The Only Hope For Me Is You

Characters :

Skipper McGrath, Kowalski Bennett, Rico DiMaggio, James Private, Marlene Sullivan, Kitka Greyvander, Alfred Blowhole, Officer X, and Blowhole's Army

OC :

Flora McGrath as Skipper's sister

Disclaimer :

I don't own The Penguins of Madagascar, it's belong to Dreamworks & Nickelodeon


Chapter 8 : The Plan and The Mission

Mereka berhenti di di samping sebuah bangunan. Bangunan itu cukup besar dan tinggi. Dari luar, terlihat begitu mengerikan dan tidak terawat. Hampir seluruh jendela yang ada tertutup, atau... sebenarnya sengaja ditutup menggunakan kayu-kayu. Hening... bagaikan tidak ada kehidupan di dalamnya, layaknya rumah yang tak berpenghuni.

"Kau yakin ini tempatnya?" tanya Skipper.

"Ya, aku yakin," jawab Kowalski seraya mengangguk pasti, "pasti di sini, dan seharusnya begitu."

"Baiklah kita masuk..."

"Kita harus berpencar," kata Kowalski, menyarankan kepada pemimpinnya itu.

Skipper menatap kowalski sesaat, ikut memikirkan usul dari anak buahnya itu, "kukira kita tidak perlu berpencar. Punya rencana lain?"

Kowalski terdiam sejenak, kemudian berjalan perlahan. Dari ujung tembok, ia menolehkan sedikit kepalanya untuk melihat pintu depan gedung itu. Tak begitu jelas, namun kowalski dapat melihat beberapa orang berpakaian seragam yang kelihatannya sedang berjaga di bagian depan gedung itu. Kowalski terus mengawasi, sampai ketika salah seorang dari mereka hampir menangkap kehadirannya, ia segera berbalik menyembunyikan dirinya di balik tembok. Ia pun kembali mendekati Skipper, Private dan Rico.

"Bagian depan gedung ini ada yang menjaga, kita akan mengalami kesulitan jika kita memaksakan diri untuk lewat depan." Ujar Kowalski.

"hmm.. jadi kau punya rencana?" tanya Skipper kemudian.

"Ada," Kowalski pun mulai menjelaskan, "jika di bagian depan bayak orang yang menjaga, itu berarti di dalam akan lebih banyak lagi anak buah Blowhole yang berkeliaran. Kurasa kita harus menggunakan umpan agar perhatian mereka teralihkan."

"Jadi intinya kita harus berpencar," kata Skipper menyimpulkan, "baiklah, kita masuk lewat pintu belakang. Rico, Private, kalian harus bisa menarik perhatian mereka ketika kita masuk."

"Tepat sekali, tapi kita harus masuk bersama-sama terlebih dahulu. Setelah kita berpencar, kita lakukan tugas masing-masing. Aku dan Skipper akan mencari Flora dan menyelamatkannya secepat mungkin." lanjut kowalski.

Private dan Rico mengangguk mengerti mendengar rencana itu. Kemudian, mereka segera bergerak untuk menjalankan misi.


"Bos, kita kedatangan tamu," lapor seorang petugas berkepala botak dan berkacamata hitam – officer X.

Blowhole hanya menolehkan kepalanya kepada anak buahnya itu, terdiam... kemudian menyeringai seperti iblis, "sudah kuduga"

"bagaimana dengan jebakannya?"

"Itu akan jadi kejutan untuk mereka.. hmm.. atau lebih tepatnya lagi untuknya." Kata Blowhole seraya berjalan menuju kursinya di ruangan tersembunyi itu, kemudian ia duduk.

"Sepertinya akan menjadi pertunjukan menarik."

"Ya, kuharap anak buahku dapat mejalankan skenario dengan baik. Berpura-pura kalah, namun sebenarnya menuntuk tamu kita kepada sesuatu yang lebih menyenangkan" ujar Blowhole.

Dan mereka berdua pun tertawa jahat.


Sebuah koridor menyambut Skipper, Kowalski, Rico dan Private ketika pintu belakang gedung itu dibuka. Koridor itu sepi, dengan penerangan seadanya, koridor itu terlihat remang-remang. Rico menutup kembali pintu itu ketika Skipper dan yang lainnya melangkah masuk, kemudian, Rico mengikuti mereka. Skipper berjalan mengendap-endap di samping tembok koridor gelap itu. Kowalski, Private, dan Rico mengikuti Skipper dari belakang. Mereka terus berjalan hingga ujung koridor dan kemudian Skipper berhenti.

"Kau menemukan sesuatu yang mencurigakan, kowalski?" tanyanya.

Kowalski menggelengkan kepalanya, kemudian ia melihat ke sekeliling. Ia mempertajam penglihatannya dan mulai mengawasi. Private hanya terdiam memperhatikan Kowalski, sedangkan Rico mengeluarkan sebuah revolver dari balik jaketnya dan melangkah ke paling depan untuk berjaga di ujung koridor.

"Sejauh ini aman." Ujar kowalski '...tapi, apa yang membuat tempat ini sepi?'

"Baiklah, sekarang belum ada satupun dari anak buah Blowhole yang datang. Kalau begitu Rico, Private, kalian ke koridor kanan. Usahakan kalian memeriksa pula setiap tempat yang memungkinkan. Kowalski kau ikut aku." Kata Skipper memberi pengarahan. Rico dan Private mengangguk mengerti.

.

.

.

.

.

Private dan Rico berjalan menyusuri sebuah koridor di lantai dua, kali ini koridor yang lebih sempit namun cukup penerangan. Dengan wajah cemas, Private mengikuti Rico yang berjalan dengan sigap tanpa suara, melangkahkan kakinya di atas lantai keramik yang mengkilat.

"Aneh," gumam Private kemudian.

"Apanya?" tanya Rico seraya menoleh kepada remaja polos di belakangnya itu.

Private terdiam sebentar dan melihat sekeliling, kemudian mengembalikan pandangannya kepada Rico yang menatapnya heran, "Apa menurutmu kowalski keliru?"

"Maksud?"

"Maksudku, tempat ini sepi sekali. seperti gedung yang sudah lama tidak dipakai. Lagipula.. eer.. aku tidak suka tempat ini." ujar Private.

Mendengar pernyataan itu, Ric hanya mengangkat bahu, kemudian ia meneruskan apa yang sebelumnya ia lakukan. Private hanya menghela napas dan mengikuti lagi Rico sampai akhirnya ia berhenti melangkah. Sesuatu telah menarik perhatiannya.

Private tertegun, memandang dengan penasaran sebuah pintu di hadapannya yang kini terbuka sedikit. Rasa penasaran pun menguasai pikirannya. Akhirnya ia memanggil Rico dan menunjukkan pintu itu kepadanya.

"Apa?"

"Aku... entahlah, pintu ini membuatku merasa penasaran," ungkap Private kepada Rico.

Rico pun ikut terbawa rasa penasaran. Akhirnya ia mendorong pintu itu perlahan dengan sebelah tangannya.

KREET

Pintu itu berderit ketika dibuka. Rico dan Private terdiam... kemudian mereka dikejutkan oleh sesuatu yang ada di balik pintu itu. private bergerak mundur ketika ia mengetahui ruangan itu tempat menyimpan mayat. Atau lebih tepatnya lagi tempat menyembunyikan mayat. Rico tertegun bercampur kaget. Meskipun begitu, ia tidak takut melihat mayat yang seakan dipajang di dalam peti kaca di rungan kecil di hadapannya.

"Si - - siapa itu Rico?" tanya Private dengan suara yang bergetar.

"Kurasa aku tahu orang ini." kata Rico sambil tetap memperhatikan mayat itu.

"Apakah dia..."

Rico dan Private pun saling pandang. Mereka mempunyai pemikiran yang sama...

"Freddy Scuierell..." Ucap Rico dan Private bersamaan.

"Tapi.. kenapa ia bisa ada di sini?" tanya Private dengan polos.

"Blowhole menjadikannya sebagai umpan untuk kita Private. Maka kurasa hal ini membuktikan kalau..."

KREK KREK

Tiba-tiba Rico berhenti berbicara ketika endengar suara yang tidak asing di telinganya, tetapi kedengarannya tidak bersahabat. Rico pun tahu, seseorang – atau lebih tepatnya beberapa orang – kini mengarahkan revolver ke arahnya dan Private. Suara itu, suara revolver yang dipersiapkan untuk meletuskan peluru.

Rico menelan ludah dan menghela napas panjang. Kemudian, ia melanjutkan kalimatnya, "...membuktikan kalau Kowalski tidak keliru."

Private yang juga menyadari hal itu, hanya menelan ludah.

Tetapi...

Dengan gerakan yang sigap – tepat sebelum 2 orang anak buah Blowhole yang ada di belakang mereka menarik pelatuk revolver, Private merunduk dan Rico menangkis tangan si penembak dengan keras.

DOR!

Letusan peluru itu menggema ke seluruh koridor, meleset ke langit-langit koridor. Rico pun kini berhadapan dengan si penembak pertama. Tanpa mengeluarkan senjata yang Rico bawa, ia dapat menghadapi lawannya. Rico melakukan gerakan menukik dan menangkis lengan si penembak. Berkali-kali, peluru yang dikeluarkan itu meleset. Sedangkan Private, ia berhadapan dengan si penembak ke dua. Dengan cepat dan tak terduga, Private berhasil merebut revolver yang digenggam lawannya dan mempereteli revolver itu. Private kemudian menarik dasi lawannya itu hingga terlepas. Sambil berlari, kemudian berbalik dan lompat memutar, Private melilitkan dasi itu ke leher lawannya dengan kuat. Lawannya itu meronta, merasa tercekik dan tidak dapat bernapas. Kemudian, lawannya itu rubuh ke lantai dengan sudah tak bernyawa.

DOR!

DOR!

Suara letusan peluru kemudian memecah keheningan sesaat. Revolver si penembak kini berada dalam genggaman Rico yang terarahkan kepada lawannya itu. Dua orang anak buah Blowhole telah berhasil dilumpuhkan.

Rico dan Private kemudian segera berlari menuju ujung koridor, berbelok ke arah yang berbeda dan bersiap menghadapi anak buah Blowhole yang kini berlarian ke arah mereka... untuk menangkap Rico dan Private.


.

.

.

AN :
huft.. akhirnya berhasil update setelah stress karena UAS dan tugas-tugas numpuk yang bikin saya pusing 7 keliling #curhat

Mmmm.. saya harap readers ku tersayang terhibur dengan chapter ini meskipun saya tau isinya boring abis dan action-nya failed setengah mampus. Tapi saya ucapkan terimakasih sebesarr-besarnya untuk pembaca setia dan yang sudah review Fanfic saya :) love, kiss and hug ~ #lebay

oh iya, dan untuk bagian-bagian yang belum jelas, nanti akan dijelasin di chapter-chapter selanjutnya.
Maaf kalau ceritanya jadi ga jelas karena out of plan.

yang mau sampaikan pendapat, saran, dan sebagainya, sampaikan lewat review, okay?
Thanks very much *JackSparrow'sStyle*