Title : Engagement
Rated : T
Disclaimer : Super Junior and SHINee belong to SMent, ELFs, Shawols, and GOD ^^ and the story belongs to me.. :D
Author : Iino Sayuri / Celi Sayuri
Warning : Genderswitch, bisa menyebabkan konflik dalam hati.. :p Alur agak nggak aturan..
Keterangan : semua uke jadi yeoja, smentara seme2 tetep namja :) Pairing : 2Min, dan banyak slight-nya..
.
Hahaa! Aku datang lagi, chingudeul :D kekeke.. kembali dri hiatus yg cukup lama.. Huaaaahm *nguap2#mulut kemasukan lalat (keselek) aish! Abaikan :D anggap aja ff ini sbg awal untuk semua yg baru di FFn.. :D kita mulai awal yg baru lagi buat semuanya.. :D tapi, comeback resmi saya sebenarnya baru awal2 September nanti :p yah, anggep aja ini semacam teaser :D *plakplokbuaghduagh*
Ne! Daripada saya kebanyakan bacot ntar reader pada bosen, mnding langsung sajaa :D
Happy Reading and Enjoy! ^^
.
.
"Lepaskan aku, oppa! Lepas, kataku! Lepas!" racau Taemin, kemudian menangis keras. "Tolong, oppa.. Aku mencintaimu.. Sungguh-sungguh mencintaimu.." bisik Taemin pelan lalu menangis lagi. Minho memeluk Taemin melingkari tubuh mungil Taemin. Taemin masih menangis dalam dekapan sang Ice Prince sementara Minho sendiri menyurukkan wajahnya ke bahu Taemin, berusaha menenangkan Taemin dengan bernyanyi kecil di telinga Taemin.
Usaha Minho berhasil. Tangis Taemin yang tadinya kencang lambat laun hanya tersisa isakan saja. Namun Minho masih mendekap tubuh mungil itu dalam dekapannya. "Mianhae, Taemin-ah.. Mianhae.. Jeongmal mianhae.." bibir Minho terus membisikkan kata-kata maafnya sementara kedua lengannya tetap mendekap Taemin erat.
"Mianhae, Taemin.. Aku yang tak pernah mengertimu selama ini.. Jeongmal mianhae.. Aku yang membuatmu seperti ini.. Masih pantaskah aku memanggilmu 'chagiya' dan mengatakan bahwa aku mencintaimu? Aku benar-benar jahat.." gumam Minho lirih sambil tetap memeluk Taemin yang mulai terlelap di pelukannya.
Pelukan Minho mengerat seiring desah nafas Taemin yang mulai teratur. Ingin rasanya dalam posisi seperti ini untuk selamanya. Hanya ada dirinya dan Taemin.. Hanya berdua.. Dua manusia yang saling mencintai.. Tanpa adanya halangan bagi hubungan yang mereka jalin erat sejak dua tahun lalu..
Perlahan dan hati-hati, Minho meraup tubuh mungil kekasihnya dalam gendongannya dan membawanya masuk ke kamarnya di lantai dua rumahnya. Dibaringkannya Taemin dengan hati-hati seolah Taemin adalah boneka ringkih yang bisa hancur hanya dengan sedikit gerakan yang salah. Kemudian diselimutinya Taemin sampai sebatas leher, dan dielusnya pipi mulus Taemin dengan lembut.
'Mianhae, Taeminnie.. Aku pulang dulu, chagi.. Mimpi indah..' doa Minho dalam hati untuk Taemin, kemudian berdiri dan beranjak meninggalkan kamar Taemin. Dilihatnya mobil lain di depan rumah Taemin. Tepat di samping mobilnya. Minho menuruni tangga lambat-lambat.
"Ah! Ternyata benar ada Minho-ah!" sebuah suara soft mengagetkan Minho yang masih berdiri dengan tampang capek. Minho menoleh. Dilihatnya Sungmin melongokkan kepalanya dari dapur sambil tersenyum kecil. Dibelakangnya berdiri Kyuhyun, masih memeluk pinggang ramping Sungmin.
"Ne, annyeong, noona.. Mian, aku baru mau pulang.. Hehehe.." Minho berusaha menyapa, walaupun dengan gaya agak kacau. Sungmin hanya mengangguk.
"Mana Taeminnie? Sudah tidur ya? Mian ya merepotkanmu.." sahut Sungmin lagi sambil tersenyum lembut. Minho menggeleng pelan. "Aniyo, noona.. Mana mungkin Taemin merepotkanku? Ne, aku pulang dulu. Annyeong.." kata Minho, kemudian beranjak keluar rumah. Sungmin melambai lembut pada Minho, kemudian menutup pintu rumahnya.
.
o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o
.
Minho mengendarai mobilnya dengan kacau. Kemampuan menyetirnya mendadak menurun drastis. Seperti dua menit lalu. Nyaris ditabraknya cone jalan yang jelas-jelas berwarna oranye mencolok di tengah gelapnya malam. Minho memukul dahinya sendiri dengan keras.
"Ayolah, Choi Minho! Setir yang benar! Paling nggak kau harus selamat sampai di rumah!" umpatnya pada dirinya sendiri. Berusaha fokus pada jalanan yang lengang malam itu.
Pikirannya melayang lagi pada kejadian di rumah Taemin tadi. Tangisan Taemin yang benar-benar mengiris hati Minho. Semua kata-katanya yang menancap dalam di jantungnya. Semua ketakutan Taemin seolah menjadi virus yang merasuk dalam otak Minho.
Bagaimana kalau yang dikatakan Taemin benar?
Bagaimana kalau Key benar-benar mengalami kebuntuan otak sampai nggak bisa mencari cara yang cukup cerdas?
Bagaimana kalau…
CKIIIIIIT—
Minho tersadar dan langsung banting setir ke kiri. Mobilnya nyaris menabrak truk yang berjalan dari arah yang berlawanan. Mobil Minho naik ke trotoar dan nyaris menabrak pohon. Jarak antara mobil malang itu dengan pohon hanya tinggal satu senti. Minho menundukkan kepalanya putus asa.
"AAAAAAARRRGH!" Minho menjerit frustasi. Kali ini namja itu sudah nggak bisa menahan tangisnya lagi. Minho menumpukan kepalanya di setir. Ditumpahkannya sebanyak mungkin air matanya, berusaha mencari ketenangan dengan menangis sendirian.
"Hiks.. Hiks.. Mian.. Mian, Taeminnie.. Maafkan aku.. Hiks.. Jebal.." tangis sang Ice Prince sambil menundukkan kepalanya makin dalam dengan lunglai.
.
-Sementara, di rumah Minho-
.
Key melirik arlojinya lagi dengan sebal. "Dimana sih namja pabbo itu? Katanya cuma sebentar? Aku harus beralasan apalagi nih?" geramnya sambil melirik ruang keluarga tempat Siwon dan Kibum sedang mengobrol dengan Youngwoon dan Jungsoo. Key mendengus sebal.
"Awas saja anak itu! Kucincang kalau dia pulang nanti!" Key berbisik geram sambil meremas tangannya, kemudian masuk ke kamar dan bermaksud menelepon Onew. Tapi baru saja Key masuk ke kamarnya, pintu utama terbuka, menampilkan sosok Minho dengan mata merah dan penampilan acak-acakan.
Siwon menoleh kemudian berdiri sambil melotot kaget. "Choi Minho! Darimana saja kau ini, hah?" bentak Siwon pada Minho. Sementara Kibum ikut berdiri menahan lengan suaminya, berusaha menenangkan.
"Sudah, yeobo.. Sudah.. Tenanglah dulu.." bujuk Kibum sambil mengelus-elus dada bidang Siwon. "Sudah, tenanglah dulu.." kali ini Kibum memeluk Siwon dari belakang, sukses meredam emosi sang Appa. Sementara Youngwoon ikutan berdiri sambil menahan lengan Siwon, mencegahnya berbuat lebih lanjut.
"Sudahlah, Siwon-sshi. Kurasa putramu hanya lelah saja.. Biarkan Minho beristirahat.." tegur Jungsoo ikut menenangkan Siwon.
Minho mendesah berat sambil mengucek matanya. "Mianhaeyo, Appa.. Aku tahu aku nggak seharusnya kabur malam-malam begini.. Tapi aku lagi benar-benar butuh udara segar.. Mian, Appa.." kata Minho berbohong kemudian berlalu ke kamar Key meninggalkan Siwon yang masih merengut setengah bingung setengah marah. Minho mengetuk pintu kamar Key pelan. "Key-ah, ini aku.." panggil Minho lemas.
Key keluar dengan cepat dan segera menggeplak kepala Minho dengan sadis. "Anak bodoh! Katanya tadi cuma sebentar? Kau tahu tadi aku harus beralasan apa aja? Heh? Untung aja tadi sebelum Eomma dan Appa kembali Onew sudah pulang!" rentetan omelan Key langsung menghujani Minho. Sedangkan, yang diomeli hanya menunduk bingung.
"Key.. Aku.. Aku bener-bener jahat.. Aku nggak pernah memikirkan perasaannya.. Aku.. Sudah menyakiti perasaannya.. Aku.. Benar-benar namja jahat, Key-ah.." Minho terbata sementara airmatanya sudah mulai meluncur turun lagi. Key tertegun bingung. Omelan yang baru saja mau keluar lagi mendadak hilang entah kemana.
Key mendesah berat. "Apa yang terjadi dengannya, Minho?" tanya Key. Minho menunduk makin dalam. Nafasnya tercekat seiring makin banyak airmatanya yang tumpah. Minho jatuh berlutut di lantai.
"Aku… Bukan namjachingu yang baik untuknya.. Huks.. Aku benar-benar jahat.. Membiarkan Taemin sefrustasi itu dan aku bahkan tak menyadarinya.. Aku… Aku—" ucapan Minho terpotong ketika Minho merasa sepasang lengan melingkupi lehernya. Minho mendongak bingung. Dilihatnya sepasang mata kucing yang biasanya terlihat galak itu sekarang meredup seolah iba. Ne, Key memeluk Minho dengan lembut. Key menempelkan pelipisnya ke pelipis Minho.
"Eomma selalu melakukan ini kalau aku merasa sedih.. Kuharap itu juga berhasil padamu.." bisik Key sambil tetap memeluk Minho yang masih menangis. Setelah beberapa lama, Minho balas memeluk yeoja mungil itu erat. Seerat yang Minho bisa. Key tetap memeluknya, menenangkan namja tegap itu.
"Mianhamnida, Taeminnie.. Mianhae.." bisik Minho, seolah dirinya sedang memeluk Taemin. Key tidak membalas, hanya memeluk Minho lama sampai akhirnya Minho jatuh tertidur di pelukan Key. Key hanya merasa air matanya merebak melihat kondisi Minho yang benar-benar tidak karuan. Bagaimana tidak? Wajah Minho dipenuhi jejak-jejak airmatanya sendiri. Mata Minho yang memerah dan bengkak menambah kesan lelah di wajah tampan Minho. Key menggigit bibir bawahnya sendiri, miris melihat Minho.
Key berusaha mengangkat Minho yang tertidur, masih dalam posisi memeluk Key. Key berusaha berdiri, menyeimbangkan tubuhnya malah oleng. Minho cukup berat buat yeoja mungil seukuran Key. "Uuuh ~ Anak ini berat sekali!" Key mendengus sebal, mengomel pada dirinya sendiri. Baru saja Key mau bangkit, Key merasakan lengannya ditahan seseorang. Key mendongak. Dilihatnya Yesung menatapnya dengan mata sipitnya.
"Biar aku aja, Key-noona.." kata Yesung sambil memapah Minho kekamarnya, diikuti Key di belakangnya. Key memandang Minho khawatir. 'Sepertinya memang nggak banyak yang bisa kulakukan.. Mianhamnida, Taemin-ah..' batin Key sebelum berlalu ke kamarnya sambil menghela nafas panjang. Sepertinya memang persoalan ini hanya bisa dipasrahkan pada Tuhan.
'Semoga Tuhan lagi baik dan mau mendengar doaku..' harap Key sambil berlutut, menyatukan tangannya dan mulai berdoa.
.
o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o
.
"Eonni!" Key menjerit melihat Heechul dan Hangeng didepan rumah keluarga Choi. Key berlari menghambur memeluk Heechul dan kemudian Hangeng di belakangnya. "Ni hao, oppa!" sambut Key riang sambil meninju perut Hangeng main-main. Hangeng hanya tertawa kecil melihat ulah Key yang kekanakan.
Key riang? Sepertinya tidak. Hanya wajahnya saja yang terlihat riang menyambut hari pertunangannya. Tapi hatinya benar-benar mati-matian menolak perjodohan yang disiapkan Youngwoon dan Jungsoo sejak lama ini. Batin kecilnya menjerit menentang pertunangan ini mengingat Key masih amat mencintai Onew dan Minho masih memiliki Taemin.
"Ne, Hangeng-ah! Apa kabar?" suara Jungsoo cukup mengagetkan Key yang masih setengah melamun. Dilihatnya Jungsoo maju dan memeluk Heechul dan Hangeng bergantian sementara Youngwoon mengikuti Jungsoo dari belakang.
"Ne, eomma.. Kami baik-baik saja kok.. Eomma sendiri?" tanya Hangeng dengan bahasa Korea yang masih kacau dan belepotan. Jungsoo tertawa kecil. "Aku baik, Geng.. Kurasa kalian harus sering-sering ke Korea, Geng-ah.. Chullie! Bogoshippo, chagiya!" pekik Jungsoo sambil kembali memeluk Heechul.
"Ne, nado, eomma.. Kudengar hari ini Key bertunangan ya? Aku sudah menyiapkan semuanya.." kata Heechul sambil tersenyum menatap Key. Bulu kuduk Key berdiri mendengar Heechul berbicara dengan nada semanis itu. Biasanya, dengan nada semanis itu, akan terjadi hal buruk.
"Key, ikut aku ke kamar.." perintah Heechul mutlak sambil menggeret kopernya dan jangan lupakan Key yang sekarang ikutan diseret Heechul.
"Aniyo, eonni! Lepaskan akuuuu!~" jerit Key pilu seraya berusaha melepaskan diri. Sayangnya, cengkeraman Heechul lebih kuat. "Aniyo, nae yeodongsaeng.. Kau akan berubah sebentar lagi.." Heechul tersenyum setan.
.
-Sementara, disisi Minho-
.
Minho masih saja memandangi foto Taemin. Tak dipedulikannya teriakan Siwon yang menyuruhnya keluar dari kamar dan memakai jas-nya, serta bujukan Kibum untuk membuka pintu kamarnya yang terkunci. Minho hanya ingin sendirian hari ini.
Ne, sendirian. Hanya ingin memandangi foto Taemin dan meratapi nasibnya, yang sebenarnya sangat bukan hal yang pantas dilakukan seorang Choi. Siwon selalu mengajarinya untuk menjadi seorang Choi saat dirinya masih kecil.
"Jadilah seorang Choi yang tegas! Seorang Choi bahkan akan dengan sukarela mengorbankan kebahagiaannya sendiri demi kebahagiaan keluarganya.. Egois memang, tapi hal itu biasanya membawamu pada kebahagiaanmu pada akhirnya.." kata Siwon saat itu sambil merangkul Kibum dan mengecup Kibum di puncak kepalanya. Minho merenung, mencoba mencari-cari makna dalam kata-kata Siwon.
Lama Minho berpikir. Sampai akhirnya Minho mendapatkan sebuah pertanyaan bersarang di kepalanya.
'Mungkinkah Appa dulu juga mengalami hal seperti ini?' batin Minho penuh tanya. Pikirannya mendadak membayangkan Siwon dengan yeoja lain selain Kibum, kemudian mendadak dipisahkan dan harus bersatu dengan Kibum. Bisa dibayangkannya perasaan Siwon saat itu sama hancurnya dengan perasaannya.
'Seorang Choi bahkan akan dengan sukarela mengorbankan kebahagiaannya sendiri..' kata-kata Siwon mendadak terngiang lagi di telinga Minho. Hati Minho mendadak keras. Minho berpikir sejenak. Sudah diputuskannya akan mengikuti kata-kata Siwon. Walaupun itu akan mengorbankan kebahagiaannya sendiri.
"Ne, paling nggak, aku akan menuruti Appa.." tekad Minho sambil bangkit dari tempat tidurnya dan beranjak ke kamar mandi di kamarnya. Mandi secepat mungkin, kemudian segera berpakaian dengan rapi dan meraih jas-nya dari lemari. Minho memandang ke cermin. Aura tegas seorang Choi Siwon bisa dirasakannya saat Minho memandang dalam matanya sendiri.
"Ne, Appa, Eomma, aku siap.." Minho melirik foto Taemin yang masih di atas tempat tidurnya. Diambilnya, kemudian dielusnya foto itu dengan lembut. "Mianhae, Taemin-ah.. Semoga kau mendapat namja lain yang lebih baik dariku.. Saranghae.. Jeongmal saranghaeyo.." kata Minho, kemudian mengecup foto itu lembut dan beranjak keluar kamar.
.
Di ruang tamu sudah berkumpul sebagian tamu yang merupakan kerabat mereka dan rekan bisnis Siwon dan Youngwoon. Minho mendekati Appa-nya dan tersenyum. "Annyeong, Appa.." sapa Minho pada Siwon.
Siwon menoleh. "Ne, annyeong, Minho-ah.. Tak kusangka kau bisa setampan ini.." kata Siwon memujinya sambil tersenyum lembut. Minho nyengir kecil. "Aku kan putramu, Appa.. Aku pasti tampan sepertimu.." balas Minho sambil menghambur memeluk Siwon.
Siwon membalas pelukan Minho, tapi tidak berkata apa-apa. Hanya senyum yang terpasang di wajah tampannya. Lain Siwon, lain halnya dengan Yesung dan Jonghyun. Dua namja adik Minho itu hanya melongo tak percaya melihat hyung kesayangan mereka berlalu-lalang diantara tamu-tamu yang hadir. Jonghyun menyenggol lengan Yesung sambil tetap melongo kebingungan. Yesung hanya memasang tampang babbo andalannya melihat sosok Minho.
Keduanya berlari menghampiri Minho. "Hyung! Hyung! Apa yang kau lakukan disini?" jerit Jonghyun sambil melambai-lambai berusaha menarik perhatian Minho dari segerombolan tamu yang menutupi keberadaan mereka. Cukup berhasil. Minho menoleh dan dengan tinggi badannya yang diatas rata-rata, namja itu berhasil mengenali sosok Jonghyun dan Yesung yang cukup 'tenggelam' di kerumunan orang.
"Ne, dongsaengdeul? Waeyo?" Minho tetap menampakkan wajahnya yang cool, sementara Yesung dan Jonghyun makin melongo melihat wajah hyung-nya. Mata Minho sedikit bengkak dan memerah. Senyum yang dimunculkan Minho—Yesung amat yakin itu bukan senyuman bahagia. Serta tatapan mata yang kosong, namun tetap kuat dan tajam.
"Aniyo, hyung.. Tapi… Apa kau yakin akan meneruskan pertunangan ini? Kau tahu? Err… Kau bahkan tak mencintai Key-noona, hyung.. Bagaimanapun, menurutku Key-noona berhak bahagia.. Dengan Onew-hyung!" rentetan kalimat Yesung memenuhi relung telinga Minho. Ice Prince itu terdiam. Pikirannya kembali kacau mendengar susunan kalimat yang diucapkan dongsaengnya barusan.
'Bagaimanapun, Key berhak bahagia.. Dengan Onew..' Dada Minho sesak.
Bukankah kalau begitu dirinya juga berhak bahagia?
Dengan Taemin?
Bukan hanya Key yang berhak bahagia, bukan?
Minho mengepalkan tangannya kuat. Hatinya serasa membatu. "Setidaknya aku menuruti kata-kata Appa.." kata Minho sambil menunduk. Yesung terkesiap. Minho mengucapkan kalimat tadi dengan sangat dingin. Seolah tanpa ekspresi.
"Hyung, sadarlah, Hyung! Key-noona ju—"
"Berhak bahagia? Aku tahu itu, Choi Jongwoon! Aku tahu! Aku tahu itu dengan jelas!" bentak Minho memotong kata-kata Yesung, membuat sang sasaran bentak berjengit kaget. Minho menggeram dan menghembuskan nafas berat.
"Tapi, bagaimanapun, kebahagiaanku dan Key yang kami lepaskan. Aku berharap ada kemungkinan… Aku meraih kebahagiaanku dengan Key.. Dan… Bukan dengan—" Minho menghela nafas sejenak, "Taemin.."
Minho merasa airmatanya siap meluncur turun lagi. Dipejamkannya matanya, mencoba mengusir rasa sedih dan kehilangan dalam hatinya. Tapi sayangnya gagal. Butiran bening itu kembali meluncur dari mata Minho yang sudah bengkak.
"Minho-ah!" panggil Key dari arah tangga. Minho terhenyak, dihapusnya airmatanya cepat-cepat. Kemudian menatap Key yang berlari ke arahnya mengenakan gaun berwarna putih panjang, dan riasan tipis, membuat yeoja itu terlihat cantik dan segar. Minho tersenyum kecil.
"Waeyo, chagiya?" tanya Minho. Key terengah mengatur nafasnya. "A-Ano! Haaaaah… Haaah… Aku—Aku sudah mengatur rencana—MWORAGO? Kau panggil aku apa tadi?" tanya Key histeris sambil mundur selangkah. Minho hanya tersenyum pahit.
"Ne, setidaknya kan aku harus membiasakan panggilan itu untukmu.." kata Minho lirih, kemudian berlalu begitu saja dari hadapan Key dan Yesung yang masih termangu. Sementara Jonghyun yang baru bisa keluar dari kerumunan segera berlari menghampiri Key dan Yesung. Matanya membulat melihat Key.
"Omo ~ Key-noona.. Neomu yeppeo.." kata Jonghyun melihat Key. Yang dilihat hanya melirik sejenak, kemudian berlalu dengan wajah yang tak bisa diartikan. Yesung mendorong badan Jonghyun menjauh. "Nanti kuceritakan.." janji Yesung pada saudara kembarnya.
Minho sendiri hanya duduk diam dengan manis layaknya anak kecil sampai saatnya Siwon memberikan kotak cincin pertunangan padanya untuk dipasangkan di jari Key.
Minho menatap kotak berwarna biru beludru itu dengan nanar. Dibukanya kotak itu perlahan. Diambilnya cincin itu dengan hati-hati. Dirabanya sejenak. Platina. Disusurinya permukaan cincin yang halus mengkilap itu. Sampai jarinya menemukan sesuatu diukir di atas cincin itu.
'M & K'
'Minho & Key'
Minho meletakkan cincin itu kembali ke tempatnya. Berusaha mengusir rasa sesak yang lagi-lagi muncul di dadanya untuk kesekian kalinya. Dihelanya nafas panjang, kemudian berdiri dan berjalan ke samping Siwon dan Kibum. Dilihatnya Siwon dan Kibum, sama-sama dengan mata tegas mereka menyapa tamu-tamu yang mendatangi mereka.
Kibum, dengan gaun berwarna biru muda, tampak cantik bersanding dengan Siwon yang mengenakan kemeja biru bergaris-garis. Sama dengan Youngwoon dan Jungsoo. Jungsoo, dengan gaun putih dan aksesori serba putih, seakan menambah kesan 'malaikat' yang melekat pada diri Jungsoo. Sementara suaminya, Youngwoon tampil dengan kemeja putih—mengimbangi Jungsoo—tetap terlihat tampan walaupun simple.
Siwon menarik Minho mendekat. "Kalian, naiklah ke atas anak tangga yang kedua, dan pasangkan cincin itu di jarinya.." kata Siwon. Minho mengangguk dan tersenyum—palsu.
"Ne, Appa.." katanya sebelum berlalu dan menghampiri Key diantara Jungsoo dan Youngwoon. Di ulurkannya tangan kanannya kearah Key.
"Ne, my princess.. Would you like to come with me?" tanya Minho. Key mengangguk mengerti. Sudah saatnya. Key menatap Jungsoo dan Youngwoon pilu dan beralih kearah Heechul dan Hangeng yang menyemangatinya sambil bermesraan.
Key mendengus sebal. Lalu menerima uluran tangan Minho dengan amat sangat tidak rela.
Minho menuntunnya naik ke anak tangga kedua seperti yang diperintahkan Siwon. Tangannya mengambil kotak cincin itu dari kantongnya, membukanya dan mengambil isinya.
Key menatapnya seolah tak percaya ketika namja Choi itu mulai membawa tangannya dan cincin itu mendekat. Tanpa sadar, Key memejamkan matanya kuat-kuat.
Tepat saat cincin dingin itu menyentuh kulit Key, pintu utama terdobrak kuat.
BRAKK—
"Key! Chagiya! Jangan lakukan ini! Aku mencintaimu, Key! Dan juga calon anak kita, Key! Key! Jebal!"
-TBC-
.
.
Yeorobeuuuun ~~~ Minta pendapat dong gimana dengan chap ini.. :D trllu panjangkah? *iyaaaaaa* terlalu gaje kah? *iyaaaaaa!* nggak jelas kah? *pastiiiiiii*
Aduh2.. sebelumnya minta maaf bgt kalo chap ini sepertinya trlalu panjang ya? soalnya saking semangatnya nulis *plak* jadi keterusan :D maklum, saya trllu serius menumpahkan hasrat menulis saya yg lagi menggebu.. :p *haduh apa deh*
Okee, di akhir saya Cuma memohon…
REVIEW/FLAME PLEASE? :D
