Warning : AU, TYPO, OOC, gaje, aneh, parah, ngaco, dll yang bikin Fic ini terlalu jauh dari kata sempurna... jadi rifyu, saran, kritik, dukungan dan sesuatu yang bisa membuat Lhyn melangkah maju Lhyn terima dengan senang hati. Flame juga boleh...
Sesuai saran dari Rizu Hatake Hime... *luphy sistaa...* buat ngecepetin alurnya jadi Lhyn cepetin alurnya... jadi kalo fic ini Rush jangan salahin Lhyn tapi salahin Rizu aja ya... #digeplok Rizu... Arigatou Gozaimazu Rizu-chan...
Naruto ® MK
Love Hater ® LH
Sakura masih sibuk menyesap green tea paginya saat seorang gadis pirang menerobos masuk pintu tokonya dan mendadak menamparnya dengan keras serta memberikan makian kasarnya. Sakura yang sejujurnya telah menantikan hal itu hanya tersenyum sinis penuh kepuasan memandang gadis pirang itu berurai air mata penuh emosi.
"Siapa kau? Apa maumu sebenarnya!" kata gadis itu semakin kalap melihat reaksi Sakura yang justru tampak senang. "APA MAUMU!"
"Jadi kau sudah tahu ya, cepat juga analisa si Nara itu," kata Sakura tenang, gadis pink itu bangkit dan berjalan menjauhi mejanya.
"Aku... aku tidak pernah mengenalmu sebelumnya, kenapa kau melakukan semua ini padaku? Kau membuat tokoku sepi dan sekarang kau mengancam Chouza-jisan untuk tidak mendonorkan jantung Chouji untuk ayahku! Apa maumu sebenarnya!" ratap Ino dengan isak tangis yang semakin menjadi.
Jujur saja, justru itulah yang membuat Sakura merasa puas. Melihat gadis itu menangis di depannya, meratap dan memohon, mata yang sembab dan tatapan penuh kebencian padanya. Sakura mendekati gadis pirang itu dan membalas tatapan benci itu dengan tatapan yang tak kalah penuh kebencian, membuat Ino menunduk kalah, "Aku hanya ingin kalian menderita!"
"Apa salah kami padamu! Aku sama sekali tidak mengenal—"
"Ayahmu mungkin akan mengenalku, atau mungkin perlu kutanyakan tentang Yamanaka Ino yang lain, selain dirimu?" Sakura menatap gadis pirang itu tajam.
"Yamanaka... Ino yang lain?" gumam Ino. "Ino-basan? Adik kembar Tousanku, tapi dia sudah meninggal!"
Sakura mendekat, menatap lebih penuh kecaman pada gadis pirang itu. "Dia..." jeda sesaat, ".. ibuku!"
Hening... sebelum dengus cemooh keluar dari bibir Ino, "Karangan dari mana itu? Ino-basan meninggal sebelum dia menikah, jangan katakan kau melakukan semua ini hanya agar orang-orang percaya bualanmu Haruno!"
Sakura, gadis pink itu merangsek maju semakin mendekar kearah Ino dan meraih rahang gadis itu, "Dia hamil tanpa suami, dan ayahmu menyembunyikan kenyataan itu dari semua orang... mengirim Ibuku ke kota terpencil yang membuatnya harus mati saat melahirkanku di sana..." Sakura melepaskan cengkraman di rahang Ino saat gadis itu berusaha menggeleng dengan tatapan mata nanar tak percaya. "...Ayahmu membuangku, bukankah itu mudah ditebak? Aib keluarga dan dia tinggal mengarang kematian ibuku... meninggal dalam pendakian? Kecelakaan? Dan tak memperbolehkan jasadnya diotopsi?"
Kedua aquamarine Ino melebar tak percaya. "Itu... itu tidak mungkin... itu..." tubuh gadis pirang itu berguncang semakin kuat hingga akhirnya tubuhnya roboh kelantai. "Itu tidak mungkin... Tousan tidak mungkin melakukan itu..." dan diapun terisak, menggelengkan kepalanya pelan berusaha menolak berita yang baru saja masuk keotaknya.
Sakura mengambil sesuatu dari laci mejanya dan melemparkan sebuah kertas pada Ino yang terisak di lantai. potongan artikel dari sebuah surat kabar terbitan tujuh belas tahun yang lalu.
"Ayahmu melakukan semua itu Ino, ayahmu yang membuat ibuku mati dan dia yang telah membuangku! Ayahmu yang melakukan semua itu Yamanaka Ino!" papar Sakura sementara gadis itu makin terisak.
"Itu.. tidak benar..."
"Sebesar penderitaan yang aku terima, sebesar itu pula kalian harus merasakannya..." ucap Sakura dingin.
"Jangan... aku mohon... jangan lakukan hal itu... hentikan..."
"Kalian harus menderit—"
"Hentikan Sakura!" suara bariton menyela ancaman Sakura. Sakura mendelik marah pada pria yang tak disadari kehadirannya itu, sejak kapan dia di sana?
"Jangan ikut campur, Kakashi!" Sakura menggertak pria itu.
"Dia sudah cukup terpukul mendengar semua ucapanmu, kau tidak harus melakukan semua itu Sakura," Kakashi mencoba meraih pundak Sakura untuk menenagkannya, namun dengan segera gadis itu menepisnya.
"Mereka harus merasakan semua rasa sakitku, mereka harus menjadi sepertiku..!"
"Maaf kan Tousanku... maaf kan dia Haruno… maafkan dia… dia sudah cukup menderita, aku mohon, dialah satu-satunya keluarga yang masih ku miliki…" Ino beringsut maju dan berlutut di depan gadis pink itu.
"Apa yang kau lakukan?" Kakashi membelalak melihat posisi Ino saat ini, gadis itu terus mengisak memilukan.
"Jangan ayahku... dia sakit, dia butuh donor itu secepatnya, aku mohon jangan biarkan dia lebih menderita Haruno... Maafkan dia..." Ino meratap, pandangan matanya jelas menyiratkan ketakutan dan kepedihan.
"Nona hentikan!" Kakashi yang merasa miris melihat gadis pirang itu mengulurkan tangannya meraih pundak Ino untuk memaksanya bangkit.
'Plakk!'
"Biarkan saja, Kakashi," dengan kasar gadis pink itu menampik tangan Kakashi.
"Kau keterlaluan Sakura!" geram Kakashi. "Bangunlah Nona, tak perlu mencemaskan ayahmu lagi, aku yang akan—"
"KUBILANG BIARKAN SAJA DIA!" teriak Sakura keras, gadis pink itu mendorong Kakashi untuk menjauh dari Ino dengan kasar. "Harus ada yang hancur dan aku tak perduli bila harus ada yang mati!" ujar gadis itu dalam eraman pelan, bukan hanya emeraldnya yang tampak mengerikan, tapi juga raut wajahnya dan aura kemarahan yang terpancar jelas dari gadis itu.
"Sakura..." agaknya Kakashi gentar juga kali ini, terbukti dari nada pria itu yang jauh lebih rendah dari sebelumnya. "Kau sudah keterlaluan Sayang... buka matamu Sakura, jangan biarkan rasa sakit menyelimutimu…" ujar Kakashi selembut mungkin, kini pria itu mulai maju mendekati gadis itu...
Tapi Sakura justru bergerak mundur, kepalanya menggeleng pelan dengan mata gelap yang memandang Kakashi tajam. "Tidak! Tidak! Harus ada yang hancur! Harus ada yang mati!"
"Cukup Sakura cukup, aku mohon sadarkan dirimu…"
"Bagaimana kalau aku yang mati?" sakura berbisik pelan, namun cukup untuk didengar dua orang lain yang berada diruangan itu. "Kalau terjadi sesuatu padaku, kalau aku mati... apa itu cukup untuk menghancurkanmu, Kakashi?"
Tubuh Kakashi kaku, membatu...
Melihat hal itu sontak Sakura tertawa keras. "Cih! Kalian hanya orang-orang lemah," Sakura mencibir dan berjalan munuju pintu.
Sakura baru saja melangkah beberapa kali saat Kakashi meraih lengannya, mencegahnya pergi. "Apa yang akan kau lakukan?" tanya Kakashi dengan suara yang lebih berat dari sebelumnya, pandangan pria itu terlihat nanar.
Sakura tersenyum tipis. "Entahlah, kalau atap panti belum cukup tinggi, mungkin atap gedung lain cukup untuk membunuhku."
"Kau mengancamku, Sakura?"
Gadis pink itu mendengus. "Mengancam? Mengancam hanya dilakukan oleh seorang pengecut."
Kakashi menggeleng miris "Kenapa—"
"A-apa yang harus kulakukan agar kau memaafkan Tousan dan menghentikan semua ini?" gumam lirih dari Ino memotong kalimat Kakashi dan otomatis menghentikan perdebatan antara Kakashi dan Sakura.
Sakura berpikir sesaat sebelum kemudian menyeringgai. "Memaafkan ayahmu? Harus hal yang berharga untuk menggantikannya... sesuatu yang berharga darimu, sesuatu yang akan membuatmu mengingatnya seumur hidupmu bahwa aku lah yang mengambilnya darimu..." gadis itu masih berpikir, menimbulkan denyut was-was pada dua sosok di depannya.
Sakura masih diam dan berpikir hingga kemudian kedua emeraldnya menemukan dua iris berbeda warna yang menatapnya miris dan kecewa... sesaat, Sakura merasakan adanya denyut sakit di dadanya sebelum gadis itu menguatkan diri dan meyakinkan bahwa rasa itu tidak ada di sana. "Kakashi..." panggilnya pelan, sementara Kakashi bergeming dengan tetap menatap emerald gadis itu. "...kau ingin membantu gadis itu kan?"
Keduanya saling pandang ,emerald bertemu dengan obsidian dan ruby yang berpadu satu. "Aku..." Jeda sejenak, "...ingin kau mengambil kehormatan keluarga yamanaka untukku, Kakashi."
'Plak'
Sebuah tamparan mendarat telak di pipi putih gadis berambut pink itu, cukup keras, cukup untuk menyisakan jejak merah dan sudut bibir sedikit terkoyak dan berdarah. Cukup untuk memberi pukulan di dada Sakura. Sakit yang tak berjejak di hatinya.
Sementara Kakashi terlihat Shock dengan tindakannya, Sakura tetap terdiam. Hanya emeraldnya yang menyampaikan amarah dan kekecewaan, dalam dadanya yang merasakan sakit dan menusuk, gadis itu merasakan perutnya juga ikut mual.
"Kami-sama... Ma-maaf... Sak—"
Gadis pink itu pergi, berlari secepat yang bisa dilakukannya untuk meninggalkan ruangan itu. Meninggalkan Kakashi yang masih terlalu kaku intuk menggerakkan kakinya dan juga Ino, gadis pirang yang hanya bisa menatap nanar semua yang terjadi di depannya. Kepedihan seperti apa yang telah menciptakan pribadi seperti Sakura... dingin, kejam, dan... penuh ancaman.
0LhyN0
Kakashi melajukan mobilnya dengan kecepatan rendah menyusuri setiap jalanan Konoha, penampilannya kacau, rambut perak yang acak-acakan, dasi yang mengendur, baju kusut, belum lagi raut wajah yang jauh dari kata baik.
Hampir setiap menit pria itu mengeram dan menarik rambut peraknya dengan frustasi. Jam tangannya hampir menunjukkan pukul sebelas malam dan langit telah mengirimkan gemuruh rendah sebagai tanda bahwa runtuhan air tak akan lama lagi datang mengguyur bumi, sementara dia belum bisa menemukan Sakura!. Iruka dan dua detective bayarannya pun belum ada yang memberi kabar lebih lanjut.
"Sakura... Sakura... kau di mana Sayang... kau di mana? Maafkan aku... maaf..." lirih pria perak itu entah pada siapa, mungkin pada kekosongan di sekitarnya atau mungkin pada rasa sakit di dadanya, tidak ada yang tahu.
Dia menyesal, sangat menyesali tindakan bodohnya yang terbawa emosi. Demi kami-sama sedikitpun Kakashi tak pernah berniat untuk menyakiti Sakura seujung jaripun. Betapa bodohnya dia yang lepas kendali hanya karena mendengar ucapan pedas dari gadis itu. Seharusnya Kakashi mengingat bahwa setiap ucapan Sakura adalah rasa pahit yang harus diecapnya atas kesalahannya dua belas tahun lalu. BODOH!.
Mulai dari klub malam, atap gedung apartement hingga panti asuhan telah Kakashi datangi untuk mencari gadis itu. Kakashi tak menemukannya, dan bodohnya Kakashi tak tahu siapa teman terdekat Sakura yang mungkin bisa menjadi tempat gadis itu datang... kecuali... kecuali Sasuke...
Yah Sasuke! Bodoh sekali, kenapa Kakashi tidak memikirkan pemuda itu sejak awal?
Dengan membanting stir mobilnya, Kakashi melaju cepat kegedung apartementnya. Dia yakin pemuda Uchiha itu pasti menghuni salah satu apartement di gedung itu mengingat dulu mereka pernah berpas-pasan di lift.
Dengan kecepatan penuh pria perak itu melajukan mobilnya dan berhenti tepat di depan pintu masuk gedung, berlari tergesa ke arah resepsionis dan menanyakan kamar Sasuke dengan cepat. Beruntung Kakashi juga penghuni apartement itu hingga tak ada hal menyulitkan untuk menemukan apartement bernomor-237 itu.
Namun kekecewaan harus dirasakan Kakashi ketika tak menemukan Sakura di sana ataupun sekedar informasi keberadaan Sakura. Hanya respon dingin dari pemuda Uchiha itu yang didapatkannya.
Langkah berat Kakashi beranjak melalui lorong-lorong panjang gedung itu, hatinya semakin tercekik rasa takut. Mengutuki diri sendiri tanpa henti dan terus memohon pada kami-sama agar tidak ada tindakan bodoh yang terlintas di kepala Sakura.
"Hatake-sensei!" sebuah panggilan keras menghentikan langkah Kakashi, pria perak itu berbalik dengan sebuah harapan baru pada si pemilik suara. Uchiha Sasuke.
Wajah itu tetap tampil dingin meski nafasnya terlihat agak terengah. "Kau sudah mencarinya ke atap gedung sekolah?" jeda sejenak. "Dia suka melihat langit gelap di sana."
"Terimakasih, Sasuke!" kata Kakashi cepat dengan senyum tipis dibalik maskernya dan segera berlari menuju lift... setidaknya ada tujuan jelas, setidaknya ada pengharapan di dadanya...
0LhyN0
Gedung yang selalu Kakashi lihat dalam keadaan ramai kini teramat sepi, kelas-kelas gelap dan koridor-koridor berpenerangan seadanya, tempat yang begitu penuh warna berubah menjadi teramat kelam di malam hari. Keceriaan hilang lenyap dari gedng itu digantikan desau angin dan gemuruh rendah langit yang kian mengancam.
Pria berambut perak itu berlari tanpa memperdulikan kakinya yang hampir mati rasa atau peluhnya yang membanjir di mana-mana. Menaiki tangga, menyusuri koridor berbelok dan menaki tangga lagi hingga pria itu tiba di tempat tujuannya... terbeliak!
"Sakura!" pekiknya ngeri melihat posisi gadis itu yang berdiri di atas dinding pembatas yang sangat tipis.
Terdengar kikik dari gadis itu sesaat. "AKH! Akhirnya kau datang juga Kakashi... Aku menunggumu..." gumam gadis itu dengan intonasi yang tak teratur. Mabuk.
"Apa yang kau lakukan di sana Sakura!"
"Akuuuu? Tentu saja untuk mati... terjun bebas... bukankah kau mencintaiku? Aku ingin menghancurkanmu! Aku akan membunuh orang yang paling berati dalam hidupmu Kakashi..."
"Jangan lakukan itu, Sakura... turunlah.. jangan lakukan itu..." mohon Kakashi.
Sakura kembali terkikik, kali ini lebih keras. "Kaauuu..." dia menunjuk Kakashi dengan sebuah botol alkohol di tangannya. "Jangan mendekat!" gertak gadis itu saat Kakashi mengambil langkah. "Kauuu... Kau hanya boleh berdiri di situ dan melihatku jatuh..."
"Tidak Sakura!"
Tertawa keras. "Aku bisa melihatnya... haha... kau ketakutan Kakashi... kau terlihat sangat ketakutan..." oceh Sakura dengan tawanya.
"Dengarkan aku Sakura..." ujar Kakashi lembut dan mengambil selangkah mendekat. "...kau boleh menghukumku.. kau boleh menyiksaku seumur hidup, aku menyesal Sakura... Kau boleh menghancurkan aku... tapi jangan lakukan itu Sakura... aku mohon... Jangan— SAKURA!"
Pria itu begitu terkejut saat melihat gelagat gadis itu yang semakin memiringkan tubuhnya kearah luar bagian dinding pembatas, membuat Kakashi kehilangan akal dan mengikuti jejak gadis itu... melompat begitu saja...
.
.
'Pyarrrr...'
.
.
Sebuah kaca jendela pecah saat menerima hempasan kaki Sakura saat tubuh gadis itu terhentak karena genggaman tangan Kakashi di lengan tangannya.
Sakura menengadah, memandang Kakashi yang kini juga bergelantung di sisi luar dinding gedung itu dengan sebelah tangan menggenggam erat tangannya sementara tangan yang lain bertahan mengait dinding dengan lengannya.
"Genggam tanganku Sakura…" Kakashi kembali memohon.
Sakura menggeleng. "Kenapa kau lakukan ini Kakashi? Ah~ aku tahu, kau tidak ingin aku meninggalkanmu kan? Karena kau yang akan meningalkanku, iyakan?"
"Tidak Sakura, aku tidak akan meninggalkanmu... Aku mohon Sakura raih tanganku." Kakashi terus memohon. Merasakan lengannya mulai kebas dan jari-jarinya mulai mati rasa.
"Itu tidak akan terjadi Kakashi… kau tidak akan meninggalkanku lagi, karena aku akan mati… kali ini kau lah yang harus merasakan sakit itu Kakashi…"
'Pyarr' Sakura membenturkan botol minuman di tangan kanannya pada dinding di depannya hingga pecah.
"Tidak Sakura… Arghh" Kakashi mengerang saat pecahan kaca itu menggores kulit jemari tangannya yang mati-matian mempertahankan Sakura, dia mengerang bukan karena rasa sakit yang ditimbulkan goresan kaca itu, tapi karena genggaman tangannya yang merosot karena pecahan kaca yang menggores punggung tangannya. "Aku mohon Sakura! Sakura! Sakura!raih tanganku!" dia menjerit putus asa saat genggaman tangannya semakin merosot hingga pergalangan tangan, licin karena basah darah yang menetes.
Tetesan darah itu terus mengalir pelan dari tangan Kakashi, lalu turun dan ikut mewarnai tangan pucat Sakura yang memerah karena genggaman Kakashi.
"Sakura," kali ini Kakashi berbisik. "maafkan aku, sepertinya kesalahanku terlalu besar untuk ditebus dalam satu kehidupan, maaf kan aku…" tautan tangan pria itu pada dinding pun semakin merosot. "Berjanjilah kau akan mengijinkanku menembusnya dikehidupan mendatang."
tes.
Air mata Kakashi jatuh ke pipi Sakura. entah perasaan apa yang kemudian menyelimutinya dan mendorong tangan kanannya melepas pecahan botol minuman keras itu dan meraih tangan Kakashi.
0LhyN0
Gerimis mulai turun...
Sakura merasa jantungnya berdebar begitu cepat saat Kakashi memeluknya begitu erat dalam tangis ketika keduanya kembali mendarat di atas atap. Sakura yang merasa asing dengan debaran ini merasa takut, dia pun berusaha melepaskan pelukan itu, mengambil sedikit jarak dan menemukan mata berbeda warna yang seakan menetralisir perasaan takutnya meski tidak menenangkan detak jantungnya, mata itu seakan berusaha menenggelamkannya tanpa memberinya rasa khawatir tenggelam dan mati.
Sakura yakin dia telah kehilangan kendali pada tubuhnya, hangat menyusup perlahan saat mata emeraldnya menatap wajah itu, wajah penuh ketakutan dan kalut yang menggerayangi ekspresi kerasnya dan keringat yang mengalir pelan dari pelipisnya, entah bagaimana justru membuatnya merasa hidup.
Berada di atas Kakashi yang setengah terbaring di lantai atap, Sakura sedikit kerangkak keatas, tangannya terulur perlahan menyentuh masker hitam yang menutupi sebagian wajah di depannya dan menurunkannya, dia menyentuh pipi dan garis rahang pria itu, menghapus jejak air mata yang tersisa di wajahnya.
Semakin tenggalam dalam kilau hitam pekat dan ruby yang menyala, Sakura mendekatkan wajahnya, mengecup perlahan onyx yang dipejamkan oleh pemiliknya, mencium lembut sementara matanya ikut terpejam.
Perutnya bergolak liar, dadanya bergemuruh menghentak-hentak jantung dan seluruh organ dalam lindungan rusuknya itu. Hidungnya mencium aroma maskulin dari keringat yang mengalir dari pria itu, terasa akrab di inderanya.
Gadis itu bisa merasakan jantung Kakashi yang berdetak tak terkendali dari telapak tangannya yang kini bersandar di dada pria itu. Napas Kakashi yang masih terengah, membuat bibir pria itu sedikit terbuka, tak ingin segera lepas dari semua perasaan asing yang menyelimutinya, Sakura perlahan meraih bibir itu, memejamkan matanya dengan canggung dan menyentuhkannya dengan suhu tubuh yang meningkat drastis.
Ini kah cinta?
Hanya kecupan tipis, tak ada lumatan atau pergulatan lidah yang penuh energy. Hanya kecupan tipis namun mampu membuat Sakura kehilangan dirinya sendiri, ah, salah. Kecupan itu membawa Sakura kembali.
Gadis itu menjauhkan bibirnya, seluruh tubuhnya bergetar, dadanya bergemuruh kencang, jantungnya seakan dipaksa memompa keras, lebih keras dan semakin keras. Rasa sakit menyayat dadanya, dia kembali merasa lemah… matanya memanas, pipinya memanas, seluruh tubuhnya memanas, air matanya meleleh perlahan…
"Hari itu aku terbangun…" lirih Sakura pelan, "...tapi semuanya terasa asing bagiku… membuatku merasa takut…"
.
.
...
Gadis kecil berambut pink itu meringkuk di atas ranjang rumah sakit, menekuk kedua lututnya dan menatap penuh ketakutan pada tiga sosok yang berdiri di depannya. Tubuhnya yang pucat tampak gemetar pelan, emeraldnya memandang tanpa fokus.
"Argh!" dia memekik saat seorang pria berpakaian putih-putih hendak menyentuh tangannya, gadis kecil itu bergerak mundur, menghindar.
"Tenanglah Sakura," wanita berambut pirang yang sedari tadi terus memandangnya berbicara dalam nada yang bergetar berat.
Gadis itu mendongak, menatap mata coklat madu yang tampak hangat dalam kemirisan. Sakura menggeleng, entah untuk apa. Bibirnya terbuka, siap bicara… "Si…siapa kau?"
...
.
.
"Aku merasa takut, semuanya terlihat putih dan kosong, atau begitu bising, aku bingung…" Sakura menunduk, menghindar dari onyx dan ruby yang mencoba memasuki dadanya. "Aku tidak ingat apapun, seperti kapal kertas di tengah samudra aku merasa sendirian dan begitu lemah…"
Kakashi memejamkan matanya saat rasa sakit terasa semakin menekan dadanya, dia mengeratkan pelukannya di pinggang gadis itu.
"Dan tiba-tiba semuanya jadi terlihat jelas," Sakura kembali bicara. "...lalu tiba-tiba semuanya kembali menghilang, seperti kakek tua yang tongkat berjalannya tiba-tiba patah, aku jatuh dan kehilangan pegangan…"
.
.
…
Sakura menutup telinganya, berusaha menghalau suara-suara yang membuat dadanya terasa sakit, dia menggeleng kuat-kuat, berusaha menyingkirkan rasa takut yang menyelimuti dirinya. Ruangan itu jadi bising, sementara seorang anak berambut merah menangis tersedu-sedu di pojok ruangan, seorang wanita berambut hitam pendek tampak ngeri memandang gadis pink yang terus menerus mengeleng kuat-kuat, menjambak rambut pinknya sendiri dan menjerit keras penuh ketakutan.
"Sakura…" dia mencoba meraih tangan gadis pink itu, tapi dia menghindar, Sakura bergerak mundur dengan cepat, tatapan emeraldnya memandang liar penuh kengerian. Dan mendadak suasana hening, tak ada lagi jeritan atau tangisan, semuanya membeku dalam tatapan kosong gadis kecil itu.
"Diam…" bisik Sakura lirih, terlalu lirih untuk didengar telinga siapapun dalam hiruk-pikuk ruangan itu. "Diam."
"Saku—"
"DIAM!" dia menjerit….
"Saku—"
"ARGHHHHH!DIAMMM!AAAAAAA!"
...
.
.
...
"Semuanya terlihat buram, mereka membawaku, mengikatku, aku menjerit, aku semakin takut dan terus menjerit, lalu mereka menusukkan sesuatu di tanganku, obat penenang, mereka menyuntikkan itu padaku, saat aku terbangun aku kembali merasa takut lalu menjerit dan mereka kembali menyuntikku. Begitu seterusnya."
Sakura mendongak, memandang dua iris berbeda warna yang terpejam, perlahan tangannya terulur dan menyentuh garis rahang tegas sempurna dalam balutan kulit putih bersih tanpa cela.
"Aku gila, benar-benar gila hingga mereka menempatkanku dalam salah satu kamar di rumah sakit jiwa. Karena aku kehilanganmu, Kakashi," cairan bening kembali meleleh dari emerald itu. "Aku takut akan banyak hal, aku takut pada terang yang membuat gelap terlihat buruk, aku takut pada kebahagiaan yang membuat penderitaan terasa menyakitkan, aku memilih membaur dalam gelap dan berteman rasa sakit untuk menghilangkan ketakutanku, tapi aku tetap takut… aku takut pada apapun yang berhubungan denganmu, aku benci pada apapun yang mengingatkanku padamu, aku benci hujan, aku benci taman, aku benci mawar ungu, aku benci rambut pinkku, aku benci rasa nyaman, aku benci rasa tenang, aku benci cinta, aku benci Sakura, aku benci semuanya!" terisak, air mata dari emerald itu begitu deras, tubuh mungil itu gemetar, wajah itu memerah.
Dua iris berbeda warna itu pun turut meneteskan air matanya, meleleh perlahan, perih yang menggenggam dadanya terasa terlalu berat, sakitnya terlalu menyiksa, tapi dia bertahan karena dia tahu bahwa apa yang dirasakannya kini bukanlah apa-apa bila dibandingkan apa yang dirasakan gadis pinknya. Kakashi mendekap erat tubuh Sakura, menyandarkan kepala pink gadis itu di dadanya, tepat di mana hatinya berada.
"Menangislah," gumam Kakashi parau. "Bereteriaklah Sakura, akan ku dengarkan setiap teriakanmu, menagislah Sakura… agar aku bisa meredakan tangismu, jangan berpura-pura kuat, karena kalau kau berpura-pura kuat, aku akan merasa tidak berguna. Menangislah Sakuraku, menangislah…"
Air mata, mengalir perlahan dari keduanya. Sakura terisak keras sementara Kakashi menangis dalam diam, merasakan kelegaan yang masuk seiring dengan menetesnya air mata. Sakura tahu, dia boleh lemah, dia boleh takut, dia boleh menangis, karena saat dia lemah Kakashi akan menguatkannya, saat dia takut Kakashi akan menemaninya dan mengusir rasa takutnya, dan saat dia menangis Kakashi juga akan meredakan tangisnya.
"Jangan pergi lagi..."
"Tidak akan."
"…karena kalau kau pergi—"
"Aku tidak akan pergi."
"…mungkin selanjutkan aku akan—"
"Aku tidak akan meninggalkanmu—"
"…mati."
"…lagi."
0TBC0
HUAAAA keknya ini chaps paling HURT di fic ini deh... bener g? ato malah jadi nyinet?#guling2dipasirgaara
OMIGOT! Ide ini muncul tanpa tau sikon, Lhyn agi mau pipis pas bangun tengah malem... ide mendadak dateng jadinya Lhyn bela-belain ngetik ampe pagi dan gag tidur lagi... takut2 malah ilang lagi ni ide...
Makasih banyak buat kalian yang masih setia menunggu...
EvilKyu Cassielf, Mei Anna AiHina, Rizu Hatake – Hime, Haza ShiRaifu, ILA, Sichi, Nay Hatake, Violet7Orange, FYLIN-chan, Putri Luna, Hatake Satoshi.
Next itu Last Chaps Lho ya... tinggal nyelesein masalah ama Inoichi dan rahasia siapa bapaknya Sakura.. ayo ada yang bisa nebak ga bapaknya Saku itu sapa? Tapi tetep ga bisa janji apdet cepet, ide munculnya selalu tak terduga.
Rifyu ditunggu!
