Kemudian Sasuke beranjak pergi meninggalkan atap membuat yang lain hanya menatap iba kepadanya. Akhirnya bel berdering ke empatnya yang masih tetap terdiam satu sama lain dan mulai meninggalkan atap. Tanpa mereka sadari sepeninggalnya mereka tak menyadari kalau ada sepasang mata yang mengawasi mereka dari tadi. Lalu sosok itu menatap tajam gadis berambut indigo di bawahnya dari atas penampungan air.
"Awas kau Hinata!" Desisnya tajam kemudian menghilang bagai angin.
Hari telah beranjak sore saat Hinata telah selesai menyusun alat-alat di lab biologi, bahkan matahari telah terbenam beberapa saat lalu.
"Terima kasih Hinata, kau telah membantu," kata Kurenai dengan mengelap keringat yang menetes dari pelipisnya. "Maaf ya kalau sensei merepotkanmu."
"T-tidak apa-apa sensei. Aku senang bisa membantu sensei."
Kurenai tersenyum mendengar perkataan salah satu murid kesayangannya ini. "Hari sudah malam Hinata, sebaiknya kau ku antar pulang saja. Bagaimana?"
"Tak perlu sensei, apartementku tak jauh dari sini. Lagipula Asuma-sensei pasti menunggu sensei di rumah," ujar Hinata sambil tersenyum lembut.
"Baiklah Hinata. Tapi kau harus hati-hati di jalan ya."
"Ha'i sensei."
Hinata berjalan sendiri dalam gelapnya malam. Takut? Tentu saja Hinata takut dengan jalanan gelap yang di laluinya ini. Tetapi, bukan kegelapan yang membuat Hinata bergidik takut dengan tengkuknya yang terus merinding. Dia merasakan perasaan yang sama saat Okaa-sannya meninggal saat ini. Sama persis. Perasaan janggal yang tak bisa Hinata jelaskan karena begitu aneh, seperti instingnya terhadap sesuatu yang sangat berbahaya tengah mengintainya.
Hinata mempercepat langkah kaki menuju apartementnya dengan perasaan gelisah. Tanpa Hinata sadari derap langkah yang begitu cepat tak terdengar mendekat kearahnya dan tiba-tiba saja menghunuskan kunai tepat diperutnya sebelah kiri.
"Aaakkhh..." jerit Hinata yang kemudian terduduk lemas memegangi luka di perutnya yang mengeluarkan darah. Matanya tertuju pada sosok berambut merah yang menusuknya tadi. "K-kau siapa?"
.
.
.
Dislaimer :
Naruto Masashi Kisimoto
Moonlight Eclipse by Tsubasa XasllitaDioz
Warning: AU, OOC-maybe-, Typo's and Vamfic.
Pairing: Sasuke x Hinata, slight NaruSaku, SaiIno.
Summary: Kedatangan siswa baru bernama Sasuke Uchiha begitu menarik perhatian Hinata. Bukan karena Sasuke tampan bagai jelmaan dewa. Karena ada sesuatu yang terselubung di balik matanya yang pekat bagai lubang hitam itu menariknya. Dan ketika Hinata mengetahui kalau dia telah terjebak dalam dunia vampire, dia tahu tak akan ada jalan kembali.
.
.
.
Chapter 3: I Know Now!
.
.
.
"K-kau siapa?" tanya Hinata terbata.
"Kau tak perlu tau siapa aku," ujar sosok wanita berambut merah tersebut. Sosok itu melangkah maju, dapat Hinata lihat sosok tersebut begitu cantik, berambut merah panjang dan menggunakan pakaian seraba hitam yang membuat kulit putih pucatnya begitu kontras.
"Apa maumu dariku? Kenapa kau tiba-tiba menusukku?" Hinata memegangi lukanya yang terus mengeluarkan darah dan terasa sangat sakit.
Gadis itu tersenyum licik. "Yang kuinginkan darimu adalah kematianmu hingga darahmu tak tersisa barang setetes pun." Dia mengancungkan kunainya yang penuh dengan darah Hinata.
.
.
.
"Sasuke-kun kau kemana saja sejak pelajaran terakhir tadi? Apa kau mengawasi Hinata lagi?" tanya Inoketika akhirnya berhasil menemukan Sasuke setelah menghilang dari atap sekolah, sedang berada di atas atap rumah memandangi langit tanpa bulan.
"Hn, tidak kemana-kemana hanya tidur di kamar," jawabnya datar.
"Ku kira kau mengawasi Hinata-chan karena dia pasti pulang malam hari ini."
"Kenapa?" Sasuke mengalihkan pandangannya dari langit memandang Ino dengan tatapan tajam.
"Kenapa apa?" tanya Ino bingung.
"Kenapa Hinata harus pulang telat?"
"Itu karena Hinata-chan membantu Kurenai-sensei menyusun alat lab yang baru datang. Ku kira kau akan mengawasi Hinata seperti biasa jadi ku tinggal dia di sekolah."
"Apa Karin ada di rumah?"
"Tidak tau. Tapi dari tadi pagi aku memang belum bertemu Karin."
Tanpa perlu waktu lama Sasuke langsung keluar melompat dari atap. Pantas saja dari tadi perasaannya merasa tak enak.
"Sasuke-kun mau kemana kau?" tanya Ino yang tentu saja tak dijawab Sasuke karena Sasuke tak terlihat lagi.
.
.
.
Gadis itu berjalan mendekati Hinata dengan kunai terancung di tangannya. Hinata ingin bergerak menjauh tapi tenaganya telah terkuras habis oleh rasa sakit yang semakin menjadi-jadi daan darah yang terus keluar dari luka tusukan itu. Membuat seragam sekolahnya telah di penuhi darahnya. Kunai yang berlumur darah itu mengarah ke wajah Hinata, si gadis berambut merah itu menggunakan ujung tajam kunainya untuk menggores wajah putih Hinata. Membuat Hinata merintih kesakitan.
"Apa yang bagus darimu? Apa yang lebih darimu? Apa yang menarik darimu? Sehingga tuanku sangat harus begitu menarik diri untuk tidak memakanmu. Menghabisi nyawamu yang tak berarti seperti manusia lainnya, kau hanya makanan tak berharga."
"A-apa maksudmu? S-siapa k-kau sebenarnya?"
Gadis itu menyeringai. "Kami adalah makhluk dengan derajat tertinggi di muka bumi ini. Makhluk sempurna tanpa cela, penguasa sebenarnya di muka bumi. Kami terlahir begitu sempurna, begitu kuat dan predator tertinggi di puncak makanan."
"A-apa maksudmu?" wajah Hinata mulai memucat kehabisan darah.
"Apa kau tak tau? Padahal teman-temanmu pun sama denganku."Dia menatap Hinata dengan pandangan meremehkan. " Kami vampire."
"K-kau bercanda?" Hinata menatap tak percaya.
Gadis itu tertawa. "Untuk apa aku bercanda denganmu yang sebentar lagi akan mati di tanganku." Kemudian gadis itu menendang wajah Hinata. Membuat Hinata tersungkur ke tanah.
"K-kenapa k-kau i...ingin membunuhku? A-apa... aku pernah ber... salah padamu?" tanya Hinata terengah, dia merasakan perih di seluruh wajahnya. Dapat dia rasakan darah segar mengalir dari hidungnya yang terkena telak tendangan gadis itu.
"Keberadaanmu. Keberadaanmu saja telah menjadi kesalahan terbesar. Kau membuat Sasuke-sama tersiksa karena darahmu yang tak berarti itu," jawabnya emosi. "Kalau aku membunuhmu, maka Sasuke-sama tak perlu menderita lagi."
"S-Sasuke-kun...? A-apa hu..bungannya de..nganku?" Hinata tertatih-tatih mencoba bangkit berdiri.
"Kau tidak tau bagaimana Sasuke-sama menderita menahan rasa hausnya jika berada di dekatmu. Sampai-sampai dia menolak meminum darahku karena darahmu, KARENA ITU KAU HARUS DILENYAPKAN." Teriaknya emosi.
"K-kau ter..lalu tinggi menilai keberadaanku di mata Sasuke-kun." Hinata berkata lirih.
"Kuhabisi kau." Gadis itu menyerang Hinata dengan kunai di tangannya. Hinata hanya bisa pasrah menunggu rasa sakit itu datang menghabisi nyawanya yang tidak begitu penting. Paling tidak dia nanti akan bertemu dengan Okaa-sannya di sana, begitu yang dipikirkan Hinata. Tetapi, rasa sakit yang di tunggunya tak kunjung datang juga. Membuat Hinata perlahan membuka matanya.
"Sasuke-kun." Hinata terkejut melihat Sasuke berada di depannya, sedangkan gadis berambut merah tadi jatuh tertunduk menabrak tembok jauh di depan. Tercetak bekas benturan yang sangat keras di tembok belakang gadis itu.
"Karin, bukankah telah kuperingatkan kau jangan pernah ikut campur dalam urusanku," kata Sasuke emosi, mata onyxnya pun telah berubah menjadi merah bagaikan batu ruby.
Perempuan bernama Karin itu tertatih berdiri. "T-tapi Sasuke-sama, aku hanya tak ingin melihat anda tersiksa lebih lama hanya karena seonggok manusia tak berharga seperti itu."
Sasuke mendelik tajam. "Itu urusanku dan lagi kau bilang Hinata tak jauh lebih berharga dari seonggok manusia. Itu salah! Karena manusia lebih baik dari kita dalam beberapa hal."
"Tapi manusia hanya makanan bagi kita, tidak lebih! Jadi lebih baik aku selesaikan saat ini juga, Sasuke-sama." Karin tiba-tiba menghilang dari pandangan Sasuke dan Hinata. Sasuke mencari ke segala arah, dia benci dengan salah satu kemampuan Karin ini. Karin dapat menyembunyikan pancaran cakranya hingga sulit untuk mendeteksi kemana arah datangnya perempuan itu. Apalagi dengan gerakannya yang tersembunyi sering membuat Karin menjadi salah satu mata-mata terbaik di klan Uchiha dulu.
Dengan tiba-tiba saja Karin telah berada di belakang Hinata lalu menusuk pinggang Hinata dari belakang. Membuat Hinata jatuh dan kesadarannya mulai hilang.
Karin tersenyum melihat Hinata ambruk di depannya lalu tersenyum pada Sasuke. "Dengan begini bereskan Sas...'JLEB!'" suatu pedang transparan panjang menusuk Karin tepat di dada sebelah kirinya. Sasuke kemudian maju membuat pedang transparannya menembus dada kiri Karin, darah mengalir deras dari luka tersebut. Lalu pedang itu menghilang begitu saja, membuat Karin tergeletak tak sadarkan diri.
Sasuke buru-buru menggendong Hinata kedalam pelukannya. Membawanya menuju apartement Hinata, tidak peduli pada Karin yang mungkin akan mati.
Sesampai di apartement Hinata, Sasuke membaringkan Hinata di sofa ruang tamu.
"Hinata... Hinata sadarlah," panggil Sasuke. Tak ada jawaban dari Hinata. Sasuke dapat mendengar dengan jelas suara jantung Hinata yang semakin lemah. Dan lagi, perlu seluruh penguasaan diri yang Sasuke miliki untuk dapat menahan diri agar tidak menghisap darah Hinata sekarang juga yang pastinya dapat membuat keadaan Hinata semakin parah kalau itu terjadi.
Melihat Hinata tak kunjung juga membuka matanya dan jantung Hinata yang semakin terdengar samar. Sasuke menggigit pergelangan tangannya, membuat darah segar mengalir dari pergelangan tangannya kemudian ia mendekatkan aliran darah di pergelangan tangannya di bibir Hinata. Membiarkan darahnya mengalir masuk ke dalam mulut Hinata.
"Hinata cepat minum," katanya pelan. Hinata telah tak sadarkan diri lagi hingga darah Sasuke hanya mengalir ke pinggir bibirnya. Sasuke meminum sendiri darah di tangannya, menahan darah itu di dalam mulutnya kemudian menempelkan bibir Hinata pada bibirnya. Dengan menggunakan lidahnya perlahan darah Sasuke mengalir masuk ke dalam mulut Hinata, Sasuke terus mengulangi itu sampai Hinata dapat meneguk darah yang di berikan Sasuke melalui mulutnya sendiri.
Bibir Sasuke merah di penuhi darahnya sendiri terlihat tersenyum karena nafas Hinata yang tadinya berat telah terdengar ringan dan jantung Hinata yang sebelumnya menggelepar lemah kini mulai berdetak normal. Perlahan Sasuke membuka blazer seragam Hinata yang berlumuran darah dan menyibak seragam kemaja Hinata di atas perutnya. Sasuke mendekati luka akibat tusukan Karin di perut kiri Hinata dan menjilat luka Hinata yang berlumuran darah itu.
Jilata-jilatan Sasuke itu membuat luka Hinata lebih cepat menutup. Tetapi efeknya Sasuke tak dapat berhenti menjilati darah Hinata di sekujur tubuh Hinata yang terluka. Setelah seluruh darah di perut Hinata bersih, Sasuke beralih pada wajah Hinata yang terluka cukup dalam walau berkat darah yang Sasuke berikan lukanya mulai menutup tetap saja Sasuke menjilati darah yang ada di wajah Hinata. Sasuke mendekatkan bibirnya di wajah Hinata mengecupnya pelan, terlihat dari mata Sasuke yang telah menjadi merah pertanda dia menikmatinya. Sasuke mengeluarkan lidahnya untuk membersihkan darah Hinata yang begitu nikmat yang selalu berusaha dia hindari selama ini. Benar kata Naruto kalau Sasuke pastinya tak akan bisa menahan diri kalau Hinata akan terluka seperti ini.
Walaupun wajah Hinata telah bersih Sasuke tak juga menarik bibirnya yang mulai mengecup setiap inchi wajah Hinata kemudian mencium bibir Hinata. Bibir Sasuke perlahan memanggut bibir mungil Hinata, kalau Hinata sedang sadarkan diri bisa di pastikan dia akan pingsan lagi di tempat karena Sasuke menciumnya begitu intens, tanpa jeda. Setelah puas mencium bibir Hinata, bibir Sasuke perlahan turun menuju leher jenjang Hinata yang begitu putih dan membuatnya tergoda untuk meminum darah Hinata dari sana. Apalagi urat-urat arteri itu berdenyut-denyut begitu menggoda. Kedua gigi taring panjangnya yang selalu tersembunyi keluar bersiap untuk menggigit leher putih Hinata. Sedikit lagi, tapi Sasuke buru-buru menarik diri. Sadar akan apa yang akan dia perbuat akan berakibat sangat fatal, bagi Hinata dan juga bagi Sasuke.
"Apa yang kulakukan?" ujarnya pelan.
"Ukh..." erang Hinata perlahan ia membuka matanya dan kesadarannya terkumpul sedikit demi sedikit. "S-Sasuke-kun. Sedang apa disini? Kenapa aku telah sampai di apartement bu.. bukankah a..." jari telunjuk Sasuke menutup bibir Hinata.
"Pelan-pelan saja Hinata kau belum pulih benar."
"Ta.. tapi bukankah aku seharusnya terluka parah?"
"Itu karena darahku. Nanti saja ku jelaskan kau istirahatlah."
Hinata pun menurut dan mulai memejamkan matanya, tangan Hinata menggenggam erat tangan Sasuke. "Berjanjilah kau akan tetap a-ada disini saat a-aku bangun Sasuke-kun."
Sasuke tersenyum kemudian mengecup kening Hinata. "Hn, aku janji jadi tidurlah."
"Umm.." Hinata pun tertidur nyenyak karena kejadia hari ini sungguh membuatnya lelah.
.
.
.
Hari selanjutnya, Minggu.
03.00 Pagi.
Kediaman Uzumaki.
Naruto berkeliling rumahnya yang begitu luas,mencari tanda-tanda kehidupan di rumah warisan keluarganya yang begitu sepi. Betapa bodohnya, apa Naruto lupa kalau tidak ada yang benar-benar hidup di rumahnya ini? Naruto menepuk kepalanya menyadari kebodohannya. Setelah berpikir beberapa saat Naruto menemukan dimana kemungkinan dia bisa menemukan penghuni rumah.
Di ruang TV Ino dan Sai tampak sedang berciuman mesra disofa. Seperti pagi-pagi biasanya. Untungnya Naruto selalu bangun kesiangan hingga tak selalu melihat rutinitas pagi mereka berdua yang menurutnya menjijikan.
"Hoi.. ini masih pagi dan kalian telah sibuk memakan bibir masing-masing," kata Naruto dengan tampang rubahnya yang tampak mengerenyit jijik. Sedangkan Ino dan Sai bukannya berhenti malah hanya menatap datar Naruto dan memperdalam ciumannya.
Merasa diacuhkan Naruto langsung melompat didepan keduanya, mendarat dengan mulus diatas meja ruang TV dan menatap kedua pasangan itu dengan tatapan bosan. Sekian menit Naruto tetap di tempatnya menatap Sai serta Ino, sampai akhirnya Ino merasa risih karena tatapan Naruto yang menurutnya begitu mengganggu. Ino menghentikan ciumannya dengan Sai, walau tampaknya Sai tak suka ciumannya diintrupsi oleh kedatangan Naruto, dia hanya menatap sebentar Naruto dan mulai menciumi leher jenjang Ino.
"Kau kenapa Baka? Tak biasanya kau bangun sepagi ini. Sungguh mengganggu," kata Ino dengan tatapan marah.
"Apa kalian tak lihat Teme? Aku tak melihatnya setelah pulang sekolah dan ketika ku cari di kamarnya pagi ini, dia juga tak ada."
"Kurasa tak perlu. Itu dia di belakangmu." Ino menunjuk sosok gelap di belakang Naruto.
Naruto berbalik. "Teme kau darimana saja? Aku mencarimu dari tadi."
"Aku perlu bantuan kalian untuk membereskan Karin. Dia membuat ulah dengan mencoba membunuh Hinata," kata Sasuke tak peduli dengan pertanyaan Naruto.
"Apa?" teriak ketiganya bersamaan.
"Dimana Karin sekarang?" tanya Sai.
"Di taman dekat apartement Hinata."
"Bagaimana keadaan Hinata-chan, Sasuke-kun?" Ino tampak panik.
"Dia baik-baik saja. Aku berhasil menyelamatkannya di saat yang tepat."Sasuke menatap semua yang ada di ruangan. "Kalian bereskan Karin. Entah bagaimana baiknya dia diapakan, untuk baiknya panggil Kakashi juga."
"Baik Sasuke-kun." Mendengar jawaban dari Ino, Sasuke berbalik bersiap untuk pergi.
"Kau mau kemana Teme?" teriak Naruto dengan suara cemprengnya.
"Hn, apartement Hinata." Sasuke langsung menghilang secepat dia datang tadi.
Ketiganya saling berpandangan. "Ternyata benar sekali dugaanku. Untung Teme bergerak cepat,"ujar Naruto dengan gaya detektifnya yang langsung mendapat jitakan gratis dari Ino.
"Sejak kapan kau punya dugaan Baka? Yang aku tau kau hanya meretoki Sasuke-kun."
"Ittai Ino-chan." Naruto meringgis memegangi benjol di kepalanya.
"Sudahlah kita harus cepat membereskan Karin. kalau tidak mungkin saja Karin akan melapor pada 'Dia' tentang hal ini. Dan itu dapat membahayakan nyawa Hinata," kata Sai menatap keduanya dengan serius. "Naruto sebaiknya kau cari Kakashi-san dan ceritakan padanya apa yang terjadi lalu menyusul kami di taman."
"Roger." Naruto segera berlari dari ruangan itu.
"Kita sebaiknya segera pergi Ino."
"Baik Sai-kun." Lalu keduanya menghilang bagai angin.
Minggu, 09.00 pagi.
Hinata PoV
Sekujur tubuhku terasa begitu letih begitu berat untuk di gerakkan. Perlahan ku coba membuka kelopak mataku yang pertama ku lihat adalah atap kamarku yang telah penuh dengan cahaya. Setelah menggeliat pelan membuat beberapa bagian tubuhku terasa sedikit nyeri aku melangkah memasuki kamar mandi. Ketika aku bercermin di kamar mandi dapat ku lihat bekas-bekas darah kering disekitar wajahku, walau sedikit tetap saja dapat ku lihat. Tunggu dulu! Kalau dipikir-pikir kenapa aku bisa berada di dalam apartemantku? Bukankah tadi malam aku diserang seorang wanita bernama Karin lalu kemudian aku ditolong oleh Sasuke? Tapi kemana luka-luka yang diberikan oleh Karin? Begitu banyak pertanyaan didalam kepalaku tapi ku yakin ada satu orang yang dapat menjawab pertanyaan ini. Sasuke-kun.
Dengan cepat ku selesaikan ritual mandi dan berpakaianku dengan cepat. Ketika aku keluar dari kamar samar, aku mencium aroma harum yang begitu enak. Pancake. Sesampai di ruang makan yang terletak dekat dengan dapur, kulihat Sasuke-kun telah duduk di kursi meja makan dengan Pancake dan segelas susu di meja seberangnya.
"Duduklah dan habiskan sarapanmu," katanya datar seperti biasa tapi aku menyukainya. Uupss.. bu..bukan suka seperti yang kalian bayangkan. Kurasakan wajahku memanas karena ucapanku sendiri yang bahkan tidak kukatakan.
"Kenapa?"
"T-tidak ada a-apa-apa S-Sasuke-kun." Kutarik salah kursi yang ada di hadapan Sasuke-kun lalu mulai menyuapkan pancake kedalam mulutku dan rasanya... "Enak sekali Sasuke-kun! Kau belajar darimana membuat ini?"
"Tv," jawabnya begitu singkat tetapi begitulah ciri khasnya. Setelah menandaskan seluruh pancake serta susunya membuatku kembali terpikirkan akan kejadian semalam. Apa baiknya ku tanyakan saja pada Sasuke-kun?
"Ada yang ingin kau tanyakan Hinata?" sontak pertanyaan Sasuke membuatku kaget. Apa dia bisa membaca pikiranku atau aku yang memang terlalu mudah ditebak?
"A-ano Sasuke-kun, apa aku boleh bertanya?"
"Hn." Ok, kuanggap sebagai boleh.
"Apakah yang terjadi semalam itu mimpi atau bukan?"
Dapat kulihat Sasuke mendengus mendengar pertanyaanku. "Bukan."
"L-lalu apakah kau tau siapa yang menyerangku semalam?"
Mata onyx Sasuke mematapku dalam. "Namanya Karin, dia bekas anggota klanku dulu."
"L-lalu apa maksud Karin-san menyerangku? Dan apa benar Sasuke-kun... vampire?" dapat kurasakan kegelisahan dalam mata onyx Sasuke.
"Itu benar." Sasuke menunduk. "dan Karin menyerangmu karena aku merasa tersiksa karena darahmu. Mungkin dia cemburu akan hal itu."
Entah kenapa wajahku terasa memanas."K-kenapa darahku membuatmu tersiksa, Sasuke-kun? Dan lagi kenapa Karin-san harus merasa cemburu?"
Kenapa Karin harus merasa cemburu? Ayolah, dia begitu sempurna. Cantik, anggun, kuat bahkan suaranya pun terdengar begitu indah walau dia sedang menyerangku. Sedangkan aku hanya bagai itik buruk rupa dibandingkan dengannya.
Sasuke mengangkat wajahnya beranjak menuju jendela besar di ruang tamu yang masih tertutup tirai, menyingkapnya sedikit lalu memandang keluar diantara celah-celahnya. Aku pun melangkah mengikuti Sasuke.
"Apa yang kau tentang vampire?"
"K-kalau menurut film atau pun buku yang ku tau, vampire itu makhluk yang begitu kuat, begitu cepat dan begitu sempurna. Aku bahkan sampai tak bisa menjelaskan kesempurnaannya."
Sasuke mendengus. "Apa kau tidak tau apa yang kami makan?"
"Umm.. Darah," jawabku cepat.
Sasuke menghadapkan tubuhnya didepanku, membuatku harus mendongak untuk melihatnya. "Apa kau tidak takut padaku?" tanyanya kemudian.
"Kenapa aku harus takut padamu?"
"Dilihat dari apa yang aku makan seharusnya kau tau bahwa aku seorang vampire, tang aku makan adalah darah manusia. Aku telah membunuh banyak orang hanya karena rasa lapar ini," kata Sasuke penuh emosi yang tak pernah kulihat sebelimnya. "Seharusnya kau mendengarkanku saat aku menyuruhmu untuk menjauhiku karena bisa saja aku menyerangmu bukan Karin kemarin. Bisa dipastikan kau takkan hidup hari ini.."
"Tapi itu tidak terjadi kan?" potongku. "Kau melindungiku dari Karin dan itu cukup membuktikan kalau Sasuke-kun bukan pembunuh. Aku tak pernah menyesal dekat dengan Sasuke-kun apa pun kau."
Sasuke meletakkan tangan dinginnya dipipiku lalu jemarinya mengelus pelan seperti memeriksa luka kemarin yang ditorehkan oleh Karin.
"Kau tak tau bagaimana kalau aku telah lepas kendali. Begitu mudah bagiku untuk merobek kulit halusmu ini hanya karena aku tak bisa mengontrol kekuatanku hanya karena aku ingin mengelusmu. Atau meremukan tulangmu karena memelukmu terlalu kuat." Jemari Sasuke yang dingin menyentuh leherku. "Dan bisa saja aku menerkamu hingga kau kehabisan darah tepat dilehermu."
"Ja-jadi itu alasan Sasuke-kun dulu menjauhiku? Kalau memang darahku, tubuhku, bahkan kehadiranku begitu mengaggumu." Kusibakkan rambutku dari leher. "Kau bisa membunuhku di sini kalau itu bisa membuat Sasuke-kun nyaman." Aku tersenyum tulus.
Sasuke mendekatkan wajahnya ke arah leherku bersiap dengan kemungkinan kalau mungkin akan mati hari ini. Kalau memang kehadiranku begitu menyusahkan bagi Sasuke dan ketiadaanku berarti membantu Sasuke. Tak masalah kalau aku mati di tangannya karena paling tidak aku bisa bersama Kaa-san di sana. Tapi, yang kurasakan adalah kecupan lembut bibir Sasuke di ruas leherku.
"Tidak akan pernah ku lakukan karena melihat bayang kematianmu didepanku kemarin membuatku telah menyingkirkan rasa hausku." Sasuke menarikku kedalam pelukannya dan bibirnya mengecup pelan bagian leherku yang lain. "Aku mungkin akan ikut mati kalau kau tak ada disini lagi disisiku. Walau darahmu, aromamu dan tubuhmu bagaikan heroin bagiku. Begitu memabukan tapi juga berbahaya, aku tak bisa menjauh darimu."
Dadaku terasa sesak. Bukan karena pelukan Sasuke tapi karena ucapan dari Sasuke, membuatku merasa kalau aku begitu berarti. Hatiku terasa menghangat mendengarnya.
"Arigatou Sasuke-kun." Aku menenggelamkan wajahku dalam pelukan Sasuke. "A-ano Sasuke-kun kalau boleh tau kenapa da-darahku bisa menarik perhatianmu?"
"Aku juga tak tau pasti tapi saat pertama bertemu denganmu, aromamu langsung menarikku begitu saja."
"Apa semua vampire begitu?" aku tak tau kalau ternyata darahku ada efek begitu.
"Tidak. Ada 4 jenis darah yang diinginkan para vampire. Pertama, darah vampire kelas bangsawan karena darah juga daging kelas bangsawan dapat membuat para vampire atau pun manusia bertambah kuat. Kedua, darah vampire yang lebih kuat dari vampire itu sendiri. Ketiga, darah manusia yang masih murni walau telah dewasa. Keempat, darah orang yang kita cintai."
"L-lalu aku termasuk yang mana Sasuke-kun?"
"Ketiga mungkin."
"T-tapi waktu Kaa-sanku meninggal, aku mengkosumsi banyak obat tidur hingga tak mungkin darahku masih bersih."
Sasuke menyeringai. Terkadang aku tak begitu suka saat Sasuke menyeringai seperti ini. "Kalau begitu yang keempat dan kau milikku selamanya. Kau tak diperbolehkan menolak."
Eeehh...?
To Be Continue...
A/N: Akhirnya chap 3 udah up-date. Aku harus buru-buru up-date sebelum puasa datang jadi maaf kalau masih berantakan. Kalau ada yang tak kalian mengerti minna bisa PM daku ataupun tanya di Fbku. Dan jangan lupa bagi SasuHina Lovers untuk bergabung di Sasu Hina (Devil and Angel) dan mari kita rayakan SasuHina Day Lovers.
Akhir kata Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang merayakannya dan mohon maaf kalau Tsubasa ada salah.^_^V
Pojokan Review: Sasuhina always in my heart(Iniudah up-date. Gak usah malu kayak itu aii.. Setelah chap ini apa masih mirip Edward? Dikit mirip gak apa? Arigatou udah review.^_^), uchihyuu nagisa (Yang menggeram udah tau kan? Itu Karin. Untuk 'Dia' itu masih rahasia sampai chapnya nanti. Dan seluruh pertanyaanmu nanti akan terjawab chap selanjutnya. Sabar ya. Arigatou udah review and favenya.^_^), KeiKo-buu89 (Nih udah gak pernah jatuh cinta kok Keiko. Arigatou udah review.^_^), Ika chan (Yang melukai Hime udah tau kan? Yap, Karin. Arigatou udah review.^_^), mery-chan (Hehe..Gomen ne baru up-date. Nih yang ketiganya udah keluar semoga suka. Arigatou udah review.^_^), Ai Hinata Lawliet (Nanti Ai-chan semua pertanyaanmu akan terjawab dengan komplit dichap-chap selanjutnya. Arigatou udah review.^_^), Kimidori Hana (Makasih atas koreksinya, gimana yang ini kurang dimana saja? Daku masih perlu koreksinya nih. Arigatou udah review.^_^), Lollytha-chan (Nih udah up-date. Arigatou udah review.^_^), Kaka(Nih udah up-date. Arigatou udah review.^_^), Deani Shiroonna Hyouichiffer (Nanti akan terjawab Deani-san di chap-chap selanjutnya secara bertahap. Sabar ya.. Arigatou udah review.^_^), hina-chan (Gak ada masalah antara Sasu Hina dimasa lalu kok. Cuma Sasu aja yang ada sedikit masalah di masa lalu Arigatou udah review.^_^), choco momo (Namamu bikin aku pingin makan coklat deh. Manis banget.^_^. Makasih pujiannya. Dan ini udah up-date terkilat. Arigatou udah review.^_^), Crimson Fruit (Kakashi yang jadi vampire? Tunggulah chap selanjutnya. Arigatou udah review.^_^), OraRi HinaRa (Yang chap ini gimana Orari-chan? Massih ada yang kurang? Kalau penulisan daku masih amat sangat perlu koreksi. Arigatou udah review.^_^), n (Jadi bingung mau ngomong udah review.^_^), harunaru chan muach (Salam kenal juga haru-senpai. Senang deh haru-senpai mau review, mohon bantuannya ne senpai. Arigatou udah review.^_^)
Maaf kalau ada salah penulisan nama. Mind to review? Please...
