Naruto
Kishimoto Masashi

Roswell High
Melinda Metz


Desert Skies
by ceruleanday
2011


"—as long as we still live under the same sky, we will meet again. Somewhere, somehow."

AU fic.


Three: Green-Hands Case

.

Ia seperti terkurung dalam sebuah sangkar tak berpintu. Di sekitarnya hanya terdapat beberapa warna suram dengan bendungan kertas sana-sini. Keadaannya sungguh tidak teratur, layaknya penjara yang terbungkus apik oleh kertas keadilan. Justifikasi yang ada di tempat itu hanya bermakna subjektif. Hukum dan segala tata aturannya tak bisa lagi ditemukan manakala kekuasaan berkata. Namun, satu sistem berucap di akhir epilog. Tak ada pelaku kriminal yang berhasil keluar dari sangkar ini dengan kegembiraan. Segala kegembiraanmu akan tersedot oleh mesin bernama Interrogating Room.

Gedung Kepolisian Sendai di malam hari akan terlihat lebih sepi dibandingkan tengah hari. Para pekerja berseragam biru marine maupun kecoklatan tak lagi berlalu lalang. Mereka menyepikan diri sebelum jam makan malam berakhir. Untuk itu, shift malam tak lagi menguntungkan bagi sang kepala Kepolisian yang bertanggung jawab sepenuhnya demi mengamankan kota Sendai. Wilayah yuridiksi kepolisian Sendai tidaklah terlalu jauh. Berkisar lima hingga tujuh kilometer, gedung Kepolisian wilayah Toho sudah bisa didapatkan. Perbedaan terbesar antara dua kepolisian kecil di prefektur strategis ini bisa dilihat dari segi warna-warna wallpaper gedung. Kalau Kepolisian Sendai memilih warna keabuan dan walnut, maka Kepolisian Toho selalu menggunakan warna hitam dan biru tua. Persamaannya? Keduanya akan berkesan seram di malam hari.

Melihat dari berbagai prospektif, wajah-wajah ngantuk dan tak bersemangat hampir mengisi halaman depan meja registrasi yang selalu diisi oleh seorang petugas kepolisian bertubuh subur bernama Akimichi Chouza. Papan nama emasnya miring tiga puluh derajat ke kiri. Gelas kopinya telah kosong, beserta remahan donat yang hanya bisa didapatkan di toko 24 jam berlabel Yuriko Senbei. Perut buncitnya nyaris mendesak tubuhnya hingga butuh beberapa detik baginya untuk terbebas dari sekat pembatas antara meja registrasi dan dunia luar. Wajahnya memerah dan memancarkan kelegaan yang luar biasa saat dilihatnya wajah sang Kepala Kepolisian yang kini tepat berdiri di hadapannya.

"Akimichi-san, bagaimana kondisi pasca peristiwa di Hana no Tsuki siang tadi? Apakah bagian laboratorium kriminal sudah memberikan hasil temuannya ke kesatuan?"

Sang Kepala Kepolisian menerima selembar map coklat dari pria bertubuh subur itu. Dengan anggukan, yang dipanggil Akimichi menjawab dengan penuh kepercayaan diri.

"Sudah tiba kira-kira sejam yang lalu, Hyuuga-sama. Plus, keterangan dari beberapa saksi yang err—sedikit membuat alis kita berkedut," dengan nada berbisik, Akimichi Chouza berkata, "saya belum membuka isinya, tetapi salah seorang dari mereka yang berpakaian serba elit itu berkata ada kejanggalan yang didapatkan dari hasil wawancara dengan saksi mata. Dan saya rasa... ini mungkin ada hubungannya dengan asumsi Hyuuga-sama mengenai bocah-dalam-CCTV dan—"

Mata lelah si petugas berbadan subur itu bergerak tepat pada seseorang yang masih setia berdiri di belakang Hyuuga Hizashi. Yang diberi tatapan bingung hanya menampilkan wajah statis—seperti patung gips yang didirikan di tengah-tengah air mancur Sendai Townsquare. Tanpa aba-aba, pria Hyuuga yang terhormat itu segera berlalu sembari meninggalkan senyum pada Akimichi Chouza.

"Terima kasih atas bantuanmu, Akimichi-san. Kurasa, kau boleh pulang sekarang. Seharusnya shift-mu sudah selesai sejak sejam yang lalu." ucap Hyuuga Hizashi penuh wibawa. Wajah lelahnya dapat dengan mudah tertutupi oleh sikap bijak. Petugas bernama Akimichi Chouza itu tersenyum senang, menampilkan deretan giginya yang masih menyisakan remahan donat di sela-selanya, kemudian mengangkat topinya sedikit sebagai penghormatan.

"Tidak masalah, Sir."

Gadis berambut merah muda bercepol itu tetap mengekor hingga mereka memasuki sebuah ruangan yang lebih kecil. Sepertinya, ruangan itu adalah hak penuh Hyuuga Hizashi. Sekali masuk di dalamnya, maka tak ada kata tidak. Haruno Sakura merasa nafasnya tercekat untuk beberapa waktu. Ia tak tahan dengan ruangan yang terlalu penuh dengan map, kertas, foto, dan perkakas kepolisian lainnya. Tiba-tiba saja, ia seperti penderita claustrophobia. Disudahinya rasa mencekat itu, ia kembali berkonsentrasi dengan masalah akan Uchiha Sasuke sekarang.

"Anda boleh duduk, nona Haruno."

"Sakura," potong Sakura, "dan, kata 'Anda' terlalu formal, paman Hizashi."

Sakura ingin menghapus satu gap yang sejak tadi terus saja diucapkan oleh pria berambut klimis di depannya. Bukannya ia tak ingin bersikap sopan pada seorang Kepala Kepolisian Wilayah Sendai ini, ia hanya tak suka jika seorang pria baik hati yang pernah mengurusnya layaknya ia adalah putri kandungnya sendiri itu menggunakan kata-kata terhormat yang tak seharusnya diberikan untuknya. Hyuuga Hizashi adalah sosok pengganti ayahnya untuk beberapa tahun. Tepat ketika tragedi green-hands di Sendai terjadi sekitar tujuh tahun yang lalu. Tak dipungkiri juga, untuk alasan itu, Sakura telah begitu dekat dengan Hyuuga Neji.

Pria paruh baya itu mengangguk pelan. Ia meraih kursinya dan memilih mengistirahatkan tubuhnya meski sebentar. Sakura tetap berdiri dan membuat jarak.

Kembali, foto hitam putih itu disodorkan Hyuuga Hizashi di atas meja kerjanya. Mata green olive Sakura bergerak mengikuti ketukan jemari Hizashi.

"Dia... Dia teman kampusku, paman. Aku tidak terlalu mengenalnya. Kami... tidak dekat."

Tanpa perlu pertanyaan berulang, gadis itu paham jawaban apa yang diinginkan dari Hizashi melalui bibir kecilnya. Satu ketidakyakinan membuat suara berdecit di kursi nyaman pria berambut klimis itu, "dia mendekatimu ketika kau sedang pingsan. Entah apa yang dilakukan saat itu padamu. Kamera CCTV hanya merekam sekilas akan wajahnya tepat ketika peristiwa penembakan kedua berlangsung. Lalu, kamera itu rusak."

"Begitu?" tanya si gadis memastikan.

Hizashi mengangguk sembari menumpu dagu pada buku-buku jari keriputnya, "bagaimanapun, paman butuh keterangan dari anak muda itu, Sakura."

"Ke-kenapa?"

"Saat kau pingsan, mungkin dia melihat beberapa kejadian yang terlewatkan oleh saksi kunci. Lagipula… paman hanya ingin memastikan jika anak muda itu benar-benar tidak melakukan apa-apa padamu, nak." jawab Hizashi dengan suara dalam. Sakura hanya mengedipkan mata sekali.

"Aku tidak terlalu mengenalnya, paman. Sungguh. Er, maksudku, dibanding dengan Ino dan Kiba dan yang lainnya, aku sangat jarang—bahkan tidak pernah—berbicara dan berkontak mata langsung dengan Uchiha Sasuke ini. Kurasa, dia tidak melakukan apa-apa padaku, paman. Dia hanya di sana, duduk dengan tenang di sudut meja dekat counter. Kami bahkan tidak saling bertegur sapa. Well, kami seperti dua makhluk asing."

Tatapan keabuan pria paruh baya itu menetap sebentar pada wajah Sakura, seakan menerawang dalam-dalam maksud ucapannya. Dengan udikan bahu, Hizashi merebahkan kembali punggungnya.

"Prosedur keamanan dan peraturan di kepolisian memaksa dan memberi paman hak untuk menginterograsi siapapun yang sekiranya terlibat dengan kasus macam ini, Sakura. Hh, meski menurutmu bocah-dalam-CCTV ini tidak melakukan apapun padamu, sekecil apapun informasi yang bisa didapatkan darinya adalah koin emas—" Hizashi menegakkan tubuhnya dan mencondongkannya, "—terlebih bila ia bisa mendekatimu saat Toyotomi sedang melancarkan serangan membabi butanya. Tidakkah itu aneh?"

Sakura menelan ludah. Pria itu melanjutkan, "logikanya. Ya. Siapapun yang merasa jiwanya terancam akan berusaha keras menghindar dari gerakan-gerakan yang begitu terlihat. Tapi, lihat anak muda ini, Sakura."

"Apa… Apa paman ingin bilang kalau paman mencurigai Uchiha Sasuke sebagai salah satu komplotan Toyotomi?" Pertanyaan Sakura tepat sasaran. Ia tak butuh waktu lama untuk menyimpulkan makna tersembunyi dari tiap kata-kata Hizashi.

Dua mata keabuan Hizashi menutup lama. Masih menampilkan pose menumpu dagu pada buku-buku jemarinya, ia terlihat sedang berpikir. Sakura—gadis itu—menatap tajam tanpa banyak intermezo.

"Asas praduga tak bersalah, nak. Asas praduga tak bersalah. Selalu ingat itu."

"Maksud paman?"

Diam.

"Apakah... kau tidak merasakan apa-apa saat itu?" tanya pria paruh baya itu mengalihkan pembicaraan mereka.

Kini, suara penuh perhatian dan kekhawatiran menggantikan suasana tegang yang sempat terbentuk antara kedua insan ini. Sakura menghela nafas pendek dan membuka suara.

"Entahlah. Aku tidak begitu tahu. Rasanya seperti sedang tertidur panjang. Yap, aku juga pernah pingsan ketika mengikuti kejuaraan marathon saat SMA. Rasanya memang seperti mendapatkan gigitan lalat Tze-Tze," jawab Sakura dengan sedikit gurauan. Hizashi balas menatap tajam. Kekehan gadis itu segera hilang, "sorry."

"Melihat kondisimu yang baik-baik saja adalah hal yang patut kusyukuri. Terlalu banyak kemungkinan buruk yang menimpa kita saat hal-hal demikian menghampiri. Ya." mata lelah Hizashi meredup sebentar. Ia memijit-mijit kulit pertemuan antara kedua matanya. Sungguh sebuah dedikasi yang sangat jarang didapatkan di zaman sinting ini. Pria tua seperti Hyuuga Hizashi semestinya telah menikmati kehidupan masa tuanya di dalam rumah kecil di sudut pedesaan, jauh dari kebisingan kota dan kendaraan berpolusi. Memilih menghabiskan waktu di pagi hari dengan bercocok tanam, lalu menyesap secangkir midori ocha, menyaksikan pemandangan desa di petang hari. Terus berlanjut hingga waktu bergulir memastikan usianya harus ditutup. Namun, tidak bagi pria berdarah Hyuuga ini. Ada sebuah tugas yang harus ia selesaikan bila ia ingin menikmati semua itu. Sebelum tugas itu berhasil dituntaskannya, ia takkan berhenti. Meski, ia akan menutup usia di dalam bilik kerjanya itu.

"Ya."

Hyuuga Hizashi tersenyum pias. Lalu, titik fokusnya berubah haluan pada map coklat yang sejak tadi belum disentuhnya, "semestinya hal yang seperti ini harus kurapatkan terlebih dahulu dengan petinggi kepolisian di wilayah ini. Tapi... sayangnya, mereka sudah pulang. Kasus ini harus segera dibawa ke meja pengadilan. Toyotomi Gin adalah penjahat bengis yang menjadi buronan kami sejak dua bulan yang lalu."

"Hm... aku melayani orang itu. Dia memesan sepiring Takoyaki beserta secangkir teh Oolong. Gerak-geriknya memang sangat aneh. Ia memakai jaket tebal di pertengahan musim panas seperti ini, sama seperti orang i—"

Sebuah fragment memori yang terpecah berhambur secara tiba-tiba di dalam buku masa lalu Sakura. Kepingan kaca yang retak pun ikut memerlihatkan isinya—bak slide foto zaman dahulu yang terlupakan.

Anak laki-laki berambut hitam. Tak jauh beda dengan warna matanya. Kulit pucatnya yang sedingin es. Tatapannya yang begitu menusuk. Seorang anak laki-laki lainnya yang berpenampilan begitu kontras dengan bocah bermata setajam bilah pedang itu. Uchiha Sasuke. Uzumaki Naruto.

Sakura terbelenggu oleh pikirnya sendiri. Ia termangu dan terdiam untuk beberapa saat. Perhatiannya teralihkan saat suara Hyuuga Hizashi membuatnya terbangun.

"—bersamaan dengan kejadian tujuh tahun yang lalu, nak?"

"Ah, ya?"

Pria paruh baya itu mengerutkan alisnya sedikit, "tidakkah sangat aneh saat peristiwa seperti ini terjadi tepat bersamaan dengan kejadian tujuh tahun yang lalu? Paman baru ingat. Sebelum mendapatkan panggilan darurat dari kesatuan akan aksi Toyotomi yang menyandera kalian di gerai milik keluarga Yamanaka, paman menyempatkan diri berkunjung ke makam ayahmu, nak."

Gadis itu terdiam.

"Green-hands. Kasus yang sama sekali belum terpecahkan hingga saat ini. Paman sudah berjanji padamu, nak. Hingga kasus ayahmu terungkap, di saat itulah, paman akan benar-benar menerima saranmu dan saran Neji untuk pensiun di kesatuan." Nada kesungguhan terdengar meyakinkan. Darah Hyuuga yang mengalir kental dalam pembuluh nadi pria ini merekam sumpah yang telah dilisankan oleh lidahnya. Sudah bertahun-tahun sejak kejadian itu, ia takkan berpaling dari janjinya. Tidak hingga semuanya terungkap dengan jelas.

"Tapi... kasus green-hands terlalu ambigu 'tuk bisa dibuka kembali di atas meja pengadilan, paman. Lagipula... aku sudah merelakan kepergian ayah. Ibu juga. Aku sudah bukan gadis cilik Haruno yang sangat suka berkhayal itu. Dan juga... Sakura si gadis cengeng."

Hyuuga Hizashi mengangguk sekali. Tangannya yang dipenuhi keriput halus membuka perlahan lem perekat map coklat di tangannya. Tak butuh waktu lama, ia mengaduk-aduk isi dari map itu. Beberapa lembar perkamen putih dan plastik kecil berisi potongan foto martil pistol tersangka dibukanya pelan-pelan. Mata lelahnya bergerak-gerak cepat membaca isi form yang ber-kop General Forensic Laboratory, Faculty of Medicine, Sendai University.

"Hm. Tujuh tahun yang lalu, Toyotomi Gin masuk dalam list saksi mata akan kasus green-hands. Ia dicari-cari oleh pihak Kepolisian Sendai—yang saat itu masih dipimpin oleh Sarutobi-sama. Menurut keterangan saksi lain, Toyotomi adalah kunci utama kasus itu. Namun, dirundung rasa bersalah dan mimpi-mimpi buruk akan peristiwa green-hands yang dilihatnya secara langsung, ia menjadi paranoid. Otaknya sedikit rusak. Gejala psikis yang abnormal ikut merusak jiwanya. Secara garis besar, psikiater mendiagnosisnya menderita Paranoid schizophrenia—gangguan mental akibat ketakutan yang teramat besar akan masa lalu. Tak salah bila kelakuan Toyotomi bermanifestasi sampai sejauh ini. Melakukan perbuatan kriminal yang tidak normal, kabur dari sel, kemudian menyandera orang-orang."

Sekali lagi, Hizashi memijit keningnya. Ia sudah benar-benar lelah saat ini.

"Kalau dia memang saksi kunci peristiwa green hands, kenapa... kenapa kalian tidak menginterograsi-nya saat ini juga?" meski Sakura bertanya dengan nada pelan, ada diksi paksaan di dalamnya.

Yang ditanya hanya menggeleng, "dia selalu tak bersedia menjawab pertanyaan kami, Sakura. Ia selalu diam. Hh, sepertinya paman harus memakai tenaga Morino-san dari kepolisian Toho untuk menginterograsi pria sinting itu."

"..."

"Paman akan mengusahakan agar mulut Toyotomi bisa terbuka kali ini. Orang ini sangat sulit untuk ditemukan. Sangat beruntung ia kembali muncul setelah dua bulan menjadi buronan. Paman akan menghubungi Morino Ibiki dari Kepolisian Toho, duduklah dulu Sakura. Kau pasti lelah—"

Drrt Drrt...

Tepat ketika tawaran itu terlontarkan, ponsel Hyuuga Hizashi berbunyi pelan. Pria paruh baya itu segera meraih ponsel dari balik sakunya. Sakura bisa menebak arah pembicaraan mereka yang terdengar begitu tegang. Meski samar, Hizashi terlihat kaget saat mencermati kata-kata dari balik ponselnya. Tanpa aling-aling, pria itu berdiri dari kursinya dan berjalan keluar ruangan. Sakura tertinggal sendiri dalam ruangan penuh berkas itu.

Kaca buram yang memisahkan ruangan kerja Hyuuga Hizashi dan area luar memerlihatkan sosok pria Hyuuga itu yang sedang mondar-mandir. Sepertinya, pembicaraannya akan berlangsung sangat lama dan alot. Sakura merasa terlalu lelah memaksa ego-nya 'tuk tetap berdiri. Maka, ia menarik kursi dan mendudukinya. Rasa nyaman sedikit mengurangi bebannya saat ini.

Mata green olive-nya kembali menyusuri berbagai hal yang mengisi tiap sudut bilik pribadi pamannya dalam gedung Kepolisian Sendai. Jam bandul kecil dengan bingkai foto keluarga berdiri di ujung meja kerja miliknya. Iseng, Sakura meraihnya. Memerhatikan dengan seksama wajah-wajah bahagia orang-orang yang dahulu telah begitu baik mau merawatnya. Dan, wajah Hyuuga Neji masihlah terlalu polos saat itu. Gadis itu tersenyum kecil.

Lengan bawahnya secara tak sengaja menggeser lembaran berkas di atas meja dan membuat lembaran-lembaran itu terjatuh. Secara random, ia mengumpulkan kertas-kertas itu dan merapikannya kembali. Namun, selembar foto masa lalu melayang keluar dari sela-sela lembaran kertas yang entah berisi apa itu. Ia menautkan foto di antara kedua jemarinya. Warna hijau keperakan terlihat menghiasi isi foto tua. Seperti lukisan abstrak milik Vincent van Gogh di abad ke-empat belas. Melihatnya, green olive Sakura bereaksi oleh asumsi dalam otaknya.

Green hands.

Jejak. Sebuah tanda yang ditinggalkan di tubuh-tubuh mati korban kasus itu tujuh tahun yang lalu. Telapak tangan berwarna hijau keperakan terang—layaknya lukisan para manusia purba di gua-gua.

Tak hanya satu, tetapi lebih dari itu. Setiap tubuh akan mendapatkan satu tanda. Tak terkecuali, sebuah foto berlabel Haruno Hiroki.

"Ayah..."

Gadis itu menahan airmatanya. Ia meremas benda tipis itu di tangannya, kemudian melipat tubuhnya—menjaga agar tangisnya tak membuncah lagi. Ia sudah bosan menangis. Ia sudah bosan dianggap gadis cengeng. Dan ia... tak ingin mengingat betapa khayalnya selalu menjadi bahan tawa bagi orang lain.

Menyadarinya, Sakura segera berdiri. Mencari cermin setinggi tubuh yang berdiri tepat di sudut ruangan. Mengambil selembar foto berisi jejak tangan itu. Membandingkannya dengan lukisan di perutnya. Alisnya mengkerut. Ia marah dan kesal.

"U-usso... Ti-tidak mungkin..."

Tanda adalah perkara pertama yang selalu ditinggalkan oleh sesuatu yang masih dipertanyakan hingga saat ini. Melalui tanda-tanda, sebuah koneksi akan terbentuk. Kemudian, rasa penasaran akan menuntuk naluri manusia kita 'tuk mencari tahu. Mencari hingga jawabnya ditemukan. Namun, eksistensi mereka yang penuh misteri takkan mampu kita jamah. Mereka hanyalah bagian dari lukisan hidup yang hanya bisa singgah dan lenyap begitu saja.

Tepat ketika kesadaran itu kembali, banyak pertanyaan yang harus dilayangkan gadis ini pada pria Hyuuga itu. Suara derit pintu tak lagi dipermasalahkannya. Ia tak peduli jika tanda itu harus dilihat oleh orang lain. Ia hanya perlu banyak penjelasan. Dan... di saat itu, ia kembali menangis.

"Ceritakan segalanya tentang kasus ayahku, paman. Kumohon..."

Hyuuga Hizashi kemudian menutup sambungan teleponnya tanpa banyak bicara.


"Orion."

"Meta."

"Leo."

"Berhentilah menyebutkan nama-nama bintang itu, Naruto."

Langit memberikan gambaran layar hitam pekat. Gugusan star constellation membuat garis-garis samar yang terlihat begitu indah. Begitu teratur dan terkadang akan bergerak melintasi bintang-bintang kecil lainnya. Batu asteroid melintas dengan kecepatan cahaya di antara dua bintang yang bersinar redup. Kemudian, sirip-sirip ikan terbang angkasa membumbung laksana paus mini dari kolam udara. Kehangatan yang menyejukkan sangat menguntungkan bagi mereka yang tak berasal dari planet biru-hijau ini. Dua pria muda tengah menikmati naungan raksasa milik Tuhan dari bawah langit.

"Kau tahu, aku sudah menghitung jumlah bintang dengan kalkulator bintang-ku—" pria di sampingnya memutar bola matanya, "—dan... jumlahnya selalu 32. Kau tahu kenapa, teme?"

"Hn."

Sekali lagi. Jemari itu menunjuk dengan cepat beberapa bintang di langit, kemudian menekan-nekan sesuatu yang wujudnya sangat mirip kalkulator hitung-hitung buatan manusia. Rumusan aneh dengan angka-angka yang beraneka rupa bermunculan di layar kalkulator itu. Dua angka pun menjadi jawaban.

"Hei! Tetap 32! Sial... kalau begini, tidak bisa mengirimkan sinyal keluar. Tsk!"

"Baka."

Denyutan berbentuk akar aneh terlihat di sudut dahi pria berambut pirang yang sedang sibuk dengan kalkulator dan teleskop-nya. Meski dihujat dengan tatapan super sebal, pria lain yang terkesan sangat santai itu tak menanggapi.

"Langit di Sendai akan selalu menampilkan bintang yang berjumlah genap, dobe. Beberapa kali pun kita menghitungnya, tiap waktu, tiap hari, tiap bulan, tiap tahun... akan tetap seperti itu. Kecuali bila—"

"Ya, ya, ya. Jangan kau ingatkan aku lagi dengan guidelines pengiriman sinyal melalui star constellation. Aku sudah bosan mendengarnya. Lagipula, mana mungkin ada yang mau datang mengunjungi kita di sini? Dua bocah yang tidak diinginkan."

"Hn."

Diam.

Tak satupun dari mereka berucap. Terlalu sunyi dan mereka menikmati nyanyian monoton milik tonggeret di padang sabana yang menjadi saksi penemuan crop circle pertama di kota Sendai. Tak ada yang tahu dan tak ada yang mampu menebak akan kedatangan sebuah pesawat asing—flying saucer—dari galaksi nun jauh di atas sana. Mereka terdampar, menjadi anak manusia berusia lima tahun yang terpisah dari orang tuanya. Tidak diharapkan dan dibuang. Atau mungkin diselamatkan dari peristiwa terburuk sepanjang masa di sebuah planet berjarak tiga ribu tahun cahaya dari bumi.

Dua human hybrid yang dibesarkan oleh manusia bumi.

"Pulanglah."

"Eh? Mana boleh? Aku tidak bisa meninggalkanmu sendirian di sini hingga pagi, teme! Kau butuh aku kalau kau memang ingin membuat tanda lagi." Setengah berteriak, pemuda berambut pirang ini memanyunkan bibirnya.

"Manusia itu menunggumu di rumah."

Cerulean cerah si pirang membulat maksimal, "maksudmu Iruka? Dia sudah pulang?"

"Hn. Sejam yang lalu."

Senyum mengembang menggantikan wajah kusam pemuda pirang itu. Ia segera berkemas, memasukkan barang-barangnya yang berantakan di sekitar, dan memakai kembali hoody hijaunya. Tak ada rasa sesal yang menghinggapi hatinya sesaat.

"Kau juga sebaiknya pulang, Sasuke. Sudah larut. Kita bisa melanjutkan perhitungan bintang esok hari."

"Hn."

"Apa itu 'hn', 'hn', 'hn'? Aku tidak mengerti!" tanpa ba-bi-bu, si pirang mengambil langkah panjang melintasi rerumputan yang merunduk. Ransel kuning cerahnya telah berisi segala hal yang diperlukannya. Namun, ia memilih terdiam sebentar dan memutar kepalanya—menatap dari jauh punggung saudara-nya yang masih memandang langit, "ngg, bagaimana gadis itu? Eh, maksudku Sakura-chan."

Untuk sepersekian detik, Sasuke menolak menjawab. Tak mendapat respon, Naruto kembali mengambil langkah.

"Tanda dariku sudah mulai terlihat. Dan ia—"

Sharingan. Berkah yang dimiliki Uchiha Sasuke sebagai human hybrid. Mata itu mampu melihat dan menafsirkan banyak hal tanpa harus meminta persetujuan orang itu. Apapun bisa dilihatnya. Tak perlu memberikan banyak kata, segala gambar yang pernah terekam dalam memori terkecil milik siapapun dapat terbuka dengan mudah. Kemudian, aliran energi balik akan berbentuk kepingan fragment yang tertempel sempurna dalam memori orang itu.

Haruno Sakura.

Gadis itu akan mengingat satu memori masa lalu milik Uchiha Sasuke. Apapun bentuknya.

"Dia baik-baik saja. Akan kupastikan selalu begitu."

"Hm. Terserah kau saja. Aku hanya tak ingin kau jadi begitu terobsesi dengan yahh... kau tahu, matamu itu memang tak hanya bisa melihat masa lalu seseorang, tetapi juga sedikit hal dari apa yang diharapkan orang itu akan masa lalunya. Kau mengubah masa depannya—yang seharusnya, tidak seperti itu. Tapi..." Naruto berhenti. Setelah mendesah, ia melanjutkan, "...you're too nice to have human heart. Kita bukan bagian dari mereka, Sasuke. Kuharap, kau selalu ingat itu."

"Hn. Aku tahu."

"Ah. Hampir aku lupa," pemuda itu mengaduk-aduk salah satu kantong ranselnya, membuka tutup sebuah benda berbentuk silinder dan mengambil sesuatu di dalamnya, "terakhir kali aku mencatat pergerakan bintang, aku menemukan deretan konstelasi yang tersembunyi dalam kode rahasia. Kau tahu, sepertinya kode itu menunjukkan sesuatu."

"Apa?"

Ada senyum penuh kemenangan yang terpatri di wajah rubah Naruto. Ia melemparkan perkamen berbentuk peta biru atau blue print yang sangat mirip dengan peta DNA manusia. Di dalamnya, garis-garis tersebar tak karuan. Dot-dot hitam kecil dan warna lainnya ikut mewarnai ujung tiap garis. Sasuke mengernyit tak mahfum.

"Masih ada yang lain selain kita di planet ini. Entah siapa, tapi kurasa… ada hubungannya dengan kejadian green-hands tujuh tahun yang lalu. Mungkin juga, tidak hanya kau dan aku—kita—yang terdampar di sini. Sebelumnya, kakakmu juga pernah singgah di planet ini."

"Sou ka."

Naruto mengudikkan bahu. Ia mencibir dan berlalu, "bye, teme! Sampai jumpa besok!"

"Hn."

Mata itu. Ia kembali menyalakan sebuah warna merah darah dengan tiga tomoe yang berputar membentuk pusaran air. Kerutan di keningnya membuktikan sebuah emosi berupa amarah yang tertahan. Sebelumnya, Uchiha Sasuke tidak akan menunjukkan emosi apapun pada yang lainnya. Ia adalah makhluk hybrid yang begitu spesial. Menutup mata, ia mulai mengingat masa lalu yang sempat terekam dalam memorinya. Begitu cepat dan terlalu gamang.

Warna darah. Tangis pilu seorang gadis kecil. Tabrakan. Lampu lalu lintas yang mati-hidup. Bocah laki-laki yang tak bisa melakukan apa-apa. Wajah bengis. Pembunuh yang kejam.

'Gomen, Sakura. Andai saja waktu itu aku sudah lebih kuat, kau tak perlu kehilangan ibumu. Ya…'

Di bawah naungan langit yang gelap, seorang pemuda tengah menengadahkan kedua lengannya. Kepalanya terdongak ke atas. Berharap Tuhan mendengar do'a-nya. Ia hanya satu dari ciptaan-Nya yang terlahir bukan di tempat ini. Namun, ia ingin memahami manusia. Memahami bagaimana manusia menggunakan emosi mereka untuk mengalahkan rasionalitas itu.

Dan Uchiha Sasuke ingin memahami emosi manusia lebih dari itu…


To Be Continued


ceruleanday's says :

Ada yang nanya apa itu Decathlon ya? Di Amerika, Decathlon itu berhubungan dengan sebuah kompetisi/perlombaan mata pelajaran yang sering diselenggarakan di SMA-SMA di sana. Contohnya saja, karakter cewek utama di High School Musical selalu mengikuti Decathlon bidang Chemistry. Atau, di film Day After Tomorrow, ketiga siswa yang selamat dari terjangan badai (termasuk karakter utamanya) sedang dalam perjalanan menuju kota di mana Decathlon mereka dilaksanakan.

Err, iya ya. Ngerasa kalau too much description. Alur lambat banget. Dan parah. (pundung). But! Saya harus banyak menjelaskan mengenai 'alien-verse' di fic ini biar pada gak bingung. (padahal malah bikin bingung terus) . DX

This fic is not flawless. Full of mistakes and so much noises. So, concrit this fic, then I'm gonna be happy.

Thanks for all who reads, clicks, concrits and reviews this fic. Without you, this fic won't update well. =D