Beles Ripyu dulu nyak... :
Haza ShiRaifu : Yap apdet! Makashi dah rifyu... rifyu lagi ya...
EvilKyu Cassielf : Di Usahain sweet ending... tapi maapkan author kalo gagal mensweetkannya ya... haha... masalalunya sakura emang Lhyn buat sekelam mungkin biar bisa mengimbangi sikap sakura yang Dark sebagai sebabnya. Makasih dah rifyu.. rifyunya di tunggu lagi...
Mei Anna AiHina : Makasih atas rifyunya... Hurt ya... emang udah di porsinya Hurs sih... rifyu lagi ya Mei-san...
Violet7Orange : Sakit perut? Di warning Lhyn ngasih "sedia obat sakit perut" ga yah? Nyaahaa... bukan-bukan Inoichi papanya Saku... seseorang yang tak terduga... Nyaa bukan Sakumo juga *Bunga : aku ga nebak sakumo..* Makasih dah rifyu... rifyu lagi ya...
ILA : Happy ending...:D liat aja happy-happynya saku dibawah... hehe... bukan Sakumo kok... bisa panjang kalo papanya Sakumo... makasih dah rifyu ILA-san... rifyu lagi jangan lupa... '.
FYLIN-chan : tangannya Kaka ga papa kok... pan ada sakura (si ninja medis konoha) adegan tu di ulang ribuan kali juga ga masalah #disamber chidori. Makasih dah rifyu ya... rifyu lagi ya...
Rizu Hatake-hime : Iya Rizu... aku kerja keras *lap keringet* happy ending kok.. haha.. Saskey pan kemaren kluar bentar... nongolin rambut ayamnya gitu #kesamber chidori lagi. Saskey kluar lagi kok disini... makasih dah rifyu ya Rizu... rifyu lagi dong...
Nay Hatake : Nyah,, kenapa di kau jadi manggil daku Senpai lagi? #gelundungan. Iya donk... pasangan sejati harus berbagi... #toel kakasaku. Waa... banyak yang penasaran papanya saku ya... Wiena baca aja yah... tar tauk kok #dibakar. Makasih dah rifyu... rifyu lagi ya dek...
Putri Luna : Hai Luna... haha... salahkan Rizu kalo kecepetan alurnya... bukan anaknya kakaknya Ino.. tapi sodara kembarnya bapaknya Ino.. wkwk... Lhyn seenak jidat ngarang tokoh, mana namanya ga mau mikir dan ambil nama Ino pula...#ditimpuk. Makasih dah rifyu Luna... rifyu lagi ya...
Tiba tiba datang : Nyaa... maaf ga kilat... posnya tutup *halah* makasih dah rifyu... datang lagi ya...
Kyu's Neli-chan : hehe.. sekarang idenya muncul pas lagi nonton hitam-putih * gatanya* owh.. adegan masalalu itu ya... aku selip-selipin.. singkat-singkatin jadinya emang agak kurang jelas ya.. Lhyn sendiri juga bingung pas baca ulangnya. Sebenernya yang itu di sesuain ama info dari Karin dan Tsunade waktu Kakashi ngintrogasi mereka... wkwkw... maap kalo ga jelas... makasih udah rifyu... rifyu lagi Lhyn tunggu ya..
Phouthrye Mitarashi 15 :Okhe lanjut! Ini chap terakhirnya... Makasih dah Fav... makasih udah rifyu... Rifyu lagi jangan lupa...
Awan Hitam : Hwaa... KakaIno... GA RELA! Wkwk... lagian pan Ino udah ama Shika di Fic ini K... jangan2 K awan bukan ngarepin Slightnya tapi ngarepin 'Itu'nya ya? #digeploksendal# Iya Lhyn berusaha terus apdet kok... K Awan juga donk... Berusaha Apdet ya K... *blink2* Makasihd ah rifyu K... seneng banget deh K Awan Rifyu...
.
.
Warning : AU, TYPO, OOC, gaje, aneh, parah, ngaco, dll yang bikin Fic ini terlalu jauh dari kata sempurna... jadi rifyu, saran, kritik, dukungan dan sesuatu yang bisa membuat Lhyn melangkah maju Lhyn terima dengan senang hati. Flame juga boleh...
Naruto ® MK
Love Hater ® LH
Terbangun dari mimpinya, gadis berambut pink itu mengerjap dan mengucek matanya pelan. Sakura berpaling kearah jendela bertirai transparan hingga menampilkan langit fajar yang bersinar keunguan. Melihat langit pagi yang hampir tiba gadis itu bangkit perlahan, dia tak ingin mengganggu sosok yang tidur disampingnya. Pria berambut perak yang tersenyum dalam tidurnya. Sesaat wajah polos itu mengundang perhatian Sakura, namun dengan cepat gadis itu menolak karena sejujurnya dia masih merasa canggung dengan dirinya yang saat ini.
Dia tak tahu, keinginan macam apa yang berani membuatnya mengendap-endap masuk kedalam kamar Kakashi ditengah malam dan menyusupkan tubuhnya dibalik selimut yang sama dengan selimut yang tengah membungkus tubuh jangkung itu. Dia yakin kalau seharusnya dia merasa terganggu saat Kakashi melingkarkan lengan di pinggangnya dan menarik gadis itu mendekat. Tapi, keyakinan itu tidak didukung oleh kenyataan yang justru memunculkan rasa nyaman hingga dia pun menyusup lebih dalam.
Sakura memijakkan kaki polosnya dilantai balkon yang terasa dingin. Angin di ketinggian apartement itu bertiup kencang menerbangkan helai pinknya. Sakura berdiri di sisi balkon yang menghadap timur, menatap matahari yang belum muncul dan hanya menampilkan bias lembutnya. Pagi yang dingin dibulan November meski langit terlihat cerah, seharusnya tak lama lagi salju akan turun.
"Jangan lupakan mantel tebal kalau kau ingin melihat sunrise di cuaca seperti ini, Sakura."
Suara bariton terdengar bersamaan dengan tersampirnya sebuah selimut tebal di pundak Sakura dan sebuah lengan melingkar di pinggangnya.
Sejujurnya, Sakura merasa canggung. Namun dipaksakan sebuah senyum terukir di bibirnya. "Terima kasih Kakashi," gumamnya.
Kakashi tak menjawab, hanya saja Sakura merasakan tubuh pria itu yang merapat di belakangnya dan –rasanya seperti– sebuah dagu yang menyentuh puncak kepalanya. Sebuah dorongan kecil dihatinya membuat Sakura dengan gugup menggerakkan tangannya memeluk tangan Kakashi di perutnya dan menyusupkan jari-jemarinya.
...Kakashi menyambut tangan Sakura dengan hangat.
"Kakashi...," panggil Sakura pelan.
"Hem?"
"Apa... selama ini aku begitu jahat?"
"Kau hanya tersesat dan sekarang aku yang akan menuntunmu agar kau tidak tersesat lagi."
"Kakashi aku—" Sakura merasakan tenggorokannya tercekat, ada begitu banyak hal buruk yang telah dilakukannya selama ini. Begitu banyak orang-orang yang telah dibuatnya menderita.
Dia jadi merasa bodoh sekarang. Seharusnya semua hal itu tak perlu terjadi, seharusnya dia lebih bisa menguatkan hatinya dan percaya pada Kakashi bahwa pria itu tidak akan pernah benar-benar meninggalkannya, seharusnya dia percaya Kakashi akan kembali padanya dan menunggu dengan senyum di bibirnya.
Terlintas dibenaknya raut kekecewaan dari orang-orang disekitarnya, wajah ketakutan orang-orang yang dikasarinya. Sakura merasakan dadanya jadi sesak memikirkan itu dan cairan hangat itu pun meleleh perlahan di atas pipinya. Kepala pinknya menunduk, betapa dia telah menjadi gadis buruk selama ini, dia menyusahkan semua orang hanya untuk menutupi kelemahannya, berpura-pura kuat dan berkutat dengan kesepiannya, tak mengijinkan seorangpun menyentuh hatinya. Lagi.
"Sssttt... jangan menangis Sayang... kita akan memperbaiki semuanya, kita akan memulai lagi semuanya dari awal, jangan menangis Sakura..." ujar Kakashi lembut, dengan perlahan pria itu mengusap tetes bening itu.
Tak ada kata, hanya anggukan singkat yang diberikan Sakura untuk menjawab kalimat itu. Dalam benaknya, masih tergambar banyaknya hal-hal buruk yang dilakukannya dulu. Menyesal memang selalu datang terlambat dan itulah yang tengah Sakura rasakan sekarang.
Kakashi berusaha menguatkan gadis itu dengan mengusap pundaknya pelan, membiarkan gadis itu menangis dalam diam hingga puas.
Cahaya mentari yang merayap perlahan, sedikit membuat perasaan Sakura membaik dengan keagungannya. Gadis itu kembali menunduk setelah sesaat menatap matahari yang hampir penuh menampakkan wujudnya diufuk sana. Menyesal takkan ada artinya bila tidak ada usaha untuk memperbaiki, Kakashi benar, mereka harus memperbaikinya dan memulainya dari awal.
Berbekal semangat itu Sakura berbalik menatap Kakashi dan memberikan senyumnya, gadis pink itu juga mengeratkan genggamannya ditangan Kakashi.
"Terimakasih, Kakashi."
Kakashi mengangguk pelan dan tersenyum tipis, sebelah tangannya meraih pucuk kepala Sakura dan mengusapnya penuh sayang.
"Aku juga harus berterimakasih padamu, Sakura," ujarnya pelan dan lembut, pria itu mengusap pipi Sakura sesaat sebelum membungkuk rendah dan mengarahkan rahang itu agar dia mudah menjangkau bibir tipis itu.
Satu kecupan manis Kakashi dapatkan dari Sakura saat gadis itu menyambutnya. Ciuman pagi yang hangat, menyambut mentari dengan guratan kasih yang akan terukir perlahan. Kakashi memeluk tubuh gadis itu seusai mengakhiri persembahan manis itu.
"Ngomong-ngomong, apa hari ini kau ada acara?" tanya Kakashi pelan.
Dalam pelukan Kakashi, Sakura memutar tubuhnya hingga kembali menatap matahari dan membiarkah Kakashi memeluk punggungnya. "Selain sekolah, kurasa tidak ada," jawab Sakura. "Kenapa?"
"Kalau kau tidak keberatan, aku ingin mengajakmu menjenguk pamanmu."
"Pamanku?"
"Inoichi, ayah Ino... mungkin pagi ini operasinya selesai."
Sakura menengadah menatap pria berambut perak itu dengan mata membulat tak percaya. "Kakashi... kau..."
"Aku menghubungi pihak rumah sakit dan juga Akimichi Chouza, keduanya setuju agar operasi diadakan secepatnya dan mungkin pagi ini selesai. Maaf aku tidak mengatakannya padamu lebih dulu, kau tidak keberatankan?"
Sakura menunduk, tak tahu datang dari mana perasaan lega yang kini memenuhi dadanya. Dalam diam gadis itu mengangguk dan kembali menitikkan air matanya. "Kita... kesana sepulang sekolah," ujarnya dengan suara parau.
0LhyN0
Sakura tahu bahwa dirinya memiliki kemampuan alami untuk menjadi pusat perhatian. Dari dulu dia tak pernah keberatan bahkan tak pernah mempedulikan sedikitpun mata-mata yang menatapnya, menjadikan dirinya sebagai pusat pandangan dari puluhan iris berbeda warna itu. Namun kali ini rassanya berbeda, ada perasaan yang menggelitik dadanya mendapati pandangan takjub penuh pertanyaan itu. Tak ada yang bisa Sakura lakukan selain memberikan senyum tipisnya sepanjang koridor yang dilaluinya menuju kelas.
Pagi ini, Iruka adalah orang pertama yang harus tergagap melihat perubahan pada diri Sakura. Sakura sendiri tak mengerti perubahan apa yang dimaksud karena setahunya dia telah mengembalikan warna asli rambutnya sejak dia memutuskan menerima Kakashi sebagai kekasihnya.
"Kau seperti malaikat yang membuka wujud aslimu setelah selama ini menyembunyikannya dibalik topeng."
Kata Iruka saat itu dan Sakura hanya tersenyum tipis menanggapinya. Mungkin benar bahwa selama ini Sakura mengenakan topeng, tapi topeng yang menyembunyikan kelemahannya sebagai manusia rapuh bukan topeng yang menutupi kesempurnaannya karena dia bukan malaikat.
Sabuah kehangatan menjalar di dada Sakura setiap kali dia mengingat genggaman tangan pria perak di tangannya, senyum tulus yang seakan hanya tertuju pada Sakura dan sebuah keyakinan yang tiba-tiba muncul... keyakinan untuk mengisi jeda kosong yang begitu panjang selama pria perak itu pergi.
"Sakura?"
Sebuah seruan serak menyadarkan Sakura dari lamunannya, tanpa disadari gadis itu telah melangkah masuk kedalam kelasnya. Puluhan pasang mata menatapnya penuh tanya, namun diantara semua pasang mata itu mata berisis coklat gelap dibalik bingkai kacalah yang berhasil menyita perhatiannya. Gadis berambut merah yang telah melafalkan namanya.
Gadis itu berdiri dari bangkunya, menatap Sakura dengan pandangan yang tak terjelaskan. Sakura mengenal gadis itu, mengingatnya sebagai gadis yang begitu sering mengejeknya, menjahilinya dan tak jarang membawa tangis untuk Sakura kecil. Karin, gadis yang kerap kali mengejeknya dengan sebutan gadis aneh. Aneh lantaran warna rambutnya yang tak lazim, aneh lantaran kebiasaan Sakura yang suka menyendiri di bawah pohon maple di halaman panti asuhan.
Sakura diam ditempatnya. Dia bingung dengan situasinya sekarang, ada sedikit gelenyar takut dihatinya, tapi entah takut pada apa? Takut gadis itu akan mengejeknya lagi? Rasanya tidak, lalu apa?
Sebelum Sakura sempat memikirkan alasannya lebih lanjut, sesuatu atau seseorang telah menubruk diriya, membuatnya mundur selangkah. Karin... gadis itu yang menerjang tubuhnya... untuk memeluknya... dan terisak? Menangis?
"SAKURAAAA...," Karin tersedu dan mengisak keras sementara gadis pink itu hanya bisa membatu.
"Ka-Karin..." Sakura mencoba melepaskan pelukan gadis itu, tapi hanya sesaat pelukan itu terlepas karena sedetik setelahnya gadis itu kembali memeluknya.
"Aku merindukanmu... hiks... aku senang sekali akhirnya Kakashi bisa membuatmu kembali... hiks... aku selalu merasa takut... aku takut kau tidak akan pernah kembali... hiks...aku takut aku tidak bisa minta maaf padamuuuu... hiks... hiks..."
Sakura tertegun. Ada orang lain yang merindukannya selain Kakashi... ada orang lain yang merindukannya... ada orang lain yang menginginkannya kembali... menjadi Sakura yang dulu...
"Karin...," dengan gerak perlahan gadis pink itu membalas pelukannya.
"Haruno... Sakura?" satu panggilan pelan, datar dan agak terkesan dingin membuat kedua gadis itu saling melepaskan pelukannya.
Sakura menatap pemuda Uchiha di depannya, gadis itu tersenyum gugup. "Sasuke," sapa Sakura pelan.
"Teman-teman... aku pernah mengatakan tentang Haruno Sakura yang sebenarnyakan? A-aku... aku senang sekali hari ini aku bisa melihat teman masa kecilku lagi..." Karin kembali terisak dan memeluk Sakura lagi.
Sakura tersenyum tipis pada teman-temannya yang lain, perasaan gugup menghinggapinya, apalagi menyadari tatapan onyx yang tak lepas darinya.
"Teman-teman...," Sakura mengambil tempat di depan kelas setelah Karin melepaskan pelukkannya untuk kesekian kalinya, "...sepertinya ini waktu yang tepat untukku meminta maaf atas semua yang pernah aku lakukan, kekacauan dan hal-hal buruk yang mengganggu ketenangan kalian selama ini... aku benar-benar minta maaf," ucap Sakura sungguh-sungguh. Gadis pink itu pun membungkuk rendah.
Suasana kelas menjadi hening, seluruh pasang mata masih terus menatapnya dengan tatapan penuh tanya. Sakura mulai merasakan adanya perasaan cemas bahwa mungkin dirinya yang aneh ini tidak akan diterima diantara mereka hingga...
Plok... plok..plok...
Suara tepuk tangan menggema memecah keheningan. Sakura memandang Sasuke –si pemberi tepuk tangan– dengan pandangan bingung.
"Selamat datang, Sakura," ucapnya dengan nada tenang.
Dalam sekejap saja kecemasan Sakura menghilang seiring dengan hadirnya riuh tepuk tangan dari anak-anak lainnya. Gadis itu tersenyum tipis dengan butir bening yang mengalir pelan dari sudut matanya. Seperti inikah rasanya penerimaan?sangat menyenangkan.. membuat dadamu sesak dengan letupan kegembiraan?
0LhyN0
"Tak perlu cemas," ujar Kakashi sembari mengusap pundak Sakura pelan, "masuklah."
Seperti rencana pagi tadi, keduanya datang kerumah sakit untuk menjenguk Inoichi. Sepulang sekolah, Kakashi langsung menghampirinya kekelas dan segera saja membawa gadis itu menuju mobilnya.
Sakura menatap iris berbeda warna itu dan mendapatkan sebuah keyakinan yang terbaca jelas disana. Gadis pink itu mengangguk dan mulai memutar kenop pintu itu...
"Kakashi-san... Ha-haruno-san..." seorang gadis berambut pirang menyambut mereka dengan gugup dan membungkuk rendah.
Sakura diam diambang pintu... tiba-tiba saja kepalanya terasa sakit saat memasuki ruang serba putih itu. Sekelebat tentang kenangan itu muncul, sebuah kenangan tentang kesakitannya, kesepiannya, saat obat-obatan menjadi penawarnya.
"Argh!"
"Sakura!"
Napas gadis pink tersengal, terputus-putus dan terdengar berat. Emeraldnya hilang fokus dengan rasa sakit yang menekan kepalanya yang semakin berat. Gadis itu kembali mengerang dan jatuh tertunduk di lantai.
"Sakura.. Sakura kau kenapa, Sakura!" Kakashi cemas, dicoba digenggamnya tangan kecil Sakura yang meremas rambut pinknya. "Sakura..."
"Aku takut..." bisik gadis itu lemah.
Kakashi mengerjap bingung, dengan lembut di peluknya tubuh kecil yang menggigil itu. "Tak perlu takut Sakura... tak perlu takut..."
"Aku takut Kakashi, aku takut... mereka akan datang lagi dan datang lagi... mereka... mereka..."
"Sttt... Tak perlu takut... ada aku, kau tak perlu takut lagi Sakura..."
Tubuh gadis itu semakin bergetar dan mengigil, membuat Kakashi semakin cemas dan semakin mengeratkan pelukannya. Namun saat berikutnya dia merasakan tubuh itu melemas, terlalu lemas...
"Sakura... Sakura..."
Sakura diam... gadis itu telah terbawa dari arus kesadarannya.
"Kakashi-san... sebaiknya rebahkan dia di sofa... sepertinya dia memiliki phobia pada sesuatu di ruangan ini," Ino bergerak membantu Kakashi meraih kepala pink Sakura hingga Kakashi lebih mudah menggendongnya dan merebahkannya di atas sofa.
"Apa perlu kupanggilkan suster?" tanya Ino lagi.
Kakashi diam dan berpikir sesaat sebelum mengambil keputusan. "Tidak perlu, sepertinya kau benar... ada sesuatu di ruangan ini yang membuatnya takut," Kakashi mengingat ekspresi Sakura beberapa saat yang lalu. Pria perak itu memilih meraih ponselnya dan menekan sebuah dial number.
"Hallo, bunda Tsunade..."
0LhyN0
Emarald itu terbuka perlahan, mengerjap pelan dan terbuka penuh. Bergerak pelan menyusuri setiap bagian ruangan itu. Sang pemilik tahu dia dimana sekarang, gadis pink itu hanya menghela napas lega lalu menundukkan kepalanya. Sekelumit perasaan aneh mengendap di dadanya, dia bingung dengan apa yang baru saja di alaminya, rasa takut yang tiba-tiba datang dengan rasa sakit yang menyerang kepalanya.
"Kau baik-baik saja?"
Pertanyaan itu memutus lamunan Sakura. Gadis pink itu mencari sumber suara dan menemukan pria berambut perak yang datang dengan membawa sebuah nampan. Sakura tersenyum tipis dan menggeleng. Sejujurnya dia sendiri tidak yakin, dia tidak ingin merasa takut namun juga tak mau terjebak dalam ketakutan lagi.
Kakashi duduk di samping tempat tidur Sakura, membantu Sakura bangkit dan duduk bersandar di kepala tempat tidur. "Minumlah.."
"Kenapa kau membawaku ke panti?" tanya Sakura sembari menerima cangkir yang diangsurkan Kakashi.
"Aku pikir bunda Tsunade adalah satu-satunya yang bisa membantuku, bagaimanapun dialah yang paling memahamimu dan terus menjagamu selama ini."
Sakura menunduk dan diam, emeraldnya menatap gelombang kecil air teh di cangkirnya. Dia mengangkatnya dan menyesapnya pelan.
"Kenapa kau tidak mengatakannya? Seharusnya kau mengatakan hal itu padaku dan aku tidak akan mengajakmu menjenguk Inoichi-san."
"Aku lupa..." gumam Sakura pelan, dia meletakkan cangkirnya dan mendongak menatap wajah beraut cemas itu. "Aku lupa kalau aku phobia pada ruang rumah sakit, sudah kukatakan ada banyak hal yang membuatku takut dan aku tak bisa mengingat semuanya."
Sakura melihat ada getar kecil di mata itu, entah untuk alasan apa dia tersenyum tipis dan meraih tangan besar Kakashi yang teranggur di sisi tubuhnya. "Aku berjanji akan menghadapi ketakutanku asalkan kau juga berjanji akan terus menemaniku," ujar Sakura pelan, emeraldnya menatap lembut iris berbeda warna itu.
Berangsur iris itu mulai memancarkan ketenangan, raut wajahnya pun melembut, Kakashi tersenyum tipis dibalik maskernya hingga akhirnya dia menarik tubuh itu kedalam dekapannya.
"Ehem... boleh aku menginterupsi sebentar?"
Kakashi melepaskan pelukannya dan tersenyum canggung pada wanita pirang yang masih berdiri di ambang pintu.
"Senang kau kembali... Sakura," iris madu itu menatap lembut pada Sakura seperti biasanya. Sakura tersenyum tipis dan menunduk. Ada makna ganda dalam ucapan wanita itu, tapi seperti apapun maknanya itu tetap membuat Sakura merasa lebih ringan.
Sakura bangkit saat wanita itu berjalan mendekat kearahnya. Wajah lembut itu mengingatkannya pada setiap raut kesedihan yang dulu selalu di pasangnya saat menghadapi Sakura. Dari sekian banyak hal, hanya sosok itu yang terus diingat Sakura. Setiap kesabaran yang dimiliki untuk menghadapi Sakura, kebesaran hati untuk tetap menerima Sakura.
Tsunade adalah satu-satunya sosok yang masih bertahan membimbing Sakura meski sekeras apapun gadis itu memberontak. Tetap memberikan Sakura ruang untuk kembali saat gadis itu tak punya tujuan lagi. Menyediakan selimut hangat saat Sakura pulang dalam kedinginan, yang tetap merawat Sakura saat sakit tanpa mempedulikan betapa menyebalkannya Sakura ketika sehat. Sosok ibu yang selalu mendukung dibelakang, membimbing dengan tangan yang tak terlihat..
Setetes bulir bening jatuh dan di ikuti bulir lainnya. Sakura bergerak maju dan menyambut wanita itu, wanita yang merantangkan tangan lebar-lebar dan menerima Sakura dalam dekapan hangatnya tanpa mengingat kekecewaan yang kerap kali di hasilkan gadis itu.
"Maafkan aku bunda... maafkan aku..." gadis itu terisak dan mengencangkan lingkar lengannya di punggung wanita itu.
"Tentu saja anak bodoh," suara wanita itu terdengar serak.
Sakura terisak semakin kencang, gadis itu tahu... bahwa sampai matipun dia tak akan pernah bisa membalas semua yang wanita itu berikan padanya. Dan tiba-tiba saja Sakura merasa telah begitu bodoh menyia-nyiakan kasih sayang wanita itu selama ini. kasih yang begitu hangat di dadanya.
Dan malam itu Sakura dan Kakashi bergabung di meja makan panti asuhan itu bersama puluhan anak-anak lainnya. Sakura terkejut semua anak mengenalnya karena selain Moegi dan Udon tidak ada lagi anak panti yang dia kenal. Dulu, bagi Sakura makan bersama adalah sebuah moment yang paling menyebalkan baginya, saat-saat dimana dia harus merasa terbuang dan tak ada. Tak ada satupun yang memperhatikan kehadirannya, tak ada satu pun yang menganggap dia ada... hingga dia memilih untuk datang kemeja makan satu jam setelah yang lain selesai, memakan makanannya sendirian... atau setidaknya... ditemani sepi.
Kini Sakura jadi merasa kikuk saat mata-mata cerah itu memandangnya. Dia tersenyum tipis dan memulai acara makan bersama itu bersamaan dengan dimulainya niatan untuk menghapal nama-nama anak panti satu persatu.
.
.
Dua minggu kemudian Sakura mendengar dari Kakashi bahwa Inoichi telah tersadar untuk pertama kalinya pasca operasi itu. Sakura tak pernah datang kerumah sakit lagi dan meninggalkan Kakashi untuk melakukan hal itu sendirian. Bukan Sakura tak mau tapi Kakashi yang melarangnya. Meski begitu dia beberapa kali menemui Ino di toko bunga Yamanaka dan mengobrol sedikit dengan gadis pirang itu, walau pun diawali dengan buruk namun keduanya bisa menjalin hubungan baik sekarang.
Toko bunga milik Sakura sendiri telah dia serahkan kepengurusannya pada anak-anak di panti, tentu saja setelah menaikkan standar harga yang sesuai dan anak-anak panti mendapat pelatihan khusus untuk merangkai bunga dari Ino.
"Dokter bilang Inoichi-san bisa pulang dua hari lagi kalau kemajuannya sebagus ini," ujar Kakashi saat keduanya duduk di teras sebuah kedai es krim.
"Apa tidak apa-apa kalau aku menjenguknya setelah dia pulang?"
"Sudah ku bilangkan, dia sangat senang mendengar kabar tentangmu... bahkan dia selalu menanyakanmu setiap kali aku datang," ujar Kakashi, dengan tangan yang mengusap puncak kepala Sakura pelan.
"Jangan mengacak rambutku di muka umum..,"gerutu Sakura dengan menepis tangan Kakashi pelan lalu tertawa pelan.
Sore itu Kakashi akan mengantar Sakura untuk menemui teman-teman Akatsukinya. Kakashi sangat terkejut ketika pertama kali Sakura menceritakan seperti apa mereka, namun seminggu yang lalu -dikunjungan pertamanya- kakashi telah merasa yakin bahwa mereka tidak terlalu buruk untuk berteman.
Karena sebenarnya memang tak ada buruknya berteman dengan mereka.
.
.
Dua hari berlalu terlalu cepat, sepertinya. Baru kemarin Kakashi memberi tahukannya bahwa Inoichi akan segera pulang dan tiba-tiba saja dia telah berdiri di sini, di depan pintu rumah Yamanaka.
Ada rasa ragu saat gadis pirang menyambutnya dan memintanya masuk. Dia melangkah pelan kedalam ruangan berlantai kayu itu, dadanya berdebar. Ino membawanya kesebuah ruangan dengan suhu hangat dan aroma kayu bakar yang sedikit menangkan.
Sakura berhenti di depan pintu, dia rasa... ruangan di depannya adalah ruangan dimana orang itu tengah menunggunya.
"Otousan... aku membawa seseorang yang ingin menemuimu," Sakura bisa mendengar suara Ino dari dalam.
"Siapa Ino-chan? Apa dia..." suara berat seorang pria terpotong mendadak. ".. Oh, kami-sama... benarkah..." suara yang sama melanjutkan.
"Masuklah Sakura..."
Sakura diam. Dadanya masih berdebar tak menentu... dia akan bertemu pamannya... paman yang membuangnya, orang pertama yang tidak menginginkan kehadirannya, meski dia telah memaafkan hal-hal itu tak urung ada rasa takut di dadanya. Dia takut terhadap penolakan yang mungkin akan diterimanya.
"Masuklah," kali ini suara bariton pria di sampingnya yang berbisik lembut.
Sakura menengadah dan menatap onyx itu. Kakashi menatapnya lembut dan mengangguk pelan.
Sakura mengambil langkah pertamanya masuk kedalam ruangan itu. Disana... disebrang ruangan pria tua itu duduk bersandar pada dinding dengan beralas futon dan berselimut tebal.
"OH!" pekik pria itu.
Emerald Sakura mengamati seorang pria paruh baya bergestur tegas dengan rambut pirang yang terkuncir kuda sama seperti Ino. Raut wajahnya tegas meski tak menyingkirkan kelembutan di tatapan iris aquanya.
"Kau..." pria itu berujar dan terpotong, agaknya masih belum bisa menguasai dirinya.
Sama seperti Sakura yang kini merasa gundah. Gadis pink itu menunduk menatap lantai kayu.
"Kau ingat paman penjual bunga yang menatakan bahwa kau cantik dan aku beruntung punya pacar sepertimu Sakura?"
Sakura menengadah dan menatap Kakashi yang kini telah berdiri disisinya lagi. "Inoichi-san adalah orangnya..."
Sakura mengalihkan pandangannya dari Kakashi ke Inoichi... dan pria paruh baya itu mengangguk. "Kemarilah nak..." pria itu berujar parau dengan kedua tangan yang terentang meminta Sakura untuk datang ke dekapannya. "Biarkan aku memelukmu dan meminta maaf atas kesalahanku padamu..."
Sakura tertegun saat menyadari ada bulir bening yang turun menuruni pipi berahang tegas itu. Sakura kembali melangkah, perlahan mendekat hingga akhirnya dia tiba dihadapan pria itu dan berlutut untuk menyamakan tingginya...
"Inoichi... Ji-san..."
Pria itu meraup tubuh Sakura segera dan mendekapnya erat...
Ada kelegaan... Sakura tahu... dia telah diterima di keluarganya. Dia punya keluarga sekarang... Oh Kami... betapa bahagianya gadis itu... dia punya keluarga sekarang... keluarga yang memiliki aliran darah yang sama... dia punya...
"Aku punya keluarga sekarang...," ujar Sakura lirih dengan tangan yang semakin erat berpegang pada rubuh tua itu.
"Ya.. Nak, kami keluargamu, kau memiliki kami."
"Aku... seorang Yamanaka..." bisik Sakura lagi... setetes air mata turun menandai betapa leganya dia, dia memiliki orang lain dengan nama keluarga yang sama sekarang.
"Sakura..." Sakura mengusap air matanya saat merasakan rengkuhan pamannya melonggar. "Mungkin ini saatnya kau perlu tahu tentang... Ayahmu..."
Emerald Sakura membulat... ayahnya... apakah yang di maksud ayah kandungnya? "Nama keluargamu bukan Yamanaka Nak...," Sakura merasakan usapan lembut di pipinya. "Kau... seorang Sabaku."
"S-Sabaku?" Sakura mengulang nama itu.
"Walikota Suna, meninggal tujuh tahun yang lalu... Orang tuamu saling mencintai.."
"Benarkah?"
"Hanya saja... ayahmu harus menutup skandalnya karena dia telah beristri dan memiliki tiga orang anak..."
"Benarkah?"
Tak ada kata lain yang mampu terucap dari bibir tipis itu, Sakura hanya mampu mendengarkan dengan perasaan yang begitu rumit. Antara terus maju dan mendengarkan... atau menolak dan mundur...
Inoichi menceritakan semuanya... kisah awal pertemuan kedua orang tuanya hingga saat-saat berat mereka. Setidaknya mereka saling mencintai, setidaknya Ayahnya pernah berusaha mencarinya, setidaknya pamannya menyesali tindakannya dan dia tidak benar-benar tidak di inginkan.
Gadis pink itu tersenyum lega.
0LhyN0
"Umm... Bunda... Umm... Mama... Kaasan... oh, aku harus memanggilmu apa?" ujar Sakura kebingungan saat dia duduk bersimpuh di depan pualam berukir nama ibunya.
"Aku menemukanmu..." gadis itu tersenyum tipis, "maaf baru bisa datang menemuimu, ada banyak hal harus ku lalui sebelum aku bisa berada disini, maafkan aku karena telah menjadi putri yang buruk untukmu selama ini," ujarnya pahit, semerta-merta dia merasakan adanya usapan halus di bahunya.
"Apa selama ini kau melihatku? Aku... Haha... aku bingung apa yang harus kukatakan padamu... aku gugup sejujurnya." Sakura tertawa pelan. "Ah! Bagaimana kalau kuperkenalkan seseorang yang sangat berarti untukku?" Sakura menarik tangan Kakashi hingga keduanya kini sejajar. "Namanya Hatake Kakashi."
"Yoroshiku Ba-san.." Kakashi membungkuk, kemudian ikut bersimpuh disamping Sakura.
"Dia kekasihku," ujar Sakura dengan wajah bersemu pink. "Mungkin kau perlu memukulnya karena dia suka sekali menggodaku dan mengacak rambutku."
"Itu karena putri anda sangat cantik," ujar Kakashi pelan dan Sakura memukul bahunya keras-keras.
"Tapi dia pria yang baik-"
"Aku tahu," potong Kakashi dan menghasilkan sebuah pukulan lain dibahunya.
"Kaasan... aku sangat senang akhirnya aku bisa bertemu denganmu... aku berjanji setelah ini akan berusaha menjadi putri yang bisa kau banggakan di surga sana."
Sakura diam setelah mengatakan itu. Ada banyak hal yang ingin dia ceritakan pada kaasannya, setelah tujuh belas tahun hidupnya dan baru sekarang dia bisa berdiri di sana. Namun semuanya seperti mengambang dibawah kerinduan yang meledak dan dia tak tahu kemana melampiaskannya.
Di depannya hanya sebuah nisan pualam yang menandakan bahwa jasad ibunya diistirahatkan disana, tak ada tubuh yang bisa di peluknya, tak ada suara yang mampu didengarnya. Kerinduan itu lebih menyesakkan dari pada rasa rindunya pada sosok Kakashi, rindu yang tak bisa tersampaikan sepenuhnya.
"Sakura..." panggil Kakashi, Sakura merespon dengan gumaman pelan namun tak mengalihkan pandangannya. "Ada yang ingin kukatakan padamu, tentang alasan aku meninggalkanmu dua belas tahun yang lalu dan juga alasan aku kembali padamu sekarang."
Kali ini baru Sakura mengalihkan pandangannya meski tak ada suara yang keluar dari kedua belah bibirnya.
"Selama ini aku berusaha untuk membuktikan diriku di depan ayahku, seperti kata ibuku, agar ayah bangga padaku, agar ayah tak menyesal memilikiku, aku pergi untuk memenuhi janjiku pada ibuku dan aku telah berhasil membuktikan diriku tanpa sedikitpun melupakanmu...
...Aku tahu sesulit apapun kehidupanku disana tak lebih sulit dari kehidupanmu disini, aku melihatnya sendiri. Aku telah memenuhi janjiku pada Ibuku dan aku kembali untuk memenuhi janjiku padamu, tapi selain itu ada hal lain... Sakura... menikahlah denganku."
"Apa?"
"Menikahlah denganku, meski tanpa menikahpun aku akan tetap menjagamu seumur hidupku tapi... menikahlah denganku..."
Sakura terbeku dibawah tatapan iris berbeda warna itu. Dadanya berdegup kencang dengan luapan-luapan yang terus mendesaknya. Membuatnya tidak tahan untuk tidak tersenyum namun terlalu kaku untuk melakukannya.
Kakashi mengeluarkan sebuah kotak berbeludru hitam kecil dan membukanya. Tangan besar pria itu meraih cincin putih didalamnya dan melempar kotak itu sembarangan... kedua irisnya menatap emerald itu dengan penuh harap dan kecemasan..
Sakura... mengangguk pelan dengan pipi yang memerah dan mengulurkan tangannya kearah Kakashi, membiarkan pria itu melingkarkan cincin di jemari manisnya. Gadis pink itu tersenyum dengan perasaan melambung tinggi..
Kakashi melamarnya... Kakashi baru saja melamarnya! Oh Kami... jangan biarkan ini hanya mimpi... dadanya terasa sesak karena rasa bahagia yang terlalu banyak. Sampai-sampai rasanya dia ingin meledak.
"Terima kasih Sakura," ujar Kakashi diikuti tarikan lengan pria itu pada tubuh Sakura, membuat Sakura kembali berada dalam dekapannya. Dan Sakura tak bisa lagi membiarkan kebahagiaan itu tertahan di dadanya, gadis itu terisak bahagia.
.
.
Sakura berjalan riang melintasi tanah berumput di area pemakaman itu dengan terus menatapi cincin di jari manisnya. Gadis itu tak bisa berhenti tersenyum saat mengingat bagaimana Kakashi berjanji pada Kaasannya akan terus menjaga Sakura. Bukan ucapan Kakashi yang membuatnya bahagian karena bagaimanapun pria itu telah mengucapkan hal yang sama berkali-kali padanya, melainkan ekspresi wajah Kakashi yang dipenuhi keseriusan dan kepatuhan. Seperti benar-benar tengah melamar Sakura di depan Kaasannya langsung.
Kini keduanya tengah berjalan pelan menuju peristirahatan Tousan Sakura yang diketahuinya berada di pemakaman yang sama dengan perisntirahatan Kaasannya.
"Kakashi berhenti," Sakura menghentikan langkahnya mendadak, membuat Kakashi yang tengah melamun dibelakang Sakura menabrak punggung Sakura pelan, pelan namun berhasil membuat Sakura hampir tersungkur.
"Ada apa Sakura?" tanya Kakashi dengan wajah penuh permintaan maaf melihat Sakura yang meruntuk pelan.
Sakura mendengus dan kemudian menunjuk sebuah arah. "Bukankah seharusnya Tousanku disana?"
Gadis itu menunjuk sebuah arah dimana disana tengah berdiri tiga orang yang memunggunginya. Ada sekelumit perasaan aneh melihat ketiga sosok itu.
"Sakura mungkin.."
"Mereka saudaraku.." sambung Sakura. Gadis itu menatap nanar tiga sosok itu, ketiganya tampak khusu berdoa disana.
"Sakura..."
"Ayo kita pergi Kakashi," gumam Sakura sambil kembali berbalik arah.
"Apa? Tapi Sakura..."
"Aku tak mau merusak kenangan mereka terhadap Tousan dengan kehadiranku, Kakashi. Lain kali saja kita mengunjungi Tousan," ujar Sakura dengan binar mata tenang dan dalam.
Kakashi mengangguk sebelum mengikuti langkah gadis itu.
"Oh Kami... Kakashi!" Sakura berbalik mendadak dan menatap Kakashi yang berjalan dibelakangnya.
"Ada apa?" tanya Kakashi cemas melihat raut terkejut Sakura.
"Aku baru ingat kalau aku masih sekolah! Bagaimana mungkin kita bisa menikah?" gumam gadis itu, pelan namun tajam.
Kakashi tersenyum kecil. "Tidak ada satupun orang di sekolah yang akan melarangmu menikah denganku," gumamnya enteng.
"Hem... benar juga... ngomong-ngomong, kau benar-benar tidak romantis!" gerutu Sakura dan kembali berbalik berjalan keluar dari area pemakaman
"Ha?"
"Masa melamarku di pemakaman? Aku tidak mau tahu kau harus melamarku lagi dengan lebih romantis nanti!" ujarnya dengan raut polos.
Kakashi tersenyum tipis dibalik maskernya dan meraih tangan Sakura untuk digenggamnya. "Akan kutunjukan betapa romantisnya aku nanti setelah kita menikah," ujar Kakashi dalam bisikan yang terdengar misterius ditelinga Sakura, yang otomatis membuat gadis itu bersemu merah.
Sakura tersenyum dengan tersipu, gadis itu menarik napas dalam-dalam sebelum menengadah dan menatap senja yang mulai memerah di depan mereka. Senja yang terus menyaksikan perjalanan panjang Sakura. Perjalanan gadis pink itu untuk menemukan dirinya sendiri, meski pada akhirnya yang dia temukan adalah dirinya yang tak bisa sendiri. Gadis itu tersenyum dan mengencangkan genggaman tangannya ditangan Kakashi.
Setidaknya mereka telah bersama sekarang. Ada banyak waktu terbentang di depan mereka yang tersedia untuk mereka isi bersama. Ketakutan bukan lagi sesuatu yang perlu di takuti. Sekarang Sakura punya teman, Sakura punya keluarga, dan Sakura punya keberanian untuk terus mengenggam kebahagiaan tanpa takut kepedian akan merenggutnya.
Karena Kakashi bersamanya.
_FIN_
Chaps terpanjang dari Fic ini... 14 halaman A4 for only story (padahal wantu masin nubie ini biasa)
Maafkan kelambatan apdetnya... yang biasa baca fic Lhyn pasti tahu Lhyn paling ga bisa di Ending! Dan Maaf untuk segala kesalahan Lhyn dalam Fic abal Ini... Terimakasih banyak buat :
Akasuna no hataruno teng tong, Awan Hitam, Ayano Hatake, Chie hatake, Embun Pagi, EvilKyu Cassielf, FYLIN-chan, Fun-Ny Chan D'JiNcHuUri-Q, Hatake Ryuuki, Hatake Liana, Hatake Satoshi, Harunoby sakuraga, Haza Haruno, Haza ShiRaifu, ILA, Just Ana, Kakasaku, Kurosaki Kuchiki, Kyu's Neli-chan, Mei Anna AiHina, Mokochange, Nay Hatake, Phouthrye Mitarashi 15, Putri Luna, Rizu Hatake-hime, Sichi, Sky pea-chan, Thia,Tiba tiba datang, Uchiha Eky-chan, Violet7orange dan Kamu yang baca fic ini dari awal sampe akhir...
Maaf kalo ada Nama yang belom kesebut atau kesalahan tulis...
Sampai Jumpa di Fic Lhyn yang lain dan Rifyu...
