Bales rifyu non login :

Blackpanda : yap lanjut!. Arigatou dah rifyu…

Thia2rh : Yaps! Ini apdet n' mereka udah dewasa. Makasih dah rifyu..

Yola-chan : Terimakasih Yola-chan… request'a Lhyn simpen y? tapi gag tau kapan, pokoknya nunggu smua fic utang Lhyn selese. Arigatou dah rifyu…

kakasaku : iyah kaga dihapus kok, n' ini lanjut… arigatou dah rifyu…

Give Thankx to :

Blackpanda, Hatake Liana, Kouro Ryuki, Thia2rh, Ayano Hatake, Kurosaki-kuchiki, Yola-chan, Hatake satoshi, Rizu Hatake-hime, Zie'rain-drizZle, Fun-Ny Chan D'JiNcHuUri-Q, Nay Hatake, Hatake Ryuuki, Arisa-yuki-kyutsa, kakasaku, dei Hatake, thy anarchy 99

Warning : Gaje, aneh, parah, OOC, Typos tak termaafkan, kacau, bikin mual, dll yang bikin fic ini jauh dari kata sempurna. so… Rifyu, saran. Kritik, concrit, flame dll. Selalu Lhyn terima

Sedikit penjelasan : Umur Kakashi kecil 10 (sepuluh) tahun dan Sakura kecil 4 (empat) tahun, jadi jarak usia mereka 6 (enam) tahun, Kakashi tinggal di panti selama 1 (satu) tahun sebelum dia pergi meninggalkan Sakura. 12 (dua belas) tahun kemudian Kakashi kembali. Jadi usia Kakashi dewasa adalah 23 (dua puluh tiga) tahun dan usia Sakura 17 (tujuh belas) tahun… Jelas?

00Lhyn00

Aku meninggalkanmu Cinta…

Maafkan aku…

Aku kembali Cinta, untuk Mu…

Jangan berubah terlalu jauh Cinta,

Agar aku bisa mengenalimu.

Naruto : Masashi Kishimoto

Love Hater : Me (Lhyn Hatake)

0Lhyn- Love Hater -Lhyn0

Haruno, itu nama gadis yang kini tengah menjadi pusat perhatian dalam bus itu, berwajah cantik dengan segala proporsi terindah yang bisa kau bayangkan, rambut hitam panjangnya tergerai lurus -alami bukan rebonding- hingga pinggang, sebuah topi army hijau tua menutupi puncak kepalanya, mata Emeraldnya memandang angkuh setiap apa yang ditangkap iris indah itu, rok sekolah SMAnya begitu mini hingga-hingga hampir tak menutupi paha putih mulusnya dan sebuah bot mini hitam bertali spagety memajang rapi kaki kecilnya. Sempurna dalam angkuhnya. Namun dari segala bentuk penampilan memikat gadis itu bukan sederet barisan panjang keindahan gadis itu yang membuatnya menjadi pusat perhatian.

"Ha-Haruno-san, semua orang memandangmu," ujar gadis indigo yang merasakan tubuhnya gemetaran berada di dekat seorang yang menjadi pusat perhatian. Hinata, seribu kali gadis itu lebih memilih mendekam dalam gudang gelap dan pengap sendirian dari pada berada disamping pusat perhatian.

"Biarkan saja," balas Sakura cuek dan kembali menghisap batang rokok mild yang terapit diantara jari telunjuk dan jari tengahnya.

"Ha-Haruno-san…."

"Selesaikan saja tugas kelompok kita dengan cepat dan kau tak perlu berurusan lagi denganku, kau mengerti Hinata?" kata Sakura datar, mata Emeraldnya memandang tajam gadis indigo itu, membuat gadis itu semakin gemetaran.

"Ba-Baiklah Haruno-san," kata Hinata akhirnya, demi apapun, gadis indigo itu bersumpah tak akan pernah lagi berurusan dengan berandalan sekolah macam gadis itu. Dan dia juga berani bersumpah bahwa anggapan Neji itu menakutkan, salah.

"Baguslah," balas Sakura cepat dan seringgai liciknya segera terpampang diwajah cantik nan ayunya. "Selesaikan dan segera kumpulkan pada Asuma, kau mengerti Hinata?"

"I-Iya, Haruno-san."

Dan dengan senyum licik penuh kepuasan atas kemenangannya terpampang jelas diwajahnya, Sakura turun dari bus itu, langkahnya ringan menyusuri jalanan trotoar konoha yang lenggang oleh pejalan kaki.

Haruno Sakura. Kalau kau murid SMA 01 Konoha kau pasti akan mengenalnya, kalau kau seorang supir bus atau kerneknya kau juga akan mengenalnya, kalau kau seorang yang sering datang kepasar Konoha, kau juga akan mengenalnya, dan kalau kau seorang preman jalanan, maka siapa saja akan tahu kalau kau adalah temannya.

Terbiasa hidup dijalanan. Ngamen, tukang parkir, tukang angkut barang, tukan cuci piring, tukang pukul, hingga tukang copet adalah pekerjaan sampingannya selain menjadi pelajar. Selebihnya, dia hanya seorang gadis remaja SMA biasa yang suka bersenang-senang, tapi jangan berfikir bahwa dunia ini keras padannya karena dia sendirilah yang keras pada dirinya sendiri. Yah Sakura tidak suka memanjakan dirinya sendiri kecuali dalam sebuah bentuk kesenangan. Dan seperti itulah kesenangannya.

"Sudah selesai dengan urusanmu?"

Sakura mendongak, menatap sumber nada dingin itu berasal. Dan satu hal yang akan membuatmu iri padanya terdapat disana. Satu wajah dingin yang digilai kaum hawa, sebuah wajah kesempurnaan malaikat tertampan ada dalam bentuk seorang Uchiha Sasuke. Kekasihnya.

"Yah," jawab Sakura singkat, tersenyum tipis dan menghampiri pria berwajah pucat yang kini tengah duduk bersandar dipintu ferarri birunya.

Satu hal yang paling dibenci Sakura yaitu 'CINTA'. Lihatlah bagaimana pria tampan luar biasa yang menjadi pujaan seluruh wanita itu rela menunggunya disini. Hanya karena cintalah pria itu mau merendahkan dirinya sendiri sedemikian rupa. Yah, hanya karena cintalah pemuda dengan harga diri tertinggi itu mau berlutut dibawah kaki seorang 'HARUNO'. Jadi, jangan salahkan Sakura bila akhirnya dia menerima pernyataan pemuda itu setelah ke sekian kalinya. Hanya dengan bermodal 'Tak ada salahnya' Sakura menerima Sasuke sebagai kekasihnya, sama sekali bukan karena 'Cinta'.

"Antar aku pulang," kata Sakura datar, dan kemudian bergegas masuk kedalam mobil mewah itu.

"Kemana?"

Sakura berfikir sejenak. "Panti."

Lihatlah bagaimana sang Casanova mampu membuang segala ego yang menjadi jati dirinya. "Hn," keangkuhan sosok Uchiha sama sekali tak berarti di sini, di hadapan gadis yang bahkan tak mengenal harga diri.

Dalam langkah ringan diatas botnya Sakura masuk kedalam mobil mewah itu, dan dengan segera mengeluarkan sebuah dompet kecoklatan dari saku roknya. Membukanya dan tersenyum puas.

"Mencopet lagi, Haruno," suara datar itu tak terdengar seperti pertanyaan atau pernyataan, hanya sekedar gumaman tanpa makna.

"Sedikit pelajaran untuk orang yang bersuka rela menepuk pantatku," katanya sedikit menunjukkan senyum licik yang sesungguhnya terlihat jauh lebih memikat dari senyum manisnya. "Sasuke, kau sudah membeli semua daftarku bulan ini?" tanyanya tanpa mengalihkan pandangan dari tumpukan uang hijau di depannya.

"Izumo akan mengantarkannya siang nanti. Bulan ini lebih sedikit, apa kau tidak melupakan sesuatu?"

"Tidak. Lima anak panti baru saja mendapat orang tua asuh bulan ini," kata Sakura, kali ini nadanya terdengar sedikit dibumbui kebencian dalam getarnya. Dan tampaknya Sasuke pun cukup pintar untuk tidak melanjutkan pembicaraan mereka.

Orang tua, adalah hal lain yang tidak disukai gadis ini. Kenyataan bahwa orang tuanya lah yang membuangnya di bawah pohon maple di halaman samping panti asuhan membuatnya begitu membenci sosok itu, dan kenyataan bahwa tak ada satu pun orang tua asuh yang memungutnya, membuah hatinya benar-benar tak menginginkan kata itu ada didalamnya. Dia benci orang tua.

00Lhyn00

Detik jarum jam bergema dalam ruangan itu. Sebuah ruangan seluas lapangan bulu tangkis dengan tribune penonton yang mampu menampung seribu orang itu terdengar bisu. Klasik dan mewah yang bersatu dalam cahaya keemasan yang terpantul oleh dinding-dinding bercat kuning muda, jendela-jendela besar dengan tirai berbahan wol lembut dalam warna putih bersih tanpa setitik noda, lukisan-lukisan sang maestro yang selalu menjadi pujaan dizamannya, rak-rak berisi anggung-anggur khas negara-negara penghasil terbaiknya, hingga lampu-lampu kristal yang bergantung dalam cahaya di tengah ruangan.

Semuanya tampak bisu dalam pesona dua pria yang tengah duduk di atas sofa berukir indah yang konon dipesan langsung dari kota Jepara yang berada di sebuah negara tropis bernama Indonesia. Keterpautan usia di antara keduanya sama sekali tak mempengaruhi pendar keagungan dari keduanya.

Sosok yang berada dalam usia separuh abad tampak tenang, kacamata berbingkai platina yang bertengger di hidung mancungnya seakan mempertegas tatapan Onyx yang mampu menekuk lututkan segala seangkuhan di hadapannya. Rambut peraknya terpotong pendek rapi, dan tuxedo hitamnya tak tampak sedikitpun berkerut dalam posisi duduknya. Ketampanan dalam setiap pahatan wajah itu, kharisma dan kewibawaan yang terpancar serta kesan angkuh yang menyertainya berbalut menjadi satu dalam kesempurnaan sosok itu.

"Bisa kukatakan aku bangga padamu, Kakashi," suaranya terdengar berat, Onyxnya tampak meneliti setiap ekspresi sempurna dari sosok lain di depannya.

Tak dapat diketahui berapa usia sosok yang satunya karena hampir sebagian wajah pria itu tertutup masker hitam yang tampak ketat, sementara rambut perak yang berdiri menantang keagungan di kepalanya sama sekali tak dapat diandalkan. Hanya kedua bola mata berbeda warna yang menunjukkan kematangan yang bisa digunakan sebagai acuan bahwa sosok itu bukan lagi sosok anak-anak atau remaja. "Terima kasih, Ayah," jawabnya penuh kesopanan dan penghormatan dalam setiap katanya.

"Ada satu hal lagi yang perlu kusampaikan padamu, Kakashi," masih mencoba meneliti setiap ekspresi lawan bicaranya, Sakumo, mengangkat sedikit kacamatanya. "Setelah gelar master itu kau dapatkan, aku yakin kau telah benar-benar siap menjadi pemimpin seluruh Hatake corp. dan lagi, kau telah menunjukkan bagaimana kualitas kerjamu yang berada diatas rata-rata kepadaku. Kukatakan sekali lagi aku bangga padamu."

"Terima kasih, memang sudah sepantasnya saya membanggakan anda sebagai Ayah saya. Terima kasih."

"Satu hal terakhir yang ku inginkan sebelum memberikan semunya padamu, Kakashi. Memiliki pendamping hidup, adalah hal yang wajib bagi setiap calon penerus keluarga," terdengar lebih kaku, Sakumo mengambil nafasnya sebelum mulai berbicara lagi "Selama aku memantau kegiatanmu, Aku tak pernah melihatmu berhubungan dengan wanita satu pun, untuk itu aku memilih—"

"Maaf, Ayah," potong Kakashi sopan. "Saya sangat mengerti maksud ayah, namun bolehkah saya meminta untuk kali ini biarkan saya yang menentukan—"

"kau tahu aku hanya menerima kesempurnaan kan, Kakashi?"

"Tentu saja, Ayah. Dia lebih dari kesempurnaan," Kakashi mengangguk mantap.

Tentu saja, dua belas tahun hidup bersama pria itu membuat Kakashi mengerti dengan benar bahwa pria itu hanya menerima kesempurnaan. Dua belas tahun dia merelakan segalanya untuk kesempurnaan itu, dua belas tahun dia berada di bawah titik kendali kesempurnaan. Dia tahu dengan sangat apa itu kesempurnaan meski dia tak pernah merasa sempurna dalam hidupnya dua belas tahun ini.

"Hanya saja," lanjut Kakashi. "Dia ada di Konoha."

Karena kesempurnaan hatinya ada disana. Di kota kelahirannya.

"Dan mungkin akan sedikit sulit," karena dia ditinggalkan dalam kebencian.

00Lhyn00

"Kak Haruno dipanggil Bunda Tsunade," sebuah suara kecil menghentikan garakan Sakura yang hendak merebahkan badannya di atas kasur. Mata Emeraldnya memandang datar sebuah kepala yang melonggok di celah pintu kamarnya.

"Ada apa Moegi?" Tanya Sakura tak berminat.

Gadis kecil berambut coklat itu hanya menganggat bahu, dengan berat Sakura bangkit dari duduknya, melepas botnya dan melangkah tanpa alas kaki kearah ruangan ketua panti asuhan. Biasanya bukanlah hal yang bagus kalau wanita berdada besar itu tiba-tiba memanggilnya, apalagi mengingat tiga hari ini dia tidak pulang ke panti dan menginap di apartement Sasuke.

Huft. Rasanya sial sekali. Sejak Hiruzen tua itu meninggal dan jabatan ketua pengurus panti diambil oleh wanita itu, rasanya hidup Sakura jadi lebih penuh aturan yang semakin membosankan. Well, bagi Sakura sendiri, tidak aka nada pelanggaran tanpa peraturan.

Langkahnya terkesan asal-asalan, menapaki keramik putih yang selalu identik setiap kotaknya. Pasti membosankan sekali jadi keramik, hidup tanpa hal spesial yang membedakanmu dari yang lain. Meski terkadang Sakura menyesali perbedaan mencoloknya dengan yang lain, sedikit banyak dia bersyukur tidak diciptakan sebagai keramik.

Pelan-pelan langkahnya mulai mendekati sebuah pintu ganda besar diujung koridor kantor kepala pengurus panti, dan dia membukanya tanpa mau repot-repot mengetuknya. "Ada apa, Bunda?" tanyanya tanpa minat, yakin ceramahan panjang yang akan menjadi jawabannya.

"Aku pikir kau tidak ingat tempat ini untuk pulang," nada sarkatis menghiasi alunan suara itu.

Sakura menghela nafas, kedua Emeraldnya berputar bosan sebelum fokus pada sosok wanita yang dari penampilannya berusia sekitar tiga puluhan meski usia sebenarnya telah menginjak angka kepala lima. "Aku menginap dirumah teman."

"Jangan dikira aku tidak tahu seperti apa teman-temanmu itu, Haruno," dengan nada sama bosannya wanita itu membalas.

Sakura berjalan mendekat, menarik kursi tepat di depan meja kerja wanita itu dengan kasar dan menghempaskan tubuhnya di sana. "Memangnya seperti apa teman-temanku, Bunda?"

"Lepaskan topimu saat kau bicara denganku," tanpa menjawab, Tsunade memerintah tegas gadis itu.

Sakura menggeleng. "Langsung saja bicara pada intinya. Aku bosan."

"Lepaskan topimu, Haruno" Tsunade menghardik.

Tak mau berdepat lebih panjang, Sakura melepaskan topi army yang selalu menjadi favoritnya dan meletakkannya di meja. "Aku belum sempat mengecat rambutku," katanya, ada kebencian dalam nada suaranya.

"Saku—"

"Haruno, namaku Haruno," hardiknya cepat saat mendengar suku kata awal namanya terdengar, seakan mendengar nama depannya bisa membuatnya muntah tiba-tiba.

"Apa kau tidak lelah? Karena jujur saja aku lelah melihatmu terus berpura-pura se—"

"Bisa langsung pada intinya saja?" dua puluh persen pertanyaan, selebihnya berupa perintah.

"Terserah kau saja, Aku hanya ingin menunjukkan surat itu padamu," Tsunade, meski vokal yang terucap mengatakan dia tak perduli, tapi getar dalam suaranya begitu mengatakan kalau wanita itu merasa miris.

Sakura mengalihkan pandangannya pada amplop putih yang sedari tadi telah tergeletak tepat di depannya.

"Kau di skors dua minggu penuh karena melakukan hal-hal tidak senonoh di seko—"

"Ck. Merepotkan, kami hanya berciuman, mereka kolot sekali."

"Beruntung kau melakukannya dengan Uchiha, kalau kau kepergok dengan pria lain kau pasti sudah dikeluarkan."

"Aku bosan!" timpal gadis itu.

"Ini serius, Haruno," Tsunade mengeram marah, terlihat sekali kesabarannya mulai hilang. "Dengar! Disini dikatakan bahwa mereka tak perduli lagi tentang nilai-nilaimu yang menyaingi bocah jenius itu, kalau kau melakukan hal seperti itu lagi kau akan dikeluarkan dari sekolah."

Sakura kembali memutar bola Emeraldnya dan sebuah senyum licik serta-merta muncul dibibirnya. "Bunda tak perlu khawatir, aku sendiri yang akan menyelesaikan ini," katanya seraya bangkit dari kursinya.

"Ujian kelulusan tak akan lama lagi, aku harap kau bisa lebih memperhatikan sekolahmu, Haruno," wanita itu terdengar menasehati kali ini.

Meski wanita itu tahu betul kemampuan anak asuhnya itu, tapi kegiatan –liar– Sakura yang akhir-akhir ini terlihat semakin intens mau tak mau membuatnya merasa cemas juga. "Dan satu lagi Haruno," dia kembali berujar, menghentikan gerakan gadis itu yang hendak meraih kenop pintu. "Aku ingin Uchiha menemuiku secepatnya," lanjutnya.

Tampak sebuah kerutan muncul di dahi gadis berambut hitam itu, "Untuk?"

"Aku ingin dia meminta izin padaku setiap kali dia membawamu pergi."

"AP—"

"Secepatnya."

00Lhyn00

SHINOBI KONOHA INTERNATIONAL AIRPORT.

Dia tersenyum memandang tatanan batu pualam yang membentuk barisan huruf itu di halaman bandara Konoha, inilah impiannya dua belas tahun lalu saat pertama kali dua mata Onyxnya memandang deretan huruf itu. Janji pada dirinya sendiri bahwa dia akan kembali dalam senyum untuk menembus kesalahannya saat itu.

Jantungnya berdetak tak nyaman saat kini mata berbeda warnanya mulai menyusuri segala tatanan yang ada ditempat itu. Perlahan, gemuruh dalam dadanya menguat hingga kembali tanpa sadar tangan besarnya naik keatas dan menyentuh dadanya, ah, tidak tapi sesuatu dibalik kaos putih berlengan panjangnya, benda kecil yang selalu menjadi satu-satunya obat saat rindu menyerangnya begitu kuat.

"Sakura…," helanya dalam sebuah nafas. "Aku merindukanmu koibito, tak akan lama lagi."

00Lhyn00

Dentuman demi dentuman terus menghentak, kilat-kilat lampu yang menyorot dalam sekejap, teriakan-teriakan kepuasan dari lautan manusia yang bergumul dalam satu kefanatikan pada dunia mereka. Aroma parfum, rokok, alkohol dan keringat bersatu dalam tarikan nafas yang memburu.

Sekilas itulah deskripsi singkat tentang latar pub malam ternama di konoha yang hampir menghilangkan setengah kesadaran dari setiap manusia didalamnya.

Duduk diatas pangkuan kekasihnya, Sakura tampak tergila dalam sensasi melayang karena gelas vodkanya yang telah tandas di tangan, sama sekali tak perduli dengan keadaan sekitarnya, dia menggoyangkan kepalanya pelan, ikut menggerakkan rambut hitam panjangnya yang juga bergoyang di punggungnya.

Terbawa dalam alunan menghentak yang tak ringan, hanya sesekali mendesah ringan saat kecupan Sasuke di lehernya terasa menajam atau tangan pria itu yang bergerak perlahan.

"Saskey-kuun, kau tahu apa yang hick harus kau lakukan pada hick kepala komite itu hick kan?" Sakura, tanpa rasa bersalah sedikitpun mengangkat wajah tampan itu dari lekukan lehernya, memandangnya sayu dan merancau di bawah pengaruh alkohol.

"Hn," jawab pemuda itu singkat, memandang Sakura dengan kesal dan kembali menarik wajah Sakura mendekat, meraih bibir cherrynya dan melumatnya kasar.

"Apa?" tangan mungilnya kembali memisahkan wajah tampan yang kini berhias kekesalan dari kegiatannya. "Apa yang akan kau la hick kukan padanya, Saskey?"

"Apapun maumu, Nona Haruno."

"AKU MAU KAU MENYINGKIRKANNYA!" Teriak gadis itu keras, ikut mengisi alunan nada keras yang memecah malam.

Diiringi tawanya, Sakura kembali menggoyang-goyangkan kepalanya, membiarkan sang kekasih puas dengan aktifitasnya sendiri di ruang temaram itu. Hingga pagi. Membenamkan hati dalam kepuasan dunia malam yang semakin keras. Bagi seorang Haruno, inilah kehidupannya yang sebenarnya, membuang harga diri dalam satu kegilaan yang sama setiap malamnya. Tak pernah bosan tak pernah letih, karena inilah hidupnya.

Bernyanyi sesuai nada hatinya, berteriak dalam kepuasan raganya, menjauhkan satu perasaan nurani dalam keegoisan, menghindar dari ketulusan karena keterlukaan. Itulah Sakura, ah! Salah, Itulah Haruno. Gadis yang dibuang oleh 'CINTA'. Gadis yang membenci 'CINTA'.

Sekali lagi, sama seperti malam-malam sebelumnya, gadis itu terjatuh di dada sang kekasih dalam kenikmatan buaian alkohol yang menerbangkan.

00Lhyn00

Perlahan Kakashi membuka dua iris berbeda warnanya saat pendar cahaya keemasan pagi itu menyapa dirinya, menyentuh kulitnya dan memantul dari rambut peraknya. Dengan cepat pria itu bangkit, satu keinginan yang mendesak dadanya terus bergemuruh sejak kakinya kembali menjejak tanah konoha lagi.

Meraih handuk dan segera memulai harinya dari kamar mandi.

Terlihat jauh lebih segar dengan kilauan tipis air yang membasahi rambutnya, kaos biru berbalut jas hitam dan celana hitam serta penyempurna dirinya; sebuah masker hitam yang menyembunyikan sebagian wajahnya dari bawah mata, tampak sempurna melengkapi sosok Kakashi.

Berjalan tenang pria itu menghampiri Iruka, tangan kanan kepercayaannya juga merangkap sahabat baiknya yang kini tengah lahap menikmati sandwich tuna di meja makan.

"Kau sudah mendapatkan infonya, Iruka?" Tanyanya seraya menarik kursi didepan pria itu.

"Pagi Kakashi, bisakah kau bersantai sedikit? Ini Konoha bukan Paris," jawab pria berkuncir nanas.

"Aku sudah cukup bersantai dua belas tahun ini," jawab Kakashi datar bahkan terkesan sedikit tak suka.

"Oh oh oh… baiklah tuan, sayang sekali panti asuhan itu sudah pindah sejak lima tahun yang lalu," sejenak, mata coklat madu pria itu menangkap ketegangan dalam raut wajah Kakashi, dan dengan segera dia melanjutkan "Aku sudah meminta detektif itu untuk kekantor pemerintahan, bahkan bila perlu langsung pada Hokagenya untuk mendapatkan alamat terbaru panti asuhan itu."

Tak sirna sepenuhnya, ketegangan itu tampak membuat Kakashi jadi kaku. Seperti yang hampir selalu terjadi saat membicarakan tentang gadis itu, pandangan dua iris berbeda warna itu tampak kosong menerawang.

Iruka memilih kembali menggigit sandwichnya dari pada menunggui Kakashi selesai dengan lamunannya. Sejujurnya, kalau boleh tidak sopan, Iruka ingin sekali bertanya seperti apa sosok 'Sakura' yang selalu dibicarakan oleh tuannya selama ini, se-spesial apa gadis itu hingga membuat seorang Hatake bisa kehilangan dirinya seperti ini?.

"Kapan kita bisa mendapatkan alamat itu?" Ah~ akhirnya sosok di depannya kembali pada dirinya sendiri.

"Siang ini, mungkin," jawab Iruka tak yakin, dia sendiri baru tiga hari dikonoha dan masih belum tahu benar system pemerintahan di konoha. Bahkan, sepertinya dia sedikit tak suka dengan tempat ini. Tanpa kekuasaan seperti di Paris. Sebagai tangan kanan seorang Hatake muda, dia bisa dengan mudah mengobrak-abrik system informasi bahkan sampai yang terdelam sekalipun di kota itu. Tapi konoha? Dia hanyalah pendatang baru.

Kini seraut senyum tipis terukir di balik masker itu, dan kalau tidak salah, sekelebat Iruka melihat adanya kelegaan di kedua iris berbeda warna milik tuannya.

"Ada apa?" Tanya Kakashi, mengalihkan perhatiannya dari piring sandwich dan gelas kopi di depannya pada Iruka yang tampak mengamati dirinya.

"Tidak, hanya saja…," Iruka berputar, mengarahkan pandangannya pada Kakashi. "Aku masih tak percaya dengan sikapmu, kau mengenalnya hanya setahun dalam dua puluh tiga tahun hidupmu dan itu pun dua belas tahun yang lalu, dan selama itu kau tidak pernah bertemu dengannya, itu bahkan lebih konyol dari pada memilih kucing dalam karung."

"Ada yang salah?" Tanya Kakashi tak acuh, seakan kalimat pajang Iruka hanya dengung lebah yang tak berarti.

"Kau tidak mengenal dia yang sekarang kan, bagaimana kalau ternyata dia… tidak cantik, mungkin?" mengemukakan pendapat yang bahkan dia sendiri ragu, nada Iruka terdengar aneh.

"Dia gadis tercantik yang pernah kukenal, aku yakin bahkan kau pun akan takhluk dalam pesonanya nanti," Kakashi mulai memakan sarapannya dengan menurunkan masker hitamnya sebatas dagu.

"Tentu saja, kau bahkan tak mengenal gadis manapun. Enteng bagimu bilang seperti itu sekarang. Lagi pula, kau tidak tahu kabarnya selama ini, bagaimana kalau…. -Aku bicara yang terburuk- dia sudah meninggal?" Sedikit perubahan dari nada suara sebelumnya yang selalu terdengar tak yakin, Iruka memandang Kakashi lebih intens.

Kakashi berhenti mengunyah dan tampak menelan paksa makanannya, diarahkannya dua pandangan Onyx dan Ruby itu pada satu titik, Iruka. "Aku yakin dia masih hidup," katanya tenang kemudian melanjutkan acara sarapan paginya.

Merasa tak ada gunanya berdebat lebih lanjut dengan pria perak itu, Iruka memilih diam, membiarkan tuan mudanya menghabiskan sarapan paginya dengan tenang. Kakashi pun tampak tak ingin membahas debat kusir itu lebih lanjut. Tak ada hal apapun yang bisa mencegahnya menemui Sakura, kembali pada gadis itu.

"Kau bisa menyiapkan mobil sekarang, Iruka?" Kakashi kembali membuka pembicaraan setelah menghabiskan teguk terakhir kopi hitamnya.

"Maaf tuan muda, mobil anda masih dalam perjalanan dari paris, mungkin baru tiba sekitar satu jam lagi," bangkit, Iruka meninggalkan Kakashi di meja makan, mata coklat madunya memandang penuh minat pada satu set home teather di ruang tengah apartement itu. "Memangnya kau mau kemana?" tanyanya sembari duduk di sofa berlengan panjang, kembali meninggalkan etikad formal antara pekerja dan majikannya. Bekerja dua belas tahun sebagai pelayan pribadi Kakashi, membuat Iruka memiliki hal-hal khusus yang tak dimiliki pelayan lainnya terhadap Kakashi.

"Mencari sesuatu untuknya," bangkit, mengambil arah yang berbeda dari Iruka, dia berjalan kearah balkon apartementnya. Menggeser pintu kaca besar didepannya dengan pelan dan membiarka angin kencang di ketinggian lima puluh meter berhembus masuk melewati dirinya.

"Kau lupa membawa cincinnya?"

Terdiam sesaat, mengedarkan pandangannya menyapu pemandangan kota konoha dari atas, menyapu begitu saja deretan atap-atap berdominan orange, gedung-gedung pencakar langit lain, jalanan kecil, mobil-mobil hingga garis horizon yang seakan menjadi pemisah antara langit dan bumi. Perlahan disandarkannya tubuh besar itu pada pagar balkon yang terasa dingin dikulitnya, mengaitkan kedua telapak tangannya dan menghela nafas pelan. "Sesuatu yang lain, sesuatu yang bisa mengingatkan dia padaku."

00Lhyn00

Sedikit terhuyung, Sakura bangkit dari tidurnya. Cahaya matahari menembuh tipis tirai kamarnya, setidaknya memberi tahu gadis itu bahwa malam tak lagi meraja dan satu perjalanan mimpi buruk tanpa akhirnya akan segera dimulai. Dia menguap lebar, mengibaskan rambut hitamnya kebelakang dan memijit pelipisnya pelan, sekedar mengurangi rasa pening disana.

"Kau sudah bangun?" Sebuah suara datar menyita perhatiannya.

Sasuke, pemuda itu telah terlihat rapi dalam seragam sekolah plus jumper birunya. Berdiri tegap dengan segelas air putih ditangannya.

"Jam berapa?" Sakura kembali duduk di atas kasurnya, sementara Sasuke mendekat dan mengangsurkan gelas itu padanya beserta sebutir obat yang diketahui Sakura sebagai Aspirin.

"Setengah delapan, kau banyak minum semalam," kata Sasuke datar, kemudian ikut duduk di atas kasur di samping Sakura.

Apartement Sasuke adalah rumah keduanya setelah Panti Asuhan Konoha sejak setahun ini, tempat dia pulang saat Panti terasa benar-benar membosankan. Meski Terminal Utara Konoha juga menjadi rumahnya bersama para Akatsuki, tapi setidaknya di apartement ini dia punya kamar sendiri seperti di Panti. Di ketiga tempat itulah dia pulang, letak ketiganya tidak saling berjauhan hanya berbeda beberapa blok hingga memudahkan Sakura berpindah tempat saat bosan.

"Jadi kita bolos jam pertama?" Tanya Sakura datar, dia berjalan mendekati Sasuke yang menunggunya di meja makan. Tangan pucatnya sibuk menyisir rambut hitamnya, membiarkan Sasuke menarikkan kursi untuknya dan duduk di atas kursi itu.

"Kita di skors," seolah memperingatkan dengan bosan, Sasuke memandang Sakura aneh.

"Iyah, tapi kau kan sudah janji mau melakukan sesuatu pada si ketua komite baka Orochimaru itu," tampak terdengar sedikit antusiasme dalam nada suara Sakura kali ini.

"Aku sudah menyuruh Izumo melakukan tugas itu, setidaknya biarkan dia merasa menang sesaat sebelum menghancurkannya," sedikit seringgai muncul di wajah dingin nan pucat itu.

Mengoleskan selai coklat pada rotinya sebelum berkata dalam nada datarnya; "Seluruh sekolah akan senang kalau aku tidak muncul, mungkin aku perlu meminta Deidara untuk meledakkan sekolah sesekali."

"Kau bisa di bakar Itachi kalau melakukan itu, dia baru saja merenofasi lantai seluruh bangunan," Sasuke bergumam, terdengar sedikit cemas dalam suaranya.

"Hahaha…," Sakura tertawa, tampaknya nada khawatir dari sang kekasih terdengar seperti lelucon baginya. "Aku hanya bercanda Saskey, mana mungkin aku benar-benar meminta Deidara melakukan itu, hahaha…"

"Huft…" si Onyx menghela nafas dan memutar Onyxnya. "Tidak biasanya rencanamu hanya tinggal rencana, Haruno."

"Itu bukan rencana Sasuke, hanya… yah begitulah," Sakura menggigit rotinya banyak-banyak. "The-nang sajha, khe?" katanya dengan mulut penuh roti seraya menepuk-nepuk bahu Sasuke, membuat helaan nafas dari pemuda Onyx itu semakin terdengar kasar.

"Sudah lah ayo berangkat," tampak kesal, Sasuke meraih tas sekolahnya dari kursi disampingnya dan meninggalkan Sakura yang tampak membelalak dengan mulut penuh roti.

"Hey… khao nghambhek?"

Dengan sedikit gugup, Sakura menelan habis rotinya dan meminum cepat segelas susu yang telah tergeletak di meja di depannya, berlari kecil kekamarnya untuk menambil tas sekolahnya dan buru-buru mengejar Sasuke yang telah mendahuluinya.

Di apartement itu memang tak hanya Sakura dan Sasuke yang mendiaminya, ada Uchiha Itachi yang merupakan kakak kandung Sasuke, Izumo yang merupakan tangan kanan Sasuke, Kisame sebagai tangan kanan Itachi dan seorang pengurus rumah bernama Kazuya. Berbeda dengan Sasuke dan Izumo yang hubungannya benar-benar antara Majikan dan Pekerja, Itachi dan Kisame justru sangat terkesan 'Sahabat dekat'. Meski sama-sama Uchiha, Itachi memang sangat kontras dengan Sasuke. Dalam sekali pandang saja orang akan tahu sosok Itachi yang tenang, dewasa dan lebih bersahabat, berbeda dengan Sasuke yang arogan, egois dan angkuh meski bila di bandingkan dengan Sakura, Sifat Sasuke bukanlah sesuatu yang buruk.

Sakura berhasil mengejar Sasuke sedetik sebelum pintu lift bergerak menutup, membuat nafas gadis itu sedikit terengah. "Katakan kalau kau tidak benar-benar berniat meninggalkanku Sasuke!" Hardik Sakura tajam setelah berhasil mengatur nafasnya.

"Tentu saja tidak, Aku tahu kau bukan type gadis yang suka di rangkul dengan mesra," jawab Sasuke datar.

Huft, bisa juga pemuda itu membuat Sakura hampir meledakkan emosinya. Sakura kembali mengambil nafas, kali ini untuk mengatur emosi dalam dadanya. "Jadi kau benar-benar ngambek?"

"Tidak," Kilah Sasuke datar.

"Benarkah?"

"Aku tidak ngambek, Haruno," kali ini nadanya terdengar tak sabar.

"Yah, kau tid—" kalimat Sakura terputus karena pemuda itu menarik tubuh Sakura kedalam pelukannya, mendekap erat Sakura dan meraih rahang gadis itu, mengarahkannya agar Emerald dan Onyx bertemu.

"Aku bukan banci, Haruno," keduanya sama-sama menyeringgai, mengakui satu keinginan yang sama dalam benak mereka dan mewujudkannya dalam satu sentuhan panas di bibir mereka.

Saling menarik dan menyentuh, berlomba dalam dominasi, keduanya kembali terhanyut dalam kepuasan diri tanpa kendali hingga…

'Ting'

Suara pintu lift yang terbuka menghentikan kegiatan mereka, keduanya saling melepas tanpa rasa canggung, tanpa rasa malu, dan tanpa kegugupan memandang dua orang yang tampak menghela nafas mendapati aksi kedua muda-mudi ini di dalam lift.

Awalnya, tak ada yang aneh dengan detak jantung Sakura bahkan ketika menyadari aksinya tertangkap mata orang lain yang bukan untuk pertama kalinya bagi Sakura, tak ada yang berbeda hingga Emeraldnya menemukan satu Onyx milik pria yang kini melangkah masuk kedalam lift.

Jantungnya yang mendadak berpacu cepat membuatnya resah. Onyxnya, yah Onyx itu… pancaran Onyx itu terasa begitu dekat di dadanya, terasa menghangatkan hatinya, satu rasa hangat yang seakan selama ini dirindukannya.

Memberanikan diri, Sakura mengamati sekilas sosok pria itu. Rambut perak yang berdiri aneh keatas, dua iris yang berbeda warna dengan segaris luka memanjang vertikal di mata kirinya, dan sebuah masker hitam yang menutupi sisa wajah itu. Tak ada yang aneh menurut Sakura kecuali pandangan Onyx itu. Buru-buru, sebelum membuat pria itu tersinggung dengan pandangannya, Sakura mengalihkan Emeraldnya kearah lain, dan menemukan Sasuke yang juga memandangnya aneh.

'Ada apa?' gerak bibir Sakura tanpa nada.

Sasuke menggeleng. "Mungkin hanya perasaanku saja," katanya kemudian, seakan menjawab kegelisahan hati Sakura yang timbul akibat Onyx itu.

'Hanya perasaanku saja'

00Lhyn00

Hiiii…. Gimana? Bingung? Atau cukup jelaskan penjelasan Lhyn disini? Yap Haruno is –the dark of– Sakura Haruno. Akan ada penjelasan alasan untuk ini nanti.

Tapi untuk sementara Lhyn mau Hiatus dulu untuk beberapa saat. Maaf untuk yang kecewa *sapa?gada qo.* tapi Lhyn masih akan tetep eksis di FB n' Grub FFn World…. *kenapa ga pergi sekalian che?* n' maaf untuk yang kecewa dengan Event Summer, mohon maklumnya, nama'a juga file ngais-ngais ditempat sampah, file yng ini juga ngais-ngais ditempat sampah.

Hidup Istrahan Nulis! Hidup Hiatus!

Rifyu