Naruto
Kishimoto Masashi
Roswell High
Melinda Metz
Desert Skies
by ceruleanday
2011
"—as long as we still live under the same sky, we will meet again. Somewhere, somehow."
Two : Fragment
.
Ada kalanya, mimpi mampu menimbulkan buih-buih berbentuk awan yang kian membumbung di tiap detik waktu. Dan di dalamnya, setiap memori yang dahulu terlupakan tersimpan apik—kemudian, digambarkan secara samar hingga tak tertebak saat kita terbangun. Sesungguhnya, mimpi adalah bentuk personifikasi tak bermateri yang timbul dari asa dunia nyata. Tak tersampaikan bahkan hanya menjadi angan-angan belaka. Dipertemukannya dua hal yang saling tak berkorelasi. Lalu, secara misterius, menyatu dalam pusaran lukisan abstrak.
Mimpi bagi Haruno Sakura adalah segala hal yang pernah dilaluinya di kehidupan nyata, namun terlupakan. Sudut memorinya yang melancip jauh telah tertumpuk oleh jutaan ribu neuron logika. Tak ada waktu untuknya berimajinasi. Imajinasi hanyalah mainan masa kanak-kanaknya. Ia benci berimajinasi. Sebab, imajinasi masa kecilnya adalah monokrom hitam putih yang penuh kesalahan. Orang di sekitarnya mengatainya gadis cilik aneh dengan tingkat khayalan yang berlebihan. Padahal, saat itu usianya masihlah lima tahun, for God Sake! Bukankah itu wajar bagi gadis cilik seumurannya 'tuk menggenggam khayal sebagai mainan?
Dedaunan maple berguguran di awal musim salju lima belas tahun yang lalu. Dinginnya udara memberi alarm bagi siapapun 'tuk sesegera mungkin menenggelamkan tubuh ke dalam bathup dan berendam. Menikmati sebutir jeruk sunkiss disertai kaki-kaki dalam kotatsu yang hangat. Sangatlah wajar bagi keluarga kecil ini 'tuk menghabiskan malam dingin itu dengan keceriaan yang tersembunyi dalam kesunyian. Tak ada bunyi-bunyian sumbang televisi maupun radio butut. Suara jangkring meredup oleh jatuhan butiran salju. Kemudian, satu gadis kecil meratapi jendela kamar dalam diam.
Ia melihat banyak bintang melalui kubikel kaca. Sendiri dan tetap setia menatap langit hitam yang memuntahkan ratusan ribu bola kristal kecil dari angkasa. Khayal gadis cilik ini mulai bekerja. Angkasa adalah tempat di mana awan berterbangan dengan bahagia, bersama air hujan dan pelangi. Namun, adakah yang mengatur semua hal itu? Sesuatu yang tinggal di atas sana yang selalu mengatur perputaran bumi?
Jawabnya tentu Tuhan, bukan?
Namun, lihatlah imajinasi gadis cilik ini. Ia tak berharap menemukan hal-hal menarik sebagai jawaban pertanyaan itu. Meratapi langit seharian dan terus bertanya. Ke mana pun ia bertanya, tak ada satu pun yang bisa menjawab. Ia sudah lelah. Mungkinkah ia terlalu dewasa 'tuk menjadi gadis cilik berumur lima tahun? Ya. Ia terlalu dewasa dalam hal penafsiran.
Penafsirannya adalah sebuah kesalahan. Tetapi, ia tetap memperjuangkan pertanyaan bodoh itu dalam benaknya. Ditemani setoples kudapan ringan buatan ibunya di pagi hari, ia setia menunggu sesuatu itu muncul dari atas sana. Selain putih, yang mana saja boleh. Tak terkecuali bagi kilatan cahaya berkecepatan suara yang melukis langit gelap saat itu.
Mata green olive-nya membulat. Lalu, rambut merah muda sepunggungnya mengibar oleh langkah-langkah cepat miliknya.
Tak ada yang mempercayainya. Tak ada yang mengakui pengelihatannya. Itu semua hanya khayalannya. Itu semua hanya mimpi buruk dan imajinasinya. Dan, ia hanyalah gadis cilik Haruno yang masih berusia lima tahun.
Ia menangis menceritakan apa yang dilihatnya pada yang lain. Ayah dan ibunya. Keduanya tertawa dan berusaha menenangkan jiwa ciliknya yang terguncang karena mimpi buruk akibat kelelahan. Sang ibu merangkul putri kecilnya itu dan membawanya kembali ke ranjang di mana ia seharusnya terlelap. Malam sudah begitu larut. Dan, balita semestinya telah berada di zona mimpi...
Namun, kejadian esok harinya adalah berita mengejutkan yang mengguncang kewaspadaan manusia bumi.
Ia melihat langit-langit gerai yang terbungkus oleh panel surya berwarna kekuningan cerah. Seharusnya, mentari tak bersinar terik seperti itu di tengah-tengah musim salju. Ataukah ini semua hanyalah de javu? Terkadang, kenyataan dan mimpi selalu tumpang tindih. Berkebalikan dan membingungkan. Kelelahan yang ia idap menjadi alasan klise dari segala manifestasi gejala psikis yang dideritanya. Terkadang, ia akan mengeluarkan darah secara tiba-tiba dari hidungnya saat memikirkan hal-hal berat. Namun, tak dipungkiri juga saat ia menatap tanpa kedipan lembaran majalah Vogue yang menampilkan pose seksi aktor Ireland kesukaannya itu. Well, itu di luar ekspetasi tentunya.
Tubuhnya terasa begitu berat, seakan tertindih oleh massa seberat puluhan ton. Kesadarannya berada di titik terbawah. Alam mimpinya masih menjadi batas tipis yang akan segera ditembusnya sesaat kemudian. Saat detik dalam jam dinding berubah, di situ pula dengungan keras membawanya kembali ke dunia nyata. Ia mendengar suara bising yang dibencinya. Bagai desisan ular ataupun suara sayap lebah. Saat membuka mata, ia melihat segalanya menjadi lebih nyata dan riil.
"Sa-Sa-SAKURAAA!"
Lalu, belasan pertanyaan mulai berkumpul dalam kepalanya.
Segalanya menjadi aneh. Meja-meja tampak berjatuhan, dengan kaki-kaki mereka yang menunjuk langit. Mereka dalam keadaan terbalik, bergitu pula dengan kursi-kursi ringan di main room gerai. Sebuah lubang hitam tepat di papan menu menjadi jawaban akan belasan pertanyaan gadis itu. Ia tak sempat membuka mulut 'tuk berkata—suara Ino dan tangisnya yang bisa diterjemahkannya meski gamang.
"I-Ino? Ada apa? Kenapa kau menangis?"
Dua buah tangan berkulit putih susu meliuk di atas kedua bahu gadis itu. Sebuah pelukan erat ditujukan untuknya oleh seorang gadis berambut pirang. Isakannya yang keras membingungkannya, menjadi raut kekhawatiran yang sulit diartikannya. Entah emosi apa yang semestinya ia tunjukkan kepada gadis pirang itu.
"Ti-tidakkah kau mengingat segalanya? La-la-lalu—"
Tak ada kata yang berlanjut. Tangan-tangan itu mengoyak kain yang menutupi tubuh bagian tengahnya. Kesal, si gadis bernama Sakura itu hanya mengerutkan alis dan menahan tangan-tangan Ino. Ada pertanyaan yang belum disampaikannya.
"Berhentilah menggerayangiku, Ino!" tukasnya setengah membentak. Mata blue azure gadis di depannya membulat maksimum.
"Ti-ti-tidak mungkin. Kau semestinya... Kau semestinya. Luka itu... Kenapa bisa?" dengan nada bergetar, suara indah gadis penyanyi itu bergabung dengan isakannya. Kedua telapak tangannya yang memerah akibat zat kental berbau sedikit anyir dari kain baju Sakura terus ditatapnya. Sembari mengalihkan pandang, ia tak berani melepas perhatian dari wajah sehat sahabatnya itu, "ti-tidak. Ti-tidak mungkin. Aku benar-benar melihatmu..." ia berhenti menangis, "aku benar-benar melihatmu tertembak oleh pria sinting itu, SAKURA!"
Sakura balik mendelik. Ia mengawasi ketakutan yang begitu jelas tergambar di wajah Ino. Hembusan nafasnya yang cepat bersama bulir-bulir keringat di tepian poni rambut pirangnya cukup menjadi bukti bahwa apa yang diserukannya barusan bukanlah kebohongan. Gadis berambut merah muda itu menunduk dan menatap sayu area bawah tubuhnya yang berwarna merah.
"AKU MELIHATMU TERTEMBAK OLEH PRIA SINTING ITU, SAKURA!" seru Ino dengan tangisnya yang kembali membuncah. Telapak tangannya menghadap atas, berpose layaknya ia sedang berdo'a. Warna kemerahan berbau sedikit anyir itu cukup menjadi jawaban atas air mata yang tak berhenti mengalir dari blue azure milik Ino. Lalu, Sakura memeluk sahabatnya. Erat. Namun, tak menangis.
Komat-kamit, Ino menyerukan sembari terisak ke-delapan kata itu tanpa berhenti. Ada kesedihan yang menjalar dari dalam hatinya saat melihat catastrophe yang entah bagaimana bermula dan berakhir ini. Sirine ambulans dan polisi menyatu dan bersahut-sahutan dari luar gerai. Tapak-tapak sepatu boot karet terdengar di sepanjang sudut gerai. Mereka—pelanggan-pelanggan gerai—telah dievakuasi. Kejadian yang terjadi sekitar setengah jam yang lalu telah usai. Pria pemesan Oolong Tea dan sepiring Takoyaki itu telah diamankan dalam mobil kepolisian Sendai. Meski telah di bawah kendali para polisi, tak ada jaminan bila semuanya berakhir tanpa menyisakan pertanyaan.
"Ino, tenanglah. Aku—aku baik-baik saja. Lihat," ia menunjuk perutnya. Tak ada bekas luka maupun lubang kehitaman. Hanya merah anyir dan aroma saus tomat, "kurasa, kau salah lihat. Aku baik-baik saja dari tadi. Peluru orang sinting itu pastilah mengenai papan menu di sampingku. La-lalu, botol saus tomat di atas meja ikut jatuh dan mengenai kepalaku dan melumeri perutku. Aku pingsan dan voila! Aku baik-baik saja, pig! Sungguh!"
Entah itu alasan yang cukup bagus atau tidak, Ino meyakini sahabatnya berkata jujur. Namun, ia masih memilih-milih antara apa yang dilihatnya dan kata-kata gadis merah muda itu. Sungguh tak masuk akal bila keduanya bersinggungan. Akan tetapi, si pirang memilih mengangguk mahfum dan menahan sesenggukannya.
"Tapi, aku mencium bau anyir, Sakura." ujar si pirang, Ino, sembari mengusap hidungnya yang memerah. Eyeshadow-nya meleleh akibat tetes air matanya.
"Ada luka kecil di sini. Tapi, tidak apa-apa."
"Kau yakin tidak apa-apa? A-aku akan memanggilkan paramedis untuk memeriksamu bila per—"
Sakura menahan kepala Ino saat ia berbalik ingin mencari paramedis. Kedua tangannya yang penuh warna merah melukisi pipi sahabatnya itu, "aku baik-baik saja. Aku akan berbicara dengan mereka. Yang butuh paramedis kurasa itu kau, Ino -pig." jawabnya dengan senyum sayu. Perlahan, kaki-kaki lemas gadis itu berdiri. Menahan berat tubuhnya dengan menjadikan meja kayu di sampingnya sebagai tumpuan tangannya. Wajah pucatnya terabaikan. Ia harus segera menemui salah satu anggota Kepolisian Sendai yang menangani kasus ini.
Di luar gerai, segala chaos menjadi lebih ramai. Pita kuning pembatas kejadian perkara milik Kepolisian Sendai menutupi pintu depan gerai. Wajah-wajah khawatir para penonton gratisan di luar sana tak dipedulikan gadis ini. Ia hanya harus berbicara dengan mereka yang bertanggung jawab untuk kasus ini. Namun, ia baru saja melangkah, dua orang paramedis berbaju putih dan biru beserta seorang pria tua menatap penuh tanya wajah Sakura. Seragam coklat dengan satu bintang sebagai tanda kebesaran Kepolisian Sendai menjadi ciri khas pria tua itu. Rambut hitam panjangnya terikat kecil. Topi ala Sheriff menutupi keklimisan rambut beliau. Ia lalu mengangguk takzim di depan Sakura.
"Haruno Sakura?"
Gadis itu balas mengangguk, "ya."
"Kita harus bicara banyak setelah ini." Pria tua bermata keabuan putih itu melirik dua petugas medis di samping kiri-kanannya. Satu dari mereka lalu memapah Sakura dan yang lain berjalan mendekati Ino. Tak ada pilihan lain.
"Sa-Sakura?"
"Tidak apa, Ino. Aku akan menemuimu setelah aku berbincang dengan Tuan Hyuuga."
Pemilik iris mata berwarna blue azure itu mengangguk tertahan. Banyak pertanyaan yang harus ia cecoki pada sahabatnya setelah ini selesai. Namun, ia harus memikirkan dirinya dahulu beserta menangani wajah-wajah khawatir ayah ibunya.
"Semoga semuanya baik-baik saja, forehead."
Saat gadis Haruno itu melangkah menemui teriknya mentari dari luar gerai, bayang masa lalu yang terekam dalam detik-detik kehidupannya yang kembali terulang. Wajah seorang anak kecil dan tawanya yang bahagia mendengung di dalam telinganya. Ia nyaris collaps. Namun, tangan kuat Tuan Hyuuga menjaga tubuhnya yang limbung. Dari kejauhan, dua mata kelam menyusuri keributan massa. Bersama pria ber-hoody hijau di sampingnya.
"Lucky. Detik terakhir ia akan kembali sadar, kau menggunakan Sharingan untuk membuatnya lupa."
"Tidak."
Tapak kaki di atas aspal hitam terdengar minim. Suara-suara sumbang manusia-manusia ribut dari kejauhan membuat pria ini muak. Ia memilih menjauh dan pergi.
"Eh? Maksudmu?"
"Hn," ia berhenti melangkah, "fragment memori masa laluku berhasil diserapnya."
Kota Sendai lima belas tahun yang lalu adalah kota yang ideal 'tuk dijadikan sebagai lokasi rumah masa tua. Di kala kau masih berusia muda, kau memilih kota yang bising dan penuh persaingan sebagai tempat mencari penghidupan. Di saat segala nikmat tercapai, kekayaan berlimpah, sebuah keluarga kecil telah tercipta, dan jaminan masa tua telah ada, kau akan mencari rumah yang tepat untuk membiarkannya hidup secara alami. Maka dari itu, kota kecil Sendai selalu dilingkupi rasa damai nan tenteram. Tak ada pertarungan antar geng, melainkan hanya festival penuh keakrabann dan kekeluargaan berupa panen raya yang selalu dirayakan di tiap akhir bulan Mei. Segalanya begitu sempurna.
Kesempurnaan selalu bernilai semu di mata kehidupan fana. Tak ada sesuatu yang bisa bersifat konstan maupun stabil di dunia ini. Bahkan, bumi tempat kita berpijak telah memilih berotasi dalam bujur yang kian melenceng. Tatkala ahli astronomi bumi berbicara, mereka mengaitkan segalanya dengan keberadaan sesuatu yang belum terjamah di luar galaksi bima sakti. Apapun itu, mereka hanya ingin menemukan hal-hal baru—demi bumi mereka.
Lalu, kota Sendai bukan lagi kota yang aman 'tuk ditinggali. Crop circle di sawah petani desa Kuwamoto adalah jawabnya.
Bentukan misterius itu terbentuk tepat ketika seorang gadis kecil berusia lima tahun merekam memori kilatan cahaya cepat dalam mata green olive-nya. Ia dianggap sebagai gadis tukang khayal oleh ayah dan ibunya. Ceritanya akan kejadian itu membuahkan tawa menyesakkan dari sebagian besar teman-teman taman kanak-kanak-nya. Seminggu berlalu sejak kejadian mengehbohkan itu. Meski bentukan aneh yang menggemparkan warga Sendai itu nyata, tak ada yang percaya bila hal itu adalah perbuatan iseng makhluk asing—alien.
Gadis itu menangis di sudut kelas dan berlari menjauh. Mendapatkan ruang guru, ia menyusup masuk dan berusaha mencari seseorang yang mungkin akan memercayainya. Nihil. Yang didapatkannya hanya ruangan kosong tanpa penghuni. Kaki-kaki kecil gadis ini bergerak masuk perlahan. Ia mencari-cari sesuatu di sudut ruangan, lalu mata green olive-nya menemukan sesuatu. Seseorang, tepatnya.
"Kau siapa?"
Mata kelam. Rambut hitam. Wajah bak topeng. Anak kecil berkulit putih mayat. Ia terduduk di dekat jendela entah sedang menunggu apa.
"Kau siapa?" ulang gadis kecil itu, "di mana semua guru? Aku harus bertemu Kaka-sensei. Kau melihatnya?"
Tak ada jawaban. Bocah itu masih menatap ke arah jendela. Dan, membiarkan anak kecil di belakangnya tetap berbicara dan bertanya.
Bunyi derit pintu terdengar. Si gadis kecil berbalik cepat—melihat sosok yang dicarinya muncul di sana. Diikuti seorang pria lain di belakangnya.
"KAKA-SENSEI!" teriaknya. Ia berlari mengejar seorang pria muda berambut keperakan dari sudut pintu. Senyum sesumbar melepas saat ia melompat ingin memeluk guru kesayangannya.
"Haha. Ada apa, Sakura-chan?"
"Dari mana saja?"
Pria itu hanya tersenyum. Ia menepuk-nepuk penuh sayang kepala si gadis kecil. Mengalihkan pandangnya ke arah lain, ia mendapati bocah lain sudah menunggunya di sana.
"Tinggallah dulu dengan Iruka, ok? Sensei harus mengurus sesuatu dulu dengan bocah itu." ujarnya sembari menunjuk bocah lelaki tadi. Pria yang berdiri di belakang Kakashi tersenyum. Gadis kecil itu berjalan penuh tanya ke arah pria bernama Iruka.
"Halo, Sakura."
"Ha-halo. Anda siapa-nya Sensei?"
Senyum penuh kebapakan ditawari pria bernama Iruka itu, "hanya teman. Ah. Sakura mau bertemu dengan seorang teman baru, tidak? Dia ada di luar. Karena dia pemalu sekali, dia tidak mau masuk ke dalam sini."
"Siapa?"
Siapa?
Siapa anak kecil itu? Lalu, siapa yang ingin menjadi temanku?
Siapa...
Kubikel cahaya keluar menembus kotak persegi di depannya. Penuh dengan warna kuning dan membekas membentuk bayang sosok cilik lainnya. Mata green olive-nya tak dapat melihat siapapun. Rasanya begitu perih. Perih sekali. Ia menahan pandangannya dari cahaya terang itu. Teriakannya tak membuahkan hasil. Saat berbalik, tak ada siapa-siapa. Semuanya jadi gelap. Hanya tersisa dot-dot sinar kecil dari kejauhan.
Ia terjatuh. Jauh. Di dalam hitam yang gelap.
Siapa kau?
Dua mata merah dengan tiga lingkaran berbentuk tak biasa muncul di sana. Mewarnai hitam yang penuh darah. Lalu, semuanya kembali terang. Normal. Hanya...
"Aku selalu melihatmu. Mengawasimu. Memperhatikanmu dari kejauhan. Kau begitu sulit untuk digapai. Kita tidak sama. Kau dan aku terlalu berbeda. Kau manusia bumi. Dan aku... aku lebih dari itu."
"Lalu, siapa kau?"
Saat terbangun, hal pertama yang dilihatnya hanyalah langit-langit putih. Aroma obat pekat tercium saat sensori di hidungnya telah bekerja normal. Pakaiannya telah berubah. Warna putih yang tak disukainya. Ia memaksa diri terbangun dan mendapati seorang pria yang cukup baik dikenalnya berdiri di ujung ranjang rumah sakit itu. Mata keabuan putihnya terlihat ingin menyedot banyak hal dari green olive si gadis.
"Ayahku sudah menceritakan semuanya."
"Hm."
"Kau—normal." lanjutnya. Pria muda itu mendekati si gadis dan bersandar di tepian ranjang. Dua tangannya terlipat di dada.
"Kurasa begitu."
"Luka lecet dan..." ia menahan kata, "...saus tomat?
Si gadis hanya tersenyum nyengir, "yeah."
"Kenapa bisa?"
Gadis pemilik green olive mengundikkan bahunya. Ia tak begitu paham kenapa semuanya bisa terjadi. Entah apa sebenarnya yang sudah terjadi padanya. Namun, ia yakin bila tubuhnya baik-baik saja. Sempurna.
"Jangan tanyakan hal itu padaku, Neji. Aku juga tidak begitu paham. Bukankah yang lebih penting ialah aku masih hidup dan sehat?"
Tak ada jawaban sesudahnya. Pria bernama Hyuuga Neji itu tetap menilik tajam kontur wajah gadis yang terbaring di atas ranjang berseprai putih polos itu. Ia masih menatap tajam meski tanpa raut wajah yang tertebak. Ia lalu mendesah.
"Ya. Yang penting kau baik." jawabnya dengan senyum pias. Pria berdarah Hyuuga ini tak menafsirkan banyak hal. Rasa sukanya pada gadis di hadapannya belumlah terbalaskan dengan jawaban dari bibir mungil gadis itu. Ia hanya berharap. Dan selalu berharap. Lalu, tak ada salahnya bukan bila hanya mengecup dahi?
"Ne-Neji?"
"Be good. Ayahku ingin mendapatkan informasi yang jelas darimu setelah ini. Kurasa, aku harus kembali ke kesatuan. Panggilan lain memintaku bergabung dengan tim. Tidak apa?"
Gadis Haruno itu hanya mengangguk. Bola matanya bergerak-gerak tak konstan sekarang, "jangan khawatir berlebihan. Itu tidak baik."
"Hm. Aku tahu."
Setelah mengambil jaket kulitnya yang tersampir di kursi, pria Hyuuga itu berlalu. Ia tertahan sebentar dan menatap lebih intens gadis berambut merah muda itu. Hanya senyum kecil yang ditunjukkannya. Si gadis melambaikan tangan sebagai jawaban.
"Setelah urusanku selesai, aku akan kembali."
Ia menggeleng, "jangan. Kau akan letih. Aku tidak perlu dikasihani seperti itu, Hyuuga-san. Ada Ino dan Kiba yang akan menemaniku setelah ini. Kau kembalilah ke kesatuan dan setelah itu, pulanglah ke rumah. Ok?"
Ada kesungguhan dari balik suara gadis itu. Berusaha keras kepala dengan gadis yang juga keras kepala tentu tidak akan membuahkan hasil. Maka, ego-nya sebagai Hyuuga tersimpan dalam hatinya yang keras.
"Ok."
Hyuuga Neji pun menghilang.
Tepat ketika remangan lampu kian meredup, Haruno Sakura mendapatkan kunjungan lain di petang harinya. Ino, sahabat karibnya, masih berada dalam kondisi syok sehingga ia perlu diberikan obat penenang dosis medium sehingga rasa ngantuk takkan terelakkan hingga esok paginya. Sakura tentu tak menginginkan ada yang mengkhawatirkannya untuk urusan berlebihan seperti ini. Seorang perawat menanyakan kondisinya dan mengecek tanda-tanda vitalnya yang telah normal. Pilihan diberikan sang perawat padanya. Tetap beristirahat di atas ranjang hingga esok atau pulang. Sakura tentu akan memilih beranjak dari ranjang. Diraihnya tas berisi pakaian kampusnya yang masih baru dan menggapai kamar mandi pasien. Setelah meyakinkan diri dengan melihat wajah yang kian merona dari cermin, gadis itu mulai melucuti satu per satu pakaian serba putihnya.
Ia baru saja mengenakan jeans birunya. Kini, ia mengambil jaket tebal keabuan dan mulai memasukkannya ke dalam kedua tangannya. Ia mendongak dan menunduk sebentar. Dirapikannya ujung jaket miliknya. Ia tertahan sebentar. Ada corakan aneh yang tertangkap matanya.
Perlahan, ia menarik ujung jaketnya ke atas. Sambil menatap cermin, ia memerhatikan sebuah corakan dan tanda aneh yang bersarang di perutnya—tepat di mana ia mendapatkan luka tembakan dari pria sinting tadi di gerai. Mata green olive-nya membulat lebar.
Sebuah tanda berbentuk tangan manusia dewasa melekat di kulit perutnya. Warna perak kehijauan yang menyala—seperti tangan alien.
"A-apa ini?"
Bunyi ketukan tiga kali membuatnya tersadar. Suara sang perawat mengembalikan kesadarannya. Ia buru-buru menutupi tanda aneh itu dan menenangkan degup jantungnya. Setelah membuat cepolan di rambut merah mudanya, ia keluar dari kamar mandi dan tersenyum.
"Anda yakin ingin pulang sekarang, nona?"
"Ya. Aku baik-baik saja. Rumahku juga tidak terlalu jauh dari sini. Tinggal beberapa blok saja."
"Baiklah kalau begitu. Mari, saya antarkan ke de—"
"Gadis itu akan ikut bersamaku, nona perawat."
Pemberhentian pertama adalah sekat pembatas antara pasien dan pasien lainnya. Lalu, pemberhentian kedua adalah pintu rawat inap. Dan, pemberhentian ketiga tentu adalah pria tua yang ingin meminta banyak hal akan kejadian siang itu.
Sakura mahfum ia harus menjelaskan banyak hal. Banyak hal.
Sang perawat hanya mengangguk takut. Ia berlalu dan membiarkan Sakura bersama pria tua itu diam mematung di ujung pintu, "Anda masih bisa memberikan keterangan, nona Haruno Sakura?"
"Ya. Tentu."
"Bisa kita bicara di luar saja?"
Maka, mereka meninggalkan ruangan beraroma khas itu. Meninggalkan gedung di mana segala pesakitan tertidur di ranjang-ranjangnya. Angin dingin di malam musim panas terasa tak menusuk. Beberapa orang yang berlalu lalang tampak sibuk dengan urusannya masing-masing. Suara sirine ambulans setidaknya dapat menutupi pembicaraan mereka.
"Tak ada orang. Kurasa, hal ini yang semestinya kuberitahu terlebih dahulu pada Anda, nona Haruno."
Mata gadis itu memicing. Ia tampak waspada.
"Menurut penuturan salah seorang saksi dalam gerai tadi siang, Anda seharusnya mendapatkan luka tembak. Akan tetapi, dokter yang pertama kali memeriksa Anda berkata bila Anda hanya mendapatkan luka lecet di perut. Bersama tumpahan saus tomat. Namun... ada hal lain yang cukup membingungkan dari keterangan saksi mata setelahnya." Pria tua itu mengangkat wajahnya dan membuka topi Sheriff-nya. Rambut klimis-nya terlihat bersinar di bawah pancaran sinar neon teras depan rumah sakit.
Sakura tetap diam.
"Saksi berkata bila seorang anak muda yang juga pelanggan di gerai tadi siang mendekati Anda tepat ketika Anda pingsan. Dan..."
Degup jantung gadis itu bertambah. Dengan sekuat tenaga, ia ingin menutupi tanda yang kini melekat di bekas lukanya. Karenanya, ia tetap menunjukkan wajah statis. Ia tak ingin kalah di depan Hyuuga ini.
"Apakah Anda mengenal Uchiha Sasuke, nona?"
Sebuah foto tertampil di depan wajahnya. Samar, namun begitu jelas di matanya. Ia tak yakin harus menjawab 'iya'. Ia terlalu takut untuk menjawab.
Setelahnya, hanya ada keyakinan yang tersembunyi oleh ketakutan.
"Ya. Aku mengenalnya..."
Kemudian, fragment masa lalu kembali terbuka...
To Be Continued
ceruleanday's says :
Chap ini menggunakan alur maju-mundur. Jadi, silakan ditebak sendiri yang mana masa lalu dan yang mana masa depan. :)
Ada yang nanya human hybrid itu apa ya? Hm, kalau dihubungkan dengan fic ini, human hybrid yang saya maksud seperti Clark Kent di film Smallville. Dia juga alien kan? Karena, Clark sebenarnya berasal dari planet Krypton. Tetapi, disebut sebagai human hybrid karena wujudnya masihlah seperti manusia pada umumnya.
Oh iya. Di fic ini, saya menggunakan kekuatan asli para human hybrid dari karakter yang telah digambarkan oleh Kishi-sensei. Seperti contohnya, Sharingan milik Sasuke. Di fic ini, itulah kekuatannya dia. So, mau tahu wujud asli mereka? Tentu sama seperti yang digambarkan Kishi-sensei juga. Hehe. (miris lihat wujud Kyuubi Naruto nantinya)
Thanks for all who reads, clicks, giving me concrit and reviews this fic. Without you, this fic won't update well. =D
