Pemuda berambut merah tersebut tersenyum ke seluruh penjuru kelas. Senyumannya berubah menjadi seringai begitu melihat Hinata yang menundukkan kepalanya. Sasuke yang menyadari tatapan pemuda itu kepada Hinata hanya mendengus pelan.

'Akasuna no Sasori, huh. Benar-benar menyebalkan tampangnya,' batin Sasuke.

Devil and Angel

By: Riiku Hikari

Disclaimer: Masashi Kishimoto

.

4: Mulainya Peperangan

.

"Nah, Akasuna, kau duduk di sebelah ketua kelas kita, dia yang sedang tidur di dekat pintu belakang," ujar Kakashi malas.

"He? Kenapa tidak menyuruh Shikamaru mengangkat tangan sepertiku dan Sakura waktu itu?" protes Naruto.

"Tentu saja karena ketua kelasmu sedang berlibur ke alam mimpi, Uzumaki," balas Kakashi.

"Huh, menyebalkan,"

Sasori hanya berjalan menuju bangkunya. Sesekali ia melirik Hinata yang pura-pura tidak mempedulikannya. Sasori kembali menyeringai. Sebuah ide terlintas di kepalanya.

"Kau kenal dia?" suara Sasuke sempat mengagetkan Hinata yang terlihat gelisah.

Hinata hanya tersenyum kecut.

"Ya, aku sudah mengenalnya sejak lama," balas Hinata.

Sasuke menatap Hinata dan kembali melihat ke depan. Mendengarkan Kakashi yang tengah membahas meteri pelajarannya, Kimia.

Pelajaran tentang konsep mol yang diajarkan oleh Kakashi entah kenapa tidak masuk sama sekali ke otak Hinata. Ia terlalu sibuk memikirkan ketidaknyamanannya karena tiba-tiba Sasori muncul dan menjadi teman sekelasnya.

"Sekian dari saya. Jangan lupa kerjakan PR halaman 210 nomor 1,3,5,8,dan 10," ujar Kakashi lalu meninggalkan kelas.

"Hah, aku tidak mengerti sama sekali nih soal konsep mol!" kata Ino sambil mengangkat kedua tangannya.

"Aku juga! Pusing sekali!" sambung Sakura.

"Halah, kau kan bisa meminta tolong pada pacar barumu supaya kau diajarin tentang pelajaran memusingkan itu," ledek Ino.

"A-apa maksudmu, Ino?" tanya Sakura dengan wajah memerah.

"Jangan pura-pura. Kau baru saja menjadi pacarnya si Sabaku itu kan? Ini, aku punya foto kalian sedang berpelukan!" balas Ino sambil menunjukkan foto di HP flipnya.

Wajah Sakura benar-benar memerah dan langsung membuang muka. Ia benar-benar malu melihat foto tersebut. Kekuatan Ino si Data Bank memang tidak bisa diremehkan.

"Hinata,"

"Umm... Sa-Sasori-san? A-ada apa?" tanya Hinata.

"Temani aku berkeliling!" balas Sasori dan langsung menarik lengan Hinata.

"Tu-tunggu dulu,"

Sayang, Hinata langsung terseret keluar kelas oleh Sasori yang memang lebih kuat daripada Hinata. Sasori cowok sih...

"Ih, apa-apaan tuh murid baru, main tarik Hinata aja. Padahal kan aku mau mengajaknya ke sesuatu tempat!" kata Sakura kesal.

"Mentang-mentang ya, jadi pandanganmu akan cowok keren menyempit!" sindir Ino.

"Berisik kau, Ino!" balas Sakura.

...

"Sasori-san, kau mau membawaku kemana?" tanya Hinata.

"Ke atas!" balas Sasori.

"Lalu, apa yang membuatmu kemari?" tanya Hinata lagi.

"Nanti saja kuberitahu!" balas Sasori.

Tanpa mereka sadari, Sasuke mengikuti dari belakang. Tentunya dengan menggunakan pulpen pemberian Orochimaru.

"Nah, kita sampai," kata Sasori sambil tersenyum.

"Jadi?"

"Itukah sikapmu pada tunanganmu ini?" tanya Sasori sinis.

DEG!

Sasuke membelalakkan matanya mendengar perkataan Sasori tadi.

'Si rambut merah itu? Tunangan yang dimaksud Hinata?' batin Sasuke.

Hinata hanya terdiam sambil menunduk. Tangan kirinya memegangi lengan kanannya. Ia tak sanggup menatap Sasori kali ini.

"Kenapa kau diam saja, huh?" tanya Sasori.

"Aku-"

"Sedang apa kalian di sini?" tanya Sasuke tiba-tiba dari arah pintu.

Tentu saja Sasuke telah mematikan fungsi dari pulpennya itu.

Sasori menatap Sasuke tajam, begitu pula Sasuke. Perang deathglare pun terjadi diantara mereka. Hinata hanya memandang dua pemuda di depannya dengan cemas. Jangan-jangan...

"Memangnya kenapa? Bukan urusanmu kan?" kata Sasori.

"Ini tempat biasaku!" balas Sasuke.

Tuh kan, firasat Hinata benar. Sasori dan Sasuke memulai perang mulutnya.

"Huh, baiklah aku pergi. Ayo Hinata!" kata Sasori sambil menarik lengan Hinata.

Hinata hanya pasrah ditarik oleh Sasori. Sekilas, Sasuke melihat Sasori menyeringai. Seringai yang entah kenapa membuat Sasuke kesal.

BLAAAM!

Pintu pun tertutup. Sasuke hanya memandang langit biru di atasnya. Teringat akan hal buruk setelah melihat seringai Sasori tadi.

Flashback

Perang Angel dan Devil yang ke 3 sudah mencapai puncaknya. Sasuke terus melawan musuhnya yang mengganggu dirinya. Entah kenapa ia merasa sangat gelisah. Sasuke melesat maju menuju sebuah air terjun dekat dengan perbatasan wilayah Angel dan Devil. Semakin dekat, pereasaan gelisah Sasuke semakin menjadi-jadi. Hingga saat ia tak jauh lagi dari air terjun tersebut...

BRUUUK!

Sebuah tubuh jatuh dari atas langit. Orang tersebut mirip dengan Sasuke, hanya saja rambutnya lebih panjang, dengan luka di hidungnya. Tubuhnya berumuran darah dan sayap hitamnya sudah hancur. Bulu-bulu sayapnya rontok satu persatu.

"Itachi," kata Sasuke kaget.

Ya, Uchiha Itachi, kakak Sasuke, kini muncul di hadapan Sasuke dengan keadaan yang tidak meyakinkan lagi. Tak jauh dari Itachi, Sasuke menemukan jasad ayah dan ibunya. Jasad ayahnya yang berada di sebuah batu besar dekat air terjun dan jasad ibunya yang tertimpa reruntuhan batu.

Itachi yang menyadari keberadaan Sasuke langsung mengarahkan tangan kirinya ke arah Sasuke. Daam sekejap tubuh Sasuke teah masuk ke dalam gelembung hitam yang tidak bisa dideteksi keberadaannya. Ya, itu adalah kemampuan khusus milik Itachi, menyembunyikan aura bahkan bentuk fisik sesuatu, dan lagi, hanya itachi yang bisa menghilangkan pengaruh kekuatannya itu. Wajar kan? Itu kan kemampuan itachi.

"Sial kau. Dasar kakak br*****k," kata Sasuke kesal.

Sasuke berusaha keluar dari gelembung milik Itachi dengan memukul-mukul gelembung tersebut. Namun hasilnya nihil.

JLEEEB!

Mata Sasuke sukses membulat. Dilihatnya kakak satu-satunya tersebut tertusuk oleh tombak tepat di jantungnya. Sasuke langsung memandang ke atas. Dilihatnya seorang Angel dengan jubahnya yang telah berlumuran darah. Ia menyeringai. Rambut merahnya sedikit terlihat oleh Sasuke. Si Angel tersebut turun dan melepaskan tombaknya dari Itachi dengan kasar. Setelah itu pergi entah kemana. Gelembung Itachi tiba-tiba pecah. Sasuke hanya jatuh lemas di tempat. Jika gelembung itu pecah, berarti Itachi...

TEWAS.

Sasuke hanya mengepalkan tangannya. Merutuki hal yang dilakukan kakak satu-satunya itu. Kenapa kakaknya harus melindungi dirinya?

Flashback End

...

Sasuke sedang berjalan menusuri jalan setapak yang tidak terlalu banyak orangnya. Pandangannya kosong mengingat masa lalunya tersebut.

"Melamun, eh, Uchiha?"

"Mau apa kau?"

"Jangan kasar begitu dong. Aku ke sini atas perintah Orochimaru-sama. Perang antara Devil dan Angel sudah mencapai tingkat akhir. Besok adalah perang besarnya. Kuharap malam ini kau sudah kembali ke Devil Land," kata pria berambut putih berkacamata bernama Kabuto itu kemudian menghilang di balik kerumunan orang.

"Sudah dimulai ya," ujar Sasuke pelan.

"Lho, U- ah Sasuke-kun, sedang apa di sini?" tanya seorang gadis yang ia kenal.

Rambut indigo panjangnya tentu saja membuat Sasuke langsung mengenalinya. Ya, siapa lagi kalau bukan Hinata.

"Jalan-jalan," balas Sasuke.

"Oh,"

Keheningan tercipta diantara mereka. Tidak ada yang berinisiatif untuk membuka percakapan diantara mereka.

"Kau sendiri, Hyuuga?" tanya Sasuke akhirnya.

"Mencari makanan dan panggil saja aku Hinata," balas Hinata sambil tersenyum ke arah Sasuke.

Sasuke terdiam. Jantung Sasuke kembali berdetak dengan cepat.

"Ba-bagaimana ka-kalau kita makan bersama. Se-sebagai tanda maafku karena menceritakan hal aneh kepadamu," usul Hinata.

Hinata benar-benar gugup untuk mengajak Sasuke makan bersama. Sasuke hanya tersenyum tipis. Setidaknya itu lebih baik daripada harus menunggu malam seorang diri. Anggap saja sebagai kenang-kenangan terakhir sebelum kembali ke Devil Land.

"Baiklah,"

...

"Terima kasih ya, Sasuke-kun, kau mau menemaniku makan," kata Hinata sambil tersenyum lembut.

"Hn,"

"Baiklah, sampai jumpa lagi, jaa," kata Hinata sambil melambaikan tangannya.

Sasuke hanya menatap kepergian Hinata. Ada perasaan tidak rela saat ia harus berpisah dengan gadis berambut indigo itu. Apalagi mengingat bahwa ia harus kembali ke dunianya nanti malam.

Dengan kesal, Sasuke berjalan berlawanan arah dengan arah Hinata tadi pergi. Sasuke menerobos gerombolan-gerombolan orang dengan perasaan yang tidak karuan. Haruskah ia senang karena kemungkinan untuk membalaskan dendam keluarganya besar, ataukah kecewa karena ia harus meninggalkan gadis berambut indigo yang membuat jantungnya tidak terkontrol saat melihat senyumnya?

Lalu, perasaan itu perasaan apa?

Pertanyaan Sasuke yang sampai saat ini belum ia temukan jawabannya. Bertanya pada seseorang? Sungguh sangat tidak Uchiha.

"Kyaaa... Aku deg-degan banget waktu melihatnya tersenyum ke arahku," kata seorang siswi.

"wah, wah, sepertinya ada yang sedang jatuh cinta nih," ledek siswi lainnya.

"Ja-jangan begitu dong. Habis aku merasa nyaman dekat dengannya. Dia baik, ramah, juga hangat,"

"Iya, iya, cinta tidak mengenal sisi negatif. Aku heran kenapa kau bisa cinta sama musuh bebuyutanmu,"

"Ma-mana kutau,"

Lalu percakapan kedua siswi tersebut tidak terdengar agi di telinga Sasuke. Sasuke menguping?

Tentu saja tidak. Dia hanya tidak sengaja mendengar kok. Namun percakapan kedua siswi numpang lewat itu sukses membuat langkah Sasuke terhenti.

Apakah ia mencintai Hinata?

...

"Aku pulang,"

"Kau lama sekali, Hinata,"

"Se-sebenarnya apa tujuanmu ke sini? Kau bukan tipe orang yang tiba-tiba datang ha-hanya untuk hal kecil, kan?" tanya Hinata pada pemuda berambut merah di depannya.

"Yap, kau benar. Aku ke sini untuk menjemputmu. Besok perang besar antara Angel dengan Devil akan dimulai," jawab Sasori.

Hinata membelalakkan matanya.

"Secepat itu kah?"

To be Continue...

Yaaa... Selesai! Sebentar lagi cerita ini akan tamat. Maaf kalau alurnya kecepetan, karena memang aku bingung untuk mengisi apa lagi untuk memperpanjang jatah Hinata dan Sasuke di bumi. Mudah-mudahan dua chapter lagi tamat... Aku sempat heran sama chapter ini. Padahal di tengah-tengah otakku buntu gak ada ide, eh hasilnya malah gak kalah panjang dari chapter sebelumnya. Ya ampun...

Untuk para reviewer, terima kasih karena telah mendukungku untuk tetap melanjutkan cerita ini. Maaf karena kemalasanku untuk menulis nama para reviewer satu per satu. Aku ngetiknya sambil-sambilan sih... Lagi belajar buat remedial Fisika besok... TT_TT

Sekian dan terima kasih serta mohon reviewnya...