The Only Hope For Me Is You

Characters :

Skipper McGrath, Kowalski Bennett, Rico DiMaggio, James Private, Marlene Sullivan, Alfred Blowhole, Alice Victor, and Officer X.

OC :

Flora McGrath as Skipper's sister

Disclaimer :

I'm not own The Penguins of Madagascar, it's belong to Dreamworks & Nickelodeon


..."Menyerahlah anak muda, eksperimenmu kali ini tidak akan mengalahkan eksperimenku yang sudah kuserahkan lebih dulu. Lagipula penghargaan itu akan menjadi milikku lagi." kata Blowhole dengan nada melecehkan.

Kowalski mulai merasa kesal, ia pun berbalik. Kali ini menghadap Blowhole yang duduk tenang di kursi Alice, "kita lihat saja nanti, hanya karena pangkatmu senior, bukan berarti kau bisa dengan mudah mengalahkan seorang junior."

"Tentu aku bisa," Blowhole bangkit dari kursi itu, berjalan mendekati Kowalski dan menatapnya rendah, "karena aku lebih hebat darimu. Dan setelah penghargaan itu, ruangan ini akan kutempati dan menjadi milikku, dan kursi kepala pusat akan berada dalam genggamanku setelah kurebut ruangan ini dari wanita tua bangka itu."

"Hmmh.. kau tidak akan melakukan itu, dan kau tidak bisa melakukan itu."

Blowhole tersenyum licik. Kemudian, ia berjalan menuju pintu dan membukanya, "aku akan melakukannya," ia berhenti berjalan dan menoleh kepada Kowalski, "meskipun nantinya aku harus mengambil jalan pintas."


Chapter 3 : Big Surprise For Little Penguins

Malam itu, sekitar pukul 7 malam, mobil yang dikemudikan oleh Skipper berhenti di depan gerbang rumah mereka. Kowalski turun dari mobil lebih dulu, kemudian membukakan gerbangnya agar mobil Skipper bisa masuk. Dari dalam rumah, Private mengintip melalui jendela. Ia terlihat girang ketika mengetahui Skipper dan Kowalski sudah pulang. Selain itu, ia juga ingin tahu seperti apakah adik dari Skipper. Private segera memberitahu Rico yang sedang menyiapkan makanan, juga Marlene – seorang gadis tinggi berponi dengan rambut coklat lurus yang selalu diikat ekor kuda – yang sedang membantu Rico membereskan peralatan masak. Private segera keluar dari dapur untuk membukakan pintu depan.

Saat Marlene hendak keluar dari dapur, ia terhenti ketika melihat tingkah Rico yang agak aneh. Rico bercermin... ia merapikan rambut hitam kehijauannya yang berantakan dan mencuat kemana-mana dengan susah payah di depan cermin kecil yang tergantung di pintu lemari es. Jarang sekali Rico memiliki niat untuk merapikan rambutnya yang mencuat kemana-mana itu apalagi sambil bercermin. Marlene mengangkat sebelah alisnya dan tertawa kecil, "sedang apa kau Rico?" tanyanya sambil tersenyum.

"Merapikan rambut, rambutku berantakkan." Jawab Rico dengan suara yang agak serak.

"Kau sehat?"

"Sehat, kenapa?" ia menoleh kepada Marlene dengan heran.

'Tumben anak ini merapikan rambut.. Kesambet apaan yak?' Marlene terdiam berpikir, kemudian ia mendapatkan jawabannya. "Oh! Kau pikir adik Skipper itu seorang gadis makanya kau merapikan dirimu karena kau pikir kau akan bertemu seorang gadis? Memangnya yakin adiknya itu perempuan?" tanya Marlene dengan cepat dan dengan nada yang sedikit menggoda.

"Yakin."

"Kalau laki-laki bagaimana? Percuma dong kau merapikan rambutmu."

"Tidak," Kata Rico singkat. Marlene mengangkat lagi sebelah alisnya tanda bertanya-tanya akan apa yang terjadi pada Rico, "karena jika aku merapikan rambutku aku bisa terlihat lebih keren dari adiknya itu."

Marlene menghela napas dan menunjukkan tampang illfeel. Ia pun meninggalkan Rico di dapur untuk menyambut adik Skipper. Dengan segera Rico mengikuti Marlene keluar ruangan itu. Sebenarnya kedatangan adiknya Skipper itu tidak terlalu special, hanya saja karena Skipper belum pernah bercerita dengan jelas mengenai keluarganya dan mengenai dirinya yang ternyata seorang kakak, membuat yang lain merasa penasaran.

Private membukakan pintu depan sambil memasang raut wajah yang oh-so-cute-and-cuddly-i-swear ketika Kowalski mengetuk. Kowalski segera masuk duluan sambil membawa dua buah koper besar dan terlihat berat dengan susah payah. Di belakang Kowalski ada Skipper mengikutinya masuk, yang dengan tenang memainkan kunci mobil di tangannya karena tidak membawa beban berat. Marlene dan Rico sudah stand by di samping Private.

"Ayo masuk Flora," ajak Skipper kepada Flora yang malu-malu. Flora bisa melihat sedikit dari balik pundak kakaknya, Marlene yang tersenyum dengan manis kepadanya. Flora pun melangkah masuk ke dalam rumah. Dan sambutan pertama yang ia dapat adalah kata "Hai" yang bernada riang dari seorang lelaki muda berambut pirang, Private. Flora tersenyum senang ketika melihat lelaki muda yang oh-so-cute-and-cuddly-i-swear itu. Marlene segera mengajak Flora untuk duduk dan minum secangkir teh di meja tamu. Sedangkan Kowalski, ia masih bersusah payah mengangkat koper melewati tangga. Ia menggerutu 'Kenapa rumah ini tidak memiliki lift' sambil menggusur-gusur koper untuk dibawa ke kamar yang akan ditempati Flora di lantai dua.

"Benar kan? Adiknya itu perempuan..." bisik Rico kepada Marlene ketika Flora sedang mengobrol dengan Private.

"Ya baiklah.. ternyata tidak sia-sia kau merapikan rambutmu."


Sementara itu, di ruang bawah tanah sebuah rumah yang sangat besar, Alfred Blowhole dan seorang anak buahnya sedang berbincang dengan cukup serius. Ruang bawah tanah itu sangat luas dan memiliki pencahayaan yang cukup. Alat-alat berteknologi tinggi hasil eksperimennya disimpan di ruang tanah itu. Tempat itu seolah sebuah markas rahasia milik Blowhole. Langit-langit tempat itu sangatlah tinggi, sehingga ketika Blowhole berbicara, suaranya menggema cukup keras,

"Hmmh.. Kowalski Bennett," gumam Blowhole, "anak muda itu benar-benar penghalang semua rencanaku. Kesana kemari menghalangi jalanku layaknya seekor pinguin gila."

Seorang anak buah Blowhole mengamati bosnya yang sedang menggerutu di tempat duduknya, ia berdiri di bawah bayang-bayang, membuat sosoknya tidak terlihat dengan jelas.

"Sepertinya aku memang harus mengambil jalan pintas untuk mendapatkan segalanya," lanjut Blowhole sambil mengusap dahinya, "tapi... bagaimana caranya?"

"Sir, lebih baik tenangkan dulu dirimu. Mungkin juga anda tidak perlu mengambil jalan pintas." Kata anak buah Blowhole, ia berbicara dengan suara yang berat dan terkesan sangar.

Blowhole menoleh perlahan, mengerutkan dahinya dan berbicara lagi, "kenapa kau berpikir seperti itu?"

Anak buahnya itu terdiam. Ia berusaha merangkai kata-kata yang benar dari jawabannya untuk bosnya itu. Jika ia salah berbicara, itu bisa menjadi kesalahan yang fatal baginya. Dengan hati-hati, anak buahnya itu membuka mulutnya kembali, "karena anda lebih hebat dari anak itu." katanya dengan begitu hati-hati.

"Kau benar... tapi, jika eksperimen-eksperimennya terus diterima oleh si tua Alice dan kepala pusat yang tolol itu, semua yang telah kuimpikan akan hancur karenanya."

"Kalau begitu, apa yang ingin anda lakukan?"

Blowhole bangkit dari tempat duduknya. Ia mulai berjalan hilir mudik kesana kemari sambil mengepalkan tangannya dan berpikir, "aku ingin menyingkirkan anak itu. Kalau bisa untuk selamanya."

Anak buah Blowhole pun berjalan mendekat, menunjukkan sosoknya yang bertubuh besar yang sejak tadi ia sembunyikan di balik bayang-bayang. Orang berkulit hitam yang selama ini dikenal sebagai 'Officer X' tersenyum dengan senyumannya yang memuakkan. Ia membenahi letak kacamata hitamnya dan mulai berbicara, "sebaiknya begitu, sir."

"Ya.. dan Skipper.. ia juga harus dilenyapkan," gerutu Blowhole dengan nada yang menunjukkan kekesalan yang amat sangat, "kalau begitu mereka harus kutaklukan. Tapi, rencanaku takkan berhasil jika mereka terlalu banyak tahu tentang perangkap-perangkap. Aku harus membuat skenario rencanaku dengan lebih mengejutkan dan tak terduga. Mengancam mereka dengan sesuatu milik mereka yang begitu berharga, sehingga si bodoh Kowalski itu mau menyerah atas usahanya menjadi seorang ilmuwan terbaik Scientist Community"

"Jika anda membutuhkan bantuan, aku siap membantu, sir."

"Memang apa yang bisa kau lakukan untuk membantuku?"

Officer X kembali tersenyum dengan senyuman memuakkan, "aku bisa membantumu melancarkan rencanamu itu, karena aku mengetahui kelemahan mereka. Kelemahan yang bisa membawa mereka masuk ke dalam perangkap kematian."

Blowhole mengerutkan kembali dahinya. Ia kembali duduk di kursinya dan menatap anak buahnya yang bertubuh besar itu. "Katakan padaku!" perintahnya kepada anak buahnya. Officer X mendekat, kemudian ia membisikkan sesuatu ke telinga Blowhole. Blowhole tersenyum keji ketika Officer X selesai memberitahunya sesuatu yang bisa melancarkan rencana jahatnya.

"Bersiap-siaplah Kowalski..." kata Blowhole dengan senyuman licik terukir di bibir tipisnya, "...'cause i have such a big surprise for you, little penguin."


A/N : yap.. ini dia chapter 3.. maaf yang ini updatenya agak lama ^^.. kayanya chapter ini masih belum ngasih jawaban dari rasa penasaran hehehe XD dan kayanya kependekkan ya? maaf.. aku keabisan ide buat chapter 3 =) jika ada kritik dan saran silahkan melalui review, sip sip? XD thanks ~