Warning : AU, TYPO, OOC, gaje, aneh, parah, ngaco, dll yang bikin Fic ini terlalu jauh dari kata sempurna... jadi rifyu, saran, kritik, dukungan dan sesuatu yang bisa membuat Lhyn melangkah maju Lhyn terima dengan senang hati. Flame juga boleh...

Naruto ® MK

Love Hater ® LH

Shikamaru melangkah pelan memasuki rumah tradisional jepang yang menguarkan aroma kayu wangi yang dibakar itu. Langkahnya begitu hati-hati saat memasuki area ruang keluarga, di rumah yang telah dihapal seluk beluknya sejak dia mulai bisa mengingat. Udara pagi yang tak begitu dingin tak bisa dijadikan alasan pasti mengapa ada suara derak kayu bakar dalam api. Dan wangi ini, wangi khas batang kayu wangi kesukaan paman Inoichi.

"Shika, kau masuk tanpa mengetuk pintu? Itu tidak sopan," gumam pelan seorang gadis, Shikamaru memperhatikan gadis itu menyesap ochanya sesaat sebelum duduk di samping si gadis tanpa menanggapi teguran si tuan rumah. "Kau pasti datang karena aroma kayu wangi itu ya?" gadis itu menunjuk perapian yang menyala dalam bara kecil.

"Ada apa?" tanya Shikamaru langsung, dia tak suka berbasa-basi dan dia yakin gadis itupun tahu tabiatnya itu.

"Hem?" hanya dengan itu Ino menanggapi.

"Tumben sekali kau tidak ketoko, apa ada masalah?"

Gadis itu tersenyum, senyum yang sejujurnya sama sekali tak melegakan Shikamaru karena pemuda itu justru melihat hal yang sebaliknya di mata aquamarine itu. "Jangan berbohong," kata Shikamaru sebelum gadis itu sempat berkata. "Ada apa?"

Gadis itu tertawa, masih berusaha menyembunyikan sesuatu yang diyakini Shikamaru sebagai hal yang tak cukup baik. "Shika, kau ini sok jenius tau! Tidak ada apa-apa, jangan menduga-duga seperti itu, aku hanya lelah dan ingin beristirahat hari ini apa itu tak boleh?" balas gadis itu.

"Tentang toko bunga yang baru itu?" sekali lagi pemuda itu menebak, sesaat, perubahan terlihat di raut wajah Ino.

"Tidak apa-apa Shika, bersaing dalam usaha itu biasa," gumam gadis itu pelan, mengangsurkan secangkir ocha yang mengepul kedepan Shikamaru. "Hanya saja, aku takut Tousan kecewa kalau dia mengetahui tokonya..."

00LhyN00

"ARGGGHHH!" seruan frustasi terdengar dari gadis berambut pink sebahu yang kini tampak menjambak rambut pinknya dengan kesal.

Rencananya gagal, dan dia tak suka itu. Gadis Yamanaka itu ternyata lebih kuat dari dugaannya, Ino tidak serapuh perkiraannya, usahanya menghancurkan toko bunga Yamanaka itu tak cukup mampu membuat si gadis Yamanaka menangis dan memohon padanya, tak membuat gadis Yamanaka itu merasakan kehilangan. Tidak cukup. Harus ada cara lain... yah, cara lain...

"SIAL!" Sakura mengumpat lagi. Dari jendela ruangannya di lantai dua toko bunga miliknya dia bisa melihat gadis berambut blonde yang masih bisa tersenyum, membuka tokonya bersama seorang pemuda berambut nanas. Sakura kenal pemuda itu, si jenius yang kerap kali di saingkan dengannya dalam prestasi akademik di sekolah, meski jelas sekali baik Sakura maupun pemuda Nara itu sama-sama tak perduli.

'Clek'

"Apa maksudmu dengan semua ini Sakura?"

"Owhhh...," Sakura mendesah bosan. "Kau masuk tanpa mengetuk pintu tuan Hatake," gumam gadis itu datar setelah berhasil mengatasi keterkejutannya akan kehadiran pria berambut perak itu.

"Aku mendengar semuanya Sakura, kau kabur dari panti?" pria itu mendelik tajam, menatap penuh menyelidik pada emerald di depannya.

"Itu bukan urusanmu," balas Sakura sedikit kesal, kenapa pria itu tak pernah berhenti untuk mencampuri urusan pribadinya?

"Itu urusanku Sakura, lalu kenapa kau menetapkan harga yang jauh di bawah standar untuk semua bunga di tokomu? Kau mau bangkrut cepat hah?" Kakashi masih menatap gadis itu tajam.

"Itu bukan urusanmu!" gadis itu balas menatap tajam iris berbeda warna itu.

"Itu urusanku Sakura."

"KU BILANG ITU BUKAN URUSANMU!" gadis itu berteriak, amarah jelas sekali berkobar di iris emeraldnya.

"..."

"..."

"Pulanglah kepanti," nada pria itu menurun drastis, tak lagi berisi kecaman seperti sebelumnya melainkan kekecewaan jelas terlukis di iris berbeda warnanya.

"Aku tidak mau."

"Mereka mencemaskanmu, Sakura."

"Berhenti membicarakan semua itu," gadis itu mendesah bosan— "Kau baru tiba dari London dan langsung berteriak seperti itu didepanku? Aku bahkan belum menanyakan perjalananmu," dan mencoba bersikap ramah. Gadis itu bangkit dari duduknya di sebuah sofa berlengan panjang dan menghampiri pria yang sejak kedatangannya terus berdiri ditengah ruangan. Dengan gerak lambat, gadis itu memeluk Kakashi. Tak ada maksud apapun selain agar pria itu berhenti berbicara tentang kehidupannya.

Gadis itu tersenyum merasakan Kakashi menerima pelukannya dengan lembut, menarik tubuh kecilnya lebih dalam, mengecup pelan puncak kepala Sakura dan menyesap wangi hangatnya.

"Dimana kau tinggal selama kau tidak di panti?" tanya Kakashi lembut.

"Ck.." gadis itu berdecak, dengan jenuh dia melepaskan pelukannya, namun usaha itu gagal seiring mengeratnya lingkar tangan pria itu di pinggangnya. "Di apartementmu," gumam gadis itu akhirnya dengan datar.

"APA?" pria itu terkejut. "Ta-tapi Iruka tidak—"

"Aku melarang Iruka mengatakannya padamu, aku mengancam akan benar-benar kabur kalau dia mengatakannya padamu, PUAS?" jelas gadis itu yang diakhiri dengan pertanyaan sarkatik.

Pria itu melonggarkan pelukannya dan meraih dagu Sakura, mengerahkan emerald itu agar memandangnya, Sakura mengikuti dengan jenuh. Emerald itu mengerjap sesaat, ada sesuatu yang mengusik ketenangannya saat keduanya saling berbaur, tatapan itu, jauh di dalam iris berbeda warna itu. Ada sesuatu yang tak Sakura mengerti, sesuatu yang tiba-tiba saja membuatnya merasa takut, membuat jantungnya berpacu dalam irama lain.

Kehangatan.

"Aku harus pergi," gumam Sakura cepat, dan sebelum Kakashi bisa berkata apapun dia telah berlari. Meninggalkan pria itu dalam kegaguan.

Dadanya bergemuruh, terusik suatu rasa nyaman yang dengan lihai menyusup masuk. Gadis itu gelagapan, dia takut.

"SAKURA!"

Gadis itu mempercepat gerak kakinya saat mendengar teriakan itu. Tidak. Dia tidak siap dengan ini, dia tidak akan pernah siap meninggalkan rasa beku yang mengeluti darinya.

0LhyN0

Berbeda dengan pagi hari yang cukup cerah, menjelang sore langit menunjukan kekuasaannya sebagai penentu cuaca. Mendung bergumul perlahan, seakan mengerti dengan pasti kegundahan hati gadis berambut pink pendek yang kini tengah menekuri bukunya sekata demi kata. Meski barisan kata itu tak lebih dari untaian tanpa makna, dan hanya sekedar terbaca kemudian lenyap tersapu gelisah.

Beberapa kali dia menghela nafas berat, sebagai bukti bahwa dia tidak yakin dengan langkahnya. Tapi yakin tidak yakin, perintahnya itu telah diturunkan. Mungkin akan menambah sedikit daftar pekerjaannya. Tidak langsung memang, tapi membunuh tetap saja membunuh.

Tapi kebenciannya telah memuncak! Nyawa dibalas nyawa! Bukankah seperti itu peraturannya? Merekalah akar dari setiap penderitaan yang Sakura alami, dari tangan merekalah Sakura terbuang. Mereka yang membunuh kebahagiaan Sakura dan sekarang saatnya Sakura melakukan hal seperti itu agar keadaan seimbang!

Gadis itu tersenyum licik, dan menghela nafas lega. Dia pun bangkit dari tempatnya duduk dan berjalan kearah jendela di ruang perpustakaan kecil milik Kakashi, meninggalkan bukunya dalam kesepian diatas meja. Mata emeraldnya dibiarkan menembus jauh kebarisan bumi yang semakin menggelap dibawahnya, beberapa lampu bahkan telah dinyalakan.

"Aku sangat suka hujan."

Sebaris kenangan muncul di kepala gadis itu. Suasana sore itu mengingatkannya pada sebuah sore di masa lalu, di masa saat dia belum mengenal kekecewaan.

"Aku juga sangat suka hujan, karena aku bisa bermain air sepuasku! Aku tak perlu antri kalau mau mandi."

Sakura ingat dia pernah mengatakan itu. Di sore yang berhujan saat Kakashi dan Sakura tengah bermain di halaman belakang panti asuhan.

"Alasanku lain, aku sangat suka hujan karena saat hujan aku menemukan malaikatku."

Sakura tersenyum mengingat kenangan itu, saat itu... entah kenapa dia merasa sangat polos. Rasanya jadi seperti mengingat kebodohan di masa lalu, membuatnya merasa geli.

"Kau terlihat senang," suara maskulin terdengar dari arah belakang Sakura, gadis itu melihat bayangan Kakashi dari kaca jendela sebelum berbalik.

"Benarkah?" tanya Sakura, gadis itu membuang pandangannya pada deretan buku-buku pada rak di belakang Kakashi.

"Ya. Kau terlihat seperti tengah mengingat sesuatu yang menyenangkan di masa lalu," gumam Kakashi dengan tenang, pria itu kembali melangkah hingga akhirnya mendudukkan diri di bingkai jendela di samping Sakura.

Sakura tidak terkejut sama sekali mendapati tebakan Kakashi yang begitu tepat, karena hal itu sudah sering terjadi, seakan Kakashi mengetahui segala sesuatu tentangnya. Gadis itu hanya menyeringai dan tersenyum. "Terlalu sok tahu."

"Aku benar kan? Kau sedang mengingatku... mungkin kau mengingat saat ku katakan aku sangat menyukai hujan," gumam Kakashi masih dengan nada tenangnya.

"Kau pikir itu cukup penting untuk kuingat?"

"... karena saat hujan aku menemukan malaikatku," kata Kakashi begitu lembut, dan sedetik kemudian Sakura menyadari bahwa tangan pria itu telah menaut tangannya.

"Kau cukup pintar membual," balas Sakura dengan nada sinisnya, gadis itu mencoba melepaskan tautan tangan Kakashi, namun alih-alih terlepas pria itu malah bergerak untuk berdiri di depannya dan sebelah tangan yang lain mengangkat dagu Sakura.

Tanpa ragu gadis itu mendongak, menawarkan tatapan angkuh dan gelap.

"Tak ada detail yang ku lupakan sedikitpun, semua tentang mu Sakura... aku mengingatnya," Sakura terdiam, bukan karena kalimat Kakashi barusan melainkan karena tatapan hangat dari pria itu yang terasa seakan membungkus dadanya.

Sakura memejamkan matanya saat sesuatu juga terasa mencubit hatinya. Dan Kakashi tampaknya menangkap hal itu sebagai sesuatu yang lain sehingga dia pun membungkukkan tubuhnya perlahan dan mulai menyapukan bagian bibirnya yang tertutup masker hitam tepat di atas bibir Sakura..

Sakura terkejut, tentu saja. Secara mendadak jantungnya berpacu cepat dan tubuhnya terasa kaku. Kecupan pria itu begitu lembut dan terkesan hati-hati, membuat jantung Sakura semakin berpacu lagi. Gadis itu merasa nyaman, dan rasanya dia tidak membenci rasa nyaman yang datang begitu mendadak ini. Sebelumnya, tak pernah ada yang memperlakukannya dengan begitu hati-hati seperti ini. Sebelumnya, tak pernah ada yang bisa membuatnya merasa begitu istimewa seperti ini... kecuali... sosok berambut perak dalam bayangan masa lalunya.

Sesaat Sakura merasa hilang arah ketika kecupan itu terlepas. Suatu perasaan tak terjelaskan membuat Sakura sadar bahwa sosok yang kini berdiri di depannya adalah sosok yang sama dengan anak lelaki berambut perak di masa lalunya itu. Sakura tahu dan yakin hal itu tak perlu diragukan lagi.

Gadis itu mengangkat tangannya, kedua emeraldnya tak lepas dari sepasang mata berbeda warna di depannya. Ragu, namun pasti Sakura menyentuhkan jari-jemarinya di wajah itu dan menarik kebawah masker hitam yang menutupi segala rahasia di baliknya.

Gadis itu tertegun. Wajah itu.. garis wajah itu, raut tenang itu, aura itu... begitu sama dengan ingatan terakhir tentang pria kecil berambut perak yang datang mengulurkan tangan di bawah guyuran hujan, menawarkan perlindungan.

"Sakura..."

"Kau..."

Mengabaikan segala hal, Kakashi kembali menyapukan bibirnya lagi, kali ini tanpa penghalang apapun. Pria itu mengecup bibir Sakura singkat, cepat tapi begitu terarah tanpa mengurangi kehati-hatian dalam setiap sentuhanya. Begitu haus pada rasa itu... Kakashi menarik tubuh Sakura mendekat saat dia merasakan respon yang sama dari belahan bibir Sakura.

Berpagut lembut. Sakura terbuai... sekali lagi terbuai pada rasa nyaman yang ditawarkan pria perak itu, sama seperti dulu, ketika dia menawarkan perlindungannya dan tanpa ragu Sakura menerima uluran tangan itu, persahabatan... kasih sayang, pria kecil yang hadir menjadi pondasi yang begitu kokoh dalam hidupnya. Tak membiarkannya terluka sedikit pun.

Terluka... tidak membiarkannya terluka...

Tapi Sakura terluka...

Sakura menjadi rapuh... karena dia...

"BRUGH!"

Sebuah sentakan keras dari Sakura membuat Kakashi yang tak siap terdorong keras kebelakang hingga menabrak meja baca di belakangnya. Hanya sesaat pandangan tak mengerti hadir di iris berbeda warnanya sebelum iris itu menampilkan ekspresi ketakutan melihat emerald yang begitu gelap di depannya.

"Sakura..."

"KAU!" nafas gadis itu terengah karena emosi yang begitu memuncak di dadanya. "Kau meninggalkanku! KAU YANG TELAH MEMBUATKU LEMAH!" raung gadis itu, kemarahannya begitu meluap tak terbendung.

"Sakura maafkan aku..."

"BASTARD!"

Usai melontarkan makian itu, gadis itu melangkahkan kakinya dengan cepat menuju pintu keluar. Dadanya terasa panas. Dia tak memperdulikan teriakan memohon Kakashi atau Iruka yang dia tabrak begitu keras di pintu masuk perpustakaan appartement itu.

"SAKURA!"

"Kakashi, berhenti.." Iruka yang masih berdiri di depan pintu mencegah Kakashi berlari lebih jauh mengejar Sakura, "...biarkan dia dulu," ujarnya dengan nada menenangkan.

Kakashi ragu sesaat, namun akhirnya dia mendesah pasrah dan mengikuti saran Iruka. Pria itu mengerang pelan sebelum beranjak pergi menuju kamarnya.

0LhyN0

"Ta-tapi... Paman.. " Ino tergagap tak mampu bicara.

"Paman, kenapa tiba-tiba berubah pikiran?" Shikamaru mengambil alih kalimat Ino, pemuda berkuncir nanas itu menatap penuh permohonan pada pria paruh baya bertubuh gempal di depannya.

"Paman merasa sulit melepaskan..."

"TAPI ITU JUGA KEINGINAN CHOUJI SEBELUM DIA MENINGGAL PAMAN!"

"Shika!" Ino buru-buru meraih pundak pemuda itu sebelum Shikamaru lepas lebih jauh. "Paman... Aku mohon... hanya paman dan Chouji yang bisa membawa kehidupan bagi Tousan... Aku mohon paman..." dengan air mata berurai gadis berambut pirang itu bersimpuh di bawah tubuh menjulang Chouza Akimichi.

"Ino..." lirih Shikamaru miris, dadanya berdenyut sakit menatapi kekasihnya yang kini seakan tanpa daya sedikitpun. "Paman kami mohon."

Chouza merasakan tubuhnya berguncang menatapi dua anak muda yang bersujud di depannya. Demi kami-sama, dia tak pernah keberatan bila jantung Chouji –putra semata wayangnya yang telah meninggal- didonorkan pada Inoichi, ayah gadis yang kini bersujud di depannya.

Bagaimanapun juga, kedua anak muda itulah yang membawa senyum di hari-hari terakhir putranya, merekalah yang memberi semangat hidup pada putranya yang putus asa kala itu, merekalah yang menemani putranya berjuang meski bukan tanpa pamrih mereka melakukan itu.

Tapi... demi istrinya... demi satu-satunya usaha yang dia miliki sekarang, demi keluarganya yang masih diberi nafas, dia harus melakukan ini. Karena kalao tidak... kedua pria berbadan besar itu akan menghancurkan kehidupannya.

"Maafkan paman, paman tidak bisa membiarkan jantung Chouji ditransplantasikan."

0LhyN0

Gadis itu berjalan oleng, kekanan dan kekiri dengan tidak teratur. Aroma alkohol murahan tercium jelas dari dirinya. Sesekali bibirnya akan melontarkan makian dan gumaman tak jelas yang entah ditujukan pada siapa, dan sesekali pula gadis itu menjerit menarik kasar surai pinknya.

Mata emeraldnya memperhatikan satu persatu pintu yang dilaluinya di koridor kosong itu. "Ah!" gumamnya senang saat menemukan pintu tujuannya. Tanpa memencet bell atau mengetuk pintu gadis itu menerobos begitu saja kedalam dan detik berikutnya dia langsung diserbu seseorang yang memanggil namanya dengan nada cemas.

Lalu Sakura merasakan tubuhnya melayang dalam gendongan seseorang dan gadis pink itu mengingat alasannya terlelap saat itu : aroma pinus, rasa hangat serta nada dari sebuah jantung yang seakan membiusnya.

Saat terbangun pagi harinya, Sakura mencoba mengingat siapa sosok yang semalam membawanya kekamar, tapi percuma, gadis itu hanya mampu mengingat aroma pinusnya. Bangkit dengan kepala yang berputar gadis itu menuju kekamar mandinya sebelum turun kemeja makan.

Aroma omelet bercampur bawang dan keju menguar harum dari arah dapur, Sakura melirik sesaat dan dia sedikit terkejut melihat pria berambut perak tengah berdiri di depan kompor dengan wajan di tangan. Gadis pink itupun menghampiri Iruka yang tengah duduk di salah satu kursi meja makan.

"Pagi Sakura..." sapa Kakashi dari dapur, Sakura memberi pandangan sekilas pada pria perak itu dan mengangguk singkat.

"Bagaimana kepalamu? Masih pusing?" kali ini Iruka yang bertanya.

"Sudah tidak, aspirin yang diletakkan di meja kamarku cukup membantu. Ngomong-ngomong, apa kau yang semalam membawaku kekamar?" tanya Sakura saat dia menyadari aroma pinus dari tubuh pria yang duduk di depannya.

"Kenapa? Kau kecewa aku bukan Kakashi?"

"Apa? Hahaha... kau ada-ada saja, tentu tentu saja tidak. Terimakasih kau sudah—"

'Prakk...'

"Argh!"

Sebuah keributan sontak mengalihkan Sakura dari pembicaraannya dengan Iruka, gadis itu bangkit untuk mengetahui apa yang terjadi dan melihat Kakashi yang kini tengah mengguyur tangannya di bawah kran bak cuci piring.

Gadis pink itu mengernyit dan berjalan mendekat. "Kau kenapa?" tanyanya heran melihat wajan yang tergeletak terbalik dengan saus spageti yang tercecer kemana-mana.

"Tidak apa-apa—"

"Bodoh apa yang kau lakukan! Lepaskan kausmu, saus itu pasti panas juga kan?" seru Sakura saat melihat saus spageti yang juga menempel di kaus Kakashi. Tanpa menunggu persetujuan Kakashi, gadis itu menarik keatas kaus biru muda itu dan meloloskannya melewati kepala Kakashi, dengan sigap dia menarik serbet bersih, membasahinya dengan air dan mulai mengusapkannya di bagian perut Kakashi yang tampak memerah. "Kenapa kau bisa sebodoh ini, Iruka tolong ambilkan obat luka bakar."

Tangan Sakura yang masih sibuk mengusapi kulit Kakashi yang memerah mendadak terhenti kala mata emeraldnya menemukan sesuatu yang mengantung di dada Kakashi, sebuah cincin kecil yang dijadikan sebuah liontin. Sakura ingat cincin itu, sebuah cincin berukir namanya yang dia hadiahkan untuk Kakashi dihari ulang tahun pria itu duabelas tahun yang lalu.

Tangan gadis itu terasa kaku saat dia meraih benda itu...

"Kau masih mengingatnya?"

Gadis itu mundur selangkah, melepaskan sentuhannya pada cincin itu dan kembali mundur selangkah dan berbalik...

"Kau sama saja seperti pengecut kalau kau terus lari dari semua masa lalumu, Sakura!" Kakashi meraih lengan gadis itu sebelum Sakura sempat berlari menjauh.

Sakura kembali berbalik dan menatap mata berbeda warna yang entah mengapa kali ini sarat dengan amarah dalam tatapannya. "Lalu disebut apa seseorang yang terus berkubang dalam masa lalunya? Pahlawan?"

"Aku bukan ingin mengajakmu untuk kembali hidup dalam masa lalu Sakura, aku—"

"Apapun ajakanmu aku menolaknya!"

"Jadi begitu..." kedua iris berbeda warna itu menatap Sakura semakin tajam, "...Haruno Sakura, seorang gadis yang sangat kuat ternyata takut pada seseorang dari masa lalunya?"

"Aku tidak takut padamu!" desis Sakura.

"Aku meragukan itu.."

"AKU-TIDAK-TAKUT-PADAMU!" setelah mengatakan itu dengan penuh penekanan, Sakura menyentak tangan Kakashi dari lengannya dan berlari pergi dari dapur itu.

Kakashi mematung sejenak, menyadari kesalahannya. Terbawa emosi yang mendadak membuncah ketika melihat gadis itu tertawa begitu lepas bersama Iruka. Kakashi pun berlari mengejar gadis pink itu, dadanya bergelut dengan rasa tak nyaman yang mengganggu.

Sedikit perasaan lega menghampiri Kakashi ketika melihat punggung Sakura yang menjauh menaiki tangga, setidaknya gadis itu tidak berlari keluar dan pulang dalam keadaan mabuk seperti semalam.

"Kakashi..." panggil Iruka ketika kedua pria itu berpas-pasan di tengah ruang makan.

Kakashi yang telah melewati Iruka kembali berbalik karena panggilan itu, dia diam tak menjawab, ada rasa kesal dalam dadanya. Katakan saja dia kekanakan, dia tidak perduli.

"Maafkan aku..." ujar Iruka mantap. Membuat raut Kakashi yang keras sedikit melunak.

"Untuk?"

"Menarik perhatian gadis itu."

Keduanya terdiam sesaat, lalu Kakashi mengangguk pelan. "Kau yang paling tahu apa arti gadis itu untukku," gumam Kakashi pelan, dia pun kembali berbalik menuju kamar Sakura, dia juga harus meminta maaf untuk kesalahannya.

0TBC0

Okhe segitu dulu... percayalah... meski pendek Lhyn membuatnya dengan susah payah...Lhyn jadi ngerasa seperti Nubie yang ngetik fic pertama... Maaf juga untuk sekian waktu Lhyn menelantarkan fic ini...

MAKASIH BANYAK BUAT :

Ayano Hatake, Mokochange, Just Ana, Haza ShiRaifu, Hatake Satoshi, Violet7orange, Rizu Hatake-hime, Nay Hatake, Putri Luna, ILA, huatuakue kuakuashui, Dhinar Sii Quiinchy Akasuna, Kaka cherry, Mei Anna AiHina

G mau berpanjang2, Lhyn pengen tau adakah yang masih menunggu fic ini, kalo masih ada yang nunggu Lhyn bakal apdet lagi meski g janji cepet, tapi kalo emang g ada yang nunggu *berharap dalam hati* Lhyn mau hapus Fic ini... abis Lhyn udah kehilangan Ide untuk lanjutan fic ini sih...

Jadi.. KEEP or DELETE?