Kejadian beberapa saat yang lalu masih terekam di otak mereka. Mereka memang sudah saling mengenal. Akan tetapi, siapa sangka bahwa mereka bagaikan replika Romeo dan Juliet yang terpisah karena dua kubu yang saling bertarung. Walau mereka sudah bukan di tempat yang sama, akan tetapi, pikiran mereka sama.

'Kenapa jadi begini?'

Angel and Devil

By: Riiku Hikari

Disclaimer: Masashi Kishimoto

.

6: Last, Hyuuga Hinata VS Uchiha Sasuke

.

"Bagaimana aksi bantai membantaimu, Sasuke?" tanya Orochimaru.

Saat ini, baik Devil maupun Angel sedang beristirahat di base camp mereka masing-masing. Mengisi kembali tenaga dan mengobati luka-luka, serta makan dan tidur.

"Hn,"

"Apa kau sudah menemukan orang yang membantai keluargamu?" tanya Orochimaru lagi.

"Hn,"

"Hah, lebih baik kau istirahat. Aku kesal mendengar dua huruf yang selalu keluar dari mulutmu," kata Orochimaru.

"Hn,"

Sasuke segera beranjak dan pergi meninggalkan Orochimaru.

Kini Sasuke tengah duduk memandang bulan. Sesekali ia menatap kama ( sabit yang biasa dipakai dewa kematian ) yang menemaninya selama bertarung tadi.

Pikirannya menerawang ke seorang gadis berambut indigo panjang yang beberapa jam yang lalu ia temui, sebagai musuh Devil, Angel.

"Akh!" Sasuke mengacak-ngacak rambutnya tanda frustasi.

Matanya menuju ke tiga buah nisan di depannya.

"Tou-san, kaa-san, Itachi, aku sudah membunuh Angel yang membunuh kalian, aku merasa puas dan senang,"

Mata Sasuke masih tetap memandang ketiga nisan di depannya. Menarik nafas panjang untuk melanjutkan kalimatnya.

"Tapi begitu tau 'dia' adalah Angel-" kata-kata Sasuke ia biarkan menggantung begitu saja.

Sulit sekali ia deskripsikan perasaannya saat ini. Senang? Marah? Sedih? Kecewa? Ia sendiri tidak tau. Yang Sasuke dapat simpulkan adalah ia merasa tidak nyaman.

"Hah,"

...

"Hinata,"

"Ada apa, Tsunade-sama?"

"Sebenarnya ada yang ingin aku katakan," kata Tsunade.

"Langsung saja, Tsunade-sama,"

"Hah, setelah kontrakmu dengan keluarga Akasuna berakhir, aku harus memberitahumu sesuatu. Bukalah kotak ini!" kata Tsunade sambil menyodorkan sebuah kotak yang cukup besar.

Hinata membuka kotak tersebut secara perlahan. Betapa terkejutnya Hinata melihat isi kotak tersebut.

"Tsu-Tsunade-sama... Ini-"

"Busur turun temurun keluarga Hyuuga. Karena kontrak dengan Keluarga Akasuna, busur ini tidak digunakan, karena busur ini hanya dipakai pada klan Hyuuga yang bebas dari jeratan perjanjian apapun," terang Tsunade.

Hinata mengambil busur itu perlahan. Terlihat tua namun kualiitas masih terjaga.

"Besok, gunakanlah busur itu. Sekarang kau boleh istirahat," kata Tsunade.

"A-arigatou, Tsunade-sama," kata Hinata sembari membungkukkan badan.

Setelah itu, Hinata pergi meninggalkan Tsunade yang tersenyum penuh arti.

"Lihat saja Orochimaru. Kini Hyuuga telah bebas dari sangkarnya," kata Tsunade kemudian meneguk minuman di depannya.

...

Hinata berdiri di depan sebuah makam. Matanya terlihat sendu menatap makam tersebut.

"Sekarang aku sudah bebas. Padahal aku berharap ibu masih ada di sini dan memberikan langsung busur ini padaku," kata Hinata sedih.

Hinata memeluk erat busur yang baru saja ia dapatkan dari Tsunade tersebut.

"Perjanjian itu, saat keluarga Hyuuga sedang kritis dan keluarga Akasuna membantu. Tapi tidak ada yang menduga bahwa perjanjian itu sama dengan belenggu tersendiri,"

Hinata tersenyum miris mengingat saat-saat ia masih dalam belenggu keluarga Akasuna.

"Dalam pertempuran besok, aku akan membawa benda 'itu'. Aku sudah merasa perlu membawanya," lanjut Hinata.

Hinata meletakkan bunga bakung di atas makam sang ibu kemudian membalikkan badannya.

"Aku pergi dulu ya, ibu," kata Hinata kemudian berjalan menjauhi makam ibunya.

...

Hari telah berganti. Namun, peperangan masih berlanjut. Pasukan Angel mauun Devil kembali saling adu senjata.

Berbeda dengan pertempuran sebelumnya, Hinata kini terlihat tidak segan-segan menghabisi musuhnya. Bebannya sudah terlepas.

Walaupun demikian, Hinata tidak menerobos masuk ke dalam daerah musuh. Bagaimanapun juga posisi Hinata adalah sebagai deffend. Tugasnya bukanlah menerobos daerah lawan. Tugasnya adalah melindungi daerah Angel.

Lain halnya dengan Sasuke. Bagi para Devil, tidak ada kata deffend. Yang terpenting adalah menghabisi lawan di depannya. Jadi, semua Devil menyerbu pasukan Angel.

Suasana perang lebih mengcengkram dibandingkan sebelumnya. Para Devil semakin brutal menghabisi para Angel. Mereka tak segan-segan memenggal kepala, memutilasi, bahkan menghancurkan tubuh Angel di depan mereka.

Hinata merasa mual melihat pemandangan seperti itu. Ia segera pergi menjauh dari tempat pembunuhan sadis tersebut. Ia lebih memilih ke perbatasan wilayah Angel dan Devil, dimana ada air terjun dan sungai di sana.

Di tepi sungai, Hinata mencuci wajahnya. Menyegarkan kembali dirinya yang mual melihat pemandangan mengenaskan.

"Tak kusangka kita bertemu di sini, Hinata,"

Hinata mengangkat wajahnya. Ia dapati Sasuke kini berada di depannya, memegang kama miliknya.

"Sasuke-kun,"

"Bagaimanapun juga, tugasku adalah menghabisi Angel," kata Sasuke sambil berlari menerjang Hinata.

Hinata dengan sigap menahan serangan dari Sasuke.

"Begitu pula aku. Aku tidak akan mengecewakan Tsunade-sama," kata Hinata sambil membalas serangan Sasuke.

"Heh, seranganmu tidak akan mungkin bisa mengenaiku!" kata Sasuke sambil menangkis semua anak panah Hinata dengan kamanya.

Hinata hanya menyerang Sasuke kembali. Telinganya sudah kebal dengan ejekan bahkan sindiran dari musuhnya.

"Sekarang giliranku," kata Sasuke.

Sasuke maju dengan kecepatannya yang melebihi rata-rata membuat Hinata tidak bisa mengetahui dari mana Sasuke akan menyerang.

"Lambat,"

Dengan sekali gerakan, Sasuke dengan mudah melukai Hinata. Hinata yang terluka hanya menjauh dari Sasuke dan menyembuhkan dirinya dengan cepat.

"Cih,"

"Aku tidak boleh kalah,"

TRAAANG

Lagi-lagi, anak panah Hinata berhasil ditangkis oleh Sasuke.

"Kau tidak akan bisa melukaiku!" teriak Sasuke sambil menerjang Hinata.

Hinata terbang menjauhi Sasuke. Mencoba untuk menghindari serangan dari Sasuke. Hinata terbang menuju hutan. Namun usahanya untuk menghindari serangan Sasuke gagal. Lagi-lagi Hinata terkena serangan Sasuke.

"Kyaaa,"

Hinata terpental akibat serangan dari Sasuke. Ia hampir saja tertabrak tebing jika ia tidak segera terbang menjauh dari sana.

"Cih, refleks yang bagus,"

Hinata memulihkan diri kembali. Bagaimanapun juga Hinata tidak ingin mati terbunuh di sini, di saat ia baru saja terbebas dari 'sangkar'nya.

...

TRAAANG!

"Sepertinya utusanmu dan utusanku sudah saling bertempur," kata Tsunade.

"Khukhukhu, sekarang sepertinya mereka juga sedang bertarung seperti kita, Tsunade," lanjut Orochimaru.

"Heh, kita lihat saja siapa yang lebih kuat, utusanmu atau utusanku," tantang Tsunade.

"Khukhukhu, menarik,"

TRAAAANG!

Benturan senjata antara Orochimaru dan Tsunade kembali terjadi untuk yang kesekian kalinya.

'Kapan perang ini berakhir?' batin Tsunade.

...

TRAAANG!

Sasuke kembali menangkis anak panah milik Hinata, sedangkan Hinata mencoba kembali menyerang Sasuke.

'Kalau tidak kena juga berarti aku harus melakukan itu,' batin Hinata.

Hinata mengambil beberapa anak panah dan ia luncurkan anak panah-anak panah tersebut ke arah Sasuke. Berbeda dengan serangan-serangan sebelumnya, kali ini tempo Hinata menembak semakin cepat membuat Sasuke kewalahan menghindari banyaknya anak panah yang diluncurkan Hinata. Yang membuat Sasuke semakin kewalahan karena Hinata tidak hanya menembak pada satu sisi saja namun 360 derajat.

Sasuke yang lengah akhirnya tergores beberapa anak panah yang diluncurkan oleh Hinata.

"Cih, boleh juga kau,"

"Kena," kata Hinata senang.

Lagi-lagi, jantung Sasuke berdetak dengan kencang. Ia jadi teringat dengan percakapan duo nnnumpang lewat tempo hari. Dengan cepat ia tepis pikirannya. Saat ini yang harus ia lakukan adalah mengalahkan Hinata.

"Sepertinya aku harus serius," kata Sasuke.

"Aku juga akan serius, Sasuke-kun," kata Hinata.

TRAAAANG!

Untuk yang kesekian kalinya benturan antarsenjata terdengar di medan pertarungan.

...

"Hah... Hah..."

Baik Sasuke maupun Hinata kini telah mencapai batasnya. Walau Hinata bisa menyembuhkan diri kembali, tetap saja ia memiliki batasannya tersendiri. Pergerakan Sasuke juga tidak secepat tadi.

"Sudah kehabisan tenaga, heh," sindir Sasuke.

"Kau sendiri juga kan," balas Hinata.

Mereka saling bertatapan satu sama yang lain. Mengerti arti dari tatapan masing-masing, mereka menyiapkan diri untuk serangan berikutnya.

"Ini yang terakhir," kata Hinata pelan.

"Heh, kita lihat siapa yang akan bertahan," sambung Sasuke.

Sasuke melangkah maju, sedangkan Hinata kembali melancarkan anak panah miliknya.

TRAAANG!

Lagi-lagi serangan Hinata kembali ditangkis Sasuke. Hingga jarak antara Sasuke dengan Hinata sudah sangat dekat dan...

JLEEEB!

"Uhuk..."

"Cih, ternyata kau masih menyimpan senjata lainnya," ucap Sasuke.

"Hah... Hah... Ini cadangan. Tak kusangka aku akan memakainya," balas Hinata.

Posisi mereka saat ini adalah, Hinata yang tertusuk kama milik Sasuke dari belakang dan tepat mengenai jantungnya, serta Sasuke yang jantungnya juga tertusuk oleh pisau cadangan milik Hinata.

"Uhuk..."

Keduanya sama-sama memuntahkan darah dari mulut mereka.

"Dengan ini kau tidak akan bisa melarikan diri," ucap Hinata pelan.

"Kau juga, tidak akan bisa menyembbuhkan diri lagi," balas Sasuke.

Perlahan, tubuh mereka berubah menjadi sayap-sayap dengan warna yang bertolak belakang. Hinata putih dan Sasuke hitam.

"Aku tidak menyangka akan berakhir seperti ini," kata Hinata.

"Hn,"

"Bahkan aku tidak percaya bahwa yang melepaskanku dari belenggu keluarga Akasuna adalah seorang Devil," kata Hinata tersenyum tipis.

Sasuke memandang Hinata. Dengan sisa-sisa tenaganya ia menggerakkan kepalanya, mendekati Hinata. Sebuah ciuman lembut Sasuke berikan untuk Hinata. Sekarang ia tau betul perasaan apa yang selama ini membuat jantungnya berdetak cepat.

Ya, Sasuke mencintai Hinata.

Hinata yang diperlakukan seperti itu kaget. Namun, saat-saat itu hanya berlangsung singkat karena kini mereka telah seutuhnya berubah menjadi sayap-sayap yang berhamburan kemana-mana, tertiup angin menjauhi tempat mereka berada.

DEG!

Tsunade maupun Orochimaru saling menjauh satu sama lain. Tiba-tiba, sayap-sayap Hinata maupun Sasuke terbang melintasi mereka.

"Sasuke,"

"Hinata,"

Baik Tsunade maupun Orochimaru mengambil dan meremas sayap yang bertebaran tersebut. Kemudian mereka saling memandang satu sama yang lain.

"Baik utusanmu maupun utusanku telah tiada. Apa yang akan kau lakukan?" tanya Orochimaru.

"Aku-"

...

Tanpa ada yang menyadari, di dekat air terjun tempat Hinata dan Sasuke bertempur, tertinggal dua helai sayap. Satu hitam dan satu putih. Kedua sayap itu membentuk sebuah pola. Sebuah tanda hati yang terbentuk dari kedua helai sayap tersebut. Walau tertiup angin sekalipun, kedua helai sayap tersebut tidak dapat dipisahkan.

FIN

Akhirnya tamat juga! Maaf jika endingnya tidak sesuai yang diharapkan, karena ending seperti inilah yang telah kurencanakan dari awal. Hah, untung aja cerita ini selesai sebelum mid test. Hah...

Untuk yang sudah mereview, seperti kumiko lavender haruna, uchihyuu nagisa, Lollytha-chan, dan keiKo-buu89, terima kasih ya...

Dan untuk kumiko-san, tentang perjanjiannya ada kok di chapter sebelum-sebelumnya, Cuma detailnya hanya si penulis yang tau XP...

Sekian dan terima kasih serta mohon review di chapter terakhir ini...