Pagi hari di sebuah kamar apartemen nomor 30. Penghuni kamar tersebut tengah mempersiapkan diri menuju sekolahnya. Begitu ia membuka pintu apartemennya, ia menemukan sebuah kotak hitam bergambar ular ungu di depan pintu. Ia menyeringai kecil dan mengambil kotak tersebut, bermaksud membuka kotaknya nanti.

Angel and Devil

By: Riiku Hikari

Disclaimer: Masashi Kishimoto

.

3: Cinta yang Tulus

.

Sasuke, penghuni kamar apartemen nomor 30 tersebut membuka kotak hitam itu ketika diperjalanan. Ia menemukan sebuah pulpen berwarna hitam dan sebuah kertas kecil. Ia mengambil kertas tersebut dan membacanya.

Untuk Devil nomor 2307, Uchiha Sasuke

Untuk meringankan tugasmu, Orochimaru-sama memberikan hadiah ini kepadamu. Ini bukan sekedar pulpen biasa. Pulpen ini dapat membuatmu transparan dan menyembunyikan aura Devilmu supaya tidak mudah diketahui para Angel.

Pergunakan pulpen ini sebaik-baiknya.

PS: Pulpen ini juga bisa digunakan untuk menulis.

Sasuke hanya meletakkan pulpen hitam itu ke saku blazernya. Hanya sebuah pulpen hitam tidak akan menimbulkan kecurigaan bukan.

Begitu Sasuke tiba di gerbang sekolahnya, ia dikejutkan dengan teriakan para fansnya yang menyambut kedatangannya. Tentu saja Sasuke tidak menunjukkan ekspresi keterkejutannya dan menghiraukan fansnya tersebut. Ia lebih ingin segera tiba di kelas. Walau di kelas juga berisik, tapi tidak seberisik di luar sekolah.

"Lalu, lalu, aku memintanya datang ke belakang sekolah nanti siang!"

Perkataan Sakura tadi adalah hal yang pertama kali ia dengar begitu ia duduk di tempat duduknya.

"Kau ingin aku melakukan apa, Sakura-chan?" tanya Hinata.

"Hehehe... Kau tau saja aku mau minta sesuatu. Aku ingin kau menyemangatiku nanti dari atap sekolah. Ya, please~" jawab Sakura.

Hinata nampak berpikir. Sedangkan sosok pemuda berambut raven yang daritadi mencuri dengar percakapan mereka hanya menyeringai.

'Lumayan untuk menguji pulpen ini,' ucap Sasuke dalam hati.

"Tapi sebelum itu, boleh aku tanya sesuatu?" kata Hinata.

"Silakan,"

"Apa kau-"

TENG TENG

"Nanti kita lanjutkan ya, sebelum aku menemui 'dia'," kata Sakura dengan wajah memerah.

"Kalian ini bicara tentang apa sih?" tanya Ino.

"R-A-H-A-S-I-A," balas Sakura.

"Huh,"

...

"Nah Hinata-chan, apa yang ingin kau katakan?" tanya Sakura.

"Ah.. Ummm... Ano... Apa kau benar-benar mencintai Gaara dengan tulus?"

"Eh? Te-tentu saja iya. Memangnya kenapa kau bertanya seperti itu?"

"A-Aku hanya tidak ingin kau patah hati, Sakura-chan," balas Hinata.

"Ukh, kau sungguh baik, Hinata-chan! Yosh, aku juga tidak akan mengecewakanmu! Ayo ke pos kita masing-masing!" kata Sakura sambil berjalan menjauhi Hinata, menuju halaman belakang sekolah.

Hinata yang sudah berada jauh dari Sakura langsung berjalan menuju atap sekolah. Tanpa diketahui Hinata maupun Sakura, Sasuke membututi mereka daritadi, dengan wujud Devilnya.

'Sepertinya pulpen ini berfungsi dengan baik,' batin Sasuke dan berjalan membuntuti Hinata.

Hinata tiba di atap sekolah dan menepi melihat ke arah halaman belakang sekolah. Di sana, ia dapati Sakura yang berdiri dengan gugupnya menunggu seseorang. Tak lama kemudian, seorang pemuda berambut merah datang ke tempat Sakura. Ialah Sabaku no Gaara.

"Kenapa kau memanggilku, Sakura?" tanya Gaara.

Sakura menelan ludahnya dan memandang Hinata yang berada di atas atap.

"A-aku ingin mengatakan sesuatu," balas Sakura.

Gaara hanya menatap Sakura. Ia semakin heran dengan gadis pink di depannya itu.

"Se-sebenarnya, aku... Aku me-men-menc-mencintaimu!" kata Sakura dengan susah payah.

Sasuke yang melihat itu menyeringai, ia taburi lagi serbuk hitam ke atas Sakura dan Gaara.

Hinata yang melihat serbuk-serbuk hitam itu terbelalak kaget.

'Gawat! Kenapa aku tidak menyadarinya?'

"Ingat baik-baik Hinata, cinta yang tulus memiliki kekuatan yang melebihi apapun,"

Hinata memejamkan matanya. Jujur saja ia tidak sanggup melihat kelanjutan dari aksi Sakura tersebut.

"A-Aku tulus mencintaimu. Mungkin benar aku adalah fans Sasuke, tapi itu hanyalah sebatas fans. Ya-yang kucintai itu kau, Gaara-kun!" ucap Sakura lantang, walau sedikit terbata-bata.

Hinata kaget mendengar ucapan Sakura. Serbuk-serbuk hitam dari Sasuke tiba-tiba terpental. Hal tersebut langsung membuat Sasuke kaget.

'Apa ada Angel di sekitar sini?' batin Sasuke.

"Aku juga," balas Gaara.

Detik berikutnya Gaara dan Sakura saling berpelukan. Merasa bahagia karena cintanya terbalaskan.

Sakura menatap Hinata sambil tersenyum lebar. Sedangkan Hinata hanya membalas Sakura dengan senyum juga.

Sasuke memandang pemandangan tersebut dengan kesal. Bagaimana mungkin ia gagal dalam misi kecil-kecilan seperti ini.

BRUUK

Sasuke tersentak dan melirik ke arah Hinata. Gadis indigo tersebut telah terduduk lemas dengan suksesnya, dan menghembuskan nafas panjang.

"Kau benar-benar membuatku khawatir, Sakura-chan," ucap Hinata pelan sambil tersenyum lembut.

Jantung Sasuke mendadak bekerja semakin cepat dan tidak beraturan, membuatnya memegangi dadanya yang terasa panas.

"Aku kenapa?" tanya Sasuke heran pada dirinya sendiri.

Sasuke yang tadinya melayang di udara turun ke belakang tangki air dan me-non-aktifkan transparan modenya.

"Sedang apa kau di situ?" tanya Sasuke yang keluar dari persembunyiannya.

"Ah, U-Uchiha-san. A-aku hanya-"

"Menonton temanmu, eh?" potong Sasuke.

"Ti-tidak, hanya menjadi supportnya saja," elak Hinata.

"Itu gelangmu?" tanya Sasuke sambil menunjuk gelang Hinata.

"I-iya," balas Hinata.

"Gelang itu membuatku kesal,"

"Kupikir kau akan mengatakan ba-bagus, tapi ternyata ki-kita sependapat," kata Hinata tersenyum miris.

Sasuke hanya mengangkat sebelah alisnya. Sependapat dengannya?

"Kenapa kau memakainya?"

"Gelang ini ba-bagaikan belenggu. A-aku seperti burung dalam sangkar," ucap Hinata.

"Hn?"

Hinata yang merasa Sasuke minta penjelasan lebih hanya menghela nafas. Berdiri agar menyamakan posisinya dengan Sasuke dan mengamati Sakura yang kini tengah menggenggam tangan Gaara.

"Gelang ini adalah gelang turun-temurun keluargaku. Gelang ini adalah sebuah bencana tersendiri untuk keluargaku. Dahulu leluhurku terlilit perjanjian dengan salah satu keluarga kaya raya. Isi perjanjian itu adalah, jika salah satu dari keluargaku melahirkan seorang anak perempuan, akan dijodohkan dengan laki-laki keturunan keluarga kaya raya tersebut, begitu pula kebalikannya," terang Hinata.

Jantung Sasuke kembali berdetak tidak karuan. Seperti ada rasa tidak terima mendengar penjelasan Hinata tentang gelang tersebut.

"Jadi?"

Hinata hanya tersenyum miris. Hinata tau apa maksud dari perkataan singkat Sasuke.

"Ya. Aku sudah dijodohkan, dengan pemuda yang sama sekali tidak kucintai," kata Hinata menahan tangisnya.

Entah kenapa gagap bin gugup Hinata lenyap seketika, jadi Hinata bisa berbicara dengan lancar, tidak terbata-bata seperti biasa.

"Aku selalu teringat pesan ibuku, di hari terakhirnya,"

Flashback (10 tahun yang lalu)

"Hinata,"

"Ada apa, bu? Apa ibu menginginkan sesuatu?" tanya Hinata.

Ibu Hinata tengah terbaring lemah di sebelah Hinata. Tubuhnya tidak bisa digerakkan sama sekali karena terkena serangan lawan. Memang hanya luka kecil, namun ternyata musuhnya memiliki kemampuan untuk memanipulasi racun dan membuat ibu Hinata terbaring lemah.

"Tidak, ibu hanya ingin meng- ah menceritakan sesuatu padamu," jawab ibu Hinata.

"Ibu, jangan banyak bicara dulu," kata Hinata khawatir.

"Ini penting,Hinata. Kau tau, dulu ibu tidak mencintai ayahmu sama sekali?" kata ibu Hinata.

Pernyataan ibunya membuat Hinata terdiam kaget. Ibunya tidak mencintai ayahnya?

"Karena perjanjian konyol itu, ibu menikahi ayahmu. Dulu ibu mencintai seorang Devil. Memang bodoh, tapi itulah yang ibu rasakan saat itu. Sampai saatnya ibu harus menerima kenyataan bahwa ibu harus menikahi ayahmu," terang ibu Hinata.

"Cukup," kata Hinata lirih, ia tidak kuat mendengarnya.

"Namun ayahmu mencintai ibu setulus hati, tidak ada paksaan sama sekali. Bahkan ayahmu sempat ingin bicara pada orang tua kami jika ibu tidak menyetujui pernikahan kami. Akhirnya ibu mencoba untuk menjalani semuanya, dan mencoba mencintai ayahmu. Hari-hari bersama ayahmu benar-benar menyadarkan ibu bahwa cinta ayahmu yang tulus dapat merubah hati ibu," lanjut beliau.

"Kenapa ibu menceritakan ini kepadaku?" tanya Hinata sambil menangis.

"Ingat baik-baik Hinata, cinta yang tulus memiliki kekuatan yang melebihi apapun. Ibu hanya bisa berharap, penderitaanmu akan segera berakhir karena gelang itu," balas ibu Hinata dan akhirnya menghembuskan nafasnya untuk terakhir kalinya.

Flashback End

Hinata meneteskan air matanya, membuat Sasuke sedikit terkejut.

"Ma-maaf Uchiha-san," kata Hinata sambil mencoba menghapus air matanya.

"Sasuke,"

Hinata menatap Sasuke heran.

"Panggil saja Sasuke," kata Sasuke sambil menepuk pelan kepala Hinata.

Jujur saja, Sasuke bergerak tanpa sadar. Begitu tersadar, Sasuke langsung menarik tangannya kembali dari kepala Hinata. Ia sendiri bingung kenapa ia melakukan hal semacam itu.

"Ibuku bilang, cinta yang tulus melebihi apapun. Aku hanya berharap akan datang hari dimana belenggu ini lepas," kata Hinata pelan.

Hinata menatap langit biru di atasnya dan tersenyum manis.

"Arigatou, Sasuke-kun. Maaf telah menceritakan hal aneh kepadamu," kata Hinata.

"Hn. Sebaiknya kita kembali ke kelas," kata Sasuke diikuti anggukan Hinata.

'Aku harap yang melepaskan belenggu ini dariku adalah seseorang yang tulus mencintaiku,' batin Hinata.

...

"Hah, padahal aku sudah senang karena menjadi wali kelas dengan murid tersedikit di sini, namun sepertinya aku bernasib sial," kata Kakashi di depan kelas.

"Memangnya ada apa Kakashi-sensei?" tanya Sakura.

"Apa ada murid baru lagi?" tanya Ino antusias.

"Pertanyaanmu sudah di jawab Yamanaka-san, Haruno-san," jawab Kakashi.

"Ha? Lagi?" kata murid kelas X-2 serempak, minus Hinata, Sakura, Sasuke, dan Ino.

"Yah, silakan masuk dan perkenalkan dirimu," ujar Kakashi malas.

Pintu kelas pun bergeser dan masuklah pemuda berambut merah bata yang membuat para gadis kembali memekik, minus Hinata dan Sakura.

Mata Hinata membulat dengan suksesnya. Tangannya naik menutup mulutnya. Tubuhnya bergetar hebat. Reaksi Hinata tertangkap oleh mata onyx Sasuke. Sasuke yang heran dengan perubahan Hinata memandang si murid baru kemudian memandang Hinata lagi.

"Mu-mustahil," kata Hinata nyaris tak bersuara, namun dapat didengar oleh Sasuke.

"Namaku Akasuna no Sasori. Salam kenal semuanya,"

To Be Continue...

Yap, selesai juga chapter 3. Apakah sudah jelas soal gelang yang Hinata punya? Di chapter ini aku juga sudah mulai memunculkan problemnya. Maaf ya kalau memang belum dapat feelnya. Aku juga tidak menyangka kalau chapter ini lebih panjang daripada dua chapter sebelumnya.

Untuk keiKo-buu89, apa cerita di atas sudah termasuk dalam kategori romancemu? Untuk Yhatikaze-kun, Sasuke dan Hinata tinggal di apartemen, tapi aku belum kasih tau ya Hinata itu di kamar apartemen nomor berapa... dan untuk Lollytha-chan, terima kasih ^^... Untuk finestabc, namanya juga Devil, jelas aja Sasuke jahat.

Sekian dan terima kasih serta mohon reviewnya...