ViVa Warrior!

By

Kuroi-Neko-cii

Disclaimer

Level-5

Di hadapan kelompok 3, kini yang terlihat bukanlah North City yang besar, megah dan ramai, melainkan sebuah kota yang habis terbakar dan telah ditinggalkan.

"Apa yang terjadi?" gumam Yuuto.

"Ayo, kita lihat saja dulu," ujar Mamoru sebelum ia berlari melewati gerbang kota yang setengah hancur. Yang lain mengikuti.

xxxxxxxxx

"Semuanya habis terbakar," komentar Ichirouta sambil melihat sekeliling. North City benar-benar sudah rata dengan tanah.

"Mungkin," gumam Shuuya, "pelakunya adalah orang yang sama."

"Orang yang sama bagaimana?" respon Mamoru. Shuuya mengangguk lalu menceritakan apa yang terjadi di kotanya.

"Jadi, maksudmu, mungkin pelakunya adalah orang yang sama dengan yang sudah menyerang kotamu?"

"Mencari sesuatu…"gumam Sakuma yang kemudian tampak menyadari sesuatu. Dia mengambil kertas dan pena lalu menulis sesuatu dan memberikannya pada burung pembawa pesan.

"Ada apa?" Tanya Yuuto.

"Dengar, kalau dugaanku benar, saat ini kita dalam keadaan yang benar-benar serius. Untuk mengetahui benar atau tidaknya, kita harus menyelidiki," jelas Sakuma, "dan mungkin kita membutuhkan lebih dari 5 hari, untuk mengetahui semuanya dan membawa kembali adamantine." Semua yang mendengarkan mengangguk pelan.

"Saat ini, aku sedang melaporkan ini ke akademi."

"Nah, bagaimana kalau sekarang kita berpencar dan menyelidiki kota ini?" usul Ichirouta.

"Boleh juga. Baiklah," kata Yuuto diikuti anggukan yang lain. Mereka pun berpencar.

xxxxxxx

"Hmm…. Sudah kuduga," gumam Natsumi setelah membaca laporan dari Sakuma.

"Ada apa, Natsumi-san?" Tanya Fuyuka, asisten Natsumi.

"Tidak apa-apa. Hanya sesuatu yang terjadi di North City. Kau tahu? Ledakan itu…," komentar Natsumi datar.

"Kalau begitu, bukankah itu berarti 'apa-apa'? Mereka sudah bergerak, loh," timpal Fuyuka. Natsumi menghela napas.

"Ya, aku tidak mungkin membiarkan mereka begitu saja, tapi aku juga tidak mungkin memperpanjang batas waktu ujian…," kini Natsumi memandangi laporan dari Sakuma, "kelompok 3 sudah berada di North City, dan melihat keadaannya yang hancur lebur, mereka berniat menyelidiki…"

"Kalau begitu, bagaimana dengan mengirim bantuan?" usul Fuyuka.

"Bantuan…" Natsumi tampak menimbang-nimbang. "Kelompok mana yang posisinya paling dekat dengan kelompok 3" Tanya Natsumi akhirnya.

"Yang paling dekat dengan kelompok 3…," Fuyuka memperhatikan catatannya, "kelompok 5. Divisi knight, Otonashi Haruna. Divisi monk, Tachimukai Yuuki. Divisi archer, Tsunami Jousuke. Divisi wizard, Terumi Afuro. Pengawas, Kudou Michiya."

"Baiklah, kirim pesan agar mereka segera menuju ke North City

xxxxxxx

ZRAAAAAAAAASSSHH…

"Awas, aku mau lompat!" seru seorang pemuda yang sekarang tengah berlari, lalu melompat dari batu dan…

…BYUR!

Masuk ke air.

"Argh! Hei, Tsunami, airnya kemana-mana, nih," protes Haruna yang duduk di pinggir sungai, meratapi rambut dan pakaiannya yang sedikit basah karena cipratan air.

"Maaf. Maaf! Ayo, Terumi, Tachimukai, kalian juga!" kata Tsunami.

"Ah, tidak," balas Terumi yang bersandar di sebuah pohon.

"Aku juga, di sini saja," tolak Tachimukai halus. Ia duduk di samping Haruna dan merendam kakinya di sungai.

"Ya sudah," Tsunami kembali berenang lagi.

Pengawas mereka, Kudou, hana duduk di sebuah batu tak jauh dari sungai tempat mereka beristirahat. Dia tidak sedang melakukan apa-apa saat seekor burung pembawa pesan muncul tiba-tiba di hadapannya. Ia mengambil surat itu lalu membacanya.

"Hei," kata Kudou, "sepertinya kita akan sedikit berputar halauan," sambungnya.

"Maksudnya?" Haruna meminta penjelasan. Kudou mengangkat kertas yang baru saja diterimanya.

"Kita akan ke North City."

xxxxxxx

"Gouenjiiii….. aku lapar…," keluh Mamoru yang kini berjalan dengan posisi membungkuk.

"Aku juga, tapi kita tidak bias menemukan apa-apa di sini," kata Shuuya sambil menoleh kanan-kiri.

"Gouenjiiiii…. Aku benar-benar lapar…," kata Mamoru lagi. Dia berhenti berjalan lalu memandangi Shuuya dari atas ke bawah. Merasa diperhatikan, Shuuya pun juga berhenti.

"Endou?"

"Ya?"

"Kau tidak akan memakanku, 'kan?"

"…" Yak, bisa kita lihat sweatdrop yang dihasilkan oleh Mamoru.

Mari kita simpulkan sesuatu. Dalam tingkat kelaparan yang sama, Shuuya bisa saja lebih lemot dari Mamoru. Oke, fans Shuuya yang di sana, bisa kalian turunkan pisau kalian?

xxxxxxx

"Benar-benar hancur," komentar Yuuto singkat. Ichirouta hanya diam sambil melihat-lihat sekitar. Semuanya hangus. Bangunan, taman-taman, papan-papan pengumuman, bahkan ada juga mayat yang terbakar. Mengenaskan, batin Ichirouta.

"Kalau pelakunya benar-benar orang yang sama…," kata Ichirouta akhirnya, "mereka benar-benar tidak berotak."

"Ya, sebenarnya aku juga bingung. Kalau mereka mencari sesuatu, tidak bisakah mereka mencari data dulu sebelum menghancurkan sesuatu seperti ini? Asal-asalan sekali," argument Yuuto.

"Siapa kalian?" Tanya sebuah suara, tidak diketahui siapa yang mengatakannya.

"Apakah kalian bagian dari mereka?" Tanya suara lain yang lebih lembut. Yuuto dan Ichirouta melihat sekeliling untuk mencari sumber suara.

"Ternyata masih ada yang selamat," komentar Yuuto pelan.

"Bagian dari siapa? Apa maksudnya?" Tanya Ichirouta. Tak lama kemudian, seorang anak berumur sekitar 5 tahun keluar dari persembunyiannya.

"Kalian bukan orang jahat, 'kan?" Tanya anak berambut keabu-abuan itu sambil menarik-narik baju Ichirouta.

"Bukan, kami bukan orang jahat," jawab Ichirouta sambil mengusap kepala anak itu. Anak itu tersenyum lebar.

"Tidak apa-apa, Atsuya, mereka orang baik!" ujar anak itu senang. Seorang anak lain memunculkan kepalanya dari persembunyiannya.

"Benarkah?" Tanya anak itu. Yuuto mengangguk.

"Tidak apa-apa, kemarilah," kata Yuuto. Anak itu segera menghampiri saudaranya.

'Anak-anak ini kembar?' Tanya Ichirouta dalam hati. Dia memperhatikan kedua anak itu. Selain warna rambut dan mata mereka yang berbeda, mereka mirip.

"Siapa nama kalian?" Tanya Yuuto

"Aku Shirou," jawab anak yang berambut keabu-abuan. Melihat saudaranya diam saja, dia menyikutnya.

"Iya, iya. Aku Atsuya. Kalian siapa?"

"Kami ini–"

"Itu dia, si kembar Fubuki!" terdengar suara lain.

"Ah, itu dia, kakak-kakak baik!" ujar sepasang anak kembar itu kompak lalu berlari menghampiri orang-orang itu.

"Kalian tidak apa-apa?" Tanya salah seorang dari mereka, Shinichi Handa. Anak-anak itu mengangguk.

"Jangan berkeliaran begitu, dong!" sahut yang lain, Someoka Ryuugo. "Max, bawa mereka!" Setelah mendengar itu, salah seorang dari mereka membawa pergi.

"Ayo, kita kembali," kata seorang yang dipanggil Max itu. Max dan sepasang anak kembar itu pun pergi.

"Lalu, kalian," kata Someoka sambil menatap Ichirouta dan Yuuto bergantian, "siapa kalian?"

"Kami dari akademi–"

"Ah, ujian akhir akademi Raimon," potong Someoka, "sayang sekali kami tidak bisa percaya!" Someoka langsung berlari dan mengacungkan tinjunya.

"EH? TAPI KENAPA?" Ichirouta mulai panik.

"Karena mereka juga mengatakan hal yang sama!" Someoka tetap berlari, berniat menyerang kedua orang dari akademi itu…

…sebelum tiba-tiba sebuah anak panah melesat tepat di depan Someoka dan membuatnya berhenti.

Semua mata tertuju pada anak panah yang tertancap di salah satu bangunan yang hangus itu. Lalu mereka beralih mencari orang yang menembakkan anak panah itu.

Di sanalah, seorang Tsunami Jousuke berdiri menenteng busurnya, menatap ke arah sekelompok orang yang sedang bersitengang dengan tatapan yang seolah mengatakan, "My shoot is faster, or my name is not Tsunami Jousuke."

…Tunggu, perasaan saya pernah tahu kata-kata seperti itu, deh…

"Hey, archer dan wizard di sana! Kami datang membantu!" seru Tsunami, lalu teman-temannya muncul.

"Mana yang lainnya?" Tanya Haruna.

"Kami berpencar," sahut Yuuto.

"Kalau begitu, beritahu mereka," kata Terumi sambil mengangkat tangannya,"kita sudah siap menyelidiki kota ini!" Dan Terumi pun menembakkan seberkas sinar ke udara.

Tachimukai yang dari tadi hanya memperhatikan, menyadari Someoka dan Shinichi yang hanya bengong memperhatikan

"Ada apa?" Tanya Tachimukai.

"Jadi, kalian… benar-benar dari akademi?" Tanya Shinichi balik. Semua yang berasal dari akademi langsung tersenyum dan kompak berseru,

"Ya!"

To Be Continued

A/N: Iya, saya tahu, apdetan saya ini lebih lambat dari siput. Iya, saya tahu, saya ini nggak konsisten, sebentar-sebentar pake nama depan, sebentar-sebentar pake nama keluarga. Maka dari itu, siksa saja saya, bunuh saja saya #pundung But, Anyway, Review? Komen? Saran? Kritik? Monggo silahkan. Flame(kalo ada, semoga sih ngga ada…)? Please Log-in, be gentle! Myaw~