The Only Hope For Me Is You

Characters :

Skipper McGrath, Kowalski Bennett, Rico DiMaggio, James Private, Marlene Sullivan, Alfred Blowhole, Alice Victor, Officer X, Blowhole's army, Kitka Redvander

OC :

Flora McGrath as Skipper's sister

Disclaimer :

I'm not own The Penguins Of Madagascar, it's belong to Dreamworks & Nickelodeon


Chapter 5 : Trapped

Cuaca pagi itu, bukanlah cuaca yang mendukung untuk segala aktivitas di luar rumah. Suhu yang begitu dingin, langit yang mendung, angin yang kencang, dan rintik hujan yang turun menjadi sambutan pertama di pagi hari ini. Udara yang dingin itu membuat jendela rumah menjadi berembun. Satu-satunya yang merasa bahagia ketika melihat embun di kaca adalah Private. Sambil duduk di sofa yang ia putar menghadap jendela, ia membuat gambar-gambar aneh dengan menggunakan telunjuknya. Seperti biasa, Skipper duduk di sofa sambil membaca koran dan menikmati secangkir kopi panas. Sedangkan Rico, duduk santai sambil mendengarkan musik di samping Kowalski yang sejak tadi mengetes jam tangan digitalnya. Hujan di luar semakin deras saja. Gelegar petir yang begitu keras pun terdengar, membuat jendela-jendela rumah bergetar. Dengan kaget dan takut, Private segera berhenti bermain embun di kaca dan dengan spontan menjauh.

Tak lama kemudian, Flora masuk ke dalam ruangan berkumpul sambil membawa sebuah nampan yang diatasnya ada beberapa buah sandwich tuna dan beberapa cangkir teh madu jahe panas yang menggiurkan. Semua langsung menghentikan aktivitasnya dan segera mengambil sepotong sandwich tuna dan secangkir teh madu yang hangat.

"Jadi, bagaimana perkembangannya, Kowalski?" tanya Skipper sambil memegang secangkir teh panas (ia jadi minum dua cangkir minuman pagi ini.. Kopi dan teh)

"Sejauh ini berfungsi dengan baik Skipper, kita bisa menunjukkannya kepada Alice. Jika memungkinkan, hari ini sebaiknya segera kita tunjukkan." Jawab Kowalski sambil tetap fokus berkutat dengan jam tangan itu.

"Bagus, kalau begitu..." Skipper hendak melanjutkan kata-katanya, namun terpotong ketika ia mendengar telepon genggamnya berbunyi. Skipper keluar ruangan untuk mengangkat telepon itu.

Di luar ruangan

Ketika Skipper melihat layar telepon genggamnya, terlihat tanda 'Incoming call : New number'. Ia mengernyit ketika melihat tanda itu, Skipper tidak mengenal nomor teleponnya. Karena penasaran, akhirnya Skipper mengangkat telepon itu dengan sedikit berhati-hati.

'Selamat pagi, Mr. McGrath' Kata si penelepon ketika Skipper mengangkat teleponnya.

"Maaf, siapa ini?" tanya Skipper dengan suara yang sedikit dinaikkan.

'Saya Freddy Scuierell, eer.. mungkin langsung saja, saya membutuhkan bantuan anda. Anda mata-mata sekaligus detektif dari Central Park Agency, bukan? Saya ingin minta bantuan anda untuk mencari adik saya yang hilang beberapa tahun lalu' Jelas si penelepon secara langsung tanpa basa-basi.

Skipper terdiam, tidak biasanya ada orang yang meneleponnya secara langsung jika ada kasus yang harus diselidiki. Jika ia mendapatkan telepon yang memberitahunya untuk menyelidiki suatu kasus, pastilah atasannya yang akan memberitahunya. Skipper merasa ada yang aneh dari penelepon ini, "Maaf Mr. Scuierell, tapi darimana anda mendapatkan nomor telepon saya?" tanya Skipper dengan sedikit ketus.

'Maaf Mr. McGrath, saya diberitahu teman saya yang bekerja di Central Agency juga, ia bilang anda bisa menyelesaikan kasus saya."

"Siapa yang memberitahu anda?"

'Mr. Morte Ritcher, tentu anda mengenalnya bukan?'

'Morte? Kenapa ia memberitahu nomorku pada sembarang orang? Dan.. orang hilang? Kenapa mencari orang hilang jadi bertanya kepadaku?' pikir Skipper (Morte adalah salah satu mata-mata dari kelompok lain yang ada di Central Park Agency) "Dimana lokasi anda, Mr. Scuierell?"

'Perumahan Gramercy Park, saya akan mengirimkan pesan singkat mengenai alamat lengkap saya.'

"Kutunggu pesanmu, Mr. Scuierell." Kata Skipper dengan sedikit tidak yakin, lagipula Skipper belum memberi persetujuannya untuk membantu orang itu. Kemudian Skipper menutup telepon itu dan kembali ke dalam ruangan. Di dalam ruangan, Kowalski dan yang lain kini terfokus kepada berita di televisi. Skipper pun berjalan menuju sofa dengan sedikit terheran-heran.


Beberapa saat berlalu setelah orang yang bernama Freddy menelepon Skipper, tetapi Skipper masih merasa aneh. Meskipun orang yang meneleponnya tadi terkesan biasa, namun ia merasakan kejanggalan yang cukup kuat, dari mulai bagaimana orang itu bisa tahu nomor teleponnya dan pekerjaannya.

"Siapa yang menelepon, Skipper?" tanya Kowalski ketika menyadari Skipper sudah duduk di sofanya kembali.

"Entahlah, ia bilang namanya Freddy Scuierell. Ia meminta bantuan kita untuk mencari orang hilang." Kata Skipper dengan nada merasa tidak yakin,

"Orang hilang?" tanya Rico ingin ikut membahas. Private dengan segera pasang muka serius mendengarkan percakapan yang lain,

"Ya, entah bagaimana aku merasa ada kejanggalan. Tapi aku benar-benar tidak bisa menjelaskannya."

"Dari mana ia dapat nomormu, Skipper?"

"Entahlah Kowalski, ia bilang ia dapat dari Morte."

"Morte?" tanya Private berusaha meyakinkan diri dengan suara agak melengking.

Skipper mengangguk. Kowalski Berpikir. Private bingung. Rico... biasa saja. Mereka terdiam cukup lama, sampai konsentrasi mereka terpecah karena berita yang ada di televisi. Kurang lebih seperti ini :

'Pemirsa, kasus penculikan dan penganiayaan terjadi di daerah Gramercy Park, New York City. Korban kali ini diinformasikan bernama Freddy Scuierell, seorang karyawan cafe berusia 22 tahun. Peristiwa ini diperkirakan terjadi sekitar pagi tadi. Diperkirakan pelaku lebih dari satu orang dan menggunakan senjata tajam dilihat dari ruangan korban yang dipenuhi tetesan darah. Para petugas kepolisian masih mencari motif dan pelaku tindak kriminalitas ini...'

Skipper terdiam membeku ketika mendengar berita itu. Bagaimana bisa peristiwa itu terjadi dengan selang waktu yang cukup singkat antara waktu 'Freddy menelepon Skipper' dengan berita 'Freddy diculik dan dianiaya'? Kowalski segera pasang pose mikir ala dirinya sambil menghubung-hubungkan kedua hal itu. Sama seperti Skipper, ia pun mulai merasakan adanya kejanggalan pada peristiwa itu. Di sofanya, Rico dan Private hanya menunggu perintah tentang apa yang harus mereka lakukan selanjutnya. Tak lama kemudian, Skipper dan Kowalski saling pandang dan mengangguk. Skipper pun berdiri dari tempat duduknya dan bersiap, "Boys, it's our duty call."

"Yup! Dan perfect timing untuk mencoba jam digital hasil percobaanku." Kata Kowalski sambil mengikuti Skipper berdiri dari tempat duduknya.


"Kau tidak apa-apa ditinggal sendiri di rumah, Flora?" tanya Kowalski ketika ia hendak keluar dari pintu rumah.

"Tidak apa-apa Kowalski, aku akan baik-baik saja. Pergilah." Kata Flora sambil tersenyum meyakinkan. Kowalski pun tersenyum, mengangguk, lalu berjalan dan masuk ke dalam mobil. Ia dan yang lain pun pergi menuju Gramercy Park untuk menyelidiki kasus yang teramat aneh itu. Flora menunggu sejenak di depan pintu sampai mobil yang dikendarai Kowalski berangkat meninggalkan rumah. Flora pun menutup dan mangunci pintu depan. Ia berjalan menuju ruang berkumpul tadi sambil menguap karena mengantuk. Ya.. sudah pasti ia mengantuk karena semalaman tidak tidur untuk menemani Kowalski di laboratoriumnya.

Flora duduk di sofa yang tadinya ditempati oleh Skipper. Ia memindahkan channel televisi sambil menunjukkan ekspresi super bosan dan agak mengantuk. Sekali lagi, ia menguap dan kemudian mengusap-usap matanya. Flora pun mematikan televisi dan berencana untuk tidur. Ini pertama kalinya ia begadang full semalaman tanpa tidur sedikit pun, mungkin jika Skipper tahu akan hal itu, ia bisa diomeli. Terkadang, SKipper memang tidak menunjukkan rasa sayang dan peduli yang begitu besar kepada seseorang meskipun di dalam hatinya ia benar-benar peduli dan tidak ingin kehilangan orang yang ia sayangi itu... dan Flora merasakan hal itu. Ketika keluar dari ruangan berkumpul, hal pertama yang muncul dalam pikiran Flora adalah tempat tidur yang empuk dan hangat, yang bisa membuatnya tertidur dengan nyenyak meskipun hanya sebentar.

Di basement

"Sepertinya mereka tidak menyadari dengan apa yang direncanakan olehku, bukan begitu?" kata seorang pria botak berperawakan aneh dengan alat yang terpasang di matanya. Kedua anak buahnya tersenyum licik, kemudian mereka mengeluarkan senjata berupa pistol dan pisau.

"Anda yakin gadis itu tahu tentang kode rahasia laboratorium ini, tuan?" tanya salah satu rekan Blowhole.

"Dia pasti tahu sesuatu."

Blowhole dan kedua rekannya menaiki tangga basement menuju ruang tengah rumah itu. Mereka telah merencanakan sesuatu yang tidak diketahui oleh Skipper dan yang lainnya. Mereka memiliki rencana jahat yang Blowhole sebut sebagai 'jalan pintas' yang ia ambil untuk mengalahkan Kowalski atas eksperimennya. Dan kali ini, ia tengah melewati 'jalan pintas' tersebut.

Di dalam rumah

Di dapur, Flora sedang membuat secangkir minuman. Sebelum ia ke kamar untuk, yaa... tidur seperti yang telah ia rencanakan, ia membuat minuman terlebih dahulu. Hal itu memang sudah menjadi kebiasaannya sejak dulu. Namun, Ia tidak mengetahui kalau di dalam rumahnya kali ini, ada 3 orang penyusup yang berniat jahat. Maka ketika ia keluar dari dapur sambil membawa secangkir minuman, ia terkejut bukan main ketika melihat seseorang muncul di hadapannya yang mengarahkan pistol ke arahnya. Flora menjatuhkan cangkir yang ia pegang. Flora tidak mengenal siapa orang yang menodongkan pistol ke arahnya, maka yang ia lakukan hanyalah diam membeku.

"Halo nona cantik," sapa orang berkepala botak dengan suara yang memuakkan, "kelihatannya kau takut, bukan begitu?"

Flora terdiam dan gemetar, ia pun berusaha untuk membuka mulutnya. Namun, sesuatu seakan membungkam mulutnya untuk berteriak dan meminta pertolongan.

"Si...siapa ka- -kalian?"

"Kau tidak perlu tahu siapa kami nona. Jika kau ingin selamat, katakan di mana dia menyimpan hasil eksperimennya?" tanya Blowhole tanpa basa-basi lagi.

Kini Flora mengerti, tujuan orang ini kemari pasti adalah untuk mencuri percobaan Kowalski. Dengan cepat, ia pun menggeleng sambil menunjukkan ekspresi sebal.

"Kau tidak mau memberitahu rupanya?" Kata Blowhole dengan suara yang hampir menyerupai bisikkan. Flora tetap terdiam, meskipun rasa takut dan tidak tahu harus bagaimana menguasai dirinya sekarang. "hmmm.. 'Red 1', bawa ia ke tempat yang lebih nyaman, untuk kita permainkan." perintah Blowhole dengan seringai jahat terukir di bibir tipisnya.

'Apa? di- -dipermainkan?' pekik Flora di dalam hati. 'Apa yang akan mereka lakukan kepadaku?'...
Salah seorang anak buah Blowhole mencengkram tangan Flora dan mengikatnya menggunakan sebuah tali. Flora mencoba melepaskan diri dan meronta, tetapi ia tidak bisa menandingi tenaga anak buah Blowhole yang kuat mencengkram tangannya.

"Lepaskan!" teriak Flora sambil meronta. Kini ia mendapatkan kembali suaranya yang sejak tadi tiba-tiba terbungkam. Tetapi, ketika ia hendak berteriak, anak buah Blowhole yang lain membungkam mulutnya. Mereka menyeret Flora ke lantai atas.

"Kita lihat saja, bagaimana jadinya jika rumah ini kita hancurkan, dan kita siksa gadis cantik ini..." ujar Blowhole sambil terkekeh kejam. Rasa takut mulai menguasai Flora, dan kedua anak buah Blowhole pun tertawa dengan licik.


Sementara itu, Skipper, Kowalski dan yang lainnya baru saja sampai di depan rumah orang yang disebut-sebut sebagai Freddy Scuierell. Di depan rumahnya masih terlihat banyak petugas kepolisian yang sedang mengolah TKP. Skipper, Kowalski, Rico, dan Private turun dari mobil dan segera mendatangi rumah itu. Salah seorang anggota kepolisian, Kitka Greyvander, juga berada di sana. Ia pernah membantu Skipper dan yang lain dalam menyelidiki sebuah kasus.

"Skipper!" panggil Kitka, wanita berambut oranye kemerahan dan bertubuh tinggi itu berdiri di depan pintu rumah. Skipper menoleh dan segera mendekati wanita itu.

"Bagaimana keadaan di sini? Apa sudah mendapatkan petunjuk mengenai motif dan pelaku?" tanya Skipper tanpa basa-basi ketika berbicara dengan wanita itu.

"Belum, sebaiknya kita lihat ke dalam. Aku sudah tahu kalian pasti datang," kata Kitka seraya berjalan memasuki rumah yang dibatasi oleh police line. Skipper dan yang lainnya mengikuti Kitka masuk ke dalam rumah Freddy.

Kowalski menyalakan jam tangan digitalnya dan mengarahkan sinar sensorik ke setiap penjuru ruangan. Private yang berjalan di sebelahnya memperhatikan Kowalski dengan seksama. Mereka berjalan melewati tangga yang dipenuhi bercak darah. "Kita menuju kamarnya," ujar Kitka ketika mereka hampir sampai lantai atas. Lantai atas rumah itu sangat berantakan. Para petugas sepertinya belum membereskan tempat itu untuk mendapatkan bukti. Sepertinya si pelaku mengobrak-abrik rumah ini.

"Apa kalian tidak menemukan sidik jari si pelaku?" tanya Kowalski sambil tetap mengarahkan sinar sensorik ke setiap barang yang ada di lantai atas.

"Itulah yang menjadi permasalahan mengapa kita belum menemukan petunjuk mengenai pelaku tindak kriminalitas ini," ujar Kitka seraya membuka pintu sebuah kamar, "kami tidak menemukan sidik jari atau jejak apapun dari si pelaku". Kamar Freddy pun berantakkan dan dipenuhi bercak darah. Menurut Kitka, ada kemungkinan ia dibunuh kemudian mayatnya disembunyikan.

"Well, this gonna be hard." gumam Skipper sambil mengamati seisi ruangan, "mendapatkan sesuatu, Kowalski?"

"Belum, sepertinya pelakunya ini orang yang sangat profesional. dan..." Kowalski terdiam dan tidak melanjutkan kata-katanya. Tiba-tiba saja ia terpikirkan sesuatu yang tidak-tidak. Ia teringat Flora. Kowalski merasa gelisah dan memiliki firasat tidak baik. Kowalski berusaha menenangkan diri, kemudian ia menoleh kepada Skipper yang pada saat yang sama, Skipper juga melihat ke arahnya.

Skipper berjalan mendekati rekannya itu dengan ekspresi yang tidak biasanya ia tunjukkan, "kau merasakan sesuatu yang aneh?"

Kowalski mengangguk.

"Aku juga..." kata Skipper dengan begitu yakin, "eer.. kenapa aku jadi merasa khawatir akan Flora?" gumamnya. Kowalski pun menunjukkan ekspresi yang menggambarkan bahwa ia juga merasakan hal yang sama. Tak lama kemudian, Private memanggil mereka karena menemukan sesuatu,

"umm.. Skippa, a-apa ini termasuk petunjuk?" tanya anak remaja polos itu sambil memegang sebuah kain yang berlumuran darah.

Skipper, Kowalski, dan Rico mendekati Private. Begitu pula dengan Kitka yang memang bertugas untuk menyelidiki kasus ini. Kowalski mengambil kain itu dari tangan Private dan membukanya. Lumuran darah itu, ternyata berbentuk sebuah kalimat yang ditulis menggunakan darah. Kowalski mencoba menangkap kalimat-kalimat itu, dan ketika ia membacanya, ia teringat akan sesuatu..

"...Aku akan melakukan hal itu, meskipun nantinya aku harus mengambil jalan pintas."

"Oh tidak... ini... ini perangkap, Skipper."

"Apa maksudmu Kowalski?"

Kowalski terdiam dan menunjukkan wajah yang sangat gelisah. Ia baru menyadarinya sekarang. Semua ini pasti di bawah rencana Blowhole, dan Blowhole akan mengambil kesempatan untuk menyusup ke laboratorium di rumahnya ketika mereka sedang tidak ada di rumah, "Kita harus kembali ke rumah, sekarang."

"Apa maksudmu?"

"Aku yakin ini ulah Blowhole. Kau merasakan kejanggalan pagi tadi ketika tiba-tiba seseorang bernama Freddy Scuierell meneleponmu dan tak lama kemudian muncul berita kalau Freddy diculik, iya kan? Kurasa Blowhole yang merencanakan semua ini. Ia membuat keributan macam ini dan membuat kita penasaran untuk menyelidikinya. Kemudian ia akan menyusup ke laboratoriumku untuk mencari jam ini dan menghancurkannya selagi kita tidak ada di rumah." kata Kowalski panjang lebar tanpa penjedaan yang jelas.

"Jadi ini hanyalah tipu daya saja? Bagaimana bisa?"

"Ia memiliki niat jahat, dan ia akan berani mengambil jalan pintas untuk menang..."

"Jadi... Flora dalam bahaya?"

To Be Continue...


A/N : Nah, that's all untuk chapter 5.. kayanya kepanjangan ya? maaf kalau ada bagian yang gak nyambung dan aneh. Dan... ada beberapa nama yang buatan aku sendiri, maaf jelek dan aneh.. (_ _)" Ya, jika ada kritik, saran, dan pendapat, silahkan sampaikan melalui Reviewnya.. terimakasih ~ hehe :P