Naruto
Kishimoto Masashi

Roswell High
Melinda Metz


Desert Skies
by ceruleanday
2011


"—as long as we still live under the same sky, we will meet again. Somewhere, somehow."

AU fic. And, definetely Sasuke-Sakura fic


Four: Reveal the Secrets

.

Bunyi ketukan paruh pipit di kaca jendela menjadi alarm baru untuk gadis itu terbangun dari lelapnya. Kasurnya berdecit dengan per yang sudah tak stabil sama sekali. Dinding-dinding kamarnya dilapisi oleh beragam poster aktor kebangaan yang selalu diidolakannya sejak kanak-kanak. Sekian banyak dari poster itu, terdapat satu kalender kusam dengan coretan sana-sini. Berada di antara deretan schedule dan time table yang terabaikan dan sebuah lukisan kanvas abstrak berwarna-warni. Inginnya ia tetap di atas ranjang. Memoles tidurnya dengan mimpi yang tak kunjung mendatanginya sejak semalam. Matanya setengah terpejam. Namun, si pipit kian mengetukkan paruhnya.

Rambut merah mudanya mengembang tak karuan. Terlihat jelas bagaimana kantung matanya memberat seakan diberi gantungan beton. Warna hitam dan suram. Satu titik menyusur dari sudut ekor mata jade-nya, kemudian menjadi tapak sungai kecil hingga ke dagu—membasahi sebagian besar pj's-nya. Tak sadar, ia menghabiskan seluruh malamnya dengan tangis. Untuk siapa? Tidak ada yang tahu.

Bunyi decitan kasurnya berakhir dengan hadirnya si pipit berwarna kebiruan dalam kamar hangat itu. Kaki-kaki kurus dan jenjangnya bertengger pada jemari pucat si gadis. Menyapanya dengan ucapan selamat pagi ala bahasa burung. Lalu, bulu kebiruannya terkena monokrom sinar putih yang terpecah menjadi mejikuhibiniu oleh sinar mentari. Sedikit banyak, si gadis tersenyum. Mendapatkan kembali sesuatu yang diharapkannya sejak semalam.

Hyuuga Hizashi tidak bicara banyak. Ia menjawab pertanyaan si gadis tanpa ekspresi berarti. Hanya berlembar-lembar foto dan tumpukan perkamen bukti crime recorded masa lalu yang diperuntukkan bagi si gadis. Si gadis tak harus berucap memberi respon sebab jelas sekali apa yang terlintas di benaknya kemudian.

"Ayahku dibunuh

beliau tidak mengalami kecelakaan. Tapi dibunuh."

Green hands case adalah kasus paling ambigu yang datang di kotanya. Seperti wabah penyakit musiman yang kerap kali melanda desa Kuwamoto. Hanya, apakah benar ada hubungan tanda itu dengan kasus-kasus yang pernah terjadi tujuh tahun yang lalu. Jika memang iya, apakah gadis itu akan menjadi satu dari sekian korban yang mati?

Si gadis—Sakura—menghela nafas sesaat. Dibiarkannya pikiran itu melayang-layang bagai awan yang membumbung tinggi ke langit. Si pipit pun pergi dan terbang menuju tempat yang akan dikunjunginya hari itu. Bersamanya, Sakura harus kembali ke kampus. Dan, jika beruntung, ia akan berada satu kelas dengan Uchiha Sasuke di pagi ini—satu-satunya saksi kunci yang mengetahui hubungan tanda itu dengan semua masalah yang menumpuk dalam benak Sakura.

Melirik ke arah jam weker butut yang tak lagi berfungsi, sudah lewat satu jam dari jadwal pelajaran Kurenai-sensei di kelas biomolekuler. Lagi-lagi, hukuman apa yang harus didapatkan gadis ini karena terlambat? Well, sekarang ia memang bukan anak bangku sekolah lagi. Meski demikian, kampusnya tergolong dalam kampus terdisplin dan menganut sistem 'kejar paket'. Paket di sini tentu mengacu pada jadwal kelas yang harus diselesaikan dalam satu semester. Semakin banyak kelas yang diambil, maka semakin tinggi pula nilai plus yang akan diberi. Seperti sistem reward.

Kedua tungkainya bergerak tak seimbang. Rasa pening sedikit membuatnya ingin berbalik pada ranjang yang belum dirapikannya. Namun, suara berat Hyuuga Hizashi masih bergaung sempurna di ingatannya. Satu-satunya jalan baginya tuk mendapatkan jawaban hanya Uchiha Sasuke atau Uzumaki Naruto. Memilih di antara keduanya, mungkin Sakura akan berbicara pada option pertama—mengingat si option kedua sangat sulit untuk didekati oleh gadis canggung dan nerdy sepertinya.

Setelah menyiapkan diri sendiri dan berpakaian yang layak, Sakura meraih tas sampingnya beserta buku-buku berat yang setia menemaninya dalam kesepian. Ia menuruni undakan tangga. Menegak botol susu dalam lemari es. Membuka setoples nachos yang dibelinya kemarin dan menguyahnya sambil berlalu. Ia sempat berhenti di sudut pintu apartemennya.

"Ayah. Aku berangkat. Ibu. Doakan aku." bisik Sakura. Tepat di hadapannya, dua buah frame foto berdiri sejajar di atas meja vas.

Detik berikutnya, sinar mentari di pagi hari kian mengisi gelapnya mimpi si gadis.


Kelas biomolekuler telah dimulai sekitar satu setengah jam yang lalu. Kurenai Yūhi yang bertugas di dalam ruangan laboratorium khusus untuk mengidentifikasi DNA dan blue print manusia tengah menghadapkan punggungnya pada mahasiswa yang sibuk dengan catatannya. Jumlah mahasiswa yang terhitung hanya berkisar dua puluh, minus Uzumaki Naruto yang entah sekarang berada di mana. Sebelumnya, pemuda berambut pirang itu memohon-mohon pada teman sekaligus saudaranya agar ia bisa membolos satu hari saja dalam kelas yang menurutnya ugh—membosankan. Ia tidak tahan berlama-lama dalam sebuah ruangan di mana para peneliti berkumpul dan membahas hal-hal yang menurutnya terlalu rumit. Sebelumnya, ia memang tidak berniat mengambil kelas itu, namun melihat betapa kerasnya keinginan Iruka tuk menjadikan putra asuhnya itu sebagai seorang peneliti hebat di kemudian hari pun menjadi alasan bagi Naruto mengambil kelas biomolekuler.

Semua orang tahu jika Uzumaki Naruto tanpa Uchiha Sasuke adalah suatu keajaiban. Sejak awal tahun pertama mereka, keduanya tak pernah terlihat berpisah. Mereka bagai kacang dan kulitnya. Sebuah sistem simbiosis mutualisme, parasitisme, dan komensalisme. Tak terpisahkan dan tak terbagikan. Seperti yin dan yang. Namun, di dunia ini kita mengenal dan mempelajari mekanisme peluang. Akan selalu ada hari di mana peluang keduanya tidak terikat pun tiba. Seperti hari ini.

Uchiha Sasuke tampak menikmati suguhan ilmu yang tersedia di hadapannya. Selama satu setengah jam penuh belakangan, ia kian meletakkan titik fokusnya pada tulisan-tulisan rumit yang dibuat Kurenai-sensei di papan whiteboard. Meja-meja belajar tersedia satu-satu untuk tiap mahasiswa. Beserta satu set alat untuk mengamati sel dan identifikasi DNA sederhana—bukan semacam PCR (Polymerase Chain Reaction) tentunya.

Setelah meletakkan spidol hitamnya, Kurenai Yūhi berbalik dan mengedarkan pandangannya secara acak pada mahasiswa yang mengikuti kelasnya. Ia menghitung dalam diam dan terkejut menemukan hasil yang tidak sesuai dengan jumlah mahasiswa yang tertera dalam absensi kelasnya. Wanita yang sekaligus ibu satu anak itu mengedutkan alisnya. Ia mendekati meja-meja para mahasiswa, mengamati tulisan-tulisan apa saja yang dibuat oleh mereka selama ia menuliskan reaksi-reaksi rumit di atas papan whiteboard. Ia tepat berhenti di sebuah meja dengan nama yang melekat di atasnya. Kosong. Tak berisi.

"Haruno Sakura?"

Ah, rupanya ada dua makhluk yang tak mengisi kursinya hari ini.

Bunyi gedebuk keras beserta bantingan dahsyat membuat kepala-kepala itu menoleh ke samping kiri. Kurenai makin mengedutkan keningnya serta melipat lengan. Bunyi sol sepatunya yang setinggi empat senti terdengar bias bersamaan dengan suara lenguh lelah dari sosok yang baru tiba itu. Rambut merah muda si sosok terkena angin yang berhembus dari arah koridor kelas.

"Go-gomennasai, sensei." ucap si gadis yang terlambat. Ia menundukkan wajahnya dalam-dalam. Tak berniat menaikkan wajahnya hingga sang guru memberinya akses masuk. "Aku terlambat."

Kurenai hanya menggerakkan kepala. Bukan menggeleng. Tetapi, dapat diterjemahkan oleh si gadis sebagai persetujuan untuknya bisa memasuki dan ikut kembali dalam kelas. Keterlambatannya yang amat luar biasa masih ditolerir sang guru oleh berbagai alasan. Mengingat, Haruno Sakura adalah satu-satunya siswi yang mampu menorehkan segudang prestasi bagi kejayaan kampus di kotanya meski di tengah-tengah kehidupannya yang—sulit.

Dan, bagi Kurenai Yūhi, sesekali memberi dispensasi bagi Sakura tak'tan menjadi catatan kriminal. Namun, hanya satu kali. Ya.

"Hanya kali ini, Haruno. Hanya kali ini."

Menit berikutnya, wajah sumringah Sakura memerlihatkan kelegaan yang amat luar biasa. Kaki-kakinya bergerak cepat menuju meja dan kursinya. Ia meletakkan tas samping beserta buku-bukunya di meja yang lain. Merapikan peralatan kelas biomolekulernya dengan cekatan dan cepat. Mengeluarkan beberapa catatan-catatan kecil yang dibutuhkannya. Terakhir, mengenakan rubber gloves.

Bulir-bulir keringat dihapusnya dengan kain lengan kemeja luaran yang dikenakannya. Ia tak lagi memusatkan perhatiannya selain pada apa yang keluar dari bibi Kurenai-sensei. Setengah jam berlalu dan saatnya bagi tiap mahasiswa kelas biomolekuler melakukan sedikit tindakan praktis.

"Baiklah. Setiap dari kalian akan berpasangan sesuai nomor meja. Laki-laki berpasangan dengan perempuan. Tapi, mengingat di kelas ini berjumlah ganjil, maka akan ada satu kelompok beranggotakan tiga orang. Sesuai dengan nomor meja yang terakhir yaitu—Inuzuka—kau akan berkelompok dengan—" Kurenai melirik Sakura yang masih berkutat dengan catatannya. "—Haruno. Bersama dengan Uchiha juga kurasa."

Keributan sedikit mengganggu konsentrasi Sakura. Tangannya yang bergerak cepat menuliskan banyak hal dari arah papan whiteboard terasa kebas. Bahkan, ia harus sedikit menggeleng-gelengkan kepalanya ke sana ke mari oleh beberapa mahasiswa yang berseliweran di hadapannya dan menutupi akses pengelihatannya ke arah papan. Suara-suara sumbang tak dipedulikannya. Ia hanya perlu—

"Hn."

Sebuah tangan pucat dan sebuah buku. Sakura menegakkan wajahnya.

Mata jade-nya berakomodasi penuh pada sosok yang sudah berdiri tepat di samping mejanya. Buku itu tersodorkan untuknya. Namun, wajah statis itu masih di sana. Melupakan banyak bagian memori yang berusaha dikumpulkannya kembali. Sakura ingat wajah itu. Akan tetapi, samar-samar berusaha dilupakannya. Wajah anak lelaki sebayanya yang selalu menjadi keping puzzle yang hilang dan pergi dalam ingatannya. Bersamaan dengan memori akan peristiwa green hands—

"Sakura! Kita satu kelompok lho!"

Sakura segera memutar kepalanya. Mendapati Kiba—sahabat terbaiknya—melangkah penuh cengiran di wajahnya. Sebuah senyum seringai terlihat jelas di bibir pemuda pemilik Puppet Shop itu. Sebagai jawaban, Sakura hanya mengangguk. Namun, tidak untuk pria berkulit pucat di sampingnya.

Beberapa meja disatukan. Yang kemudian membentuk satu kelompok kecil. Dua hingga tiga mikroskop bersama dengan alat deteksi DNA bergabung. Keributan lain terjadi. Kurenai-sensei memberi instruksi pada praktikan. Mereka akan mengambil sampel darah dari salah satu rekan tiap kelompok. Ada yang cemberut mengetahui tak suka dengan jarum suntik. Bahkan, ada yang memohon-mohon agar praktikum kali ini tidak berhubungan dengan jarum suntik sama sekali.

Inuzuka Kiba segera menaikkan lengan kaosnya hingga ke bahu. Memerlihatkan otot-otot lengannya yang besar dan kuat. Cengiran itu masih terlihat di wajahnya. "Kau bisa mengambil darahku, Sakura!"

Sakura berada di pertengahan. Sedikit lebih jauh dari Uchiha Sasuke yang sibuk dengan slide mikroskopnya. Namun, selalu ada halangan bagi Sakura untuk tidak membalikkan tubuhnya ke arah yang berlawanan. Pikirannya tak lagi terfokus seperti tadi. Ia bingung dan linglung. Ini bukan perasaan layaknya gadis cilik yang menghadapi cinta pertamanya. Sama sekali bukan. Malah, ini lebih dari itu. Ada sesuatu yang ingin diketahuinya dari orang itu, namun selalu saja ada blokade tinggi yang membatasinya.

"Sakura? Kau baik-baik saja?"

Suara Kiba mengagetkan Sakura. "Ah, ya. Maaf, aku sedikit—"

"Pusing? Kau tahu, semestinya kau beristirahat di apartemenmu saja. Hei, ini baru beberapa hari pasca kejadian itu, 'kan? Ino dan ayahnya yang memberitahuku. Aku benar-benar khawatir akan keadaanmu, Sakura. Mendengari cerita Ino saja membuatku setengah merinding." ungkap si pemilik Pet Shop itu dengan nada cemas.

"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, Kiba. Aku baik-baik saja. Sungguh. Lagipula—"

Bunyi pensil yang diletakkan di atas meja mengalihkan perhatian si gadis. Mata jade-nya menembus pelan akan sosok yang masih berkutat dengan mikroskop beserta lembar catatannya. Sosok itu begitu pucat, bagai mayat. Ada bayang lelah yang terlihat di pelupuk mata Sakura. Ia sedih, namun bukan tangis. Entah mengapa ia hanya selalu bingung dengan hal-hal yang ingin diketahuinya. Ingin sekali ia—tapi tak bisa.

Pemuda Uchiha itu meletakkan ujung pensil di antara sela-sela giginya selagi kedua tangannya sibuk mengatur lensa fokus mikroskop beserta slide-nya. Selain praktikum mengambil sampel DNA dari darah, peserta kelas biomolekuler pun diberi tugas tambahan untuk menganalisis DNA tumbuhan yang sudah diambil oleh asisten dosen. Terlihat sangat sulit, terlebih setelah menganalisis morfologi selnya, mereka harus membawanya ke alat analisa DNA dan menilai sesuai pattern yang telah dibuat oleh Kurenai di papan.

"Done."

Selalu saja ada yang pertama selain Sakura. Dan orang itu selalu—

"Uchiha-san?"

Beberapa pasang mata membulat sempurna melihat sosok Uchiha Sasuke yang hanya berdiri di sudut pintu kelas dan satu tangan berada dalam saku celana. Ia hampir menggeser si pintu tapi suara Kurenai menahannya.

"Sudah selesai, sensei. Hasilnya bisa dilihat di meja nomor delapan, bersama dengan Inuzuka dan—

—Haruno."

Ada perasaan berat yang menumpu di tempat di mana jantungnya berada saat nama itu tersebutkan dan terlafadzkan di belah bibirnya. Bahkan, setelah melihat sosoknya yang telah hilang, gadis itu semakin yakin oleh pecahan keping puzzle yang pernah singgah dalam memori masa ciliknya. Bagaimana sosok itu pernah menyebut namanya dengan begitu cermat. Bagaimana sosok itu pernah menjadi satu-satunya teman yang dipercayainya. Menjadi seseorang yang lebih daripada itu.

Tapi, tampak berbeda satu sama lain. Bagai makhluk luar angkasa. Alien.

"Uchiha-san, apa kau sudah mendonorkan—darahmu untuk diuji sebagai sampel percobaan?"

Pertanyaan itu pula yang menahan Sasuke bergerak maju selangkah dari pintu kelas. Bahunya tampak tegang meski tak terlihat jelas. Ia menunduk dan menoleh kemudian.

"Gomen, sensei. Saya sedang tidak enak badan."

Berikutnya, ia tak akan menjawab lebih banyak pertanyaan.

Banyak yang kemudian mencibir. Kelas pun ribut kembali dalam seketika. Beberapa dari mereka jua tertawa.

"Tsk. Paling-paling, si Uchiha itu takut sama jarum suntik." cibir Kiba menambahkan. Bahkan setelah jarum itu memasuki kulit lengannya, ia masih bisa berkata sok. Dan, gadis di hadapannya tak suka pada mereka yang merendahkan orang lain dengan mengatainya anak lemah dan sebagainya. Menganggap jika orang yang dikatainya memang benar-benar lemah.

"Jangan berkata seperti itu, Kiba. Kau tak'kan pernah tahu apa yang membuat seseorang kuat dan lemah." ujar Sakura sembari menarik jarum dari pembuluh nadi Kiba dengan kasar. Kiba hanya meringis. Namun, tak dipedulikan oleh gadis berambut merah muda itu. "Begitu pula dia." tambahnya dengan bisikan.

Sorak sorai. Keributan massal. Cerita kosong. Semuanya berlalu di indera pendengaran Sakura. Ia penasaran. Ia terlalu penasaran dan panik. Ia harus tahu apa yang membuat orang itu seakan terlihat lemah. Padahal, ia tahu. Ia paham seribu persen. Pernyataan itu tak'kan mungkin terlontarkan dari belah bibirnya tanpa alasan sama sekali. Tak mungkin ia akan berkata seakan ia harus pergi dari sana karena alasan sepele. Itu sama sekali tidak wajar. Bahkan, tak ada yang menyadarinya. Hanya ia seorang. Wajahnya tidak menunjukkan hal itu sama sekali. Uchiha Sasuke juga bukan satu dari sekian banyak orang dengan talenta berakting. Ia hanya tahu jika wajah stoic Sasuke selalu bernilai sama dan bukan kebohongan.

Itu bukan wajah ketakutan. Itu adalah wajah—fear of nothing.

Kelas pun berlalu cepat. Lebih cepat dari menghitung mundur detik di tahun baru. Gadis ini menjadi yang terakhir dalam kelas. Kurenai-sensei memintanya meletakkan seluruh perlengkapan kelas ke dalam lemari-lemarinya sebagai detensi ringan atas keterlambatannya. Ia sendiri di dalam kelas yang sudah begitu sepi. Kiba mengajukan diri tuk menemaninya. Namun, Sakura tahu. Ia akan membebani sahabatnya yang harus ke kantin. Bunyi perutnya mengindikasikan banyak hal.

Dengan senyum lemah, gadis itu membalas lambaian tangan Kiba. Ia kembali pada meja-meja yang sudah rapi. Diliriknya satu meja di kejauhan sana. Meja yang digunakannya bersama kelompok kecilnya beberapa jam yang lalu. Dan, meja Sasuke.

Meja itu adalah satu-satunya meja yang belum dirapikannya. Bahkan, ia melihat satu buku catatan di atas sana. Ah, kenapa ia bisa lupa? Bukankah Sasuke sendiri yang menyodorkan buku itu untuknya. Kenapa harus canggung?

Diraihnya buku catatan itu. Membuka-buka isinya dengan random. Seperti biasa, isinya hanya catatan-catatan rapi dan teratur milik tulisan tangan Uchiha Sasuke—pemuda misterius yang jarang bercakap dengan banyak siswa lainnya. Lebih suka menyendiri dan menyingkir dari keramaian. Tetapi, gadis ini paham bagaimana rasanya menjadi yang paling berbeda di antara yang sama. Ia selalu tahu.

Diskriminasi. Perkataan aneh. Sinting.

Ketiganya sudah didapatkannya sejak cilik. Dan, ia benci justifikasi sepihak orang-orang yang tidak mengenal dan mengetahui dirinya. Sama seperti tawa dan canda menyebalkan teman-temannya—ah bukan—mahasiswa-mahasiswi itu beberapa saat yang lalu.

Mikroskop itu masih di sana. Ia juga mendapati sebuah pensil yang kerap kali digunakan Sasuke selama kelas biomolekuler. Namun, kali ini ia melupakannya. Entah apa ada yang spesial dengan pensil kayu itu. Sakura hanya tersenyum kecil. Namun, curiousity kills the cat. Itulah yang mendasari perbuatan Sakura setelahnya.

Ia mendudukkan dirinya di kursi miliknya. Berada seakan ia adalah dirinya. Di titik fokus yang sama dan cara duduk yang sama pula. Bagaimana matanya yang sehitam batu akik mengamati tanpa jeda papan whiteboard yang melekat di dinding beberapa meter di hadapannya. Kemudian, kembali mengingat apa yang dilaluinya beberapa hari ini.

Sakura menyentuh kulit di mana telapak tangan berwarna hijau itu menempel di tubuhnya. Bahkan, saat ini masih ada di sana. Belum hilang sama sekali. Tetapi, ia tak takut. Ia merasa sangat hangat dan—nyaman. Bagai tangan seseorang yang selalu menjaganya dari kejauhan.

"DNA bisa menunjukkan identitas asli seseorang dengan hasil seratus persen akurat. Hm." ucapnya.

Identitas asli?

"Ah. Iya."

Gadis bermata jade itu kemudian beralih pada pensil milik Sasuke. Ia bisa—pasti bisa—mengetahuinya. Hanya berupa asumsi sinting. Tetapi, ia terlalu penasaran. Dan, ia tahu caranya. Ia selalu tahu.

"Uchiha Sasuke. Anata wa dare?" [1]


Aroma cup ramen menyebar bersama dengan heningnya suara-suara dari tribun teratas lapangan sepak bola Sendai University. Lapangan sepak bola yang kerap digunakan para mahasiswa untuk sekedar berlatih ataupun saat turnamen musiman football. Lintasan larinya pun selalu menjadi tempat favorit para mahasiswa yang gemar melakukan sprinter di tiap petang hari. Begitu pula untuk hari ini. Tak ada yang jauh berbeda.

Matahari sore terlihat begitu terik. Pemuda yang duduk santai dengan dua kaki yang diselonjorkan ke depan menyipitkan matanya, berusaha mendapatkan akses bagus untuk lintasan spesial akan pemandangan menggiurkan dari arah kejauhan sana. Gadis-gadis Sendai University tingkat atas sedang melakukan pemanasan sebelum berlari di lintasan sprinter. Kesempatan emas ini tak bisa didapatkan dari jarak tribun terdekat dengan lapangan. Sebab, gadis-gadis itu pasti tidak akan ke lapangan untuk sekadar berolahraga di petang hari, melainkan taman kampus seperti biasanya.

Pemuda itu mengikik sembari menyeruput mi ramennya. Ranselnya yang lebih banyak dipenuhi dengan alat olahraga dibanding buku terbuka begitu saja. Bersama dengan sepasang sepatu soccer yang sudah lusuh oleh lumpur.

"Tsk."

Bunyi decak itu mengalihkan perhatian si pemuda. Ia menoleh dan mengamati wajah kaku seperti biasa milik sahabatnya. Dengan tegukan terakhir, cup ramennya dibuang ke sembarang tempat.

"Kau bisa dihukum satu tahun penjara atau bahkan mendapatkan denda minimal seratus ribu yen atas alasan membuang sampah sembarangan."

"Cih. Kalau begitu, apa gunanya petugas kebersihan?" balasnya tajam. "Aku tidak ingin melewatkan pemandangan yang—argh! Sakit tauk!"

Sebuah baseball gloves melayang di kepala pemuda pirang itu. Sebuah bet baseball juga diletakkan di sampingnya. Si pemuda pirang hanya mengelus-elus kepalanya yang nyeri. "Jeez, kau bahkan lebih parah dari pelaku kriminal. Apa maumu, hah? Dan—oh ya, bagaimana kelas tanpaku, hm? Pasti jauh lebih membosankan. Iya, 'kan?"

"Hn."

Langitnya masih berwarna sedikit biru dengan gradasi merah oranye. Cerah sekaligus menyedihkan. Sebentar lagi, bunyi kaokan gagak akan mendominasi. Membawa banyak makanan untuk diberi pada anak-anak mereka di sarang. Setelah itu, reuni keluarga yang setiap hari dilakukan pun dimulai. Kehidupan selalu saja stabil dan sama tiap harinya. Terlalu monoton jua.

Sasuke—si pelempar baseball gloves—memilih menyandarkan punggungnya pada sisi pegangan besi tribun. Kepalanya menoleh ke kanan dan menatap sekumpulan manusia yang tampak sibuk dengan kegiatan petang mereka. Rambut hitamnya terkibas oleh angin sore yang lembut sekaligus hangat. Namun, matanya memancarkan hal lain.

"Ya, aku tahu itu. Makanya—kenapa?" lanjut Naruto—si pirang. "Hei?"

"Di sini kita akan selalu damai. Lebih baik tinggal di sini saja."

Sekitar satu senti, kedua alis pirang itu terangkat naik. "He? Maksudmu... Maksudmu kita tidak perlu lagi mengirim pesan keluar, begitu? Hei, Sasuke."

"Hn."

"Ha. Hn. Ha. Hn. Aku tahu kita ini makhluk luar angkasa—yah well—alien menurutku terlalu buruk. Tapi gunakanlah bahasa yang setidaknya bisa kupahami. Woy, Teme—" Detik berikutnya, Sasuke meraih kembali bet baseball dan gloves-nya. Mengambil kembali tas sampingnya dan berlalu. "—cih, datang ke sini cuma mau bilang 'lebih baik tinggal di sini saja' dan bla-bla. Dasar aneh."

"Kita memang—berbeda, Naruto. Tidak perlu dibesar-besarkan."

"Jadi?"

Sasuke mendelik, "apa?"

Naruto menghela nafas. Mendongakkan wajahnya ke atas. Memandangi langit yang berubah warna tiap menitnya bersama sekumpulan awan putih. "Rasanya menyenangkan ya jika bisa—benar-benar bisa menjadi bagian dari mereka. Hm."

"Hn." Sasuke berhenti melangkah. "Tidakkah itu aneh. Kau hanya ke tribun teratas setiap hari Rabu. Di petang hari. Di jam yang sama. Memakan makanan tak sehat itu dan mengamati hal yang sama. Bukankah kau sendiri yang bilang—'berhenti bersikap seolah kita adalah mereka karena kita tak'kan pernah menjadi bagian dari mereka'?"

Cibiran itu tersampaikan jelas oleh Sasuke. Seringainya menunjukkan betapa ironisnya kalimat yang terucap oleh bibir sahabatnya itu. Sungguh, pada akhirnya mereka akan lebih bersikap sesuai dengan emosi yang kian mereka rasakan selama ini.

"Aku harus kembali ke kelas biomolekuler. Aku meninggalkan sesuatu di sana."

Si pirang mengangguk. "Yahh, terserah."

"Kalau kau mau marah, sebaiknya jangan kau luapkan pada Iruka. Ajak saja Hyuuga itu ke festival malam. Kurasa, itu lebih baik." tutur Sasuke sembari berlalu. "Aku pergi." Punggungnya menghadap Naruto. Ia terlihat menjauh dan makin mengecil. Satu tangannya teracung ke langit.

"Tsk. Ano Teme."

Warna merah itu mewarnai kedua pipi si rubah. Ia menyembunyikan warna merah itu dalam kerah jaket turtleneck hitam yang dikenakannya. Namun, mata birunya tak berhenti mengamati hal-hal yang jauh lebih menarik dari kejauhan sana. Kemampuan melihat miliknya sebanding dengan teleskop cahaya. Bahkan, sangat jelas bagaimana gadis itu sedang tertawa penuh canda bersama kawan-kawannya yang lain. Hanya, ia tak pernah tahu jika di tiap waktu yang sama. Di langit yang sama tapi dalam perasaan yang berbeda, mata biru itu selalu menjaga dan mengamatinya dari kejauhan. Sangat jauh...

Ia hanya berharap bisa mengamati warna indigo matanya dalam jarak sedekat mungkin.


Koridor kampus telah sepi. Para petugas kebersihan pun telah selesai melakukan tugasnya. Satu kelas di antara rentetan kelas adalah tujuannya. Kakinya melangkah santai meski dari awal ia sudah tahu. Ia bahkan sudah merencanakannya. Ia yakin gadis itu tidak bodoh dan akan menyadari banyak hal setelah hari ini. Ini bukan bagian dari rencana besarnya dari dahulu. Ini hanya—bagian dari keinginan masa kecilnya yang terlupakan oleh gadis itu.

Ia membuka si pintu geser. Menemukan suasana kelas yang gelap. Ia menutup kembali si pintu tetapi tidak menyalakan lampu sekalipun. Ia melangkah maju kemudian terdiam. Ia merasakan kehadiran orang lain dari kejauhan.

"Keluarlah, Haruno."

Perlahan-lahan, terdengar suara tapak-tapak kecil. Kemudian, seperti langkah gontai yang diseret paksa. Bunyi klik mengakhiri kegelapan semu itu.

"Aku—aku mau kau menjelaskan banyak hal, Uchiha-san."

"Hn."

Mata sayu si gadis terbuka sempurna. Ia terlihat takut. Sangat takut. Begitu takut—panik. Ia masih berdiri di sana. Memandangi sosok pucat yang jua menatapnya balik dengan sepasang batu akik miliknya. Jade si gadis kemudian menunduk ke bawah. Mengikuti arah gerak kedua tangannya yang kini melekat di dalaman kemeja tak berkancing itu.

"Kau berada di sana. Tepat kejadian penembakan itu terjadi. Tapi... kau lari. Iya, 'kan?" ujarnya dengan suara parau. "Kenapa kau lari, Uchiha-san? Kenapa kau—lari? Lalu—ini—apa?"

Kulitnya merasakan hawa dingin dari lingkungan luar. Terbuka dan tersingkap begitu saja. Memerlihatkan sebuah noda berbentuk telapak tangan berwarna hijau. Gambaran yang sama sekali tak membuat seorang Uchiha Sasuke terkaget sedikit pun.

"Pamanku—Hyuuga Hizashi—kepala kepolisian yang menangani kasus saat itu berkata jika kau berada di sana tepat saat si pelaku menembakkan martilnya ke arahku. Tapi, aku hidup. Aku bahkan tak merasakan apa-apa selain—ini. Hanya ini."

Diam. Satu langkah milik Sasuke menjadi satu langkah mundur bagi Sakura.

"Kau ini apa? Siapa kau sebenarnya?"

Who—are you?

—makhluk seperti apa kau ini?

Ini perbuatanmu, 'kan?

"Hn." Lalu, ia bersuara. "Aku akan memberitahumu segalanya. Tapi, kau harus merahasiakannya pada siapapun bahkan pada sahabat dan keluargamu—Sakura."

Saat suaranya terdengar, di saat itulah ia akan mengenal Uchiha Sasuke jauh lebih dalam. Jauh lebih dalam dari segalanya. Bersama dengan keping fragment memori yang jatuh dalam tumpukan puzzle miliknya.

Uchiha Sasuke menginginkan Haruno Sakura. Ini adalah rahasianya.


To Be Continued


Glossary:

[1] Anata wa dare= Kamu siapa?

ceruleanday's says :

Hello, hello, hello! Gyay! Senang rasanya bisa lanjut kembali buat nerusin fic yang udah lamaa gak pernah apdet ini. Haha. Gomenne, minna. (ojigi). Sepertinya saya terkesan mengabaikan fic ini. Padahal...

Huge thanks juga buat Luthy yang nanya kapan fic ini akan saya lanjutin. Nah, sebagai gantinya mau 'kan baca dan review fic ini? (maksa). :D

Oke deh. Gak usah banyak bacot. Saya balikin semuanya ke minna semua. Tee hee.

This fic is not flawless. Full of mistakes and so much noises. So, concrit this fic, then I'm gonna be happy.

Thanks for all who reads, clicks, and reviews this fic. Without you, this fic won't update well. =D