God and Devil

By : Natsu D. Luffy

Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto

Genre : Fantasy, Horror, Supernatural, Crime

Main Pair : Naruto x Hinata

Rated : T+

Warning : Abal-abal, OOC, OC, (miss) Typos, GaJe, AU, SKS ( Sistem Kebut Sejam )

.

.

.

A/N : Wogh, OK, saya coba buat chapter ini sesuai saran dari suka snsd. Dan hey! Dn… ! Woho~ saya ingat anda! Anda yang mbelain Hikari no Kazoku waktu itu kan? Juga yang ngehina Naruto? Yohoho~ anda masih dendam dengan saya? Yoho~ saya kasih tempat khusus untuk balesan review anda disini. Jadi, berbangga hatilah. Fict sampah? Apa saya minta pendapat anda? Saya rasa saya gk butuh pendapat dari orang autis kayak anda. Ups! Sorry udh bocorin aib anda. Dan… WOY! ENAK AJA LU BILANG NHL ITU PECUNDANG… ! JAGA BACO* LU YAH TOD! *Cuih* ANAK HARAM LU… ! Aduh, emang susah ngomong sama orang b*go permanen ya… Ups! Saya lupa, satu lagi. Makasih flame nya^^
Mungkin habis ini berniat mau flame lagi? Biar review saya rame? Tolong ya… ^^

OK, saudara-saudara saya tercinta, kita abaikan orang autis di atas dan mari langsung ke cerita.

.

.

.

Chapter 2 : After 10 years

.

.

.

"Huaahhh… Tidak ku sangka, ternyata kepala sekolah disini galak sekali. Nenek-nenek galak!" seru Naruto kesal entah kepada siapa. Ya, setelah dari ruang kepala sekolah tiba-tiba saja Naruto langsung bad mood dan ragu akan keputusannya bersekolah disini. Kenapa? Bukannya di sambut, dihari pertamanya masuk sekolah Naruto malah di ceramahi habis-habisan oleh kepala sekolah yang Naruto tahu bernama Mei Terumi itu, hanya karena masalah kecil. Ya, masalah 'kecil'. Naruto hanya berkata terus terang kepada kepala sekolahnya itu bahwa dadanya itu besar sekali. Salah? Tidak, Naruto memang masih polos –atau bodoh-.

Naruto kembali menyusuri lorong koridor sekolahnya yang berada di lantai dua. Sejenak ia menghentikan langkahnya dan mengok kea rah langit melalui jendela yang berada di samping kanan lorong koridor itu. Entah mengapa, saat melihat langit, ia seperti sedang bernostalgia dan juga entah kenapa, setiap melihat langit, emosinya tiba-tiba saja meluap seakan ingin meruntuhkan langit itu.. Mungkin jika ia bisa meruntuhkan langit, ia bisa menjatuhkan para dewa yang telah merenggut orang-orang yang ia cintai dulu.

"Uzumaki-san?" sapa sebuah suara yang tiba-tiba saja muncul, mengagetkan Naruto yang tengah 'asik' memperhatikan langit di atas sana.

"Maaf, anda siapa ya?" Tanya Naruto bingung saat melihat bahwa orang yang ada di belakangnya sama sekali tidak ia kenal.

Mendengar pertanyaan Naruto, sejenak orang itu tersenyum lembut. "Perkenalkan, nama saya Hatake Kakashi, saya yang nantinya akan menjadi wali kelas anda. Tadi saya ke ruang kepala sekolah, tapi disana saya tidak menemukan anda. Kepala sekolah bilang anda sedang menuju ke kelas. Dan kebetulan sekali kita bertemu disini." Jawab seseorang yang ternyata adalah wali kelas Naruto yang bernama Hatake Kakashi.

"Oh, perkenalkan, nama saya Uzumaki Naruto! 17 Tahun! Dan-" belum sempat Naruto menyelesaikan kalimatnya, Kakashi telah memotongnya terlebih dahulu.

"Simpan saja perkenalannya untuk di kelas nanti. Sekarang, ayo kita ke kelas. Sebentar lagi jam pelajaran pertama akan di mulai." Ajak Kakashi pada Naruto yang langsung dib alas dengan anggukkan semangat dari Naruto. Setelah itu, keduanya pun berjalan menuju kelas yang nantinya akan menjadi kelas Naruto untuk beberapa bulan ke depan.

.

.

"Nah, sudah sampai! Sekarang, Uzumaki-san menunggu dulu disini, setelah saya menyuruh anda masuk, baru anda masuk dan memperkenalkan diri." Ucap Kakashi pada Naruto saat keduanya telah sampai di depan pintu kelas yang bertuliskan XII-C, yang hanya dibalas dengan anggukan oleh Naruto.

Perlahan, Kakashi menggeser pintu yang menghubungkan koridor dengan ruang kelas itu. Setelah pintu terbuka, Kakashi pun masuk kedalam kelas, meninggalkan Naruto sendirian di koridor. "Hh… semoga anak-anak di Konoha sudah lupa dengan bocah berambut pirang yang dulu sering mereka kucilkan." Gumam Naruto lirih sambil menundukkan kepalanya.

Tak lama kemudian, Naruto mendengar sang wali kelas berseru dari dalam kelas memanggil namanya. "Uzumaki-san! Silahkan masuk!" seru Kakashi dari dalam kelas. Perlahan, Naruto membuka pintu geser itu dan memasukinya. Setelah Naruto masuk dan menutup kembali pintu kelas, semua mata di kelas itu pun langsung tertuju kepada Naruto.

"Nah, murid-murid, ini adalah murid yang akan menjadi teman baru kalian mulai hari ini. Uzumaki-san, silahkan memperkenalkan diri." Instruksi Kakashi pada Naruto.

"Ohayo, Minna… ! Hajinemashite ! Watashi wa Naruto Uzumaki desu!" seru Naruto memperkenalkan dirinya diiringi senyum mentarinya, tanpa mempedulikan tatapan dari para murid yang terlihat… Shock?

"Kyaaaaaaa~! Kawaaaiii desu ne… !" tiba-tiba saja, wajah shock dari para murid di kelas itu dugantikan dengan jeritan histeris para siswi dan gumaman tidak jelas dari para siswa yang terlihat iri. Melihat itu, Naruto tanpa sadar menghela nafas panjang. Ya, ia bersyukur, setidaknya anak-anak di Konoha tidak lagi mengenalinya. Dengan begini, ia harap ia akan mempunyai banyak teman baru nantinya.

Dan setelah acara perkenalan selesai, pelajaran membosankan dari Kakashi pun dimulai…

.

.

.

Natsu D. Luffy

.

.

.

Taman Bermain Umum Kota Konoha…

Terlihat seorang lelaki berambut raven dan bermata onix tengah berdiri bersandar pada sebuah pohon tua besar yang telah mati, yang terletak di pojokan taman bermain itu. Sesekali, lelaki itu menghela nafas pelan sembari mengamati sekeliling. Ya, ditaman ini, ia dapat melihat tanah yang gersang dengan berbagai batang pohon yang telah mati di sekitarnya.

Mungkin bagi orang kebanyakan, kondisi taman ini akan dianggap sudah biasa, semua tumbuhan mati karena tidak terurus. Tapi tidak untuk lelaki yang satu ini. Lelaki yang diketahui bernama Uchiha Sasuke ini memiliki pandangan lain mengenai taman ini. 'Pohon ini mati bukan karena kekurangan air.' Batin Sasuke sambil meraba pohon yang tadi ia jadikan sebagai sandaran tubuhnya.

'Batang pohon mati ini penuh dengan aura kegelapan.' Batin Sasuke agak kaget. Karena jika dilihat dari bentuk pohonnya, pohon itu pasti sudah mati sejak bertahun-tahun lalu. Tetapi pohon itu masih berdiri dengan kokoh dengan aura kegelapan di dalamnya. Dan itu semakin menguatkan anggapan Sasuke tentang hipotesisnya mengenai kematian pohon ini. Tidak ada yang memiliki aura kegelapan segelap ini kecuali dirinya yang adalah seorang Demigod Hades. Bahkan aura kegelapan yang berasal dari dalam dirinya pasti akan hilang hanya dalam waktu beberapa hari. Dan aura kegelapan di pohon ini, tidak hilang dalam waktu bertahun-tahun.

Sejenak Sasuke mencoba berpikir, memejamkan matanya dan mencoba menggali memori Demigod yang ia miliki. Sejenak kemudian, mata Sasuke langsung terbuka dan menampakkan mata merah menyala miliknya. "Cih, Sepertinya dia masih ada di dunia ini." Gumam Sasuke sembari beranjak pergi dari taman itu, meninggalkan tanah hitam berasap di setiap jejak langkahnya. Setelah berjalan cukup jauh, Sasuke pun menghilang dibalik kepulan asap hitam yang bercampur api biru yang tiba-tiba saja muncul menyelimuti tubuh Sasuke.

.

.

.

Natsu D. Luffy

.

.

.

"Hahhh…" Entah sudah berapa kali Naruto menghela nafas panjang dalam perjalanan pulangnya kali ini. Sekolah sungguh sangat membosankan. Tidak ada kejadian yang menarik hari ini. Disekolah dirinya selalu saja dikerubungi oleh siswi-siswi yang menurutnya menyebalkan, yang hanya membuat moodnya hari ini menjadi bertambah buruk saja. Akh, memang lebih nikmat jika pulang dengan menuntun sepeda. Ia bisa melihat dengan lebih seksama sudut-sudut kota Konoha yang telah berubah banyak setelah ia tinggal selama kurang lebih 9 tahun.

Langkah Naruto terhenti di sebuah taman bermain yang tampak seperti taman 'mati', dengan tanah yang gersang dan pepohonan yang mati di dalamnya. Ia parkirkan sepedanya di tepi jalan raya dan ia pun segera melangkah masuk menuju taman itu. Dilihatnya semua wahana permainan yang ada disana. Sepertinya taman ini tidak pernah lagi di datangi anak-anak. Naruto melangkahkan kakinya menuju sebuah ayunan yang terlihat usam dan tak pernah terpakai.

Setelah sampai di depan ayunan itu, Naruto pun mendudukkan dirinya di atas ayunan itu sambil sesekali menghentakkan kakinya ke tanah agar ayunan itu bergerak. "Apa kabar, teman?" gumam Naruto sambil mengelus lembut rantai ayunan itu. "Apa kau merindukanku? Maaf aku tidak pernah lagi tidur disini dan menemanimu." Lanjut Naruto sembari tersenyum lembut kepada rantai ayunan itu.

Setelah puas bernostalgia dengan ayunan kesayangannya itu, Naruto pun beranjak dari ayunan itu menuju ke pohon besar yang telah mati yang terletak di pojokkan taman itu. Sesampainya disana, Naruto mengelus lembut batang pohon itu. "Hey, lama tak bertemu." Gumam Naruto pada pohon mati itu. "Apakah gadis kecil yang waktu itu masih sering menangis dibelakangmu?" Tanya Naruto pada pohon mati itu. "Aku harap ia tidak pernah lagi menangis.., disini." Lanjut Naruto sembari tersenyum miris.

Tanpa terasa, waktu telah menjelang senja. "Akh! Maafkan aku, teman-teman! Aku harus segera pulang. Ibuku sangat galak kalau aku pulang terlambat! Maaf ya!" seru Naruto kepada seluruh 'teman-temannya'. Setelah itu, Naruto segera bergegas mengambil sepedanya dan mengayuhnya dengan cepat ke arah rumah.

Tanpa Naruto sadari, sedari tadi ada sepasang mata lavender yang terus mengamati gerak-geriknya di taman itu. "N-Naruto-kun…" gumam sang pemilik mata lavender itu dengan nada lirih. Tanpa bisa di kendalikan, setetes air mata jatuh menuruni pipi chubby nya itu. Bukan, itu bukanlah air mata kesedihan, melainkan air mata kebahagiaan. Tentu saja, sosok yang ternyata adalah Hinata itu sangat bahagia. Semenjak malam ia bertemu dengan Naruto, ia selalu datang ke taman ini keesokan harinya walau ia tidak pernah menemukan Naruto lagi setelah malam itu.

Ia hanya berharap, suatu hari nanti Naruto yang ia rindukan itu bisa datang lagi ke taman ini dan bisa melihatnya memakai cincin rumput yang dulu pernah Naruto buatkan untuknya. Dan tadi, saat ia hendak ke taman ini, ia melihat sosok lain yang ada di taman ini. Yang ternyata adalah sosok yang ia nanti selama ini, sosok yang telah memberinya inspirasi untuk tidak berputus asa dan selalu optimis. Sosok yang ternyata juga masih mengingatnya. Ya, ia sangat merindukan sosok itu… Uzumaki Naruto.

.

.

.

Natsu D. Luffy

.

.

.

"Wah! Gawat! Sebentar lagi jam 5! Aku bisa terlambat pulang ke rumah!" seru Naruto sembari mempercepat kayuhan kakinya pada pedal sepeda yang tengah ia kendarai. Sesekali Naruto harus mendapat umpatan dari para pengendara lainnya saat dengan tidak sengaja ia hampir menyerempet kendaraan orang itu.

*Ckiittt* tiba-tiba saja Naruto mengerem sepedanya dengan mendadak saat melihat anak kucing melintas di depannya. Setelah anak kucing itu menyeberang jalan, Naruto pun kembali memacu sepedanya. Saat di perempatan, Naruto berhenti karena memang lampu lalu lintasnya sedang menunjukkan warna merah, yang berarti ia harus berhenti. Karena merasa bosan menuggu, sesekali Naruto mengedarkan pandangannya ke segala arah. Dan pandangannya pun berhenti pada seorang nenek yang tengah berjalan menyeberang jalan dengan lambatnya.

Nenek itu berjalan dengan menggunakan tongkat untuk menyangga kedua kaki tuanya yang sepertinya sudah tidak lagi kuat menopang seluruh berat badannya. Tetapi tiba-tiba saja, dari arah samping, melesat sebuah truk dengan kecepatan tinggi menuju ke arah nenek itu. Tanpa Naruto sadari, Naruto menjadi tegang sendiri melihat kejadian itu. 'Dia akan mati.' Batin Naruto dalam hati.

Tapi saat truk itu semakin mendekat, tiba-tiba saja ada seorang pemuda yang mendorong nenek tua itu sehingga nenek itu pun selamat dari kecelakaan itu, sedangkan sang pemuda… *Kryek* sang pemuda itu pun terlindas truk hingga tubuhnya menjadi sungguh sangat tidak pantas dilihat. Teriakan orang-orang disekitar tempat itu pun semakin memperkeruh suasana.

Kenapa orang yang berniat baik malah mendapat balasan yang sangat buruk? Apakah ini juga dinamakan takdir? Oh, sekali lagi Naruto menyalahkan para dewa di atas sana yang dengan seenaknya membuat takdir tanpa mengetahui atau mempertimbangkan perasaan manusia. 'Suatu hari nanti harus ada orang yang berkata 'CUKUP!' dihadapan para dewa atas penderitaan yang mereka berikan kepada para manusia. Atau setidaknya, harus ada yang meruntuhkan langit untuk membawa para dewa turun ke dunia dan merasakan penderitaan yang juga manusia rasakan.' Batin Naruto penuh emosi.

*Tiiinnn* dan suara nyaring dari klakson mobil pun menyadarkan Naruto dari lamunannya. Setelah melihat bahwa lampu lalu lintas telah berubah warna menjadi hijau, Naruto pun segera memacu kembali sepedanya menuju ke rumahnya.

.

.

.

Natsu D. Luffy

.

.

.

Dasar Neraka…

Terlihat seorang pemuda berambut raven dan bermata merah menyala tengah duduk di sebuah singgahsana dengan anjing berkepala tiga di samping kanannya dan anjing berkepala dua di samping kirinya. Dari tubuh pemuda yang ternyata adalah Sasuke tersebut, sesekali keluar api biru yang samar-samar membungkus seluruh tubuhnya.

"Hey, Cerberus, Orthus, kelihatannya 'ia' sudah kembali." Ujar Sasuke kepada kedua hewan disamping kanan dan kirinya yang hanya dibalas dengan geraman oleh kedua hewan peliharaannya itu.
"Hey, Orthus. Sebaiknya kau pergilah ke dunia atas sana dan cari titisan makhluk laknat itu. Cerberus yang akan menggantikan tugasmu untuk menjaga arwah para orang mati disini. Dan jangan lupa gunakan wujud manusiamu." Titah Sasuke kepada anjing kepala dua yang berada di samping kirinya, Orthus.

Setelah itu, tubuh Orthus pun segera diselubungi oleh api biru dan asap hitam pekat sehingga sekarang tubuhnya tak terlihat sama sekali. Setelah asap hitam dan api biru itu menghilang, tampaklah seorang wanita berambut hitam pendek yang ternyata adalah wujud lain daru Orthus.

Melihat itu, Sasuke menyeringai sejenak sebelum akhirnya memerintahkan tangan kirinya itu untuk segera pergi ke dunia atas dan mencari orang yang merupakan titisan iblis legendaris itu. Tentu saja, Sasuke ingat bahwa satu-satunya makhluk yang bisa membuat para Dewa Olympus dan para Pahlawan Yunani tak berkutik hanyalah iblis itu. 'Aaku harus memiliki kekuatannya' batin Sasuke sambil menutup matanya dan akhirnya menghilang dibalik asap hitam pekat dan api biru yang menyelubungi tubuhnya.

.

.

.

To Be Continued

.

.

.

A/N : OK, kenapa pendek? Karena saya masih pemula, so, saya belum terlalu pinter nulis yang panjang-panjang XD. Dan oh ya, gomen kalau chapter ini mengecewakan. Jangan ragu untuk member feedback, baik berupa saran, kritik, flame, atau apapun demi hasil yang lebih baik nantinya. Itu semua akan saya terima dengan senang hati^^

Info :

Cerberus

Anjing raksasa yang dikisahkan memiliki 3 kepala dengan satu tubuh dan 3 ekor. Cerberus memiliki kemampuan untuk melacak arwah dimana saja dan bisa menyemburkan api dari mulutnya. Cerberus dikisahkan ditugaskan untuk menjaga gerbang antara dunia atas dan dunia bawah. Karena kekuatannya, bahkan para dewa pun segan untuk masuk ke dunia bawah jika harus melalui Cerberus. Dalam kisah, hanya ada 4 orang yang pernah dan bisa melalui Cerberus dan menuju dunia bawah. Salah satunya Herakles atau Herkules.

Orthus

Anjing raksasa berkepala dua dengan satu tubuh dan berekor 2. Dikisahkan, ia adalah saudara kembar dari Cerberus. Dan sama halnya dengan Cerberus, ia juga memiliki kemampuan dan tugas yang sama dengan Cerberus, hanya bedanya, ia memiliki tingkat kekuatan yang lebih rendah. Orthus ditugaskan untuk menjaga pintu antara dunia roh dan dunia bawah.

Akh! Ada yang penasaran kenapa saya milih ekor 13, itu karena… angka 13 adalah angka keramat yang mewakili kematian, kesialan, dan kebencian. Kenapa saya tidak pakai ekor 9…? Itu karena angka 9 nantinya akan digunakan untuk menggambarkan Hydra yang memiliki kepala sebanyak 9 buah. Oh iya, terimakasih untuk para silent readers, dan terimakasih banyak untuk para reviewers tercinta… ! Review dan saran anda adalah semangat bagi saya! XD
So, Keep Read and Review, Minna~

SEE YA!

Author,

Natsu D. Luffy