The Only Hope For Me Is You

Characters :

Skipper McGrath, Kowalski Bennett, Rico DiMaggio, James Private, Marlene Sullivan, Alfred Blowhole, Officer X, Blowhole's army

OC :

Flora McGrath as Skipper's sister

Disclaimer :

I'm not own The Penguins Of Madagascar, it's belong to Dreamworks & Nickelodeon


Chapter 6 : George Washington Bridge

Dari sebuah rumah mungil bin unik, terdengar alunan lagu dari gitar yang dipetik dan suara nyanyian seorang gadis yang... ya, boleh dikatakan cukup merdu. Rintik hujan menjadi latar suasana tenang dan mengharukan nyanyian gadis itu. Berharap tidak terganggu oleh hal apapun, Marlene duduk di sofa super empuk di kamarnya sambil memetik gitar. Menyanyikan irama lagu kesukaannya sambil memandang ke luar jendela. Rintik-rintik hujan, tergambar di mata hijau turmalin-nya yang menunjukkan penghayatan suasana. Di luar rumah, tidak ada satu pun orang yang beraktivitas. Terlebih lagi banyak tetangga-tetangga yang sedang pergi ke luar kota dan bekerja di kantor mereka.

Ketika itu, kira-kira pukul 2 siang, terdengar suara-suara yang sedikit mengganggu dan tidak menyenangkan dari rumah seberang.

Sayup-sayup, Marlene mendengar suara itu disela-sela rintik hujan yang baru saja turun setelah beberapa jam sebelumnya sempat reda. Marlene menghentikan permainan gitarnya, berjalan ke arah jendela kamarnya dan membuka sedikit selambunya untuk melihat apa yang sedang terjadi di luar. Ketika Marlene membuka sedikit selambu kamarnya, ia melihat sebuah mobil Bentley Type-R Continental yang diparkir di depan rumah Skipper. Ia sempat mengira bahwa mobil itu milik tamu atau client Skipper. Marlene masih merasa penasaran dengan pemilik dari mobil itu, dan kalau tadi ia tidak salah dengar, tadi ia sempat mendengar suara orang yang berteriak. Tak lama kemudian, beberapa orang berjas hitam keluar dari halaman rumah Skipper. Salah seorang di antara mereka berkepala botak dan bermata aneh, satu orang lagi memiliki wajah berperangai buruk dengan rambut kemerahan. Orang itu membukakan pintu mobil bagian depan untuk sang lelaki bermata aneh. Ketika lelaki bermata aneh masuk ke mobil, orang yang membukakan pintu untuknya masuk kembali ke halaman. Beberapa saat kemudian, ia keluar membantu temannya menarik paksa seorang gadis yang yang bajunya dipenuhi bercak darah dan luka sayatan di pipi dan wajahnya. Gadis itu meronta, berusaha untuk melepaskan diri dan mencoba berteriak, namun mulutnya dibungkam dan kemudian gadis itu dipaksa masuk ke dalam mobil. Gadis itu... tak lain dan tak bukan adalah Flora...

Marlene terkejut dan pikiran-pikiran membingungkan bermunculan di benaknya, ia mulai merasa panik. Dengan gerak cepat, Marlene mengambil jaket hitam dan telepon genggamnya. Ia berjalan cepat menuju pintu depan rumahnya, dan keluar tepat saat mobil Bentley itu pergi membawa Flora. Marlene berlari mengikuti mobil itu, meskipun ia tahu ia tidak mungkin mengikuti mobil itu hanya dengan berlari kemudian berusaha membaca nomor polisi mobil itu. Ketika ia berlari ke tengah perempatan, sebuah taksi berwarna silver lewat dan dengan cepat Marlene menghentikan taksi itu. Marlene membuka pintu taksi dan segera masuk, "ikuti mobil Bentley itu, cepat!" desak Marlene kepada supir taksi. Hal itu sempat membuat supir taksi kebingungan, tetapi dengan reflek ia tancap gas dan mengejar mobil Bentley hitam itu sebelum mereka kehilangan jejaknya.


"Rico, take the wheel!" perintah Skipper ketika mereka hendak masuk ke dalam mobil. Meskipun firasat yang dirasakan Skipper dan perkiraan mengenai rencana Blowhole seperti yang dijelaskan Kowalski masih belum menjadi hal yang pasti, mereka tetap memiliki pemikiran untuk kembali ke rumah dan memastikan tidak ada hal buruk yang terjadi. Mendengar perintah Skipper, Rico segera mengambil alih kursi kemudi, Skipper di sampingnya, kemudian Kowalski dan Private duduk di kursi belakang. Rico menyalakan mesin, dan dalam sekejap, mobil itu melesat dengan kecepatan cukup tinggi di jalanan New York City. Seperti yang telah diketahui sebelumnya, Rico adalah tipe pengemudi mobil yang extreme dan "agak" gila. Jadi ia akan sangat berguna di saat genting/panik dan ketika mereka harus "kebut-kebutan".

"Kau yakin Blowhole telah menjebak kita, Kowalski?" tanya Skipper seraya memasang sabuk pengaman,

"Eeer... aku.. sebenarnya... tidak," kata Kowalski sambil memegangi kepalanya dan menjambak-jambak rambut sendiri.

"Heh? Maksudmu?"

"Aku... tidak tahu. Sejak Blowhole bilang ia akan melakukan apapun untuk mengalahkanku aku jadi tidak bisa berpikir jernih.. Tadi itu aku hanya, tidak bisa mengendalikan diriku." ujar Kowalski dengan begitu cemas."

Skipper menghela napas dan terdiam sejenak. Disampingnya, Rico memperlambat kecepatan mobil. "Jadi maksudmu tadi itu hanya ungkapan rasa takut dan cemas yang ada di dalam otakmu?... kau paranoid berlebihan, Kowalski. Seharusnya kau jangan mendengarkan apa yang dikatakan oleh Blowhole. Kita bisa kehilangan kasus kita kali ini." Kata Skipper dengan sedikit nada kecewa dalam kata-katanya.

"Skippah benar, Kowalski. Mungkin kau hanya sugesti dengan ancaman Blowhole. Seperti yang dikatakan nenekku, 'jangan dengarkan perkataan negatif orang terhadapmu karena hal itu akan merenggtu sebagian mimpimu dan ketenanganmu.' Percayalah, tidak akan ada hal buruk yang terjadi." Kata Private sambil menepuk-nepuk bahu Kowalski.

"Wow." Ujar Rico yang terkesan dengan ucapan anak remaja berusia 17 tahun itu.

"Terimakasih, Private. Dan.. maaf Skipper."

"Tidak apa-apa, Kowalski. Tapi lain kali jangan..." ...Telepon genggam Skipper berbunyi tanda ada panggilan masuk, mebuatnya tidak melanjutkan kalimat yang hendak ia ucapkan. Skipper mengambil telepon genggam itu dari saku celananya dan memeriksa panggilan itu.

'Incoming Call : Marlene'

Skipper mengernyitkan dahi, sedikit heran karena jarang-jarang Marlene meneleponnya kecuali jika ada hal yang benar-benar mendesak. Kemudian Skipper mengangkat panggilan masuk itu,

"Ada apa Marlene?" tanya Skipper langsung dengan nada datar seperti biasanya.

'Skipper!' Ujar Marlene dengan sedikit berteriak sehingga Skipper harus menjauhkan telepon genggam dari telinganya sejauh 5 cm, 'Seseorang... tidak, banyak orang.. membawa paksa Flora dari rumah! Dia diculik!' lanjut Marlene dengan panik.

"WHAT THE F - - ?" teriak Skipper dua kali lipat lebih keras, membuat telinga Rico sempat berdengung beberapa saat, "bagaimana bisa? Kau tahu siapa yang membawanya?"

'Seseorang berkepala botak dengan sebelah mata yang ditutup semacam alat. Aku sedang mengikuti mobilnya menggunakan taksi. Kami di jalan mengarah ke George Washington Bridge.'

"Blohwole?Damn! Baik Marlene, kami akan kesana." Sial! Kowalski benar! Untunglah kita hampir memasuki George Washington Bridge. Ujar Skipper di dalam hati.

'Mereka menggunakan mobil Bentley...'

"Type-R Continental berwarna hitam. Kami sudah tahu, terimakasih Marlene." Dengan wajah panik, Skipper menutup teleponnya dan menoleh kepada Rico, "Rico, Move Faster! Masuk ke George Washington Bridge, SEKARANG!" perintah Skipper dengan cepat kepada Rico. Mendengar perintah, Rico menginjak gas dan Chevrolet Camaro 2011 berwarna abu metalik itu melesat memasuki George Washington Bridge.

"Ada apa Skippah?" tanya Private dengan polos dan rasa ingin tahu yang besar.

Skipper terdiam dan menggigit bibir, "Kowalski, kau benar. Blowhole dibalik semua ini... ia... ia menculik Flora." Kata Skipper dengan suara tersendat.

Kowalski hanya bisa terdiam, mulutnya terkunci dan ia tidak tahu harus bagaimana. Ia menghela napas dan tidak dapat mengendalikan pikirannya. Ia sudah menduga bahwa Blowhole akan menjalankan rencana liciknya, cepat atau lambat. Tapi... satu yang ia tidak mengerti, apa tujuannya menculik Flora dan membunuh pelayan cafe bernama Freddy? Dan... kenapa harus Flora?

Rico mempercepat laju mobilnya ketika mereka memasuki George Washington Beridge. Sambil menjalankan mobil dengan kecepatan diatas batas yang seharusnya, ia mempertajam penglihatan untuk menemukan mobil Bentley hitam itu. Di sampingnya, ia bisa melihat wajah Skipper yang panik, cemas, campur aduk dan berkali-kali berharap mereka tidak kehilangan jejak.

"Itu Marlene!" teriak Private sambil menunjuk sebuah taksi berwarna silver yang juga melaju dalam kecepatan tinggi. Skipper segera membuka jendelanya ketika mobil mereka melaju di samping taksi yang ditumpangi Marlene, dan saat Marlene melihat, ia juga membuka jendela untuk memberitahu kemana arah Bentley itu pergi.

"Marlene!"

"Skipper! Bentley itu di sana! di depan mobil Hummer berwarna coklat tua!" teriak Marlene dengan sangat keras berusaha mengalahkan deru angin dan mesih mobil di jalanan.

Skipper menjulurkan kepalanya dan mencari-cari sebuah mobil Hummer. Ketika ia menemukannya ia mengangguk tanda berterimakasih kepada Marlene dan kemudian memberi perintah kepada Rico untuk menyalip diantara mobil-mobil lainnya. Rico kembali menancap gas dan membanting stir ketika melewati sebuah mobil Hummer coklat tua, untungnya mobil itu memberi jalan ketika Rico menyalipnya. Kini, mobil yang dikemudikan Rico itu tepat berada di belakang mobil Bentley yang dikendarai Blowhole. Di kursi belakang, Kowalski memperhatikan dengan serius namun rasa cemas terbesit di wajahnya. Ia pun mengeluarkan pistol dari balik jaketnya.

"Punya ide untuk menghentikan mobil itu, Kowalski?" Tanya Skipper ketika sepertinya pengemudi Bentley itu sadar kalau mobilnya diikuti, maka ia menambah kecepatan Bentley yang dikendarainya.

"Punya. Sedikit berbahaya tapi jika dengan perhitungan tepat…" kata Kowalski dengan kata-kata terpotong. Ketika Skipper menoleh ke arah Kowalski, Kowalski sudah membuka jendelanya dengan lebar dan mengeluarkan sebagian tubuh. Tangannya mengarahkan sebuah pistol ke salah satu ban mobil Bentley itu. Kowalski menarik pelatuknya beberapa kali. "Rico, sedikit lebih cepat!" seru Skipper.

Kowalski kembali menarik pelatuk pintonya, tetapi berkali-kali meleset karena mobil Bentley itu berhasil menghindar dengan mulus.

"Kau yakin itu tidak akan membahayakan Flora?" Tanya Private yang sebenarnya panik makanya ia tidak melakukan apa-apa.

"Kurasa tidak. Pengemudi mobil itu terlalu hebat jika dilihat dari cara ia menyetir. Jika aku bisa mengenai ban belakangnya, saat mobil itu kehilangan kendali, Rico harus menyusul mobil itu dan membuatnya terpaksa berhenti." Kata Kowalski menjelaskan.

Tiba-tiba, Seseorang dari dalam Bentley menjulurkan kepala dan tangannya. Ia mengarahkan pistol ke belakang tepat ke arah mobil Skipper. Ketika letusan peluru itu hampir mengenai kaca mobil, Rico menghindar dengan reflek yang begitu cepat. "Aku lebih hebat darimu! Bast**d!" teriak Rico ketika ia mengunci kendali terhadap mobil yang ia kendarai.

Skipper juga mengeluarkan pintol dari balik jasnya yang berwarna coklat tua. Ia membuka jendela dan membalas tembakan orang yang ada di mobil Bentley di depannya itu. Ketika ia hendak menarik pelatuknya, niatnya urung ketika ia melihat Flora yang berteriak minta tolong kepadanya dari balik kaca mobil Bentley itu. Skipper menutup kembali jendela mobilnya dan kemudian memukul jendelanya. "Sial!" gerutunya. Meskipun ia sudah mendengar sendiri dari Kowalski sang ahli statistik kalau hal itu tidak akan terlalu berbahaya selama Rico juga bisa mengendalikan mobilnya untuk menghentikan Bentley itu, Skipper tetap tidak yakin.

Kedua mobil itu, Bentley dan Camaro, melaju dengan kecepatan tinggi di George Washington Bridge, membuat pengendara mobil lainnya harus waspada dan menghindar tepat pada waktunya. Karena kalau tidak, mereka bisa tertabrak atau lebih parah lagi, terkena tembakan peluru dari pistol yang dibawa para pemilik mobil "gila" itu.

"Kowalski, apa ada rencana yang lain?" Tanya Skipper dengan rasa cemas yang terdengar dari nada bicaranya.

"Aku sedang memikirkannya." Desah Kowalski.

Rico mulai merasa kesal karena di jembatan tersibuk di dunia ini ia kesulitan untuk menyusul Bentley yang ada di depannya. Ia mulai menggerutu dan untuk pertama kalinya, mengusulkan ide yang bagus, "kita harus memancingnya ke tempat sepi." Ujar Rico dengan rasa kesal.

"Kau benar!" seru Kowalski, "tapi kita harus…"

BRAAK!

"AAAAARGH!"

Sebuah mobil Hummer berwarna coklat tua menabrak mobil mereka dari samping. Rico sempat kehilangan kendali atas mobil mereka, tetapi untungnya, ia segera membanting stir dan sempat meloloskan diri dari hantaman mobil Hummer itu.

"Gila! Apa maksudnya itu?" gerutu Skipper sambil berpegangan ke kursinya. Ia yakin pasti orang yang mengendarai mobil Hummer itu adalah kaki tangan Blowhole.

BRAKK!

Mobil Hummer itu kembali menghantam mobil mereka. Berkali-kali. Terus-menerus, Rico hampir kehilangan kendali atas mobil yang ia kendarai. Lagi dan lagi, mobil it uterus menghantam mobil mereka hingga terseret ke arah berlawanan. Mobil itu berputar dengan suara gesekan ban mobil dengan jalanan, menimbulkan suara yang memekakan telinga. Mobil-mobil dari arah berlawanan membunyikan klakson mereka dan berusaha menghindar dari mobil Camaro yang hilang kendali itu. Kowalski memejamkan matanya sambil berpegangan dan berusaha menyusun rencana agar mereka bisa mengejar kembali mobil Bentley itu. Di sampingnya, Private berpegangan sambil berteriak histeris karena panik. Rico menginjak pedal rem dan berusaha memutar stirnya untuk mendapatkan kembali kendali atas mobilnya. Tetapi…

Dari arah berlawanan, sebuah truk yang cukup besar melaju dengan kecepatan tinggi. Ketika Rico melihat truk itu meluncur ke arah mereka, tiba-tiba saja tangannya mati rasa dan tidak dapat digerakan. Dan…

"AAAAAAAAAARRGH!"

Truk itu menghantam Camaro yang dikemudikan Rico, yang seketika kehilangan kendali dan menabrak pembatas jembatan hingga hancur. Kemudian...

Mobil itu masuk ke laut di bawah jembatan…. tanpa meninggalkan bekas sedikitpun, kecuali darah yang kini bercampur air laut.


A/N : yah inilah dia chapter 6.. maaf jika membingungkan, gak nyambung, dan banyak yang salah ketik. Dan mobil-mobil yang ada di chapter ini… tidak bermaksud untuk dipromosikan, heheh =D Untuk kritik, saran, dan pendapatkan, silahkan sampaikan melalui review. Chapter selanjutnya segera menyusul. Thanks ~ ^^