Hai Minna-san…
Ketemu lagi ma aku yang super gaje ini. dan yang udah nelurin fic gaje ini. *emang ayam*.
Sankyuu buat para reader yang udah sekedar baca maupun meninggalkan jejak berupa review pada chapter pertama.
Di Chapter ini pun scene full NaruSaku belum kelihatan. Di chap ini sudah muncul konflik yang akan menjadi akar masalah untuk selanjutnya. Sakura saya buat sedikit menderita,entah terasa apa tidak. Hehehehe…
Buat fans Sakura jangan marah yah? Karena kalo gak kayak gini gak mungkin muncul masalah. Jangan mendendam padaku.
Chap ini special buat Masahiro 'Night' seiran. Night..dah panjang lu chap ini? dan juga buat Nara aiko. Ditunggu fic ShikaIno dari fiki. Dan semua para readers baik yang kasih review ato sekedar baca ajah.
Balasan review dari pada reader semua sudah aku PM. Silahkan cek. Hanya yang gak login akan yang dibalas disini.
Ok…
Langsung ajah di baca dan jangan lupa buat reviewnya yah….
*KUROSAKI KUCHIKI*
Disclaimer : Naruto punya Masashi-sensei. Kalau aku yang punya,Naruto bakal jadian ma Sakura.
Summary : Sakura dan Sasuke akan menikah. Tapi terjadi sesuatu yang membuat Sasuke secara tidak langsung membatalkan pernikahannya. Naruto yang sangat mencintai Sakura pun membantu Sakura dalam menghadapi masalah peliknya. Tapi apa yang akan Sakura lakukan saat Sasuke datang kembali untuk menikahinya padahal Sakura sudah tahu perasaan Naruto padanya.
Genre : Hurt/Comfort, Romance
Pairing : Naruto X Sakura
Rated : T+
Warning : Story abal. Gaje. Typo banyak. Tapi jangan lupa review yah….
Naruto sama temen-temennya aku buat umur 22 tahun
Story Begin
I Am Here For You
Chapter 2 : Aku Yang Akan Bertanggung Jawab
"Aku tahu kalau Sasuke-kun menyuruh mu menjagaku. Tapi tidak perlu sampai sejauh ini,Naruto. Sudah seminggu kau melakukan ini. pagi-pagi buta sudah datang kerumahku sambil cengengesan dan mengantarku ke rumah sakit. Lalu malamnya kau mengantarku pulang lagi. Emang aku anak TK yang masih perlu baby sitter?" Sakura mengomel pada Naruto yang berjalan dengannya menuju rumahnya.
Naruto hanya nyengir saat mendengar gadis pink itu mengomel. Memang setelah kepergian Sasuke ke Suna,ia selalu mengantar gadis ini pergi dan pulang dari rumah sakit.
"Sudahlah Sakura-chan…jangan dibahas lagi. Setiap hari aku bosan mendengarmu mengatakan itu terus," jawab Naruto atas omelan Sakura.
"Kalau begitu berhenti mengantar dan menjemputku," jawab balik Sakura dengan ketus.
Naruto menghela napas. "Semua permintaanmu akan ku penuhi Sakura-chan. Tapi untuk yang ini tidak bisa. Aku akan dimarahi oleh Sasuke kalau aku menelantarkanmu,"
Sakura diam. Huh…memang susah kalau punya ikatan seperti Naruto dan Sasuke. Janji dianggap hal yang paling keramat,yang kalau dilanggar mereka akan langsung mati saja. Begitu pikir Sakura.
Naruto pun ikut diam dan melangkah dengan ringan. Selalu itu. Jawabannya selalu yang sama. Sasuke akan memarahinya kalau sampai menelantarkan Sakura. Sebenarnya ia ingin sekali mengatakan alasannya bukan hanya itu saja. Tapi juga yang paling penting adalah karena ia menyayangi dan mencintai Sakura. Oleh karena itu Ia menjaga Sakura dengan sekuat tenaganya.
"Loh? Sakura-chan? Bibi kemana? Kenapa lampu rumahmu belum menyala? Gelap sekali," ujar Naruto yang terlihat heran saat melihat rumah Sakura yang gelap gulita.
"Oh…itu…pasti ibu sudah pergi ke Ame. Katanya mau menjenguk temannya yang baru saja melahirkan," jawab Sakura.
"Ng…kau tidak apa-apa sendirian dirumah, Sakura-chan?" tanya Naruto dengan ekspresi khawatir.
"Hahahaha…tidak kok. Aku sudah terbiasa. Lagipula kalau ada yang berani macam-macam denganku, akan ku Shannaro. Kau pernah merasakannya jadi kau tahu rasanya seperti apa, Naruto," jawab Sakura sambil memperlihatkan tinjunya.
"Nah…kau juga cepatlah pulang. Sudah larut malam. Sebagai gantinya karena aku telah mengusirmu, kau boleh menjemputku dan mengantarkanku lagi besok. Aku tidak akan mengomel. Janji.," kata Sakura lagi sambil mendorong Naruto.
"Ng…tapi Sakura-chan. Tidak baik perempuan sendirian dirumah. Aku akan tidur di luar malam ini supaya bisa menjagamu, ya?" jurus puppy eyes no jutsu Naruto keluar.
"Tidak bisa Naruto. Aku akan baik-baik saja. Jangan terlalu mengkhawatirkanku seperti itu. Aku janji aku akan baik-baik saja. Ok…,"
Dan Naruto pun melangkah meninggalkan Sakura dengan berat hati. Sakura hanya tersenyum melihat Naruto yang tampaknya tidak rela meninggalkannya.
Setelah Naruto pergi dan tidak tampak lagi oleh penglihatan Sakura,ia pun masuk ke dalam dan memasak kare instant. Dia sudah sangat lapar. Sebenarnya tadi Naruto mengajaknya makan di warung Ichiraku tapi Sakura menolaknya karena tidak enak dengan Naruto. Kalau sudah seperti itu pasti Naruto akan mentraktirnya dan itu akan membuat dompet kodoknya semakin tipis.
Setelah puas dengan karenya ia pun bergegas ke kamarnya dan segera mandi. Bau keringatnya yang sangat bau,karena dari pagi ia harus membantu Shizune mengoperasi beberapa orang hari ini.
~KUROSAKI KUCHIKI ~
Sakura hanya keluar dengan menggunakan handuk yang hanya menutupi dada dan pahanya. Kaki dan lehernya yang jenjang begitu mulus terekspos.
Tiba-tiba…
GREP
"Kyaaa….," teriak Sakura saat merasakan ada yang memeluknya dari belakang. Memeluk perutnya. Sedangkan napas orang yang memeluknya itu terasa di tengkuknya. Dan yang paling membuat Sakura geram saat ia merasakan orang itu mencium tengkuknya.
"Siapa kau?" bentak Sakura dan dengan cepat mendorong orang itu dan segera berbalik.
"Kau..,"
"Ya..ini aku. Hai Sakura,apa kabar. Kau semakin cantik saja. Aku jadi semakin menginginkanmu," kata orang itu sambil tersenyum licik.
Sakura sangat terperangah saat mengetahui orang kurang ajar tersebut. Salah satu anak buah Orochimaru. Berambut perak dan berkacamata. Kabuto Yakushi.
"Sialan kau. Darimana kau masuk!"
Kabuto menunjuk jendela Sakura. "Kau lihat? Jendelamu terbuka dan siapapun bisa masuk begitu saja.
"Sial….keluar kau dari sini. Atau kalau tidak..ukh…," Sakura tidak bisa mengatakan apa-apa lagi saat merasakan Ia limbung. Kakinya tak dapat lagi menopang berat tubuhnya. Ia terjatuh tepat di samping tempat tidurnya. Lemas. Hanya itu yang bisa menggambarkan kondisi Sakura saat ini.
"Atau kalau tidak, apa manis?" tanya Kabutoyang telah menunduk dan membelai dagu Sakura lalu menciumnya dengan paksa.
"Hmph….," Sakura berusaha memberontak tapi tidak bisa melepaskan ciuman Kabuto padanya. Tubuhnya sudah sangat lemas. Setelah beberapa menit akhirnya Kabuto melepaskan ciumannya. Napas mereka berdua terengah-engah karena kehabisan oksigen.
"Si…al…apa yang kau berikan padaku,brengsek!"
"Hanya obat percobaan baru. Obat ini akan melumpuhkan system syarafmu. Sebentar lagi mungkin kau tidak akan bisa berteriak lagi. Tapi tenang saja,obat ini hanya berlaku selama 1 jam. Setelah itu kau akan bebas berteriak. Tapi saat kau minta tolong, aku sudah tidak ada lagi disini. Jadi selama 1 jam aku akan bermain-main denganmu," jawab Kabuto dengan penuh kemenangan.
"Si…al…,"hanya itu yang bisa Sakura katakan. Tubuhnya kaku dan lemas, bangun saja Ia tak sanggup. Sedangkan lidahnya sangat kelu, bicara saja sudah sangat susah apalagi berteriak, ia tidak bisa.
Dengan wajah menyeringai, Kabuto mengangkat Sakura dan meletakkan Sakura diatas ranjangnya lalu mulai menggerayangi tubuh Sakura.
Sementara Sakura hanya bisa menangis. Ia sakit. Tubuhnya sakit atas perlakuan Kabuto. Tapi perasaannya lebih sakit daripada tubuhnya. Tentu saja. Mana ada perempuan yang perasaannya tidak hancur saat ciuman yang hanya untuk orang yang dia cintai, diambil paksa oleh orang lain. Dan terlebih tubuhnya yang hanya akan diberikan pada suaminya pada malam pertama nanti dan hanya akan menjadi milik suaminya secara utuh malah asyik dinikmati oleh orang lain.
"Sasuke-kun, maafkan aku. Naruto, tolong aku,"batin Sakura
~KUROSAKI KUCHIKI~
DEG DEG DEG
Itulah bunyi detak jantung Naruto sejak tadi. Menggambarkan jika Ia sedang gelisah. Jantung Naruto berdetak lebih cepat dan mungkin sekarang debarannya 5 kali lebih cepat dari biasanya.
"Akh…ada apa denganku? Perasaanku tidak enak sama sekali sejak meninggalkan Sakura-chan," ujar Naruto yang tampak gelisah. Sekarang jam 12 malam. Seharusnya Naruto sudah terbuai dalam mimpi dan bergelut dengan selimutnya, tapi yang ada Nauto hanya membolak-balikan badannya di atas kasur empuknya. Ia gelisah memikirkan Sakura yang baru saja ditinggalkannya 1 jam.
"Akhhh…," teriaknya frustasi. Ia berganti pakaian yang seperti biasa lalu dengan langkah cepat meninggalkan apartemennya dan melangkah kerumah Sakura. Tidak diperdulikannya angin yang kencang yang membuat bulu tengkuknya berdiri saking dinginnya. Jalanan Konoha pun sudah sepi. Halo…mana ada orang gila masih berkeliaran jam segitu?
~KUROSAKI KUCHIKI ~
Kini Naruto sudah berada di depan rumah Sakura. Dengan tidak ragu-ragu, diketuknya pintu rumah Sakura yang terbuat dari kayu, entah itu Sakura masih bangun atau tidak yang jelas ia harus memastikan Sakura baik-baik saja.
"Sakura-chan…..," Naruto berteriak di depan pintu rumah Sakura sambil mengetuk pintu. Tidak ada jawaban.
"Sakura-chan….Sakura-chan…Saku,"
"ARGGGHHHHH…Bajingaaaannnnn!…..,"
"Sakura-chan…,"
Naruto mendengar suara teriakan dari kamar Sakura. Dan jendela kamar Sakura terbuka. Melihat itu dengan segera ia melompat ke kamar Sakura dan masuk lewat jendela. Sebelum ia bertanya apa-apa, matanya membulat saat melihat Sakura yang sekarang sedang meringkuk di sudut ranjangnya hanya dengan selimut yang menutupi tubuh polosnya. Tapi Naruto masih bisa melihat jelas bercak-bercak merah yang ada di sekitar leher Sakura dan bercak darah di sepreinya.
"Sakura-chan, demi Kami-sama,siapa yang melakukan ini padamu. Katakan padaku," dengan cepat dan sigap Naruto segera melepaskan jaketnya dan membungkus sebagian tubuh Sakura agar Sakura tidak lebih kedinginan dari itu dan tentu saja agar tubuhnya bisa tertutup.
"Sakura-chan, katakanlah padaku. Kumohon," pinta Naruto sambil menatap Sakura yang terlihat sangat shock. Terlihat oleh Naruto sisa-sisa airmata yang mengalir di pipinya yang sudah mengering. Naruto juga ikut-ikutan terlihat sangat kacau melihat keadaan Sakura yang seperti itu. Sakura terlihat sangat shock. Matanya terlihat berkaca-kaca tapi Ia sama sekali tidak menangis. Tidak, bukannya tidak ingin menahan tangisannya, tapi karena Ia tidak bisa menangis lagi. Mungkin terlalu banyak airmata yang dikeluarkannya sehingga airmatanya sudah tidak bisa menetes lagi.
Naruto langsung memeluk Sakura dengan sangat erat dan membawanya ke dada bidangnya, berharap Sakura mau berbicara padanya. "Sakura-chan, tenanglah. Aku sudah disini. Sekarang katakan padaku siapa yang melakukan ini,"
Sakura yang sejak tadi diam, tidak berkata apa-apa langsung terisak dan akhirnya menangis dengan kerasnya di dada Naruto. Ia memendamkan wajahnya lebih dalam ke dada Naruto sementara kedua lengannya memeluk dengan erat punggung Naruto yang juga memeluknya. Ia butuh seseorang yang dapat menenangkannya kali ini.
"Kabuto…Kabuto. Hiks…Naruto…aku tidak bisa berbuat apa-apa. Ia memberiku obat dan aku tidak bisa melakukan apapun, Naruto. Naruto…hiks..aku kotor…hiks..aku menjijikan..hiks…aku hina,"
Hancur. Hanya itu yang bisa menggambarkan isi hati Naruto saat ini. Gadis yang dicintainya mungkin seumur hidup itu harus mengalami semua ini. Ia berjanji akan melindungi gadis ini selamanya dan walaupun harus menyerahkan nyawanya sekalipun.
Ia sangat rapuh melihat Sakura yang menangis. Sama seperti Sakura yang saat ini seperti bunga yang layu. Bunga itu tak terlihat lagi keindahan dan juga keceriaan dari warna bunga itu sendiri.
"Sshhh..kau tidak kotor Sakura-chan. Kau tidak menjijikan dan tidak hina. Yang kotor,menjijikan dan hina itu adalah orang itu," kata Naruto sembari melepaskan pelukannya dari Sakura.
"Sekarang tenanglah. Tetaplah disini jangan kemana-mana. Aku akan mengejar Kabuto. Pasti dia belum jauh dari sini," tanpa menunggu jawaban dari Sakura ia langsung melesat keluar dan segera mencari Kabuto. Naruto sendiri hanya kebingungan. Dimana ia harus mencari Kabuto? Mungkin saja dia sudah jauh atau bersembunyi di pelosok Konoha yang luas ini. Tapi Naruto tidak perduli. Tujuannya hanya satu. Menemukan dan membunuh Kabuto.
NARUTO'S POV
Marah. Kali ini aku sangat marah. Pertama karena si bajingan Kabuto itu. Lalu melihat Sakura-chan, yang oh…Kami-sama, aku benar-benar hancur melihatnya seperti itu. Lebih baik kau menghancurkanku hingga berkeping-keping daripada Sakura-chan yang kau hancurkan. Aku tidak suka dan tidak akan tahan melihatnya menitikkan airmata setetespun apalagi sampai menangis.
Kami-sama..apa dosa yang pernah Sakura-chan perbuat padamu? Kenapa takdir yang kau buat untuknya sekejam ini? Sakura-chan gadis baik, kenapa kau tega membuat hidupnya seperti ini? kenapa kau tidak menghukumku saja? Kenapa harus Sakura-chan? Kenapa, Kami-sama?
Ini salahku. Ya,ini salahku. Seandainya aku tidak meninggalkannya tadi dan tetap berada di luar rumahnya, ini tidak akan terjadi. Baka! Kau benar-benar Baka,Naruto.
"Sial….dimana kau,Kabuto!" aku hanya berbicara sendiri sementara aku masih melewati dan melompati pepohohan yang ada di luar areal Konoha satu persatu. Ya..aku sekarang sudah berada diluar desa. Aku tidak tahu harus mencarinya kemana, tapi instingku menuntunku untuk kesini.
"Manusia laknat. Dimana kau!"
NARUTO'S POV END
~KUROSAKI KUCHIKI~
Jika bukan karena Sakura pasti Naruto akan sangat lelah dengan pencariannya yang tidak kunjung mendapatkan hasil. Bagaimanapun ia tidak mau membiarkan Kabuto kabur dari Negara Api. Ia harus menyelesaikan sekarang juga.
Saat Naruto sudah hampir kelelahan mencari, ia melihat segerombolan shinobi sepertinya sedang mengerubuni sesuatu. Tapi yang membuat Naruto heran adalah semua Shinobi yang ia kenal ada disitu. Terlihat Kakashi,Yamato,Sai juga Shikamaru. Naruto heran karena ini jam 2 pagi, seharusnya mereka ada dirumah mereka bukan diluar desa seperti ini. Kalaupun ada misi mendadak pasti Hokage sudah memberitahunya. Naruto langsung turun dan berniat untuk bertanya.
"Hei kalian sedang apa disini?" Naruto turun di belakang Kakashi. Mendengar itu mereka semua berbalik dan membuat sesuatu yang mereka kerubuti tadi tidak terlihat oleh Naruto.
"Hei! Kau darimana saja? Tadi aku mencarimu di flatmu. Tsunade-sama memerintahkan kami dan juga kau untuk menangkap buronan Konoha yang berkeliaran. Tadi penjaga gerbang Konoha melihatnya, sepertinya dia baru dari desa. Dan kami sudah menangkapnya," omel Shikamaru melihat Naruto yang seharusnya ikut misi ini malah baru datang dan dengan tampang kusut.
"Ah…gomen na Shikamaru, Minna. Tapi ceritanya panjang. Sekarang bolehkah aku lewat? Aku ada urusan. Aku tidak tertarik pada buronan itu. Bawalah sebagai hadiah pada Nenek Tsunade," jawab Naruto dengan suara dingin dan hampir tidak berekspresi. Semua yang ada disitu tertegun mendengar jawaban Naruto yang terkesan acuh dan dingin.
"Ada apa denganmu, Naru….,"
"Kau tak tertarik? Bagaimana denganku, Naruto?"
Suara itu memotong perkataan Sai. Yakin. Satu hal yang ada di benak Naruto. Ia yakin akan suara itu. Suara yang sudah menyakiti Sakura dan membuatnya sekarang menjadi orang yang paling kejam. Naruto langsung menerjang mereka yang ada disitu dan benar saja buronan yang mereka maksud adalah Kabuto dan ia telah terikat dengan seutas tali.
'BUAGH'
"BRENGSEK. APA YANG TELAH KAU LAKUKAN PADA SAKURA-CHAN,HAH?" dengan penuh emosi Naruto memukul wajah Kabuto dan mengeluarkan amarahnya yang meledak.
"Aku? Aku hanya sedikit bermain-main dengannya. Dan ia sangat menikmatinya, dan oh…sepertinya Sakura-chan mu itu juga"
'BUAGH'
Kali ini bukan Naruto yang memukulnya tapi Kakashi yang memukul wajah Kabuto dengan sangat keras. Kakashi mengerti apa yang Kabuto maksud.
"Apa yang kau lakukan pada muridku?"
Naruto dan Kakashi kondisinya sama untuk saat ini. Marah. Itu yang mereka rasakan. Sedangkan Sai, Shikamaru dan Yamato shock. Mereka pun mengerti dengan maksud Kabuto dan kemarahan Naruto. Sai yang sekelompok dengan mereka pun turut prihatin tapi ia tidak punya cukup ikatan yang kuat dengan Sakura hingga tidak bisa memukul Kabuto.
"KAU…,"
"Naruto. Sudah…kita bawa dia kedesa dan menyuruhnya untuk meminta maaf pada Sakura. Kau boleh membunuhnya nanti," Shikamaru menahan lengan Naruto yang ingin melayang lagi ke wajah Kabuto.
"Tapi Shikamaru. Orang ini sudah menyakiti Sakura-chan. Dia harus kubunuh," bentak Naruto pada Shikamaru yang masih menahan lengannya.
"Aku tahu bodoh. Tapi masalah ini tidak akan selesai saja dengan kau membunuhnya. Apa kau ingin masuk ke penjara karena perbuatan konyolmu ini, hah! Lagipula aku yakin Sakura tidak suka kalau kau sampai masuk penjara," bentak Shikamaru. Ia tahu jika Naruto tidak ditahan ia pasti akan nekat.
Naruto menepis tangan Shikamaru dengan kasar dan berbalik meninggalkan mereka. Sementara Sai dan Yamato hendak membawa Kabuto yang terikat.
"SEMUANYA MENGHINDAR!" teriak Yamato. Naruto tidak bereaksi tapi untung Kakashi menyeretnya ke tempat yang jauh
BOOOOMMMMMM
Bunyi letusan dan tentu saja asap. Dan setelah asap itu menghilang barulah mereka sadar dan tahu apa yang telah terjadi. Kabuto membunuh dirinya sendiri menggunakan peledak. Entah sejak kapan Kabuto menyiapkan bom ataupun membentuk segel untuk membuat bom itu meledak, entahlah. Tangannya pun terikat jadi tidak ada yang tahu pasti apa yang telah dilakukannya. Tapi satu yang pasti, Kabuto hancur berkeping-keping.
Semua yang ada disitu terbelalak dengan aksi Kabuto. Untungnya Yamato dan juga Sai yang bermaksud membawanya tidak terkena ledakan, karena Yamato menyadari terlebih dahulu.
"Pengecut, terbunuh dengan cara seperti itu," ejek Yamato.
"Menurut kita memang tindakan itu tindakan pengecut. Tapi menurut pemikiran mereka, daripada menyerahkan diri lebih baik seperti ini," ujar Kakashi.
"HEI! APA-APAAAN INI? KENAPA IA MELAKUKAN INI? IA HARUS MINTA MAAF PADA SAKURA-CHAN. IA TIDAK BOLEH MATI. IA HARUS MINTA MAAF PADA SAKURA-CHAN," Semua kaget dan menatap Naruto yang berteriak histeris saat tahu Kabuto telah mati. Ia menjadi emosi. Kabuto tidak boleh mati karena ia harus bertanggung jawab pada Sakura. Kakashi dan yang lainnya segera membawanya kembali ke desa. Apa boleh buat, Kabuto hanya tinggal nama.
~KUROSAKI KUCHIKI~
Tak terasa waktu sangat cepat berlalu. Sudah 1 bulan sejak kejadian itu. Sudah satu bulan juga hidup Sakura berubah. Tidak ada warna. Bahkan sudah sebulan ini ia tidak pernah beranjak dari kamarnya. Ia hanya meringkuk di ranjangnya. Saat mandi, ia akan mandi. Saat makan, ia makan. Nafsu makannya pun menurun drastis. Bahkan ia sama sekali tidak pernah menerima tamu. Siapapun itu tanpa terkecuali Naruto.
'Tok..tok..tok'
Pintu kediaman Haruno terketuk menandakan ada tamu. Ibu Sakura yang sedang memotong sayur dengan cepat membukakan pintu bagi tamunya. Ia pun tersenyum lebar setelah tahu tamu yang sudah langganan datang kerumahnya.
"Ah…kalian ayo masuk," dipersilahkannya mereka untuk masuk.
"Bibi, ini aku bawakan bunga," ujar Ino yang menyerahkan bunga lily putih pada Ibu Sakura dan langsung ditaruh di vas.
"Bibi…aku simpan buahnya di atas meja yah. Jangan lupa menyuruh Sakura-chan memakannya," giliran Naruto yang menaruh oleh-olehnya diatas meja makan kediaman Sakura.
"Ah…arigatou, Naruto. Oh ya, Shikamaru dan Sai. Tumben kalian datang. Tidak sibuk lagi?"
"Sudah tidak Bi. Aku dan Sai sudah menyelesaikan urusan ujian Chunin dengan cepat," jawab Shikamaru. Sementara Sai dengan wajah tersenyum menjawab " aku ingin menemui Sakura. Sudah lama aku tidak melihatnya, Bi,"
Ibu Sakura tersenyum miris. "Bukan Sai saja yang kangen padanya. Semua juga begitu. Tapi ya beginilah, Sakura menolak untuk menemui orang lain. Ia hanya mengurung diri dikamarnya. Harap maklum yah..,"
Semua diam. Mereka tahu sangat berat untuk Sakura menahan ini. Walaupun Sakura orang yang kuat dalam hal kekuatan tapi perasaannya tentu sangat rapuh untuk hal ini.
"Bi, apa sudah ada balasan dari Sasuke?" tanya Naruto memecah kesunyian yang terjadi. Lagi-lagi Ibu Sakura mencoba tersenyum tapi sepertinya gagal.
"Belum. Sasuke sama sekali belum memberikan kabar. Ini sudah sebulan sejak Bibi dan juga kau mengiriminya surat. Tapi sampai sekarang belum ada balasan. Bibi juga heran biasanya Sasuke akan langsung membalas suratnya tapi hingga sekarang ia belum membalasnya.
"Sasuke,kenapa kau? Apa kau tidak mau menerima Sakura lagi? Apa kau menuntut Sakura untuk sempurna? Apa kau tidak bisa lagi menerima Sakura?" tanya Naruto dalam hati.
PRAAAAANG
Terdengar suara barang yang pecah dari kamar Sakura. Segera saja Naruto dan yang lainnya naik keatas. Naruto tahu akan sulit untuk meminta Sakura untuk membukakan pintu. Langsung saja ia dobrak dan mendapati kamar Sakura sudah seperti kapal pecah. Alat riasnya semua jatuh dan pecah. Berantakan. Dan Naruto mendapati Sakura sedang meringkuk di sudut kamarnya.
"Sakura-chan..ada apa?" tanya Naruto dan mulai berjongkok di depan Sakura. Sakura tidak merespon.
"Ada apa Sakura sayang…. Ceritakan pada Ibu, nak," bujuk ibunya dengan berlinangan airmata melihat Sakura yang nampak lebih kusut lebih dari sebelumnya.
"Tidak mungkin…tidak mungkin," hanya itu yang diucapkan Sakura.
"Apa yang tidak mungkin,Sakura? Ceritakan pada kami," Sai sekarang terlihat cemas. Beginikah keadaan Sakura setelah 1 bulan ia tidak melihatnya?
"Ini tidak mungkin. Shikamaru, katakan padaku ini tidak mungkin," sekarang giliran Ino yang membuat semua bingung. Ia menarik-narik seragam Chunin Shikamaru. Yang ditarik tak mengerti.
"Ada apa sich,Ino? Tenanglah, jangan buat kami semakin panik," kata Shikamaru yang heran kenapa Ino seperti itu.
Akhirnya Ibu Sakura bangkit dan menuju Ino karena melihat di tangan Ino ada semacam alat tes. Pastinya itu untuk kehamilan. Membulatlah mata Ibu Sakura saat tahu hasilnya.
"Sakura…hamil….,"
"Tidak. Aku tidak hamil Bu. Alat itu salah. Aku tidak mungkin hamil anak dari laki-laki itu. Tidak mungkin. Tidak mungkin," Sakura histeris saat ibunya mengatakan kalau ia hamil. Ia menangis dan semakin terpuruk. Sedangkan Ibunya hanya bisa menangis dan ditenangkan oleh Ino. Sementara Sai dan Shikamaru diam saja. Tidak tahu mau berbuat apa.
Naruto memandang Sakura dengan tatapan nanar. Oh..Kami-sama. Cobaan apa lagi yang kau berikan untuk Sakura-chan ku? Pikir Naruto seperti itu.
"Aku tidak menginginkan anak ini. Apa kata orang. Ibu akan malu,hiks,"
"Tapi Sakura. Anak itu tidak berdosa. Kau harus tetap mempertahankannya. Jangan pikirkan pikiran orang diluar sana," jawab Ibu Sakura lemah. Bagaimanapun juga ia tidak ingin anaknya berdosa karena membunuh anak yang tak berdosa meskipun itu hasil hubungan yang tak diinginkan.
"…..,"
"…..,"
"…..,"
"Aku yang akan bertanggung jawab,"
Semua menatap Naruto yang membelakangi mereka yang masih berjongkok di depan Sakura. Bahkan Sakura ikut mendongak melihat Naruto.
"Na..ru…to..,"
TBC
KYaaaaaaaaaaaaaaa….
Bunuh saja saya atas fic yang mau bikin muntah ini. lanjutannya kok kayak gini yah? Otak saya sudah stadium 4 parahnya,tinggal tunggu otak ini tak berfungsi saja.
Apa mau dikata,otak saya bilang,ayo buat fic kayak gini ajah.
Tapi walaupun para readers mau muntah,sebelum muntah tolong reviewlah lanjutan yang ini yah…..
Gomen kalau gak ada adegan pertempuran antara Naruto ma Kabuto, dan gomen kalo Kabuto saya buat mati gitu aja. Soalnya saya gak terlalu suka kalo fokus ke perkelahian, lalu Kabuto juga saya buat hanya sebagai figuran, walaupun memang perannya menghancurkan hidup Sakura.
Maaf kalo time skip nya terlalu cepat dan fic ini terkesan buru-buru. Habis…mau gimana lagi. Otak saya buntu.
Banyak kerjaan di kantor buat saya jadi stress. Gini nich,anak yang baru umur 19 tahun yang seharusnya lebih serius kuliah malah bergelut di dunia kerja yang keras hanya untuk cari uang tambahan. Hah…nasib…
Ya sudahlah daripada banyak mulut mending langsung menghilang. Jangan lupa review yah…
