Sudah satu bulan setelah kedatangan Hinata dan Sasuke. Kelas X-2 pun kembali mendapat julukan kelas terberisik. Memang sebelum ada Hinata dan Sasuke kelas tersebut sudah berisik dengan adanya Naruto dan sohib berisiknya, Inuzuka Kiba, namun setelah muncul Sasuke, kelas semakin berisik dengan teriakan para gadis.

Angel and Devil

By: Riiku Hikari

Disclaimer: Masashi Kishimoto

.

2: Suka, Cinta, dan Sayang

.

"Anak-anak, sekarang kita akan kocok tempat duduknya. Ketua kelas, tolong edarkan undiannya," perintah Kakashi selaku wali kelas X-2.

"Hn, merepotkan," kata si ketua kelas, Nara Shikamaru, dengan malas.

"Hinata-chan, kau dapat nomor berapa?" tanya Sakura.

"Ummm.. 24, kau Sakura-chan?" balas Hinata.

"14. Wah, kita depan-depanan!" kata Sakura senang.

"Aku di sebelahmu, jidat lebar," ledek Ino.

"Diam kau, Ino," kata Sakura kesal.

"Kau duduk dengan siapa, Hinata?" tanya Ino.

"Tidak tau," balas Hinata.

"Kalau tidak salah, nomor 25 itu-"

"Yah, Sasuke nomor 25. Aku tidak duduk di sebelah Sasuke deh!" ucap seorang gadis.

Sakura, Ino, dan Hinata saling berpandangan.

"Kyaaa... Belakangku Sasuke!" teriak Ino.

"Serong kiriku Sasuke!" teriak Sakura juga.

"Cih, kenapa aku duduk di sekitar orang berisik sih?" umpat Sasuke.

Sungguh malang nasibmu, Sasuke. Awal masuk duduk di sebelah biang ribut. Sekarang, depannya adalah seorang Data Bank dan serong kanannya adalah salah satu fansnya. Sadarlah Sasuke bahwa sebelahmu itu bukan fansmu.

Hinata hanya menghela nafas. Ia yakin pasti setelah jam pelajaran selesai, Ino dan Sakura langsung hadap belakang untuk memandang pangeran kelas X-2 itu.

Benar kata Hinata. Setelah bel istirahat berbunyi, Ino dan Sakura langsung hadap belakang untuk menghujani Sasuke dengan beribu-ribu pertanyaan.

Sasuke hanya mendengus kesal dengan perlakuan dua makhluk di depannya tersebut. Sasuke berharap bahwa orang di sampingnya itu membantunya keluar dari hujan pertanyaan Ino dan Sakura.

"Sakura-chan, aku mau ke kantin ya," kata Hinata sambil berdiri dari duduknya.

"Ah, aku ikut Hinata-chan!" kata Sakura yang ikut bangkit dari duduknya.

"Benar juga. Aku kan sudah niat mau beli jus strawberry hari ini! Aku ikut kalian ya," kata Ino dan bangkit dari duduknya.

Sasuke bernafas lega. Ia harus berterima kasih kepada Hinata yang telah menyelamatkannya secara tidak langsung. Tapi, apa kalian pikir Sasuke akan terang-terangan berterima kasih? Apalagi dia itu Devil. Tentu saja dia tidak akan berterima kasih. Sasuke hanya bersyukur saja bisa keluar dari masalah menjengkelkan itu.

Begitu Sakura, Ino, dan Hinata meninggalkan kelas, Sasuke berjalan keluar kelas menuju atap sekolah. Mungkin saja ia menemukan hal menarik di sana.

Benar firasat Sasuke. Dari atas atap, ia bisa melihat seorang gadis tengah menyatakan perasaannya kepada seorang pemuda di depannya. Sasuke menyeringai. Ia keluarkan sayap hitamnya yang ia sembunyikan dan menaburkan serbuk hitam di atas dua insan tersebut.

"Aku menolaknya,"

"Ta-tapi,"

"Tidak ada hal penting lagi kan? Aku mau kembali ke kelas,"

Sang gadis menangis sedangkan Sasuke yang menyaksikannya hanya tersenyum puas.

DEG!

Hinata menegang seketika. Baru saja ia merasakan aura Devil di sekolahnya.

"Ada apa Hinata-chan?" tanya Sakura yang masih asyik dengan pocky di mulutnya.

"Ti-tidak. Tidak apa-apa. Hanya seperti merasa sesuatu," balas Hinata dan kembali meminum es teh manisnya.

"Oh. Eh, kalian berdua, aku duluan ya!" kata Ino sambil meninggalkan Hinata dan Sakura.

"Iya,"

"Sakura," panggil seorang pemuda berambut merah dengan sebuah tato di atas matanya.

"Ah, Gaara-kun. Ada apa?" tanya Sakura dengan wajah memerah.

"Nanti ada rapat OSIS. Jangan lupa datang!" balas Gaara kemudian pergi meninggalkan Hinata dan sakura.

"Gaara-kun," ucap Sakura pelan.

"Kau suka padanya, Sakura-chan?" tanya Hinata to the point.

"Ah... Errr.. Gimana ya.. Umm... Akan kuceritakan nanti. Aku malu menceritakannya di sini!" kata Sakura salting.

"Baiklah,"

"Sekarang, ayo kita kembali ke kelas!"

Kemudian, Sakura dan Hinata kembali ke kelas. Di kelas, Ino sudah duduk menghadap Sasuke yang sudah kembali dari atap.

"Sakura, Hinata, kalian sudah kembali ya. Kalian tau tidak, kata Sasuke dia suka tomat lho!" kata Ino sambil membaca catatan di buku kecilnya.

"Lalu? Lalu?" kata Sakura bersemangat.

Hinata hanya menghela nafas dan duduk di tempatnya.

"Sakura-chan, Ino-chan, Anko-sensei sudah datang," kata Hinata sambil melirik ke arah pintu kelas.

"Uh,padahal aku baru mau menanyakan hal paling menarik ke Sasuke-kun!" kata Ino kesal.

"Hinata, nanti aku mau cerita padamu di atap," bisik Sakura kemudian duduk ke tempatnya.

Sepanjang pelajaran Anko, seluruh murid memperhatikan dengan benar. Bahkan Naruto dan Kiba yang biang ribut pun juga terdiam.

Saat-saat menegangkan pun selesai dengan berbunyinya bel istirahat makan siang. Seluruh murid berhamburan menuju ke kantin, ada juga yang langsung buka forum sambil makan bersama.

"Ayo, Hinata. Akan kuceritakan di atap," kata Sakura sambil menarik lengan Hinata.

"Eh, iya tunggu sebentar, Sakura-chan," uca Hinata.

"Mereka kenapa sih? Ah tidak penting, lalu Sasuke-kun, apa kau punya saudara?" kata Ino melanjutkan introgasinya.

...

"Jadi?"

"Umm... Begini... Sebenarnya sudah sejak masuk sini aku menyukai Gaara-kun, ah, mungkin lebih tepatnya mencintai," kata Sakura dengan wajahnya yang semerah kepiting rebus.

"Memang apa bedanya 'suka' dengan 'cinta'?" tanya Hinata polos.

"Kau belum pernah menyukai seseorang?" tanya Sakura balik sebelum menjawab pertanyaan Hinata.

"Belum," jawab Hinata.

"Umm... Bagaimana ya menjelaskannya. Menurutku sih kalau suka lebih mendekati dengan kagum atau sesuatu yang kita anggap nikmat, enak, atau sejenisnyalah. Kalau cinta sih di atasnya suka. Kalau suka belum tentu cinta, sedangkan kalau cinta pasti suka. Ya, itu sih menurutku," jawab Sakura.

"Lalu apa bedanya dengan sayang?" tanya Hinata lagi.

"Aduh Hinata, aku bingung menjawab pertanyaanmu. Yang pasti sayang itu lebih kompleks daripada suka ataupun cinta. Itu menurutku. Tapi kau akan bisa menemukannya kalau kau sendiri yang merasakannya," balas Sakura.

"Begitu ya. Arigatou, Sakura-chan," kata Hinata sambil tersenyum.

"Sama-sama,"

"Oh iya Sakura-chan. Tentang kau dan Gaara, aku mendukung kalian," ucap Hinata.

"Arigatou, Hinata-chan!" kata Sakura senang sembari memeluk Hinata.

Kemudian mereka menghabiskan waktu di atas atap sambil bercanda gurau. Tak jarang mereka saling tukar lauk makanan mereka.

"Oh iya Hinata-chan, kau beli di mana gelangmu?" tanya Sakura.

Hinata diam sejenak. Memandang gelang yang ia gunakan.

"Ini pemberian orang," jawab Hinata pelan.

"Siapa? Siapa? Cowok?" tanya Sakura lagi dengan hebohnya.

"Dari ibuku. Semacam gelang turun-temurun," jawab Hinata.

"Eh, gelang secantik itu gelang turun-temurun. Ah, aku jadi ingin punya gelang cantik seperti itu," kata Sakura.

Hinata hanya tersenyum miris kemudian menatap gelangnya.

"Hinata-chan, ayo kita kembali ke kelas," kata Sakura sambil merapikan posisinya.

"Iya,"

...

"Kalian dari mana? Aku mendapat informasi banyak sekali lho!" kata Ino dengan bangga.

"Iya, iya, Nona Data Bank," sindir Sakura.

"Apaan sih kau, jidat lebar!" sindir Ino tak mau kalah.

"Sudahlah kalian berdua," ucap Hinata mencoba meleraikan mereka.

"Dasar berisik," ucap Sasuke pelan yang terganggu dengan pertengkaran kecil Ino dan Sakura.

"Kyaaa.. Sasuke bicara!" teriak Ino dan Sakura.

'Sakura-chan nge-fans sama Uchiha-san tapi cinta sama Gaara. Manusia memang susah dimengerti!' batin Hinata.

'Kapan sih aku bisa hidup tanpa teriakan para perempuan?' batin Sasuke.

'Sepertinya tugas ini akan lama,' batin Sasuke dan Hinata bersamaan, walau tidak ada yang menyadarinya.

Tak terasa waktu telah berjalan dan sekarang sudah waktunya pulang sekolah. Seluruh murid, guru, serta karyawan langsung sibuk membereskan barang-barang mereka untuk segera pulang ke rumah. Namun kegiatan seperti itu diabaikan begitu saja oleh Sasuke maupun Hinata. Tugas mereka bukanlah pulang sekolah, namun melaksanakan misi mereka masing-masing.

To Be Continue...

Selesai sudah chapter 2... Maaf karena ini masih bagian dari pembukaan cerita ini. Aku mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Zoroutecchi, Hyou Hyouichiffer, hyuuchi perry dreams, Lollytha-chan,Botol Pasir, Chipoet, dan keiKo-buu89 yang sudah mendukungku untuk melanjutkan cerita ini. Untuk pertanyaan Hyou Hyouichiffer tentang gelang Hinata akan kubahas di chapter 3. Aku juga baru sadar kalo soal Angel dan Devil lebih cocok buat Hirumamo. Hiruma itu emang tampang devil sih.. Untuk hyuuchi perry dreams, aku lagi gak ada ide buat cerita yang happy ending nih... Pokoknya terima kasih banget buat nama-nama di atas.

Sekian dan terima kasih serta mohon reviewnya...