Disclaimer : Eyeshield bukan punya saya! .
Warning : Extremely OOC, slight Sho-ai (Di mata Fujoshi, keliatan banget)
A/N 1 : Maaf update nya lama. ;_; Komputer kena Blue Windows, jadi ada yang harus di rewrite lagi. :(
Enjoy! :)
PART 9 : THE NEW BEGINNING
POV : Kakei
Sekembalinya aku ke Jepang, aku meneruskan studi ku di sebuah SMU bernama Kyoshin. Karena kurikulum di Amerika dan di Jepang tidak sama, aku bergabung dengan sekolah itu ketika mereka telah memulai pembelajaran. Aku tidak keberatan dengan itu. Dengan kecerdasanku, memahami sesuatu yang baru bukanlah hal yang sulit.
Tak lama setelah aku menjadi murid SMU Kyoshin, aku bergabung dengan klub semenjak itu pula, gelar Ace ku dari Amerika terdengar ke penjuru sekolah. Dengan waktu yang pesat, aku menjadi salah satu orang terpopuler di sekolah.
Anggota tim football pada saat itu...bagiku kurang memuaskan. Selain jumlahnya yang tidak terlalu banyak, pemainnya juga tidak ada yang tinggi. Karena masalah ini, aku mengajukan ke kapten tim, kak Kobanzame, untuk membuka pendaftaran anggota baru. Dan kak Kobanzame menyetujui.
Dan disinilah aku. Berdiri di belakang meja pendaftaran. Bersama kak Kobanzame dan manager tim bernama Shibuya Maki. Beberapa orang telah mendaftar semenjak mendengar prestasiku itu. Aku juga lumayan puas sebagian besar dari mereka memiliki tinggi yang 'lebih dari cukup'. Dengan begini, aku bisa memberi tahu mereka tentang teknik-teknik footballku. Hingga seseorang datang dan bertanya pada kami.
"Hah? Apa ini? American Football? Ini sudah bulan Juni, tapi masih mengumpulkan anggota?" Tanya seorang lelaki tinggi berambut pirang kekuningan dengan model jabrik.
"Hahaha, iya. Memang memalukan, ya?" Kak Kobanzame berkata pelan, menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya. Seperti merasa bersalah atau sebagainya. Tetapi mataku tetap tajam dan serius. Aku menatap lelaki itu, dan berkata tegas, "Tidak peduli bulan apa.. Untuk menang, biar memalukan atau apapun, akan tetap kulakukan. Bukan dengan pikiran 'bagus-juga-kalau-menang', tapi keyakinan pasti akan menang.."
Lelaki pirang itu mengangkat alisnya, "Hah? Apaan tuh? Memang kalian berniat menang sampai mana?" Nadanya mengejek.
"Menaklukkan tingkat nasional.." Jawabku jelas dan sederhana. Lelaki itu mengangkat kedua alisnya, tampak terkejut dengan jawabanku.
Dan pada akhirnya, lelaki itu, yang bernama Mizumachi, bergabung dengan tim. Kadang aku ingin tertawa sendiri mengingat sejarah masuknya lelaki itu. Entah karena apa.
"Guru Kakei, mengapa setiap kali kita latihan, guru selalu membahas tentang christmas bowl?" Salah satu dari duo idiot itu bertanya padaku.
"Karena aku ingin berhadapan dengan Eyeshield 21." jawabku datar dan sederhana.
"Guru pernah bertemu dengannya? Wah, hebat! Aku bangga menjadi murid guru!" Onishi berkata riang, membuat Ohira menatapnya benci.
'Bertemu?' kataku pahit di dalam hati. 'lebih dari itu!' ingin sekali kuteriakkan itu di depan mereka. Tetapi, aku telah memutuskan untuk menyembunyikan info yang sebenarnya sebelum aku menemukan Eyeshield 21.
"Ng? Kau pernah berhadapan dengannya sebelumnya?" tanya kapten tim Kyoshin menyambung pembicaraan.
"Pernah di Amerika. Maka dari itu, aku ingin mengalahkannya." nada bicaraku menjadi tajam di setiap kata-kata itu. Terlebih pada kata terakhir yang memiliki arti tersendiri. Yaitu..
'Aku akan menunjukkan padamu bahwa aku bisa menjadi sepertimu, Eyeshield!'
PART 10 : Best Friend, Right?
POV : Kakei
Latihan hari ini adalah berlari mengelilingi sekolah sebanyak seratus kali. Memang agak berat, tetapi aku tidak protes. Hal lain yang juga terjadi adalah, pada saat itu, hujan sedang turun. Membuat baju yang kami pakai jadi basah. Tetapi, tidak cukup buruk . Kami semua masih memiliki semangat untuk maju, sehingga tekad menyelesaikan latihan itu sudah bulat. Aku berlari dalam pace yang sama sehingga tidak mengurangi kecepatanku, atau membiarkan diriku bersantai walau hanya sesaat sebelum seratus putaran telah kuselesaikan. Aku sungguh bisa merasakan fatigue yang kuat di kakiku. Di setiap langkah yang aku ambil semakin terasa panas dan berat. Tetapi tekad itu, tekad untuk menjadi lebih baik, memompa adrenaline dan tenagaku untuk tetap meneruskannya. Ditambah lagi, anggota-anggota lain tampak tidak menyerah sedikitpun dengan latihan berat ini. Ya, mungkin mereka terlihat kelelahan. Kadang berhenti sebentar. Tetapi mereka masih mau melanjutkan latihan ini sampai selesai. Semangat tim yang juga membangkitkan energiku.
Di tengah-tengah lajuku, aku melihat Mizumachi di depan. Kira-kira sepuluh meter. Tubuhnya terpaku di tempat. Wajahnya menunduk, membuat rambut depannya menutupi wajahnya. Rambutnya pun tidak jabrik lagi. Tetapi jatuh disebabkan air hujan yang membasahinya. Aku mengernyitkan dahi melihat sikap aneh Mizumachi yang mendadak begini. Jika ia kelelahan dan memutuskan untuk beristirahat sebentar, ia harusnya dalam posisi bungkuk atau sebagainya. Tetapi, yang ada di penglihatanku, Ia nampaknya seperti terkejut atau...mematung begitu saja.
Aku berlari mendekat kearahnya hingga ada di sebelahnya. Kakiku tetap dalam gerakan berlari. Hanya saja tidak bergerak kemana-mana. Alias berlari di tempat. Membuat posisiku tetap di sebelahnya. Anehnya, Ia tidak menyadari kedatanganku. Tatapan matanya tertuju kebawah. Walau tertutupi tirai yang ternyata adalah rambutnya, aku bisa merasakan bahwa ia sedang menatap tanah.
"Mizumachi?" Aku memanggilnya pelan. Tetapi suaraku mengejutkan dia. Membuat dia terperanjak dan memandangku kaget. Ekspresi terkejutnya dengan cepat berubah menjadi senyuman lebar yang polos ketika mengetahui bahwa yang menghampirinya hanyalah aku. Well, katakan saja, aku dan Mizumachi kini...sangat dekat . Aku dan dia adalah sahabat dekat.
"Oh, Kakei-chan." Sapanya balik, menggaruk bagian belakang kepalanya walau tidak gatal. Dan lagi-lagi, dia menggunakan -chan untuk memanggilku. Meski aku telah melarangnya begitu. Ini membuatku lelah mengingatkannya. Sehingga aku membiarkan dia memanggilku seperti itu. Karena itu sudah berulang kali!
Aku mengatur nafasku, sambil berusaha mengatakan beberapa patah kata tanpa terdengar bergetar. "Ngapain kau diam saja? Kau kan yang menyarankan untuk lari berkeliling seratus kali?"
Senyuman lebarnya jatuh hanya dalam detik. "Ah, iya. Maafkan aku! Aku tadi hanya teringat sesuatu! Terima kasih, Kakei-chan!" Senyuman lebar itu kembali lagi menyinggahi bibir lelaki blonde itu seraya kaki-kakinya bergerak dalam pace berlari. Dan Mizumachi pun berlari kembali, melanjutkan putarannya setelah memberiku sebuah pandangan yang menantang. Menerima itu, Aku tersenyum kecil saat Mizumachi telah mengembalikan pandangannya ke jalan setapak di hadapannya. Dengan menekan energi yang tersisa, aku melangkahkan kakiku untuk maju lebih cepat, mencoba menyusul Mizumachi yang telah lumayan jauh di didepanku.
Tetapi, di pikiranku, aku sedang bertanya-tanya pada diriku sendiri.
'Tidak mungkin Mizumachi mematung seperti tadi hanya karena masalah sepele. Ada apa ya?'
"Wah, melelahkan sekali ya!" tukas Kobanzame seraya menduduki bangku di dalam ruang klub football. Sebuah botol minum dan sehelai handuk di masing-masing tangannya.
"Aku sih tidak lelah! Sebagai murid Guru Kakei yang hebat, aku tidak boleh mudah lelah!" Ohira dengan percaya dirinya membusungkan dada sambil menunjuk-nunjuk dirinya bangga. Onishi yang mendengar ini seakan menangkap kata-kata itu lebih cepat dari pada makhluk hidup apapun yang ada di ruangan itu. Itu memang bukan kebiasaannya. Tapi jika ada yang menerangkan tentang 'Kakei', apalagi dari rivalnya yaitu Ohira, impulse nya jadi 3x lebih cepat dari impulse normalnya.
"Kau itu tidak pantas menjadi murid guru Kakei! Aku yang pantas! Jangan seenaknya sendiri menyebut manusia lemah seperti dirimu sebagai murid guru kakei yang agung!"
Itulah yang kudengar pertama kali saat aku dan Mizumachi memasuki ruangan klub. Tidak terperanjak sedikitpun ketika dari belakang aku mendengar suara benturan. Sudah normal mendengar suara benturan antara dahi Mizumachi dengan bingkai pintu bagian atas. Sehingga, aku mungkin hanya berkedip sekali dengan tenang jika mendengar itu. Mizumachi pun, tidak terdengar perlu dikasihani. Karena disetiap kali keteledorannya itu terulang, ia menambahinya dengan sebuah tawaan bahagia, meyakinkan bahwa dirinya baik-baik saja. Kadang aku berpikir, dia itu normal apa tidak sih.
"Naa...itu guru kakei!" Ohira berteriak keras saat melihat kedatanganku. Onishi, yang ketika mendengar namaku disebut impulse nya menjadi 3x lebih cepat, langsung menoleh ke arahku, dan memancarkan keceriaan ketika melihatku. Dan disaat itu juga, dua-duanya nekat berlari dan menerjang ke arahku. Untungnya, aku juga memiliki impulse yang lumayan cepat. Terutama jika menghadapi dua maniak gila yang fanatik denganku ini.
Saat mereka hendak menerjangku, aku bergeser beberapa langkah. Menyebabkan Mizumachi menjadi korban tabrakan dua orang tidak berakal sehat itu. Menggantikan diriku yang kini masih selamat. Mizumachi, karena terhalang olehku tadi, tidak mengerti bahwa Ohira dan Onishi sedang menerjang kearah ku. Sehingga, ia pun tak sempat berteriak saat terpental terjangan mereka. Tetapi, itu cukup keras untuk membuat darah keluar dari hidungnya.
"Mizumachi!" Aku berseru, tapi dalam bisikan. Sepenuhnya, kulihat kecelakaan yang membuat sahabat dekatku itu menjadi korban. Semua mata anggota juga tertuju ke kejadian memalukan dan menyakitkan itu. Apapun yang sedang mereka lakukan berhenti seketika hanya untuk memusatkan konsentrasi mereka pada tayangan laga yang baru saja terjadi secara langsung.
Ohira dan Onishi kembali ke kedua kaki mereka setelah menabrak Mizumachi yang malang, yang masih tergeletak sambil memegangi hidungnya. Darah mengalir keluar dari sela-sela jemari tangannya. Bodohnya, Ohira dan Onishi bukannya menolong Mizumachi lalu meminta maaf. Tetapi malah menyesal menabrak Mizumachi, bukan aku (mereka benar-benar mau membunuhku). Dan menyalahkan Mizumachi walau dalam unsur tersirat di perkataan mereka. Kemudian, temanya berganti menjadi 'perebutan status murid guru kakei'. Kapan sih aku membuka kelas belajar-mengajar?
"Mizumachi, kau tak apa-apa?" Kobanzame, yang sudah beranjak dari bangku dan kini ada di sebelah Mizumachi, membantunya berdiri. Mizumachi tertawa pelan, lengkap dengan senyuman lebarnya yang tidak lelah-lelahnya tertampang di bibir tipisnya. Merasa ini semua adalah salahku, yang membuatnya jadi begini, aku mengambil sehelai kain atau sapu tangan dari lokerku lalu berjalan mendekatinya. Mizumachi telah duduk di bangku berkat bantuan Kobanzame tadi. Memandang kesekeliling, anggota-anggota lain telah beranjak ke ruang pembersihan. Meski mereka semua telah beralih kesana, aku masih bisa mendengarkan pertengkaran mulut antara duo maniak itu.
Aku duduk disebelahnya, memaksa wajahnya untuk menghadapku dengan cara meletakkan permukaan tanganku di pipinya dan mendorongnya halus agar aku bisa melihat wajahnya. Ia sedikit terkejut mendapatiku melakukan seperti ini. Tetapi aku mengacuhkan pandangannya. Tangan yang mencoba menyumbat darah di hidungnya kutarik, membuat cairan merah itu mengalir turun menuruni dagu lalu menetes ke baju Mizumachi. Matanya yang berkilau memandangku bingung, tetapi terdiam saja seakan memperbolehkanku melakukan apapun padanya. Aku tidak menemui matanya sedikitpun, menghindarinya dengan sengaja. Karena aku bisa merasakan wajahku menghangat saat aku mengusap darah dari bawah hidungnya kemudian dengan cepat aku tutupi dengan sapu tangan. Tidak terlalu rapat, supaya ia tidak menemukan kesulitan untuk bernapas. Wajahku dan wajahnya berhadapan sangat dekat, tetapi aku mencoba bertingkah seakan aku tidak terpengaruh kedekatan kita berdua.
"Kakei-chan..mengapa kau-"
"Jangan bicara dulu. Darahnya masih keluar." Kataku tegas, memotong pertanyaannya.
Mizumachi memandangku dengan pandangan yang tidak bisa kubaca. Matanya berkaca-kaca melihat setiap gerakanku. Lalu ia menggenggam pergelangan tanganku yang sedang memegang sapu tangan di hidungnya. Tidak terlalu keras. Aku sedikit terperanjak mendapat sentuhan mendadak seperti itu, tetapi aku tidak mengeluarkan suara apapun. Karena, berkat sentuhan itu, mata kami bertemu, terbaut menjadi satu seakan ada mantra yang membuat aku tidak bisa melepaskan tatapanku padanya.
"Mizumachi...ada apa?" tanyaku pelan, mencoba terdengar tenang meski di dalam, jantungku berdetak kencang tidak karuan.
"Kakei-chan, maukah kau tahu tentang mengapa aku tiba-tiba melamun di tengah latihan kita?"
Aku berkedip beberapa kali, terkejut mendengar nadanya yang berubah menjadi sedih. "uh..tentu, tentu..."
Mizumachi tersenyum kecil, kemudian menunduk perlahan. Genggaman tangannya menarik tanganku dari sapu tangan yang ku pegang. Sebelum sapu tangan itu jatuh, tangan satunya menopangnya untuk tetap di tempat yang sama. Aku menarik tanganku kembali, meneruskan pandanganku ke arahnya yang terlihat muram.
"Kau...kau itu satu-satunya...teman yang...begitu peduli denganku..."
Mendengar itu, aku hanya terdiam. Karena aku yakin, ada penjelasan lain dibalik itu. Maka dari itu, aku menunggunya untuk menjelaskan lebih lanjut.
"Selama ini...orang-orang yang kuanggap teman...hanya memanfaatkanku." Mizumachi mengangkat wajahnya, menatap lampu yang ada di atas kami. Tetapi, seperti secara spontan, aku meletakkan salah satu tanganku di bagian belakang kepalanya dan memaksanya untuk tidak mendongak. "Jangan menghadap keatas! Darahnya nanti masuk lagi!" Aku bahkan tidak sadar telah mengatakan itu.
Ia tidak melawan, malah tersenyum seraya berkata lirih, "Ya..ya. Seperti itu. Begitu peduli hingga seteliti itu.."
Aku memiringkan kepalaku, memandangnya penuh dengan tanda tanya. "Tentu saja aku peduli. Kau kan sahabatku."
Mizumachi tertawa kecil. "Mereka juga mengaku sebagai sahabatku. Bersama-sama mencapai kesuksesan. Tetapi melihat aku yang begitu semangat, mereka membuangku. Mereka berkata aku ini aneh dan susah diikuti." Sebuah tetesan air mata mengalir dari mata lelaki blonde yang sedang bersedih itu. Aliran itu terhenti karena diserap oleh sapu tangan yang masih melekat di hidungnya. Samar-samar, noda merah mulai terlihat di kain tersebut.
"Oh, Mizumachi. Maafkan aku. Tidak seharusnya aku membuatmu teringat hal seperti itu.."
"Untuk apa kau meminta maaf? Justru aku yang harus meminta maaf telah membuatmu mendengarkan cerita tidak bergunaku. "
"Apanya yang tidak berguna? Apapun yang kau ucapkan itu selalu berguna, Mizumachi!" Aku berkata tegas, memaksanya untuk memandangku lagi. Mataku yang menyiratkan keprihatinan bertemu dengan matanya yang basah karena air mata.
"Kakei-chan..." Ia berkedip beberapa kali, membiarkan sebuah tetesan air mata mengalir jatuh dari matanya lagi. "Aku...aku sungguh..beruntung...memiliki sahabat...sahabat yang begitu sempurna seperti dirimu.."
Aku memutar bola mataku pelan, tidak ingin terlihat mencampakkan dan sebagainya. "Sudahlah, aku juga bangga memiliki sahabat sepertimu. Sekarang, bersihkan dirimu! Kurasa darahnya sudah berhenti..." Aku mengangkat sebelah tanganku untuk menarik kain dari hidung Mizumachi. Ternyata benar, darah sudah tidak mengalir lagi dari hidungnya. Tetapi, aku bisa melihat betapa merahnya sapu tanganku. Di bawah hidung Mizumachi pun masih ada darahnya. Mendapati itu, aku menggunakan tangan kosongku untuk mengusapnya lembut. Mizumachi terkekeh pelan karena merasa tergelitik dengan goresan halus jariku di bawah hidungnya.
"Kakei-chan, terima kasih ya! Oh ya. Biar aku yang mengurus itu!" Katanya riang, lalu mengambil sapu tanganku yang penuh darah dari tanganku. Belum sempat ku timpali apapun, ia telah bergegas pergi masuk ke ruang shower. Aku hanya bisa memandang punggungnya sekejap sebelum hilang secara seluruhnya kedalam ruangan itu. Samar-samar, aku tersenyum.
'Mizumachi, Aku juga beruntung memiliki sahabat sepertimu. Aku bahagia bisa membuatmu senang'
PART 11 : Fakeshield 21
POV : Third
"Lawan kita setelah ini adalah Deimon," jelas kapten tim Poseidon, Kobanzame pada anggota-anggotanya. Lelaki itu berdiri di sebelah sebuah layar berukuran sedang dengan kaki besi yang menopangnya, yang menampilkan beberapa gambar, yang dihasilkan oleh cahaya dari Proyektor. Sedangkan yang lain duduk di bangku yang telah tersedia di ruangan , ada dua orang yang memilih bersandar pada loker. Semua mata tertuju pada layar putih di hadapan mereka. "Mereka merupakan tim baru, yang berkembang pesat." Lanjut Kobanzame beberapa saat, menunjukkan wajah serius. Ketika gambar bergerak di layar itu menunjukkan seorang anggota dari Deimon yang memiliki perisai hijau di helmet nya, Kobanzame membuka membuka mulutnya lagi.
"Dan ini adalah ace runner Deimon, yang dijuluki Eyeshield 21. Meski pendek, larinya sangat cepat! Tidak tertandingi. Ia memiliki kemampuan mengembangkan teknik secara spontan. Gerakannya begitu….." Wajah serius Kobanzame luntur seketika saat ia merasakan sebuah tatapan yang terasa begitu dingin dan menusuk, yang ditujukan pada dirinya. Tanpa keraguan sedikitpun, ia tahu berasal dari mana tatapan tidak mengenakkan itu. Sang Quarterback mengalihkan matanya perlahan, merasa gugup. Pandangannya jatuh pada salah satu anggotanya yang bersandar di loker. Tatapan sepasang mata biru yang begitu dingin masih menerobos masuk melalui mata kapten itu.
"..Eh..hehhe…Kakei-kun, semoga kau tidak memanas mendengar pujian-pujianku pada Eyeshield 21.." Kobanzame mengangkat salah satu tangannya dan menggaruk bagian belakang kepalanya, memasang wajah 'aku-merasa-bersalah'. Kakei memicingkan mata pada lelaki yang berada di tahun terakhirnya itu. Dengan nada rendah tetapi tegas, ia menjawab, "Itu bukan Eyeshield 21 yang asli." Samar-samar, ada unsur jengkel juga di dalamnya.
"Naa, Kobanzame-san! Jangan khawatir! Aku akan menghentikannya!" Lelaki di sebelah Kakei menyambung, menggunakan suara yang tinggi dan penuh dengan rasa percaya diri. Kakei menoleh ke pemuda di sebelahnya, lalu menghela napas. "Mizumachi, aku yang akan menghadapinya. Kau menghadapi Lineman Deimon saja."
"..Ng? Oh…Okay, Kakei-chan! Apapun yang kau mau." Kata Mizumachi riang, menyikut lengan lelaki berambut biru di sebelahnya. Lalu, pemuda berambut pirang kekuningan itu menoleh ke Kobanzame yang kini tampak lebih bahagia. "Lihat kan, Kobanzame-san? Kakei-chan akan mengalahkannya!"
Kobanzame tertawa kecil. "Baik, baik. Aku percaya pada kalian." Setelah itu, Kobanzame, selaku kapten, menjelaskan profil dan karakteristik semua pemain Deimon pada anggota-anggotanya. Pengenalan itu menghabiskan waktu hanya lima belas menit. Memang dibuat singkat, agar tim Kyoshin bisa latihan lebih.
"Oke. Pengenalan anggota Deimon telah selesai. Setelah ini, kita berlatih dua kali. Jadi, sebaiknya kita segera berganti baju." Kata Kobanzame memberi instruksi. Semuanya segera beranjak dari bangku lalu berjalan pelan ke loker masing-masing. Saat Kobanzame hendak melangkahkan kakinya, tanpa ia sadari, sepatunya mangait kabel yang melintang di bawahnya. Nafasnya terhentak saat menyadari ia telah melakukan kesalahan. Kapten Kyoshin terjatuh ke lantai dengan wajah terlebih dahulu. Gerakan jatuhnya membuat kabel itu menegang, termasuk bagian yang ada di bawah kaki layar proyektor, menyebabkan layar itu terjerat dan jatuh juga. Untung saja, layar berukuran 1.5x1.5 meter itu tidak menimpa kapten malang itu. Tetapi, bencana itu masih belum selesai. Di tengah-tengah perjalanan jatuhnya layar putih medium itu, bagian ujungnya menyenggol badan sebuah piala yang berada di rak sebelahnya. Piala itu goyah ke depan. Hiasan bagian atasnya yang lebar berbentuk bendera itu mendorong hiasan piala sebelahnya. Dan seterusnya. Hingga berhenti di piala kelima. Yang sangat disayangkan, terbuat dari marmer dan kaca sepenuhnya. Semuanya tidak ada yang bergerak, bencana beruntun itu terjadi cepat sekali sebelum mereka bisa mengedipkan matanya setelah Kobanzame terjatuh ke lantai.
"Urgh.." Kobanzame mengerang pelan, mencoba merubah dirinya ke posisi duduk. Tangan kanannya memegang dahinya yang membiru. Ia menoleh ke samping dan tidak bisa menyembunyikan keterkejutan dan perasaan bersalahnya ketika ia mendapati beberapa piala penghargaan tim yang kini tidak berbentuk lagi. Itu semua adalah ulahnya. Ia sampai tidak berani memandang anggota timnya yang ia rasa telah menjatuhkan pandangannya pada kapten itu.
"Semuanya, ganti baju kalian dan segera melakukan stretching di lapangan. Kami akan menyusul. " Sebuah suara tegas menggema di keheningan secara tiba-tiba. Semua mata yang ada di ruangan itu teralih pada seseorang yang tengah berjalan kearah Kobanzame, dengan sapu ruangan di genggamannya. Wajah dingin dan datar, rambut dan sepasang mata biru. Terkenal dengan prestasinya di Amerika.
"..Kakei-kun, kau tidak perlu repot-repot. Ini semua salahku.." Kata Kobanzame lirih saat melihat Kakei berdiri di dekat bongkahan-bongkahan piala yang tidak berbentuk lagi itu. Sepasang mata tajam birunya tertuju ke bawah, seakan mengidentifikasi masing-masing pecahan. Lelaki itu tidak menghiraukan kata-kata kaptennya.
"Ayo! Semuanya cepat ganti baju! Jangan bengong saja!" Sebuah suara ceria terdengar dari belakang. Lalu semua anggota yang tadinya masih tertuju pada Kakei yang hanya berdiri saja di depan piala yang hancur berserakan, akhirnya melepas pandangan mereka dan melanjutkan mengganti pakaian mereka. Setelah itu, mereka berbondong-bondong keluar dari ruangan itu.
"..Mizumachi.." Kobanzame menyebut nama pemuda tinggi itu ketika pemuda itu berjalan mendekatinya dengan senyuman ramah.
"Ayo, Kobanzame-san! Kembali ke kakimu!" Kata Mizumachi semangat, mengulurkan tangan panjangnya ke Kobanzame, bertujuan untuk membantu kapten itu berdiri. Kobanzame tersenyum, meraih tangan itu dan kembali ke posisi berdiri dengan bantuan tarikan dari pemuda pirang bernama Mizumachi itu.
"Terima kasih, Mizumachi-kun.." Kobanzame berkata pelan, terharu dengan perbuatan terpuji anggotanya pada dirinya, yang seharusnya membencinya karena ia telah menghacurkan beberapa piala berharga milik tim.
"Kau baik-baik saja kan, Kobanzame-san?" Mizumachi bertanya khawatir, tetapi senyuman ramah masih merekah di bibirnya.
"Ungh…tidak tahu…" Quarterback Kyoshin meletakkan jarinya di dahinya, dan merasakan benjolan di bawahnya. "…Ng…Aku merasa pusing.."
"Duduklah terlebih dahulu." Mizumachi menyambung segera, begitu melihat Kaptennya yang seakan kehilangan keseimbangan. Pemuda pirang itu membantu sang Quarterback berjalan kearah bench dan mendudukkannya disitu.
"…Terima kasih, Mizumachi-kun. Kau terlalu baik."
Mizumachi tersenyum hangat, hendak membalas tetapi kata-kata itu terhenti ketika sebuah suara dentingan kaca yang menyentuh permukaan keras muncul dari bagian depan ruangan. Kedua lelaki itu menoleh ke asal suara itu dan melihat Kakei tengah berusaha mengumpulkan pecahan-pecahan piala itu dengan menyapunya perlahan. Menimbulkan dentigan ketika pecahan kaca menggelinding di lantai.
Mereka berdua memandang aktivitas lelaki berambut biru itu seakan tertarik untuk memperhatikannya secara seksama.
"..Kakei-kun itu…ternyata baik ya. Dia peduli…" bisik Kobanzame pelan pada Mizumachi tanpa menoleh padanya. Mendengar itu, Mizumachi tersenyum, teringat kejadian saat Kakei mencoba membantunya menghentikan pendarahan di hidungnya.
"..Dia itu begitu baik, diluar sepengetahuanmu, Kobanzame-san.." bisik Mizumachi, menjawab pernyataan Kobanzame. Di mata Mizumachi, terpancar kehangatan dan rasa bangga yang tertuju pada sahabatnya itu.
"Aku dengar itu." Gumam Kakei datar, tetap meneruskan menyapu pecahan-pecahan piala tanpa berbalik atau menghadap ke arah dua orang yang berparas terkejut di belakangnya.
"..K-kau mendengarnya? Oh, m-maafkan aku ya, Kakei-kun.." kata Kobanzame gugup, merasa bersalah telah membicarakan adik kelasnya itu.
BRAG!
Suara pintu yang dibuka terlalu keras masuk ke pendengaran tiga orang yang ada di dalam ruangan itu. Semuanya terkejut dan langsung mengalihkan pandangan mereka kearah ambang pintu masuk ruangan klub.
Disana, berdiri Ohira dan Onishi dengan wajah sebal dan marah, sedang membawa dua orang pendek yang kelihatannya gugup sekaligus ketakutan. Salah satu berambut hitam, dan satunya lagi berambut coklat caramel.
"Guru Kakei! Kami menemukan mata-mata!" Ohira berkata lantang dan tegas, mendorong pemuda pendek berambut hitam itu ke lantai hingga terjatuh. Onishi mengikuti gerakan itu, mendorong pemuda berambut coklat yang ia tahan ke lantai.
"Mata-mata?" Ketiga orang yang bingung itu berkata tidak percaya, apalagi setelah melihat dua orang pendek yang rapuh (di mata mereka) yang langsung tertunduk di bawah tatapan mereka. Tubuh mereka yang bergetar karena takut juga sangat terlihat.
"Mereka menyamar sebagai pengantar sepatu! Tetapi sebenarnya mereka ingin memata-matai latihan Tim Kyoshin. Kita harus menghukum mereka!" tukas Onishi, memberi tekanan yang berlebihan pada kata 'menghukum'.
"Kalian dari Deimon, ya?" tanya Mizumachi ragu.
Kedua pemuda yang duduk ala jepang di lantai itu mengangguk pelan. Pandangan mereka menempel di lantai.
"Hmm….sebenarnya mata-mata seperti kalian memang harus dihukum. Masalah seperti itu….Aku serahkan pada kapten tim saja." Terang MIzumachi seraya menoleh pada Kobanzame dengan senyum yang begitu lebar. "Kobanzame-san, hukuman apa yang cocok untuk mereka?" tanya Mizumachi dengan nada…yang anehnya…terdengar bahagia. Kedua anggota Deimon pendek itu semakin bergetar tidak karuan.
"M-ma-maafkan k-ka-kami b-berdua. " kata mereka serempak, terlalu cepat karena terkejar oleh tempo detak jantung mereka yang menjadi tidak teratur karena gugup yang berlebihan. Keduanya memasang ekspresi menyesal untuk sesaat, sebelum wajah itu tertunduk ke pangkuan mereka masing-masing. Memutuskan kesempatan bagi siapapun untuk melihatnya.
"Yang namanya mata-mata itu, tidak akan pernah bisa dimaafkan!" sentak Ohira tidak lama kemudian kepada dua orang pendek itu. Onishi mendukung perkataan Ohira dengan tatapan ingin membunuh. Kedua orang yang dituju itu tidak menjawab apapun. Mereka semakin bergetar dan semakin menunduk ke lantai.
"Sudahlah. Kalian berdua keluar. Biar kami yang mengatasi ini." Kakei dari bagian depan ruangan berkata pelan. Tetapi, karena saat itu begitu hening walau sesaat, suaranya yang ia buat kecil bisa terdengar oleh semuanya. Ohira dan Onishi yang sedari tadi masih berdiri di ambang pintu, menoleh kea rah 'guru kebanggaan mereka'. Secara aneh, mata mereka tidak lagi memancarkan amarah. Tetapi berubah menjadi tatapan terkesima.
"Oh, baik, Guru Kakei! Kami yakin guru bisa mengatasi tikus-tikus ini!" Ohira merubah nada bicaranya seakan ia merasa jijik saat ia mengatakan 'tikus'.
"Sampai jumpa di lapangan, guru!" Kata Onishi tepat sebelum ia menutup pintu ruangan football itu.
Setelah kepergian dua orang itu, semua mata tertuju pada kedua tersangka yang masih saja menatap lantai.
"Ah, apa yang…uhh…harus kita lakukan, ya?" Kobanzame bertanya cukup keras , walau sebenarnya ia menujukan itu untuk dirinya sendiri. Tetapi ia berharap ada yang memberinya saran.
"Tidak perlu repot-repot menghukum mereka," kata Kakei, terdengar acuh tak acuh. Setelah menyandarkan sapu yang ia pegang ke tembok ruangan, mata birunya untuk pertama kalinya jatuh ke kedua orang anggota tim Deimon itu setelah kedatangan mereka berdua. Kata-katanya cukup mengagetkan semua orang yang ada di ruangan itu. Kecuali Kobanzame yang menampilkan ekspresi lega dan bahagia.
"Hheh? Kakei-chan? Kau—"Belum Mizumachi menyampaikan ketidakpercayaannya, Kakei telah memotongnya terlebih dahulu. Sambil berjalan mendekati dua mata-mata Deimon itu, ia berkata datar, "Mengapa tidak berbicara saja? Lebih ada gunanya." Ia menghentikan langkahnya ketika ia telah berada di posisi tiga meter dihadapan kedua orang itu.
"Hha?" Kedua tersangka mata-mata sekaligus Mizumachi mengeluarkan suara terkejut bercampur tidak percaya.
"Iya, benar! Aku juga mau ngomong yang seperti Kakei-kun tadi!" Kobanzame berkata malu-malu, menggaruk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal sama sekali. Hanya melukiskan kepolosan seorang kapten dari Kyoshin.
Kakei menghela napas, mendapati dua anggota deimon itu masih enggan melakukan gerakan lain selain bergetar di tempat. "Hey, kalian berdua. Keberatan tidak, untuk memperkenalkan diri?" Begitu melihat respon kedua orang itu yang menggigil lebih hebat lagi karena ketakutan, Ia menambahkan, "Tenang saja, aku tidak akan meneror kalian.." Perkataan itu diikuti oleh suara Mizumachi yang mencoba menahan tawanya dengan tangannya. Barulah, masing-masing dari mereka, memberanikan diri untuk memandang Kakei yang sejak tadi berdiri di depan mereka. Mata mereka begitu lebar, menyadari selisih tinggi yang terpaut jauh.
"…A-an-a-ano…maafkan kami. Ka-kami t-ttidak…bermaksud…m-memata-matai kalian.." salah satu yang berambut coklat caramel berkata, terdengar sangat menyesal.
"Aku bertanya nama kalian. Bukan meminta kalian untuk meminta maaf." Kakei menjawab cepat, kesal mendapat respon yang tidak ia inginkan. Samar-samar, terdengar Mizumachi berkata "Baka" dari mulutnya yang masih ia coba tutupi dengan kedua tangannya.
.
.
"Uh..ano…umm…namaku Sena. Sena Kobayakawa. Umm…manajernya Deimon Devil Bats." Lelaki pendek berambut coklat caramel itu mendongak dan menyunggingkan senyuman kecil nan ramah, walau tak terlalu lama karena kegugupannya tidak bisa tertahan dari ekspresi lega yang coba ia buat.
"Aku Raimon Taro. Seorang ace catcher dari Deimon. Dan kami, akan melaju ke Christmas Bowl!" Lelaki yang lain, yang memiliki rambut spike pendek berwarna coklat gelap nyaris hitam, mengatakan itu dengan wajah serius dan kedua tangan yang ia kepalkan. Menggambarkan keseriusan dan kesungguhan dirinya terhadap setiap kata yang ia kalimatkan tadi. Suaranya pun berubah seratus delapan puluh derajat jika dibandingkan dengan suara yang ia gunakan pada awal pertemuan. Yang ini, bisa ditemukan kepercayaan diri yang tinggi yang membuatnya terdorong untuk mengucapkan bahwa ia memang benar-benar ace dalam hal menangkap.
Keheningan adalah jawaban dari perkenalan kedua anggota Deimon itu. Yang berubah hanya air muka Mizumachi yang menatap mereka dengan pandangan terkejut. Lalu Kobanzame, yang mengangkat kedua alisnya begitu mendengar perkenalan diri dari lelaki bernama Monta itu. Sedangkan Kakei, tetap mempertahankan wajah datarnya. Mungkin jika diperhatikan lebih seksama, mata biru lelaki itu menyipit ketika mendengar kata 'ace'. Tetapi ia tidak menimpali.
"..Monta, tidak seharusnya kau berkata begitu." Sena berbisik pelan ke arah Monta tanpa menjatuhkan pandangan padanya. Hanya mendekatkan diri beberapa senti saja untuk mengutarakan opininya. Mata coklatnya melebar kembali, merasa badannya berkeringat setelah mendapati tatapan ketiga pemain Kyoshin tertuju pada mereka berdua tepat setelah Monta memperkenalkan dirinya. Tetapi, tidak seperti yang diharapkan Sena. Monta tetap diam dengan tatapan yang tajam yang ia tujukan ke arah linebacker kyoshin itu. Terlebih , saat lelaki berambut kuning yang tingginya melebihi Kakei itu beranjak dari bench dan memutuskan untuk menempatkan dirinya disebelah sahabatnya. Atau di depan mereka.
Dengan menyatukan jari jemarinya di belakang kepalanya alias pose santai sambil berjalannya, Mizumachi berkata riang, "Nghaa…tapi pemain-pemain pendek sepertimu tidak akan pernah bisa mengalahkan kami! Itulah kelemahan timmu." Sindiran Mizumachi tertangkap jelas oleh Sena dan Monta. Terbukti dari ekspresi mereka yang mendadak menjadi lebih serius. Sena yang sedari tadi tersenyum gugup atau sekedar gemetaran saja di tempat, kini menatap Mizumachi tajam seakan lelaki itu telah membuat Sena melewati batasnya. Begitu juga dengan Monta. Matanya memancarkan aura kemarahan yang ia kirimkan kepada Mizumachi. Dan sesekali ia juga melirik ke ace kyoshin berambut biru yang memilih untuk berdiam diri saja. Mengerti bahwa Mizumachi dan Kakei adalah sahabat, maka yang mendapat tatapan tajamnya adalah mereka berdua. Begitulah yang tertulis di kamus Monta.
"…Kau…kau tidak berhak…mengatakan kami…seperti itu.."Suara Sena terdengar begitu rendah dan pelan di ruangan yang sunyi itu. Meski ia menggunakan nada yang rendah, tetapi ketiga anggota Kyoshin bisa menarik kesimpulan bahwa suara yang Sena gunakan merupakan suara yang pelan namun berbahaya. Seakan-akan, ia bisa membabi-buta jika ada yang membuatnya marah lagi. Hal itu tidak menimbulkan kesan yang kuat pada mereka bertiga. Melihat fisik kedua orang itu yang lemah, mereka percaya bahwa Sena dan Monta bukan kendala yang serius.
Monta membuka mulutnya, dan menyambung kata-kata Sena."Tidak pernah kah kalian melihat bagaimana hebatnya Eyeshield 21 mencetak skor? " Respon pertama yang muncul adalah Kakei yang menyipitkan matanya setelah mendengar nama yang tidak asing lagi di telinganya. "..Berkat dia lah, Deimon bisa sampai sejauh ini!" Nada Monta meninggi. Kepalan tangannya mengerat. Pancaran matanya semakin bergejolak akan beberapa emosi yang tidak menentu.
"Ah…iya. Eyeshield nya Deimon hebat ya!" seru Kobanzame, lengkap dengan wajahnya yang mendadak jadi girang. Mizumachi dan Kakei menoleh ke arah kapten mereka dengan kecepatan yang mengagumkan. Masing-masing dari mereka menunjukkan ekspresi wajah yang berbeda-beda. Mizumachi menatap Kobanzame dengan tatapan terkejut dan tidak percaya telah mendengar kapten mereka sendiri, memuji lawan. Sedangkan Kakei, menatap Kobanzame dengan tatapan tajam dan dinginnya. Seperti tatapan ingin membunuh. Kobanzame mematung dalam hitungan detik setelah mendapat kedua pandangan tidak enak dari dua anak buahnya. Salah satu dari mereka terasa begitu menusuk hingga menggetarkan keberaniannya.
"Err….hehhe..um…ano…ng…ng…..hmm…"
Mizumachi dan Kakei mengembalikan pandangan mereka ke arah dua anggota Deimon Devil Bats itu, meninggalkan Kobanzame yang masih bingung mau berbicara apa.
"..Bisa-bisanya kalian menyamakan Eyeshield palsu itu dengan Eyeshield yang sebenarnya." Kakei berkomentar dengan nada datar namun dingin. Matanya menyamakan nada suaranya. Tajam, dingin, dan tidak ramah. Lelaki itu melipat tangannya di atas dada seraya ia menghembuskan sebuah nafas yang panjang seakan ia telah menahannya untuk waktu yang cukup lama. Sebenarnya, ini adalah cara lelaki itu untuk menahan amarahnya. Bagaimana ia tidak marah? Nama yang begitu ia banggakan, di claim oleh orang lain yang sangat terlihat jelas, bukan Eyeshield yang sebenarnya. Terlebih lagi, ia teringat bagaimana hubungan mereka berdua dulu. Perasaan perih memakan sebagian besar ruang hatinya. Yang terhubung dengan kelenjar air matanya. Seketika, ia merasakan matanya menghangat karena dilapisi oleh air mata yang baru saja keluar. Ia membuang muka, menyembunyikan matanya yang berkaca-kaca. Sengaja, ia menyipitkan mata agar orang sulit melihat itu.
Di pinggir matanya, ia melihat ekspresi Sena yang…tampak..tidak nyaman. Namun, ia hapuskan itu karena percaya, itu hanya ilusi atau pembiasan dari air mata yang membasahi mata birunya.
"Dia adalah Eyeshield yang sebenarnya! Tak pernah kah kau melihat betapa cepat larinya?" Monta bersikeras, tetap terdengar percaya diri. Amarah juga mulai terlibat di gaya bicaranya. Sena meringis kecil kea rah Monta, mengajaknya untuk menghentikan situasi yang, ia rasa, akan terasa sangat tidak nyaman. Monta tidak menoleh sedikitpun ke Sena. Jiwa pemberaninya telah merasuki tubuhnya sehingga ia merasa begitu berani untuk melempar pandangan tajam ke lelaki yang pada awalnya, ia takuti.
Lelaki berambut dan bermata biru itu menggeram pelan mendengar sangkalan catcher Deimon itu. "Dan, tak pernah kah kalian mengetahui tentang Eyeshield 21 yang sebenarnya? ?" tanya Kakei balik, menekan suaranya hampir di setiap kata. Meyakinkan kalimat itu untuk sampai ke telinga Sena dan Monta secara jelas. "Kau pikir aku tidak memperhatikan? Eyeshield kalian sangat berbeda jauh dengan aslinya! Memang, larinya cepat. Tapi dari segi tinggi, kekuatan ,dan tekhnik, Eyeshield palsu kalian tidak akan ada apa-apanya!"
"Jangan seenaknya ya mengatai Eyeshield kami begitu! Hanya karena ia tidak tinggi atau kuat seperti yang kau bayangkan, bukan berarti ia tidak bisa mengalahkan yang asli!" sergah Monta, nyaris berteriak. Frustasi mendengar ejekan-ejekan dari linebacker Kyoshin itu. Dan pandangan yang merendahkan dari Mizumachi pun sangat tidak membantu suasana. Tidak menghitung Kobanzame, yang sedari tadi memutuskan untuk diam saja, menonton adu mulut mereka dengan wajah khawatir. Takut akan mendapat respon 'buruk' dari adik kelasnya. Apalagi, tema yang sedang di debatkan adalah Eyeshield 21. Sebuah tema yang sensitive, terutama bagi Kakei.
"Sudah kuduga akan jadi seperti ini." Kakei berkata pelan, bermaksud untuk memberitahu diri sendiri seraya mencoba menahan emosinya. "Sudah kuduga pembicaraan ini akan menuju ke pemain kalian yang lancang menggunakan nama itu! "Lanjutnya, menekan pada kata 'lancang'. Ia berkedip pelan, memberi waktu beberapa detik untuk menutup matanya. Kemudian membukanya perlahan, memperlihatkan betapa basahnya mata birunya. Tetapi Sena dan Monta terlalu marah untuk memperhatikan itu.
"Kau akan terkejut nantinya, melihat Eyeshield kami mengalahkanmu!" geram Monta. Kakei menhentakkan nafas, lalu membuat suara 'tch' yang tajam dan kasar. "Bilang pada Eyeshield palsumu itu. Mencuri nama seseorang bukanlah hal yang terpuji." Lelaki berambut biru itu berkata tegas seraya membuat langkah menuju lokernya dan meraih tas berisikan baju seragam latihan footballnya. Tanpa berkata apapun, ia melanjutkan langkahnya menuju pintu ruang klub, melewati kedua anggota Deimon yang terus memperhatikan gerakannya, tanpa kata. Benar-benar mengacuhkan timpalan-timpalan dari mereka berdua tentang kalimatnya tadi.
"Kakei-chan! Kau mau kemana?" Suara Mizumachi adalah respon pertama semenjak melihat tingkah laku aneh sahabatnya. Langkah Kakei terhenti ketika ia hendak membuka pintu ruangan itu. Kepalanya tertunduk sesaat, berpikir tentang penjelasan apa yang harus ia berikan kepada tim nya.
"…Aku tidak tahan. Butuh udara segar." Jawab Kakei sederhana dan pelan tanpa peduli untuk memberikan tatapan terakhir pada setiap orang yang berada di ruangan klub. Ia memaksa dirinya untuk membuka pintu itu dan bergegas keluar, menghiraukan Mizumachi yang memanggil-manggil namanya hingga suara itu menghilang setelah ia berhasil keluar dan menutup pintu itu dengan rapat.
"…Kuso.." umpatnya sebal di antara nafasnya yang mulai memburu, disebabkan oleh emosi-emosi yang bercampur, yang ia tahan sejak tadi. Ketika ia mulai melangkah lagi, menjauh dari ruangan 'sialan' itu, mendadak ia menghentikan gerakannya. Jauh di depannya, terlihat Kyoshin sudah mulai melakukan latihannya dengan serius.
"…Kuso…" Umpatnya lagi. Tetapi yang kali ini, karena alasan bahwa ia harus mengambil jalan memutar untuk menghindari tim nya yang sedang latihan.
Dan siapa bilang, jalan memutar itu sama dengan jalan pintas?
PART 11 : OBSESSION
POV : Third
Mizumachi menghela nafas pelan seakan kelelahan. Tangannya ia usapkan pada dahinya ketika ia mulai merasakan pusing di kepalanya.
"….Lelaki itu aneh ya."
Mizumachi mengernyitkan dahi mendengar sebuah komentar dari salah satu pemain Deimon yang masih berada di ruangan. Ia membuka matanya cepat dan segera mengirimkan mereka sebuah tatapan tajam tanpa mereka sadari. "Kalian telah membuatnya jengkel. Dan kalian bisa-bisanya menyebut dia aneh?" ketus Mizumachi tanpa bergerak dari tempatnya. Nada bicaranya berubah, menjadi lebih serius.
"Selama ini tidak ada yang menyangkal Eyeshield sekeras itu, apalagi mengejeknya. Bagaimana kami tidak marah? Eyeshield itu adalah pahlawan bagi kami. Siapa—"
"Kalian tidak mengerti.." kata Mizumachi, memotong perkataan Monta. Sebenarnya Monta ingin membalas Mizumachi dengan komentar-komentar pedas lainnya. Tetapi menangkap keseriusan di nada pemuda itu, Monta mengurungkan niatnya.
"Hhe?" Sena berkedip beberapa kali.
Mizumachi menghela nafas lagi. Melirik ke arah Kobanzame, dan mendapat respon yang sama. Kobanzame sama-sama terihat bingung. Mizumachi menggigit bibirnya halus seraya mengembalikan perhatiannya pada kedua anggota Deimon yang tetap memperhatikannya. Ia tidak menyalahkan mereka tentang kesalahpahaman itu. Sebab, mereka tidak tahu yang sebenarnya. Termasuk Kobanzame. Yang juga tidak tahu benar mengapa Kakei sangat 'sensitive' jika ada yang mengungkit tentang Eyeshield.
"Kakei sudah pernah bertemu dengan Eyeshield sebelumnya, di Amerika. Mereka sempat berbicara banyak hal. Dan sempat pula, bertanding satu lawan satu. Pada saat itu, Kakei yang tidak tahu-menahu tentang football, tentu saja kalah. Tetapi, semenjak pertandingan itu, entah mengapa, Kakei mendapat keinginan untuk menekuni football. Di arti lain, mungkin bisa dikatakan, Eyeshield lah yang menjadi alasannya." Mizumachi berhenti sejenak, mengambil napas dalam-dalam untuk melanjutkan ceritanya sambil mengingat-ingat alur kisahnya. "Serta, mereka berdua pernah membuat janji untuk bertanding bersama lagi di pertemuan selanjutnya. Itu juga menjadi alasan mengapa ia mulai berlatih keras. Tetapi.. " Mizumachi berhenti lagi, tidak bisa menyembunyikan ekspresi sedihnya, mengingat ia telah memiliki gambaran pada kejadian selanjutnya. Tetapi ia tetap melanjutkan ceritanya. "..Tetapi, saat Kakei mengunjungi Notre Dame, Ia tidak menemukan Eyeshield. Anehnya lagi, murid-murid disana seakan tidak pernah dengar tentang Eyeshield. Di saat itulah, ia merasa kecewa. Di waktu-waktu itu, Ia tetap berlatih keras, tetap bertujuan untuk mengalahkan Eyeshield. Hingga ia lulus dari Amerika, dan melanjutkan di sini." Mizumachi menghentikan ceritanya sejenak untuk mengambil napas, mengisi paru-parunya dengan oksigen. Kemudian menambahkan ceritanya dengan beberapa kata sebagai penutup. "Seperti itulah ceritanya. Sampai sekarang, Kakei tetap memiliki keyakinan bahwa Eyeshield itu ada. Serta, Ia berpikir, Eyeshield ea rah di turnamen ini." Mizumachi menyudahi ceritanya dengan senyuman prihatin. "Jangan katakana dia aneh. Mungkin hanya terobsesi." Lelaki pirang itu tertawa pelan mendengar kalimatnya sendiri yang mengatai sahabatnya.
"Tetapi tetap saja, kami tidak terima dengan ejekan rendahan dari kalian!" sangkal Monta, menggunakan kata 'kami'. Padahal, pemuda di sebelahnya, tidak terlihat seperti sedang protes atau sebagainya. Malahan, pemuda pendek bernama Sena itu, memasang ekspresi prihatin.
"..Yeah. Tunjukkan itu pada pertandingan kita nanti. Sekarang, lebih baik kalian kembali saja sebelum aku berubah pikiran." Kata Mizumachi sambil menggerak-gerakkan sebelah tangannya alias gerakan mengusir.
Tanpa banyak bicara, Sena dan Monta bangkit dari lantai. Mizumachi berjalan ea rah pintu dan membukakan pintu itu untuk Sena dan Monta.
"Sampai jumpa di pertandingan!" kata Mizumachi riang.
Mizumachi menangkap ekspresi aneh Sena yang terus mengusik mimic wajahnya saat pemuda itu melewatinya. Ia hanya menangkat sebelah alisnya, melihat itu.
"Cerita tadi….apa benar?" tanya Kobanzame, tidak terlalu percaya diri.
"Cerita apa?" Mizumachi bertanya balik, menatap Kobanzame penuh tanya.
"…Itu…cerita tentang Kakei dan Eyeshield.."
Mizumachi berubah menjadi serius. "Hnn…setidaknya itu yang Kakei ceritakan padaku."
Kobanzame memberi tawaan kecil namun ragu. "Oh..begitu. Pantas saja, hanya kau yang diberitahu."
"Ah, benarkah? Apakah Kakei tidak pernah memberitahu itu pada yang lainnya juga?" Mizumachi tampak tidak percaya.
Kobanzame menggelengkan kepalanya pelan. " Kau kan satu-satunya yang paling dekat dengannya."
Mizumachi mengeluarkan gumaman pelan, tanda ia paham. Wajah pemuda itu mendadak berubah menjadi sedih, yang ia palingkan ke lantai.
"Ada apa, Mizumachi-kun?" tanya Kobanzame khawatir, memperhatikan perubahan ekspresi Mizumachi yang menjadi suram.
"Meskipun begitu, aku tidak mendapat kepercayaannya." Jawab Mizumachi dalam bisikan.
"Hha? Apa maksudmu?"
"Aku tahu dia berbohong tentang cerita itu." Mizumachi mengangkat wajahnya dan bertemu dengan wajah Kobanzame yang terkejut. Lelaki pirang itu tersenyum sedih.
"…B-ba-bagaimana –"
"Aku hanya tahu." Jawab Mizumachi sebelum Kobanzame bisa menyelesaikan pertanyaannya.
"T-tapi Mizumachi, Kau…kau kan …tidak tahu pasti."
Mizumachi tertawa ringan, terdengar dipaksa. "Baik, baik. Aku ubah. Aku hanya menduga."
TBC
A/N : Nah Lo, Kakei OOC bangeet! . *gantung diri* Dan...maaf. Belum ada romance2 nya! XD Bakal ada pas ntar Bando Spider dah masuk. (ehem, Akaba...Akaba)
Told ya, Aku lambaan. ;_;
Terima kasih yang sudah baca! :D Yang mau nge-review, silahkan (dijamin aku bales lewat PM), yang cuma mau baca, silahkan. ;D
