Naruto
Kishimoto Masashi
Roswell High
Melinda Metz
Desert Skies
by ceruleanday
SasuSaku fanfiction
Rate: T. Genre: Sci-fic/Drama. AU.
"—as long as we still live under the same sky, we will meet again. Somewhere, somehow."
One : Sign
.
Aroma harum seduhan kopi dalam gilingan kayu menyatu dengan berbagai bebauan yang tersedia di siang pertengahan musim panas itu. Sepanjang pejalan kaki, tapak-tapak sepatu converse, stiletto, dan polish shoes kalangan eksekutif muda beradu dengan cermin-cermin langit yang terik. Beberapa dari mereka berjalan lambat dan lebih memilih bergerak statis. Tujuannya hanya satu: menghindari keringat berlebih yang tentu sungguh tidak mengenakkan. Tepat di sudut jalan pusat pertokoan merchandise anime dan manga berlabel Donburi no Michi, berdiri sebuah bangunan kecil yang selalu tampak sibuk. Bangunan itu diberi sebuah nama—Hana no Tsuki. Disebut demikian karena pemiliknya adalah pasangan suami istri penyuka bunga.
Di akhir pekan seperti ini, para anak muda Jepang maupun kalangan pelancong pelit akan memilih gerai kecil itu. Dilihat dari daftar menu yang sudah tertempel di papan berkaki depan pintu, siapapun takkan berpikir dua kali untuk memasukinya. Terlebih bila perut sudah tak bisa diajak lagi berkompromi.
Gerai itu hanya mempekerjakan tiga anak muda dan dua orang koki yang siap melowongkan waktu sepuluh jam setiap harinya. Kemudian, bagi yang masih berstatus sebagai pelajar, kewajiban itu tentu akan runtuh. Terkhusus bagi dua remaja putri yang kini mengenyam pendidikan formalnya di Sendai Daigaku—Haruno Sakura dan Yamanaka Ino.
Bagi Ino, ia tak perlu bernegosiasi masalah waktu kerja dengan pemilik gerai itu. Takkan ada orang tua yang bersedia menjadikan anaknya sebagai babu dan melupakan masalah pendidikannya, bukan? Dan, keadilan yang didapatkan Ino akan menjadi hak bagi Sakura pula. Terlebih bila yang diminta sebagai partner kerja putri tunggalnya adalah gadis peraih juara Decathlon di bidang Astrofisika selama dua semester berturut-turut. Ya. Sudah sangat jelas.
Dalam kubikel berukuran sepuluh kali sebelas meter itu, meja-meja bundar diatur berjejeran dengan rapi. Warna-warna halus bernuansa hangat menjadi pengantar selamat datang bagi pelanggan maupun pengamat yang sengaja mencari-cari informasi maupun bertukar gosip mengenai hal-hal mistis di Sendai. Kejanggalan yang dahulu sempat diberitakan di kota kecil Sendai ini telah menjadi buah bibir dan headline panas yang berbuah omong kosong. Para peneliti astrologi dan JAXA seluruh Jepang memenuhi sudut-sudut perumahan sempit di salah satu pedesaan di kota itu dan mengamati hingga berbulan-bulan lamanya temuan ganjil di sana. Temuan aneh itu berupa puing-puing metal yang berjatuhan dari langit disertai dengan bentukan indah nan misterius di sawah seorang petani. Katakan saja bila itu adalah pekerjaan iseng seorang ahli matematika. Namun, ornamen lingkaran yang janggal itu terbentuk sehari setelah warga melakukan panen raya.
Bekas kekuningan padi yang merunduk, namun tak patah. Crop Circle.
Telinga-telinga dua remaja putri ini sudah kebal dengan layangan pertanyaan konyol hingga pertanyaan berbau konspirasi dari berbagai jenis pelanggan gerai Hana no Tsuki. Bagi mereka, sudah cukup dengan masalah meledaknya tangki bahan bakar minyak yang terjadi di pelabuhan Sendai berminggu-minggu lalu. Masalah tak masuk akal yang lain lama-lama akan mengganggu konsentrasi kerja mereka. Dan! Sudah cukup dengan tugas-tugas kampus yang nyaris merenggut kewarasan mereka. Teriknya mentari di pertengahan musim panas akan memperkeruh suasana. Mood mereka sedang drop saat ini.
Seduhan kopi masih bercampur dengan kegelian oleh suara melengking wanita berambut pendek dan berwajah gempal di sudut gerai. Tambahan empat balok gula dalam cangkir putih kopi Macchiato pesanannya tak menyurutkan ide-ide sinting dalam kepalanya itu berhenti sesaat. Si gadis berambut merah muda hanya mengedarkan pandangan sembari menunjukkan wajah memohon ke arah Ino di sudut lainnya. Ia akan benar-benar gila sekarang.
"Aku tahu ini salah. Ya—" ia mempertajam tatapannya dan meminum kopi di cangkir, "—tapi, sumberku mengatakan bahwa—Eew! Berapa balok gula yang kau taruh di dalam kopiku ini, pinky?" yang ditanya hanya bertolak pinggang, "—ok, lalu... sampai mana aku tadi?"
Sebenarnya, sang pelayan berbaju maid itu berani bertaruh bila si pelanggan di depannya tak terlalu berharap mendapatkan kopi yang enak. Hanya dengan mendengarkan seluruh bualannya mengenai alien dan invasi-nya di bumi, ia akan meletakkan berlembar kertas berwarna merah dan koin recehan sebagai upah tambahan di atas meja kasir.
"Kau harus percaya padaku, nona. Hal ini pernah terjadi sebelumnya, bukan di Jepang tentunya. Di Amerika atau Inggris—ah, aku lupa. Seorang petani merekam aksi mereka. Di ladang jagung—atau gandum ya? Mana saja bisa terjadi. Lalu—" ia terengah-engah dan merogoh-rogoh tas butut kulit ularnya, "—aku hanya mendapatkan dokumentasi yang minim. Sangat buruk, tapi sangat menyakinkan." lanjut wanita gemuk itu dengan wajah sesumbar. Bulir keringat di dahinya menjadi penanda betapa suhu bumi mampu mengalahkan kehebatan air conditioner buatan manusia.
Selembar foto yang telah terlipat sana-sini tersodorkan di hidung sang pelayan. Tak ada gairah menikmati isi foto itu. Andai di dalam foto itu adalah aktor berkebangsaan Ireland kesukaannya yang tengah bugil, ia bersumpah akan berteriak keras dan melupakan tatapan miring para pelanggan. Sayang, tak ada aktor favorit. Tak ada wajah tampan berkontur Ireland. Tak ada naked photo. Dan, tak ada pose sensual. Ups.
"Bagaimana? Terlihat sangat nyata bukan?"
Mata green olive sang gadis pelayan berpindah ke kiri dan ke kanan dengan cepat. Beralih perhatian dari selembar foto kusam dan wajah gempal berwarna merah. Keduanya sama sekali tak memiliki korelasi. Plus, tak ada menarik-menariknya. Desahan pendek setidaknya mampu mengurangi lelah hati yang harus ditanggung gadis manis itu selama satu jam lewat sepuluh menit.
Tampilan makhluk berkepala besar dan berwajah sangat jelek mengisi satu halaman penuh dari lembaran kusut itu. Mood sang gadis pelayan semakin menurun hingga titik drop.
Tatapan dari kejauhan membuat si gadis bermata green olive mendongakkan kepala. Antara tatapan mencela dan menyemangati, keduanya sungguh tidak dibutuhkannya sekarang. Ia hanya ingin pergi dan mencari kesibukan lain—menyeduh teh mungkin?
"Saya rasa..."
"Ya? Ya?"
Ia menahan kata-kata dan berusaha memilahnya dengan tepat. Namun, pada akhirnya ide buruk itu keluar begitu saja dari bibirnya, "foto Anda tidaklah sebagus dengan foto yang nenek saya wariskan kepada saya, nyonya." Mendengarnya, senyum si wanita berpipi gempal melorot.
"Sebenarnya, saya selalu membawa-bawa foto warisan nenek saya itu ke mana saja. Erm, hanya untuk mengingatkan saya akan wajah almarhum nenek saya. Tapi, kadang-kadang saya menjadikan foto warisan nenek sebagai jawaban akan pertanyaan-pertanyaan yang sering terlontarkan untuk saya. Well, memang sih kediaman kecil nenek saya di desa Kuwamoto juga mendapatkan efek jatuhnya puing-puing metal entah-apa-itu-yang-konon-katanya-adalah-UFO."
Jangan pernah mempercayai segala hal nonsense yang keluar dari bibir gadis bernama Haruno Sakura ini. Kepercayaannya pada kehidupan luar angkasa yang belum terjamah oleh manusia bumi bernilai nihil alias nol. Jadi, membuat Haruno Sakura terjebak dalam obrolan maupun debat alien dan invasinya di bumi akan membuahkan rasa kesal dan kata-kata logis yang terurai dari bibir manisnya itu. Gadis peneliti yang menjadikan fakta dan realita sains masa kini sebagai ideologi-nya tentu harus keluar dari debat macam itu.
"Ka-kau pu-pu-punya do-dokumentasi-nya?"
Dengan senang hati dan wajah berbinar, Sakura mengangguk.
"Perlihatkan sekarang padaku, nona." ujar si wanita dengan nada memaksa dan setengah marah.
"Anda yakin ingin melihatnya? Karena saya rasa... foto ini sangat mengerikan. Diambil oleh almarhum nenek saya tepat di saat flying saucer itu akan mendarat di sawah fenomenal itu, nyonya." Tampak kebohongan yang tertutupi oleh kesungguhan di wajah putih Sakura. Yang dibohongi semakin girang.
"Tunjukkan padaku! Aku ha-harus melihatnya."
Dan, konfrontasi penuh kebohongan buatan Haruno Sakura setidaknya bisa menghentikan percakapan tak masuk akal ini.
"Hm, baiklah kalau Anda memang ingin melihatnya. Tapi... Anda harus benar-benar menyiapkan diri Anda jika ingin melihatnya. Karena... ini benar-benar di luar ekspetasi Anda, nyonya. Di luar ekspetasi Anda."
Wanita bertubuh subur itu mengangguk-anggukan kepalanya. Ia tak lagi peduli dengan dessert pesanannya, Banana Split, yang kian meleleh akibat pemanasan global di pertengahan musim panas. Kopi macchiato super manisnya pun terabaikan. Pemborosan pertama yang paling dibenci pemilik gerai ini. Makanan dan minuman pelanggan yang bersisa banyak dan berakhir sia-sia.
Saku celemek putih Sakura hanya dipenuhi dengan tiga barang penting saja. Hanya ada ponsel, dompet kecil berisi uang recehan untuk bus, dan selembar foto. Ujaran-ujaran membingungkan yang kian terlontar kepadanya dan juga pelayan Hana no Tsuki lainnya harus menjadi perhatian kedua setelah pemborosan. Maka, ide yang dicanangkan secara nasional oleh Sakura beberapa bulan yang lalu—tepat saat kasus Crop Circle di desa Kuwamoto, Sendai, terjadi—adalah terobosan brilian yang sangat eksotis. Akhir-akhir ini pelancong dari kota lain selalu mengandalkan pelayan-pelayan gerai Hana no Tsuki sebagai mesin gratis penjawab pertanyaan-pertanyaan tak masuk akal mereka.
Maka, Sakura membenci semua hal yang berhubungan dengan alien. Karena mereka, beban hidupnya bertambah. Ah tidak. Ia terlalu berlebihan.
"Foto ini harus saya masukkan dalam amplop merah. Saya hanya tidak ingin foto ini tercecer, nyonya. Nah, siapkan mental Anda dan—" Sakura bersiap-siap untuk meninggalkan tempatnya, "—watch the picture carefully." bisiknya sambil berlalu.
Warna monokrom yang tercipta memecah menjadi haluan suara melengking. Keributan semacam ini adalah rutinitas sehari-hari yang hanya bisa didapatkan dalam gerai kecil berlabel Hana no Tsuki. Sebelum insiden Kuwamoto Village terjadi, segalanya selalu lebih baik. Selalu lebih baik...
"GYAAAAAA!"
Bilik-bilik itu dipisahkan oleh lembaran kayu yang tebal. Daun pintu mahoni dengan ornament pohon yang begitu indah. Di antara bilik yang berisi aroma kopi yang jauh lebih pekat, terdapat sekat pembatas yang terbuat dari kayu setinggi pinggang manusia dewasa. Engsel kayu yang mulai berdecit tak urung menghentikan gelak tawa dua remaja putri itu. Bahkan, satu dari dua koki yang masih berkutat dengan pesanan-pesanan pelanggan di bilik sebelah mengikuti ritme tawa sang gadis berambut pirang.
"Kau serius, forehead? Kau benar-benar memperlihatkan foto Kappa dari majalah anime milik Kiba itu padanya? Padanya? Pada pelanggan kita?"
Si gadis di depannya mengangguk sembari menahan perut.
"Demi Tuhan, Sakura! Kau ini benar-benar usil ya!" seru si gadis pirang. Mata blue azure-nya mengkilat di bawah atap panel surya berlapis kaca anti panas.
"Kau harus melihat wajahnya yang ketakutan itu, Ino! Benar-benar lucu!" gelak tawa kembali mengakhiri pernyataannya. Nampan plastik hitam bergambar bunga lili telah tersaji di sampingnya. Seorang pria berbaju serba putih keluar dari bilik kesibukannya dan melirik dua gadis yang masih meributkan entah-apa-itu.
Mata hitam legamnya terkesan penasaran, "kami hanya membicarakan soal pelanggan yang terus-menerus mencekoki Sakura dengan masalah alien dan invasinya di bumi, Raido-san. Hihi." kikikan kecil kembali terdengar.
Mata green olive Sakura memutar. Dua tangan terlipat di dada. Tawanya berhenti dengan tampilan wajah yang kesal. Benar-benar aktris yang hebat.
"Ya, ya. Kakiku seperti lengan Mike Tyson sekarang. Kau tidak tahu bagaimana rasanya ditahan oleh seorang pelanggan dengan ucapan-ucapan anehnya mengenai alien dan bla-bla-bla. Kurasa, kita butuh ahli astrofisika sekarang." tukas Sakura tanpa mengedarkan pandangannya. Ino merespon dengan tawa yang tertahan.
"Lho, bukannya ahli astrofisika yang kau maksud itu adalah kau sendiri, forehead?" Ino dan Raido sang koki gerai tertawa.
"Sudah, sudah. Aku tahu yang seperti itu memang mengesalkan. Tapi, kau tidak harus seperti ini hingga membiarkan pesanan pelanggan yang lain kan? Biar kusebutkan pelanggan yang pendiam dan baik, emm..." Baik Ino dan Sakura mengikuti arah pandang sang koki. Telunjuk Raido berputar-putar dan menunjuk-nunjuk dari kejauhan beberapa sosok yang masih menunggu pesanannya dalam diam. Tepat di saat ia menunjuk pelanggan bernama Isaribi—seorang gadis SMA pemalu kesukaannya—bunyi lonceng pintu gerai terdengar pelan. Dua sosok yang tak begitu dikenal Sakura muncul di sana—tepat di sana.
"Mereka..." bisikan Sakura terdengar seperti desisan. Sahabat masa kecilnya, Ino, mengikuti arah mata Sakura karenanya.
Snickers. Sepatu converse. Jeans hitam selutut dan jeans panjang biru. Rambut pirang terang yang tersembunyi dalam topi olahraga putih. Rambut hitam legam sepekat mutiara laut. Enam garis berbentuk kumis kucing di pipi berwarna tan. Kulit pucat bak poker face. Hoody berwarna hijau dengan cap yang ikut melapisi topi olahraganya. Jaket biru gelap. I-pod dalam saku hoody. Syal coklat di tengah-tengah musim panas. Karisma yang menyerbak mengalahkan segala stigma dunia.
Dua sosok yang begitu misterius. Dua sosok yang selalu menjadi tanda tanya. Dua sosok yang pernah muncul di sebuah masa lalu yang tersembunyi dalam asap semu.
"As-ta-ga. I-i-i-itu kan—astaga, Sakura! Itu Uchiha Sasuke!"
Lupakan soal siapa itu Uchiha Sasuke.
"—dan itu Uzumaki Naruto!"
Lupakan soal siapa itu Uzumaki Naruto.
Lupakan.
Lupakan...
Arus masa lalu bukan lagi menjadi de javu yang kian menguat di mata green olive-nya. Waktu yang terbatas dalam hitungan detik, kedua batu mutiara hitam dan giok hijau itu bertemu, slide-slide masa lalu menjadi rancu. Random dan terpecah bak puzzle yang menyebar ke sana ke mari.
Memandanginya terlalu lama akan menjadi racun. Ya. Sakura memilih tuk mengelak dari tatapan itu. Ia berbalik dan menenangkan degup jantungnya. Sekat pembatas antara bilik pelayan dan main room gerai menjadi sandarannya sekarang. Benda-benda kristal di sekitarnya memantulkan sinar mentari siang yang membuat kepalanya terasa pening.
"Aku ke sana duluan, forehead! Cha!" Tentu, yang dimaksud Ino adalah meja yang dipilih dua lelaki berwajah tampan itu.
Ia tak peduli. Lebih baik memang bila bukan ia yang mendekat ke sana. Disadarkan oleh bunyi bel pesanan lain, Sakura mengambil nampan berisi secangkir teh Oolong dengan sepiring Takoyaki. Tangannya berusaha menjaga getaran tak berkesudahan. Ia menghirup nafas panjang dan berjalan menuju nomor meja yang dimaksud Raido.
"Meja nomor tiga belas, Sakura. Cepatlah. Orang itu tidak suka menunggu, kurasa."
Gadis itu hanya berjalan melewati Ino. Keceriaannya berkurang dan semakin tersedot bila mata onyx itu bertemu pandang dengannya. Setelahnya, ia menemukan wajah kumal dengan gurat-gurat resah di meja bernomor tiga belas. Jaket tebal di pertengahan musim panas. Tangan yang gemetar sesaat memegang cangkir Oolong Tea. Bola mata yang bergerak-gerak gelisah tanpa menatap sang pelayan. Ragu, Sakura hanya tersenyum, kemudian berlalu. Gadis itu melupakan satu hal. Si pria pelanggan adalah buronan kepolisian Sendai.
Mata itu menatap tajam bak elang menyampir mangsanya. Tak ada yang dicarinya, hanya kepuasan setelah berhasil menemukan kebebasan yang begitu mahal dari kekangan bui selama berbulan-bulan. Satu korban sudah tertulis dalam buku kematiannya.
"Dua lemon pancake. Satu black coffee—tanpa gula. Dan aku... Hmm... Hei, teme, sebaiknya aku pesan apa lagi ya?"
"Pilih saja satu dari menu yang tersedia, dobe."
"Cuih. Pencernaanku ini kan tidak sebagus pencernaanmu. Ya sudah. Erm—ice moccachino kurasa cukup."
Suaranya begitu dalam. Ia tak pernah mendengar suara itu sebelumnya. Langkah-langkah Ino yang senang terdengar gamang di telinganya. Ia memilih jalan yang jauh dan memutar, kemudian berbelok hingga mendapati meja bernomor tiga belas. Hanya senyum kecil yang tersampir di wajahnya. Si pemesan berwajah garang, tak berucap bahkan membalas dengan kata-kata terima kasih atau apapun.
Retorika dunia kembali di tempatnya. Sakura menghiraukan desisan penuh kemenangan milik Ino. Wajah berbinar-binar terlihat klise bagi dua matanya. Apapun yang terlontar dari bibir mungil Yamanaka Ino sungguh tak menarik perhatiannya. Tak ada satupun yang menarik perhatiannya. Sama sekali.
Ini adalah sebuah mimpi buruk semu yang menjadi nyata dalam waktu sepersekian detik. Sesaat, ia membuatmu tenggelam lalu menghilang dalam pikir yang panjang. Namun, di saat yang tepat, mimpi buruk itu akan menjadi mimpi indah yang tak berkesudahan. Bagi Sakura, detik-detik yang cepat itu hanya menjadi mimpi buruk terpanjang seumur hidupnya. Ia tak ingin lagi mengingat apapun saat harus melihat wajahnya.
"Kau lihat wajahnya tadi, Sakura? Astaga! Aku baru melihat wajahnya dari jarak sedekat itu, lalu, lalu—"
Mengapa tiap kali ia berbalik, mata itu harus bertemu pandang dengannya? Ia tak suka. Sungguh.
"—aku juga baru mendengar suaranya dari jarak sedekat itu!"
Hentikan, Ino. Aku tidak mengenalnya...
"—aku tahu dia memang misterius. Tapi, itulah daya tariknya, forehead!"
Cukup. Hentikan Ino. Hentikan... Hentikan!
"—dan jangan paksa aku mengatakan kalau Uchiha Sasuke itu memang—"
"INO!"
Ia marah. Kemudian, tak bisa menahannya lagi.
Mata blue azure si gadis menatap bingung, "a-ada apa denganmu, forehead? Kau baik-baik saja, kan?"
Kesal, Sakura menutup mata dengan erat, tak ingin membukanya. Tak ingin membiarkan cahaya masuk menyinari kilauan giok hijau miliknya. Ia terbangun dan menyadari dunianya telah kembali seperti semula.
"Ma-maaf, Ino. Aku hanya..."
Di saat dunia kembali menunjukkan wajahnya, di situ pula mimpi dimulai. Garis kehidupan pun mulai kembali berjalan di jalurnya. Hanya, tak ada yang tahu akan dibawa ke mana takdir itu.
"JANGAN ADA YANG BERGERAK! A-ATAU KUTEMBAK KALIAN!"
Kemudian, permainan takdir baru saja dimulai...
Tepat di saat bunyi longsongan peluru dan bau mesiu tercium, ia melihat segalanya berputar terlalu cepat. Detik dalam jam dinding seakan berhenti sesaat. Kamuflase yang terlalu indah untuk bisa dinikmati. Ia mendengar teriakan panik mereka, tetapi ia masih berdiri di sana. Sang empunya permata blue azzure berada di sudut ruangan—ia terlihat menahan tangis. Wajahnya memerah, begitu pula dengan dua orang yang saling menodongkan senjata besi mereka itu. Ia tak bisa menghirup oksigen lebih banyak lagi. Segalanya tampak kabur.
Dor!
Ada denyutan aneh yang menjalar dari arah perutnya. Rasanya semakin berdenyut tanpa menyisakan nyeri yang berkepanjangan. Ia membeku bak patung gips. Mata green olive miliknya masih terpusat pada lingkaran aneh yang kian berputar menjadi titik hitam di langit-langit. Lalu, tubuhnya terjatuh...
Suara-suara pekikan berdengung di dalam kepalanya. Menjadi sirine yang menyatu dengan bunyi alarm weker kamar miliknya. Aroma kopi yang tersaji berubah menjadi bau amis yang pekat. Warna merah menyala ikut terjatuh membentuk kubangan tetesan air di saat hujan. Lantai marmer menjadi lautan darah dalam sekejap.
Orang itu. Dengan wajah bengisnya, ia menahan kemerdekaan setiap tubuh yang masih memiliki jiwa di tempat ini. Senjata api yang tergenggam di tangannya membuat suara bising sebanyak tiga kali. Dua kali sebagai peringatan. Dan yang terakhir adalah ancaman, pertahanan diri. Bukan—hanya ketakutan dan menembak siapapun yang ia takuti. Lalu, iblis menyebutkan satu nama di telinga pria jahat itu. Maka, permainan takdir dimulai.
Ada rasa nyeri yang tak berhenti. Lalu, ia mulai mempertanyakan segalanya.
Apakah ini rasanya saat mati? Segala beban akhirnya hilang dalam waktu singkat?
"SE-SERAHKAN BARANG-BARANG BERHARGA KALIAN!"
Tak ada suara yang terdengar begitu baik. Semuanya sumbang dan buruk. Ia lengah dan hanya berdiri di sana. Lalu, menerima begitu saja tanpa melihat sekitar. Kamudian, ia benar-benar merasa berada di tengah-tengah lautan darah. Merah.
Dari bilik yang tersembunyi, Raido mengambil telepon darurat. Tak lama, saluran telepon pun terhubung dengan kepolisian Sendai. Menit-menit setelahnya, segalanya mulai terkendali. Tidak—tidak semuanya. Ya.
Bunyi derap langkah yang tak teratur bersama suara-suara ribut terlalu sulit 'tuk ditangkap oleh gendang timpani-nya. Mata green olive-nya hanya melihat satu warna dalam pantulan panel surya. Semakin meredup kemudian keabuan. Lalu, hitam. Tak ada warna lain. Ia berusaha membuka mata, melihat langkah kaki yang mendekat. Sepatu converse putih mendekati wajahnya. Ia memutuskan 'tuk tertidur selamanya.
Siapa...
"Kau tak mengenalku. Tapi, aku mengenalmu."
Bunyi-bunyian. Sirine polisi. Aroma kopi. Parfum maskulin. Bau amis. Darah. Merah yang pekat. Dua bola mata hitam. Lautan keputusasaan.
Gadis itu merasa berada di jembatan kematian. Sekali langkah lagi, maka ia telah berada di dunia mimpi. Di mana segalanya bisa menjadi apapun juga. Tangisnya. Kemudian, ia akan bertemu dengan ibunya. Apakah itu mungkin? Ia tak pernah tahu dan tak ingin tahu. Ia hanya menunggu hingga pada saatnya hari itu tiba. Ia menanti hal itu sekarang. Namun, suara angkuh menahan angannya. Ia tertarik kembali ke masa lalu.
"Aku selalu mengawasimu. Kau masih berada di taman kanak-kanak, begitu pula aku dengan wujudku."
Ada yang aneh dengan suara-suara sumbang itu. Antara mimpi dan de javu, keduanya menyatu tak berkorelasi satu sama lain.
"Tahanlah. Ini akan meninggalkan bekas, tapi... kau akan hidup. Harus hidup, Haruno."
Di saat itu, sebuah tangan menyentuh tempat di mana peluru itu bersarang. Hangat dan sangat menenangkan. Ia seperti dibawa ke masa-masa di mana segalanya selalu terasa menyenangkan. Masa kecilnya.
Kau... Siapa?
"Teruslah hidup, Haruno. Kau harus hidup."
Siapa?
"Lihat mataku, Haruno."
Lingkaran aneh menjadi ornamen-ornamen dalam fragmen masa lalu. Berputar ke belakang seperti pendulum. Serpihan memori yang pernah terlupakan akan satu wajah mulai terbentuk kembali.
"Sasuke, kita harus pergi. Para polisi itu sudah berdatangan."
Kemudian, pengelihatannya kembali menghitam. Tertidur lelap dengan sisa-sisa fragmen masa lalu. Ia takkan pernah kembali menjelajahi masa lalu bila tak ada seseorang yang begitu penting di sana. Dan ia tahu, bocah laki-laki itu. Ya.
Uchiha Sasuke...
Dan, ia menghilang meninggalkan sebuah tanda.
Dan tanda adalah hal yang selalu ditinggalkan oleh alien pada manusia. Percayalah itu.
To Be Continued
Ceruleanday says :
Fuahh... chap satu nongol! (sembah sujud). Yeap, mungkin terkesan tidak terlalu mengarah pada sci-fic di chap ini. Pada dasarnya sih, saya juga bingung mau masukin ke Romance/Drama saja atau harus jadi Sci-fic/Drama? =.=
Korelasi judul dengan isi fic? Apa ya? Yang jelas, padang pasir selalu bermakna daerah yang tandus. Panas, tak ada air. Sky adalah langit. Langit memberi hujan. Sebuah kontradiksi daru dua hal. Apakah itu bisa menjadi hint akan pertanyaan kamu, Nona Biru Tua? (ngerasa formal banget). LOL
Well, fic ini mungkin bisa straight. Mungkin juga bisa slash, tergantung scene sih. Tapi, endingnya akan sesuai dengan pairing kok.
Boleh minta tinggalkan review Anda? Berikanlah konkrit yang membangun ya, kawan. Tee hee...
