Warning : AU, TYPO, OOC, gaje, aneh, parah, ngaco, dll yang bikin Fic ini terlalu jauh dari kata sempurna... jadi rifyu, saran, kritik, dukungan, flame dan sesuatu yang bisa membuat Lhyn melangkah maju Lhyn terima dengan senang hati.

Naruto ® MK

Love Hater ® LH

"HARU-HARU-CHAN!" Sebuah panggilan yang melengking tinggi seakan memperingatkan Sakura akan datangnya bahaya.

"HARU-HARU-CHAN!" tak tahu harus berbuat apa, Sakura hanya diam mematung saat seorang pemuda bertopeng lollipop berlari menerjang kearahnya. "TOBI RINDUUUUU!" Seru pemuda itu tepat di telinga Sakura, pemuda itu memeluk Sakura erat mengangkatnya sedikit dan membawa sigadis berputar dalam pelukan si pemuda. Ck. Terjadi lagi.

"Tobi lepaskaaa~~n," teriak Sakura.

"Iya Haru-Haru-chan, Tobi anak baik melepaskan Haru-Haru-chan~,"

Sakura mendecak kesal setelah Tobi melepaskannya dari pelukan maut pemuda bertopeng lollipop itu. Gadis itu pun bergegas menyusul Sasuke yang telah mendahuluinya masuk kedalam sebuah rumah besar bercat putih dengan beberapa corak awan merah di beberapa tempat. Lambang Akatsuki. Hanya rumah penghilang rasa jenuh untuk para anggota akatsuki yang kebanyakan adalah mereka yang jenuh dengan keadaan broken home mereka.

Sasuke segera meraih tangan Sakura begitu Sakura berhasil menyusul, dan menariknya mengikuti langkah kakinya menuju sebuah set sofa di pojok ruangan. Ruang pertama dalam rumah itu sama sekali tidak berfungsi sebagai ruang tamu. Di ruangan yang cukup besar itu justru tergeletak sebuah ranjang king size yang biasanya digunakan untuk asal tidur oleh siapa saja. Ada kamar memang, tapi keberadaan kamar-kamar itu justru terbengkalai, hanya satu kamar yang berfungsi seperti fungsinya dan itu ditempati oleh Konan, seorang wanita berambut biru yang selalu menganggap Sakura sebagai adik kecil yang asyik untuk didandani. Dan di sisi lain ranjang itu terdapat satu set sofa merah yang tampak angkuh.

"Kau telat lima menit Haruno," Seorang pemuda berambut merah keluar dari ruang tengah dengan PSP di tangannya. "Dei baru saja meledakkan dapur lima menit yang lalu."

"Tabung hijau itu meledak sendiri Danna," seorang pemuda lain muncul.

"Kenapa harus menyangkal hal hebat seperti itu, Dei. Seharusnya kau kan bangga bisa meledakkan dapur untuk kelima kalinya bulan ini," kata Sakura, gadis itu tertawa kecil kemudian duduk di samping Sasuke di sofa.

"Tentu saja karena itu bukan perbuatanku, aku tidak mau mengakuinya walau pun itu membanggakan, Haruno," sangkal pemuda pirang itu. kemudian berbaring di ranjang menemani sasori yang masih asik dengan PSPnya.

Tak lagi memperhatikan 'duo seniman' itu Sakura beralih pada pemuda lain yang kini duduk didepannya, Pein, si ketua perkumpulan itu tampak tak sabar menahan kata-katanya ditenggorokan, hingga bagitu pandangan Sakura beralih padanya dia segera bicara.

"Aku mendengar apa yang kau lakukan pada Orochimaru, Haruno."

Mengerti maksud pemuda berpiercing itu Sakura membalas ringan. "Beritanya sudah sampai ditelingamu ya?"

"Kali ini aku menilai kau keterlaluan, Itachi harus berurusan dengan beberapa petinggi di departemen pendidikan karena ulah kalian," masih terdengar tenang, pemuda berambut orange itu mulai mengambil posisi tegak karena sebelumnya dia bersandar di punggung sofa.

"Aku ingin bicara berdua denganmu, Haruno," seseorang menyela, Sakura beralih memandang sosok Uchiha berambut panjang terikat ekor kuda.

Sakura mengangkat sebelah alisnya, dan si Uchiha cukup mengerti maksud gerakan Sakura.

"Ikut denganku," sambung Itachi, menanggapi Sakura.

"Ba—"

"Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi," Sasuke menyela, meraih tangan Sakura mencegahnya bangkit.

Itachi melempat tatapan tak suka pada adiknya. "Aku tidak bicara padamu, adik kecil," tantang Uchiha yang lebih tua. Sakura hapal sekali agenda antar Uchiha yang seperti ini, berikutnya akan terjadi adu deathglare yang sesekali tersisipi argument-argument yang terlontar saling menyela.

"Sasuke," Sakura meraih pundak Sasuke, sebelum pemuda itu bangkit serta mencegah kelangsungan agenda Uchiha yang menurutnya membosankan itu. "Tidak lebih dari satu jam," gumamnya pada kedua Uchiha.

Itachi mendengus saat melihat Sasuke kembali ketempat duduknya. Dia meruntuki nasib sialnya karena sang adik jelas-jelas lebih patuh pada perintah kekasihnya dari pada dirinya yang notabene kakak kandungnya sendiri, terlebih lagi melihat kenyataan bahwa Haruno sama sekali tidak membalas perasaan Sasuke. Kalau Itachi yang hanya melihat saja bisa merasa miris, bagaimana mungkin Sasuke justru terlihat tenang seperti itu?

00Lhyn00

"Haruno, dia tidak suka dipanggil Sakura…"

Kakashi mengernyit memandang foto seorang gadis berambut hitam panjang yang tampak angkuh berdiri bersandar pada pagar besi yang tampak membeku berbalut salju. Dia, Sakura. memandang foto gadis itu membuat Kakashi mencelos sesaat, gadis yang ditemuinya di lift waktu itu benar-benar Sakura.

"…dan dia berbeda dengan Sakura, dia berubah Kakashi."

Kakasi menengadah menatap wanita pirang yang duduk di balik meja di depannya. "Aku tahu dia pasti berubah Bunda Tsunade, hanya saja…"

"Dia berubah terlalu jauh, aku mengerti apa yang kau fikirkan Kakashi." Wanita itu mengelihkan pandangannya dari Kakashi, seakan takut segala rahasianya yang tersimpan rapat bisa terkuak kapan saja.

"Apa yang terjadi padanya? Aku tahu sesuatu pasti terjadi padanya…," tanya Kakashi menuntut.

Wanita pirang itu menghela nafas. "Dia kehilangan ingatannya akibat kejadian itu," Kakashi menatap tajam mata coklat madu di depannya, nada yang melemah di akhir kalimatnya seakan disengaja agar Kakashi tau kejadian mana yang dimaksud.

"Hilang ing—"

"Hanya sementara, beberapa bulan kemudian dia mulai mengingatnya tapi…"

"Tapi?"

"Dia kehilangan dirinya."

Kakashi menggeleng, berbagai kecamuk menjilat-jilat setiap sudut otaknya. "Apa maksudmu?"

"Jiwanya terguncang akibat kepergianmu."

Kedua permata berbeda warna itu membulat bersamaan. Kengerian yang dirasakannya tak pernah sekali pun mencapai titik ini, rasa bersalah benar-benar membuatnya tenggelam dalam rasa kecewa pada dirinya sendiri. Dan perlahan, butir bening pun meneter bersamaan dari kedua permata itu.

00Lhyn00

Gadis itu berjalan zig-zag, terhuyung dan sesekali jatuh di atas trotoar keras yang kadang menyisakan perih di kulitnya. Pandangan matanya buram, selain karena banyaknya debit air yang terjatuh dari langit juga karena pengaruh alcohol pada kesadarannya. Tapi dia terus berjalan, tertatih seperti nenek tua tanpa tongkat berjalannya, terjatuh dan bangkit lagi tanpa menyerah seperti bayi dalam tahap belajar berjalannya.

Tapi dia bukan keduanya, dia seorang gadis berambut hitam panjang yang sepenuhnya basah oleh air hujan. Sesekali mulut berbau alkoholnya meruntuk pada langit yang tak pernah tepat waktu menurunkan hujannya.

"Cih! Uchiha sial! Kenapa dia harus memberi tahu semua itu~" dia bergumam tak jelas, langkah kakinya menyeret semakin dekat dengan tujuannya. "Tak perlu mengatakan hal itu kalau hanya ingin aku meninggalkan adiknya yang bodoh itu!" sedikit menjerit di akhir kalimatnya. "OUCH!" dan terjatuh lagi tersungkur di jalanan becek berbatu, dia telah memasuki halaman dari bangunan tempat kakinya menuju.

"Hahaha… mereka memang bodoh! Tapi~ akuuuu juga bodoh hahahick… Hey… siapa yang mematikan lampunya~ kenapa semuanya jadi ge…"

.

"Bunda Tsunade! Bunda! Kak Haruno mabuk lagi!" pintu yang digedor dengan tak sabar serta suara teriakan seorang bocah dari balik pintu membuat dua orang dalam ruang kantor kecil itu bergeges berdiri dari duduknya.

Kakashi yang lebih dekat dari pintu lebih dulu meraih kenop dan membukanya. "Dimana?" todong pemuda perak itu.

Anak lelaki kecil yang menjadi pelaku mengedoran itu tampak bingung, dia melirik Tsunade sekilas dan melihat anggukan menyetujui dari sang ketua panti anak itu pun menjawab. "Di gerbang."

Entah apa yang ada dipikiran Kakashi saat mendengar gadis itu mabuk. Diluar hujan dan yang terpikirkan olehnya hanya bayangan gadis itu duduk di bawah hujan seperti dulu, saat pertama kali dia melihat gadis itu. Pria perak itu pun berlari, sama seperti dulu, tak memperdulikan hujan dan mengunci pandangan matanya pada sosok gadis yang bayangannya hampir tersapu hujan. Hanya saja, saat ini gadis itu berambut hitam, dan dia tidak duduk menekuk lutut dibawah pohon maple, seperti dulu.

Dia berhenti berlari saat jaraknya hanya tinggal dua meter dari gadis itu. "Sakura…" panggilnya pelan, tapi gadis itu tak menunjukan bahwa dia mendengar.

Mata emerald itu memandang tak fokus, kekanan, kekiri, kebawah terus berubah namun tak sedetik pun mata itu memantulkan sosok Kakashi. Kakashi semakin mendekat, hingga samar-samar dia mulai mendengar apa yang diucapkan gadis itu meski terhapus deru hujan.

"… akuuuu juga bodoh hahahick… Hey… siapa yang mematikan lampunya~ kenapa semuanya jadi ge…"

"Sakura!" Kakashi terkejut dengan tubuh gadis itu yang oleng tanpa arah, dia berlari cepat dan…

'Brugh!'

Menangkap tubuh itu dalam pelukannya. Kakashi terdiam, aroma alkohol menguar kuat dari tubuh dalam dekapannya meski air terus membasuh tubuh mereka. Dia menatap, mengamati dengan seksama paras gadis itu, wajah pucat, bibir pucat. Sakura, meski berubah dengan paras sempurna seorang gadis, bukan lagi anak kecil berpipi tembem dengan rambut pink mencoloknya, dia tetap Sakura, seharusnya Kakashi mengenalinya saat pertama kali dia bertemu dengan gadis itu.

" Y-yo… Sa-Sakura, apa kabar?" ucapnya dalam suara bergetar. "Aku merindukanmu… sangat merindukanmu!" dan dia mendekap tubuh yang telah hilang kesadarannya itu dalam pelukan yang semakin dalam, air matanya kembali mengalir dan bercampur dalam hujan kali ini. "Aku merindukanmu, Sakura-ku."

00Lhyn00

"ARGHH!" Gadis itu mengerang saat kesadarannya mulai penuh, rasa menusuk-nusuk begitu kuat menyerang kepalanya. "Sial!" umpatnya. Masih memejamkan mata guna menahan rasa sakitnya, gadis itu menyingkap selimut, bangkit dan berjalan tertatih-tatih dengan tangan yang meragap menuju meja belajar yang letaknya agak jauh dari tempat tidur.

'Brak'

Sasuatu terjatuh, tapi dia tak perduli, tangannya terus bergerak mencari-cari, matanya sesekali terbuka untuk melihat.

"Ini."

Sebuah tangan mengulurkan tablet aspirin yang dicarinya, dengan cepat gadis itu meraihnya dan kemudian mulai mencari gelas yang tak lama kemudian juga kembali di ulurkan oleh tangan yang sama. Tanpa kata Sakura segera melahap tablet itu dan mendorongnya dengan air dalam gelas.

"UGH!" dia kembali mengerang.

"Duduklah," Masih belum sepenuhnya menguasai keadaan, Sakura mengikuti cengkraman di kedua lengannya yang kemudian mendudukkan tubuhnya diatas sebuah kursi. Sakura melipat tangannya kemeja dan kembali membaringkan kepalanya disana.

Menit berlalu hingga pusing di kepala gadis itu berangsur mengurang dan otaknya kembali bisa digunakan untuk menganalisa keadaan. Sakura menegakkan kepalanya dan mulai memandang sekelilingnya, suasana gelap hanya diterangi lampu tidur dan dia menghela nafas pendek mengenali itu kamarnya di panti asuhan. Dia melirik jam di dinding kamarnya, jam lima dan dia cukup waras untuk tahu itu pagi hari. Dia kembali memutar pandangannya dan kali ini menemukan sosok pria jangkung yang berdiri tak jauh darinya.

Dia bangkit dan berjalan kembali ketempat tidurnya, dia berhenti sesaat dengan mata yang menyipit tak suka saat menemukan buket bunga mawar ungu di sisi tempat tidurnya. "Siapa kau?" tanyanya datar, dia mengambil buket bunga itu, melemparnya hingga mendarat tepat di samping tempat sampah, kemudian berjongkok di depan lemari kecil di samping tempat tidurnya.

"Kakashi Hatake," kata pemuda berambut perak itu, kedua alisnya menaut tajam menatap buket bunga yang kini teronggok di dekat tong sampah kamar itu.

"Sasuke yang menyuruhmu mengantarkan bunga itu? katakan padanya bunga itu tidak akan memperbaiki hubungan kami, aku sudah bosan padanya, lagi pula kenapa mawar ungu? Diakan tahu aku benci mawar ungu," katanya melirik sekilas sosok berambut perak yang masih berdiri di dekat meja, otaknya kembali bergerak memutar scene-scene yang terjadi beberapa jam yang lalu, saat dengan mudahnya dia mengakhiri hubungan percintaannya dengan pemuda Uchiha itu atas kesepakatannya dengan kakak si Uchiha muda.

"Aku bukan petugas pengantar bunga, dan bunga ini dariku."

Sakura bangkit setelah meraih keranjang perlengkapan mandinya, dia mulai mengamati pria itu dengan lebih serius. "Darimu? Untukku? Siapa tadi namamu…. Kakashi Hatake, apa kita pernah bertemu sebelumnya?" Sakura berjalan meraih handuk di lemarinya dan mengalungkannya di pundaknya. Sesekali di pandangnya sosok bermasker itu.

"Ya, Kita pernah bertemu sebelum—"

"AH! Kau pria yang di lift waktu itu kan? Ada apa, kenapa kau memberiku bunga, apa kau fikir aku gadis—"

"Apa kau benar-benar tidak mengenalku, Sakura?"

Sakura tersigap, kedua matanya bergerak menyipit tajam dan mulai memandang pria itu dengan tatapan tak suka. Dia mencoba menilai, tak ada seorang pun yang berani mencoba memanggilnya dengan nama itu selain Bunda Tsunade yang bahkan sering dicekalnya sebelum nama itu keluar.

"Aku KAKASHI Hatake." kata pemuda itu, dia memberi penekanan pada nama depannya dan menurunkan maskernya.

Kedua emerald gadis itu membulat, tubuhnya mengejang kaku. Rasa takut tiba-tiba saja menyergapnya, nafasnya memberat. Menatap rambut perak itu, gurat wajah itu, dan satu mutiara onyx yang seakan begitu dekat dengan dirinya, kilas-kilas balik tentang adengan dimasa lalunya kembali berputar dan membuat kepala gadis itu terasa teremas.

'Prak!' keranjang perlengkapan mandinya pun terjatuh.

"Kau masih mengingatku Sakura?"

"…"

"Saku—"

"Kau salah orang. .Sakura," tak lagi sedatar dan tanpa emosi di dalamnya, kali ini suara Sakura terdengar ketakutan dan lebih dingin.

"Maafkan aku, Sakura… aku kembali, untukmu."

Sakura diam, gadis itu masih mencoba menguasai dirinya kembali. Memejamkan matanya sesaat dan menghembuskan nafasnya pelan. Memantapkan dirinya yang sempat goyah.

"Sakura… maaf kan aku."

Sakura berbalik, memutuskan untuk tak menanggapi pria itu dan berjalan tenang kearah kamar mandinya.

"Sakura." Kakashi mencegatnya, berdiri memblokir jalan gadis itu. "Kau boleh marah padaku, kau boleh memben—"

"Kau salah orang, namaku Haruno bukan Sakura, sekarang bisa kah kau minggir? Kau menghalangi pintu kamar mandiku." Gumam Sakura tenang. Gadis itu kembali berjalan melewati Kakashi dan masuk kedalam kamar mandinya, tanpa sedikit pun memandang mata itu.

"Tak perduli siapa namamu sekarang," Kakashi menahan pintu kamar mandi dengan sebelah tangannya. "Bagiku kau tetap Sakura, kau Sakura-ku."

'Byurr' Sakura menyiram Kakashi dengan segayung air. "Kau sudah bangun? pergilah ke psikiater, kau mengigau sambil berjalan, Tuan," dan menutup pintu kamar mandi.

.

Kakashi duduk menunduk di atas salah satu dari tiga personal bad yang ada dikamar itu, tatapannya memandang nanar buket bunga ditangannya, dadanya terasa sesak mengingat dulu senyum gadis itu langsung berkembang saat dia memberikan bunga mawar ungu ini.

'klek'

Pintu kamar mandi terbuka, Kakashi menengadah dan kembali menatap wajah putih tanpa noda itu. Gadis itu telah memakai seragam sekolahnya, dengan rambut yang masih tergelung dalam handuk, dia berjalan kearah lemari pakaiannya, melepas handuknya dan mengantungnya di dinding di samping lemari, gadis itu mulai meraih sisir.

Kakashi terus memperhatikan setiap gerakan gadis itu, gerakan yang seakan mengundang kerinduan lebih dalam untuknya. Dia ingin memeluk tubuh itu sekali lagi, ingin sekali bisa menyesap aroma tubuh itu sekali lagi…

"Aku ingin bicara denganmu… Haruno," Kakashi mulai kembali bicara saat gadis itu berjalan mendekat dan kini duduk di atas tempat tidurnya.

Sakura melirik Kakashi sesaat, sebelum mulai menunduk dan memakai sepatu yang di raihnya dari kolong tempat tidur.

"Dua belas tahun yang lalu aku meninggalkan seorang gadis dan pergi bersama ayahku. Padahal aku pernah berjanji padanya, tapi aku mengingkari janji ku untuk terus bersamanya. Dan sekarang aku kembali, aku ingin menebus kesalahanku—"

Sakura bangkit setelah mengikat tali sepatunya, meraih tasnya dan beranjak kepintu seakan tak ada Kakashi dalam ruangan itu.

'Brak' Kakashi menutup pintu itu sebelum Sakura benar-benar membukanya, dan dia menggunci tubuh Sakura dengan kedua lengannya. Sikap gadis itu yang seakan tak melihatnya, seakan dirinya tidak ada membuatnya hilang akal.

"Maafkan aku, katakan apapun yang kau inginkan dari ku agar aku bisa menebus kesalahanku. Maafkan aku meninggalkanmu, maafkan aku pergi darimu, maafkan aku mengingkari janjiku, Sakura. Maaf kan aku," Kakashi sungguh-sungguh dengan suara yang bergetar rendah.

Sakura menengadah, menatap dua mutiara berbeda warna yang terlihat terluka, dan dia pun tersenyum mengejek. "Kau pergi itu pilihanmu, aku yakin kau cukup sadar dengan resiko dari pilihan yang kau ambil. Aku yakin kau cukup tahu bahwa kalau kau menginginkan sesuatu, maka kau harus merelakan sesuatu yang lain," gadis itu kembali tersenyum mengeringai. "Gadis itu adalah sesuatu yang kau relakan, dua belas tahun yang lalu kau merelakannya dan sekarang kau bertanya padaku tentang apa yang ku inginkan. Itu sangat tidak adil tuan. Dua belas tahun yang lalu mungkin gadis itu akan menjawab bahwa yang dia inginkan hanya kau ada di sampingnya."

"Maafkan aku, aku akan selalu di sampingmu mulai sekarang."

Seringai di wajahnya semakin tampak mengejek. "Sama seperti kau merelakan Sakura, aku juga merelakan hidupku sebagai Sakura. Pergilah tuan Hatake, kau tidak akan menemukan Sakura disini, aku bukan Sakura, sama seperti aku yang tidak mengenalmu, kau juga tidak mengenalku. Dan, aku tidak menginginkan kau ada dalam hidupku."

00Lhyn00

Sakura mengerang frustasi. Rasanya dia benar-benar ingin memecahkan kepala seseorang sekarang. Minggu ini benar-benar menjadi minggu paling merepotkan untuknya karena selain harus menghadapi Uchiha muda yang terus menerus merengek –meskipun rengekan Uchiha lebih terdengar seperti intimidasi–, tiba-tiba saja muncul sosok aneh yang terus mengikutinya.

Pria berambut perak yang gemar menutup wajah itu terus-terusan mengiangkan bahwa dia akan terus menjaga Sakura. Cih! Memangnya siapa yang membutuhkan penjagaan, lagi pula yang dilakukan pria itu dengan mengikutinya kemanapun Sakura pergi, lebih terasa seperti pengganggu bagi Sakura. dia jadi merasa dibuntuti stalker sekarang.

Oh! Dan satu lagi. Pria perak itu berhasil membuatnya merasa menyesal untuk pertama kalinya dalam jangka waktu yang dia tak tahu berapa lama. Dia menyesal telah membuat Orochimaru di depak dari posisinya sebagai ketua komite karena sekarang si pria perak itu begitu saja muncul didepan seluruh murid dan mengaku sebagai kepala sekolah baru karena Minato (kepala sekolah yang lama) kini naik jabatan sebagai ketua komite menggantikan Orochimaru.

"Kau disini, kenapa membolos pelajaranku, Sakura?"

OH. GOD! Dan sekarang pria perak itu ada dibelakangnya? Sakura tak menjawab. Dia cukup bosan dengan suasana tak mengasikkan yang terjadi belakangan ini sejak pria itu muncul. Sebenarnya apasih yang diinginkan bajingan brengsek ini?

"Apa yang kau lakukan disini?" suara itu sekali lagi bertanya.

Sakura bangkit dari duduknya saat suara itu sudah semakin dekat, dia berbalik dan memandang sosok itu sekilas. Tanpa ekspresi, gadis itu berjalan meninggalkan pria perak bermasker itu.

"Kau tidak bisa selamanya menghindariku, Sakura!"

Sekali lagi, Sakura tak menjawab. Gadis itu lebih memilih mengacungkan jari tengahnya dari pada mengumbar kata-katanya. Baru dua jam pelajaran yang Sakura lalui hari ini dan dia memutuskan untuk pergi meninggalkan sekolah itu.

.

"Haru-haru-chan! kau datang! Kupikir kau tidak akan datang kesini lagi setelah kau memutuskan Sasuke!" seperti biasa, pemuda bertopeng lollipop itu berlari dan menubruk dirinya.

"Tobi lepas!"

"Tobi kangen Haru-Haru-chan…."

"Tobi!"

"Iya… iya Haru-Haru-chan, Tobi anak baik melepaskan Haru-Haru-chan."

"Apa Kakuzu ada,Tobi?"

"Dia ada di dalam, sedang membantu Kisame-senpai memberi makan ikan-ikannya," mendengar jawaban itu dari Tobi, Sakura pun segera meninggalkan pemuda bertopeng lollipop dan bergegas kearah halaman belakang rumah ini, dimana sebuah kolam ikan yang tak cukup besar menampung ikan-ikan koi milik Kisame.

Mengacuhkan Tobi yang mulai menawarinya pudding, Sakura segera menuju tempat dimana orang yang akan membantunya 'menyelesaikan satu masalah' berada. "Kakuzu, aku ingin bicara denganmu." Kata Sakura datar, saat dia yakin suaranya berada dalam jarak yang cukup untuk didengan pria bermasker itu.

Pria itu berbalik dan memandang Sakura dengan teliti. "Aku tahu kau pasti akan datang, dan aku sudah menyiapkan semua yang kau inginkan bila kau telah punya cukup uang untuk membayarnya."

"Kau? Tahu?"

"Aku tahu pasti siapa kau Haruno, akulah orang yang mencari semua data tentang masa lalumu untuk Itachi, dan tentu saja aku bisa mengendus bau uang diantara aroma balas dendam yang akan menguar dari dirimu." Kedua mata onyx itu menyipit licik.

Sakura tertawa datar. "Dasar otak uang." Gumamnya, sedikit rasa senang juga menyambangi hatinya. Dia datang pada orang yang tepat. Gadis itu melepaskan tas sekolahnya dan melemparkannya kearah si pria bermasker. "Aku yakin itu cukup!"

Pria itu dengan cekatan menangkap tas itu dan membukanya, seringgai liciknya terukir saat mendapati tas itu penuh dengan puluhan dompet tebal dan handphone-handphone yang terbilang mahal. "Dasar pencuri cilik."

"Sekarang beritahu aku apapun yang kau ketahui tentang Inoichi," gadis itu berkata datar. "Aku ingin segera membalaskan dendamku."

00Lhyn00

Kakashi bangkit. Setidaknya angin telah mengurangi sedikit beban hatinya karena penolakan gadis itu yang terjadi lagi –dan lagi–, dia hanya tersenyum miris. Kakashi memang tak berharap banyak bahwa gadis itu akan menerimanya dengan mudah, atau bahkan sekedar berharap gadis itu masih mengingatnya. Dia tidak berharap seperti itu. tapi lebih dari semua itu, Sakura membencinya.

Pria itu pun berlalu dari tempatnya, meninggalkan bagian atap dari bangunan itu. menuruni tangga, pria berambut perak itu mengeluarkan ponsel dari sakunya, menekan speed dial dan mulai menunggu…

"Iruka, pastikan kau tidak kehilangan dia."

"Ya, Kakashi-sama… dan sekedar mengingatkan bahwa malam ini anda harus menghadiri undangan Uchiha-sama," ujar Iruka dari sebrang.

"Iya, aku mengingatnya Iruka, kau siapkan saja semuanya," balas Kakashi malas. Dia pun kembali menuruni deretan anak tangga, perlahan, dalam ketenangan yang seakan tak tergoyahkan.

Kaki panjang berbalut celana hitam itu melangkah mantap, sesekali matanya menyipit dalam senyum membalas sapaan mereka yang membungkuk hormat padanya. Koridor yang dilewatinya cukup ramai mengingat ini masih jam istirahat, obrolan-obrolan khas remaja seakan mengisi kekosongan ditelinganya.

"…itu benar, tapi kabarnya Sasuke-kun masih mengejar Haruno-san."

"Sebenarnya apasih kelebihan si Haruno itu, dia kan sama sekali nggak ada baik-baiknya."

"Aku dengan Sasuke-kun hanya dimanfaatkan."

Kakashi melirik pada segerombolan tiga gadis yang duduk bergerombol disalah satu kursi dikoridor itu, beberapa hari menjadi kepala sekolah disana cukup membuatnya tahu bahwa Sakura, telah menjadi semacam topik utama dalam setiap pembicaraan.

Gadis itu, tak pernah lepas dari momok buruk yang seakan menjadi identitasnya. Meski sesekali pembicaraan gadis itu mengenai prestasinya tapi hal itu takkan berlangsung lama. Dan satu hal yang paling Kakashi minati dari segala pembicaraan itu, bahwa nama 'Sasuke-kun' selalu mendampingi keberadaan nama 'Haruno' meski kabar yang didengar bahwa hubungan keduanya telah berakhir, tapi hal itu cukup membuat Kakashi khawatir.

"…Karin-chan sendiri yang pernah bilang begitukan?"

"Eh, tidak kok, aku memang pernah bilang kalau dari dulu Haruno suka menyendiri, tapi aku tidak pernah bilang kalau Haruno sudah jahat sejak dulu, lagi pula aku tidak terlalu dekat dengan dia, satu-satunya yang pernah dek…."

Deg!

Langkah Kakashi membeku, sedetik kemudian dia berbalik memandang ketiga gadis yang masih terduduk disana, dengan langkah cepat dia mendekat dan meraih pundak seorang gadis berambut merah…

"Karin? Kau Karin?"

Mata onyx dibalik kacamata itu menyipit. Buru-buru gadis itu bangkit dan membungkuk dihadapan Kakashi. "Benar Hatake-sensei, saya—"

"Aku Kakashi, kau masih mengingatku? Dua belas tahun yang lalu kita pernah satu panti asuhan," gumam Kakashi, kembali mengingatkan.

Gadis berambut merah itu tampak berfikir, kedua bola matanya mengamati Kakashi lekat-lekat hingga satu barisan kenangan itu terbuka di otaknya dan mata onyx gadis itu pun membulat. "Kakashi Sakura?" tanyanya dengan yakin, senyum lebar mengembang dibibir berbalut lip balm tipis.

Sedikit terkejut bahwa gadis itu mengingatnya dengan mengidentikan dirinya dengan Sakura, namun dia tersenyum, menyadari kehadirannya dulu memang selalu di sangkut pautkan dengan Sakura. "Benar," Kakashi mengangguk pelan. "Bisa kita bicara tentang beberapa hal."

Karin kembali tampak berfikir, beberapa saat kemudian dia mengangguk. "Baiklah."

Kakashi melangkah, tentu saja dia mengingat gadis berambut merah itu, bukankah sudah jelas bahwa dia tak pernah melupakan sedikitpun tentang Sakura? tentu saja termasuk gadis berambut merah yang dulu suka mengejek gadis kecilnya.

Kakashi membukakan pintu kantornya dan membiarkan gadis itu masuk lebih dulu, Karin tampak canggung.

"Duduklah," Kakashi menunjuk sebuah set sofa disalah satu bagian ruangannya, dia tidak memilih meja kerjanya karena ini sama sekali tidak berhubungan dengan pekerjaan sampingannya ini.

"Sensei ingin bertanya tentang Haru— maksudku Sakura?" tebak Karin terdengar pasti.

Kakashi tersenyum tipis dibalik maskernya, pertanyaan tepat point gadis itu melepaskan Kakashi dari tanggung jawab membuka pembicaraan dengan basa-basi. "Benar," dia tersenyum miris. "Bisa kau ceritakan apa yang terjadi pada Sakura setelah aku pergi?"

Hening sejenak, Kakashi membiarkan waktu itu digunakan Karin untuk berfikir.

"Kenapa Sensei tidak ke panti saja? Sensei bisa mendapatkan informasi tentang dia sepenuhnya disana," gumam Karin, menatap lekat kearah Kakashi.

"Aku sudah ke panti, aku ingin mendengarnya dari mu… dari anak panti yang saat itu tinggal bersama kami. Ceritakan apapun yang kau ingat tentang Sakura saat setelah aku pergi," kata Kakashi kaku.

Gadis itu menarik nafas berat. "Aku tak begitu bisa mengingat detailnya, hanya bahwa Sakura dirawat di tumah sakit selama beberapa minggu, dan setelah dia kembali dia berubah."

Keduanya bertatapan sesaat, sebelum gadis itu membuang pandangannya kearah luar jendela. "Dia diam. Selalu diam. Bahkan saat aku mengejeknya 'Pink' atau 'Jidat' dia tidak bereaksi, dia hanya menatapku dan anehnya itu membuatku…takut, lalu malah aku sendiri yang menangis," Kakashi memperhatikan perubahan raut wajah gadis itu.

"Saat kutanyakan tentang keadaan Sakura pada bunda Tsunade, bunda hanya menjawab bahwa Sakura masih sakit dan akan segera sembuh. Beberapa kali aku mendatangi kamarnya diam-diam dan mencoba mengejeknya, aku berharap bahwa mungkin hari ini Sakura akan menangis ketika ku ejek. Seminggu hingga sebulan Sakura tetap seperti itu, dan aku mulai merasa bersalah."

Kakashi dengan jelas bisa melihat mata gadis itu yang mulai berkaca-kaca, sementara debar dalam dadanya mulai bergemuruh, dia mencoba meraih pundak gadis itu, menenagkannya.

Karin menengadah, memandang dua motiara berbeda warna itu. "Kemudian aku mendekatinya, aku duduk disampingnya dan bertanya 'Sakura, apa kau baik-baik saja?' tapi dia malah menjerit. Dia menjerit keras sekali dan aku kembali menangis. Sakura berubah, membuatku merasa takut," suara gadis itu mulai bergetar. "Dia terus menjerit, setiap ada yang mengajaknya bicara dia akan menjerit, dia juga memecahkan semua cermin di panti. Lalu bunda Tsunade membawanya pergi, mereka mengikat tangan dan kaki Sakura dan Sakura terus menjerit. Dan aku terus menangis, aku merasa bersalah, saat itu aku berjanji bahwa kalau Sakura kembali aku tidak akan pernah mengejeknya lagi, aku akan menjadi temannya." Gadis itu menangis, air matanya melalir sementara tubuhnya gemetar.

"Tapi—"

"Cukup Karin, berhenti kalau ini melukaimu," Kakashi meraih kepala merah itu dan mengusapnya pelan.

Gadis itu menggeleng dan menunduk. "Sakura tidak pernah kembali, sampai sebuah keluarga membawaku pergi, Sakura tidak pernah kembali. Hingga saat hari pendaftaran SMA aku melihat Sakura, tapi dia berbeda, rambutnya hitam, awalnya aku tak yakin itu Sakura, aku pun bertanya pada beberapa anak yang berpakaian seragam SMP yang sama dengannya dan mereka bilang 'Itu Haruno, sebaiknya kau jangan dekat-dekat dengannya.' Saat itu aku tahu, Sakura benar-benar telah pergi, dia menghilang dari dunia tapi tidak mati."

"Cukup Karin," Kakashi tidak tahu dia meminta itu untuk mencegah perasaannya semakin terluka atau karena dia tak ingin gadis itu semakin terbawa kesedihannya.

"Aku ingin minta maaf padanya…"

"Dia memaafkanmu,"

"Kakashi…" Karin menengadah, pandangan matanya berubah penuh pengharapan pada Kakashi. "Apa kau kembali untuk membawa Sakura kembali, Kakashi?"

00Lhyn00

HUAA chap kemaren yang rifyu dikit…. Tersedikit dalam sejarah dunia per FFNan Lhyn *lebey* ah~ apakah kemampuan Lhyn yang makin parah? *readers : iyah –nganguk2–*

Ah~~ udah ah, gada waktu buat pudung~~ Semangat! Semangat! Semangat! Dan PERBAIKI!*mata menyala* okhe, bales rifyu ah~ karna sedikit, jd cukup waktu lah buat bales… *sok sibuk-dilempar mobil-mobilan rusak*

Mokochange : Perut Lhyn juga dipenuhi kupu-kupu liat rifyu dari Moko-chan…*blushing* ah~~ Lhyn kan emang suka bikin Kakashi dalam mode memelas *diraikiri* Moko-chan, makasih dah rifyu yah? Rifyu lagi y? *memelas bareng Kakashi*

Ayano Hatake : K Ayano~~~ wihihi… kayanya yg kemaren itu satu-satunya chibi mode yang g berurai air mata Lho, nanti akan ada chibi mode lainnya tapi Sad mode… makasih dah rifyu… rifyu lagi y Ka?

Rizu Hatake-hime : Lhyn juga kangen Hime~~~ *peluk2, cubit2, ngacak2 rambut Rizu* #Rizu : TOLONG! SAYA DI RAPE!# hehe kan agy hiatus, jadi lama nongolnya…aww!aww!aww! makasih say pujiannya… *terbang keawang2* kakashi emang tulus banget kok cinta ama Lhyn *dikemplang* makasih dah rifyu ya? Rifyu lagi Lhyn tunggu..

Violet7orange : Yap apdet Vio-san, makasih dah rifyu… rifyu lagi y?

Sky pea-chan ; gimana apdetan kali ini? makasih dah rifyu… rifyunya ditunggu lagi?

Hatake Satoshi : wkwkw… makasih Sato-kun, ummm maaf bikin bingung, padahal di dokumennya ada garis pemisah Lho tapi Ilang~~~… lhyn g kasih warning Flashback coz bakal banyak scene kembali kemasa lalu takut ngacauin kalo kebanyakan tulisan flesbek, eh… kakashi udah sadar itu sakura tuh, udah ketemu juga malahan, gimana?… makasih dah rifyu y Sato-kun… rifyunya Lhyn tunggu lagi~~

Harunoby sakuraga : AH~~ Reaksi Kaka-kun udah kliatan tuh diatas Gaby-chan… gimana? Puas ga? *gaby : engga* yap apdet, udah Nee kabarin lewat FB kan? Rifyu lagi y say, makasih rifyunya~~

Akasuna no hataruno teng tong : hae juga Teng-chan… AW~~~ kenapa Teng-chan tanya'a 'itu' *cubit2* ummm… Lhyn putuskan disini Saku masih Virgin, walo mungkin pergaulannya bebas tapi Lhyn g rela Kaka dapet sisa *dipeluk kakashi –AAAA* n' itu mereka udah ketemu tuh… udah luat reaksinya kan? Gimana? Puas? Makasih dah rifyu yah? rifyunya Lhyn tunggu lagi…

Makasih buat kalian semua~~ rifyunya Lhyn tunggu~~ Ayo ramaikan Kakasaku yang saat ini lagi Sepi *nyontek rifyunya Teng-chan*

Rifyu