ah, apa yang dilakukan anak SMP sepertimu disini?" Ia bertanya ramah. Aku tersenyum kecil mengetahui ia adalah lelaki yang baik dan ramah.

"Uh, apakaha tuan adalah kepala sekolah disini?"

Ia menggeleng pelan, "Bukan. Aku adalah wakil kesiswaan. Jika kau ingin menemui kepala sekolah, mungkin tidak bisa hari ini. Beliau sedang ada rapat penting"

'Oh, sempurna! Dia adalah wakil kesiswaan. Orang di posisi ini pasti mengetahui seluruh siswa. Dia pasti tahu dimana Eyeshield'

"Tidak, tidak apa-apa tuan. Aku hanya ingin bertanya sesuatu. Apakah tuan keberatan?"

"Tentu tidak. Apalagi, kau adalah anak yang begitu sopan. Kau mau bertanya apa?"

"Umm, apakah tuan tahu dimana Eyeshield 21? Aku mencoba mencarinya, dan bertanya pada beberapa orang dari sini. Mereka bertingkah aneh seperti tidak pernah tahu Eyeshield. Padahal, Eyeshield kan sangat terkenal. Mana mungkin ada yang tidak tahu. "

Wajah lelaki itu memucat. Matanya yang tadinya memancarkan keramahan, memudar menjadi tatapan kecut. Senyuman di bibirnya pun meluruh seketika mendengar pertanyaanku. Dan hanya dari ekpresinya yang berubah drastis, aku benar-benar yakin ada yang salah.

"Aku tidak tahu!" Ia menjawab kasar, nyaris seperti membentak. Mataku membesar mendengar jawaban bernada kasarnya itu. Ia berbalik secara kilat dan mulai melangkah lagi dengan langkah yang diperlebar jaraknya.

"But, Sir!" Aku memanggilnya lagi, tetapi ia tetap melangkah. Aku merapatkan bibirku seraya berlari mendahuluinya. Lalu aku mencegatnya dengan merentangkan kedua tanganku di pintu gerbang. Ia berhenti begitu mendapatiku ada di pintu gerbang, memblokir jalan keluar.

"Kau! Menyingkir!" Katanya tajam. Aku menggeleng cepat, kemudian berkata, "Tidak, sebelum tuan memberitahuku dimana Eyeshield!"

"KATAKAN SAJA DIA BUKAN MURID SMU INI!" Jawaban lelaki itu cepat dan lantang. Kepahitan terdengar di setiap kata-kata yang meninggalkan bibirnya. Aku lagi-lagi terkejut mendengar jawabannya.

'Apakah ini berarti ia dikeluarkan?' Mataku bergetar. 'Tidak. Tidak. TIdak mungkin!' Dunia rasanya berhenti berputar. Hatiku seakan terbakar. Air mataku telah mengetuk pintu, memohon untuk dibukakan supaya mereka bisa membasahi pipiku. Tanpa tersadar, rentangan tanganku telah menurun perlahan, menyamai wajahku yang tertunduk ke tanah.

"Permisi, kau menggangguku." Ia berkata kasar, berjalan melewatiku.

Aku berpikir keras, hingga tidak tersadar bahwa lelaki itu telah meninggalkanku. 'Ada apa dengan Eyeshield? Mengapa ia meninggalkanku? Mengapa ia tak menghubungiku? Mengapa ia pergi begitu saja tanpa memberitahuku?' Aku menggigit bibirku keras, menahan air mataku untuk tidak jatuh sekuat tenaga. 'Mengapa kau pergi saat aku ingin mengatakan betapa aku mencintaimu? Apakah kau menyesal karena bersamaku? Apakah kau menyesal tentang waktu-waktu bersama kita berdua? '

Sesuatu benar-benar telah terjadi pada Eyeshield sehingga semua personil sekolah bersikap tidak pernah tahu tentangnya.

Aku menunduk sedih sekaligus marah atas hilangnya kekasihku, Eyeshield 21. Padahal, baru-baru ini aku merasakan indahnya cinta bersamanya. Mengapa tidak ada yang bisa mengatakan padaku tentang apa yang telah terjadi?

Aku berjalan pelan, bertujuan untuk keluar dari area sekolah yang mulai sepi. Ketika aku telah berhasil berjalan beberapa meter dari SMU Notre Dame, aku menemukan seorang murid SMU tersebut sedang sendirian, berdiri di halte bus, membaca buku. Pemandangan jelas tentang seorang kutu buku yang kurang ide tiba-tiba muncul. Seharusnya aku tidak suka melakukan ini. Tapi demi info tentang kekasihku, aku akan melakukan apapun untuk mendapatkannya.

Ia mengeluarkan teriakan kaget yang pendek dan pelan ketika aku menariknya. Dan menggertakkan gigi tepat saat punggungnya bertemu dengan tembok secara keras. Aku mendorongnya lebih menempel ke tembok sambil menggenggam kerah bajunya. Kupandang ia, tajam dan dingin. Ia balas memandangku dengan mata lebar dan ketakutan.

"Ap-apa yang..yang k-kau m-mau?" Ia bertanya patah-patah. Masih dalam state terkejut.

"Aku ingin kau memberitahuku dimana Eyeshield 21!" Aku berteriak, memerintahnya. Mengeratkan genggamanku pada kerahnya. Membuatnya kekurangan ruang untuk bernafas.

"Aku..tidak tahu..apa yang kau bic-bicarakan.." Ia menjawab dengan berbisik. Wajahnya menjadi pucat pasi dan memandangku seperti aku ini adalah monster.

"Katakan padaku yang sesungguhnya atau aku harus menghajarmu disini juga!" Tukasku tegas dengan nada marah. Salah satu tanganku berada di depan mukanya dalam posisi mengepal.

Matanya bergerak-gerak tidak tentu arah. Bibirnya gemetar. Sebelum akhirnya ia menjawab, "Baiklah! Baiklah! Aku akan memberitahumu! Tapi kumohon jangan bilang siapa-siapa!"

"Baik. Sekarang cepat katakan!"

"Eyeshield 21 telah pergi ke Jepang. Katanya, ia bersekoah di sebuah SMU dan meneruskan football nya disana. Hanya itu yang aku tahu!"

'Jepang? Ia pindah ke Jepang? Mengapa ia tidak pernah memberitahuku?' Genggamanku terlepas sepenuhnya dari kerah orang itu tanpa aku perintahkan. Wajahku menggambarkan ekspresi terkejut lagi. Aku bisa merasakan itu. Sehingga aku langsung menghadap ke lain arah, agar lelaki itu tidak bisa melihat wajahku. Aku tidak memperdulikan lelaki itu lagi, terutama ketika ia mulai menatapku ketakutan, lalu pada akhirnya berlari begitu saja.

'Mengapa pindah ke Jepang? Tapi, yang paling aku pensaran adalah mengapa ia tidak memberitahuku? Mengapa ia hilang begitu saja? Dan jika memang ia pindah, lalu mengapa orang-orang di SMU Notre Dame bertingkah aneh setiap kali aku bertanya tentang Eyeshield?'

'Eyeshield, apakah kau tidak menyayangiku lagi? Mengapa kau meninggalkanku begitu saja? Jika kau tidak menyukaiku lagi, terus terang saja! Tidak usah membuatku khawatir begini!'

TBC


A/N : yeah...sama-sama Gaje nya seperti yg di Chapter 1. -_-"

Oiya. Di Chapter sebelumnya aku membuat kesalahan! *mewek* Aku salah mengertikan antara offense dan deffense. Maklum, aku lupa yg bawa bola itu harus lari atau diam aja. *nangis* Trus aku nge google. Ketemu. Aaa..malu mbuat kesalahan kayak gitu. *harakiri*