The Only Hope For Me Is You

Characters :

Skipper McGrath, Kowalski Bennett, Rico DiMaggio, James Private, Marlene Sullivan, Alfred Blowhole, Alice Victor, and Officer X

OC :

Flora McGrath as Skipper's sister

Disclaimer :

I'm not own The Penguins of Madagascar, It's belong to Dreamworks & Nickelodeon

Warning :

This chapter tells about romance between Kowalski and Flora ^^


Chapter 4 : Night at the Laboratory

Malam itu, udara yang begitu dingin menembus masuk melalui ventilasi udara. Sunyi... semua yang ada di rumah itu sudah tertidur pulas. Di sebuah kamar yang didesain unik, Private tidur dengan begitu pulas, menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut yang tebal. Saking tebal dan besarnya selimut yang ia pakai, membuat kepalanya yang tersandar di atas bantal terlihat mungil. Di kamarnya, Skipper terlelap dengan nyenyak. Tetapi ia sama sekali tidak peduli dengan dinginnya udara malam ini. Hal yang sama seperti yang dilakukan oleh Private, dilakukan juga oleh Flora di kamarnya. Ia membungkus tubuhnya dengan menggunakan selimut tebal. Dan di kamar lainnya, di kamar yang paling berantakkan diantara kamar lainnya, terdapat seonggok benda bulat di atas tempat tidur. Benda itu tertutupi selimut tebal dan beberapa buah bantal menumpuk di atasnya. Benda itu bergerak... menggeram... dan bersuara seperti orang mengigau. Kemudian, salah satu bantal yang menumpuk di atasnya terjatuh, menunjukkan sosok yang menjadi onggokan di atas tempat tidur. Ternyata... itu Rico... ia tidur menelungkup sambil memeluk gulingnya.

Waktu telah menunjukkan pukul 12 tepat tengah malam, tiba-tiba Flora terbangun karena merasa haus. Sudah tiga minggu sejak kedatangannya kemari, baru kali ini ia terbangun di tengah malam dan itu tidak biasanya terjadi. Flora turun dari tempat tidurnya, kemudian ia membuka pintu kamar untuk keluar dan mengambil minum di dapur. Ketika Flora melewati kamar Kowalski, ia berhenti. Ia melihat pintu kamar Kowalski terbuka sedikit. Dengan rasa penasaran, Flora membuka pintu kamar Kowalski secara perlahan. Lalu, ia mengamati kamar itu. Kamar yang cukup sederhana dan rapi. Namun, kamar itu kosong... Kowalski tidak ada di dalam kamar. Flora mulai bertanya-tanya kemanakah perginya Kowalski malam hari begini. Tiba-tiba, saat Flora hendak menutup kembali pintu kamar itu, seseorang menepuk bahu kanannya dari belakang. Flora terlonjak dan segera menoleh. Ternyata itu Kowalski.

"Flora, apa yang sedang kau lakukan di sini?" tanya Kowalski dengan heran,

"Kowalski! Umm.. a - - aku hanya, eh.. tadi pintu kamarmu terbuka jadi aku - - aku hanya ingin memeriksa.. eer.. kamarmu," kata Flora dengan tergagap karena takut kena marah, "...maaf."

Kowalski menatap Flora sambil merasa tingkahnya lucu, ia pun tertawa kecil, "oh, tak apa," sahut Kowalski. Ia pun masuk ke kamarnya dan mengambil sesuatu di dalam laci mejanya.

"Kau belum tidur, Kowalski?" tanya Flora yang masih berdiri di ambang pintu.

"Belum, aku belum menyelesaikan eksperimenku, tanggung sedikit lagi juga beres." Jawab Kowalski seraya berdiri dan berjalan menuju ambang pintu, "kau sendiri belum tidur?"

"Aku tidak bisa tidur," jawab Flora dengan suara yang begitu lembut, "boleh aku ikut ke lab, Kowalski?"

Mendengar pertanyaan itu, Kowalski tersenyum. Jarang-jarang ada yang menemaninya di lab tengah malam begini. Biasanya Private yang menemaninya, tapi sebatas sampai pukul 9 malam saja. Kowalski mengangguk, memperbolehkan Flora untuk ikut ke lab bersamanya. Melihat hal itu, Flora tersenyum senang. Ia pun mengikuti Kowalski menuju Laboratoriumnya di basement.


Laboratorium Kowalski cukup luas, hanya saja ia tidak begitu pintar menata laboratoriumnya menjadi serapi kamarnya. Di lab, Flora duduk di sebelah Kowalski yang sibuk dengan eksperimennya. Eksperimennya kali ini, ia bermaksud memodifikasi kegunaan jam digital, dari penunjuk waktu menjadi sebuah alat multiguna yang bisa digunakan untuk keperluan mata-mata. Flora mengamati setiap pekerjaan Kowalski. Kini Kowalski sedang mengatur jarak antara alat berupa lup di depan matanya dengan sebuah jam digital berwarna hitam yang sedang ia utak-atik.

"Kenapa dari tadi kau hanya mengatur jarak jam itu dengan lup?" tanya Flora dengan polos.

Sambil tetap fokus pada apa yang ia lakukan, kowalski menjawab, "aku sedang berusaha menempatkan jam ini tepat pada titik fokus benda agar bayangan benda ini tidak membuat mataku pusing dan cepat lelah. Jadi, aku bisa bekerja di depan lup lebih lama," jelas Kowalski, "jika benda berada pada titik fokus, maka bayangan benda yang terbentuk oleh dua buah sinar pantul dari sinar datang di atas benda berada tepat di... eer.. jauh tak hingga. Sehingga mataku tidak akan mudah lelah karena tidak menangkap bayangan benda tersebut." Lanjutnya.

Flora segera menangkap apa yang dijelaskan oleh Kowalski, "Oh! Teori mengenai cahaya dan alat optik."

"Bingo!" kata Kowalski. Flora pun tersenyum, sebenarnya tidak begitu yakin dengan jawabannya tadi, tapi ternyata benar. Ia kembali mengamati Kowalski yang sedang serius.

'Apa aku mengganggu pekerjaan Kowalski, ya?' pikirnya, 'tapi... kapan lagi aku bisa berdua dengannya. Kalau siang hari Kowalski pasti berdiskusi dan membantu Skipper, atau mencoba eksperimen dan alat-alat baru dengan Rico, lalu mengobrol dan memberitahu Private tentang sesuatu yang belum Private ketahui. Kowalski...' Flora memperhatikan lelaki di sampingnya itu. Ia merasakan sesuatu yang aneh, jantungnya berdebar begitu cepat setiap ia memperhatikan sosok Kowalski.

'Tampan...' gumam Flora dalam hati. Kemudian... ia tersadar akan suasana indah yang sedang menghiasi pikirannya, 'Eh! Apa yang - -? Apa yang kupikirkan ini?' Flora menggelengkan kepalanya dan mengusap-usap wajahnya dengan cepat. Ia menutupi wajah dengan kedua tangannya.

"Flora..." Kowalski memanggil gadis di sampingnya itu. Dengan spontan dan sedikit kaget, Flora menoleh,

"Ya?" dengan jantung berdebar-debar, ia berusaha merespon Kowalski dengan tenang.

"Bisa tolong ambilkan chip kecil di kotak itu?" tanya Kowalski sambil menunjuk sebuah kotak kecil transparan di ujung meja, Kowalski masih terfokus dengan jam digital di tangannya.

Flora meraih kotak kecil itu, membukanya dan menyerahkan sebuah chip tipis dan super kecil kepada Kowalski. Kowalski mengambilnya, kemudian dengan menggunakan sebuah alat semacam pinset – hanya saja lebih tipis dan runcing – Kowalski menyelipkan chip itu pada mesin jam digital. Setelah itu, ia menyingkirkan alat berupa lup dari depan matanya.

"Hampir selesai," ujar Kowalski dengan suara yang bersemangat meskipun wajahnya terlihat lelap dan mengantuk, "Flora, bisa minta tolong lagi?"

"Tentu."

"Tolong ambilkan obeng kecil di laci." Pinta Kowalski sambil mengukur penutup jam itu sebagai layarnya. Flora membuka laci meja di hadapannya dan mengambil obeng terkecil dan menyerahkannya kepada Kowalski.

"Terimakasih," kata Kowalski sambil meraih obeng itu dari tangan Flora, "eer.. flo, tolong pegang sebelah sini," pinta Kowalski sambil menunjuk bagian samping penutup jam digital itu. Flora memegangi ujung samping penutup jam digital itu, sementara Kowalski, menguatkan sisi-sisi penutup dengan menggunakan obeng. Mereka terus berkutat dengan jam digital itu, berganti-ganti posisi tangan untuk menyelesaikan bagian akhir dari jam digital itu. Sampai akhirnya, tak lama kemudian, jam digital itu berhasil diselesaikan.

Kowalski menekan sebuah tombol kecil di bagian samping jam digital itu. Jam itu pun menyala dengan mengeluarkan suara 'bip' kecil. Layar jam digital itu menunjukkan waktu. Kowalski terdiam sebentar, berharap ketika ia menekan lambang yang ada di bawah layar yang sebenarnya semacam tombol dengan touch sensitivity, akan terjadi sesuatu sesuai dengan yang ia inginkan. Dan ketika ia menekannya, muncul kalimat 'In Progress' dan tanda loading pada layar jam digital itu. Kemudian, muncul lambang-lambang pada layar jam tangan digital itu yang ternyata berlayar touchscreen. Kowalski menekan salah satu lambang dan kemudian mengarahkan jam tangan itu ke sebuah lup di meja. Sinar sensorik berwarna kehijauan muncul dari bagian kepala jam itu. Tak lama setelah sinar sensorik itu hilang, muncul kalimat 'click here' pada layar. Kowalski kembali menekan layar dan mengarahkan jam itu ke bagian meja yang datar. Sinar sensorik kembali muncul, kali ini berupa tulisan-tulisan berupa penjelasan mengenai lup. Flora berdecak kagum melihat hal itu. Seringai lebar pun terukir di bibir Kowalski.

Ia mematikan jam tangan digital itu. Di sampingnya, Flora terlihat sedikit heran ketika melihat ekspresi Kowalski seperti yang sedang menahan sesuatu,

"I... i did it.." gumamnya.

"Congrats," kata Flora sambil tersenyum senang.

"OH I DID IT! Yes! Yeeess!" sorak Kowalski dengan suara yang cukup keras dan dengan gerakan spontan, ia memeluk Flora yang ada di sampingnya. Flora terkejut akan hal itu. Kowalski memeluknya dengan erat sambil terus mengucapkan keberhasilannya memodifikasi jam tangan digital. Flora dapat merasakan jantungnya kembali berdebar-debar. Ia tidak bisa menyangkal perasaannya kali ini. Pelukan itu, rasanya begitu hangat dan berbeda. Cukup lama, Flora hanya bisa terdiam dalam pelukan Kowalski. Sampai akhirnya, Kowalski sadar dengan yang dilakukannya dan segera melepas pelukan itu.

"Ah! Maaf... Flora..." kata Kowalski yang segera menyembunyikan wajahnya yang memerah dan dengan salah tingkah memindahkan lup ke dalam laci.

"Eeh.. tidak apa-apa... Kowalski..."

Kowalski mengalihkan pandangannya kembali kepada Flora. Gadis di sampingnya itu menatap matanya begitu dalam. Dengan malu, Flora tersenyum kecil kepada Kowalski, pipinya mulai merona merah, "eh, Flora..."

"Ya? Kowalski?" tanya Flora dengan malu-malu.

"Aku... aku ingin katakan sesuatu" kata Kowalski dengan suara yang tertahan. Dari raut wajahnya, sepertinya ia takut, ragu, bingung... campur aduk.

Flora terdiam, menunggu Kowalski mengatakan sesuatu.

'Katakan Kowalski... katakan...'

Kowalski berusaha mengumpulkan keberanian untuk mengatakan perasaannya kepada Flora. Ia yakin ini adalah saat yang tepat, dan ia tidak mau membuang waktu lagi untuk menyembunyikan perasaannya itu. Kemudian, setelah ia mengumpulkan keberaniannya, ia pun mengatakannya,

"Flora aku mencintaimu."

Hening...

Perlahan, Kowalski mendekatkan wajahnya kepada Flora yang masih memberi tatapan dalam kepadanya. Gadis itu hanya terdiam, kemudian ia memejamkan matanya. Flora dapat merasakan tangan Kowalski yang mengelus pipinya, dan kemudian bibir mereka bersentuhan, terkunci dalam sebuah ciuman lembut. Flora melingkarkan tangannya di sekitar leher Kowalski, mendekapnya dalam sebuah pelukan. Mereka menikmati moment indah itu, berharap segalanya bisa berlangsung secara perlahan.

Namun, sebuah jam alarm kurang ajar dan sangat tidak sopan berbunyi cukup keras, membuat mereka kaget, menandakan pagi telah tiba dan bermaksud menyadarkan segala aktivitas yang tidak disadari dan wajib disadarkan. Kowalski melepas ciumannya, kemudian ia meraih jam itu dan membantingnya ke meja laboratorium sambil mendesah kesal. Melihat hal itu, Flora hanya tertawa kecil,

"Aku juga mencintaimu, Kowalksi." kata Flora sambil tersenyum.

Kowalski juga tersenyum, ia tidak pernah mengira ternyata Flora memiliki perasaan yang sama terhadapnya. "Sebaiknya kita kembali ke dalam rumah," ajak Kowalski dengan lembut kepada gadis itu. Flora mengangguk dan kemudian mengikuti Kowalski keluar dari Laboratorium sambil memegang tangannya.

Malam ini, tak akan terlupakan bagiku... ujar Flora dan Kowalski di dalam hati.


A/N : hey hoo ~ chapter 4 ini banyak ngebahas tentang perasaan Kowalski dan Flora ^^ dan... aku gak tau nih kok aku bisa ya dapet ide buat paragraf-paragraf terakhir chapter ini. hehehe.. bila ada kritik, saran, maupun pendapat, silahkan sampaikan melalui Review.. Peace up! XD ~ sekian dan terimakasih untuk chapter ini =D