Summary : Kazemaru terluka, dan di desa tempat mereka meminta bantuan, Gouenji bertemu seseorang. Ujian pun tampaknya akan jadi lebih panjang dari yang mereka pikirkan. CH 2 UPDATED!

ViVa Warrior! Ch. 2

By : Neko-cii

Disclaimer : Level - 5

"ICHIROUTAAA!" Mamoru berteriak saat melihat Ichirouta tak sadarkan diri. Wajah Ichirouta perlahan – lahan menjadi lebih pucat dan lebih pucat lagi. Melihat hal itu, Mamoru mulai menggungang – guncangkan tubuh Ichirouta panik. Yuuto mengambil peta dari saku celana Ichirouta dan mengamatinya.

"Ada satu desa di antara Hutan Utara dan North City. Mungkin kita bisa meminta bantuan dari desa itu." Kata Yuuto. Mamoru segera membawa Ichirouta di punggungnya. "Kalau begitu ayo kita kesana!" ujar Mamoru. Tiba – tiba Shuuya datang dengan sebuah tumbuhan di tangannya.

"Lebih baik kita memberi pertolongan pertama dulu. Seperti yang tadi Kazemaru bilang, racun Serpentarius sangat berbahaya." Jelas Shuuya.

"Memangnya itu tumbuhan apa?" Tanya Mamoru.

"Ini Pana Herb, bisa menawar racun dari Serpentarius. Tumbuhan ini banyak tumbuh di hutan ini." Shuuya menjelaskan lagi.

"Hutan ini cukup adil ya." Yuuto berargumen. "Hee? Maksudnya adil?" Mamoru menampakkan wajah bingungnya. "Ya, di hutan ini ada Serpentarius dan racunnya yang berbahaya, tapi di sini juga ada tumbuhan yang bisa menawar racunnya. Hutan ini adil 'kan?" Mendengar penjelasan itu, Mamoru cuma angguk – angguk.

"Jadi bagaimana cara kerjanya?" Tanya Mamoru akhirnya. Tanpa banyak bicara Shuuya memasukkan daun tumbuhan itu ke dalam mulut Ichirouta dan tanpa menyadari bahwa fangirl yang membaca adegan ini bisa menganggap ini hints ShuuIchi. Oh, ayolah….

"Nah, sekarang, ayo kita ke desa itu." Usul Shuuya. Kelompok 3 pun segera menuju ke desa tanpa nama itu

xxxxxxx

Desa itu hanya desa kecil, tapi tampak sangat rapi dan terawat. Orang – orangnya juga terlihat ramah. Saat melihat Mamoru yang menggendong Ichirouta yang masih tidak sadarkan diri, seorang gadis yang tidak sengaja sedang berada di dekat gerbang masuk segera menghampiri mereka.

"Apa kalian butuh dokter?" Tanya gadis dengan rambut pendek cokelat itu. "Ya, bisakah kau mengantar kami?" jawab Mamoru cepat. Gadis itu tersenyum dan mengantar mereka ke dokter. Shuuya, Yuuto dan Sakuma mangikuti mereka.

Akhirnya mereka sampai di rumah dokter di desa itu. Gadis itu masuk ke rumah itu dan kemudian keluar bersama seorang pria dengan jas dokter. Shuuya sedikit menampakkan ekspresi terkejut tapi teman – temannya tidak menyadarinya.

"Jadi mereka temanmu, Shuuya?" tanya pria itu. Shuuya mengangguk. Mamoru pun bingung dibuatnya.

"Halo, Ayah." kata Shuuya singkat. "Jadi siapa yang sakit?" tanya ayah Shuuya. Shuuya menunjuk pada Ichirouta yang masih tidak sadarkan diri. "Racun Serpentarius." Ayah Shuuya hanya menggumam tak jelas lalu menyuruh Mamoru membawa Ichirouta masuk ke ruangannya.

"Dia ayahmu?" tanya Yuuto setelah Mamoru masuk ke ruangan kerja si dokter. Shuuya mengangguk tanpa bicara apa – apa. "Pantas kau tahu soal Pana Herb." Saat Yuuto dan Shuuya sedang berbicara, masuklah seorang gadis kecil. Saat melihat Shuuya, gadis kecil itu langsung memeluknya. "Nii-san!" katanya.

"Yuuka? Apa yang kau dan ayah lakukan di desa ini?" Tanya Shuuya bingung karena melihat adiknya juga berada di desa itu. Yuuka mengangkat bahu. "Aku tidak tahu. Waktu itu, saat Yuuka dan ayah di kota, ayah membangunkan Yuuka yang sedang tidur lalu ayah mengajak Yuuka ke desa ini." Mendengar perkataan adiknya, Shuuya mengernyitkan dahi. 'Ada apa di kota?' pikirnya.

Tak lama kemudian, ayah Shuuya keluar dengan Mamoru dan Ichirouta yang sudah sadar. "Dia beruntung sudah dapat pertolongan pertama. Racunnya sudah menghilang, tapi kusarankan dia beristirahat dulu semalam karena semua skill-nya tidak dapat digunakan," jelas ayah Shuuya. "tapi skill-nya akan bisa digunakan lagi kira – kira besok."

"Kudengar racun Serpentarius memang bisa membekukan skill." gumam Yuuto. Mereka pun pamit dari rumah itu dan mencari penginapan. Ayah Shuuya sudah memaksa mereka untuk tinggal tapi mereka bersikeras untuk mencari penginapan saja. Kelompok 3 pun pergi.

Di penginapan, Shuuya memikirkan perkataan adiknya. 'Apa yang terjadi?' pikirnya. 'Kenapa ayah harus mengajak Yuuka keluar dari kota?' Akhirnya, malam itu, Shuuya tidak sekalipun memejamkan matanya.

Keesokan harinya, Shuuya melihat Yuuka bermain dengan gadis berambut coklat yang kemarin mengantar mereka ke dokter. Shuuya mengenalinya sebagai Aki, tetangganya saat mereka di kota dulu. Shuuya hendak mendekati mereka saat tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya. "Hei, Shuuya, kau masih ingat aku?" kata orang itu. Shuuya juga mengenalinya. Dia Kogure, teman bermainnya dulu. 'Kenapa mereka ada di sini?'

Shuuya semakin heran. Dia menyadari bahwa banyak orang yang berasal dari kota yang sama dengannya. Akhirnya Shuuya memutuskan bertanya pada Aki.

"Hai, Shuuya!" kata Aki saat Shuuya mendekat.

"Aki, aku ingin menanyakan sesuatu padamu. Ikut aku." kata Shuuya. Aki bisa menebak apa yang hendak ditanyakan Shuuya, maka ia pun setuju. "Tunggu di sini ya, Yuuka."

"Ada Apa, Shuuya?" Tanya Aki saat mereka berdua saja. Shuuya berdiri membelakangi Aki.

"Apa yang terjadi di kota? Kenapa banyak orang dari kota yang pindah kemari?" seakan sudah memperkirakan pertanyaan itu, Aki menghela napas.

"Kota kita sudah hancur, Shuuya." Kata Aki tenang. Shuuya terkejut meski ekspresinya tidak berubah banyak. Aki melanjutkan ceritanya. "Seorang archer jahat telah menyerang kota kita. Dia ditemani seorang wizard. Mereka menyerang kota kita, sepertinya mencari sesuatu. Aku tidak tahu mereka mencari apa, tapi mereka tidak menemukannya. Sebelum mereka meninggalkan kota, si wizard meledakkan kota sehingga kita terpaksa mengungsi." Shuuya masih diam. "Kota kita sudah hancur. Tanpa sisa." Aki menyelesaikan ceritanya. Shuuya beranjak dari tempat itu tanpa berkata apa-apa.

Siang itu, sihir Ichirouta sudah bisa digunakan. Kelompok 3 pun segera melanjutkan perjalanan. Saat mereka sedang bersiap di gerbang desa, Aki menghampiri mereka. Sepertinya dia berlari karena dia cukup banyak berkeringat.

"Ini obat-obatan. Siapa tahu kalian butuh. Ambillah." Kata Aki sambil menyodorkan sebuah tas yang tidak terlalu besar. Mamoru menerimanya.

"Terima kasih." Kata Shuuya, lalu mereka berangkat.

Xxxxxx

Saat mereka sedang melewati sebuah dataran, seekor burung pembawa pesan hinggap di pundak Sakuma. Sakuma langsung membaca pesan itu. Selesai membacanya, Sakuma mengernyitkan dahi. Menyadari perubahan ekspresi Sakuma, Ichirouta pun bertanya, "Apa terjadi sesuatu?" Sakuma menggeleng.

"Sebaiknya kita lanjutkan saja perjalanannya." Sahut Sakuma. Ichirouta, Shuuya, Yuuto, dan Mamoru pun melihat Sakuma dengan tatapan aneh.

"Ayo, cepat!" saran Sakuma pada 4 orang itu. Mereka pun melanjutkan perjalanan sampai tiba-tiba kabut tebal muncul, menghalangi penglihatan mereka.

"Aneh, bukannya di Dataran Utara seharusnya tidak ada kabut?" komentar Ichirouta heran. Shuuya dan Yuuto menyiapkan senjata mereka, berjaga-jaga siapa tahu ada yang akan menyerang.

"KAAAAAK!" terdengar pekikan keras dari arah belakang mereka. Mereka pun berbalik dan melihat sesosok siluet di balik kabut.

"Wind Blade!" Ichirouta segera menggunakan sihirnya dan mencoba menyerang siluet itu.

"KAAAAAKK!" sepertinya sihir Ichirouta berhasil mengenainya. Perlahan-lahan kabut menghilang dan muncullah sesosok monster yang tidak terlalu besar dengan banyak tentakel di punggungnya. Yuuto langsung menembakkan anak panahnya kearah monster itu. Monster itu membalas dengan menyabetkan salah satu tentakelnya, tapi Yuuto menghindar. Mamoru maju dan menyerang monster itu, tidak mempedulikan tentakel makhluk itu yang terus menyerangnya.

"Sudah cukup, Mamoru! Mundurlah!" perintah Sakuma yang melihat luka-luka di tubauh Mamoru. Mamoru pun mundur sampai cukup jauh dari monster itu.

"Wind Wave!" Ichirouta menggunakan sihirnya, menghasilkan gelombang angin yang melaju dengan cepat. Namun Ichirouta kaget saat melihat Shuuya berada di jalur sihirnya.

"Shuuya, ming–" Ichirouta tidak melanjutkan kata-katanya karena ternyata sihirnya terserap masuk ke pedang Shuuya. Shuuya menghunuskan pedangnya ke tubuh monster itu dan monster itu memekik karenanya. Tapi itu belum selesai.

Dari pedang Shuuya–yang masih tertancap di tubuh si monster– muncul hembusan angin yang sangat kencang dan membuat tubuh si monster tercabik-cabik.

"Apa… yang terjadi?" gumam Ichirouta bingung. Shuya, Yuuto, dan Mamoru menatap Ichirouta bingung.

"Itu disebut 'Fusion'," kata Sakuma tiba-tiba. "akan kujelaskan nanti. Ayo, lanjutkan perjalanan." Sambungnya. Ichirouta menatap Sakuma sambil memicingkan mata. "Aku janji." Kata Sakuma sambil tersenyum. Ichirouta pun menyerah dan mereka melanjutkan perjalanan lagi.

Xxxxxxx

Malam itu, jam 9 malam–menurut perhitungan Yuuto–, mereka masih berjalan di Dataran Utara. "Sebentar lagi kita sampai di North City." Kata Ichirouta sambil memperhatikan peta.

"Akhirnya…." ujar Mamoru sambil menepuk dadanya.

Sekitar 30 menit kemudian, mereka sudah bisa melihat benteng North City. Mereka pun berlari supaya mereka bisa cepat sampai.

"Akhirnya, North Ci–" sorakan senang Mamoru pun terputus saat melihat pemandangan di depan matanya.

Saat ini, di hadapan mereka, yang terlihat bukanlah North City yang memiliki gedung-gedung tinggi, lampion-lampion dengan bentuk yang menarik, ataupun sekedar orang-orang yang berjalan-jalan di sekitar kota. Melainkan sebuah kota yang ditinggalkan dan sudah habis terbakar.

"Apa yang sebenarnya sudah terjadi?"

To Be Continued

A/N: maafkan apdetan siput saya ini, ya…. Saat ini saya hanya bisa mengatakan…. REVIEW, YAAAAA~ #capslockabuse