Disclaimer : Eyeshield punya siapa ya? Yang jelas bukan saya.

WARNING : Extremely OOC, typo dan slight Sho-Ai

PART 7 : WITHOUT YOU

POV : Kakei

Pelajaran Sejarah. Untuk ketiga kalinya, aku hiraukan.

Seminggu penuh, aku tidak bisa berkonsentrasi pada mata pelajaran apapun. Semenjak perginya Eyeshield, mataku hanya bisa memandang awan lewat jendela sambil membayangkan dimana dirinya. Hingga hari inipun, Ia belum mengirimkanku kabar. Kekhawatiran menyebar di hatiku di setiap waktu yang telah terlewati.

Sama, dengan hari ini. Aku, yang biasanya akan menjadi yang pertama menjawab kuis sejarah dari guru, hanya bisa diam termenung seperti kehilangan semangat untuk hidup. Memang benar, aku telah kehilangan semangat hidup. Kerjakanku seharian hanya termenung, melamun, dan mengandai-andai dimana kekasihku yang tiba-tiba menghilang secara misterius itu. Dan beberapa orang yang sering memusuhiku, menjadi lebih semangat mengejekku dengan sebutan-sebutan khas yang sering aku dengar dari mereka.

'Hey, look at that crazy boy!'

'Oh, hello. You must be the 'mental-personality-disorder' boy from the french class. I've heard things about you.'

'Autist! Scum! Trash! Odd!'

Yah, seperi itulah cara mereka memanggilku. Well, setidaknya aku tidak sebodoh yang mereka kira. Yang akan berlutut pada mereka untuk memohon belas kasihan. Untungnya, hal seperti itu tidak terlalu aku pikirkan. Alias, tidak peduli. Karena, aku tahu. Mereka melakukan itu karena iri kepadaku. Iri apa? Tampang? Iya. Prestasi? Jelas. Tampilan? Maybe. Tahu kenapa aku bisa sepercaya diri seperti ini? Karena Eyeshield berkata demikian. Ah, see. Aku tidak pernah bisa menghilangkannya dari pikiranku walau sesaat saja.

Selain itu, aku mulai mendapatkan nilai B atau B- di setiap ujian yang diberikan. Padahal, biasanya aku selalu langganan menjadi anak pendapat A+ di setiap kelas. Hal ini memang benar-benar menghancurkan reputasi prestasiku di mata sekolah.

Oh, Eyeshield. Mengapa kau harus pergi dan menghancurkan hidupku? Seandainya engkau disini, semuanya pasti akan baik-ba-

"BLUE-BOY!"

Aku tersentak kaget dari bangkuku. Kaget karena suara yang tiba-tiba, dan kaget karena sebutan yang digunakan untuk memanggilku tadi. Mataku berkedip beberapa kali sebelum menoleh ke arah sumber suara tadi, yang ternyata pemiliknya adalah teman sebangkuku di kelas sejarah. Oke, aku terkejut lagi begitu mendapati siapa teman sebangkuku itu. Namanya Clifford D'Louis. Katanya, (katanya lho..) keturunan bangsawan dari Inggris. Dia ini...bisa dibilang rivalku. Karena dia juga salah satu anak jenius di SMP Phoenix ini. Aku..tidak pernah berbicara padanya. Kalaupun aku pernah, mungkin aku tidak ingat.

"Ng? Blue-boy?" Mataku menajam kearahnya seraya berkata pelan. Heran mengapa ia menyebutku begitu. Dan lumayan jengkel juga, ia seenaknya sendiri memanggilku dengan sebutan buatannya sendiri.

"Ya. Blue-boy. Kenapa kau selalu melamun?" Ia menjawab datar, dingin, dan tanpa ekspresi. Seperti ia sebenarnya tidak peduli, namun memaksakan untuk peduli. Aku memicingkan mata padanya, ketika ia hanya tetap memandangku dengan wajah poker nya yang tidak tertandingi itu.

Jika kau pernah bilang aku selalu bertampang poker face, kau benar-benar harus bertemu dengan temanku yang satu ini. Poker face nya parah lebih dari aku. Mungkin jika seseorang membakar sekolah ini, ia bahkan tidak akan berkedip.

"Urusannya denganmu apa?" Aku balik bertanya, menyengajakan dengan nada yang dingin dan tajam. Ia mengerdipkan matanya sekali, sambil terus menerawangku melalui mata. "Bisa tidak sih kau tidak melihatku dengan tatapan itu. AKu jadi tidak nyaman."

Ia memutar bola matanya sekali seraya membuat suara seperti 'Tch.'. "Aku tahu apa yang mengganggumu. Tertulis jelas di matamu." Ia berkata ringan, mengalihkan mata tajamnya ke buku dan hendak menulis sesuatu.

"Kau itu apa sih memang? Peramal? Psikolog? Sok tahu."

Clifford berhenti menulis untuk beberapa saat, sebelum akhirnya melanjutkan kembali. Kemudian, saat keheningan mulai tercipta, ia menyambung. "Cinta. Masalahmu pasti tentang percintaan." Tangan pucatnya yang memegang bolpoin berhenti. Sebagai gantinya, ia menolehkan wajahnya ke arahku. AKu menatapnya balik dengan tatapan 'sok-tahu!. DI dalam hati, aku terkejut betapa tepatnya dia.

"Blue-boy. Nilai-nilaimu menurun. Kau tidak lagi memperhatikan pelajaran-pelajaran disini. Pandanganmu selalu penuh kabut kesedihan. Yang sering kau hadapkan pada langit di luar jendela supaya tidak ada yang bisa melihat kemuramanmu. Kau mungkin berpikir aku hanya anak sombong yang tidak peduli dengan perasaan orang lain. Salah, Blue-boy. Aku peduli. Terserah kau mau percaya atau tidak." kata Cliff menjelaskan. Mata tajamnya menghalus sesaat, bertemu dengan mata biruku yang kusam karena kesedihan. Aku menghancurkan kontak mata antara kita berdua dengan mengalihkan pandanganku ke arah yang lain.

"Jangan bertingkah seperti kau itu tahu segalanya!"

"Aku memang tidak tahu segalanya. Tapi aku tahu benar apa yang mengganggumu selama ini. "

"Hentikan!" Aku memberinya sebuah death glare. Ia balas menatapku. Matanya kini kembali dalam 'steady' mode. Mata pokernya.

Untuk beberapa saat, aku dan dia hanya bertatap-tatapan, beradu pandang. Sebelum ia mengatakan sesuatu yang membuat kedua mataku terbelalak kaget.

"Eyeshield 21. Apa aku benar?"

'Bagaimana...bagaimana dia bisa...tahu?' Nafasku terhenti seketika. Mataku pun sampai tidak kuasa untuk berkedip saat aku menatap mata miliknya. Segala aktivitas di tubuhku serasa berhenti pada waktu yang sama. Tapi ketegangan bisa dirasakan di setiap titik dalam susunan tubuhku. 'Dia...bagaimana bisa?' Pikirku terbata-bata. Mata tajamnya masih mencoba mengulitiku hingga ke pusat. Mengetahui ia bisa membaca pikiranku hanya melalui kontak mata, aku segera berbalik dan membelakanginya. Sorot matanya terasa dingin di punggunggku seakan ia tak mau menyerah untuk mengetahui sampai akar-akarnya.

"Aku benar, ya?"Ia bertanya, dengan nada tidak tertarik. Aku diam saja, mengacuhkannya. Mataku terpusat di objek-objek yang ada di luar jendela, supaya ia cepat-cepat meninggalkanku sendirian karena aku mengacuhkannya terlalu lama.

'Anak ini berbahaya. Ia bisa membaca pikiran seseorang hanya melalui kontak mata. Sial, ia bahkan tahu tentang Eyeshield. Dia itu apa sih?'

"Hey, Blue-boy. Kau tidak perlu bertingkah seperti itu. Aku telah membaca semua masalahmu hanya dari matamu." Anak pirang jenius itu berkata pelan, lalu dengan cepat menambahi. "Aku tahu kau tidak punya teman dekat. Jika kau bersedia, aku... mungkin bisa membantumu."

Aku terbeku lagi mendengar kata-katanya. Dalam kamusku, Clifford D'Louis adalah anak jenius yang tidak akan pernah bersikap baik seperti ini. Apalagi menunjukkan kepeduliannya di depan seseorang. Siapapun itu. Dan barusan, ia berkata mau membantuku.

Secara perlahan, aku membalikkan badanku lagi. Memberinya kesempatan untuk menatapku seperti tadi. AKu tidak mengelak. Karena aku tahu, ia telah mengetahui apapun yang aku rahasiakan. Sehingga, tak ada gunanya aku mencoba kabur dari tatapan penjeratnya itu.

"Apa yang kau tahu tentangku?" tanyaku pelan tapi tajam dalam setiap penekanan. Mataku menyipit padanya, menimbulkan kesan seperti serigala yang terganggu. Seperti yang telah diduga, ia bahkan tidak berkedip sedikitpun melihatku yang mencoba bertampang seram untuk membuatnya meninggalkanku sendirian.

"Eyeshield 21. Kau pasti ada sesuatu dengan orang itu. You know, kau bisa menceritakan padaku apa yang terjadi. Sehebat-hebatnya aku bisa membaca pikiran orang, aku tidak bisa sepenuhnya tahu apa yang telah terjadi pada orang itu." tukasnya ringan tapi tetap serius.

"Lalu urusannya denganmu itu apa?" Jawabku, menyembunyikan kekesalan di balik kata-kata barusan. Aku menyilangkan kedua tanganku di atas dada, ingin menunjukkan padanya bahwa aku tidak suka kemana arah pembicaraan ini.

"Aku ingin membantumu. AKu tidak suka melihatmu seperti ini. Asal kau tahu saja, semenjak kau menjadi aneh, nilai-nilaimu turun drastis, aku jadi kehilangan tantangan dalam hidup. Dan aku tidak suka kehilangan itu. " Katanya dengan jelas. Aku lebih menyipitkan mata padanya mencerna setiap kalimat yang ia ucapkan. Alasan yang bagiku...tidak masuk akal. Maksudku, mengapa ia begitu ingin membantuku hanya untuk menjadikanku musuhnya lagi? Ini seperti memberi amunisi pada tentara musuh agar tetap bisa menyerang pertahanan kita.

"Baiklah. Tapi aku tidak bisa percaya padamu sepenuhnya." Kataku menyerah, menatapnya layaknya ia musuh yang menyerah tapi memiliki rencana jahat di balik itu. Ia menghela napas, seraya berkata, "Lalu bagaimana kau akan menceritakannya padaku jika tidak ada kepercayaan di bawahnya? Lagi pula, jika kau takut aku akan membocorkannya, aku katakan. Cara seperti itu adalah cara orang penakut. Aku bukan penakut. Dan sikap itu bukan untuk bangsawan seperti ku. Percaya deh."

Yah, dia meyakinkanku dengan kesombongannya. Tapi dengan komentarnya itu, hatiku menaruh kepercayaan padanya langsung setelah ia menyelesaikan penjelasannya.

"Oh, fine. Kau menang." Kataku sambil menunduk.

"Yay." Dia merespon dengan kata-kata orang yang kegirangan, tapi dengan nada orang baru bangun tidur. Paduan yang tidak cocok, bagiku. Tapi aku anggap itu sebagai tanda bahagia.

"Jadi begini ceritanya.." Aku mengangkat wajahku perlahan kepadanya, menemui tatapan tajam dan dinginnya. Aku tidak membatin dengan ekspresinya itu, karena aku tahu ia mendengarkan. Lalu aku memulai ceritaku dari awal , tentang aku yang selalu menonton latihan football mereka, sampai akhir, ketika Eyeshield menghilang secara tiba-tiba. Itu termasuk tentang hubunganku dengan Eyeshield. Clifford hanya menaikkan alisnya ketika mendengar bahwa aku ini adalah pacar Eyeshield. Tapi ia tidak berkomentar apapun, yang menandakan ia mau aku melanjutkan ceritaku.

"...Jadi begitulah, aku mencari-carinya. Tapi semua komponen SMU Notre Dame bertingkah aneh setiap kali aku bertanya tentangnya. Hingga aku mendapat jawaban bahwa ia pindah ke jepang. Tanpa alasan yang jelas. " AKu menghela napas, menyelesaikan bagian akhir ceritaku. Clifford mengangguk pelan, menandakan ia mengerti maksud ceritaku.

"Jadi aku memang benar. Ini tentang percintaan." Katanya pada dirinya sendiri. Tapi terdengar olehku, yang langsung aku timpali, " Kau memang benar. Menyeramkan sekali kau bisa tahu apapun dari mata seseorang."

"Bukan menyeramkan. Tapi menyenangkan."

"Whatever.." Jawabku memutar mata pelan mendengar protesnya yang bernada datar itu.

"Hmm, aku tahu kau tidak suka untuk dikritik atau diberi masukan tentang ceritamu tadi. So...bagaimana jika aku mengajakmu untuk masuk ke klub football?"

Aku hampir tersedak mendengar tawaran lelaki berambut blonde itu. "Ap-apa?"

"Well, oke. Ini mungkin bisa dibilang masukan, tapi..aku pikir, mengapa kau tidak bermain football saja? Dari ceritamu, ia mengatakan kau punya bakat kan? Jadi mengapa tidak mencoba? Mungkin saja kau bisa melampauinya. Dengan begitu, kau bisa meredam emosimu tentang kepergiannya. Sekaligus menunjukkan padanya bahwa kau bisa menyamai atau melebihinya. Dia pasti akan bangga padamu. Dimanapun dia."

Aku terdiam seraya menatapnya kosong.

"Jadi apa jawabanmu? "

"Kau...kau ada di klub football?" Sejujurnya, aku tidak pernah membayangkan ia mau repot-repot tergabung dalam suatu klub. Jadi mendengar ia adalah anggota klub, football pula, yang isinya kekerasan, sungguh suatu kejutan tersendiri untukku. Kukira football bukan olahraga yang diperuntukkan pada para bangsawan. Dan disinilah dia, mengatakan ia mengikuti klub football.

"Ya. Aku quarterback. Kau..jika bergabung, bisa jadi linebacker yang bagus. Dengan tinggi seperti itu."

Ini mungkin akan menjadi lembaran baru yang orang yang memberiku lembaran itu, tidak kusangka-sangka adalah orang yang terkenal akan ketidak peduliannya di sekolah ini.

Oh Clifford D'Louis…

PART 8 : I AM RIGHT AFTER YOU

POV : Kakei

Pada awalnya, semua anggota tim tampak terkejut mendengar aku bergabung dalam tim. Mereka sempat menanyakan beberapa hal kepadaku, tapi aku menjawab mereka hanya dengan tatapan dingin yang tak dapat dibaca. Well, aturan itu sudah tidak berlaku lagi untuk Clifford. Sehingga, ia sering kali bertingkah layaknya penerjemahku. Contohnya, ketika pelatih football SMP Phoenix bertanya padaku apa kemampuanku, aku hiraukan dia dengan memutar bola mata. Serta merta, entah dari mana, quarterback pirang itu muncul. Lalu menjawab, "Aku belum punya pengalaman di football sebelumnya. Apakah kau keberatan? begitu katanya, sir..."

Ketika pelatih mengangguk mengerti mendengar penjelasan Clifford, aku mengangkat wajahku padanya dan menatapnya dengan mata lebar menyeramkan yang kuharap bisa menghancurkan topeng poker face nya yang menyebalkan itu. Terutama, saat ia menatapku balik, dan merespon, "Apa?".

Well, tapi aku tidak sedendam itu padanya. Malah, aku mungkin merasa berhutang budi padanya. Dia yang memberiku hidup baru untuk berkreasi.

Bulan-bulan awal diriku bergabung, aku belajar banyak tentang tekhnik-tekhnik football. Maksudku, aku sudah tahu melalui teori. Tapi semenjak bergabung, aku jadi tahu bagaimana melakukan teori-teori itu. Bisa dikatakan, saat latihan tim, aku dengan mudah mengalahkan para anggota lain. Dan pelatih tampaknya bangga melihat perkembangan pesatku walau aku masih tergolong pemula.

'Dengan begini, aku pasti bisa mengalahkan Eyeshield.'

Pada suatu hari, ia mengatakan kepadaku untuk berlatih lebih keras demi memperkuat otot. Katanya, sehebat apapun aku, jika aku tak mau melatih kekuatan lengan, maka akan percuma. Aku yang mendengar itu, merasa sebal.

'Aku sudah sempurna! Skill ku tak tertandingi! Aku memang berbakat! Tidak ada yang bisa mengalahkanku.' pikirku percaya diri.

Tapi itu tak bertahan lama. Semua pikiran itu pudar ketika aku mendapat pertandingan perdanaku. Pertandingan antar SMP.

Aku, yang tidak terkalahkan disekolah, rasanya seperti selembar kertas yang dihamburkan oleh tim lawan. Pada saat itu, semua kepercayaan diriku hilang. Kemudian, ingatanku tentang kata-kata pelatih merasuki pikiranku. Dan di saat itu juga, aku tersadar.

'Kau benar, pelatih. Tanpa kekuatan, segalanya percuma Aku hanya sampah.'

Semenjak kekalahan tim SMP Phoenix, aku memaksa diriku untuk lebih maju satu langkah atau lebih. Dengan mengutamakan hasil latihan, dan mengacuhkan fatigue yang menggebu-gebu di setiap waktu aku memaksakan diriku untuk berlatih terus menerus..

Dalam 2 bulan saja, postur badanku sudah berkembang. Hasil-hasil latihan beratku hari-hari ini memang tidak sia-sia. Dengan kekuatan ini, aku harus dan pasti bisa mengalahkan lawan di pertandingan selanjutnya.

Memang benar. Pertandingan selanjutnya, SMP Phoenix menang telak. Dari kemenangan-kemenangan itu, sekolah menganugerahkan padaku gelar Ace.

"See? Kau bisa, Blue-Boy..." Clifford berkata datar, dengan nada bosan. Matanya tidak tertuju padaku. Tapi ke tangannya, yang seperti ia interospeksi tentang kebersihannya.

Aku tersenyum mendengar ucapannya. "Ya. Kau benar. You know Cliff, Aku benar-benar berterima kasih padamu, telah membukakan mataku akan jalan yang baru."

Ia memutar matanya, lalu menghela napas pelan sebelum menyambung pembicaraan kita. "Kau traktir aku habis ini. Oke? Aku butuh sepatu kulit D&G untuk bercocok tanam pada pelajaran 'gardening' besok" Katanya enteng.

Jika kehidupan ini adalah cartoon, maka kau akan bisa melihatku sedang 'sweatdrop' setelah ia mengatakan permintaan tidak masuk akalnya itu. Dia ingin beli sepatu macam D&G, hanya untuk bercocok tanam? Apa dia gil- oh, tunggu. Tidak..tidak...aku tidak seharusnya berpikir dia gila. Tapi dia kaya. (Ya, secara ...bangsawan).

"Nonsense." Aku membalasnya, memanjangkan nada di setiap huruf hidup.

"Kidding." Ia menjawab cepat, mengibas-ngibaskan tangannya seperti sedang mengusir sesuatu.

Dan beberapa bulan selanjutnya, Aku menyelesaikan studi ku di SMP Phoenix. Rencananya, aku akan melanjutkan SMU ku di negara asalku. Yaitu jepang. Clifford sempat bertanya padaku saat acara wisuda.

"Ke jepang? " Dahinya mengerut, matanya menatapku dengan tatapan tidak percaya. "Mengapa ke Jepang, jika disini kau bisa mengambil SMU terbaik?"

"Aku bertekad mencari Eyeshield. Ia pasti ada di Jepang." Aku membalasnya pelan, tidak terlalu percaya diri dengan alasanku untuk kembali ke Jepang. Kata-kata Cliff tadi memang ada benarnya. Sekolah memberiku beasiswa untuk melanjutkan SMU di Notre Dame. Tapi, aku menolak. Karena sakit hatiku terhadap sekolah itu yang tidak mau memberi tahuku yang sebenarnya tentang Eyeshield.

"Blue-boy, mengapa kau begitu yakin? Ia bahkan belum memberimu kabar sedikitpun." Cliff menimpali. Dan sekali lagi, tahu tentang rahasiaku bahwa Eyeshield sampai kini belum memberiku kabar sama sekali.

"Aku tahu. Maka itu, akau akan mencarinya." Kataku, sambil menatap tanah yang kupijak. Keraguan terasa jelas di hatiku, tapi aku mencoba meredamnya dengan kepercayaanku terhadapnya, yang masih ada hingga detik ini. Aku bahkan tidak bisa percaya pada diriku sendiri bahwa kepercayaanku padanya masih tersisa walau ia meninggalkanku begitu saja tanpa ada kabar.

"Fine. Kapan kau kembali ke Jepang?" Nada Cliff kini berubah menjadi rendah dan terkesan terpaksa.

"Besok. Aku ingin kembali secepatnya." Pada akhir kata, aku mengangkat wajahku, menatap wajah pucatnya dengan mata biruku yang sedang penuh dengan keraguan tapi juga ada kepastian.

"Okay. Aku hanya bisa berharap kau bisa bertemu dengan Eyeshield-mu itu. Tapi..kuperingatkan dirimu. Eyeshield tidak akan mudah di cari di jepang. Karena, Eyeshield mu itu tak akan mungkin secara terbuka mengatakan ia adalah Eyeshield yang asli."

"Asli? Tapi dia Eyeshield satu-satunya!" AKu memicingkan mata pada Cliff, meminta penjelasan lebih atas kata-kata ambigunya itu.

Cliff membuat suara seperti, "tck-tck-tck", lalu menjawab, "Kau itu tidak pernah melihat berita ya? Semenjak Eyeshield-mu itu menghilang, beberapa orang mengambil namanya dan menyebut dirinya Eyeshield. Aku hanya tidak ingin kau salah orang."

'Oh God, sebuah tantangan lagi. Aku mulai menyesal tidak pernah melihat wajahnya..'

"Well, aku bisa bertanya kan? Eyeshield 21 yang asli pasti mengenaliku."

"Atau pura-pura mengenalimu, dan membuatmu jatuh ke pelukannya. " Cliff menimpali dengan cepat. Aku mengangkat sebelah alisku padanya.

"Hheh? Excuse me, ..."

Cliff menghela napas kelelahan. "Ah, Blue-Boy. Katakan saja...siapa sih yang tidak akan terpesona padamu?"

"Hentikan, Blondie! Aku tidak semudah itu!"

Pemuda bangsawan itu mengangkat bahunya. "Well, siapa tahu begitu." Ia terdiam sejenak, sebelum melanjutkan kata-katanya. Tapi kali ini, ia mendekatkan dirinya kepadaku, dan meletakkan kedua tangannya ke pundakku sambil menatapku lekat.

Aku menyadari sesuatu. Dari dari caranya memandangku, aku sadar. Ia menatapku dengan tatapan yang tidak biasa. Tatapannya kini...berubah.

Inilah tatapan yang disebut dengan tatapan khawatir seorang teman.

"Cliff.." Aku berbisik, menatapnya balik dengan tatapan tidak percaya. Seorang Clifford D'Louis tidak mungkin menunjukkan emosi sebenarnya seperti ini.

"Shun Kakei," Ia menyebutkan namaku. Kali ini dengan nama asliku. Bukan Blue-Boy lagi, seperti yang biasanya. Hatiku tergetar karena terkejut akan sikapnya yang berubah ini. Tapi aku diam saja, membiarkan ia melanjutkan apapun yang ingin ia katakan. "Aku 90% yakin, kau akan merasa jatuh cinta lagi. Tapi pada Eyeshield yang salah..."

'APA?'

Aku mendorongnya menjauh dengan kasar. Mataku melebar penuh amarah. "Apa katamu? Bisa-bisanya kau bicara begitu.." Aku mengambil jeda, untuk mengatur nafasku yang memburu. "Kau masih berpikir aku ini pelacur? Jatuh cinta pada orang lain dengan mudahnya? Kujawab dengan jelas sekarang. Aku bukan pelacur! Dan cintaku pada Eyeshield tidak akan mudah tergantikan. Berani-beraninya kau meramal masa depanku! Kau memang hebat, tapi bukan berarti bisa seenaknya meramal masa depan orang lain!"

Mendengar kata-kata kasarku, Cliff menutup matanya seraya menggigit bibirnya pelan. Ia membuka mata biru mudanya setelah mengeluarkan sebuah nafas yang terdengar berat. "Keyakinanku hanya 90%, Blue-Boy. Masih ada 10% kelonggaran. Di 10% itu, kau bisa mengubahnya. Asalkan kau mau berhati-hati." Timpalnya serius. Kekhawatiran tergambar semu di nada yang ia gunakan.

"Sudah kubilang, jangan seenaknya menentukan masa depan seseorang! " Tanganku terkepal kencang, menahan emosi dan keinginan untuk menonjoknya atau apapun yang akan membuatnya berhenti bicara macam-macam.

Pemuda berambut pirang itu tiba-tiba tertawa pelan, memasukkan kedua tangannya ke dalam kantong jas hitam yang ia pakai. "Terserah kau, deh. Aku berharap kau baik-baik saja di jepang nanti."

Kalimatnya memang bagus, tapi ketika ia kembali menggunakan ekspresi datarnya itu, kalimat pendukung itu terdengar seperti ancaman. Lagipula, aku masih merasa jengkel dengannya atas 'ramalan bualannya' itu. Jadi, aku hanya memicingkan mata padanya sebagai jawaban atas harapannya.

"Ah, mobilku sudah datang." Ia berkata seraya mengalihkan pandangannya ke 'apapun' yang terletak di belakangku. "Farewell, sampai jumpa kapan-kapan! Dan aku berharap kita bisa bertemu di World Cup. Kau dengan tim jepangmu, dan aku dengan tim amerikaku." Lanjutnya ketika telah mengembalikan tatapannya padaku. Aku tetap terdiam, memandangnya kesal secara terus menerus. Cliff lalu berjalan pelan, hendak melewatiku.

Tapi ketika lengan kami berpapasan, ia berhenti sesaat. Untuk membisikkan beberapa kata kepadaku secara cepat.

"Aku tahu siapa Eyeshield sebenarnya. Dan jika kita nanti akan bertemu lagi, hal pertama yang aku tanyakan kepadamu adalah siapa yang kau gandeng itu."Kemudian ia melanjutkan langkahnya lagi tanpa melihat kebelakang, kearahku.

Yang secara tiba-tiba terasa membeku luar dalam. Ia tidak akan pernah tahu betapa terkejutnya aku waktu itu. Hingga aku tak kuasa mengedipkan mataku walau hanya sekali.

'bagaimana...bagaimana bisa? Bagaimana dia...bisa tahu..?'

TBC

A/N : Heya, Clifford OOC banget. Maaf. Ini demi kelancaran fic saya yang abal ini. Dan, jangan mikir aneh-aneh aku bakal buat CliffxKakei. *ngakak* Mereka hanya teman. (Gila, itu mah crack!pairing bangeet! Tapi karena saya penyuka crack! Pairing, saya ga nyangkal besar2 an. XD)

Dan maaf, chapter ini terlalu pendek. *pundung*

Thanks yang udah baca. Yang mau review.. silahkan. Yang mau nge-flame, enyah kao!