Hallo Minna! Setelah sekian lama akhirnya aku sempat publish juga chap 2. Untuk balasan review silakan minna baca dibawah. Dan terima kasih karena telah mengizinkan fic daku ini untuk tetap diteruskan. Happy Reading!
Disclaimer : Naruto belongs to Masashi Kisimoto forever! Kalau Naruto punyaku bisa dipastikan ceritanya bakal jadi Romance. ^_^V
Warning : AU,missTypo,Eyd tak sempurna,OOC-maybe dan Vamfic. Author masih berwarna hijau sih.-Emang sayur?-
.
.
Segala pesonamu menjeratku kedalam lubang hitam matamu.
Tetapi mengapa kau tak mengizinkanku untuk menemanimu?
Menemanimu yang sendiri dalam lubang hitam itu.
.
.
Chapter 2:Stay away from me!
.
.
.
.
Tokunasa Gakuen merupakan salah satu dari sekolah yang telah berdiri lama di Jepang hingga sekarang. Prestasi yang telah didapat tak terhitung lagi malah sebagian piala-piala yang berhasil didapatkan diletakkan begitu saja digudang piala. Hanya murid-murid terpilih lewat ujian masuk yang begitu ketat akhirnya bisa menempuh pendidikan disana. Dan untuk anak baru yang ingin pindah masuk kedalam sekolah ini bisa dikatakan nyaris mustahil untuk bisa mendapatkan bangku kosong untuk masuk didalamnya tapi seorang murid baru bernama Uchiha Sasuke mampu masuk ke Tokunasa Gakuen. Tentu saja membuat seluruh sekolah mengenal namanya. Bagaimana tidak, Sasuke adalah murid pertama dari 8 tahun terakhir yang merupakan murid pindahan.
"Uchiha Sasuke hadir?" tanya Kurenai saat mengabsen murid-muridnya.
"Dia masih sakit Sensei," jawab Naruto.
"Sudah 9 hari dia tidak masuk sekolah padahal dia masih anak baru," kata Kurenai kesal. " Naruto katakan pada Uchiha, kalau dia tidak masuk juga besok. Maka siap-siap saja untuk menjadi murid tersingkat yang bersekolah disini!"
Naruto menelan ludahnya dengan susah payah melihat mata merah Kurenai menatapnya tajam." B-baik sensei."
Hinata termangu dibangkunya. Menatap meja kosong disebelahnya yang sebelumnya diisi oleh salah satu anak baru yang begitu membencinya, menurut Hinata.
'Sasuke-san sudah 9 hari tidak masuk sejak hari itu. Apa dia begitu membenciku sampai tidak ingin masuk?' pikir Hinata dalam hati.
Selama pelajaran berlangsung hari ini Hinata hanya melamun memikirkan kemungkinan-kemungkinan apa saja yang bisa membuat Sasuke begitu jijik melihatnya. Apa mungkin itu hanya perkiraannya saja? Apa mungkin dulu Hinata pernah berbuat kesalahan yang tak dia ingat? Tapi bagaimana mungkin, Hinata saja baru bertemu Sasuke pertama kali saat ini. Apa Sasuke merasa kalau Hinata akan menjadi salah satu ancaman sebagai Fans Girlnya? Tidak mungkin. Walaupun murid-murid cewek disekolahnya sudah memulai persiapan untuk membuka Sasuke FG, Hinata sama sekali tidak ada niatan untuk menjadi salah satu personil ataupun member di dalamnya. Lagipula Hinata lebih menyukai pria seperti Naruto yang bersinar bagaikan matahari dari pada Sasuke yang begitu kelam.
Lupakan tentang pikiran-pikiran Hinata yang semakin melantur. Apalagi saat pulang sekolah saat ini Hinata tetap saja memikirkan pangeran dari negeri iblis. Bukan, bukan karena Hinata menyukai Sasuke hingga gadis manis berambut indigo itu terus memikirkan Sasuke. Tetapi, karena selama ini Hinata telah berprinsip untuk membuat orang-orang paling tidak jangan sampai membencinya. Hinata telah terbiasa untuk membuat setiap orang bisa berteman dengannya karena bagi Hinata mempunyai satu musuh sama saja mempunyai 100 musuh. Itulah yang membuat orang lain begitu menyukai kepribadian Hinata yang lemah lembut itu.
Tanpa terasa Hinata telah sampai didepan pintu apartementnya. Ternyata memikirkan penyebab Sasuke begitu membenci Hinata membuat Hinata yang notabene sedikit pelupa atau bisa dibilang pelupa parah. Melewatkan supermarket untuk membeli beberapa kebutuhannya yang telah mulai menipis. Terpaksa hari ini dia haris makan mie instan yang tersisa karena kalau boleh jujur walau badan Hinata begitu ramping tapi makan 2 mie instan tidak bisa membuatnya kenyang. Sedangkan mengkomsumsi mie instan berlebih tidak baik untuk kesehatan.
Hinata menghela napas sebelum membuka pintu apartementnya.
"Tadaima." Sepi. Tak ada jawaban. Hinata tau itu karena dia hanya tinggal sendirian selama ini. Okaa-sannya telah meninggal dunia saat dia masih di Junior High.
Sedangkan Otou-sannya, Hinata tak pernah tau siapa sebenarnya dan dimana Otou-sannya berada. Apakah beliau masih hidup atau telah meninggal? Hanya Okaa-san yang tau siapa Otou-san Hinata sebenarnya. Hinata bukannya tak penasaran siapa ayahnya hanya saja saat menayakan hal itu kepada ibunya, wajah sang ibu langsung terlihat begitu sedih dan terluka membuat Hinata tak tega untuk memaksa ibunya untuk menanyakan hal itu lebih lanjut.
Hinata memilih untuk tidak mengetahui siapa Otou-sannya daripada harus melihat wajah terluka Okaa-san yang begitu Hinata sayangi. Hingga hembusan napas terakhir Okaa-san, Hinata tak pernah tau siapa Otou-sannya.
Hanya satu jawaban yang selalu Okaa-san berikan ketika Hinata menanyakan itu." Hinata-chan walau Otou-san tak pernah disini ataupun melihatmu. Percayalah semua itu dia lakukan karena begitu menyayangimu. Berjanjilah akan menjadi anak yang baik, Okaa-san yakin Otou-san pasti akan menemuimu nanti."
Hanya dengan jawaban itu dan senyum lembut dari Okaa-san Hinata telah bisa tenang. Hinata yakin suatu saat Otou-san akan datang menjemputnya.
.
.
.
.
Disebuah rumah yang bergaya victoria disalah satu rumah termewah dibarisan rumah dalam kompleks elit yang begitu menawan. Sebuah rumah yang begitu sepi seharusnya sampai suara teriakan dan juga gedoran pintu meramaikan suasana rumah.
"TEME! Buka pintu ini, kau sudah 9 hari tak keluar kamar," teriak Naruto dengan terus menggedor pintu berwarna hitam mengkilat didepannya." Kalau kau tak keluar juga bisa-bisa kau menjadi kelelawar dikamar ini."
"Aku memang kelelawar! Dasar rubah baka!" jawab Sasuke dari dalam kamar.
"Ayolah. Kau sudah 3 hari ini belum makan apapun. Keluarlah kau pasti lapar."
"Aku tidak lapar Dobe!" Sasuke menatap langit melalui kaca jendelanya yang begitu tinggi. Jangan ditanya apakah langit begitu indah hingga Sasuke betah menatapnya, langit saat ini begitu gelap tanpa bulan dan bintang tertutup oleh awan gelap pembawa hujan. Sebenarnya Sasuke ingin keluar berjalan dalam gelap seperti biasanya tapi hujan gerimis telah membasahi bumi dan Sasuke tidak suka dengan hujan walau dia suke dengan badai.
"BOHONG! Kalau kubawa Hinata-chan kesini kau pasti akan langsung menerkamnya," teriak Naruto lagi.
"Bukan urusanmu Dobe dan itu tidak akan terjadi!"
"Heh! Kau menantangku?"
"..."
"Keluarlah aku sudah susah payah mencarikanmu makanan. Aku harus lama berkeliling hanya untuk mendapatkan makanan favoritmu ini, paling tidak ini bisa mengatasai rasa hausmu walau hanya sedikit."
Sasuke berpikir sejenak baru kemudian melangkah menuju pintu. Pintu kamar perlahan terbuka membuat Naruto yang bersandar di pintu nyaris terjungkal kebelakang. Ketika baru akan protes Naruto terperangah melihat keadaan Sasuke. Sasuke terlihat sangat sangat pucat dengan kantung mata tebal dibawah matanya. Membuat Sasuke tampak begitu mengenaskan dan sangat berantakan, Naruto jadi tak tega kalau harus marah-marah lagi.
"Teme, kau terlihat sangat... aku tak bisa melanjutkannya," ujar Naruto dengan wajah menahan tawa tapi dipaksanya untuk pura-pura khawatir ala drama Korea yang biasa di tontonnya.
Sasuke mendengus." Mana makanannya?"
"Ditempat biasa. Kau harus makan sebanyak mungkin karena besok kau harus masuk sekolah. Kurenai-sensei sudah marah-marah dan aku yang jadi korban karenamu."
"Hn." Lalu Sasuke berlalu meninggalkan Naruto di koridor.
.
.
.
.
Pagi datang dimusim semi membuat Hinata bersenandung pelan sambil menikmati bunga-bunga Sakura yang berguguran. Hinata menyukai hari yang cerah seperti saat ini. Saat langit terlihat begitu tinggi dan begitu biru. Tapi Hinata lebih menyukai memandang bulan purnama yang bersinar begitu terang dimalam hari ditemani bintang-bintang yang berkelap-kelip.
Saat Hinata telah sampai diruang kelas dan duduk dibangkunya lalu memandangi Sakura yang berguguran di taman. Perhatiannya teralih ketika didengar kursi disebelahnya berderit diisi oleh seseorang. Jantung Hinata kontan berdetak dengan cepat saat dia melihat sosok pemuda berambut raven duduk dengan arah membelakanginya. Hinata menarik napas untuk menenangkan jantungnya lalu dengan sedikit keberanian Hinata berdiri dan berjalan kearah Sasuke.
"P-pagi S-Sasuke-san," sapa Hinata gugup.
"Hn."
"B-bagaimana kabarmu S-Sasuke-san?"
"Bukan urusanmu kan!"
Hinata tersentak sesaat lalu berusaha untuk tersenyum." W-walau begitu a—akan tetap khawatir dengan keadaanmu."
Sasuke menatap tajam mata Hinata mencoba membaca apa yang ada dipikiran gadis satu ini. Walau Sasuke terus kasar padanya Hinata tetap berusaha tersenyum. Apa Hinata terlalu bodoh terus mencoba perhatian padanya?
"Seperti yang kau lihat," kata Sasuke datar setelah tak berhasil menemukan kebohongan atau apapun dimata Hinata kecuali pandangan seperti anak kecil.
"B-baguslah kalau begitu. Kalau boleh aku tanya Sasuke-san memakai lensa kontak?"
"Maksudmu?"
"Seingatku kemarin saathari pertama masuk warna matamu berwarna merah darah tapi sekarang berwarna hitam pekat. S-Sasuke-san memakai lensa kontak?"
"Tidak dan itu bukan urusanmu."
"A-aku hanya ingin lebih akrab dengan S-Sasike-san seperti teman lainnya karena temanku hanya sedikit."
Sasuke bangkit dari duduknya lalu mendekatkan wajahnya didepan Hinata." Jangan berpikir kalau aku sama dengan yang lain karena bisa saja aku lebih berbahaya dari seorang pembuhuh berdarah dingin. Jadi sebelum kau terjebak lebih baik kai menjauh dariku, menghindar dariku sebelum terlambat."
"T-tapi kalau begitu bukankah k-kau akan merasa kesepian? B-berusaha membuat jarak tanpa mengizinkan seorang pun untuk mencoba mendekatimu? G-gomen kalau a-aku menganggumu hanya saja saat memandang matamu yang berwarna apapun itu. A-aku dapat merasakan 1 keasamaan yang begitu j-jelas mengatakan kalau S-Sasuke-san kesepian. Paling tidak izinkan a-aku membantumu Sasuke-san," kata Hinata yakin.
Sasuke menatap matayang begitu berlawanan dengannya. Mata yang bercahaya terang, begitu hangat dan tidak ada dusta disana.
Sasuke manarik wajahnya menjauh." Hn,terserah kau tapi jangan menyesal nantinya."
Senyum Hinata kontan mengembang. "T-tidak akan Sasuke-kun. Arigatou."
"Hn."
Dimulai dari salah satu hati yangmengizinkan yang lain untuk memasuki wilayah invasi yang selama ini tidak pernah mampu meyakinkannya untuk membuka. Membiarkan hati yang masih begitu polos untuk menghapus kesendiriannya dalam lubang hitam yang begitu dalam didalam hatinya, sedikit demi sedikit tanpa disadari kalau kedatangan hati yang terang bagai bulan purnama telah mampu sedikit menghapus hitam pekatnya. Membiarkannya untuk bersatu, membaur, saling melengkapi tetapi masih terlalu singkat untuk disebut cinta. Karena sampai saat ini keterbukaan belum juga terjadi karena cinta ada dengan keterbukaan hati untuk menerima apa yang ada.
.
.
.
.
"S-Sasuke-kun kau tidak makan bento?" tanya Hinata ketika dia makan siang bersama Naruto, Sakura, Ino dan Sasuke.
"Hn," jawab Sasuke masih dalam posisi tidurnya.
"Bagaimana dia bisa lapar Hinata-chan?" jawab Naruto dengan mulut yang penuh makanan. "Di rumah dia minum sampai 5 liter per hari sampai-sampai jatah 1 bulan habis dalam 2 minggu karenanya."
"Memangnya dengan minum begitu banyak Sasuke-kun bisa kenyang seharian? Apa yang diminum Sasuke-kun? Juice?" tanya Hinata bingung.
"Tentu saja da...""Pletakk..." Jitakan Sai yang baru saja datang mendarat mulus diatas kepala pirang Naruto. "Apa-apaan kau Sai." Ujar Naruto seraya mengelus-ngelus kepalanya yang mulai keluar benjol.
Sai hanya tersenyum membalasnya." Hinata-chibi kau dipanggil Kurenai-sensei di ruangannya."
"Arigatou Sai-kun." Hinata segera membereskan kotak makannya lalu berdiri." A-aku duluan minna."
Sepeninggalan Hinata keadaan menjadi sunyi bahkan Naruto pun berhenti makan dengan berisik. Setelah makanan habis Naruto memandang Sasuke yang tampak tidur walau dia yakin Sasuke pasti takkan bisa tidur diudara terbuka seperti ini.
"Hei Teme, kau belum memberitahu Hinata-chan?"
"Untuk apa Dobe?"
"Kau tau, semakin kau menghindar maka keinginan itu sebenarnya semakin menggerogotimu. Saat ini memang kau masih bisa menahannya dengan makan sebanyak-banyaknya tapi bagaimana kalau stoknya habis atau kau melihat Hinata terluka luar? Aku tak yakin kau akan bisa menahannya."
"Kurasa benar yang dikatakan Naruto-kun, Sasuke-kun." Sambung Sakura. " Aku pun awalnya memang merasa syok saat Naruto-kun mengatakannya secara langsung padaku tapi kalau tidak demikian Naruto-kun pasti sangat tersiksa karena harus terus menahan diri didekatku. Tetapi juga tidak bisa menjauh karena itu."
"Aku tidak pernah menginginkan Hinata," kata Sasuke datar.
"Kau bohong." Timpal Sai.
"Aku tak perlu kemampuan membaca pikiran untuk tau kalau kau menginginkan Hinata-chan, Sasuke-kun," kata Ino." Matamu yang biasanya terlihat hampa dan kesepian terkadang terlihat peduli tetapi juga kelaparan saat memandang Hinata-chan."
Sasuke semakin tertohok oleh ucapan Sai dan Ino. " Kalau aku memang menginginkannya kenapa? Itu urusanku kan?" tanya Sasuke tajam.
"Itu memang urusanmu Sasuke. Tapi selama ini kami merasa khawatir karena kau tak pernah tertarik sebelumnya. Sampai-sampai aku mengira mungkin kau bisa-bisa tertarik dengan lawan jenis. Aku merasa akhirnya kau terlihat normal juga setelah selama ini terlihat seperti manusia tanpa hati." Jawab Sai dengan wajah tanpa dosanya.
"Aku tak ingin kalau Hinata sampai masuk kedalam lingkaran setan ini. Kalian tau kalau 'Dia' pasti tidak akan pernah mengizinkanku bahagia! Dan itu bisa menyeret Hinata kedalamnya."
"Tapi setiap orang berhak berbahagia Sasuk-kun. Aku tak pernah melihatmu begitu protektif terhadap sesuatu sampai saat ini. Kau sampai mengawasi Hinata-chan diam-diam." Kata Ino dengan menatap Sasuke yang masih saja tertunduk.
"I... itu karena dia terlalu ceroboh dan sering kali terluka karena kecerobohannya sendiri." Sangkal Sasuke.
"Itu artinya kau peduli Sasuke-kun." Timpal Sakura.
"Akuilah apa Hinata-chan, Sasu-teme!"
Sasuke menatap tajam satu persatu semuannya. " Tidak akan. Aku berbeda dengan kalian. Aku tak ingin Hinata terseret olehku karena pasti 'Dia' tidak akan membiarkanku bahagia. Aku tak ingin Hinata dalam bahaya karenaku. Kalau itu sampai terjadi aku tidak akan memaafkan diriku seperti waktu itu."
Kemudian Sasuke beranjak pergi meninggalkan atap membuat yang lain hanya menatap iba kepadanya. Hingga akhirnya bel berdering ke empatnya masih tetap terdiam satu sama lain dan mulai meninggalkan atap. Tanpa mereka sadari sepeninggalnya mereka tak ada yang menyadari kalau ada sepasang mata yang mengawasi mereka dari tadi. Lalu menatap geram gadis berambut indigo yang dilihatnya dari atas penampungan air sedang berjalan dihalaman.
"Awas kau Hinata!" Desisnya.
To Be Continue...
A/N : Arigatou Minna telah mengizinkan fic ini tetap berlanjut. Sebenarnya status daku masih Hiatus tapi karena fic ini telah selesai daku ketik dan edit jadi daku publish. Diwaktu yang benar-benar tak daku duga. Untuk fic lainnya harap sabar ya...
Thanks To :Kyoneka Denerve Is Me(Kamu periviewpertama loh^_^), Shichanhallyu(Salam kenal jugadan Arigatou atas pujiannya. Jadi malu^_^), Mizukichan Aino Yuki(Makasih atas favenya Kichan. Dan tak perlu memanggilku senpai kita kan diangkatan yang sama. Arigatou reviewnya.^_^), uchihyuu nagisa(Daku juga suka vamfic. Untuk pertanyaanmu akan kita jawab di chap-chap berikutnya^O^. Arigatou reviewnya.), hyuuchiha prinka(Arigatou atas koreksinya, maklum author suka banget ningalin Typo's. Arigatou atas reviewnya.^_^), ika chan(Ini udah update, gimana bagus nggak? Emang dikit mirip ama Twilight ya? Mungkin juga sih kan idenya emang dari sana tapi daku nggak copy-paste kok. Arigatou atas reviewnya.^_^), Lollytha-chan(Arigatou favenya. Salam kenal juga Loly-chan. Ini udah update.^_^), OraRi HinaRa(Arigatou atas koreksinya Orari-chan. Yang ini gimana? Udah mendingan belum Typonya? Kayaknya nggak deh.^_^a Arigatou atas reviewnya.), Miyuki Yurara(Salam kenal juga Miyuki. Untuk pertanyaanmu akan dijawab chap akhir sepertinya. Arigatou reviewnya.^_^), sasuhina always in my heart(Wow nick namemu daku suka deh. Perasaan Twilight adegan disana gak termasuk mesum loh menurutku-devil laugh-kalau baca Vampire Suck baru menurutku sedikit berbahaya. Disini Sasu-chan bukan Edward kok. Arigatou atas reviewnya.^_^), Ai HinataLawliet (Rate M? Kayaknya semi-M bisa soalnya ada adegan True Blood yang daku ambil chap selanjutnya. Arigatou atas reviewnya.^_^), melpichan(Daku juga suka. Ni udah up-date. Arigatou atas reviewnya.^_^).
Gomen kalau ada kesalahan penulisan nama. Untuk kemajuan penulis, MindTo Review? Klik tombol hijau-hijau dibawah.
