Warning : AU, TYPO, OOC, gaje, aneh, parah, ngaco, dll yang bikin Fic ini terlalu jauh dari kata sempurna... jadi rifyu, saran, kritik, dukungan, flame dan sesuatu yang bisa membuat Lhyn melangkah maju Lhyn terima dengan senang hati.
Naruto ® MK
Love Hater ® LH
Gadis itu berdiri di sana, bersandar pada salah satu deteran pohon Sakura berdaun rimbun di tepi jalanan sektor tiga Konoha. Matanya masih menyiratkan ketidakramahan yang sama seperti sebelumnya. sesekali seringai muncul di bibirnya saat tangan kanannya berhasil meraih sesuatu dari mereka yang berjalan terlalu dekat dengan posisinya.
Siapapun takkan mengira kegiatan apa yang sebenarnya tengah dilakukan oleh gadis itu di sana, gadis berperawakan ramping dengan rambut hitam yang berkibar lembut dan sebuah buku 'Anatomi' yang tergenggam tangan kirinya, dia terlihat seperti gadis remaja pada umumnya yang tengah dimabuk cinta. Menunggu sang kekasih adalaah hal yang terlintas dikepala mereka yang melihat keberadaan gadis itu.
Mengecewakan?
Tidak bagi mereka yang tak mengetahui kebenarannya, bahkan mereka yang menjadi korbannya pun takkan merasakan rasa itu sebelum dia menyadari dompetnya telah raib dari saku celana atau tas tangannya. Tidak. Kecuali dia. Seorang pria berambut perak yang berdiri di kejauhan dan mengamatinya, mengamati setiap gerakan halus tangan lentiknya, tak ada yang terlewatkan di mata berbeda warnanya bahkan gerakan lembut rambut hitamnya yang berkibar pelan.
Pria itu bertegap dari sandarannya di dinding salah satu toko dideretan itu, kemudian mulai mengambil langkah pertamanya menghampiri gadis itu. berjalan pelan dan tenang untuk mendekat…
'Bugh'
Dia menabrak dengan sengaja seorang gadis yang kini tengah merintih pelan.
"Aa maaf, maafkan aku, aku tidak memperhatikan jalan," kata Kakashi sambil membungkuk-bungkuk meminta maaf. Pria itu sama sekali tak memperdulikan tatapan yang jauh lebih mematikan dari gadis dibelakangnya yang 'oprasi'nya baru saja dia gagalkan.
"Ya, tidak apa-apa, saya juga lengah," jawab gadis itu dengan mengibas-ibaskan sebuah buku ditangannya.
Kakashi tersenyum dibalik maskernya. "Sekali lagi saya minta maaf," gumamnya mengaruk tengkuk dengan tangan kirinya sementara tangan kanannya dengan sigap meraih tangan gadis di belakangnya yang hendak beranjak pergi.
Sakura mendelik, menatap punggung pria didepannya ini. Dia tahu pasti siapa pemilik punggung dengan rambut perak mencuat itu.
"Kau tidak bisa kabur begitu saja, Sakura…" pria itu berbalik setelah gadis berambut pirang mantan calon korbannya pergi. Cih, padahal dia melihat banyak lembaran hijau dalam dompet biru muda itu saat sigadis membayar bukunya.
"Apa maumu?"
"Kau tau yang kau lakukan itu perbuatan kriminal, Sakura?"
Sakura kembali mendecih dan menatap garang pria itu. "Kejahatan dibawah umur, kau tahu? Hanya perlu menghadiri dua jam pidato membosankan."
"Kau sudah tujuh belas tahun," Kakashi mengernyit.
"Oh? Benarkah? Kurasa belum kalau aku menganti satu angka terakhir di tahun lahirku," jawabnya meremehkan. "Sekarang lepaskan tanganku," dia kembali mengeram.
"Kau baru saja mengakui kesalahanmu yang lainnya, kenapa kau melakukan itu Sakura?"
"Berapa kali harus kubilang namaku—"
"Haruno Sakura."
"…" Sakura membuang pandangannya dari pria itu, tak menjawab, dia enggan atau malas lebih tepatnya.
"Temani aku makan siang."
Tanpa menunggu atau memperdulikan protes dari Sakura, Kakashi menarik tangan gadis itu yang sedari tadi terus di genggamannya. Pria itu membawa Sakura memasuki sebuah toko es krim didekat situ dan memesan layercake dan softcake juga es krim dan jus yang diketahuinya sebagai favorite Sakura saat kecil.
"Kau bilang kau hanya perlu menghadiri dua jam pidato membosankan 'kan? Bagaimana kalau dua jam itu diganti untuk kencan denganku?"
Sakura tak menggubris, gadis itu duduk dengan melipat kedua tangannya didada. Posisinya terjepit dengan jendela dan Kakashi dikanan kirinya, lalu meja dan dinding di depan belakangnya.
"Kalau diam ku anggap kau setuju, baiklah kau mau kemana setelah ini? Aku sudah mengunjungi semua tempat favorite mu dan hampir semuanya telah berubah kecuali pohon maple di halaman samping gedung panti yang dulu, kau mau kesana?" tawar Kakashi, sementara kedua tangannya sibuk membawa pesanan yang baru datang kehadapan Sakura. "Kita mak—"
"Kau membuatku muak!" bisik Sakura tajam. Tanpa perduli lagi, dia bangkit dari duduknya, melangkah naik keatas kursi, kemudian naik lagi keatas meja, dan melompat turun kelantai. Meninggalkan Kakashi yang membatu dengan semua makanan yang terinjak didepannya.
Jangan perdulikan makanan itu, tapi perhatikan raut kekecewaan diwajah itu. Semua pengunjung melihatnya dengan takjub, kalau biasanya mereka akan melihat sigadis melemparkan makanan kewajah si pria, maka yang dilihat mereka kali ini adalah hal yang sangat langka.
Masih berusaha meredam rasa kecewa dalam dirinya, Kakashi bangkit dan berlari kecil menyusul gadis pink yang telah berlalu beberapa meter didepannya.
"Tak apa kalau kau tak mau kita kesana."
Sakura mendongak, menatap wajah yang keberadaannya lebih diatas matanya. Tak mengatakan apapun atau menunjukkan ekspresi lainnya selain kedataran Sakura terus melangkah, memijak perlangkah lantai trotoar dibawahnya.
Dia benci pria ini, jujur saja. Setiap hal yang ada dalam diri Kakashi membuatnya merasa semakin jauh dari zona amannya. Sakura tak menyukai itu, dia tak suka segala perasaan aneh yang selalu membayanginya dengan rasa takut pada kekecewaan.
Dia tidak suka kekecewaan.
Dia tidak suka saat pria itu menatapnya, membuat dadanya terasa hangat. Tak suka sentuhan pria itu yang selalu membuatnya nyaman, dia tak suka rasa nyaman yang membuat rasa sakit itu jadi menyedihkan.
"APA MAUMU SEBENARNYA!" Sakura menghardik kasar saat dia merasakan tangan besar itu mengacak rambutnya, dan Sakura tahu persis apa yang dilihat pria itu dirambutnya hingga membuat dia tersenyum. Pangkal rambut Sakura yang berwarna pink.
Demi jashin, dewa sesat pujaan Hidan. Sakura benci melihat senyum itu, dengan segera gadis itu merogoh tas gendongnya, mencari-cari keberadaan topi army dan memakainya dengan terburu-buru.
"Kenapa ditutupi? Aku pernah bilang kalau aku suka warna pink rambutmu kan?" Kakashi tersenyum semakin lebar, senyum tulus dibalik masker hitam itu. "Kembalilah Sakura, aku tahu bukan dirimu yang menginginkan semua ini. Kau boleh menangis kalau kau merasa sakit, kau boleh lemah Sakura karena ada aku yang akan menguatkanmu, biarkan aku kembali menjad—"
"Omong kosong! Kau tahu itu? semua orang didunia ini penipu, kau pikir berapa banyak diatara mereka semua yang hidup sebagai diri mereka sendiri? Aku bahkan bisa melihat bagaimana kau diperbudak oleh dirimu sendiri! Oleh keinginanmu sendiri, hingga kau tak lagi dapat merasakan kebebasan tanpa keinginan!" gadis itu memandang tajam dua iris berbeda warna itu.
"Aku mungkin diperbudak oleh diriku sendiri, aku diperbudak oleh keinginanku sendiri, oleh rasa cintaku sendiri, Aku mencintaimu dan rasa itu lah yang memperbudakku, Sakura, berhentilah berpura-pura, katakan semuanya Sakura," kata Kakashi, matanya balas menatap intens iris emerals itu.
"Cinta?" Sakura mendengus meremehkan. "Cinta hanya membuatku lemah, kau bilang aku boleh lemah? Agar kau bisa melindungiku? Menguatkanku?" kali ini dia tertawa merendahkan. "Buka matamu dan lihat siapa yang lemah disini? Siapa yang merengek dan memohon untuk dikasihani? Lihat dirimu Kakashi… kau menyedihkan," tuding Sakura tanpa aling-aling, emeraldnya berkobar pekat dalam kebencian.
Angin bertiup pelan menerbangkan sehelai daun Sakura yang mengering diantara mereka, Kakashi diam, dia terpaku mendengarkan kalimat gadis itu. Berbanding terbalik dengan Kakashi yang merasa terkuatkan karena perasaan menggebu dalam dadanya, yang selalu merindukan detak hangat jantungnya.
Memang benar dia yang merengek dan memohon, tapi itu tidak dilihatnya sebagai kelemahan. Dia melihatnya sebagai keinginan kuat untuk mendapatkan apa yang dicintainya.
"…dan aku yakin sebentar lagi kau akan berlutut didepanku dan berkata bahwa kau akan melakukan apapun untukku," kata gadis itu lagi, Kakashi melihatnya, senyum sinis tanpa kebahagiaan, hanya ada kemenangan licik yang terpancar dari mata emerad yang begitu gelap didalam sana, begitu penuh kebencian dan dendam.
Tersenyum miris, Kakashi menunduk. Dan sedetik kemudian mulai menekuk lututnya, dia melakukannya… dia menginginkan gadis itu, meski rasa sakit yang tak pernah dia tahu kini meremas dadanya, bukan karena posisinya yang kini berlutut dengan tubuh berguncang pelan menahan rasa sakit itu, tapi karena mata itu… mata penuh kebencian dan dendam yang membuat buncahan rasa bersalah memenuhi dirinya.
"Kau benar, Sakura… akan kulakukan apapun untukmu… apapun… Sakura…."
Butiran bening itu mendesak keluar, meleleh perlahan kala mata berbeda warnanya mendapati langkah gadis itu yang menjauh… meninggalkannya dalam posisi masih berlutut didepan kekosongan yang ditinggalkan gadis itu untuknya.
00Lhyn00
Garis hijau yang berliuk-liuk di monitor dan suara 'tit' yang berantai pelan menandakan masih adanya kehidupan dalam jantung yang berdetak itu. Wajah pucat berahang tegas itu terlelap damai, seakan dia telah melepas segala beban dalam empat puluh tahun hidupnya. Matanya terpejam erat menyembunyikan aquamarine yang tergurat tua.
"Yakinkan aku kalau semuanya akan benar-benar baik-baik saja Shika…" sosok gadis yang berdiri disamping ranjang berujar pilu, tangan kecilnya meremas pelan tangan berselang yang tertancap di pergelangannya.
"Semuanya akan baik-baik saja, Ino… Paman akan sembuh, kita sudah mendapatkannya., kita hanya perlu menunggu kondisi tubuh paman stabil," seorang pemuda mengusap lembut bahu gadis itu, matanya ikut memandang pilu sosok di atas ranjang.
"Katakan dia akan sembuh Shika…"
"Dia akan sembuh Ino, kita tahu paman itu kuat, mungkin sesekali kau harus merasakan pukulannya… paman itu kuat sekali," pemuda itu tersenyum sedih dalam usahanya menghangatkan suasana.
"Terimakasih Shika," gadis itu berbalik, memandang onyx yang menatapnya pilu. "Terimakasih selalu menguatkanku," dan memeluk tubuh pemuda itu, menenggelamkan wajahnya di dada Shikamaru dan terisak keras disana.
"Sssstt Ino, jangan menangis disini, ruangan ini harus tetap steril, lagi pula paman akan memukulku lagi kalau melihatmu menangis," Shikamaru mendekap gadis itu, mengusap punggungnya lembut. "Ayo kita keluar, bunga-bunga di toko menunggu ratunya datang."
Ino tersenyum tipis, kemudian mengikuti langkah pemuda itu yang membawanya keluar dari ruangan Ayahnya dirawat. Penyakit gagal jantung yang diderita Inoichi sejak lima tahun yang lalu, membuat semuanya berubah.
Kehidupan Ino berubah total sejak penyakit itu divoniskan pada ayahnya, perlahan demi perlahan tubuh tegap itu mulai melemah, keadaan ekonomi pun berubah perlahan karena mereka menjual cabang toko bunganya demi membiayai pengobatan, pergaulan gadis itu pun berubah, dia tak penah lagi berjalan menyusuri deretan toko pernak-pernik kota konoha demi mengantikan tugas ayahnya menjaga toko yang kini menjadi satu-satunya penopang hidup mereka.
Hanya keberadaan pemuda berambut nanas itu yang tak pernah berubah. Selalu disampingnya, menguatkannya meski hanya berdiri disampingnya dan mengenggam tangannya. Shikamaru adalah sahabat Ino sejak kecil, keluarganya merupakan pemilik perusahaan supliyer obat-obatan terbesar di Konoha. Tak sedikit jumlah bantuan yang diberikan keluarga itu untuk Ino.
Shikamaru juga lah yang menemukan keluarga yang mau mendonorkan jantung milik anak mereka yang saat itu tengah mengidap kangker otak. Shikamarulah yang dengan segala upaya meyakinkan keluarga itu, mendekati Chouji secara perlahan selama dua tahun terakhir hingga akhirnya Chouji bersedia merelakan jantungnya.
Seminggu lagi, pemuda bertubuh tambun itu merelakan hidupnya ditangan paramedis dan membiarkan jantung sehat itu tetap berdetak dalam tubuh yang lain.
Satu minggu lagi dan semuanya akan kembali kesediakala bagi Ino.
00Lhyn00
.
"…gagal jantung, kau bisa membunuhnya secara alami dengan meniadakan pendonornya, Haruno."
Gadis itu menengadah, memandang wajah bermasker yang tak cukup untuk menutupi senyum licik dibaliknya. "Aku tak mau dia mati, dia harus hidup untuk tahu bagaimana rasanya kehilangan," kata gadis itu datar, siapa saja yang mendengarnya akan dapat merasakan aura gelap disana.
"Kau yakin?" Kakuzu memandang penuh penekanan meremehkan. "Bukan karena akhirnya kau merasa memiliki keluarga 'kan Haruno?"
"Hah! Kau bercanda?" balas gadis itu, tak kalah meremehkan.
Kakuzu tertawa, kali ini tawa penuh kesenangan seakan berhasil mendapatkan boneka incarannya dari mesin permainan. "Yah, apapun rencanamu Haruno, yang menjadi pertanyaanku sekarang adalah bagaimana kau akan menjalankannya? Kau baru saja membuang 'Bank Berjalanmu' Haruno."
.
Sakura menghentikan langkahnya tiba-tiba, sekilas percakapannya dengan seseorang membuatnya berpikir lain. Dia membutuhkan 'Bank berjalan' yang lain setelah dia menukar hubungannya bersama Sasuke dengan Informasi tentang 'Itu'. Dia berbalik dan memandang ragu pada sosok yang masih pada posisinya berlutut di tengah trotoar. Secepat dia menjauh, secepat itu pula dia mendekat.
"Kau punya Uang dan Kekuasaan?"
Pria itu menengadah, memandangnya terkejut. Mata berbeda warna itu memandang meneliti pada emerald diatasnya. Kakashi bangkit dari posisinya berlutut, matanya masih terus mencoba meneliti, mencari apapun yang ada dalam emerald itu.
"Kita buat kesepakatan, aku akan jadi milikmu kalau kau memberikan apa yang ku butuhkan. Uang dan Kekuasaan," lanjut Sakura saat Kakashi tak kunjung bicara.
"Uang dan Kekuasaan?" Kakashi bertanya miris. Alisnya mengernyit masih tak mengerti, sebegitu rendahkah harga dirinya hingga dia menilainya dengan uang dan kekuasaan?
"Ya," jawab gadis itu datar, agaknya minat gadis ini telah sedikit berkurang melihat reaksi Kakashi yang tak sesuai harapannya.
"Kau bukan gadis yang haus pada uang dan kekuasaan, aku tahu itu Sakura… untuk apa kau melakukan ini? Mengujiku?"
'Mengujinya?'
Oh, bagus! Sekarang pria itu jadi besar kepala! Gadis itu tertawa rendah. "Bukankah sudah kukatakan sebelumnya bahwa Kau sama sekali tak mengenalku tuan Hatake," gadis itu mengambil langkah mendekat, di bibirnya masih tersungging senyumnya. "Untuk apa?" dan menatap kedua iris berbeda warna itu lekat-lekat. "Aku membutuhkan semua itu untuk membalaskan dendamku."
"Dendam…"
"Orang yang telah membuangku, keluarga yang tak menginginkanku, Aku ingin membalas dendam pada mereka, keluarga Yamanaka."
Keduanya terdiam, saling meneliti. Hening begitu terasa meski keduanya berada tepat ditengah keramaian kota Konoha. Tapi semuanya terasa menghilang, tak ada satu dengung –bahkan lantunan angin– yang mengusik keduanya.
Kakashi kembali tersenyum miris, tapi jelas sekali Sakura menangkap gerakan itu. pria itu menggeleng… pria itu menolaknya…yah! Menolak seorang Haruno. Membuat gadis itu merasa gusar.
"Aku tidak akan memberikannya Sakura, Aku akan merubahmu bukan ikut terbawa bersamamu, bukan cara seperti itu yang kuinginkan untuk mendapatkanmu Sakura, tak ada jaminan kau akan memberikan Hatimu setelah aku memberikan semua itu untuk—"
"Pertama!" potong Sakura. "Apa kau baru saja mengakui bualanmu? Belum sejam yang lalu kau berlutut ditempatmu sekarang dan berkata akan memberikan apapun yang ku inginkan."
"Sakura…"
"Yang kedua, percayalah aku tak pernah perduli apa itu Hati. Yang ku tahu hanya bualan seperti yang baru saja kau katakan padaku."
"…"
"Yang ketiga, aku bukan type yang suka memberi kesempatan kedua," gumam Sakura, licik. Dia yakin sepenuhnya hal itu takkan sia-sia. Tak ada yang pernah bisa menolak Sakura, bahkan seorang hatake didepannya.
Sakura tersenyum puas menatap raut Kakashi yang tengah berpikir keras, bimbang. "Kenapa kau melakukan semua itu, apa mau mu sebenarnya, Sakura?"
"Sudah kukatakan tadi," jawabnya angkuh.
Kakashi tahu, inilah satu-satunya kesempatan untuk memasuki pintu itu. Dia akan melakukan apapun untuk mendapatkan kembali Sakuranya, untuk menemukan kembali emerald hangat yang mengundang debaran mengairahkan didadanya. Tapi mengikuti arah permainan gadis ini… dia ragu. "Dengan satu syarat," gumamnya pelan. "Kembalilah menjadi Sakuraku."
Sakura tersenyum licik. Satu lagi bukti bahwa Cinta hanya bisa melemahkan. "Jangan terlalu berharap!"
00Lhyn00
Kakashi masih mencoba menerka isi pikiran gadis yang kini duduk di sampingnya. Gadis itu seakan memandang segalanya dengan begitu remeh. Atau mungkin dia yang menganggap semuanya terlalu berat?
Sekali lagi, Kakashi melirik gadis berambut pink sebahu yang duduk di disamping kursi kemudi yang didudukinya. Belum lebih dari dua jam yang lalu gadis itu masih bermbut hitam panjang dan kini… tak dapat disangkal Kakashi merasa begitu senang dengan hal itu. Kakashi bahkan memeluk gadis itu begitu erat saat Sakura melangkah keluar dari salon itu.
Kakashi benar-benar buta saat melihat sosok gadis berambut pink itu, segala dunianya seakan tenggelam dalam sinarnya. Hanya sekejap. Kebutaan itu hanya sekejap sebelum suara dingin dan angkuh menyeruak memperlihatkan kenyataan yang masih tetap gelap di depannya.
"Berhenti disana," Sakura menunjuk sebuah toko bunga yang tak asing bagi Kakashi. Kakashi tersenyum, tempat itu selalu membawanya kembali mengingat masa-masa terindahnya. "Sekarang dengarkan aku Kakashi, aku ingin kau membuatkanku sebuah toko bunga yang jauh lebih besar dari pada toko bunga itu, tepat didepan toko bunga Yamanaka."
Kakashi tertegun sesaat. Membangun toko bunga? Itu bukan hal sulit untuk dilakukan, tapi membangunnya didepan toko bunga lain? dan lebih besar? "Kau mau bersaing bisnis dengan Yamanaka?" tanya Kakashi tak yakin.
"Buatkan saja, aku harap bisa secepatnya toko bungaku dibuka," Sakura tersenyum, senyum penuh arti yang tak tertebak maknanya.
"Dua hari, itu cukup?" Tanya Kakashi, pikirannya tak menentu antara khawatir dan bahagia bisa memberikan apa yang diinginkan Sakura, Sakura-nya.
"Cukup, aku akan merancang konsepnya nanti malam agar orangmu bisa segera menerapkannya, ingat Kakashi, aku mau semua jenis bunga ada dalam tokoku," gumam Sakura, Kakashi tersenyum lebih tulus kala mendengar nada antusias dari gadis itu.
00Lhyn00
Gaje Nyak! Wuhuu maap Lhyn agy agak sulit menyesuaikan diri paska hiatus, jadinya ya gitulah tulisan Lhyn, kacau-balau gag jelas apa maksudnya~ *pundung*
Bales rifyu aja dah :
Mokochange : Yang kemaren agag cepet sebenernya karna udah diketik barengan ama chep sebelumnya, chep ini lamaan ya? Maap y? Makasih dah rifyu y Moko-chan…
Uchiha Eky-chan : Makasih fav n' Rifyunya…
Chie hatake : Makasih dah rifyu ya say… *gyah* yap semoga usaha kakashi berhasil nyak!
Ayano Hatake : Makasih dukungannya y K… Huummm, ada sedikit konflik SakuXIno disini, tp bakal di bukanya sedikit2 aja.. wkwk… Makasih dah rifyu y K…
ILA : Makasih y Say… Kakasaku bersatu? Mungkin… *padahal udah ketebak banget ny0k* makasih dah rifyu y…
Putri Luna : Itu lah hidup luna *lho?* maksudnya itulah hidup Saku di fic Lhyn, jadi kek gitu *dikemplang* makasih dah rifyu ya….
Hatake Satoshi : wkwkw… iyah Sato-kun, itu elpiji 3kg yg mledak… wkwk deinya gag mau ngaku… *dei : Bukan aku!* Pertanyaan yg kemaren udah kejawab diatas kan? Makasih dah rifyu y Sato-kun~
Rizu Hatake-Hime : Rizu~~ entah kenapa Lhyn jadi mikir sama kya Rizu~ tapi Avril versi dulu yg masih pake style Gothic itu lho~ kan pernah juga avril pake rambut item~ makasih dah rifyu y Rizu….
Just Ana : SasuSakunya Cuma nyempil dikit… wkwk… itu Karin beneran Qo~ g caper, walo mungkin kalo Lhyn yg ada diposisi Karin, Lhyn bakal caper~ wkwk, abis kepsek seganteng Kakashi mau diangguring? *abaikan* makasih dah rifyu ya Ana-san
Kurosaki Kuchiki : Sakura kenal kok ama Kakashi, Cuma pura-pura aja tuh, jual mahal~ *dibacok saku* Makasih dah rifyu y Fiki-san~~
Nay Hatake : Nay mau bunga nya? Nih *kasihin bunga yang dibuang Saku* Pertanyaan Nay udah kejawab di chap atas kan? Ino sedih karna Inoichi agy sakit… makasih dah rifyu ya~~
Akasuna no hataruno teng tong : bling2 *?* wkeke iya~ g telat qo teng-chan, Makasih dah rifyu y Teng-chan~~
Makasih buat yang udah rifyu dan Silent Reader yang udah mau Baca fic Kacau Lhyn… Lhyn juga mau ngucapin selamet buat adek-adek Lhyn (Funny-chan, Zie-chan, Ie-chan, dan lainnya..) yang Udah berhasil Lulus dari SMA! Selamat berjuang di tahap selanjutnya!
Rifyu-nya Lhyn tunggu
