Warning : AU, TYPO, OOC, gaje, aneh, parah, ngaco, dll yang bikin Fic ini terlalu jauh dari kata sempurna... jadi rifyu, saran, kritik, dukungan, flame dan sesuatu yang bisa membuat Lhyn melangkah maju Lhyn terima dengan senang hati.

ARIGATOU GOZAIMAZU For :

Hatake Satoshi, Haza Haruno, Thia, Hatake Liana, Kakasaku, Rizu Hatake-hime, aya-na rifa'i, Violet7orange, Nay Hatake, Mokochange, Hatake Ryuuki, Kurosaki Kuchiki, Fun-Ny Chan D'JiNcHuUri-Q

Naruto ® MK

Love Hater ® LH

"Kau kenapa Kakashi?" Tanya Iruka heran melihat kelakuan 'Sahabat plus tuan muda'nya yang sedari tadi terus menggeleng-gelengkan kepalanya hingga tampak seperti seseorang yang tengah 'terbang' karena ganja.

"Gadis yang di lift tadi, sekilas aku mengira dia Sakura," jawab Kakashi tak yakin.

"Bukankah kau bilang Sakura berambut Pink? Gadis tadi berambut hitam," jawab Iruka dengan heran, langkah kakinya terus mengikuti langkah kaki panjang Kakashi menuju rest room apatement untuk menunggu kedatangan mobil Kakashi.

"Aku tahu, hanya saja matanya mengingatkanku pada Sakura saat itu," suara Kakashi terdengar lebih berat kali ini, tangannya terulur membuka pintu kaca di depannya, kemudian mengedarkan pandangannya menelaah seluruh ruangan dalam kaca itu, ada lima set sofa yang hampir semuanya kosong, masing-masing set dengan model dan warna yang berbeda dan dilengkapi dengan pohon palem atau Sakura bonsai dalam pot besar yang membuat ruangan itu tampak nyaman. Kakashi berjalan menuju satu set sofa berwarna merah dan segera menghempaskan tubuhnya di sana.

Fikirannya kacau, dadanya terus berdebar dan bergemuruh selama semenit berada di dalam lift, tadi. Tepatnya setelah pandangannya menemukan emerald yang langsung mengingatkannya pada emerald Sakura saat itu… saat terakhir dia meninggalkannya. Tatapan penuh kebencian, emerald yang hitam tanpa cahaya, pandangan yang menyiratkan dia tengah terluka dan tengah menyimpan dendam.

"Jadi kau fikir itu Sakura? Lalu kenapa kau tidak menyapanya? Hay Sakura, aku Kakashi teman masa kecilmu… hem?" Tanya Iruka dengan menambahkan aksen seperti wanita dikalimat terakhirnya, lalu duduk di samping Kakashi.

"Entahlah, Aku merasa takut." Jawab Kakashi hampa, jawaban yang diluar perkiraan Iruka, tadinya dia sempat berharap Kakashi akan meninju bahunya atau apa.

"Ayolah Kakashi… Jumlah gadis bermata hijau seperti itu jauh lebih banyak dari pada jumlah gadis berambut pink, lagi pula aku mendengar anak di sampingnya memanggilnya Haruno bukan Sakura," Iruka menekankan kedua nama itu dengan berat. "Dua belas tahun kalian tidak bertemu, wajar kalau kau mungkin tidak mengenalinya dan berfikir gadis itu—"

"Aku tidak mungkin salah mengenalinya!" Hardik Kakashi, memotong kalimat Iruka yang kini terbengong.

"Maaf," gumam keduanya bersamaan. Keduanya saling pandang sesaat, lalu menghela nafas bersamaan dan akhirnya membanting punggung bersamaan ke sandaran sofa.

"Sejujurnya, aku memang tidak yakin. Sakura-ku begitu manis, matanya begitu lembut, begitu pemaaf bahkan saat ada orang yang mengejeknya, dia akan memilih menangis sendirian dari pada bertengkar, dia paling tidak bisa melukai orang lain, jelas berbeda dengan gadis tadi," terang Kakashi yang juga menyiratkan ketidakyakinan dalam hatinya.

"Yah, gadis tadi terlihat urakan dan apa-apaan mereka berciuman di dalam lift? Demi Roma mereka memakai seragam! Kami…."

Kakashi melirik Iruka sesaat, lalu memejamkan matanya berusaha mengingat setiap detail sosok Sakura dalam ingatannya. Gadis kecil berambut pink yang bergerak lembut seirama dengan langkah kecil kaki-kakinya, senyum ceria dan pancaran hangat dari emeraldnya yang lembut.

Iruka menggeleng-geleng kecil melihat Kakashi yang kini memejamkan matanya dan tersenyum tipis di balik maskernya, tangan kanan Kakashi yang menggengam sesuatu di dadanya membuat Iruka tahu sahabatnya itu tengah membayangkan Sakura-nya, Lagi.

"Gila." Gumam Iruka mafhum. Keadaan Kakashi yang seperti itu hanyalah satu dari sekian banyak contoh bentuk kegilaan lain yang ditunjukkan Kakashi akan efek kecintaannya pada sosok Sakura.

Iruka tahu pasti seperti apa arti Sakura bagi Kakashi, lebih dari sekedar ambisi, cita-cita, tujuan atau obsesi. Semua yang dilakukan Kakashi hingga mampu mencapai titik ini –seorang master bisnis termuda lulusan terbaik diusianya yang baru menginjak angka dua puluh tiga– berlatar belakang Sakura. Tak pernah menghadirkan sesosok wanita melebihi teman, hanya karena seorang gadis dimasa kecilnya. Selalu bangkit dalam keterpurukan sedalam apapun hanya setelah mengingat satu nama Sakura.

Cinta macam apapun itu, Iruka hanya mampu menamainya sebagai cinta gila.

Grrdd…grrrddd…

Getar ponsel mengalihkan perhatian Iruka dari Kakashi, diraihnya ponsel itu dari saku celananya, melihat nomor yang tertera sebelum menjawab; "Haloo.."

Petugas pengiriman, mengabarkan bahwa mobil kesayangan tuan mudanya telah tiba di apartementnya dari Paris. Setelah menutup telfonnya, Iruka beranjak dengan pelan dari tempat itu, meninggalkan Kakashi yang masih asyik dengan fantasinya tentang gadis itu, gadis yang belum pernah terlihat sosoknya di mata Iruka.

Kakashi membuka matanya saat merasakan gemuruh dalam dadanya benar-benar mereda. Dan hanya menghela nafas saat mendapati Iruka tak berada di sampingnya. Tanpa mau berepot-repot mencari, Kakashi kembali memejamkan matanya. Berapa lama lagi waktu yang dibutuhkannya untuk bisa menemui gadis itu, berapa banyak lagi usahanya untuk dapat menatap emerald yang mampu menghangatkan hatinya.

Sakura.

Kakashi benar-benar merindukannya.

00Lhyn00

Sakura menghela nafas bosan, berita tentang di –berhenti tugas–kannya ketua komite sekolahnya baru-baru ini menjadi berita utama majalah sekolahnya. Sebagian pihak mengaku sependapat dengan keputusan dewan utama sekolah –yang sebenarnya hanya Sasuke— mengenai hal ini, dan sebagian lagi mengeluhkan tentang siapa yang akan menjadi penganti selanjutnya dan apakah pengganti itu bisa bekerja lebih baik dari si –ular– Orochimaru itu. Sedangkan bagi Sakura, hal itu tak lebih dari sekedar kesenangan –sesaat– yang kini terasa membosankan.

Emeraldnya menatap kosong hamparan langit kelabu yang membentang luas di atasnya. Tampaknya sang kunci siang tengah menikmati masa liburannya dengan bersinar malas-malasan dibalik gelagat hujan. Kekosongan nada hanya diisi hembusan angin pelan, gemerisik dedaunan di bawah sana serta sayup-sayup deru kenalpot yang masih terbawa menari bersama angin.

Sakura bangun dari pembaringannya di lantai atap sekolah. Kasarnya lantai yang hanya berupa semen bertekstur kasar semakin menyiksa punggungnya. disisi lain, Sasuke yang melihat pergerakannya beralih memandangnya.

"Sebaiknya kita pulang, sebentar lagi hujan," gumam pemuda raven itu.

"Aku tahu," –bodoh, bahkan anak kecil pun tahu kalau mendung berarti akan turun hujan— "tunggu sebentar lagi."

Sasuke mengangguk, bagun dari tempatnya duduk di pagar pembatas dan berjalan dengan tenang kearah Sakura, bunyi sol sepatunya yang bergema terdengar meningkat secara statis. Sakura paham, bahwa pemuda itu telah merasa bosan di tempat yang memang membosankan ini. Tapi terkadang, justru tempat yang membosankanlah yang memberi ketenangan bagi Sakura. memberi kenyamanan yang kadang masih tak bisa di mengerti kenapa dia masih membutuhkan itu.

Sasuke telah tiba di depannya, berdiri menjulang dengan postur yang seakan sulit dirobohkan. Tapi Sakura tahu, orang-orang yang seperti itulah yang justru mudah dihancurkan. Cukup dengan setitik penghianatan, dan dia takkan tersisa. Terlalu lemah. Sakura muak dengan hal itu.

"Apa yang kau pikirkan?" gumam Sasuke, sementara kedua tangannya menyusup perlahan kedalam hangat saku celananya.

"Hem?" Sakura mengangkat alisnya, tanda tak mengerti maksud pertanyaan itu.

"Kau yang memandangku seperti itu, apa yang kau fikirkan tentang aku?"

Sudut bibir gadis itu tertarik sedikit keatas, apakah sekarang otaknya jadi begitu transparan? Atau karena pemuda itu telah begitu mengenalnya hingga dia jadi transparan? "Apa yang kau pikirkan tentang apa yang tengah kupikirkan tentangmu?" Sakura melepas kewajibannya menjawab dengan kembali melempar pertanyaan itu.

"Aku terlihat lemah di matamu," ekspresi wajah yang datar

Tarikan dibibir Sakura semakin meninggi, gadis itu mengulurkan tangannya, meminta Sasuke membantunya berdiri. Sasuke mengeluarkan tangannya dari balutan hangat saku celana, meraih tangan Sakura dan menarik gadis iu berdiri.

"Jadi aku terlihat seperti gadis sombong, di matamu?" Sakura berkata rendah, menatap Sasuke intens.

Pemuda raven itu mendengus, menggumamkan ketidaksukaannya terlihat kalah. "Kau memang pandai bicara," sementara lengan kanannya merangkul pinggang Sakura, membawanya pergi dari tempat berangin seperti atap sekolah.

00Lhyn00

Warna kelabu dari langit yang mendung terlihat semakin gelap dari kaca jendela hitam ferarri biru Kakashi yang melaju pelan dalam kemudi pria berkuncir nanas di sampingnya. Semua hal di depannya terlihat seperti negeri dongeng di mata berbeda warnanya. Aspal jalan yang hitam, pohon-pohon Sakura berjaun rimbun, kursi-kursi besi di atas trotoar, etalase-etalase toko yang memajang, hingga para pejalan kaki yang kadang saling menyapa ringan. Semuanya, terlihat seperti impian bagi pria berambut perak itu, impian yang anehnya, membuatnya merasa pulang. Cih! Kenapa dia jadi berfikiran seperti seorang gadis?

"Jadi kita mau mencari hadiah di mana?" Tanya Iruka dalam nada bosan. Kakashi bisa mengerti, karena sejak dua jam yang lalu Kakashi hanya memintanya berputar-putar di daerah yang sama.

"Parkirkan mobilnya di sana," Kakashi menunjuk sebuah tempat parkir didepan sebuah toko bunga dengan tulisan kanji 'Yamanaka' dengan berbagai warna dan aksen berbagai bunganya.

Setelah mobil berhenti sempurna dalam kehalusan Iruka mengemudi, Kakashi segera melepas sabuk pengamannya. Jantungnya sedikit terpacu saat sol sepatu kulitnya menghasilkan bunyi 'tuk' rendah saat bersinggungan dengan pavin jalan. Tubuhnya terasa kebas saat perlahan pandangannya menyapu apa yang tersaji di depannya, kursi-kursi besi, toko bunga, toko es krim, toko buku, lorong sempit, pohon Sakura berdaun rindang…. Akh! dadanya bergemuruh.

Melangkahkan kaki panjangnya, Kakashi meninggalkan Iruka yang tampak mengerti. Pria perak itu berjalan lurus, menapaki dunia impian yang tampak mengecil dibanding dua belas tahun yang lalu. Lorong sempit yang tercipta di antara dinding-dinding toko itu masih terlihat gelap, aroma lembab tembok basah, serta rasa dingin yang menyentuh kulit masih menyapanya, sama. Kakashi semakin tertarik maju menyusuri dunia impian yang lama di tinggalkannya, berdebar senang saat kehijauan tampak menggoda penglihatannya di ujung lorong sempit yang dia tapaki.

Mata berbeda warnanya membulat, kemudian menyipit kecewa. Jejeran bangunan berlantai dua menimpa dunianya, rumah-rumah mini yang tampak dijejalkan paksa, pohon-pohon dalam pot yang tampak menderita, dan warna-warna cerah cat tembok yang mengikis kesederhanaan dunianya.

Tempat itu telah berubah.

Kecewa. Kakashi berbalik, melangkah lebih cepat melewati lorong itu. Satu rasa takut menyergap hatinya dalam sekejap, tempat itu berubah, menjadi sebuah tempat asing didunianya, bukan tidak mungkin, Sakura juga berubah… menjadi sosok asing untuknya.

Tidak! Seperti apapun perubahan yang terjadi pada Sakura, Sakura takkan pernah jadi asing untuknya.

Langkah kakinya yang perlahan, membawanya kedepan sebuah pintu kaca bening yang memaparkan apa yang ada di dalam ruang toko itu, ratusan keranjang-keranjang bunga yang berjejer dan bersusun dalam rak-rak yang berbaris rapi.

'Klinting…'

Bell pintu berbunyi pelan, mengumumkan kehadirannya pada satu-satunya manusia yang berada di balik meja kasir. Seorang gadis blonde yang membungkuk pelan dan tersenyum kecil hingga membuat mata aquamarinenya sedikit menyipit.

"Selamat datang di toko bunga Yamanaka," sapa gadis itu ramah.

Kakashi membalas dengan menyunggingkan senyum di balik masker hitamnya. "Yang itu, buatkan tiga tangkai setiap ikat sebanyak sepuluh ikat untuk satu buket," gumam Kakashi cepat namun teratur.

Kembali tersenyum ringan, "Baiklah, tunggu sebentar," dan gadis itu beranjak dari meja kasir, sementara kedua mata berbeda warna mengikuti pergerakan langkah gadis itu menuju etalase di mana keranjang berisi mawar ungu yang di tunjuk Kakashi.

Sementara gadis pirang itu menjelajahi rak di belakang meja kasir, Kakashi juga menjelajahi seluruh ruangan toko itu dengan mata berbeda warnanya. Tak banyak berubah, letak meja kasir yang masih sama, deretan rak-rak yang berjejer dalam posisi yang sama, bahkan letak setiap keranjang bunga pun masih sama, kecuali bahwa tempat itu terasa jauh lebih sempit, lebih kecil dan lebih rendah dari terakhir kali dia datang.

"Gunakan pita warna pink," gumam Kakashi, saat sudut matanya menangkap gadis itu hendak menarik pita berwarna ungu muda.

"Aa," sahut gadis itu, dan mengeser sedikit tangan putihnya kearah gulungan pita berwarna pink.

"Dia suka warna pink."

"Kebanyakan gadis memang suka warna pink. Tapi kenapa anda tidak memilih warna pink juga untuk bunganya?" Tanya gadis itu, sementara kedua tangannya dengan cekatan merapikan setiap tangkai bunganya.

"Aku juga tidak tahu, dia begitu saja menunjuk bunga itu," gumam Kakashi, mulai memperhatikan kegiatan gadis di depannya. "Mawar ungu, artinya ketulusan dan rela berkorban dan tiga tangkai menyatakan kesungguhan, benarkan?"

Gadis itu mendongak, meninggalkan tumpukan bunga-bunga dan beralih pada Kakashi. "Kau tahu banyak juga tentang bunga," pernyataan dalam sedikit keterkejutan. "Dia gadis yang beruntung," senyum tipisnya kembali terpajang di wajah gadis itu sebelum dia kembali pada bunga-bunga di atas mejanya.

"Dulu, ayahmu juga pernah mengatakan hal yang sama," melalui sudut matanya, Kakashi bisa melihat gerakan tangan gadis itu yang kembali terhenti, namun kali ini gadis itu tidak mengalihkan pandangannya dari bunga-bunga itu. "Bagaimana kabar ayahmu?" Lanjut Kakashi.

"Dia baik," getar suara gadis itu yang berubah dari sebelumnya, memberi tahu Kakashi dengan pasti gadis itu tengah berbohong. Dan Kakashi cukup tahu diri bahwa gadis itu tak lagi menginginkan obrolan tentang ayahnya berlanjut.

Suasana jadi hening hingga gadis itu selesai membentuk buket bunganya, ucapan terimakasih dari Kakashi mengakhiri pertemuan singkat mereka. Bunyi bell pintu yang berdenting pun menjadi penanda bahwa Kakashi telah keluar dari toko bunga itu, meninggalkan seorang gadis yang tak mampu lagi membendung air matanya dan bergumam lirih. "Ayah…"

"Aku sudah mendapatkan alamatnya," kata Iruka menyambut Kakashi begitu pemuda perak itu duduk di kursinya.

Tersenyum dibalik maskernya Kakashi berkata "kita kesana, sekarang."

"Sakura," Kakashi memanggil pelan gadis lima tahun yang menundukan kepalanya dalam-dalam, yang duduk di atas sebuah kursi besi semeter di depannya. Berlari selama lima belas menit dari panti membuat nafas pemuda kecil itu terengah. Sakura mendongak, menampilkan wajah polosnya dan tak berkata apa-apa. "Jangan menangis," lanjut Kakashi, mata emerald gadis itu sedikit memerah, dan ada jejak air mata tipis di pipinya. Tangan Kakashi bergerak, mengusap jejak tipis yang seakan menjadi noda di wajah manis gadis berambut pink itu.

"Aku tidak menangis, ada debu yang masuk kemataku tadi," elak Sakura, kepalanya menggeleng pelan, membuat rambut pink pendeknya sedikit bergoyang.

"Tidak boleh berbohong," Kakashi memperingatkan, sembari menyentil ujung hidung gadis itu yang sedikit memerah. "Kubelikan es krim ya?" tawar Kakashi, dia baru saja akan berbalik ketika melihat Sakura menggeleng, membuat kedua alisnya mengernyit heran, gadis itu tidak pernah menolak es krim pemberiannya. "Lalu kau mau apa? Aku tidak suka melihatmu bersedih terus, Sakura."

"A-aku mau itu…," gumam gadis itu lirih, menundukkan wajahnya yang memerah sementara telunjuknya menunjuk sebuah arah.

Kakashi melihat keranjang bunga mawar ungu yang terpajang di etalase toko bunga di depan Sakur., "Oh…," dia mengerti. "Baiklah, tunggu di sini sebentar," dan Kakashi yang hanya menginginkan senyum ceria gadis itu kembali muncul di wajahnya, melangkah ringan melewatkan semburat merah yang makin kentara di wajah Sakura.

"Paman, aku mau bunga yang itu tiga tangkai diikat jadi satu ya…," seru Kakashi bersemangat saat tangan kecilnya baru saja membuka pintu kaca transparan toko bunga itu, bahkan bel pintu pun belum selesai bernyanyi.

Seorang pria bertubuh tinggi besar mendatanginya, rambut pirang panjangnya diikat ekor kuda begitu tinggi, dan senyum ramahnya seakan tidak cocok dengan garis rahang tegas keras yang mencetak wajahnya. "Yang ini?" paman itu mengangkat keranjang bunga yang ditunjuk Kakashi.

Kakashi mengangguk. "Tiga tangkai."

Paman itu memilihkan tiga yang terbaik dari puluhan, kemudian membawa ketiga tangkai itu kemeja kasir di ujung toko, meletakkannya di atas meja dan mulai merapikan daun-daunnya dengan cekatan.

"Untuk pacarmu?" Paman itu bertanya, sementara dagunya menunjuk arah dimana Sakura tengah duduk di kursi besi yang terlihat karena bagian depan toko itu seluruhnya adalah kaca.

Kakashi berbalik, memandang Sakura yang tengah duduk manis dengan menggoyangkan kedua kaki kecilnya yang tak menyentuh tanah, senyum kecil yang melengkung di bibir gadis itu tak ayal mengundang senyum lain di bibir Kakashi.

"Kau beruntung, pacarmu itu cantik sekali," kata paman itu lagi.

Sesaat Kakashi ingin menyangkal dan berkata 'dia adikku,' namun akhirnya dia segera mengangguk mengiyakan. "Dia memang cantik."

"Jaga dia baik-baik," paman itu mengangsurkan seikat mawar ungu yang telah terhias apik. "Paman yakin dia akan jadi bunga yang banyak diincar kumbang-kumbang."

Kakashi memiringkan kepalanya, tak mengerti. "Berapa?" tanyanya saat menerima bunga itu.

"Untuk pacarmu, kuberi gratis," paman itu kembali tersenyum ramah, namun anehnya senyum kali ini tampak cocok di wajahnya yang masih tegas.

Kakashi menggeleng, melenyapkan senyum ramah di wajah paman itu dalam sekejap. "Aku mau aku yang memberinya, bukan paman. Jadi aku akan membayarnya."

Paman itu tertawa rendah, tawa yang seakan merontokkan gurat keras di wajahnya. "Kalau begitu kuberikan untukmu, dan kau akan memberikannya pada pacarmu itu. Oh, juga sebagai perjanjian bahwa kau akan menjadi langganan disini… bagaimana?"

Kakashi mengernyit, mencoba memikirkan kata-kata paman itu. Sejenak kemudian dia mengangguk. "Terima kasih paman," dia membungkuk, kemudian beranjak dari tempatnya berdiri mengenggam seikat bunga.

"Sampaikan salamku pada gadis itu, siapa nama mu?" Tanya paman itu, menghentikan gerakan Kakashi yang hendak membuka pintu.

Kakashi kembali berbalik, memandang wajah bergurat tegas di balik meja kasir itu. "Nama saya Kakashi dan dia Sakura," Kakashi menunjuk gadis yang masih duduk di atas kursi besi di depan toko itu.

"Saya Inoichi, senang berkenalan dengan mu, Kakashi," Inoichi, paman itu pun membungkuk sedikit.

"Sampai jumpa paman," setelah mengucapkan itu, Kakashi segera menarik gagang pintu, membuat bell pintu berdenting pelan dan melangkah keluar.

Langkah kakinya berayun ringan, sebelah tangannya mengenggam seikat bunga yang bersembunyi dibalik punggung kecilnya. Kedua mata onyxnya memandang penuh-penuh ekspresi Sakura yang menunggu, disetiap langkahnya, Kakashi bisa melihat senyum gadis itu yang semakin mengembang.

"Mana bunganya?" gadis itu bertanya, tubuhnya bergerak mengintip tangan Kakashi yang bersembunyi di balik punggungnya, namun dengan cepat Kakashi menghindar membuat pipi gadis itu menggembung sebal. "Aku mau bunganya Kakashi."

"Tutup matamu."

"Tidak mau, aku mau bunganya Kakashi…," Sakura mulai terdengar merengek.

"Aku tidak akan memberi bunganya kalau kau tidak menutup matamu. Tutup matamu," perintah Kakashi pelan.

Meski tak mengerti, meski tak sabar dan meski tak mau, Sakura menuruti perintah Kakashi. Menutup matanya perlahan, melenyapkan sosok pria kecil berambut perak di depannya.

"Jangan mengintip… aku hitung sampai tiga yah…"

Sakura mengangguk masih dengan mata terpejam.

"Satu… dua… tiga… buka matamu Saku-chan," suara Kakashi terdengar lembut.

Gadis itu membuka matanya, senyum pun mengembang di bibir mungilnya kala menemukan warna cantik dari seikat bunga mawar ungu di depannya. "Terima kasih Kakashi," gumamnya seraya menarik ikat bunga itu dari tangan Kakashi. "Ini cantik," Sakura menyesap aromanya lembut. "Ayo kita ketaman."

Gadis itu bangkit dari duduknya, mengayunkan langkahnya ringan meninggalkan Kakashi dibelakangnya, rok berenda kuning pucatnya berayun pelan seirama dengan rambut pink sebahu yang juga menari dalam langkah kecilnya.

"Kau juga cantik," Kakashi melangkah lebar menyusul gadis itu.

Sakura memamerkan senyumnya, melangkah masuk kedalam lorong sempit yang terdapat diantara toko buku dan toko sepatu, dinding-dinding semen tak bercat mengapit langkah keduanya.

"Itu karena Kakashi adalah temanku, makanya kau berkata kalau aku cantik," keduanya tiba di tanah kebun apel sempit milik seorang pedagang buah yang memiliki toko di samping toko sepatu.

Itulah taman bagi Sakura, di mana tak ada orang lain yang akan menganggunya, tak ada anak lain yang akan mengejeknya. Dia tak suka taman yang sebenarnya, di mana banyak bunga-bunga yang bermekaran dan air mancur yang terlihat menyegarkan dimusim panas dan membeku dimusim dingin. Bukan dia tak suka semua itu, hanya saja di tempat seperti itu pasti banyak didatangi orang-orang dan anak-anak, di tempat seperti itu pasti ramai pengunjung, dan Sakura tidak suka keramaian.

Jadi inilah taman yang sebenarnya untuk dia. Dimana dia bisa duduk sendirian, tersenyum dan tertawa menikmati angin, menjadikan pohon-pohon bisu di sekitarnya sebagai teman. Hingga beberapa bulan yang lalu, sosok teman yang sebenarnya muncul. Pria kecil berambut perak yang berjalan di belakangnya juga temannya, sosok yang sering kali memecah kesepian dalam hati gadis kecil itu.

"Memangnya kenapa kalau temanmu?"

Gadis itu masih melangkah, menyusuri barisan pohon-pohon apel yang berjajar rapi. Sesekali langkahnya memutari salah satu pohon seakan menyapa dalam tarian. "Karena Kakashi tak pernah keberatan dengan rambut pink ku. Mereka yang tidak suka rambut pink ku akan bilang kalau aku ini jelek," gadis itu berlari kecil menuju satu-satunya pohon sakura di tempat itu, kemudian duduk bersandar di bawahnya.

"Itu tidak benar," Kakashi berdiri di depan gadis itu, membiarkan Sakura mendongak keatas untuk menatapnya. "Paman yang menjual bunga juga bilang kalau kau cantik, dan dia bilang kalau aku beruntung punya pacar sepertimu," katanya meyakinkan sementara rona merah mulai menjalar di kedua pipinya.

"Apa itu pacar?" Tanya Sakura polos, mata emeraldnya terpancang keatas, memandang onyx Kakashi yang tampak malu-malu.

Kakashi merendahkan tubuhnya dan berjongkok di depan Sakura. pria kecil itu tersenyum malu-malu dan berkata "pacar itu artinya kekasih, masa kau tidak tahu?"

Kedua alis gadis itu mengernyit, masih tak mengerti. "Apa itu kekasih, Kakashi?"

Wajah pria kecil itu semakin memerah, kepalanya tertunduk, jari-jari kecil kurusnya bergerak menggaruk belakang kepala dengan gugup. "Umm kekasih itu… adalah orang yang nantinya akan menikah dengan kita. Karena Saku-chan adalah pacarku itu berarti Saku-chan adalah kekasihku dan berarti kalau sudah dewasa, Saku-chan akan menikah denganku, kau mengerti?"

"Apakah menikah seperti yang dilakukan bunda Tsunade dan Ayah Jiraiya? Memakai baju yang indah, berjalan ke altar dan dilempari bunga yang begitu banyak?"

Dengan yakin Kakashi menganguk.

"Oh…" gumam Sakura. kemudian mengangguk paham. "Iya, kalau begitu aku akan menikah dengan Kaka-kun."

00Lhyn00

Lhyn Come Back! YO.!.! Mengganti Status Hiatus menjadi Semi Hiatus…

Terimakasih banyak buat kalian yang mau menanti *hening* AH~ mungkin Lhyn terlalu PD… YAP Lhyn mau ngucapin Welcome buat semangat nulis Lhyn yang baru muncul sepucuk… Selamat datang oh Selamat datang….

Well, Bila tulisan Lhyn makin abal karena aksi Hiatus Lhyn, mohon maaf ya… n' sebelum Author yg baru jebrol ini makin banyak bacot mending langsung Rifyu ajah Y?…