Disclaimer : Naruto just Masashi Kishimoto's - kalau ini punya aku mungkin akan berganti judul jadi Sasuke Sakura /plakk
Warning : OOC, typos, dan mungkin masih banyak lagi.
Main Pair : SasuSaku~~
Chapter 5 : Clarity
Chapter ini mungkin agak panjang..
Enjoy~
Suasana di pagi hari di kediaman Haruno sama seperti biasanya. Gaduh dan ribet.
"Ken! Kalian mandi dulu!" teriak sang ibu.
"Kaa-san memanggil aku atau Kenzi?" tanya Kenzo.
"Kaa-san memanggil kalian berdua! Ayo ke kamar mandi!" Sang ibu pun menggiring(?) si kembar masuk ke dalam kamar mandi. Sementara itu sang ayah seperti biasa sedang meminum kopi sembari membaca korannya di meja makan. Setelah selesai memandikan si kembar, sang ibu pun memakaikan mereka berdua seragam sekolahnya. Lalu mengajak mereka sarapan di meja makan.
"Sakura! Ayo sarapan sama-sama!" panggil sang ibu.
"Iya..sebentar lagi!" balas Sakura dari lantai 2.
Lalu tak lama terdengar suara hentakan kaki di tangga. Sakura meminum susu cokelatnya yang tersedia di meja makan dengan terburu-buru. Lalu menyambar roti milik Kenzo di piringnya.
"Hey itu milikku! Itu pencurian! Nee-chan akan aku laporkan ke polisi!" Kenzo meracau.
"Aku sudah telat. Aku pamit!"
Sakura pun mencium Kaa-san dan Tou-san nya singkat. Tidak lupa juga dengan si kembar.
"Hati-kati di jalan!" ucap ibunya.
XxxxxX
Sepulang sekolah kediaman Haruno terlihat sepi.
"Aku pulang," ucap Sakura.
Ruang tv sepi. Kamar Kenzo Kenzi pun sepi.
"Mungkin mereka belum pulang atau berjalan-jalan bersama Kaa-san," ucap Sakura sembari mengangkat kedua bahunya. Karena udara di luar sangat panas, dia pun sangat haus. Tujuannya saat ini adalah : kulkas. Saat hendak membuka kulkas itu, terdapat sebuah note yang di tempel di pintu kulkas itu.
Kaa-san dan Tou-san pergi ke Suna selama beberapa hari. Kamu jaga Kenzo-Kenzi. Mereka Kaa-san titipkan di rumah Chiyo baa-san. Sepulang sekolah mereka akan di antarkan ke rumah Chiyo baa-san. Jadi setelah kamu pulang sekolah, jemput mereka. Semua bahan makanan sudah tersedia di kulkas. Jika si kembar memintamu untuk pergi ke Timezone, gunakan kartu kredit yang Kaa-san simpan di laci di ruang tv. Kami akan pulang secepatnya.
Kaa-san
"Jadi mereka ke Suna," gumam Sakura entah pada siapa.
Sakura's POV
Tanpa berganti seragam, aku segera menjemput si kembar di rumah Chiyo baa-san yang terletak 1 blok dari sini. Chiyo baa-san dulunya adalah pengasuhku saat aku masih balita. Karena Kaa-san meneruskan pendidikannya di tingkat S2 fakultas kedokteran. Tapi setelah besar, tentu saja tidak lagi. Saat sampai di rumah Chiyo baa-san, si kembar terlihat asik di dapur. Dari ruang tv samar-samar aku mendengar celotehan mereka.
"Masakan Chiyo baa-san enak. Sama seperti masakkan Kaa-san. Tidak seperti masakkan nee-chan. Uuh itu parah sekali. Sepertinya dia selalu memasukkan racun di makanan kami," tutur si Kenzi.
"Ya benar, tapi baa-san jangan bilang-bilang nee-chan yah!" ucap Kenzo.
'Aku sudah mendengarnya sendiri. Lagi pula, jika aku memasukkan racun di makanan kalian, mana mungkin kalian masih sehat sampai hari ini,' gerutuku dalam hati.
XxxxX
Keesokan harinya, aku harus melakukan hal yang sama seperti kemarin. Menjemput Kenzo-Kenzi ke rumah Chiyo baa-san. Tapi sesudah itu mereka merengek minta pergi ke Timezone. Terpaksa aku pun mengajak mereka ke Timezone.
"Ya sudah, kalian main sana! Tapi jangan lama-lama! Paling lama 1,5 jam!" ucapku. Mereka pun berhamburan ke Timezone. Aku hanya memantau dari jauh. Tapi tak disangka mereka sangat betah disini. Bahkan aku sudah meringankan dengan menambah waktu bermain menjadi 2 jam.
"Ayo pulang! Ini sudah jam 6 sore Kenzo Kenzi!" aku menarik mereka untuk keluar dari Timezone. Namun mereka menolak.
"Aku tidak mau! Aku masih mau main nee-chan!" protes si Kenzo.
Setelah itu seseorang yang mungkin di kirimkan Tuhan(?) untuk membantuku datang.
"Sakura?" sapa orang itu.
"Sasuke?"
"Sasuke-nii bawa nee-chan ke kantor polisi! Ini pemaksaan! Kami belum mau pulang!" ucap Kenzi.
Terlihat Sasuke tersenyum kecil. Dan ia membisikkan sesuatu ke Kenzi dan Kenzo. Aku hanya bisa memandang bingung. Setelah itu, si kembar tak lagi rewel.
'Bagaimana bisa dia yang baru saja mereka kenal 2 minggu lalu lebih bisa menenangkan si kembar ini ketimbang aku yang sudah 15 tahun bersama mereka?'
"Ayo ke kost ku dulu. Aku lupa membawa dompet," ucapnya.
"Ke rumah Sasuke-nii?" tanya si Kenzo.
"Ya, dirumahku banyak sekali es krim rasa vanilla dan strawberry!" Sasuke berlutut untuk menyamakan tingginya dengan Kenzo. Kemudian berdiri untuk berbicara denganku.
"Ke kost ku dulu. Setelah itu akan aku antar kalian ke rumah!"
Kami pun ke kost Sasuke. Terlihat kamar kost nya bersih dan rapi.
"Kenapa kau tinggal di kost?"
"Ahn..itu.." Dia terlihat gugup.
"Maaf..mungkin aku tidak seharusnya menanyakan ini."
"Aku haus! Aku mau Sake!" ucap si Kenzo kembali meracau.
"Aku juga!" timpal Kenzi.
"Haaaah," aku menghela nafasku.
"Kalian masih kecil Kenzo .. Kenzi…. Tidak boleh meminum itu! Sebaiknya kalian minum susu saja."
"Ya sudah, susu rasa sake saja!" Kenzi.
"Tidak ada susu rasa seperti itu!"
"Bagaimana jika es krim vanilla dan strawberry?" tawar Sasuke.
"Ya! Aku mauuu!" teriak keduanya menandakan mereka setuju.
'Kenapa kalian harus meminta yang aneh-aneh dulu kepadaku' Fuuh
Mereka pun menarik Sasuke ke arah kulkas. Setelah itu, Sasuke mengeluarkan PS nya dan membiarkan mereka berdua tenang dengan game avatar yang Sasuke punya. Sasuke pun membawaku ke teras kamar kost nya.
"Ibuku sudah meninggal.."
'Dia menceritakan masalah pribadinya lagi?'
Aku pun menyimak dengan serius.
"Serangan jantung karena waktu itu keluarga Hinata datang ke rumahku dan berniat untuk… membunuhku," lanjutnya.
"Saat di bawa ke rumah sakit, ia sudah tidak dapat di selamatkan…"
"Karena kejadian itu, aku sudah membunuh 2 orang," tambahnya. Ia menunduk dalam-dalam.
"Semenjak itu, ayahku menganggap akulah pembunuh ibuku…"
"Dia mulai membenciku… Ayahku mulai berlaku kasar terhadapku.. Tapi aku hanya bisa diam…"
Suaranya terdengar serak. Seakan sulit membuka memory itu lagi.
"Begitupun kakakku, dia jadi jarang pulang…Keluargaku hancur karena..ku."
"Sebelum ibuku meninggal. Ayahku memang sudah arrogant. Dia hanya membanggakan kakakku. Tanpa melirik ke arahku sedikitpun."
"Berbeda dengan ibuku, bahkan saat aku berhasil menjuarai olimpiade matematika di tingkat dasar saja dia sangat memujiku berkali-kali." Sasuke menegakkan kepalanya, mulai tersenyum miris. Senyum dengan mata berkaca-kaca.
"Saat aku tak mendapatkan pujian dari ayahku, ibukulah yang melakukan hal itu."
Sasuke terlihat menyedihkan. Aku tak menyangka hidupnya seberat ini.
"Sejak kematian ibuku, aku memutuskan untuk keluar dari rumah." tangis dalam diam itu pecah. Aku mendekat ke arahnya. Membawanya ke dalam pelukanku. Mencoba menenangkannya. Bahuku terasa basah.
'Dia menangis'
Walaupun tidak ada suara tangis memilukan bahkan isakan sekalipun. Tapi aku tau, ini sangat sulit untuknya
End of Sakura's POV
Lama mereka dengan posisi itu. Sasuke nampak nyaman dengan posisi ini. Sakura membuatnya tenang.
"Aku tahu ini sulit.. Tapi ini tidak akan berlangsung selamanya…" ucap Sakura untuk menenangkan Sasuke.
'Kata-kata itu…sama seperti kata ibu juga Hinata' batin Sasuke.
Sasuke mulai tenang. Dia mulai bisa mengendalikan perasaannya. Pelukan itu terlepas.
"Terima kasih," ucapnya lembut. Lalu menghapus sisa air matanya.
"Jangan khawatir. Aku disini!" ucap Sakura.
XxxxX
Sakura's POV
Keesokan harinya kedua orang tuaku kembali dari Suna. Tapi tunggu, mereka kembali dengan 1 orang lainnya. Sepertinya aku mengenalnya.
"Hai Sakura!" Sapanya.
"Ha..hai!" balasku. Namun aku tetap tidak bisa mengingat siapa dia.
"Ehn..kau siapa ya? Maaf aku lupa."
"Ahahaha..sudah kuduga kau tidak mengenali aku." Dia tertawa kecil lalu tersenyum lembut kepadaku.
"Aku ini Pangeran Suna, Sabaku no Gaara," guraunya.
"Astaga..kau ini Gaara? Kau berbeda sekali dengan 5 tahun yang lalu… bahkan sekarang tinggimu jauh melampauiku." Aku memeluknya singkat.
"Aku akan tinggal disini dan sekolah disini hingga aku lulus!"
"Dan….aku memilih sekolah yang sama denganmu!" Lanjutnya.
Entah mengapa pernyataannya baru saja membuatku gugup. Seharusnya aku bahagia bukan? Tapi bagaimana dengan penyamaranku?
'Tamatlah aku'
"Dan mulai besok aku sudah bisa bersekolah!" tuturnya.
'Oh no'
"Besok? Secepat itu? Ta..tapi kan kau belum mendaftar sebagai siswa baru di sekolahku!"
"Sudah, ayahku sudah mendaftarkannya via web. Kenapa? Kau tidak suka?"
"Bukan…bukan seperti itu.. Aku hanya terkejut hehehe." Aku menggaruk kepalaku yang sebenarnya tidak gatal.
XxxxX
Malam harinya aku berniat memberitahu hal ini pada Sasuke. Aku pun mengambil ponselku dan segera menghubunginya.
"Halo. Bisa bicara dengan Sasuke?"
"Hn. Ini aku. Kenapa?"
"Ehn itu…"
"Apa?"
"Kerabatku dari Suna akan tinggal di rumahku."
"Lalu hubungannya denganku?"
"Dia juga akan bersekolah di sekolah yang sama dengan kita."
"…."
"Sasuke?"
"Hn. Aku sedang berfikir," tuturnya singkat.
"Dia laki-laki atau perempuan?" tanyanya.
"Laki-laki.. namanya Sabaku-"
"Apakah dia tipe orang yang berisik seperti Naruto?" potongnya.
"Tidak, aku rasa dia tipe acuh dan dingin sepertimu."
'Astaga kenapa aku malah bilang seperti itu'
"Baiklah, besok kau aku jemput. Ajak juga dia!"
PIP, dia menutup telefonnya.
Astaga, bahkan aku belum mendapat solusi dari masalah ini.
Tak lama ponselku bergetar, ada sebuah pesan. Aku membukanya.
Besok pagi, kau coba jelaskan padanya tentang penyamaranmu. Sisanya biar aku yang mengatasi.
Sender :
Sasuke
End of Sakura's POV
XxxxX
Keesokan harinya, Sakura dengan penampilan 'Sakura asli' menarik Gaara ke bangunan di sebelah rumahnya.
"Mau apa disini?" tanyanya bingung.
"Jadi begini…."
Sakura menarik nafas dalam-dalam, lalu mengeluarkannya perlahan. "Aku..menyamar jadi lelaki."
"HAH?" Gaara terlonjak kaget.
"Dengar dulu..!"
"Aku menyamar jadi lelaki untuk membantu temanku. Dia ada masalah dengan masa lalunya. Pacarnya mati akibat tenggelam di pantai. Ibunya meninggal karena hal itu. Aku tak tega saat mendengarnya," jelas Sakura.
"Tapi, kenapa harus jadi lelaki?"
"Karena dia tidak ingin di dekati oleh siswi-siswi di sekolahku. Dia memang err-tampan. Tapi dia ingin menebus semua kesalahannya pada pacarnya dulu. Yang entah mengapa caranya adalah menjauh dari perempuan," jelas Sakura lagi.
"Karena dia hanya mempermainkan pacarnya," jawab Gaara.
'Aku yakin itu kau Uchiha,' batin Gaara.
"Hah? Kau mengenalnya?"
"Tidak, hanya menebak saja."
Tak lama, mobil Sasuke datang. Ia pun keluar dan segera menghampiri Gaara dan Sakura di bangunan itu.
'Rambut merah? Mungkinkah dia?' batin Sasuke. Saat ini yang terlihat oleh Sasuke hanyalah punggung Gaara. Karena Gaara sedang tidak melihat ke arahnya.
"Sasuke…kenalkan..ini kerabatku dari Suna…"
"Sabaku no Gaara," lanjutnya. Gaara pun berbalik. Menunjukkan seringainya. Sasuke pucat. Ia sama sekali tak menyangka bahwa kerabat yang Sakura ceritakan adalah Sabaku no Gaara. Saingannya sewaktu tinggal di Suna. Gaara pun mengulurkan tangannya hendak bersalaman. Namun Sasuke masih diam membatu.
"Sasuke? Kau tak ingin berjabat tangan dengannya?" Ucapan Sakura menyadarkan Sasuke.
Perlahan ia mengulurkan tangannya menyambut jabatan tangan Gaara.
"Sabaku Gaara." Gaara meremas keras tangan Sasuke.
"Uchiha Sasuke." Sasuke masih pucat.
"Baiklah, aku akan berganti pakaian di balik tembok itu. Kalian mengobrolah! Agar lebih akrab!" Sakura pun meninggalkan mereka berdua.
Onyx dan Hazel. Saling menatap. Sorot mata yang keluar dari Hazel yang biasa lembut itu kini memancarkan kebencian dan kemarahan.
"Akhirnya kita bertemu lagi. Setelah pelarianmu menghindari masalah yang terjadi di Suna," tukas Gaara sembari menghempaskan kasar jabatan tangan mereka.
"Kali ini, kau tak akan bisa lari dariku Uchiha!" lanjutnya.
Saat itu Sakura keluar dari balik tembok itu lengkap dengan wig juga kacamatanya.
"Aku sudah siap, ayo kita berangkat bersama," ucap Sakura.
"Aku berangkat sendiri," Ucap Gaara lalu pergi meninggalkan Sakura juga Sasuke yang masih membeku juga pucat.
"Sasuke, kau tak apa? Kau terlihat pucat. "
Sasuke tak bergeming. Dia pun berinisiatif mengambil kunci mobil dari tangan Sasuke.
"Tanganmu kenapa? Kok merah sekali? Apa ini sakit?" Sakura mencoba memegang tangan Sasuke yang memang tadi baru saja di 'intimidasi' oleh Gaara.
"Tak apa. Ayo berangkat!" tukasnya.
XxxxX
Hari ini adalah tepat satu hari setelah pertemuan itu. Pertemuan 2 orang yang sama dinginnya. Perubahan belum nampak mencolok. Karena interaksi antara mereka berdua pun hanya sebatas tatapan mata. Saat bel masuk bordering, Sasuke masih sama. Lebih banyak diam. Namun yang berbeda, biasanya dia diam dengan air muka yang dingin dan tidak peduli. Berbeda dengan hari ini. Ia terlihat kacau dengan kantung mata yang besar yang menandakan ia kurang tidur.
"Sas, kamu sakit?"
"Tidak, aku baik-baik saja."
XxxxX
Sepulang sekolah seperti biasa Sasuke mengantar Sakura, dan menungguinya berganti 'kostum'. Tanpa mereka sadari, ada stalker yang diam-diam memfoto Sakura yang tadinya menyamar menjadi Ken, kini berubah seutuhnya menjadi Sakura.
"Aku akan membuatmu membayar semuanya."
TBC
Horee~~ buat yang mau Gaara muncul sekarang dia sudah muncul ~(‾▿‾~) ~(‾▿‾)~ (~‾▿‾)~ aneh ya? -_- sepertinya ff ini akan panjang -_- Review please o(≧o≦)o
Maaf update nya lama -_-v
Kinomoto Riko : Hai! Umm makasih udah baca ff ini hehehe… Kurang panjang? Semoga chapter ini agak panjang yah? Soalnya menurutku chapter 5 ini panjang banget -_-
Dream high yah ? Umm itu sebenernya Cuma intermezzo aja, aku sama sekali enggak bermaksud mau buat ini kaya dream high =_=v
Deidei Rinnepero13 : chapter 4 kependekkan yah ? aduh abis itu cuma intermezzo ajah -_- malah itu udah aku edit beberapa kali supaya lebih panjang.. hehehe
Chapter ini panjang gak ?
Aku kelas 11~ kamu ?
